• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN BAHAN AJAR PAI BERBASIS KISAH NABAWI UNTUK MEMBENTUK AKHLAK MULIA PESERTA DIDIK SMP NEGERI 1 ENDE SELATAN KAB. ENDE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMANFAATAN BAHAN AJAR PAI BERBASIS KISAH NABAWI UNTUK MEMBENTUK AKHLAK MULIA PESERTA DIDIK SMP NEGERI 1 ENDE SELATAN KAB. ENDE"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN BAHAN AJAR PAI BERBASIS KISAH NABAWI UNTUK MEMBENTUK AKHLAK MULIA PESERTA DIDIK SMP

NEGERI 1 ENDE SELATAN KAB. ENDE

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Jurusan Pendidikan Agama Islam

pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar

Oleh:

NUR FAUZIYAH NIM: 20100116036

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2021

(2)

ii

Nama : Nur Fauziyah

NIM : 20100116036

Jurusan : Pendidikan Agama Islam Fakultas/Program : Tarbiyah dan Keguruan/S1

Alamat : Samata, Gowa

Judul : “Pemanfaatan Bahan Ajar PAI Berbasis Kisah Nabawi untuk Membentuk Akhlak Mulia Peserta Didik SMP Negeri 1 Ende Selatan Kab. Ende”

menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya saya sendiri. Jika di kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat oleh orang lain, seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.

Samata-Gowa, 13 Januari 2021 Penyusun,

NUR FAUZIYAH NIM 20100116036

(3)

iii

(4)

iv

rahmat dan hidayah-Nya, serta kenikmatan berupa nikmat kesehatan, nikmat kesempatan, dan nikmat waktu sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Salawat teriring salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad saw., para sahabatnya, serta orang-orang yang senantiasa berjuang di jalan-Nya.

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis telah melakukan usaha terbaik yang maksimal untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana. Hal ini tidak luput dari bantuan dan dukungan dari beberapa pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada orang tua tercinta Ayahanda Almarhum Muhammad Salahuddin dan Ibunda Ba’diyah yang tidak pernah lupa menyebut nama penulis di setiap doanya. Keduanya selalu mendukung penulis untuk menjadi apa yang penulis inginkan, dan selalu sabar mengingatkan juga menyemangati penulis untuk bisa menyelesaikan skripsi ini dan studi S-1 Pendidikan Agama Islam.

Penulis juga menyadari tanpa adanya bantuan, motivasi dan partisipasi dari berbagai pihak, skripsi ini tidak mungkin dapat terselesaikan seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., selaku Rektor UIN Alauddin Makassar beserta, Wakil Rektor I, Prof. Dr. H. Mardan, M.Ag., Wakil Rektor II, Dr. H. Wahyudin Naro, M.Hum., Wakil Rektor III, Prof. Dr. Darussalam Syamsuddin, M.Ag., dan Wakil Rektor IV, Dr. H. Kamaluddin Abu Nawas, M.Ag., yang telah membina dan memimpin UIN Alauddin Makassar menjadi

(5)

v

tempat bagi peneliti untuk memperoleh ilmu baik dari segi akademik maupun ekstrakurikuler.

2. Bapak Dr. H. A. Marjuni, S.Ag., M.Pd.I., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar beserta, Wakil Dekan I, Dr. M. Shabir U., M.Ag., Wakil Dekan II, Dr. M. Rusdi, M.Ag., dan Wakil Dekan III, Dr. Ilyas, M.Pd., M.Si., yang telah membina peneliti selama kuliah.

3. Bapak Dr. H. Syamsuri, S.S., M.A. dan Bapak Muhammad Rusmin B., S.Pd.I., M.Pd.I., selaku Ketua dan Sekretaris jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, yang memberikan dukungan, motivasi dan bimbingan hingga terselesainya skripsi ini.

4. Bapak Dr. Muljono Damopolii, M.Ag. dan bapak Nursalam, S.Pd., M.Si., selaku pembimbing I dan II penulis yang begitu banyak memberikan bimbingan, arahan, motivasi dan meluangkan waktunya untuk penulis.

5. Bapak Dr. Nuryamin, M.Ag. dan bapak Dr. H. Syamsuri, S.S., M.A. selaku dewan penguji I dan II dalam seminar proposal dan hasil penulis yang telah memberikan arahan dan meluangkan waktunya untuk penulis.

6. Seluruh dosen dan staf yang ada di lingkungan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang telah banyak memberikan ilmu dan bantuan atas kelancaran terselesainya skripsi ini.

7. Bapak Syaifudin Pua Riwa, S.Pd. selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Ende Selatan Kab Ende, yang telah memberikan izin untuk mengadakan penelitian di SMP Negeri 1 Ende Selatan.

8. Ibu Nurhayati, S.Pd.I. selaku guru Pendidikan Agama Islam yang telah membantu penulis selama penelitian.

(6)

vi

10. Kakak tercinta Ridwan Bin Sah, S.Pd.I. dan Nurhidayat Ramadhan, S.Pd.

yang selalu memberikan semangat, dukungan moral maupun material serta doa yang tidak henti-hentinya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

11. Keluarga besar penulis, yang memberikan kasih sayang, dukungan moral dan material dan doa-doa terbaik yang tak henti-hentinya kepada penulis sehingga bisa menyelesaikan skripsi ini.

12. Keempat sahabat penulis, Maemuna, Risnaeni, Mustika dan Yulianda yang senantiasa merangkul penulis saat suka maupun duka, teman seperjuangan yang senantiasa saling menyemangati, memberi dukungan, dan motivasi dikala penulis mulai futur dalam menyelesaikan skripsi ini hingga penulis kembali semangat. Terima kasih untuk nasehat yang diberikan kepada penulis selama ini. Terima kasih untuk selalu mengingatkan ketika penulis mulai lengah, selalu sabar saat direpotkan dengan keluh kesah penelitian penulis, serta doa sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

13. Semua sahabat seperjuangan Pendidikan Agama Islam angkatan 2016 terkhusus PAI 1-2 yang telah menjadi keluarga penulis selama di perantauan, yang menerima penulis melewati proses pendewasaan juga pencarian jati diri di tanah Daeng ini. Kalian adalah saudara, teman dan sahabat, yang selalu menyalurkan semangat dan tawa. Terima kasih untuk selalu memberikan penulis ruang di dalam perjalanan kehidupan kalian, sehingga penulis bisa merasakan kehadiran keluarga di tengah perjuangan. Terima kasih juga atas

(7)

vii

support satu sama lainnya untuk menyelesaikan skripsi. Semoga kita semua berhasil mencapai kesuksesan yang dicita-citakan.

14. Sahabat seperjuangan penulis di masa Aliyah, Nurul Izzah, Farisa Latifa Husna, Siti Amin, Putri Julita dan Sartikah yang senantiasa memberikan dukungan dan motivasi untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

15. Semua pihak yang telah membantu, memberikan dukungan, dan menyemangati penulis dalam menyelesaikan tugas akhir skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu. Semoga semua bantuan dan dukungan yang telah diberikan menjadi amal yang dapat diterima dan mendapat balasan dari Allah swt.

Kesuksesan yang diraih penulis, bukanlah sepenuhnya dari diri penulis, melainkan banyak yang terlibat di dalamnya. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi peneliti sendiri, para pendidik terkhusus pembaca. Kritik dan saran yang membangun penulis harapkan demi perbaikan penulisan karya berikutnya.

Samata, Januari 2021

Penulis

(8)

viii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii

PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

ABSTRAK ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus ... 9

C. Rumusan Masalah ... 11

D. Kajian Pustaka ... 12

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 14

BAB II TINJAUAN TEORETIS ... 16

A. Bahan Ajar ... 16

B. Pendidikan Agama Islam ... 21

C. Metode Kisah Nabawi ... 27

D. Pembentukan Akhlak Mulia ... 34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 42

A. Jenis dan Lokasi Penelitian ... 42

B. Pendekatan Penelitian ... 43

C. Sumber Data ... 43

D. Metode Pengumpulan Data ... 44

E. Instrumen Penelitian ... 46

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 47

G. Pengujian Keabsahan Data ... 49

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 51

A. Hasil Penelitian ... 51

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 51

2. Pemanfaatan Bahan Ajar PAI Berbasis Kisah Nabawi pada SMP Negeri 1 Ende Selatan ... 60

3. Pembentukan Akhlak Mulia Peserta Didik melalui Pemanfaatan Bahan Ajar PAI Berbasis Kisah Nabawi di SMP Negeri 1 Ende Selatan ... ... 63

(9)

ix

4. Realitas Akhlak Peserta Didik sebagai Hasil Pembelajaran melalui Pemanfaatan Bahan Ajar PAI Berbasis Kisah

Nabawi di SMP Negeri 1 Ende Selatan ... 70

B. Pembahasan ... 72

BAB V PENUTUP ... 76

A. Kesimpulan ... 76

B. Implikasi Penelitian ... 77

DAFTAR PUSTAKA ... 78 LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(10)

x Tabel 1.1 Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus Tabel 4.1 Sarana dan Prasarana Sekolah

Tabel 4.2 Tenaga Pendidik SMP Negeri 1 Ende Selatan Tabel 4.3 Peserta Didik SMP Negeri 1 Ende Selatan

(11)

xi ABSTRAK Nama : Nur Fauziyah

NIM : 20100116036

Judul : Pemanfaatan Bahan Ajar PAI Berbasis Kisah Nabawi untuk Membentuk Akhlak Mulia Peserta Didik SMP Negeri 1 Ende Selatan Kab. Ende

Skripsi ini membahas tentang pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah nabawi untuk membentuk akhlak mulia peserta didik SMP Negeri 1 Ende Selatan Kab. Ende. Pokok masalah skripsi ini adalah bagaimana pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah nabawi untuk membentuk akhlak mulia peserta didik SMP Negeri 1 Ende Selatan? Pokok masalah tersebut selanjutnya dijabarkan menjadi tiga submasalah, yaitu: 1) Bagaimana pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah nabawi pada SMP Negeri 1 Ende Selatan? 2) Bagaimana pembentukan akhlak mulia peserta didik melalui pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah nabawi di SMP Negeri 1 Ende Selatan? 3) Bagaimana realitas akhlak peserta didik sebagai hasil pembelajaran melalui pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah nabawi pada SMP Negeri 1 Ende Selatan?

Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif, yaitu mendeskripsikan suatu peristiwa atau objek yang menjadi fokus penelitian dan menggunakan pendekatan pedagogik. Sumber data dalam penelitian ini yaitu guru bidang studi Pendidikan Agama Islam kelas VII beserta peserta didiknya. Metode pengumpulan data yang dilakukan berupa observasi secara langsung, wawancara dengan guru dan peserta didik, serta dokumentasi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman observasi, pedoman wawancara dan dokumentasi.

Kemudian, teknik analisis data dilakukan dengan 3 tahapan, yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pengujian keabsahan data dilakukan dengan 2 cara yaitu: triangulasi dan memperpanjang waktu pengamatan.

Adapun hasil penelitian yang ditemukan terkait pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah nabawi pada SMP Negeri 1 Ende Selatan yaitu: pendidik dan peserta didik menggunakan bahan ajar PAI berupa buku teks yang telah difasilitasi oleh pihak sekolah. Dalam proses pembelajaran pendidik menerapkan metode kisah nabawi meliputi kisah-kisah nabi yang di dalam kisah tersebut terdapat pelajaran yang patut untuk dicontoh oleh peserta didik. Pembentukan akhlak mulia peserta didik melalui pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah nabawi di SMP Negeri 1

(12)

xii

Hidup Tenang dengan Kejujuran, Amanah, dan Istikamah. Dengan menggunakan metode kisah di kelas VII SMP Negeri 1 Ende Selatan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: (1) Persiapan. (2) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Dalam tahapan kegiatan belajar mengajar, ada tiga tahapan yang dilaksanakan oleh pendidik yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup. Penerapan metode kisah yang memiliki tujuan untuk membentuk akhlak mulia dilakukan di kegiatan inti yang pada tahapan tersebut guru menceritakan kisah nabi yang kemudian disimpulkan pada kegiatan penutup dan menyampaikan hikmah yang dapat diambil pelajaran dalam kisah tersebut. Realitas akhlak peserta didik di SMP Negeri 1 Ende Selatan dengan memanfaatkan bahan ajar PAI berbasis kisah nabawi terjadi perubahan pada akhlak mereka, yang awalnya sering terlambat jadi berkurang, yang terkadang sering membuat keributan di dalam kelas, mulai bersikap tenang dan sopan, yang awalnya bertanya teman saat ujian atau ulangan mulai mencoba untuk mengerjakannya sendiri. Hal ini dikarenakan peserta didik merasa tersentuh dan ingin meneladani dan meniru segala perbuatan terpuji yang dimiliki oleh para nabi ketika mendengarkan kisah yang disampaikan oleh pendidik.

Berdasarkan hasil penelitian pada pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah nabawi untuk membentuk akhlak mulia peserta didik SMP Negeri 1 Ende Selatan, maka implikasi penelitian ini yaitu: 1) Dengan pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah nabawi, kepekaan jiwa dan perasaan peserta didik dapat tergugah karena dalam kisah terdapat berbagai keteladanan dan edukasi, tidak mudah bosan dan tidak kesulitan dalam memahami materi pembelajaran sehingga peserta didik dapat mengambil hikmah dari kisah yang diceritakan oleh pendidik dan mampu untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. 2) sebagai bahan masukan kepada sekolah dan pendidik yang lainnya untuk membentuk akhlak mulia peserta didik dengan memanfaatkan bahan ajar PAI berbasis kisah nabawi.

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan menjadi suatu hal yang tidak pernah berhenti dibahas.

Perkembangan pendidikan bahkan mengiringi kehidupan manusia. Sejak manusia ada, sejak itu pula pendidikan dibutuhkan. Dengan pendidikan, seseorang akan mendapatkan arahan apa yang seharusnya dia lakukan dalam kehidupannya.

Pendidikan diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadian sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Seiring perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang (pendidik) kepada orang lain (peserta didik) untuk mencapai pengetahuan yang lebih baik. Pendidikan juga diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang berkualitas dan berintelektual1

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 memberikan isyarat bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.2

Tujuan pendidikan sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang tersebut harus dipahami agar praktik pendidikan yang dilaksanakan mengarah pada

1Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Rajawali Press, 2012), h. 1.

2Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, UU dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan (Cet. I; (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2006), h. 5.

(14)

tujuan yang telah ditetapkan. Mengingat begitu pentingnya pendidikan bagi manusia, maka pelaksanaannya harus berdasarkan landasan yang telah ditetapkan dan tidak secara sembarangan.

Berdasarkan tujuan pendidikan nasional tersebut, pendidikan di sekolah tidak hanya terkait upaya penguasaan di bidang akademik oleh peserta didik, melainkan juga harus diimbangi dengan pembentukan akhlak mulia perlu diperhatikan oleh pendidik di sekolah dan orang tua di rumah. Jika keseimbangan tersebut dilakukan, pendidikan dapat menjadi dasar untuk mengubah anak menjadi lebih berkualitas dari aspek keimanan, ilmu pengetahuan, dan akhlak.3

Pendidikan agama Islam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan di Indonesia, sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 12 ayat 1 butir a yang menyatakan: ‚Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama‛.

Pendidikan agama Islam yang diajarkan kepada siswa diharapkan dapat memberi pengaruh yang positif terhadap perubahan akhlak peserta didik. Agama Islam menghendaki agar seseorang senantiasa berakhlak mulia dan menjauhi akhlak tercela. Dengan akhlak mulia seseorang akan merasakan kedamaian dalam hidupnya.

Islam melalui sumber ajaran yang utama yaitu al-Qur’an dan Hadis bertujuan memberi kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok. Ini berarti Islam mengutamakan kebahagiaan penganutnya. Sasaran pendidikan agama

3Ridwan Abdullah Sani, Muhammad Kadri, Pendidikan Karakter Mengembangkan Karakter Anak yang Islami (Jakarta: Bumi Aksara, 2016), h. 6.

(15)

3

tertuju pada pembentukan sikap akhlak peserta didik dalam berhubungan dengan Tuhan, masyarakat, dan alam atau sesama makhluk.

Pembentukan akhlak peserta didik memerlukan pembiasaan dan keteladanan.

Peserta didik harus dibiasakan untuk selalu berbuat baik dan malu melakukan kejahatan, berlaku jujur dan malu berbuat curang, rajin dan malu bersikap malas, serta membuang sampah pada tempatnya dan malu membiarkan lingkungan kotor.

Perubahan sikap dan perilaku dari bertindak kurang baik untuk menjadi lebih baik tidak terbentuk secara instan. Perubahan tersebut harus dilatih secara serius dan berkelanjutan agar mencapai tujuan yang diinginkan.4

Keburukan akhlak sekarang ini bukan hanya menimpa kalangan orang dewasa, melainkan juga lebih banyak menimpa peserta didik harapan bangsa ke depan. Para orang tua, ahli didik, dan mereka yang berkecimpung dalam bidang agama dan sosial banyak yang mengeluhkan perihal perilaku nakal, keras kepala, mabuk-mabukan, obat-obatan dan perilaku menyimpang lainnya.

Dewasa ini peran dan tugas guru dihadapkan pada tantangan yang besar dan sangat kompleks, sebagai akibat pengaruh negatif dari era globalisasi serta kemajuan ilmu dan teknologi yang mempengaruhi perilaku dan akhlak pelajar sebagai generasi penerus bangsa. Derasnya arus informasi media masa baik cetak maupun elektronik yang diterima seseorang tanpa adanya seleksi seperti sekarang ini sangat berpengaruh dalam mengubah pola pikir, sikap, dan tindakan generasi muda. Akhlak sangat berkaitan erat dengan pola pikir dan sikap hidup manusia. Keburukan akhlak sangat berpengaruh pada potensi timbulnya perilaku-perilaku negatif.

4Ridwan Abdullah Sani, Muhammad Kadri, Pendidikan Karakter Mengembangkan Karakter Anak yang Islami, h. 7.

(16)

Sejalan dengan masalah tersebut di atas maka pembentukan akhlak bagi tunas-tunas muda bangsa ini harus lebih cermat dilakukan dan tidak dapat dipandang ringan. Hal ini terjadi secara psikologis usia, anak sekolah yang masih banyak dipengaruhi oleh turbulensi budaya asing yang tidak dapat dibendung arusnya oleh Negara.

Hal yang paling pokok dari seluruh proses pendidikan di sekolah adalah kegiatan pembelajaran. Perlu diketahui, dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama. Ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.5 Pembelajaran diidentikkan dengan kata ‚mengajar‛ berasal dari kata dasar ‚ajar‛ yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui, ditambah dengan awalan ‚pe‛ dan akhiran

‚an‛ menjadi ‚pembelajaran‛, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga peserta didik mau belajar. Kegiatan pembelajaran merupakan suatu upaya yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar peserta didik yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antara peserta didik dengan pendidik, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi. Proses pembelajaran di sekolah dipengaruhi banyak faktor, antara lain:

peserta didik, pendidik, metode, sarana dan prasarana serta penilaian (evaluasi).6 Dalam Islam, orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah swt.

Sebagaimana firman-Nya dalam QS al-Muja>dilah/58: 11.

5Sitiativa Rizema Putra, Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains (Yogyakarta: DIVA Press, 2013), h. 15.

6Muh. Rapi, Pengantar Strategi Pembelajaran (Pendekatan Standar Proses) (Makassar:

Alauddin University Press, 2012), h. 19.

(17)

5

ْاوُنَماَء َنْيِذَّلا اَهُّ يَاَي اْوُزُشْنا َلْيِق اَذِاَو ْمُكَل الله ِحَسْفَ ي اوُحَسْفاَف ِسِلاَجَمْلا ِفِ ْاوُحَّسَفَ ت ْمُكَل َلْيِق اَذِا

اْوُزُشْناَف

ْيِبَخ َنْوُلَمْعَ ت اَِبِ ُاللهَو ٍتَجَرَد َمْلِعلااْوُ تْوُا َنْيِذَّلاَو ْمُكْنِم اْوُ نَماأ َنْيِذَّلا ُالله ِعَفْرَ ي

.

Terjemahnya:

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‚Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,‛ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‚berdirilah kamu,‛

maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan.7

Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwa pentingnya menuntut ilmu dan mengajarkannya sesama manusia dalam proses pendidikan, orang yang berilmu akan mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dan akan berbeda derajatnya orang yang beriman dan berilmu dengan mereka yang hanya beriman atau berilmu saja, keutamaan orang yang menuntut ilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah swt.

selama masih dalam keadaan beriman.

Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.8 Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu. Belajar tidak hanya berkenaan dengan jumlah pengetahuan (kognitif) tetapi juga meliputi seluruh kemampuan individu. Belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri individu. Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek

7Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Tajwid (Cet. I; Bandung: Penerbit Sygma, 2014), h. 543.

8Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), h. 2.

(18)

pengetahuan atau kognitif saja tetapi juga meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor).9

Kemampuan belajar mengajar manusia termasuk komponen fitrah. Ayat-ayat yang diturunkan Allah swt., pertama-tama memerintahkan Nabi Muhammad saw.

(dan umatnya) untuk belajar membaca dan menulis dengan kalam.10 Allah swt., berfirman dalam QS Al-‘Alaq/96: 1-5.

﴿ َقَلَخ يِذَّلا َكِّبَر ِمْسِبِ ْأَرْ قا

﴿ ٍقَلَع ْنِم َناَسنِْلْا َقَلَخ ﴾ ١

﴿ ُمَرْكَْلْا َكُّبَرَو ْأَرْ قا ﴾ ٢ َمَّلَع يِذَّلا ﴾ ٣

﴿ ِمَلَقْلِبِ

َمَّلَع ﴾ ٤

﴿ ْمَلْعَ ي َْلَ اَم َناَسنِْلْا ٥

Terjemahnya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.11

Bahan ajar merupakan komponen yang tidak bisa dipisahkan dalam pengajaran, pemanfaatan bahan ajar akan membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian isi materi pembelajaran. Bahan ajar juga dapat membantu peserta didik untuk meningkatkan pemahaman dan menambah pengetahuan. Dampak positif dari bahan ajar adalah guru akan memiliki banyak waktu untuk membimbing peserta didik dalam proses pembelajaran, membantu peserta didik untuk memperoleh hal baru dari segala sumber referensi yang digunakan dalam bahan ajar dan peranan guru sebagai sumber pengetahuan menjadi berkurang.12

9Muh. Rapi, Pengantar Strategi Pembelajaran (Pendekatan Standar Proses), h. 6.

10Nasir A. Baki, Filsafat Pendidikan Islam, (Makassar: Alauddin University Press, 2013), h.

72.

11Kementerian Agama, Al-Qur’an Terjemah dan Tajwid, h. 597.

12Ika Lestari, Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi, (Padang: Akademia Permata, 2013), h. 1.

(19)

7

Dengan demikian bahan ajar hakikatnya adalah isi dari mata pelajaran atau bidang studi yang diberikan kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang digunakan atau diterapkan dalam proses pembelajaran. Bahan ajar juga merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. Dengan bahan ajar inilah memungkinkan peserta didik dapat mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis.

Berdasarkan fungsi pendidikan Nasional, peran guru menjadi kunci keberhasilan dalam mengembangkan misi pendidikan dan pembelajaran di sekolah . Selain bertanggung jawab untuk mengatur, mengarahkan, dan menciptakan suasana kondusif yang mendorong peserta didik untuk melaksanakan kegiatan di kelas. Guru merupakan salah satu faktor yang paling menentukan dalam proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu guru tidak saja sebagai orang dewasa yang bertugas profesional memindahkan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) atau penyalur ilmu pengetahuan (transmitter of knowledge) yang dikuasai kepada peserta didik, melainkan lebih dari itu, dia menjadi pemimpin atau menjadi pendidik dan pembimbing di kalangan peserta didik.13Pendidik dituntut memiliki kualitas ketika menyajikan bahan pengajaran kepada peserta didik. Kualitas pendidik itu dapat diukur dari moralitas, bijaksana, sabar dan menguasai bahan pelajaran ketika beradaptasi dengan peserta didik.

Dalam proses pendidikan metode mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk mencapai tujuan. Bahkan metode sebagai seni dalam mentransfer ilmu pengetahuan atau materi pelajaran kepada peserta didik dianggap lebih signifikan

13M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Islam dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), h. 163.

(20)

dibanding dengan materi sendiri. Bila metode yang digunakan dalam menyampaikan bahan pelajaran itu tepat maka dapatlah diraih tujuan yang telah diprogramkan.

Akan tetapi, sebaliknya kalau metode penyampaiannya tidak sesuai dan kurang tepat serta tidak sesuai dengan situasi dan kondisi kegiatan pembelajaran, maka bagaimanapun baik dan bagusnya tujuan yang telah disusun mustahil dapat terwujud. Dengan metode, pembelajaran akan berlangsung dengan mudah dan menyenangkan. Oleh karenanya, di setiap pembelajaran sangat dibutuhkan metode yang tepat, agar pembelajaran tidak terkesan menjenuhkan dan membosankan.

Meskipun terdapat banyak metode pembelajaran, tidak semua metode tersebut dapat diterapkan di berbagai pembelajaran. Dalam konteks ini seorang pendidik harus dapat memilah-milah mana metode pembelajaran yang tepat dan baik untuk digunakan.14

Tidak ada metode mengajar yang lebih baik dari pada metode yang lain.

Tiap-tiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan. Ada metode yang tepat digunakan terhadap peserta didik dalam jumlah besar, ada pula metode yang tepat digunakan terhadap peserta didik dalam jumlah kecil. Ada yang tepat digunakan di dalam kelas dan ada pula yang tepat digunakan di luar kelas.

Metode kisah merupakan salah satu metode pendidikan Islam. Metode ini disebut juga metode cerita yakni cara mendidik dengan mengandalkan bahasa, baik lisan maupun tertulis dengan menyampaikan pesan dari sumber pokok sejarah Islam, yakni al-Quran dan Hadits.15 Metode kisah dalam perspektif Pendidikan Islam

14Muhammad Fadhilah, Desain Pembelajaran PAUD (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h.

61-62.

15Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta:

Gema Insani, 1995), h. 204.

(21)

9

terbagi dua karena menggunakan paradigma al-Qur’an dan Hadis Nabi saw., sehingga dikenal istilah ‚Kisah Qur’ani dan kisah Nabawi‛. Kedua sumber tersebut memiliki substansi cerita yang valid tanpa diragukan lagi kebenarannya dan menjadi titik fokus bagi penulis adalah kisah Nabawi.

Uraian di atas, menimbulkan keingintahuan penulis untuk mengetahui bagaimana memanfaatkan bahan ajar dengan menggunakan metode pembelajaran kisah Nabawi pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam agar mampu membentuk akhlak mulia peserta didik.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang ‚Pemanfaatan Bahan Ajar PAI berbasis Kisah Nabawi untuk Membentuk Akhlak Mulia Peserta Didik di SMP Negeri 1 Ende Selatan Kabupaten Ende‛.

B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus

Penelitian ini berjudul ‚Pemanfaatan Bahan Ajar PAI berbasis Kisah Nabawi untuk Membentuk Akhlak Mulia Peserta Didik di SMP Negeri 1 Ende Selatan Kab.

Ende‛. Agar penelitian ini dapat terarah kepada makna atau substansi yang diinginkan serta demi menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam memahami judul penelitian ini, maka penting mengemukakan fokus penelitian. Penelitian ini difokuskan pada pemanfaatan bahan ajar berbasis kisah nabawi untuk membentuk akhlak mulia peserta didik di SMP Negeri 1 Ende Selatan. Berikut rincian deskripsi fokus penelitian, yaitu:

Tabel 1.1 Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus

Fokus Penelitian Deskripsi Fokus

Pemanfaatan Bahan Ajar PAI 1. Bahan Ajar PAI

(22)

berbasis Kisah Nabawi untuk Membentuk Akhlak Mulia Peserta Didik di SMP Negeri 1 Ende Selatan Kab. Ende

Bahan Ajar PAI merupakan komponen yang tidak bisa dipisahkan dalam pengajaran.

Bahan ajar merupakan seperangkat materi pembelajaran yang disusun secara sistematis.

Pemanfaatan bahan ajar akan membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian isi materi pelajaran serta dapat membantu peserta didik untuk meningkatkan pemahaman dan menambah pengetahuan.

Dengan memanfaatkan bahan ajar guru akan memiliki banyak waktu untuk membimbing peserta didik dalam proses pembelajaran, membantu peserta didik untuk memperoleh hal baru dari segala sumber atau referensi yang digunakan dalam bahan ajar. Bahan ajar yang digunakan dalam penelitian ini ialah bahan ajar tertulis yang berupa buku teks PAI yang sudah di fasilitasi oleh pihak sekolah kepada peserta didik yang ada di SMP Negeri 1 Ende Selatan. Khususnya dalam penelitian ini peserta didik kelas VII.

2. Metode Pembelajaran Kisah Nabawi Metode kisah disebut juga dengan metode cerita yakni cara mendidik dengan

(23)

11

mengandalkan bahasa, baik lisan maupun tertulis dengan menyampaikan pesan dari sumber pokok sejarah Islam, yakni al-Qur’an dan Hadits. Pentingya metode kisah diterapkan dalam dunia pendidikan karena dengan metode ini, akan memberikan kekuatan psikologis kepada peserta didik, dalam artian bahwa dengan mengemukakan kisah-kisah nabi kepada peserta didik, mereka secara psikologis terdorong untuk menjadikan nabi-nabi tersebut sebagai uswah (suri teladan). Metode ini merupakan suatu bentuk teknik penyampaian informasi dan instruksi yang amat bernilai, dan seorang pendidik dapat memanfaatkan potensi kisah bagi pembentukan sikap yang merupakan bagian esensial pendidikan Qur’ani dan Nabawi. Penelitian ini hanya terkhusus pada kisah nabi Muhammad saw. karena disesuaikan dengan buku teks PAI.

3. Pembentukan Akhlak Mulia

Akhlak mulia merupakan kata yang bersifat komprehensif yang berderet di bawahnya akhlak yang baik yang dijadikan orang

(24)

sebagai hiasan, membersihkan diri, dan mencapai kepada tingkat yang lebih tinggi, misalnya, sabar, lemah lembut, pemaaf, toleran, jujur, dapat dipercaya, istikamah, dan lain sebagainya dari hal-hal yang termasuk akhlak karimah16 Pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk anak atau peserta didik, dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan dengan baik dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan konsisten.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dikemukakan rumusan masalah dalam penelitian ini, sebagai berikut:

1. Bagaimana pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah Nabawi pada SMP Negeri 1 Ende Selatan?

2. Bagaimana pembentukan akhlak mulia peserta didik melalui pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah Nabawi di SMP Negeri 1 Ende Selatan?

3. Bagaimana realitas akhlak peserta didik sebagai hasil pembelajaran melalui pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah Nabawi pada SMP Negeri 1 Ende Selatan?

16Fauziah Ramdani, I Am Muslimah (Makassar: Yayasan Pendidikan Muhammad Natsir, 2014), h. 27

(25)

13

D. Kajian Pustaka

Berdasarkan hasil pencarian terhadap penelitian terdahulu, untuk penelitian ini ditemukan beberapa skripsi dan jurnal yang relevan atau sudah pernah dilakukan tetapi mempunyai sudut pandang yang berbeda. Adapun penelitian yang relevan dengan penelitian ini, sebagai berikut:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Nurmalina pada tahun 2011, dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan judul skripsi Peran Guru Agama Islam dalam Membentuk Akhlak Karimah Siswa MTs Darul Ma’arif Jakarta. Hasil penelitian menyatakan bahwa peran guru agama Islam sangat dominan membentuk akhlak karimah siswa secara menyeluruh dan berkesinambungan, dengan cara keteladanan, pembiasaan, ajakan, teguran, dan larangan yang diterapkan di dalam lingkungan sekolah.17

2. Penelitian yang dilakukan oleh Ika Putri Arifani pada tahun 2015, dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan judul skripsi Strategi Pembinaan Akhlak Karimah Siswa di Madrasah Aliyah Negeri Buduran Sidoarjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, strategi pembinaan akhlak karimah siswa yang diterapkan di MAN Buduran Sidoarjo dengan keteladanan dalam berpakaian dan menerapkan 5S (senyum, salim, sapa, sopan, dan santun). Usaha yang dilakukan dalam menanggulangi kendala-

17Nurmalina, Peran Guru Agama Islam dalam Membentuk Akhlak Karimah Siswa MTs Darul Ma’arif Jakarta, Skripsi (Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011).

(26)

kendala penerapan strategi pembinaan akhlak karimah siswa di MAN Buduran Sidoarjo dengan kerja sama sesama guru dan orang tua.18

3. Penelitian yang dilakukan oleh Syaepul Mannan pada tahun 2017, jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta’lim Vol. 15 No.1, dengan judul jurnal Pembinaan Akhlak Mulia Melalui Keteladanan dan Pembiasaan di MTs Al Inayah Bandung. Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan pembinaan akhlak mulia di MTs Al Inayah Bandung terimplementasikan ke dalam program rutinitas yang menjadi keharusan bagi peserta didik. Adapun bentuk keteladanan yang ditunjukkan oleh guru-guru meliputi disiplin waktu, disiplin menegakkan aturan, disiplin dalam bersikap, disiplin dalam beribadah. Sedangkan pembiasaan meliputi pembiasaan mengucapkan salan kepada guru ketika bertemu, membaca asma al-h}usna>, tadarus al-Qur’an, salat duha berjamaah, tausiah duha, berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, materi pembinaan akhlak yaitu materi tentang kedisiplinan dan keagamaan.19

4. Penelitian yang dilakukan oleh Munirah, pada tahun 2017 dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, jurnal Pendidikan Dasar Islam Vol. 4 No. 2, dengan judul jurnal Akhlak dalam Perspektif Pendidikan Islam. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pengertian akhlak, etika, dan moral adalah sama, ketiganya berarti kebiasaan, tingkah laku, atau perangai, tabiat, dan lain-lain. Ketiga istilah ini menentukan nilai baik buruk sikap dan perbuatan manusia. Perbedaannya terletak pada standar masing-masing. Akhlak

18Ika Putri Arifani, Strategi Pembinaan Akhlak Karimah Siswa di Madrasah Aliyah Negeri Buduran Sidoarjo, Skripsi (Malang: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2015).

19Syaepul Manan, Pembinaan Akhlak Mulia melalui Keteladanan dan Pembiasaan di MTs Al-Inayah Bandung, Jurnal (Bandung: Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol. 15 No. 1, 2017).

(27)

15

standarnya adalah al-Qur’an dan al-Sunnah, etika pertimbangannya akal pikiran, dan moral standarnya adalah kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat.20

5. Penelitian yang dilakukan oleh Amin Che Ahmat, Norazmi Anas, Nurul Hidayah Aziz, Shahril Nizam Zulkipli, Izatul Akmar Ismail, pada tahun 2018 dari Universitas Teknologi MARA Malaysia dan Universitas Utara Malaysia, the Turkish online journal of design art and communication, dengan judul jurnal A Proposed Model of Akhlak from Al-Ghazali Discourse to Student.

Dalam jurnal ini menjelaskan akh;lak acts an important role to character human personality. Thus, Islam does values education on akhlak to is ummah to perform good manners. Al-Ghazali divide 3 fundamental manners in the process of learning, namely: Student and Knowledge, Student and Own Self, Student and Teachers.21

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:

a. Untuk mendeskripsikan pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah Nabawi pada SMP Negeri 1 Ende Selatan.

b. Untuk mendeskripsikan pembentukan akhlak mulia melalui pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah Nabawi di SMP Negeri 1 Ende Selatan.

20Munirah, Akhlak dalam Perspektif Pendidikan Islam, Jurnal (Makassar: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, 2017).

21Amin Che Ahmat, Norazmi Anas, Nurul Hidayah Aziz, Shahril Nizam Zulkipli, Izatul Akmar Ismail, A Proposed Model of Akhlak from Al-Ghazali Discourse to Student, Jurnal (Malaysia:

The Turkish online Journal of Design, Art and Communication, ISSN 2146-5193, 2018).

(28)

c. Untuk mengetahui realitas akhlak peserta didik sebagai hasil pembelajaran melalui pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah Nabawi pada SMP Negeri 1 Ende Selatan.

2. Kegunaan Penelitian a. Kegunaan Teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian ini bahwa peneliti ingin dapat menambah khazanah keilmuan yang berguna untuk dunia pendidikan.

b. Kegunaan Praktis 1) Sekolah

Hasil peneliti ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak sekolah dan dapat memberikan kontribusi dalam upaya meningkatkan kualitas sekolah, khususnya dalam hal kesiapan belajar terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam.

2) Pendidik

Dengan pemanfaatan bahan ajar PAI (Pendidikan Agama Islam) berbasis kisah Nabawi ini, akan menambah pengetahuan serta wawasan terhadap para pendidik untuk mengaplikasikannya dan diharapkan hasil penelitian dapat dimanfaatkan agar ke depannya dapat menciptakan generasi yang berguna untuk agama, bangsa dan Negara.

3) Peneliti

Diharapkan dapat menambah ilmu serta wawasan penulis dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dengan terjun langsung ke lapangan sehingga memberikan pengalaman belajar yang membutuhkan kemampuan dan keterampilan meneliti serta ilmu yang mendalam terutama pada bidang yang dikaji.

(29)

17 BAB II

TINJAUAN TEORETIS

A. Bahan Ajar

1. Pengertian Bahan Ajar

Bahan ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis, baik tertulis maupun tidak, sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik untuk belajar. Ada pula yang berpendapat bahwa bahan ajar merupakan segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan atau materi pembelajaran pada dasarnya adalah ‚isi‛ dari kurikulum, yakni berupa mata pelajaran atau bidang studi dengan topik/subtopik dan rinciannya. Bahan ajar atau materi kurikulum adalah isi atau muatan kurikulum yang harus dipahami oleh peserta didik dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.1

Berdasarkan penjelasan di atas bahan ajar secara umum pada dasarnya merupakan segala bahan (baik itu informasi, alat maupun teks) yang disusun secara sistematis yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan di kuasai peserta didik dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk perencanaan dari penerapan pembelajaran. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis. Komponen yang tidak bisa dipisahkan dalam pengajaran ialah bahan ajar, penggunaan dan pemanfaatan bahan ajar akan membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian isi materi isi pelajaran.

1Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya Offset, 2009), h. 173-174.

(30)

Bahan ajar juga dapat membantu peserta didik untuk meningkatkan pemahaman dan menambah pengetahuan.

2. Jenis-jenis Bahan Ajar

Bahan ajar memiliki beragam jenis, ada yang cetak maupun noncetak. Bahan cetak yang sering dijumpai antara lain berupa buku, modul, handout, dan lembar kerja siswa.

a. Buku

Buku sebagai bahan ajar merupakan buku yang berisi ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis. Buku disusun dengan menggunakan bahasa sederhana, menarik, dilengkapi gambar, keterangan, isi buku, dan daftar pustaka.2 Buku akan sangat membantu guru dan siswa dalam mendalami ilmu pengetahuan sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.

Secara umum buku dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu sebagai berikut:

1) Buku sumber, yaitu buku yang dapat disajikan rujukan, referensi, dan sumber untuk kajian ilmu tertentu, biasanya berisi suatu kajian ilmu yang lengkap.

2) Buku bacaan, yaitu buku yang hanya berfungsi untuk bahan bacaan saja, misalnya cerita, legenda, novel, dongeng, dan lain sebagainya.

3) Buku pegangan, yaitu buku yang bisa dijadikan pegangan guru atau pengajar dalam melaksanakan proses pengajaran.

4) Buku bahan ajar atau buku teks, yaitu buku yang disusun untuk proses pembelajaran dan berisi bahan-bahan atau materi pembelajaran yang akan diajarkan.

2Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 178.

(31)

19

b. Modul

Modul merupakan bahan ajar yang ditulis dengan tujuan agar siswa dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru. Modul pembelajaran sebagai sejenis satuan kegiatan belajar yang terencana, didesain guna membantu peserta didik menyelesaikan tujuan-tujuan tertentu. Modul adalah semacam paket program untuk keperluan belajar.3

Penggunaan modul memberikan beberapa fungsi yang diperoleh, yaitu antara lain:

1) Adanya peningkatan motivasi belajar secara maksimal

2) Adanya peningkatan kreativitas guru dalam mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan serta pelayanan individual yang lebih mantap.

3) Dapat mewujudkan prinsip maju berkelanjutan secara tidak terbatas.

4) Dapat mewujudkan belajar yang lebih berkonsentrasi.4 c. Handout

Handout adalah segala sesuatu yang diberikan kepada peserta didik ketika mengikuti kegiatan pembelajaran. Kemudian, ada juga yang mengartikan handout sebagai bahan tertulis yang disiapkan untuk memperkaya pengetahuan peserta didik.

Guru dapat membuat handout dari beberapa literatur yang memiliki relevansi dengan kompetensi dasar yang akan dicapai oleh siswa. Saat ini handout dapat diperoleh melalui download internet atau menyadur dari berbagai buku dan sumber lainnya.

3Cece Wijaya, dkk., Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran, (Bandung:

Remadja Karya, 1988), h. 128.

4Sukiman, Pengembangan Media Pembelajaran, (Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani, 2012), h. 133.

(32)

d. Lembar Kerja Siswa (LKS)

Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah materi ajar yang sudah dikemas sedemikian rupa sehingga siswa diharapkan dapat materi ajar tersebut secara mandiri. Dalam LKS siswa akan mendapat materi ringkasan, dan tugas yang berkaitan dengan materi. Selain itu siswa juga dapat menentukan arahan yang terstruktur untuk memahami materi yang diberikan dan pada saat yang bersamaan siswa diberikan materi serta tugas yang berkaitan dengan materi tersebut.

3. Prinsip-prinsip Bahan Ajar

Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran. Prinsip tersebut meliputi:

a. Prinsip Relevansi Prinsip Relevansi artinya keterkaitan. Materi pelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan dengan pencapaian standar kompetensi. Sebagai contoh, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan.

b. Prinsip Konsistensi

Prinsip Konsistensi artinya ketetapan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa satu macam, maka materi pembelajaran yang harus diajarkan juga harus meliputi satu macam. Misalnya, kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah pengoperasian bilangan yang meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.

(33)

21

c. Prinsip Kecukupan

Artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.5

4. Fungsi Bahan Ajar

Fungsi bahan ajar bagi pendidik, di antaranya:

a. Menghemat waktu pendidik dalam mengajar

b. Mengubah peran pendidik dari seorang pengajar menjadi seorang fasilitator c. Meningkatkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan interaktif

d. Sebagai pedoman bagi pendidik yang akan mengarahkan semua aktivitas dalam proses pembelajaran dan merupakan kompetensi yang semestinya diajarkan kepada peserta didik.

e. Sebagai alat evaluasi pencapaian atau penguasaan hasil pembelajaran.

Fungsi bahan ajar bagi peserta didik, antara lain:

a. Peserta didik dapat belajar tanpa harus ada pendidikan atau teman peserta didik yang lain.

b. Peserta didik dapat belajar kapan saja dan di mana saja ia kehendaki.

c. Peserta didik dapat belajar sesuai kecepatannya masing-masing.

d. Peserta didik dapat belajar menurut urutan yang dipilihnya sendiri.

e. Membantu peserta didik untuk menjadi pelajar yang mandiri, dan

5Mohammad Rahman, Sofan Amri, Strategi dan Desain Pengembangan Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Pustaka Publisher , 2013), h. 80.

(34)

f. Sebagai pedoman bagi peserta didik yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran dan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari dan dikuasainya.6

B. Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Kata pendidikan yang umum digunakan dalam bahasa arab adalah tarbiyah dengan kata kerja rabba. Kata pengajar dalam bahasa arab adalah taklim dengan kata kerjanya ‘allama. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa arabnya adalah Tarbiyah Islamiyah. Secara istilah pendidikan adalah usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh nabi dalam menyampaikan seruan agama dengan berdakwah, menyampaikan ajaran, memberi contoh, melatih keterampilan tersebut, memberi motivasi dan menciptakan lingkungan yang sosial yang mendukung pelaksanaan ide pembentukan pribadi muslim.7

Menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.8

Agama secara etimologis berasal dari bahasa sansekerta yakni a dan gama. A berarti tidak dan gama berarti kacau atau berantakan. Jadi agama berarti tidak

6Andi Prastowo, Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif, (Yogyakarta: Diva Press, 2014), h. 24-25.

7Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h. 25-27.

8Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan (Jakarta: Aksara Baru, 1985), h. 2.

(35)

23

berantakan. Dengan makna ini, dapat dipahami bahwa agama memberikan serang- kaian peraturan kepada para penganutnya sehingga hidupnya tidak berantakan, serta mengarahkan manusia menjadi lebih teratur dan tertib.

Secara terminologis, Agama diartikan sebagai sistem kehidupan yang leng- kap menyangkut berbagai aspek kehidupan termasuk akidah, akhlak, ibadah, dan amal perbuatan yang disyariatkan Allah untuk manusia. Manusia diperintahkan untuk mengamalkan dan memedomaninya dengan rasa tunduk dan patuh kepada- Nya.9

Islam secara etimologis berasal dari akar kata sallama yang berarti selamat, damai, dan sejahtera. Sedangkan menurut terminologis mengandung pengertian serangkaian peraturan yang didasarkan pada wahyu yang diturunkan oleh Allah swt.

kepada para nabi/rasul untuk ditaati dalam rangka memelihara keselamatan, kesejahteraan, dan perdamaian bagi umat manusia yang termaktub dalam kitab suci10

Jadi, pengertian pendidikan agama Islam secara umum adalah suatu proses yang sangat komprehensif, disusun secara sistematis, terencana, dalam upaya mengembangkan potensi yang ada pada diri anak didik secara optimal, untuk menjalankan tugas di muka bumi ini dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan nilai- nilai ilahiah yang didasarkan dengan bingkai ajaran Islam pada semua aspek kehidupan.

9Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 3-4.

10Marzuki, Pendidikan Karakter Mahasiswa melalui Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta:

Ombak, 2012), h. 38-39.

(36)

2. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan dalam proses pendidikan Islam adalah identitas (cita-cita) yang mengandung nilai-nilai Islami yang hendak dicapai dalam proses kependidikan yang berdasarkan ajaran Islam secara bertahap. Tujuan pendidikan Islam yang demikian merupakan penggambaran nilai-nilai Islami yang hendak diwujudkan dalam pribadi manusia atau peserta didik yang pada akhir dari proses tersebut. Istilah lain tujuan pendidikan Islam adalah perwujudan nilai-nilai Islami dalam pribadi manusia atau anak didik yang diikhtiarkan oleh pendidik Muslim, melalui proses yang teratur dan terstruktur pada akhirnya menghasilkan anak didik yang berkepribadian Islam yang beriman, bertakwa, bermoral sesuai ajaran Islam dan berilmu pengetahuan yang sanggup mengembangkan dirinya menjadi hamba Allah yang memiliki akhlak mulia dan taat akan perintah Allah swt.11

Secara umum, pendidikan agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dari tujuan tersebut dapat ditarik beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan dan dituju oleh kegiatan pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu:

a. Dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam

b. Dimensi pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran agama Islam

11H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendidikan Interdisipliner (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), h. 54-55.

(37)

25

c. Dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan ajaran Islam

d. Dimensi pengalamannya, dalam arti bagaimana ajaran Islam yang telah diimani, dipahami dan dihayati atau diinternalisasi oleh peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk menggerakkan, mengamalkan, dan menaati ajaran agama dan nilai-nilainya dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt. serta mengaktualisasikan dan merealisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.12

Tujuan pendidikan agama Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa dan beribadah kepada-Nya, agar dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan di akhirat. Hal ini selaras dengan tujuan hidup manusia dalam Islam, sebagaimana ditegaskan Allah swt. dalam QS al-Za>riya>t/51: 56 dan QS Ali-‘Imra>n/3: 102.

﴿ َنْوُدُبْعَ يِل َّلِْا َسْنِْلْاَو َّنَْلْا ُتْقَلَخ اَمَو ٥٦

Terjemahnya:

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.13

َنوُمِلْسُّم مُتنَأَو َّلِْإ َّنُتوَُتَ َلَْو ِهِتاَقُ ت َّقَح َالله اوُقَّ تا اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأَي

Terjemahnya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.14

12Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), h. 78.

13Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Tajwid, h. 523.

(38)

Dua ayat di atas mengintroduksi aktivitas manusia yang diciptakan sebagai khalifah di muka bumi yang bertugas memakmurkan dan membangun bumi ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh yang menugaskan, yaitu Allah swt. atas dasar ini, kita dapat berkata bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah swt. dan khalifah-Nya, guna membangun peradaban sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah swt. atau dengan kata yang lebih singkat dan sering digunakan oleh al-Qur’an, untuk bertakwa kepada Allah swt.

3. Fungsi Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam untuk sekolah/madrasah berfungsi sebagai berikut:

a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah swt. yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama kewajiban menanamkan keimanan dan ketakwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah/madrasah berfungsi untuk menumbuhkembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran, dan pelatihan agar keimanan dan ketakwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.

b. Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

c. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.

14Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Tajwid, h. 63.

(39)

27

d. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan- kekurangan, dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman, dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.

e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.

f. Pengajaran, tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nirnyata), system dan fungsionalnya.

g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang Agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.15

4. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam

Islam sebagai agama dan objek kajian pendidikan memiliki cakupan dan ruang lingkup yang luas. Secara garis besar Islam memiliki sejumlah ruang lingkup yang saling terkait yaitu:

a. Akidah

Akidah merupakan suatu keyakinan atau kepercayaan yang diyakini kebenarannya oleh hati. Akidah berarti meyakinkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan melaksanakan dengan perbuatan.

b. Syariat

Syariat merupakan aturan dan norma-norma yang diturunkan oleh Allah swt.

kepada manusia untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan

15Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), h. 15.

(40)

alam semesta, dan hubungan antar sesama manusia. Dengan adanya aturan tersebut, maka hidup manusia akan lebih terarah dan tentunya dapat mencapai rida Allah.

c. Akhlak, Etika dan Moral

Akhlak, etika dan moral merupakan cerminan kualitas keberagaman seseorang. Semakin baik tingkat keberagaman seseorang, maka akan terlihat baik pula akhlak yang tercermin. Karena akhlak merupakan keadaan yang menjadi sumber lahirnya suatu perbuatan secara spontan.

Ketiga komponen di atas merupakan suatu kesatuan dalam ajaran Islam.

Umat muslim yang memiliki akidah yang lurus dan kuat maka akan mendorong dirinya untuk melaksanakan syariat Islam yang hanya ditujukan kepada Allah sehingga tercermin akhlak yang terpuji pada dirinya.16

C. Metode Kisah Nabawi 1. Pengertian Metode Kisah

Metode atau metoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu metha dan hodos.

Metha berarti melalui atau melewati dan hodos berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam bahasa Arab, metode disebut t}ari>qah. Mengajar berarti menyajikan atau menyampaikan pelajaran. jadi, metode mengajar berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pengajaran agar tercapai tujuan pengajaran. 17

16Rois Mahfud, Al-Islam Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Erlangga, 2011), h. 9.

17Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Amzah, 2017), h. 180.

(41)

29

Metode kisah atau cerita yang terangkai dalam alur yang baik secara psikologis akan memberi pengaruh kepada perasaan. Dengan demikian, kisah dinilai efektif untuk dijadikan salah satu dari metode pendidikan.18

Metode kisah merupakan salah satu metode pendidikan Islam. Kisah atau cerita sebagai suatu metode pendidikan yang mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan hati seseorang. Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita, dan menyadari pengaruhnya sangat besar terhadap perasaan. Oleh karena itu, Islam menyuguhkan kisah-kisah untuk dijadikan salah satu metode dalam proses pendidikan sehingga dapat diambil hikmah dan pelajaran dari kisah tersebut.19 Metode kisah atau cerita merupakan suatu faktor pendidikan yang penting untuk menumbuhkan sikap, mengubah nilai-nilai, menyeru kepada kebaikan, serta menghias diri dengan akhlak dan sifat-sifat yang mulia, karena cerita mempunyai daya kekuatan, pengaruh, dan bimbingan.20

Metode kisah mengandung arti suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menuturkan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal yang baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja. Dalam mengaplikasikan metode ini pada proses belajar mengajar, metode kisah merupakan salah satu metode pendidikan yang masyhur dan terbaik, sebab kisah itu mampu menyentuh jiwa jika didasari oleh ketulusan hati yang mendalam.21 An-Nahlawi

18Jalaluddin, Pendidikan Islam Pendekatan Sistem dan Proses (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2016), h. 32.

19Heri Gunawan, Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), h. 262.

20Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 66.

21Armai Arif, Pengantar Imu dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 160.

(42)

mengungkapkan bahwa dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dapat ditemukan berbagai metode pendidikan Islam yang sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa dan membangkitkan semangat peserta didik. Metode tersebut di antara salah satunya adalah metode mendidik dengan kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi.22 Metode kisah Qur’ani dan Nabawi adalah penyajian bahan pembelajaran yang menampilkan cerita- cerita yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadis Nabi. Kisah Qur’ani dan Nabawi bukan semata-mata karya seni yang indah, tetapi juga cara mendidik umat agar beriman kepada-Nya. Dalam pendidikan Islam, kisah merupakan metode yang sangat penting karena dapat menyentuh hati manusia. Kisah menampilkan tokoh dalam konteks yang menyeluruh sehingga pembaca atau pendengar dapat ikut menghayati, seolah-olah ia sendiri yang menjadi tokohnya.23

Metode kisah diisyaratkan dalam QS Yusuf/12: 3

ْنِاَو َناأْرُقْلااَذاه َكْيَلِآاَنْ يَحْوَا ٓاَِبِ ِصَصَقْل ْا َنَسْحَأ َكْيَلَع ُّصُقَ ن ُنَْنَ

هِلْبَ ق ْنِم َتْنُك

﴿َْيِْلِفاغْلا َنِمَل ٖ ٣

Terjemahnya:

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al- Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui24

Substansi ayat di atas selanjutnya diperkuat oleh ayat lain yaitu QS Yusuf/12: 111 yang berbunyi:

َْيَْ ب ْيِذَّلا َقْيِدْصَت ْنِكالَو ىارَ تْفُّ ي اًثْ يِدَح َناَكاَم ِباَبْلَْلْا ِلِوُِّلْ ٌةَرْ بِع ْمِهِصَصَق ِفِ َناَك ْدَقَل َلْيِصْفَ تَو ِهْيَدَي

ٍءْيَش ِّلُك

﴿َنْوُ نِمْؤُّ ي ٍمْوَقِّل ًةَْحَْرَّو ىًدُهَّو ١١١

22Janawi, Metodologi dan Pendekatan Pembelajaran (Yogyakarta: Ombak, 2013), h. 143.

23Sri Minarti, Ilmu Pendidikan Islam Fakta Teoritis-Filosofis dan Aplikatif –Normatif (Jakarta: Amzah, 2013), h. 142.

24Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Tajwid, h. 235.

(43)

31

Terjemahnya:

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai ) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.25

Al-Qas}as} berarti kisah atau peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa yang lalu.26 Secara epistemologi lafaz qas}as} merupakan bentuk jamak dari kata qis}ah, lafaz ini merupakan bentuk masdar dari kata qas}s}a yaqus}s}u yang berarti menceritakan, juga dapat mengandung arti menelusuri/mengikuti jejak. Makna qas}as}

dalam sebagian besar ayat-ayat berarti kisah atau cerita. Secara terminologis qas}as}

berarti kisah-kisah yang menceritakan ihwal umat-umat terdahulu dan nabi-nabi serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini, dan masa yang mendatang.27 Metode kisah disebut juga metode cerita yakni cara mendidik dengan mengandalkan bahasa, baik lisan maupun tertulis dengan menyampaikan pesan dari sumber pokok sejarah Islam, yakni al-Qur’an dan Hadis.

Metode kisah sangat penting dalam pendidikan karena selain kemampuannya menyentuh aspek kognitif, juga menyentuh aspek afektif, hal tersebut berpotensi membentuk aspek psikomotorik, yakni mengajak anak untuk berperilaku sesuai dengan apa yang dikisahkan, meniru perilaku baik sesuai dengan apa yang dikisahkan, meniru perilaku baik dari pelaku yang dikisahkan setelah memahami dan menghayati isi kisah yang dipaparkan, kemudian dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

25Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Tajwid, h. 248.

26Mangun Budiyanto, Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta: Ombak, 2013), h. 157.

27M. Munir, Metode Dakwah (Jakarta: Kencana, 2003), h. 300.

Referensi

Dokumen terkait

Observasi dilaksanakan secara langsung bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Pada tahapan observasi siklus I yang dilaksanakan pada saat kegiatan

Dari hasil penelitian yang diperoleh melalui kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan 2 siklus melalui observasi kegiatan belajar mengajar, observasi aktifitas siswa

dan Nurdin Mohamad, Belajar dengan Pendekatan pailkem (cet.. bimbingan pendidik didukung dengan metode pembiasaan, diharapkan menghasilkan manusia yang selalu menyempurnakan

Motivasi belajar sangat diperlukan dalam setiap kegiatan belajar mengajar agar proses transformasi ilmu dari pendidik ke peserta didik menjadi maksimal motivasi penting dalam

Dalam metode pembelajaran daring, pendidik dan peserta didik melakukan kegiatan belajar - mengajar secara online dengan memanfaatkan berbagai macam aplikasi yang

Kegiatan pelatihan penyusunan bahan ajar digital pada guru Yayasan Sunan Ampel Poncokusumo dilaksanakan melalui tiga tahapan kegiatan, antara lain perencanaan kegiatan, pelaksanaan

Bukan hanya sekedar itu pembinaan akhlak melalui pendidikan MAN 1 OKU Timur selain kegiatan belajar mengajar ada juga kegiatan tambahan tentang keagamaan agar peserta didik memiliki

yang terlihat saat proses belajar mengajar pendidik hanya menyampaikan bahan ajar serta pemberian evaluasi pada siswa sehingga kegiatan belajar mengajar tidak dapat mendorong siswa