• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORETIS

D. Pembentukan Akhlak Mulia

Kata Akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluq yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat. Menurut istilah, akhlak adalah tabiat atau sifat seseorang, yakni keadaan jiwa telah terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar telah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan dan diangan-angan lagi.33

Hakikat akhlak harus mencakup dua syarat, yaitu:

a. Perbuatan itu harus konstan, yaitu dilakukan berulang kali atau kontinu dalam bentuk yang sama, sehingga dapat menjadi kebiasaan (habit forming). Misalnya seseorang yang memberikan sumbangan harta hanya sekali-kali karena dorongan keinginan sekonyong-konyong saja, maka orang itu tidak dikatakan dermawan selama sikap demikian itu tidak meresap dalam jiwa,

b. Perbuatan yang konstan itu harus tumbuh dengan mudah sebagai wujud refleksi dari jiwanya tanpa pertimbangan dan pemikiran, yakni bukan karena adanya

32Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam , h. 163.

33A. Mustafa, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Pustaka Setia, 1999), h. 11.

tekanan-tekanan atau paksaan-paksaan dari orang lain, atau pengaruh-pengaruh, rayuan dan sebagainya. Misalnya orang yang memberikan harta benda karena tekanan moril dan pertimbangan maka belum juga termasuk kelompok orang yang bersifat dermawan. Dermawan sebagai sifat dan sikap yang melekat dalam pribadi yang didapat Karena didikan atau memang naluri.

Kemudian norma-norma kebaikan dan keburukan akhlak ditinjau dari pandangan akal pikiran dan syariat agama Islam. Akhlak yang sesuai dengan akal pikiran dan syariat dinamakan akhlak mulia dan baik, sebaliknya akhlak yang tidak sesuai atau bertentangan dengan akal pikiran dan syariat dinamakan akhlak sesat dan buruk, hanya menyesatkan manusia belaka.34

Akhlak merupakan salah satu khazanah intelektual muslim yang kehadirannya sampai saat ini semakin dirasakan, secara historis dan teologis akhlak hadir mengawal dan memandu perjalanan hidup manusia agar supaya selamat di dunia maupun di akhirat. Maka dari itu misi utama kerasulan Muhammad saw. yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, selain itu sejarah juga mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau antara lain dikarenakan dukungan akhlak yang sempurna.35 Jadi jika ingin berhasil dalam hidup di dunia maupun di akhirat hendaknya memperhatikan akhlaknya, dengan meneladani akhlak Rasulullah saw. agar tidak mudah terhasut oleh hal-hal negatif dari luar yang diakibatkan dari perkembangan IPTEK.

34Zainuddin. Dkk., Seluk Beluk Pendidikan dari al-Ghazali (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h.

102-103.

35Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam: Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian Muslim (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), h. 149

37

Pengertian mulia menurut kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti baik, dan terpuji. Kata mulia digunakan untuk menunjukkan pada perbuatan dan akhlak yang terpuji yang ditampakkan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Selanjutnya kata mulia ini biasanya digunakan untuk menunjukkan perbuatan terpuji yang skalanya besar, seperti menafkahkan harta di jalan Allah, berbuat baik pada kedua orang tua dan lain sebagainya.36

Akhlak mulia atau yang biasanya disebut dengan akhlak baik adalah keadaan batin yang baik. Di dalam batin manusia, yaitu dalam jiwanya terdapat empat tingkatan, dan dalam diri orang yang berakhlak baik, semua tingkatan itu tetap baik, moderat dan saling mengharmonisasikan.37

2. Ruang Lingkup Akhlak

Ruang lingkup Akhlak di antaranya, sebagai berikut:

a. Akhlak terhadap Allah

Titik tolak akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Adapun perilaku yang dikerjakan adalah:

1) Bersyukur kepada Allah

Manusia diperintahkan untuk memuji dan bersyukur kepada Allah karena orang yang bersyukur akan mendapat tambahan nikmat sedangkan orang yang ingkar akan mendapat siksa.

36Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h. 122.

37M. Abul Quasem, Etika Al-Ghazali; Etika Majemuk di dalam Islam (Bandung: Pustaka, 1988), h. 82

2) Meyakini kesempurnaan Allah

Meyakini bahwa Allah mempunyai sifat kesempurnaan. Setiap yang dilakukan adalah suatu yang baik dan terpuji.

3) Taat terhadap perintah-Nya

Manusia ditugaskan di dunia ini adalah untuk beribadah karena itu taat terhadap aturan-Nya merupakan bagian dari perbuatan baik.

b. Akhlak terhadap sesama Manusia

Banyak sekali rincian tentang perlakuan terhadap sesama manusia. Petunjuk mengenai hal itu tidak hanya berbentuk larangan melakukan hal-hal yang negatif seperti membunuh, menyakiti badan, atau mengambil harta tanpa alas an yang benar, melainkan juga menyakiti hati dengan jalan menceritakan aib sesama.

c. Akhlak terhadap lingkungan

Yang dimaksud lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan maupun benda-benda tak bernyawa.

Dasar yang digunakan sebagai pedoman akhlak terhadap lingkungan adalah tugas kekhalifahannya di bumi yang mengandung arti pengayoman, pemeliharaan serta pembimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.38

3. Dasar Pendidikan Akhlak

Islam merupakan agama yang sempurna, sehingga setiap ajaran yang ada dalam Islam memiliki dasar pemikiran, begitu pula dengan pendidikan akhlak.

Adapun yang menjadi dasar pendidikan akhlak adalah Qur’an. Di antara ayat

38Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an (Bandung: Mizan, 2000), h. 261-271.

39

Qur’an yang menjadi dasar pendidikan akhlak yaitu terdapat dalam QS Luqman/31:

17-18.

Hai anakku, Dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.39

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa ajaran Islam serta pendidikan akhlak mulia yang harus diteladani agar menjadi manusia yang hidup sesuai dengan tuntutan syariat, yang bertujuan untuk kemaslahatan umat manusia.

4. Proses Pembentukan Akhlak

Akhlak tidak cukup hanya dipelajari, tanpa adanya upaya untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia. Dalam konteks akhlak, perilaku seseorang akan menjadi baik jika diusahakan pembentukannya. Usaha tersebut dapat ditempuh dengan belajar dan berlatih melakukan perilaku akhlak yang mulia.

Untuk membentuk akhlak seseorang diperlakukan proses tertentu, di antaranya sebagai berikut:

a. Qudwah atau Uswah (Keteladanan)

Orang tua dan guru yang biasa memberikan teladan perilaku baik, biasanya akan ditiru oleh anak-anak dan muridnya. Hal ini berperan besar dalam mengembangkan pola perilaku mereka. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Imam

39Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Tajwid, h. 412.

Al-Ghazali pernah mengibaratkan bahwa orang tua itu seperti cermin bagi anak-anaknya. Artinya, perilaku orang tua biasanya akan ditiru oleh anak-anak-anaknya. Ihwal ini tidak terlepas dari kecenderungan anak-anak yang suka meniru (h}ubbu al-taqdid).

Keteladanan orang tua sangat penting bagi pendidikan moral anak. Bahkan hal itu jauh lebih bermakna, dari sekedar nasihat secara lisan (indoktrinasi). Jangan berharap anak akan bersifat sabar, jika orang tua memberi contoh sikap yang selalu marah-marah. Merupakan suatu yang sia-sia, ketika orang tua mendambakan anaknya berlaku sopan dan bertutur kata lembut, namun dirinya sendiri sering berkata kasar dan kotor. Keteladanan yang baik merupakan kiat yang mujarab dalam mengembangkan perilaku moral bagi anak.

b. Ta‘li>m (Pengajaran)

Dengan mengajarkan perilaku keteladanan, akan terbentuk pribadi yang baik.

Dalam mengajarkan hal-hal yang baik, kita tidak perlu menggunakan kekuasaan dan kekerasan. Sebab cara tersebut cenderung mengembangkan moralitas yang eksternal.

Artinya, dengan cara tersebut, anak hanya akan berbuat baik karena takut hukuman orang tua atau guru. Pengembangan moral yang dibangun atas dasar rasa takut, cenderung membuat anak menjadi kurang kreatif. Bahkan ia juga menjadi kurang inovatif dalam berpikir dan bertindak, sebab ia selalu dibayangi rasa takut dihukum dan dimarahi orang tuanya atau gurunya.

Anak sebaiknya jangan dibiarkan takut kepada orang tua atau guru, melainkan ditanamkan sikap hormat dan segan. Sebab jika hanya karena rasa takut, anak cenderung berperilaku baik ketika ada orang tua atau gurunya. Namun, ketika anak luput dari perhatian orang tua atau gurunya, ia akan berani melakukan penyimpangan. Menjadi wajar jika ada anak yang ketika di rumah atau di sekolah

41

tampak baik-baik saja penurut dan sopan, namun ketika di luar, ia berbuat nakal dan berperilaku menyimpang. Misalnya, mencuri, menggunakan obat-obatan terlarang, atau melakukan tindak kriminal lainnya.

c. Ta’wid (Pembiasaan)

Pembiasaan perlu ditanamkan dalam membentuk pribadi yang berakhlak.

Sebagai contoh, sejak kecil, anak dibiasakan membaca basmalah sebelum makan, makan dengan tangan kanan, bertutur kata baik, dan sifat-sifat terpuji lainnya. Jika hal itu dibiasakan sejak dini, kelak ia akan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia ketika dewasa.

d. Targi>b/Reward (Pemberian Hadiah)

Memberikan motivasi, baik berupa pujian atau hadiah tertentu, akan menjadi salah satu latihan positif dalam proses pembentukan akhlak. Cara ini akan sangat ampuh, terutama ketika anak masih kecil.

Secara psikologis, seorang memerlukan motivasi atau dorongan ketika hendak melakukan sesuatu. Motivasi itu pada awalnya mungkin masih bersifat material. Akan tetapi, kelak akan meningkat menjadi motivasi yang lebih bersifat spiritual. Misalnya, ketika masih anak-anak, kita mengerjakan salat jamaah hanya karena ingin mendapatkan hadiah dari orang tua. Akan tetapi, kebiasaan tersebut lambat laun akan mengantarkan pada kesadaran, bahwa kita beribadah karena kebutuhan untuk mendapatkan rida dari Allah swt.

Jika penanaman nilai-nilai akhlak mulia telah dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan tersebut akan menjadi sesuatu yang ringan. Dengan demikian,

ajaran-ajaran akhlak mulia akan diamalkan dengan baik oleh umat Islam. Setidaknya perilaku tercela akan dapat diminimalkan dalam kehidupan.40

5. Tujuan Pembentukan Akhlak

Dengan mempelajari akhlak diharapkan dapat menjadi sarana bagi terbentuknya insan kamil (manusia sempurna, ideal), Insan kamil dapat diartikan sebagai manusia yang sehat dan terbina potensi ruhaniahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal dan dapat berhubungan dengan Allah dan dengan makhluk lainnya secara benar sesuai ajaran dengan akhlak.

Pendidikan akhlak dalam Islam tersimpul dalam prinsip ‚berpegang teguh pada kebaikan dan kebajikan serta menjauhi keburukan dan kemungkaran‛, berhubungan erat dengan upaya mewujudkan tujuan dasar pendidikan Islam yaitu:

Ketakwaan, ketundukan dan beribadah kepada Allah. Pendidikan akhlak menekankan pada sikap, tabiat dan perilaku yang menggambarkan nilai-nilai kebaikan yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.41

Tujuan akhir setiap ibadah adalah pembinaan takwa. Bertakwa mengandung arti melaksanakan segala perintah agama dan meninggalkan segala larangan agama.

Hal ini berarti menjauhi perbuatan buruk dan mengerjakan perbuatan-perbuatan terpuji. Orang yang bertakwa berarti orang yang berakhlak mulia berbuat

40Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak (Jakarta: Amzah, 2016), h. 28-29.

41H. Said Agil Husain Al-Munawwar, Aktualisasi Nilai-nilai Qur’ani dalam Sistem Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2003), h. 8.

43

kebajikan serta berbudi luhur.42 Dengan begitu tak akan ada yang namanya kenakalan remaja, penyimpangan sosial dan kejahatan dimana-mana.

Dari uraian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa tujuan pembentukan akhlak adalah untuk menjadikan tolak ukur kelakuan baik dan buruk mestilah merujuk kepada ketentuan Allah. Demikianlah rumus yang diberikan oleh kebanyakan ulama dan perlu ditambahkan bahwa apa yang dinilai baik oleh Allah, pasti baik dalam esensinya.

42M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an (Jakarta: Amzah, 2007), h. 3.

44 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Lokasi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif kualitatif, yaitu mendeskripsikan suatu peristiwa atau objek yang menjadi fokus penelitian.

Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang paling dasar. Ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah maupun yang bersifat rekayasa manusia. Penelitian deskriptif mengkaji bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaannya dengan fenomena yang lain.1

Penelitian yang bersifat deskriptif berusaha mendeskripsikan, menganalisis, dan menginterpretasi data yang terkumpul dalam proses penelitian. Menurut Ibnu Hajar, penelitian deskriptif memusatkan perhatiannya terhadap fenomena yang terjadi pada saat ini. Penelitian yang bersifat deskriptif ini berusaha untuk membuat deskripsi fenomena yang diselidiki dengan cara melukiskan dan mengklasifikasikan fakta atau karakteristik fenomena tersebut secara faktual dan cermat.2

2. Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Ende Selatan, jalan Teuku Umar, Kelurahan Paupanda, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

1Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, h. 60.

2Ibnu Hajar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h. 274.

45

B. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan pedagogik. Karena pendekatan ini mengkaji masalah dalam bidang pengajaran termasuk di dalamnya pemanfaatan bahan ajar PAI dalam hal ini khususnya buku teks PAI guna untuk membentuk akhlak mulia peserta didik.

Hal ini sangat relevan dengan judul penelitian ini.

C. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh.

Apabila peneliti menggunakan wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespons atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan.3

Berdasarkan pengertian tersebut dapat dimengerti bahwa yang dimaksud dengan sumber data adalah dari mana peneliti akan mendapatkan informasi berupa data-data yang diperlukan dalam penelitian. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah:

1. Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan atau tempat penelitian yang ingin diteliti. Sedangkan sumber utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan atau perilaku. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh di lapangan dengan cara mengamati dan mewawancarai. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi

3Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2014), h. 172.

langsung tentang pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah nabawi untuk membentuk akhlak mulia peserta didik di SMP Negeri 1 Ende Selatan. Dalam hal ini yang akan menjadi sumber data primer adalah guru bidang studi Pendidikan Agama Islam kelas VII SMP Negeri 1 Ende Selatan yaitu ibu Nurhayati (NH). beserta peserta didiknya.

2. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah sumber data pelengkap yang berfungsi melengkapi data-data yang diperlukan oleh sumber data primer, yaitu dapat berupa buku-buku, serta dokumen resmi dari instansi (sekolah). Peneliti akan menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah di kumpulkan melalui wawancara langsung dengan guru Pendidikan Agama Islam dan peserta didik SMP Negeri 1 Ende Selatan.

D. Metode Pengumpulan Data

Adapun dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data dengan cara sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Observasi hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindera, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan

47

untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian4

2. Wawancara

Dalam bentuknya yang paling sederhana wawancara terdiri atas sejumlah pertanyaan yang dipersiapkan oleh peneliti dan diajukan kepada seseorang mengenai topik penelitian secara tatap muka, dan peneliti merekam jawaban-jawabannya sendiri. Wawancara dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara individual.5 Wawancara ialah suatu proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara Tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian. Wawancara digunakan sebagai tekhnik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil.6

3. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subyek penelitian.7 Selain melalui wawancara dan observasi, informasi juga bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, cendera mata, jurnal kegiatan dan sebagainya.

4Sitti Mania, Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial, h. 187-188.

5Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), h. 216.

6Sitti Mania, Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial, h. 184.

7Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offiset, 2011), h. 70.

Data berupa dokumen seperti ini bisa dipakai untuk menggali informasi yang terjadi dimasa silam.8

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat untuk memperoleh data atau informasi dari obyek penelitian. Jenis-jenis instrumen penelitian yang akan digunakan oleh peneliti sebagai berikut:

1. Pedoman Observasi

Pedoman observasi dalam penelitian ini adalah alat yang dibuat sebagai panduan untuk mengamati objek penelitian di lapangan, yakni untuk memperoleh data yang berkaitan dengan pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah nabawi untuk membentuk akhlak mulia di SMP Negeri 1 Ende Selatan.

2. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara yaitu alat yang dibuat dalam mengumpulkan data dengan melakukan wawancara kepada responden yang berisi daftar pertanyaan sebagai panduan yang dibuat sebelum turun ke lapangan penelitian.

Pedoman wawancara ini disusun guna menjadi pedoman peneliti dalam melakukan wawancara terhadap guru, dan siswa untuk mengetahui pemanfaatan bahan ajar PAI berbasis kisah nabawi untuk membentuk akhlak mulia peserta didik di SMP Negeri 1 Ende Selatan. Pedoman wawancara perlu disusun supaya proses wawancara tetap fokus pada masalah yang diteliti.

8Sitti Mania, Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial , h. 189.

49

3. Pedoman Dokumentasi

Pedoman dokumentasi digunakan untuk memperoleh data dokumen tentang profil sekolah, data jumlah pendidik, data jumlah peserta didik di SMP Negeri 1 Ende Selatan. Termasuk di dalamnya berupa data-data kelas yang diteliti, serta foto-foto yang diambil peneliti pada saat proses pembelajaran berlangsung. Alat dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: tape record, handphone, dan alat tulis.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain.9

Analisis penelitian data kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai.

Bila jawaban yang diwawancarai setelah analisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi, sampai tahap tertentu, diperoleh data yang dianggap kredibel.

9Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung, Alfabeta, 2016), h. 335.

Adapun aktivitas dalam analisis data sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Reduksi data atau data reducation yaitu data yang diperoleh dari lapangan yang banyak dan kompleks maka perlu dilakukan analisis data melalui reduksi data.

Mereduksi data dengan cara merangkum, memilih hal pokok, memfokuskan hal-hal yang penting dan membuang hal-hal yang dianggap kurang penting. Jadi, peneliti memfokuskan penelitian dan membuang hal-hal yang dianggap kurang penting. Hal ini bertujuan masalah penelitian tidak meluas dan agar tujuan penelitian yang diinginkan dapat tercapai.

2. Penyajian Data

Penyajian data atau data display yaitu data yang sudah direduksi disajikan dalam bentuk uraian singkat berupa teks yang bersifat naratif. Melalui penyajian data tersebut, maka data akan mudah dipahami sehingga memudahkan rencana kerja selanjutnya.

3. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi

Penarikan kesimpulan yaitu data yang sudah disajikan dianalisis secara kritis berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh di lapangan. Penarikan kesimpulan dikemukakan dalam bentuk naratif sebagai jawaban dari rumusan masalah yang telah dirumuskan.

51

G. Pengujian Keabsahan Data

Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.10

Berikut ini beberapa teknik pengujian keabsahan data, antara lain:

1. Triangulasi

Triangulasi merupakan salah satu teknik dalam pengumpulan data untuk mendapatkan temuan dan interpretasi data yang lebih akurat dan kredibel.11 Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabung-kan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.

Menggunakan teknik triangulasi dalam pengumpulan data, maka data yang diperolehkan lebih konsisten dan akan lebih meningkatkan kekuatan data dibandingkan dengan menggunakan satu pendekatan saja.12

a. Triangulasi Sumber

Penggunaan sumber yang banyak untuk triangulasi dapat dilakukan dengan mencari sumber (informan) yang lebih banyak dan berbeda dalam informasi yang sama.

10Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung, Alfabeta, 2016), h. 270.

11Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitaif, Kalitatif, dan Penelitian Gabungan (Jakarta:

Kencana, 2017), h. 395.

12Sitti Mania, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial, h. 195.