• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

G. Pengujian Keabsahan Data

Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.10

Berikut ini beberapa teknik pengujian keabsahan data, antara lain:

1. Triangulasi

Triangulasi merupakan salah satu teknik dalam pengumpulan data untuk mendapatkan temuan dan interpretasi data yang lebih akurat dan kredibel.11 Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabung-kan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.

Menggunakan teknik triangulasi dalam pengumpulan data, maka data yang diperolehkan lebih konsisten dan akan lebih meningkatkan kekuatan data dibandingkan dengan menggunakan satu pendekatan saja.12

a. Triangulasi Sumber

Penggunaan sumber yang banyak untuk triangulasi dapat dilakukan dengan mencari sumber (informan) yang lebih banyak dan berbeda dalam informasi yang sama.

10Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung, Alfabeta, 2016), h. 270.

11Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitaif, Kalitatif, dan Penelitian Gabungan (Jakarta:

Kencana, 2017), h. 395.

12Sitti Mania, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial, h. 195.

b. Triangulasi Teknik

Penggunaan teknik pengumpulan data yang berbeda dapat diartikan bahwa kalau tahap pertama informasi dikumpulkan dengan observasi tentang suatu objek, maka berikutnya gunakan lagi metode yang lain seperti wawancara dan dokumentasi. Jika dengan teknik pengumpulan data tersebut menghasilkan data yang berbeda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan untuk memastikan data mana yang dianggap benar.

c. Triangulasi Waktu

Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, akan memberikan data lebih valid sehingga lebih kredibel.

2. Memperpanjang Waktu Pengamatan

Jika data yang dikumpulkan peneliti belum meyakinkan, belum dapat dipercaya, maka peneliti perlu memperpanjang waktu tinggal di lapangan dan terus melanjutkan pengumpulan data sesuai dengan data yang dibutuhkan sambil mengkaji ulang dan menganalisis data yang sudah dikumpulkan.

53 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini, peneliti akan mendeskripsikan dan membahas hasil penelitiannya di SMP Negeri 1 Ende Selatan Kabupaten Ende, yang diperoleh melalui wawancara dan observasi, serta kajian dokumentasi sebagai berikut:

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian a. Profil Sekolah

Adapun profil sekolah secara lengkap sebagai berikut:

Nama Sekolah : SMP Negeri 1 Ende Selatan

NPSN : 50302603

Status Sekolah : Negeri Kategori Sekolah : Biasa

Alamat Sekolah : Jalan Teuku Umar Kelurahan : Kel. Paupanda Kecamatan : Kec. Ende Selatan Kabupaten/Kota : Kab. Ende

Provinsi : Nusa Tenggara Timur Kode Pos : 86315

E-Mail : [email protected] Website : http://www.smpn1ensel.sch.id

b. Sejarah singkat berdirinya Sekolah

SMP Negeri 1 Ende Selatan merupakan unit sekolah baru yang didirikan pada tahun 1999 dengan 9 ruang kelas dan memulai kegiatan belajar mengajar pada bulan Juli tahun 2000.

Selama 19 tahun sekolah ini berjalan, di tengah pasang surut dunia pendidikan, berbagai upaya dilakukan dalam rangka memperbaiki, menunjang dan meningkatkan mutu sekolah, baik berupa usaha untuk terus melengkapi sarana dan prasarana pendidikan maupun meningkatkan daya saing peserta didik. Hal ini dapat dilihat pada keberhasilan memiliki berbagai sarana dan prasarana pendukung pendidikan, berbagai prestasi akademik, non-akademik dan bantuan-bantuan yang diterima sebagai wujud perhatian pemerintah pada sekolah ini. Sehingga sampai saat ini SMP Negeri 1 Ende Selatan telah memiliki 17 ruang kelas untuk mendukung kegiatan pembelajaran.

SMP Negeri 1 Ende Selatan memiliki luas tanah 10.480 m2, dengan batas utara pemukiman, sebelah timur dan selatan berbatasan dengan perkebunan rakyat serta sebelah barat berbatasan dengan jalan raya.

Selama 19 tahun berjalan, sekolah ini telah melewati beberapa periode kepemimpinan, yaitu:

1. Periode Kepemimpinan Saleh Djamal, B.A. (Juli 2000-Oktober 2000)

Pada masa itu, jumlah siswa sebanyak 70 orang dan 2 rombongan belajar, 5 orang guru serta 1 orang pegawai tata usaha. Masa jabatan beliau hanya berjalan selama 2,5 bulan saja, beliau meninggal dunia karena sakit.

55

2. Periode Kepemimpinan Sulaiman Saleh Dange, A.Md. (Oktober 2000-23 Desem-ber 2001)

Untuk menggantikan almarhum Bapak Saleh Djamal, B.A., maka ditunjuklah Bapak Sulaiman Saleh Dange, A.Md. sebagai pelaksana harian kepala sekolah sampai terpilih kepala sekolah definitif. Sampai pada akhir masa jabatannya, sekolah ini sudah memiliki 7 rombongan belajar dengan jumlah guru sebanyak 22 orang yang terdiri dari 20 PNS 2 GTT serta 3 orang pegawai tata usaha.

3. Periode Kepemimpinan Bapak Drs. Ahmad Abdul Gefar. 27 Desember 2001 - 15 Maret 2009.

Pada tanggal 27 Desember 2001, berdasarkan SK Bupati Ende nomor 319 tahun 2001, telah ditetapkan bapak Drs. Ahmad Abdul Gefar sebagai kepala sekolah definitif. Beliau menjabat kepala sekolah selama 2 periode. Sampai dengan akhir jabatan beliau, sekolah ini telah memiliki 12 rombongan belajar, dengan jumlah tenaga pendidik sebanyak 23 orang yang terdiri dari 16 PNS dan 7 GTT serta 8 pegawai tata usaha dan tenaga pendukung lainnya.

4. Periode kepemimpinan Yusuf Umar, S.Pd. (16 Maret 2009-30 November 2016) Setelah 2 periode kepemimpinan bapak Drs. Ahmad Abdul Gefar, berdasarkan SK Bupati Ende nomor KEP.059.829.4.3/0312/PK/2009, maka tongkat estafet kepemimpinan diamanatkan kepada bapak Yusuf Umar, S.Pd. Sebanyak 7.149 siswa telah diterima sejak tahun pelajaran 2000/2001 sampai dengan saat ini dengan 18 rombongan belajar, dengan didukung oleh tenaga pendidik yang terus berkembang mencapai 44 orang yang terdiri dari 30 PNS dan 14 GTT serta pegawai tata usaha dan tenaga pendukung lainnya sebanyak 12 orang.

5. Periode kepemimpinan Syaifudin Pua Riwa, S.Pd. (2 Maret 2017-Sekarang) Berdasarkan keputusan Bupati Ende nomor KEP.016.829/2962/III/PK/2017 tanggal 02 Maret 2017, bapak Syaifudin Pua Riwa, S.Pd. ditetapkan sebagai kepala SMP Negeri 1 Ende Selatan. Dengan didukung oleh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang terus berkembang hingga saat ini mencapai 53 orang yang terdiri dari 33 PNS dan19 GTT.

Selama 5 periode masa kepemimpinan tersebut, telah berhasil mencetak angka kelulusan sebanyak 2.198 orang.

c. Visi dan Misi Sekolah

SMP Negeri 1 Ende Selatan memiliki visi, yaitu: ‚Berprestasi, beriptek, dan mandiri berlandaskan keimanan‛. Untuk mencapai visi tersebut, sekolah memiliki misi yaitu:

a. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga siswa berkembang optimal sesuai potensi yang dimiliki.

b. Memberdayakan semua komponen sekolah untuk berperan aktif dalam mencapai prestasi.

c. Menciptakan suasana yang kondusif untuk keefektifan seluruh kegiatan sekolah.

d. Melaksanakan pengembangan kegiatan-kegiatan akademik dan non akademik agar siswa dapat berkembang optimal.

e. Mengembangkan budaya kompetitif bagi siswa, tenaga pendidik dan kependidikan dalam upaya peningkatan prestasi.

f. Menerapkan pola manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan stakeholder-nya.

g. Mendorong dengan membina siswa untuk menguasai ICT.

57

h. Mendorong dan membina siswa untuk memiliki wawasan IPTEK yang luas.

i. Mendorong dan membina siswa untuk menguasai salah satu keterampilan agar mampu hidup mandiri.

j. Menumbuhkembangkan penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama yang dianut untuk membentuk budi pekerti dan perilaku yang baik.

d. Sarana dan Prasarana Sekolah

Sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor yang dapat mendukung atau menunjang keberhasilan suatu pembelajaran. Dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai dapat memberikan pengaruh kepada peserta didik agar lebih giat untuk belajar. Berikut ini keadaan sarana dan prasarana yang ada di SMP Negeri 1 Ende Selatan adalah antara lain:

Tabel 4.1 Sarana dan Prasarana Sekolah

No. Nama Prasarana Jumlah

1. Ruang Kelas 18

2. Ruang Guru 1

3. Ruang BK 1

4. Ruang Kepala Sekolah 1

5. Ruang Wakil Kepala Sekolah 1

6. Ruang Administrasi 1

7. Ruang Tata Usaha 1

8. Ruang Humas 1

9. Ruang Sarana 1

10. Ruang OSIS 1

11. Ruang Kantin 1

12. Laboratorium IPA 1

13. Laboratorium Komputer 1

14. Lapangan Basket 1

15. Lapangan Sepak Bola 1

16. Pos Satpam 1

17. UKS 1

18. WC Guru 2

19. WC Peserta Didik 8

20 Ruang Serba Guna/Aula 1

e. Keadaan Pendidik

Eksistensinya seorang pendidik tidak dapat ditinggalkan sebab pendidik merupakan salah satu faktor utama terpenting pada pendidikan. Suatu lembaga pendidikan terus mengupayakan kualitas dan kuantitas pendidik sebagai sarana untuk memperoleh kualitas output yang dihasilkan juga dapat dipertanggungjawabkan. Pada proses pembelajaran, SMP Negeri 1 Ende Selatan memiliki tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dengan perincian sebagai berikut:

Tabel 4.2 Tenaga Pendidik SMP Negeri 1 Ende Selatan

No Nama Guru Jenis

Kelamin Jabatan Guru Bidang Studi 1. Syaifudin Pua Riwa, S.Pd. L Kepala

Sekolah -

2. Muhammad Usman L Guru BK Bimbingan

Konseling (BK)

3. St. Sumarni Said P Pengelola Bahasa Indonesia

59

15. Nona Mochyeden, S.H. P Guru Mapel Pendidikan 18. Kridayanti M. Abdullah, S.Pd. P Bendahara

Dana BOS, 24. Benediktus P. Ali Asang,

S.Pd.

L Guru Mapel Kesenian

25. Mastura B. Atanuhang, S.Pd. P Guru Mapel Bahasa Indonesia

26. Raihan Nday, S.Psi. L Guru BK Bimbingan

Konseling (BK) 27. Ari Sulistyaningsih, S.Pd. P Kepala

Laboratorium 31. Arwin Abdullah, S.Pd.I. P Guru Mapel Pendidikan

Agama Islam (PAI)

61 41. Zulkarnain Azhar, S.Pd. L Guru Mapel Pendidikan

Jasmani dan

f. Keadaan Peserta Didik

Adapun jumlah Peserta Didik SMP Negeri 1 Ende Selatan sebagai berikut:

Tabel 4.3 Peserta Didik SMP Negeri 1 Ende Selatan Kab. Ende

Kelas Jumlah Kelas

Jumlah Siswa

L P Jumlah

VII 6 90 96 186

VIII 6 91 94 185

IX 6 80 87 187

Jumlah 18 261 277 538

2. Pemanfaatan Bahan Ajar PAI berbasis Kisah Nabawi pada SMP Negeri 1 Ende Selatan

Berlangsungnya proses kegiatan pembelajaran, peserta didik tidak hanya berinteraksi dengan pendidik sebagai salah satu sumber, tetapi mencakup interaksi dengan semua sumber belajar yang memungkinkan dipergunakan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Dari hasil observasi peneliti pada tanggal 27 Oktober, proses pembelajaran di SMP Negeri 1 Ende Selatan, bahan ajar yang seringkali atau bahkan selalu digunakan dalam proses pembelajaran yaitu berupa Buku teks PAI yang difasilitasi oleh pihak sekolah. Hasil observasi diperkuat oleh hasil wawancara guru PAI kelas VII sebagai berikut:

P : Dalam pelaksanaan pembelajaran PAI di kelas, ibu menggunakan bahan ajar apa dalam menyampaikan materi pembelajaran?

NH : Dalam pembelajaran PAI di kelas saya menggunakan bahan ajar berupa buku teks PAI yang telah difasilitasi oleh sekolah. Begitu pula dengan peserta didik mereka juga difasilitasi oleh pihak sekolah

63 berupa buku teks PAI, satu orang siswa mendapatkan satu buku paket PAI untuk mereka pelajari.1

Selain wawancara dengan guru PAI, peneliti juga melakukan wawancara dengan bapak kepala sekolah SMP Negeri 1 Ende Selatan, berikut ini merupakan kutipan wawancara peneliti bersama bapak kepala sekolah.

P : Ketika saya melakukan penelitian, dari hasil observasi saya melihat bahwa peserta didik kelas VII di SMP Negeri 1 Ende Selatan ini difasilitasi oleh pihak sekolah berupa buku paket PAI pak. Sejak kapan pihak sekolah mulai memfasilitasi buku paket untuk peserta didik pak?

SPR : Awal-awalnya memang sudah ada buku paket tapi belum lengkap, beberapa tahun terakhir baru tersedia buku paket secara lengkap sesuai dengan jumlah peserta didik. Buku paket itu dari dana BOS dibagikan kepada seluruh peserta didik untuk dipelajari.2

Dari hasil wawancara guru PAI dan bapak kepala sekolah di atas mengenai ketersediaanya bahan ajar di sekolah kita dapat mengetahui bahwa bahan ajar dalam peranannya sebagai pemberi informasi sangat dibutuhkan oleh pendidik maupun peserta didik agar dapat mempermudah proses pembelajaran sehingga atmosfer pembelajaran lebih kondusif. Pendidik harus mampu mengolah setiap informasi didalamnya agar dapat diserap secara tepat oleh peserta didik. Jadi, peneliti dapat menyimpulkan bahwa bahan ajar merupakan sumber belajar yang berperan penting untuk menunjang proses pembelajaran.

Kisah sebagai metode pendidikan amat penting karena dalam kisah terdapat berbagai keteladanan dan edukasi. Metode yang tepat digunakan pada materi tentang akhlak salah satunya adalah dengan menggunakan metode kisah Nabawi.

metode kisah memliki fungsi mendidik yang tidak bisa digantikan dengan bentuk penyampaian lain selain dengan menggunakan bahasa. Hal ini di sebabkan karena

1Nur Hayati, Guru Pendidikan Agama Islam, Wawancara, Ende, 13 November 2020.

2Syaifudin Pua Riwa, Kepala Sekolah, Wawancara, Samata, 3 Mei 2021.

metode kisah mempunyai keistimewaan yang membuatnya mempunyai dampak psikologis dan edukatif yang sempurna, rapih dan jauh jangkauannya seiring dengan perkembangan zaman.

Berdasarkan observasi di SMP Negeri 1 Ende Selatan, guru PAI dalam melaksanakan proses pembelajaran sudah menggunakan metode dalam setiap menyampaikan materi. Khususnya di SMP Negeri 1 Ende Selatan ini metode kisah sudah digunakan sebagaimana yang dinyatakan oleh guru PAI kelas VII berdasarkan hasil wawancara berikut:

P : Apakah dalam proses pembelajaran ibu pernah menggunakan metode kisah nabawi?

NH : Iya pernah menggunakan metode kisah nabawi agar untuk menambah wawasan siswa, saya juga menceritakan kisah-kisah nabi. Tapi saya menyesuaikan dengan materi yang saya ajarkan pada saat itu.3

Selain wawancara dengan guru PAI, peneliti juga melakukan wawancara dengan peserta didik, berikut ini merupakan kutipan wawancara peneliti bersama peserta didik.

P : Dek, apakah ketika ibu mengajar ibu pernah menceritakan sebuah kisah atau cerita? Dan kisah tentang apa itu yang ibu ceritakan?

LPE : Pernah kak, biasanya ibu menceritakan kisah-kisah nabi selain itu ibu juga menceritakan kisahnya.4

JZ : Pernah kak, cerita kisah nabi, pernah juga ibu menceritakan kisahnya kak.5

IAM : Iya pernah kak, ibu pernah menceritakan kisah nabi.6

3Nur Hayati, Guru Pendidikan Agama Islam, Wawancara, Ende, 13 November 2020.

4Laudia Putri Erika, Peserta Didik SMP Negeri 1 Ende Selatan, Wawancara, Ende, 27 Oktober 2020.

5Jihan Zulaikha, Peserta Didik SMP Negeri 1 Ende Selatan, Wawancara, Ende, 27 Oktober 2020.

6Ichal Afril Maulana, Peserta Didik SMP Negeri 1 Ende Selatan, Wawancara, Ende, 27 Oktober 2020.

65

Dari hasil observasi dan wawancara peneliti dan responden, peneliti dapat menyimpulkan bahwa metode kisah merupakan salah satu metode yang diterapkan oleh guru PAI kelas VII di SMP Negeri 1 Ende Selatan dalam menyampaikan pesan atau materi pelajaran kepada peserta didik, yaitu meliputi kisah-kisah nabi yang di dalam kisah tersebut terdapat pelajaran yang patut untuk dicontoh oleh peserta didik.

3. Pembentukan Akhlak Mulia Peserta Didik Melalui Pemanfaatan Bahan Ajar PAI Berbasis Kisah Nabawi di SMP Negeri 1 Ende Selatan

Peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam dunia pendidikan bukan hanya mengajar atau berusaha memindahkan ilmu akan tetapi juga harus menanamkan nilai-nilai agama Islam kepada peserta didik agar mereka dapat mengaitkan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan. Apabila nila-nilai ajaran agama islam sudah tertanam dalam diri peserta didik, maka akan tercapailah kepribadian yang berakhlak mulia.

Salah satu tujuan penerapan metode kisah adalah untuk membina akhlak peserta didik. Metode ini merupakan suatu bentuk tekhnik penyampaian informasi dan instruksi yang amat bernilai, dan seorang pendidik dapat memanfaatkan potensi kisah bagi pembentukan akhlak mulia yang merupakan bagian esensial pendidikan Qur’ani dan Nabawi.

Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, bahwa di SMP Negeri 1 Ende Selatan adalah salah satu sekolah yang membentuk akhlak peserta didik dengan memanfaatkan bahan ajar PAI yaitu berupa buku paket dengan menggunakan

metode kisah dalam proses pembelajaran. Sebagaimana yang dinyatakan oleh guru PAI kelas VII berdasarkan hasil wawancara berikut.

P : Dalam proses pembelajaran ibu menggunakan metode kisah nabawi pada materi pelajaran yang berkaitan dengan apa? Dan bagaimana reaksi dari peserta didik ketika ibu menggunakan metode kisah nabawi.

NH : Biasanya saya menggunakan metode kisah nabawi itu terkait dengan materi yang berhubungan dengan akhlak agar peserta didik dapat meniru sifat-sifat mulia dari para nabi yang saya ceritakan. Anak-anak biasanya senang ketika mendengar cerita, mereka juga terlihat menyimak dengan serius ketika saya menceritakan kepada mereka kisah-kisah nabi. Tapi ada juga beberapa anak yang tidak terlalu memperhatikan ketika saya menceritakan kisah namun ini hanya sebagian kecil karena kebanyakan peserta didik kelas VII merasa senang ketika mendengarkan cerita. Bahkan terkadang mereka meminta kembali untuk menceritakan kisah-kisah kepada mereka.7 Selain wawancara dengan guru PAI, peneliti juga melakukan wawancara dengan peserta didik, berikut ini merupakan kutipan wawancara peneliti bersama peserta didik.

P : Dek ketika ibu menceritakan sebuah kisah kepada kalian, biasanya cerita tentang apa saja itu? Dan bagaimana perasaan adik ketika mendengar cerita dari ibu?

ZSS : Cerita tentang sifat-sifatnya nabi kak. Perasaan saya senang kak, karna tidak bosan ketika saya mendengar cerita dari ibu.8

NA : Biasanya sifat-sifatnya nabi kak. Tapi kadang-kadang juga ibu memberikan nasehat tentang salat. Senang kak kalau dengar cerita.9 Dari hasil wawancara guru PAI dan peserta didik, peneliti dapat menyim-pulkan bahwa metode kisah merupakan metode yang sangat bermanfaat dalam menyampaikan informasi tentang materi pelajaran yang berkaitan dengan akhlak.

Hal ini sejalan dengan pendapat dari Ilyas yang mengatakan bahwa metode kisah

7Nur Hayati, Guru Pendidikan Agama Islam, Wawancara, Ende, 13 November 2020.

8Zahra Suci Suryawati, Peserta Didik SMP Negeri 1 Ende Selatan, Wawancara, Ende, 2 November 2020.

9Nadia Astriyanti, Peserta Didik SMP Negeri 1 Ende Selatan, Wawancara, Ende, 2 November 2020.

67

atau bercerita dalam aktivitas pendidikan memiliki tujuan menanamkan akhlak islamiah dan perasaan ke-Tuhan-an kepada peserta didik, sehingga akan menggugah peserta didik untuk senantiasa merenung dan berpikir dalam kehidupannya sehari-hari. Adapun pendapat dari Abdul Aziz yang mengatakan bahwa salah satu tujuan dari metode kisah yaitu menanamkan moral dan nilai-nilai agama, yaitu melalui cerita atau suatu kisah para rasul atau kisah-kisah teladan, secara perlahan pendidik dapat menanamkan hal-hal yang baik kepada peserta didik, menanamkan pemahaman terhadap nilai-nilai agama yang harus dijadikan prinsip dalam kehidupannya.10 Selain itu, dari hasil wawancara peneliti terhadap peserta didik juga diketahui bahwa peserta merasa senang jika mendengarkan kisah yang di sampaikan oleh pendidik. Hal ini sejalan dengan pendapat dalam bukunya Heri Gunawan yang menyatakan bahwa Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita, dan menyadari pengaruhnya sangat besar terhadap perasaan. Oleh karena itu Islam menyuguhkan kisah-kisah untuk dijadikan salah satu metode dalam proses pendidikan.11

Proses pembelajaran PAI di SMP Negeri 1 Ende Selatan dengan memanfaatkan bahan ajar PAI berbasis kisah Nabawi untuk membentuk akhlak mulia pada pokok bahasan Hidup Tenang dengan Kejujuran, Amanah, dan Istikamah. Dengan menggunakan metode kisah di kelas VII SMP Negeri 1 Ende Selatan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

10Nur Ahmad, Berdakwah Melalui Metode Kisah, Jurnal (Kudus: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 1, No. 1, 2016).

11Heri Gunawan, Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), h. 262.

1. Persiapan

Agar tercapainya tujuan dalam proses pembelajaran. Ada beberapa cara yang harus dilakukan, dan salah satunya dengan membuat perencanaan. Dari hasil observasi pada tanggal 02 Oktober 2020 sebelum guru memasuki kelas untuk mengajar, guru harus membuat RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Karna RPP itulah yang akan menjadi pedoman ketika proses pembelajaran berlangsung.

2. Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar

Dalam pelaksanaannya di kelas, penerapan metode kisah dilakukan dengan 3 tahapan yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup. Dari hasil observasi yang peneliti temukan di SMP Negeri 1 Ende Selatan di kelas VII kegiatan awal yang dilakukan oleh guru yaitu guru memulai dengan membaca doa sebelum memulai pelajaran, kemudian dilanjutkan dengan memeriksa kehadiran peserta didik, memberikan pertanyaan terkait dengan materi sebelumnya.

Setelah melakukan kegiatan pembuka guru PAI memulai menyampaikan materi yang akan di bahas, kemudian menyampaikan sepenggal kisah-kisah nabi yang terkait dengan materi tersebut. Adapun materi yang disampaikan oleh guru mata pelajaran PAI pada pokok bahasan Hidup Tenang dengan Kejujuran, Amanah, dan Istikamah adalah:

Pada pertemuan tanggal 2 Oktober 2020 guru membahas tentang sikap Jujur, Amanah, dan Istikamah. Penyampaian materi dimulai dari guru menyampaikan pengertian dari sikap jujur, guru menjelaskan bahwa sikap jujur merupakan kesesuaian sikap antara perkataan dan perbuatan yang sebenarnya. Apa yang diucapkan memang itulah yang sesungguhnya terjadi. Tidak lupa guru memberikan contoh yang berkaitan dengan sikap jujur ketika ulangan ataupun mengerjakan

69

sendiri tidak bertanya kepada teman, tidak menoleh kesana kesini, fokus terhadap soal yang diberikan ketika ujian atau ulangan berlangsung. Kemudian guru menjelaskan pengertian sikap amanah yang berarti dapat dipercaya amanah ini berakitan erat dengan tanggung jawab. Tidak lupa guru juga memberikan contoh yang berkaitan dengan sikap amanah ketika teman ada titipkan barang ke kita untuk dijaga apapun jenis barang itu yang dititipi harus mampu menjaga dengan baik. Dan selanjutnya guru menyampaikan materi tentang sikap istikamah. Guru menjelaskan bahwa istikamah itu berarti sikap teguh dalam melakukan suatu kebaikan. Tidak lupa guru memberikan contoh terkait dengan sikap istikamah datang ke sekolah sebelum jam 7 harus istikamah, diusahakan untuk setiap hari datang ke sekolah sebelum jam 7 sebelum pintu gerbang ditutup.

Pada pertemuan ini setelah guru menyampaikan materi kemudian guru menyampaikan kisah yang tekait dengan materi tersebut. Kisah yang disampaikan adalah kisah nabi yang berakhlak jujur ketika berdagang, amanah dalam menjaga titipan, dan keistiqamahan nabi dalam berdakwah serta kisah kesabaran dan lemah lembutnya nabi.

Nabi Muhammad saw. sudah sering ikut berdagang bersama sang paman Abdul Muthalib sejak usia 12 tahun. Perjalanan dagang yang diikutinya tidak

Nabi Muhammad saw. sudah sering ikut berdagang bersama sang paman Abdul Muthalib sejak usia 12 tahun. Perjalanan dagang yang diikutinya tidak