• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif.

1. Data Kualitatif

Data kualitatif berupa komentar yang dikemukakan oleh dua orang validator ahli pembelajaran inovatif dan dua orang guru kelas IV Sekolah Dasar. Data dianalisis sebagai pedoman untuk memperbaiki dan mengetahui kelayakan produk yang dibuat. Selain masukan, data yang diperoleh berdasarkan wawancara dengan guru digunakan sebagai analisis kebutuhan sebelum pembuatan produk.

2. Data Kuantitatif

Data kuantitatif adalah data yang berupa skor dari penilaian perangkat pembelajaran yang merupakan kuesioner dari hasil validasi oleh vaidator ahli dan guru kelas IV SD. Data yang diperoleh dianalisis sebagai dasar dari hasil kuesioner yang diubah menjadi data interval. Skala penilaian terhadap perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu, sangat baik (4), baik (3), cukup baik (2), dan kurang baik (1).

Skor penilaian kuesioner dan uji coba perangkat pembelajaran yang sudah diperoleh, maka dihitung dengan rumus sebagai berikut.

π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– = π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘˜π‘’π‘ π‘’π‘™π‘’π‘Ÿπ‘’β„Žπ‘Žπ‘› π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘π‘’π‘Ÿπ‘œπ‘™π‘’β„Ž

π‘—π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘šπ‘Žπ‘˜π‘ π‘–π‘šπ‘Žπ‘™ Γ— 100

Nilai yang diperoleh dari data kuantitatif kemudian dikonversikan menjadi data kualitatif dengan salah satu cara yang sederhana skala empat untuk data RPP, Panduan Percobaan, Materi Ajar, dan Soal atau tes hasil belajar dengan acuan menurut Suwandi (2010: 127-28).

Tabel 3. 4 Kriteria Skor

Interval Skor Kategori

81-100 Sangat baik

61-80 Baik

41-60 Cukup baik

20-40 Kurang baik

Peneliti juga menggunakan acuan menurut Sukardjo (2008: 101) untuk mengkonversikan skor perhitungan secara keseluruhan perangat pembelajaran inovatif setiap pembelajaran (RPP, Panduan Percobaan, Materi Ajar, dan Soal atau tes hasil belajar).

π‘…π‘Žπ‘‘π‘Ž βˆ’ π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Ž = π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘‘π‘œπ‘‘π‘œπ‘™ π½π‘’π‘šπ‘Žβ„Ž π‘ π‘’π‘™π‘’π‘Ÿπ‘’β„Ž π‘–π‘‘π‘’π‘š

Skor yang diperoleh dari data kuantitatif akan dianalisis dan dikonversikan menjadi data kualitatif. Peneliti melakukan turunan skor yang dikonversikan menjadi data kualitatif skala empat sebagai berikut (Sukardjo, 2008: 101).

Tabel 3. 5 Konversi Nilai Skala Lima

Interval Skor Kategori

X > 𝑋𝑖 + 1,80 SBi Sangat baik

𝑋𝑖 + 0,60 SBi < X ≀ 𝑋𝑖 + 1,80 SBi Baik 𝑋𝑖 – 0,60 SBi < X ≀ 𝑋𝑖 + 0,60 SBi Cukup 𝑋𝑖 – 1,80 SBi < X ≀ 𝑋𝑖 - 0,60 SBi Kurang

X ≀ 𝑋𝑖 - 1,80 SBi Sangat kurang

Keterangan:

Rerata ideal (𝑋𝑖)

:

1

2(skor maksimal ideal + skor minimal ideal) Simpangan baku ideal (SBi)

:

1

6(skor maksimal ideal + skor minimal ideal)

X : Skor aktual

Berdasarkan rumus konversi di atas perhitungan data-data kuantitatif dilakukan untuk memperoleh data kualitatif dengan menerapkan rumus konversi tersebut. Penentuan rumus kualitatif pengembangan ini diterapkan dengan konversi sebagai berikut.

Diketahui:

Skor maksimal ideal : 4

Skor minimal ideal : 1

Rerata ideal (𝑋𝑖) : 1

2(4+1) = 2,5 Simpangan baku ideal (SBi) : 1

6(4-1) = 0,5

Ditanyakan: Interval skor kategori sangat baik, baik, cukup, dan kurang baik.

Jawaban:

Kategori sangat baik = X > 𝑋𝑖 + 1,80 SBi

= X > 2,5 + (1,80 . 0,5)

= X > 2,5 + 0,9

= X > 3,4

Kategori baik = 𝑋𝑖 + 0,60 SBi < X ≀ 𝑋𝑖 + 1,80 SBi

= 2,5 + (0,60 . 0,5) < X ≀ 2,5 + (1,80 . 0,5)

= 2,5 + (0,3) < X ≀ 2,5 + (0,9)

= 2,8 < X ≀ 3,4

Kategori cukup = 𝑋𝑖 – 0,60 SBi < X ≀ 𝑋𝑖 + 0,60 SBi

= 2,5 – (0,60 . 0,5) < X ≀ 2,5 + (0,60 . 0,5)

= 2,5 – (0,3) < X ≀ 2,5 + (0,3)

= 2,2 < X ≀ 2,8

Kategori kurang baik = 𝑋𝑖 – 1,80 SBi < X ≀ 𝑋𝑖 - 0,60 SBi

= 2,5 – (1,80 . 0,5) < X ≀ 2,5 – (0,60 . 0,5)

= 2,5 – (0,9) < X ≀ 2,5 – (0,3)

= 1,6 < X ≀ 2,2

Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh konversi data kuantitatif menjadi data kualitatif skala empat untuk menilai perangkat pembelajaran inovatif dengan model pembelajaran berbasis masalah yang dikembangkan.

Hasil konversi data kualitatif sebagai berikut.

Tabel 3. 6 Kriteria Skor Skala Empat

Interval Skor Kriteria

3,5 – 4 Sangat baik 2,9 – 3,4 Baik

2,3 – 2,8 Cukup baik

≀ 2,2 Kurang baik

Hasil dari perhitungan skor masing-masing validasi yang dilakukan akan dicari rerata dengan rumus yang tertera di atas dan skor yang diperoleh akan dikonversikan dari data kuantitatif ke data kualitatif dalam kategori tertentu seperti yang tertera pada tabel kriteria skor skala empat.

67 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab IV ini berisi tentang uraian hasil penelitian dan pembahasan mengenai perangkat pembelajaran IPA materi gaya dengan model pembelajaran berbasis masalah bagi peserta didik kelas IV sekolah dasar. Hasil penelitian pengembangan dan pembahasan akan diuraikan sebagai berikut.

A. Hasil Penelitian

1. Potensi dan Masalah

Potensi dan masalah adalah langkah awal yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian pengembangan perangkat pembelajaran IPA materi gaya dengan model pembelajaran berbasis masalah bagi peserta didik kelas IV sekolah dasar. Peneliti mencari potensi dan masalah dengan melakukan analisis kebutuhan dengan cara wawancara. Wawancara dilakukan kepada guru kels IV SD Kanisius Beji yaitu Ibu Y. S pada tanggal 13 April 2020. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis adanya fakta dan masalah yang terjadi di lapangan, yang dihadapi guru ketika melaksanakan pembelajaran serta untuk mengetahui kebutuhan perangkat pembelajaran yang akan dikembangkan oleh peneliti.

a. Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan

Wawancara dilakukan dengan berpedoman pada 25 butir pertanyaan yang telah dibuat untuk menganalisis kebutuhan perangkat pembelajaran.

Berikut data hasil wawancara dengan guru sekolah dasar, yang akan dijelaskan pada setiap pertanyaan.

Butir pertanyaan yang pertama yaitu tentang proses pembelajaran IPA di kelas selama ini. Guru menjawab bahwa selama ini proses pembelajaran berjalan dengan cukup baik, tetapi masih banyak menggunakan pembelajaran yang berpusat pada guru. Pembelajaran yang sering dipergunakan adalah dengan berceramah, terkadang memang ada

saatnya menggunakan praktikum, tetapi guru mengatakan lebih senang dan mudah menggunakan metode ceramah.

Butir pertanyaan kedua yaitu tentang kendala yang dihadap guru saat mengajar IPA di kelas. Guru menjawab bahwa yang menjadi kendala adalah antusias para peserta didik dalam pembelajaran. Banyak dari peserta didik yang kurang semangat ketika pembelajaran sedang berlangsung.

Butir pertanyaan ketiga yaitu tentang materi IPA yang sulit di kelas IV. Guru menjawab bahawa materi yang sulit tergantung dengan karakteristik peserta didik. Tetapi, jika diminta mengatakan materi yang cukup sulit untuk para peserta didik adalah materi gaya, karena ada berbagai jenis gaya dan dengan kurikulum 2013 ini jadi materi lebih sedikit. Dan ketika diminta untuk menjelaskan pengaruh gaya atau menyebutkan jenis gaya peserta didik bingung membedakannya.

Butir pertanyaan keempat yaitu tentang pembelajaran IPA buku apa yang dipergunakan, atau sumber belajar dari mana. Guru menjawab bahwa dalam pembelajaran buku yang dipergunakan adalah bupena, dan buku yang dari pemerintah buku tematik, dan untuk menggunakan internet masih jarang karena terkendala sinyal yang susah.

Butir pertanyaan kelima yaitu tentang hal yang yang dilakukan agar proses pembelajaran IPA berlangsung secara efektif. Guru menjawab kegiatan yang dilakukan yang paling efektif dalam pembelajaran adalah kerja dalam kelompok, mengerjakan banyak tugas, dan terkadang praktikum yang ada dalam buku bupena atau buku pemerintah.

Butir pertanyaan keenam yaitu tentang upaya terakomodasinya aspek kognitif, keterampilan, dan sikap dalam langkah-langkah pembelajaran.

Guru menjawab bahwa sudah melakukan upaya, guru selalu berusha untuk tetap mengupayakan terkomodasinya aspek kognitif, keterampilan, dan sikap. Tetapi cenderung lebih menonjolkan aspek kognitif dengan mengerjakan beberapa tugas.

Butir pertanyaan ketujuh yaitu tentang pengetahuan guru keterampilan yang harus dikuasai peserta didik pada abad 21 seperti (berpikiri kritis, kreatif, kolaborasi, komunikasi). Guru menjawab masih kurang paham apa itu keterampilan abad 21, hanya pernah mendengar keterampilan abad 21.

Butir pertanyaan kedelapan yaitu tentang cara guru merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan peserta didik. Guru menjawab tidak membuat RPP murni membuat sendiri. RPP yang buat gabungan dari beberapa guru hasil dari guru-guru satu yayasan.

Jika membuat RPP guru mendownload dari internet yang kemudian disesuaikan dengan yang ada pada buku guru. Guru secara langsung tidak membuat indikator.

Butir pertanyaan kesembilan yaitu tentang tujuan pembelajaran yang dibuat sudah sesuai dengan ABCD. Guru menjawab sudah cukup sesuai walau terkadang masih ada yang kurang lengkap misal tidak ada degree.

Butir pertanyaan kesepuluh yaitu tentang penerapan pendekatan saintifik dalam langkah pembelajaran. Guru menjawab bahwa menerapkan 5 M, tetapi dalam pembelajaran peserta didik masih banyak dituntun guru dulu baru 5 M ini bisa diterapkan.

Butir pertanyaan kesebelas yaitu tentang metode-metode yang dipergunakan dalam langkah-langkah pembelajaran. Guru menjawab bahwa metode-metode yang dipergunakan adalah metode ceramah dan tanya jawb yang sangat sering dipergunakan.

Butir pertanyaan kedua belas yaitu tentang kesulitan dalam merancang perangkat pembelajaran yang sesuai dengan tuntuan kurikulum 2013. Guru menjawab kesulitan yang dialami adalah merancang indikator yang memuat beberapa pembelajaran yang disesuaikan dengan tema.

Butir pertanyaan ketiga belas yaitu tentang masih perlu bentuk contoh untuk perangkat pembelajaran yang mengacu pada kurikulum 2013.

Guru menjawab masih sangat perlu, karena banyak guru-guru yang tidak paham apalagi guru-guru yang sudah berumur perlu dan membutuhkan contoh, agar pembelajarannya lebih berinovasi.

Butir pertanyaan keempat belas yaitu tentang saran dalam pengembangan perangkat pembelajaran. Guru menjawab bahwa perangkat pembelajaran menunjang peserta didik agar lebih mandiri, kreatif, akitf, dan bisa mengembangkan pendidikan karakter. Langkah-langkah dalam pembelajaran jelas sehingga dapat dipergunakan untuk contoh-contoh.

Butir kelima belas yaitu tentang pembelajaran menggunakan RPP dengan model pembelajaran yang berbeda. Guru menjawab bahwa tidak, masih banyak model pembelajaran yang sama, bahkan saya hanya menggunakan satu model pembelajaran inovatif dalam semua RPP..

Butir keenam belas yaitu tentang model pembelajaran yang sering digunakan dalam proses pembelajaran. Guru menjawab bahwa tidak terlalu spesifik dalam menggunakan model pembelajaran, guru menggunakan model pembelajaran PPR (Paradigma Pedagodi Reflektif) dalam semua RPP. Guru lebih sering menggunakan metode ceramah ketika mengajar di kelas.

Butir ketujuh belas yaitu tentang pembelajaran dengan metode ceramah masih mendominasi di kelas. Guru menjawab bahwa iya, sangat sangat mendominasi karena bagi guru peserta didik susah ketika pembelajaran tidak diberi arahan dari guru.

Butir kedelapan belas yaitu tentang pengetahuan guru akan pembelajaran inovatif. Guru menjawab bahwa jujur guru kurang memahami makna dari pembelajaran inovatif. Tetapi, guru paham pembelajaran inovatif itu pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dan pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk mandiri.

Butir kesembilan belas yaitu tentang pembelajaran inovatif penting di terapkan dalam proses pembelajaran. Guru menjawab bahwa sebenernya

sangat penting agar pembelajaran lebih berjalan dengan baik dan peserta didik lebih paham. Agar bisa menunjang peserta didik lebih mandiri juga.

Butir kedua puluh yaitu tentang kesulitan apa saja yang dialami dalam pembuatan RPP yang menggunakan model pembelajaran inovatif.

Guru menjawab bahwa kesulitan terletak pada saat merumuskan indikator pembelajaran dan tujuan yang harus ada ABCD.

Butir kedua puluh satu yaitu tentang penggunaan model pembelajaran inovatif dalam membantu peserta didik untuk memahami pelajaran yang guru gunakan selama ini. Guru menjawab bahwa tidak menggunakan model pembelajaran inovatif. Guru menyampaikan alasannya karena saya sering menggunakan ceramah ketika mengajar di kelas, model pembelajaran PPR (Paradigma Pedagodi Reflektif).

Butir kedua puluh dua yaitu tentang pernahkah guru menggunakan model pembelajaran berbasis masalah. Guru menjawab bahwa pernah, tetapi dalam pembelajaran metode ceramah masih sangat mendominasi karena guru juga agak kurang memahami model-model yang baru-baru.

Butir kedua puluh tiga yaitu tentang peserta didik senang ketika, dalam proses pembelajaran guru menggunakan media pendukung untuk memahami materi. Guru menjawab bahwa peserta didik sangat senang apabila pembelajaran menggunakan media-media yang unik, dengan menggunakan gambar, dan melihat video saja peserta didik sudah sangat antusias.

Butir kedua puluh empat yaitu tentang peserta didik senang ketika pembelajaran dilakukan percobaan. Guru menjawab bahwa peserta didik sangat antusias ketika pembelajaran menggunakan perobaan, tetapi dikarenakan keterbatasan guru yang sudah tua. Sehingga jika pembelajaran terlalu sering menggunakan percobaan maka guru mengalami kesulitan mempersiapkannya.

Butir kedua puluh lima yaitu tentang penerapan soal HOTS. Guru menjawab bahwa soal-soal yang ada dan yang guru buat masih cenderung masuk ke soal LOTS.

b. Pembahasan Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan (Pengumpulan Data)

Berdasarkan pemaparan hasil wawacara di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran masih banyak menggunakan metode ceramah dibandingkan menggunakan model pembelajaran inovatif, khususnya model pembelajaran berbasis masalah.

Sehingga membuat pembelajaran IPA di kelas mengalami kendala-kendala seperti antusias para peserta didik. Guru sebenarnya sudah menerapkan pendekatan saintifik dalam pembelajaran, tetapi masih belum berjalan jika peserta didik tidak dituntun terlebih dahulu oleh guru. Hal itu terjadi karena masih mendominasinya metode ceramah dalam pembelajaran yang berlangsung dan hanya menggunakan satu model pembelajaran saja dalam semua RPP.

Guru belum memahami pembelajaran inovatif, guru hanya sebatas mengetahui pembelajaran inovatif tetapi tidak secara mendalam. Guru belum mampu mengembangkan perangkat pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah pada pembelajaran IPA karena terbatasnya contoh perangkat pembelajaran. Selain itu, dengan tidak dibuatnya sendiri RPP menjadikan guru kesulitan memahami pembelajaran inovatif. Bahkan dalam merancang perangkat guru masih kurang menguasai dalam bagian indikator yang sesuai dengan kompetensi dasar dan tingkat indikator HOTS, sehingga membuat guru hanya menggunakan soal-soal yang ada di buku atau soal yang masih tergolong LOTS.

Berdasarkan analisis kebutuhan tersebut, maka guru memerlukan contoh perangkat pembelajaran yang mudah dipahami. Contoh perangkat pembelajaran tersebut dapat membuat perangkat pembelajaran yang dibuat

menggunakan model pembelajaran inovatif yang bervariasi dan mempunyai inovasi-inovasi. Hal ini mendorong peneliti untuk mengembangkan perangkat pembelajaran IPA materi gaya dengan model pembelajaran berbasis masalah bagi peserta didik kelas IV sekolah dasar.

2. Desain Produk

a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan acuan yang digunakan untuk pedoman dalam melaksanakan pembelajaran. Peneliti mendesain rencana pelaksanaan pembelajaran berdasarkan buku guru revisi 2018 dengan memilih tema 7 Indahnya Keberagaman Di Negeriku kelas IV.

Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti ditentukan sesuai dengan sub tema yang dipilih. Muatan pelajaran yang ada didalam rencana pelaksanaan pembelajaran adalah IPA materi gaya. Dalam pengembangan ini terdapat empat pembelajaran sehingga menghasilkan empat rencana pelakasanaan pembelajaran. Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) akan menekankan pada kegiatan untuk melakukan kegiatan praktikum.

Komponen yang terdapat di dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) antara lain 1) cover 2) identitas RPP yang meliputi satuan pendidikan, kelas/semester, tema, sub tema pembelajaran, mutan pelajaran, alokasi waktu, hari, tanggal, 3) tujuan pembelajaran, 4) kompetensi inti, 5) kompetensi dasar dan indikator, 6) pendekatan, model, metode, teknik pembelajaran, 7) langkah-langkah pembelajaran, 8) media, alat, dan sumber belajar, 9) penilaian, dan 10) lampiran yang berisi lembar literasi, lagu, media, remedial, rubrik penskoran, dan sintaks pembelajaran yang dipergunakan.

Peneliti dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran menganalisis kompetensi dasar, kemudian menurunkannya menjadi indikator pembelajaran. Dalam menyusun indikator pembelajaran, peneliti

menggunakan kata kerja operasional sesuai dengan Taksonomi Bloom revisi.

Peneliti berusaha memilih kata kerja operasional tingkat tinggi atau High Order Thinking Skill yang terdapat pada Taksonomi Bloom revisi. Indikator yang telah dibuat, kemudian diturunkan menjadi tujuan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran yang dibuat terdiri dari empat unsur, diantaranya unsur A (Audience), B (Behavior), C (Condition), dan D (Degree).

Peneliti merancang rencana pelaksanaan pembelajaran dengan memilih model pembelajaran inovatif yaitu model pembelajaran berbasis masalah. Dalam pembuatan langkah-langkah kegiatan disesuaikan dengan sintaks yang terdapat pada model pembelajaran berbasis masalah. Langkah-langkah model pembelajaran berbasis masalah yaitu: 1) mengorientasikan peserta didik pada masalah, 2) mengorganisasikan peserta didik agar belajar, 3) memandu menyelidiki secara mandiri atau kelompok, 4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, 5) menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah.

Rencana pelaksanaan pembelajaran disusun dengan menggunakan pendekatan saintifik yang terdiri dari 5M (mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan). Selain menggunakan pendekatan saintifik, peneliti juga mengadopsi keterampilan abad 21 (bepikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif). Kegiatan pembelajaran dimuat dengan semenarik mungkin dan dengan kegiatan yang bermakna agar memungkinkan peserta didik berperan aktif dalam mengikuti pembelajaran.

b. Panduan Percobaan

Panduan percobaan adalah salah satu lampiran yang terdapat dalam RPPTH, yang digunakan sebagai pengganti LKPD. Peneliti membuat panduan percobaan dengan semenarik mungkin. Penduan percobaan dibuat dengan tampilan yang berwarna agar peserta didik tertarik untuk melakukan percobaan dan belajar melalui tugas-tugas dan petunjuk yang ada di anduan percobaan. Kegiatan pada panduan percobaan disesuaikan dengan

ketercapain KD, indikator dan tujuan pembelajaran. Penggunaan barang-barang yang cukup lengkap dalam percobaan diharapkan dapat membuat perserta didik melakukan percobaan dan dapat melancarkan kegiatan pembelajaran. Peneliti merancang percobaan dalam setiap rencana pelaksanaan pembelajaran dan disesuaikan dengan model pembelajaran berbasis masalah. Panduan percobaan dibuat agar peserta didik lebih mudah untuk menyelesaikan atau memecahkan permasalahan yang telah diberikan oleh guru dalam pembelajaran.

c. Mater Ajar

Materi ajar atau pembelajaran merupakan salah satu lampiran yang terdapat dalam RPPTH. Materi dibuat berdasarkan KD yang ada dan indikator yang telah dibuat. Materi ajar atau materi pembelajaran yang dikembangkan peneliti adalah materi setiap pembelajaran yang ada pada RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), yang berisikan materi pembelajaran IPA yaitu gaya. Peneliti menggunakan beberapa sumber belajar dalam menyusun materi ajar, tidak hanya menggunakan buku pegangan guru dan peserta didik. Hal ini disesuai dengan karakteristk pembelajaran inovatif yaitu segala sumber informasi mengenai materi yang dipelajari bisa ditemukan dari mana saja (dari berbagai sumber belajar).

Gaya yang ada dalam materi pembelajaran ada gaya otot, gaya listrik, gaya magnet, gaya gravitasi, gaya pegas. Materi ajar atau pembelajaran ini didesain dengan lengkap, menggunakan beberapa gambar sebagai contoh, dan menggunakan bahasa yang tidak terlalu kaku agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik.

d. Tes Hasil Belajar atau Lembar Evaluasi

Perangkat pembelajaran disertai dengan tes hasil belajar atau soal evaluasi. Tes hasil belajar dikembangkan sesuai dengan indikator pembelajaran yang menggunakan kata kerja operasional Taksonomi Bloom revisi tingkat tinggi atau High Order Thinking Skill. Tes hasil belajar dibuat

untuk setiap indikator pembelajaran dengan disertai jawaban. Tes hasil belajar merupakan salah satu penilaian pada aspek pengetahuan, yang berupa kisi-kisi soal, soal, dan kunci jawaban. Sedangkan, untuk aspek lainnya dinilai dengan beberapa penilaian yang berbeda. Soal yang dibuat adalah soal pilihan ganda yang berjumlah 25 soal, dengan empat pilihan jawaban pada setiap nomornya.

3. Data Hasil Validasi Pakar Perangkat Pembelajaran Inovatif dan Revisi Produk

Peneliti melakukan validasi produk yang dihasilkan berupa pengembangan perangkat pembelajaran IPA materi gaya dengan model pembelajaran berbasis masalah bagi peserta didik kelas IV sekolah dasar kepada dua pakar perangkat pembelajaran. Pakar perangkat pembelajaran tersebut terdiri dari dua orang dosen yaitu Ibu W. Dan Bapak D. Produk divalidasi oleh validator Ibu W. sebanyak satu kali pada bulan Juli 2020. Produk juga divalidasi oleh validator Bapak D. Sebanyak satu kali pada bulan April 2020.

Validasi dilakukan untuk mengetahui kualitas perangkat pembelajaran yang telah dibuat oleh penelti. Selain itu, validasi bertujuan untuk mendapatkan komentar berupa saran dan masukan yang dipergunakan untuk memperbaiki produk yang dibuat. Validasi dilakukan dengan berpedoman pada instrumen penilaian yang telah dibuat oleh peneliti. Aspek yang dinilai dari perangkat pembelajaran adalah a) identitas RPP, kesesuaian antara KI, KD, indikator, tujuan pembelajaran, model pembelajaran, langkh-langkah pembelajaran, penilaian, media, b) panduan percobaan, c) materi ajar, d) tes hasil belajar atau soal evaluasi, e) bahasa dan tata tulis.

Berdasarkan hasil validasi yang dilakukan oleh peneliti kepada dua ahli perangkat pembelajaran diperoleh hasil validasi 3,32 dengan kategori β€œbaik”.

Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Validasi Pakar Perangkat Pembelajaran No. Validator Perangkat Pembelajaran

Rata-rata Kategori

Rerata (jumlah total : validator) 3,32

Kategori Baik

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil validasi dari dua validator di atas, didapatkan rerata skor pakar perangkat pembelajaran 1 sebanyak 3,52 dengan kategori β€œsangat baik” dan pakar perangkat pembelajaran 2 sebesar 3,11 dengan kategori β€œbaik”. Secara keseluruhan perangkat pembelajaran dinyatakan baik digunakan dengan revisi terlebih dahulu.

Kedua pakar memberikan beberapa komentar berisi saran perbaikan untuk perangkat pembelajaran dalam RPP adanya salah penulisan dalam penilaian, dalam tes hasil belajar atau soal evaluasi indikator yang kurang jelas tentang jenis gaya, butir soal harus disesuaikan dengan indikator, masih ada soal yang belum termasuk soal HOTS, dalam panduan percobaan ada kegiatan yang melampaui tujuan pembelajaran, adanya materi tentang kompas tidak ada dalam kegiatan, dalam materi ajar perlu tambahan gaya bentuk dan gaya tidak berbentuk, gambar kurang menarik karena tidak berwarna. Perangkat pembelajaran yang divalidasi oleh pakar perangkat pembelajaran direvisi sesuai komentar dan saran yang diberikan. Data validasi rinci ada didalam lampiran data skor validasi. Berikut tabel yang menjabarkan hasil komentar dan revisi dari kedua validator.

Tabel 4. 2 Komentar Validator Ahli dan Revisi Produk Perangkat Pembelajaran Inovatif

No. Aspek yang dinilai Komentar Revisi

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 1. Kesesuaian indikator

dengan butir soal dengan level kognitif Bloom C4 ke atas

Berdasarkan tabel 4.2 di atas disimpulkan bahwa pakar perangkat pembelajaran memberi saran terhadap perangkat pembelajaran yang sudah dibuat oleh peneliti terutama pada bagian tes hasil belajar atau soal evaluasi, dan panduan percobaan. Berdasarkan komentar dan masukan dari para pakar perangkat pembelajaran di atas maka peneliti melakukan perbaikan pada bagian yang sudah diberi komentar.

4. Data Hasil Validasi Guru SD Kelas IV dan Revisi Produk

Produk perangkat pembelajaran IPA materi gaya dengan model pembelajaran berbasis masalah bagi peserta didik kelas IV sekolah dasar yang dikembangkan oleh peneliti juga divalidasi oleh dua orang guru kelas IV yang memiliki pengalaman dalam menyusun atau membuat perangkat pembelajaran.

Guru yang menjadi validator adalah Ibu Y. S. dari SD (A) dan Bapak A. G. dari

Guru yang menjadi validator adalah Ibu Y. S. dari SD (A) dan Bapak A. G. dari