BAB I PENDAHULUAN
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:
a. Untuk mendeskripsikan pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah Nabawi pada SMP Negeri 1 Ende Selatan.
b. Untuk mendeskripsikan pembentukan akhlak mulia melalui pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah Nabawi di SMP Negeri 1 Ende Selatan.
20Munirah, Akhlak dalam Perspektif Pendidikan Islam, Jurnal (Makassar: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, 2017).
21Amin Che Ahmat, Norazmi Anas, Nurul Hidayah Aziz, Shahril Nizam Zulkipli, Izatul Akmar Ismail, A Proposed Model of Akhlak from Al-Ghazali Discourse to Student, Jurnal (Malaysia:
The Turkish online Journal of Design, Art and Communication, ISSN 2146-5193, 2018).
c. Untuk mengetahui realitas akhlak peserta didik sebagai hasil pembelajaran melalui pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah Nabawi pada SMP Negeri 1 Ende Selatan.
2. Kegunaan Penelitian a. Kegunaan Teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini bahwa peneliti ingin dapat menambah khazanah keilmuan yang berguna untuk dunia pendidikan.
b. Kegunaan Praktis 1) Sekolah
Hasil peneliti ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak sekolah dan dapat memberikan kontribusi dalam upaya meningkatkan kualitas sekolah, khususnya dalam hal kesiapan belajar terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam.
2) Pendidik
Dengan pemanfaatan bahan ajar PAI (Pendidikan Agama Islam) berbasis kisah Nabawi ini, akan menambah pengetahuan serta wawasan terhadap para pendidik untuk mengaplikasikannya dan diharapkan hasil penelitian dapat dimanfaatkan agar ke depannya dapat menciptakan generasi yang berguna untuk agama, bangsa dan Negara.
3) Peneliti
Diharapkan dapat menambah ilmu serta wawasan penulis dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dengan terjun langsung ke lapangan sehingga memberikan pengalaman belajar yang membutuhkan kemampuan dan keterampilan meneliti serta ilmu yang mendalam terutama pada bidang yang dikaji.
17 BAB II
TINJAUAN TEORETIS
A. Bahan Ajar
1. Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis, baik tertulis maupun tidak, sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik untuk belajar. Ada pula yang berpendapat bahwa bahan ajar merupakan segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan atau materi pembelajaran pada dasarnya adalah ‚isi‛ dari kurikulum, yakni berupa mata pelajaran atau bidang studi dengan topik/subtopik dan rinciannya. Bahan ajar atau materi kurikulum adalah isi atau muatan kurikulum yang harus dipahami oleh peserta didik dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.1
Berdasarkan penjelasan di atas bahan ajar secara umum pada dasarnya merupakan segala bahan (baik itu informasi, alat maupun teks) yang disusun secara sistematis yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan di kuasai peserta didik dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk perencanaan dari penerapan pembelajaran. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis. Komponen yang tidak bisa dipisahkan dalam pengajaran ialah bahan ajar, penggunaan dan pemanfaatan bahan ajar akan membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian isi materi isi pelajaran.
1Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya Offset, 2009), h. 173-174.
Bahan ajar juga dapat membantu peserta didik untuk meningkatkan pemahaman dan menambah pengetahuan.
2. Jenis-jenis Bahan Ajar
Bahan ajar memiliki beragam jenis, ada yang cetak maupun noncetak. Bahan cetak yang sering dijumpai antara lain berupa buku, modul, handout, dan lembar kerja siswa.
a. Buku
Buku sebagai bahan ajar merupakan buku yang berisi ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis. Buku disusun dengan menggunakan bahasa sederhana, menarik, dilengkapi gambar, keterangan, isi buku, dan daftar pustaka.2 Buku akan sangat membantu guru dan siswa dalam mendalami ilmu pengetahuan sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.
Secara umum buku dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu sebagai berikut:
1) Buku sumber, yaitu buku yang dapat disajikan rujukan, referensi, dan sumber untuk kajian ilmu tertentu, biasanya berisi suatu kajian ilmu yang lengkap.
2) Buku bacaan, yaitu buku yang hanya berfungsi untuk bahan bacaan saja, misalnya cerita, legenda, novel, dongeng, dan lain sebagainya.
3) Buku pegangan, yaitu buku yang bisa dijadikan pegangan guru atau pengajar dalam melaksanakan proses pengajaran.
4) Buku bahan ajar atau buku teks, yaitu buku yang disusun untuk proses pembelajaran dan berisi bahan-bahan atau materi pembelajaran yang akan diajarkan.
2Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 178.
19
b. Modul
Modul merupakan bahan ajar yang ditulis dengan tujuan agar siswa dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru. Modul pembelajaran sebagai sejenis satuan kegiatan belajar yang terencana, didesain guna membantu peserta didik menyelesaikan tujuan-tujuan tertentu. Modul adalah semacam paket program untuk keperluan belajar.3
Penggunaan modul memberikan beberapa fungsi yang diperoleh, yaitu antara lain:
1) Adanya peningkatan motivasi belajar secara maksimal
2) Adanya peningkatan kreativitas guru dalam mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan serta pelayanan individual yang lebih mantap.
3) Dapat mewujudkan prinsip maju berkelanjutan secara tidak terbatas.
4) Dapat mewujudkan belajar yang lebih berkonsentrasi.4 c. Handout
Handout adalah segala sesuatu yang diberikan kepada peserta didik ketika mengikuti kegiatan pembelajaran. Kemudian, ada juga yang mengartikan handout sebagai bahan tertulis yang disiapkan untuk memperkaya pengetahuan peserta didik.
Guru dapat membuat handout dari beberapa literatur yang memiliki relevansi dengan kompetensi dasar yang akan dicapai oleh siswa. Saat ini handout dapat diperoleh melalui download internet atau menyadur dari berbagai buku dan sumber lainnya.
3Cece Wijaya, dkk., Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran, (Bandung:
Remadja Karya, 1988), h. 128.
4Sukiman, Pengembangan Media Pembelajaran, (Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani, 2012), h. 133.
d. Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah materi ajar yang sudah dikemas sedemikian rupa sehingga siswa diharapkan dapat materi ajar tersebut secara mandiri. Dalam LKS siswa akan mendapat materi ringkasan, dan tugas yang berkaitan dengan materi. Selain itu siswa juga dapat menentukan arahan yang terstruktur untuk memahami materi yang diberikan dan pada saat yang bersamaan siswa diberikan materi serta tugas yang berkaitan dengan materi tersebut.
3. Prinsip-prinsip Bahan Ajar
Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran. Prinsip tersebut meliputi:
a. Prinsip Relevansi Prinsip Relevansi artinya keterkaitan. Materi pelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan dengan pencapaian standar kompetensi. Sebagai contoh, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan.
b. Prinsip Konsistensi
Prinsip Konsistensi artinya ketetapan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa satu macam, maka materi pembelajaran yang harus diajarkan juga harus meliputi satu macam. Misalnya, kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah pengoperasian bilangan yang meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.
21
c. Prinsip Kecukupan
Artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.5
4. Fungsi Bahan Ajar
Fungsi bahan ajar bagi pendidik, di antaranya:
a. Menghemat waktu pendidik dalam mengajar
b. Mengubah peran pendidik dari seorang pengajar menjadi seorang fasilitator c. Meningkatkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan interaktif
d. Sebagai pedoman bagi pendidik yang akan mengarahkan semua aktivitas dalam proses pembelajaran dan merupakan kompetensi yang semestinya diajarkan kepada peserta didik.
e. Sebagai alat evaluasi pencapaian atau penguasaan hasil pembelajaran.
Fungsi bahan ajar bagi peserta didik, antara lain:
a. Peserta didik dapat belajar tanpa harus ada pendidikan atau teman peserta didik yang lain.
b. Peserta didik dapat belajar kapan saja dan di mana saja ia kehendaki.
c. Peserta didik dapat belajar sesuai kecepatannya masing-masing.
d. Peserta didik dapat belajar menurut urutan yang dipilihnya sendiri.
e. Membantu peserta didik untuk menjadi pelajar yang mandiri, dan
5Mohammad Rahman, Sofan Amri, Strategi dan Desain Pengembangan Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Pustaka Publisher , 2013), h. 80.
f. Sebagai pedoman bagi peserta didik yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran dan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari dan dikuasainya.6
B. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Kata pendidikan yang umum digunakan dalam bahasa arab adalah tarbiyah dengan kata kerja rabba. Kata pengajar dalam bahasa arab adalah taklim dengan kata kerjanya ‘allama. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa arabnya adalah Tarbiyah Islamiyah. Secara istilah pendidikan adalah usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh nabi dalam menyampaikan seruan agama dengan berdakwah, menyampaikan ajaran, memberi contoh, melatih keterampilan tersebut, memberi motivasi dan menciptakan lingkungan yang sosial yang mendukung pelaksanaan ide pembentukan pribadi muslim.7
Menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.8
Agama secara etimologis berasal dari bahasa sansekerta yakni a dan gama. A berarti tidak dan gama berarti kacau atau berantakan. Jadi agama berarti tidak
6Andi Prastowo, Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif, (Yogyakarta: Diva Press, 2014), h. 24-25.
7Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h. 25-27.
8Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan (Jakarta: Aksara Baru, 1985), h. 2.
23
berantakan. Dengan makna ini, dapat dipahami bahwa agama memberikan serang-kaian peraturan kepada para penganutnya sehingga hidupnya tidak berantakan, serta mengarahkan manusia menjadi lebih teratur dan tertib.
Secara terminologis, Agama diartikan sebagai sistem kehidupan yang leng-kap menyangkut berbagai aspek kehidupan termasuk akidah, akhlak, ibadah, dan amal perbuatan yang disyariatkan Allah untuk manusia. Manusia diperintahkan untuk mengamalkan dan memedomaninya dengan rasa tunduk dan patuh kepada-Nya.9
Islam secara etimologis berasal dari akar kata sallama yang berarti selamat, damai, dan sejahtera. Sedangkan menurut terminologis mengandung pengertian serangkaian peraturan yang didasarkan pada wahyu yang diturunkan oleh Allah swt.
kepada para nabi/rasul untuk ditaati dalam rangka memelihara keselamatan, kesejahteraan, dan perdamaian bagi umat manusia yang termaktub dalam kitab suci10
Jadi, pengertian pendidikan agama Islam secara umum adalah suatu proses yang sangat komprehensif, disusun secara sistematis, terencana, dalam upaya mengembangkan potensi yang ada pada diri anak didik secara optimal, untuk menjalankan tugas di muka bumi ini dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan nilai-nilai ilahiah yang didasarkan dengan bingkai ajaran Islam pada semua aspek kehidupan.
9Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 3-4.
10Marzuki, Pendidikan Karakter Mahasiswa melalui Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta:
Ombak, 2012), h. 38-39.
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan dalam proses pendidikan Islam adalah identitas (cita-cita) yang mengandung nilai-nilai Islami yang hendak dicapai dalam proses kependidikan yang berdasarkan ajaran Islam secara bertahap. Tujuan pendidikan Islam yang demikian merupakan penggambaran nilai-nilai Islami yang hendak diwujudkan dalam pribadi manusia atau peserta didik yang pada akhir dari proses tersebut. Istilah lain tujuan pendidikan Islam adalah perwujudan nilai-nilai Islami dalam pribadi manusia atau anak didik yang diikhtiarkan oleh pendidik Muslim, melalui proses yang teratur dan terstruktur pada akhirnya menghasilkan anak didik yang berkepribadian Islam yang beriman, bertakwa, bermoral sesuai ajaran Islam dan berilmu pengetahuan yang sanggup mengembangkan dirinya menjadi hamba Allah yang memiliki akhlak mulia dan taat akan perintah Allah swt.11
Secara umum, pendidikan agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dari tujuan tersebut dapat ditarik beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan dan dituju oleh kegiatan pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu:
a. Dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam
b. Dimensi pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran agama Islam
11H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendidikan Interdisipliner (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), h. 54-55.
25
c. Dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan ajaran Islam
d. Dimensi pengalamannya, dalam arti bagaimana ajaran Islam yang telah diimani, dipahami dan dihayati atau diinternalisasi oleh peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk menggerakkan, mengamalkan, dan menaati ajaran agama dan nilai-nilainya dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt. serta mengaktualisasikan dan merealisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.12
Tujuan pendidikan agama Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa dan beribadah kepada-Nya, agar dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan di akhirat. Hal ini selaras dengan tujuan hidup manusia dalam Islam, sebagaimana ditegaskan Allah swt. dalam QS al-Za>riya>t/51: 56 dan QS Ali-‘Imra>n/3: 102.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.14
12Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), h. 78.
13Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Tajwid, h. 523.
Dua ayat di atas mengintroduksi aktivitas manusia yang diciptakan sebagai khalifah di muka bumi yang bertugas memakmurkan dan membangun bumi ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh yang menugaskan, yaitu Allah swt. atas dasar ini, kita dapat berkata bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah swt. dan khalifah-Nya, guna membangun peradaban sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah swt. atau dengan kata yang lebih singkat dan sering digunakan oleh al-Qur’an, untuk bertakwa kepada Allah swt.
3. Fungsi Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam untuk sekolah/madrasah berfungsi sebagai berikut:
a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah swt. yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama kewajiban menanamkan keimanan dan ketakwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah/madrasah berfungsi untuk menumbuhkembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran, dan pelatihan agar keimanan dan ketakwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
b. Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
c. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.
14Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Tajwid, h. 63.
27
d. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan, dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman, dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.
e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
f. Pengajaran, tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nirnyata), system dan fungsionalnya.
g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang Agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.15
4. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Islam sebagai agama dan objek kajian pendidikan memiliki cakupan dan ruang lingkup yang luas. Secara garis besar Islam memiliki sejumlah ruang lingkup yang saling terkait yaitu:
a. Akidah
Akidah merupakan suatu keyakinan atau kepercayaan yang diyakini kebenarannya oleh hati. Akidah berarti meyakinkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan melaksanakan dengan perbuatan.
b. Syariat
Syariat merupakan aturan dan norma-norma yang diturunkan oleh Allah swt.
kepada manusia untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan
15Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), h. 15.
alam semesta, dan hubungan antar sesama manusia. Dengan adanya aturan tersebut, maka hidup manusia akan lebih terarah dan tentunya dapat mencapai rida Allah.
c. Akhlak, Etika dan Moral
Akhlak, etika dan moral merupakan cerminan kualitas keberagaman seseorang. Semakin baik tingkat keberagaman seseorang, maka akan terlihat baik pula akhlak yang tercermin. Karena akhlak merupakan keadaan yang menjadi sumber lahirnya suatu perbuatan secara spontan.
Ketiga komponen di atas merupakan suatu kesatuan dalam ajaran Islam.
Umat muslim yang memiliki akidah yang lurus dan kuat maka akan mendorong dirinya untuk melaksanakan syariat Islam yang hanya ditujukan kepada Allah sehingga tercermin akhlak yang terpuji pada dirinya.16
C. Metode Kisah Nabawi 1. Pengertian Metode Kisah
Metode atau metoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu metha dan hodos.
Metha berarti melalui atau melewati dan hodos berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam bahasa Arab, metode disebut t}ari>qah. Mengajar berarti menyajikan atau menyampaikan pelajaran. jadi, metode mengajar berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pengajaran agar tercapai tujuan pengajaran. 17
16Rois Mahfud, Al-Islam Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Erlangga, 2011), h. 9.
17Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Amzah, 2017), h. 180.
29
Metode kisah atau cerita yang terangkai dalam alur yang baik secara psikologis akan memberi pengaruh kepada perasaan. Dengan demikian, kisah dinilai efektif untuk dijadikan salah satu dari metode pendidikan.18
Metode kisah merupakan salah satu metode pendidikan Islam. Kisah atau cerita sebagai suatu metode pendidikan yang mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan hati seseorang. Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita, dan menyadari pengaruhnya sangat besar terhadap perasaan. Oleh karena itu, Islam menyuguhkan kisah-kisah untuk dijadikan salah satu metode dalam proses pendidikan sehingga dapat diambil hikmah dan pelajaran dari kisah tersebut.19 Metode kisah atau cerita merupakan suatu faktor pendidikan yang penting untuk menumbuhkan sikap, mengubah nilai-nilai, menyeru kepada kebaikan, serta menghias diri dengan akhlak dan sifat-sifat yang mulia, karena cerita mempunyai daya kekuatan, pengaruh, dan bimbingan.20
Metode kisah mengandung arti suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menuturkan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal yang baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja. Dalam mengaplikasikan metode ini pada proses belajar mengajar, metode kisah merupakan salah satu metode pendidikan yang masyhur dan terbaik, sebab kisah itu mampu menyentuh jiwa jika didasari oleh ketulusan hati yang mendalam.21 An-Nahlawi
18Jalaluddin, Pendidikan Islam Pendekatan Sistem dan Proses (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2016), h. 32.
19Heri Gunawan, Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), h. 262.
20Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 66.
21Armai Arif, Pengantar Imu dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 160.
mengungkapkan bahwa dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dapat ditemukan berbagai metode pendidikan Islam yang sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa dan membangkitkan semangat peserta didik. Metode tersebut di antara salah satunya adalah metode mendidik dengan kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi.22 Metode kisah Qur’ani dan Nabawi adalah penyajian bahan pembelajaran yang menampilkan cerita-cerita yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadis Nabi. Kisah Qur’ani dan Nabawi bukan semata-mata karya seni yang indah, tetapi juga cara mendidik umat agar beriman kepada-Nya. Dalam pendidikan Islam, kisah merupakan metode yang sangat penting karena dapat menyentuh hati manusia. Kisah menampilkan tokoh dalam konteks yang menyeluruh sehingga pembaca atau pendengar dapat ikut menghayati, seolah-olah ia sendiri yang menjadi tokohnya.23
Metode kisah diisyaratkan dalam QS Yusuf/12: 3
ْنِاَو َناأْرُقْلااَذاه َكْيَلِآاَنْ يَحْوَا ٓاَِبِ ِصَصَقْل ْا َنَسْحَأ َكْيَلَع ُّصُقَ ن ُنَْنَ
Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui24
Substansi ayat di atas selanjutnya diperkuat oleh ayat lain yaitu QS
22Janawi, Metodologi dan Pendekatan Pembelajaran (Yogyakarta: Ombak, 2013), h. 143.
23Sri Minarti, Ilmu Pendidikan Islam Fakta Teoritis-Filosofis dan Aplikatif –Normatif (Jakarta: Amzah, 2013), h. 142.
24Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Tajwid, h. 235.
31
Terjemahnya:
Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai ) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.25
Al-Qas}as} berarti kisah atau peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa yang lalu.26 Secara epistemologi lafaz qas}as} merupakan bentuk jamak dari kata qis}ah, lafaz ini merupakan bentuk masdar dari kata qas}s}a yaqus}s}u yang berarti menceritakan, juga dapat mengandung arti menelusuri/mengikuti jejak. Makna qas}as}
dalam sebagian besar ayat-ayat berarti kisah atau cerita. Secara terminologis qas}as}
dalam sebagian besar ayat-ayat berarti kisah atau cerita. Secara terminologis qas}as}