• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan teknologi dan informasi dalam abad 21 telah memberikan pengaruh yang signifikan bagi masyarakat. Masyarakat pada abad 21 menyadari pentingnya mempersiapkan generasi muda yang kreatif, luwes, mampu berpikir kritis, dapat mengambil keputusan dengan tepat, serta terampil dalam memecahkan masalah. Peserta didik dapat mengakses informasi dengan cepat sehingga peran guru akan tergantikan (Sani, 2019: 52). Maka dari itu seorang guru menjadi seorang fasilitator dan sebagai pembimbing peserta didik agar yang diperoleh peserta didik sesuai dengan yang ada. Sekolah pada abad 21 diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan untuk melakukan inovasi dan memiliki kreativitas, sehingga guru harus mempersiapkan pembelajaran dengan semenarik dan inovatif agar peserta didik dapat lebih tertarik. Selain keterampilan abad 21 guru juga perlu mempersiapkan peserta didik dengan kurikulum yang berlaku, sehingga rancangan pembelajaran harus dapat mengembangkan kreativitas peserta didik, serta kemampuan memecahkan masalah.

Fadillah (2014: 16) mengungkapkan bahwa kurikulum 2013 adalah suatu kurikulum yang dikembangkan untuk meningkatkan dan menyeimbangkan kemampuan softskills dan hard skills yang berupa sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Sehingga seorang guru perlu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan memudahkan dalam memberikan pengetahuan kepada peserta

didik yaitu dengan merancang pembelajaran yang inovatif. Perkemendikbud No.

67 tahun 2013 menyatakan bahwa tujuan dari kurikulum 2013 adalah untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Kurikulum 2013 berorientasi mengembangkan kompetensi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Proses pembelajaran kurikulum 2013 untuk jenjang sekolah dasar atau sederajat menggunakan pendekatan pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan dalam suatu pembelajaran yang mengaitkan beberapa aspek intra maupun antar mata pelajaran (Majid, 2014: 122). Dengan adanya pembelajaran tematik peserta didik mampu mendapatkan pembelajaran secara utuh dari pengetahuan dan keterampilan. Tetapi saat ini, para guru belum sepenuhnya melaksanakan rancangan ataupun pembelajaran yang membuat peserta didik aktif, kreatif seperti yang menjadi tujuan dari kurikulum 2013.

Kurikulum dan pembelajaran yang harus diterapkan untuk menghadapi tantangan abad 21, salah satunya adalah menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). HOTS (Higher Order Thinking Skills) atau kemampuan berpikir tinggi akan berkembang jika peserta didik menghadapi masalah yang tidak dikenal, pertanyaan yang menantang, atau sesuatu yang tidak pasti. Keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills) berkaitan dengan kemampuan peserta didik menyelesaikan permasalahan, berpikir kritis, dan berpikir kreatif (Sani, 2019: 3). HOTS (Higher Order Thinking Skills) dapat berkembang jika peserta didik mendapatkan tantangan atau pertanyaan atau masalah.

Berhasil tidaknya pendidikan bergantung bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik. Kegiatan pembelajaran tidak hanya dilakukan oleh peserta didik tetapi ada juga guru yang mendampingi, memberi arahan, dan sebagainya. Rusman (2013: 131) mengungkapkan bahwa kegiatan belajar

mengajar guru dan peserta didik dalam kaitannya dengan bahan pembelajaran adalah model pembelajaran inovatif. Bahan pembelajaran tersebut dapat berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Kurikulum 2013 juga mengacu pada keterampilan abad 21 yang menekankan perangkat pembelajaran yang, dimana dalam pembelajaran seorang guru harus memiliki inovasi dan kreativitas dalam merancang perangkat pembelajaran. Suyatno (2009: 8-12) menyatakan prinsip dari pembelajaran inovatif adalah berpusat pada siswa, berbasis masalah, memberikan pilihan, terintegrasi, berbasis masyarakat, tersistem, dan berkelanjutan. Pembelajaran inovatif yang efektif untuk diaplikasikan adalah peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran, menggunakan model pembelajaran yang sesuai, menggunakan media pembelajaran yang ideal. Guru dalam merancang perangkat pembelajaran yang sesuai dengan peserta didik perlu banyak memahami berbagai model pembelajaran inovatif agar dalam merancang pembelajaran dapat menggunakan model pembelajaran yang sesuai.

Menurut Piaget (dalam Thobroni, 2015: 81) proses belajar harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Pada tahap operasional konkret ini dari jenjang umur 7-11 tahun seorang anak dapat membuat kesimpulan dari sesuatu yang nyata atau dengan benda konkret. Oleh karena itu, tahap operasional konkret merupakan tahap peserta didik dapat belajar dari benda-benda konkret yang ada di lingkungan sekitar mereka. Seorang guru perlu memahami dan mengetahui tahap perkembangan anak, dan bisa merancang perangkat pembelajaran yang sesuai dengan peserta didik.

Peserta didik kelas IV yang merupakan tahap membutuhkan benda konkret, untuk lebih fokus terhadap suatu masalah dengan menggunakan pembelajaran inovatif (model pembelajaran inovatif). Pembelajaran dari sesuatu yang konkret salah satunya adalah pembelajaran yang dimulai dari masalah-masalah aktual, otentik, relevan dan bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran yang berbasis materi seringkali tidak relevan sehingga kurang menarik perhatian

peserta didik sehingg membuat peserta didik kurang dapat menerapkan konsep yang didapat dalam kehidupan nyata sehari-hari. Peneliti memilih peserta didik kelas IV Sekolah Dasar, karena pada kelas ini peserta didik ada pada tahapan perkembangan kognitif dengan benda atau sesuatu konkret dan pembelajaran dimulai dengan masalah-masalah aktual, auntentik, relevan dan bermakna bagi peserta didik. Sehingga peserta didik dapat lebih menerapkan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Joyce & Weil (dalam Rusman 2013: 133), model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, merancang bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Model pembelajaran inovatif yang sesuai dan efisien dapat mendukung berhasilnya tujuan pendidikan serta meningkatkan potensi peserta didik. Dalam pembelajaran guru perlu menerapkan satu model pembelajaran inovatif yang dapat membuat peserta didik belajar sesuai dengan cara belajarnya.

Guru masih banyak menggunakan proses pembelajaran secara konvensional dan belum menggunakan model pembelajaran yang bervariasi. Dalam pembelajaran IPA salah satu contohnya, agar peserta didik lebih tertarik sebaiknya menggunakan model pembelajaran yang sesuai tidak hanya menggunakan materi secara ceramah tetapi menggunakan model yang sesuai.

Salah satu model pembelajaran yang membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang mengembangkan keterampilan abad 21 dan kurikulum 2013 adalah pembelajaran berbasis masalah. Jika diterapkan dengan benar, maka peserta didik perlu mencari dan mengolah informasi dari berbagai sumber, termasuk dengan menggunakan teknologi informasi (Sani, 2019: 47). Masing-masing peserta didik dapat memiliki jawaban atau pandangan yang berbeda tentang permasalahan yang ada, sehingga mereka menyelesaikan permasalahan secara mandiri atau kelompok bervariasi sesuai kebutuhannya. Pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang diawali dengan memunculkan masalah.

Masalah yang diambil menyangkut dengan kehidupan nyata atau konkret yang ada

disekitar lingkungan peserta didik, yang dipilih agar dapat memenuhi tujuan dan kriteria pendidikan (Yani & Ruhimat, 2018: 71).

Menurut Ward (dalam Nuryati, 2018: 7) model pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran yang melibatkan untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga peserta didik dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah. Model pembelajaran ini juga berkaitan dengan keterampilan abad 21, yaitu keterampilan berkomunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan kreativitas. Model pembelajaran berbasis masalah menggunakan permasalahan untuk membuat peserta didik belajar dalam berkomunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan kreativitas yang sesuai dengan sintaks pembelajaran berbasis masalah.

Peneliti ingin mengembangkan perangkat pembelajaran berupa Rancangan Pelakasanaan Pembelajaran untuk guru di sekolah dasar. Jadi perangkat pembelajaran ini menggunakan model pembelajaran berbasis masalah ini karena dengan menggunakan model ini peserta didik dapat mencapai tujuan dari keterampilan abad 21, perangkat pembelajaran ini juga sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik kelas IV Sekolah Dasar yang membutuhkan sesuatu masalah yang nyata atau konkret sesuai dengan lingkungan sekitarnya. Selain itu, peneliti menggunakan model pembelajaran berbasis masalah adalah untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan pemecahan masalah dalam menyelesaikan masalah yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan dipelajari.

IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Menurut Winaputra (dalam Samatowa 2011: 3), IPA tidak hanya merupakan kumpulan pengetahuan tentang benda atau makhluk hidup, tetapi memerlukan kerja, cara berpikir, dan cara memecahkan masalah. IPA melatih peserta didik berpikir kritis, objektif, dan kreatif. Menurut Cullingford (dalam

Samatowa 2011: 9), pembelajaran sains perlu memberikan peserta didik kesempatan untuk mengembangkan sikap ingin tahu dan berbagai penjelasan logis, daripada hanya hafalan dan pemahaman konsep sehingga dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik, agar mereka dapat mengekspresikan kreativitasnya.

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan guru terkait perangkat pembelajaran, yang dilakukan oleh peneliti kepada salah satu guru SD kelas IV di Kecamatan Wonosari yaitu Ibu Y. S. pada tanggal 13 April 2020, Ibu Y. S. mengatakan bahwa guru tidak membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Harian (RPPTH) yang menerapkan berbagai model pembelajaran inovatif, namun guru hanya menggunakan satu model pembelajaran inovatif dalam semua RPP. Ibu Y.

S. mengatakan bahwa beliau masih kurang dalam memahami makna dari pembelajaran inovatif, akan tetapi beliau paham pembelajaran inovatif itu pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dan pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk mandiri. Banyak guru belum memahami mengenai penggunaan model-model pembelajaran inovatif, metode ceramah masih mendominasi dalam mengajar di kelas. Ibu Y. S. mengatakan bahwa dalam pembelajaran guru hanya menerapkan salah satu model pembelajaran yaitu model pembelajaran PPR (Paradigma Pedagodi Reflektif) untuk diterapkan dalam pembelajaran di kelas.

Ibu Y. S mengatakan bahwa masih mengalami kesulitan ketika merancang indikator yang memuat beberapa pembelajaran yang disesuaikan dengan tema.

Kesulitan ini berdampak dalam perancangan perangkat pembelajaran, dan akhirnya guru tidak membuat RPP secara mandiri. Ibu Y. S membuat RPP, beliau mengunduh dari internet yang kemudian disesuaikan dengan materi yang ada pada buku guru. Beliau juga mengatakan, bahwa guru-guru masih memerlukan contoh dalam pembuat perangkat pembelajaran inovatif yang mengacu pada kurikulum 2013, agar perangkat pembelajaran yang dibuat lebih inovasi dan bervariasi.

Data terkait dengan pembelajaran berdasarkan wawancara yang dilakukan, guru mengatakan proses pembelajaran cukup berjalan lancar, tetapi masih banyak menggunakan pembelajaran yang berpusat pada guru. Antusias para perserta didik yang menjadi kendala dalam pembelajaran. Banyak peserta didik yang kurang semangat ketika pembelajaran sedang berlangsung. Materi yang diangga sulit oleh guru menurut peserta didik adalah gaya. Materi tergantung dengan karakteristik peserta didik, tetapi jika diminta mengatakan materi yang cukup sulit untuk para peserta didik adalah materi gaya, karena ada berbagai jenis gaya dan dengan kurikulum 2013 ini jadi materi lebih sedikit. Dan ketika diminta untuk menjelaskan pengaruh gaya atau menyebutkan jenis gaya peserta didik bingung membedakannya. Dan ketika diberi permasalahan peserta didik cenderung akan melihat buku saja, tidak ingin menyampaikan yang mereka ketahui. Dalam pembelajaran buku yang dipergunakan adalah bupena, dan buku yang dari pemerintah buku tematik, dan untuk menggunakan internet masih jarang karena terkendala sinyal yang susah. Dari hasil analisis kebutuhan ini, peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran IPA materi gaya dengan model pembelajaran berbasis masalah. Peneliti ingin meningkatkan antusias peserta didik dan kemampuan dalam memecahkan masalah pada pembelajaran IPA materi gaya.

Penelitian ini dibatasi hanya pada pengembangan perangkat pembela IPA materi gaya dengan model pembelajaran berbasis masalah bagi peserta didik kelas IV Sekolah Dasar. Peneliti hanya berfokus pada pembelajaran IPA, karena walau di kelas IV sekolah dasar pembelajaran sudah diterapkan secara tematik tetapi pada pelaksanaannya masih berbasis pada kompetensi dasar. Sehingga peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran yang berfokus pada pembelajaran IPA dengan kompetensi dasar yang ada pada buku tema 7 Indahnya keberagaman di negeriku pada subtema 1 Keberagaman suku bangsa dan agama dinegeriku dan subtema 2 Indahnya keberagaman budaya nergeriku. Selain itu, berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang telah dilakukan didapati bahwa peserta didik masih

mengalami kesulitan dalam pembelajaran IPA materi gaya, peneliti menggunakan buku tematik untuk melihat cakupan materi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran IPA materi gaya dengan model pembelajaran berbasis masalah bagi peserta didik kelas IV Sekolah Dasar. Hasil analisis kebutuhan guru terkait perangkat pembelajaran yang dilakukan peneliti kepada guru kelas IV SD Kanisius Beji, ditemukan permasalahan-permasalahan yang dialami dalam penyusunan perangkat pembelajaran. Dalam penerapan kurikulum 2013 guru masih mengalami sejumlah masalah dalam merancang perangkat pembelajaran. Permasalahan yang terjadi: 1) guru belum memahami maksud dari pembelajaran inovatif yang diterapkan kurikulum 2013, 2) guru masih kesulitan untuk menggunakan model-model pembelajaran inovatif dalam proses pembelajaran, 3) antusias para perserta didik juga menjadi kendala dalam pembelajaran IPA khususnya materi gaya yang banyak dari permasalahan-permasalahan di atas, maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengembangan perangkat pembelajaran IPA materi gaya dengan model pembelajaran berbasis masalah bagi peserta didik kelas IV Sekolah Dasar”.