• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia senantiasa memiliki kebutuhan untuk terikat dan menjalin

suatu hubungan dengan orang lain. Lindsklod (dalam Reardon,1987)

mengatakan bahwa pada dasarnya manusia sebagai makhluk sosial

membutuhkan manusia lain untuk bertahan hidup. Kehadiran manusia lain ini

berfungsi untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan, salah satunya adalah

kebutuhan akan kasih sayang. Kebutuhan ini dapat terpenuhi contohnya

melalui suatu hubungan dengan orang lain yang disebut pacaran

(Rice&DeGenova,2005). Di samping untuk pemenuhan kebutuhan kasih

sayang, pacaran juga merupakan salah satu tugas perkembangan yang

memang perlu dilalui oleh seseorang, terutama remaja akhir usia 18-22 tahun.

Melalui pacaran, remaja akhir diharapkan untuk dapat mengenal lawan

jenisnya untuk agar dapat memperluas pergaulan, sebagai masa persiapan

untuk mendapatkan pasangan hidup, membentuk komitmen, serta

membangun tanggung jawab pribadi (Hurlock,1999).

Pacaran merupakan fenomena yang tidak asing lagi pada zaman

sekarang ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) pacar adalah

kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan

berdasarkan cinta kasih. Sementara itu, pacaran memiliki arti sebagai suatu

pasangan terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangan sebagai

pacar (Duvall&Miller,1985). Pacaran merupakan tahap dimana pasangan

mencoba untuk memadukan dua pribadi yang berbeda yang bertujuan agar

terjadi saling kesesuaian, kecocokan, dan keterpaduan hati, pikiran, kehendak,

cita-cita dan perilaku. Melalui hal tersebut maka pasangan yang berpacaran

diharapkan dapat saling memahami, menerima, mendukung, dan membantu

dalam mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan bersama, serta mengatasi

kesulitan dan masalah yang mereka jumpai saat berpacaran. (Hardjana,2002).

Dalam proses menjalani suatu hubungan pacaran, maka tidaklah

terlepas oleh salah satu komponen pacaran yaitu komunikasi. Komunikasi

merupakan dasar dari terbinanya suatu hubungan yang baik (Suranto,2011).

Bertahan lama atau sebentar sebuah hubungan pacaran dipengaruhi oleh

kualitas komunikasi dari pihak-pihak yang berpacaran. Komunikasi memiliki

arti yaitu proses penyampaian pikiran, perasaan atau informasi dari pengirim

pesan melalui suatu cara tertentu yang kemudian diperoleh adanya umpan

balik dari penerima pesan. Proses komunikasi menjadi bagian penting dalam

pacaran, karena dengan komunikasi pasangan dapat berbagi pikiran dan

perasaan, baik bersifat verbal maupun nonverbal tentang bagaimana cara

mereka memandang situasi tertentu, memahami karakter masing-masing,

serta mengungkapkan kebutuhan dan keinginan mereka (Kleinschmidt,2014).

Pada pasangan yang berpacaran, terjalin suatu komunikasi yang

disebut sebagai komunikasi interpersonal (Harjana,2003). Komunikasi

memiliki suatu hubungan tertentu. Dalam bukunya The Interpersonal

Communication Book, De Vito menjabarkan komunikasi interpersonal

(Wood,2007) sebagai sebuah sistem yang dinamis di mana antara pengirim

dan penerima saling mengirim dan menerima pesan secara bersamaan. Dalam

hubungan berpacaran dibutuhkan komunikasi interpersonal. Komunikasi

interpersonal menciptakan dan mempertahankan kedekatan hubungan antara

orang yang satu dengan yang lain. Menurut Berelson dan Steiner (dalam

Astuti,2003) merumuskan bahwa komunikasi interpersonal merupakan proses

penyampaian informasi, emosi, ketrampilan dengan menggunakan simbol,

kata, gambar, angka, dan sebagainya. Proses komunikasi dapat berjalan lancar

jika masing-masing pelaku komunikasi mempunyai persepsi yang sama

terhadap penggunaan simbol tersebut. Komunikasi interpersonal harus

mengandung elemen-elemen seperti keterbukaan, kepercayaan, empati, juga

kemampuan untuk mendengarkan dengan baik. Jika komunikasi interpersonal

tidak berjalan dengan baik maka semakin sering komunikasi dapat membuat

hubungan pacaran tersebut menjadi renggang atau bahkan menyebabkan

hubungan tersebut berakhir (Veny, 2009).

Komunikasi interpersonal sangat diperlukan dalam interaksi dengan

pasangan dalam rangka menciptakan suatu komunikasi yang efektif.

Komunikasi yang efektif sangat penting dalam rangka membangun dan

memelihara hubungan yang kuat dalam pacaran. Komunikasi yang efektif

membantu pasangan untuk lebih memahami satu sama lain dalam rangka

mengembangkan ide-ide kreatif untuk pemecahan masalah, pemberian kasih

sayang, dan berbagi kepedulian (Wiley,2006). Penelitian terhadap remaja di

Amerika Serikat mengatakan bahwa komunikasi adalah aspek yang paling

penting dari hubungan mereka (Baucom et al.,1990). Pasangan yang

berkomunikasi dengan baik melaporkan kepuasan yang lebih tinggi dalam

hubungan mereka, sedangkan pasangan yang tertekan sering kekurangan

metode yang baik untuk berkomunikasi (Baucom et al.,1990). Penjelasan

tentang pentingnya komunikasi efektif pun dibuktikan melalui penelitian

Veny (2009) yang menyebutkan bahwa komunikasi interpersonal sangat

berperan penting dalam menumbuhkan dan memelihara kualitas cinta pada

mahasiswa yang berpacaran. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada

hubungan positif antara komunikasi interpersonal dengan kualitas cinta pada

mahasiswa yang berpacaran. Hal ini menjelaskan bahwa dengan adanya

komunikasi interpersonal maka mahasiswa yang sedang melakukan proses

pacaran akan semakin mengenal dan akrab dengan pasangannya, sehingga

perasaan cinta yang dimiliki untuk pacarnya juga akan semakin dalam.

Komunikasi dalam pacaran dikatakan efektif apabila penerima pesan

dapat menerima dan mengerti sebuah pesan sebagaimana yang dimaksud oleh

pengirim pesan (Hardjana, 2003). Dengan kata lain bahwa pengirim dan

penerima pesan sama-sama memiliki pemahaman yang sama terhadap suatu

pesan, hingga akhirnya pesan tersebut ditindaklanjuti dengan sebuah umpan

balik yang tepat oleh penerima pesan. Pentingnya menciptakan pesan yang

ketidakpastian pesan serta menghindari kesalahpahaman dan kesalahan

mengintepretasi, yang jika terjadi akan berdampak negatif pada hubungan

pacaran (Rakhmat, 2009).

Menurut Effendy (1986), komunikasi dalam pacaran dapat dilakukan

dengan dua cara, yaitu komunikasi secara langsung (face to face) dan

komunikasi tidak langsung (nonface to face). Sebelumnya, komunikasi

langsung merupakan suatu komunikasi primer dalam hubungan pacaran.

Pasangan harus saling bertemu secara langsung untuk melakukan suatu

kegiatan bersama. Contohnya, seorang pria biasanya akan bermain ke rumah

pasangan wanitanya untuk sekedar mengobrol santai berdua atau

mengekspresikan rasa sayangnya pada pasangan, ataupun untuk

membicarakan suatu masalah yang terjadi dalam hubungan. Selain itu juga

biasanya pasangan pria harus mendatangi pasangan wanita jika ingin

mengajak pergi jalan-jalan mencari suasana romantis pada malam minggu.

Pesatnya kemajuan teknologi komunikasi memunculkan suatu

kebiasaan baru yaitu berkomunikasi tidak langsung melalui suatu media yang

menjadikan pasangan yang berpacaran semakin mudah dalam berkomunikasi

satu sama lain, tanpa perlu bertemu secara langsung. Salah satu penelitian

yang membahas tentang penggunaan media sosial dalam hubungan romantis

yang digunakan untuk berkomunikasi satu sama lain, mengungkapkan hasil

bahwa sebagian besar remaja dilaporkan lebih sering menggunakan berbagai

dengan "mengungkapkan kasih sayang" menjadi alasan paling umum untuk

berkomunikasi (Coyne et al 2011).

Penelitian lain yang dilakukan oleh Coney (2011) adalah untuk

menemukan bagaimana teknologi dan media sosial yang digunakan dalam

hubungan romantis. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar pasangan

menggunakan beberapa jenis media untuk berkomunikasi satu sama lain, dan

bentuk media tertentu memiliki kegunaan tertentu. Pesan teks ditemukan

menjadi salah satu bentuk media yang paling populer karena aksesibilitas, dan

alasan utama untuk menggunakan media sosial dengan pasangan adalah untuk

mengekspresikan kasih sayang. Terdapat banyak cara yang dapat digunakan

pasangan untuk saling bertukar pesan saat berkomunikasi melalui media

sosial. Secara umum survei temuan OnDevice (2013) menunjukkan bahwa

penggunaan layanan bertukar pesan di Indonesia kini didominasi

aplikasi instant messaging, seperti WhatsApp, BlackBerry Messenger (BBM),

atau Line. Baru kemudian disusul SMS (Short message service), voice call,

Gambar 1. Penggunaan media online dalam hubungan pacaran

Kemunculan media baru memberikan dampak yang besar terhadap

cara berkomunikasi pasangan yang berpacaran. Dengan adanya media sosial

ini, hubungan pacaran tidak lagi harus menuntut pasangannya untuk terus

bertemu secara langsung (face to face) jika ingin berkomunikasi, melainkan

dapat berkomunikasi melalui pesan instan, internet ataupun telepon seluler

(Nurul,2012). Penelitian menyebutkan bahwa remaja menggunakan pesan

khususnya sebagai pengganti tatap muka berbicara dengan pasangannya.

Remaja juga menemukan pesan instan lebih menyenangkan untuk berbicara

dengan bebas kepada pasangan, sebagai media pendukung selain telepon

atau tatap muka interaksi. Menurut survei online terbaru oleh Teenage

Research Unlimited, hampir seperempat remaja dalam hubungan romantis

telah berkomunikasi dengan pacar setiap jam antara tengah malam dan 05:00

sepuluh kali atau lebih per jam sepanjang malam (Subrahmanyam & Patricia,

2008).

Dalam rangka mempelajari tujuan komunikatif pesan teks, sebuah

penelitian meminta sepuluh remaja (lima anak laki-laki dan lima perempuan)

untuk menyimpan catatan perpesanan rinci dari pesan teks yang dikirim dan

diterima mereka selama tujuh hari berturut-turut. Analisis log pesan

mengungkapkan tiga tema percakapan utama dalam hubungan, yaitu: chatting

(membahas kegiatan dan acara yang mereka lakukan, bergosip, dan pekerjaan

rumah), perencanaan (jadwal untuk bertemu), dan koordinasi komunikasi

(pembicaraan tentang keinginan untuk mengobrol). Teknologi media sosial

yang meningkat dapat melancarkan komunikasi, ini memberikan keuntungan

bagi orang-orang yang terobsesi dengan pasangan mereka dan cenderung

untuk selalu dekat satu sama lain. Bisa berhubungan dengan pasangan dari

hari ke hari, bahkan dimana pun, kapan pun kamu berada, seperti di kamar

kecil atau saat di kamar tidur (Pascoe,2013).

Komunikasi melalui media sosial menawarkan kepada kita cara yang

sangat efektif untuk memantau komunikasi kita. Umpan balik yang tidak

bersifat segera membuat pasangan dapat menyimpan pesannya, membaca

kembali untuk melihat apakah pesan yang ditulis benar-benar

mengungkapkan tujuan yang dimaksud, dan mengeditnya sebelum mengirim

kepada penerima (Klein,2014). Kelebihan berkomunikasi melalui media

sosial membuat pihak yang berpacaran dapat mengekspresikan pesan yang

dikarenakan tidak diperlukannya pembicaraan tatap muka dengan

pasangannya serta karena, sehingga tidak timbul rasa khawatir ataupun malu

dalam mengungkapkan pesan.

Setiap pasangan dalam pacaran pasti menginginkan tercipta suatu

komunikasi yang efektif pada hubungannya, baik untuk dapat memahami satu

sama lain, untuk saling bertukar pendapat, juga untuk mempertahankan

hubungan mereka. Nyatanya, dalam setiap usaha komunikasi terkadang

terjadi kesalahan diantara laki-laki dan perempuan dalam memahami dan

menanggapi maksud pesan masing-masing. Wanita bermaksud

menyampaikan A, sementara pria memahaminya B. Perbedaan cara

berkomunikasi laki-laki dan perempuan biasanya dianggap faktor yang

menjadi sebab kesalahpahaman dalam interaksi mereka (Putri,2013). Ashley

Knox, master di bidang sosial, mengatakan bahwa berkomunikasi secara

efektif mungkin memerlukan waktu. "Masing-masing pihak yang berpacaran

harus belajar tentang gaya komunikasi satu sama lain dan cara kerjanya

dengan anda sendiri atau bagaimana hal itu bertentangan dengan Anda

sendiri," catatnya. " Tidak semua pasangan akan memiliki pola komunikasi

yang sama. " (Suval,2012).

Pria dan wanita memiliki perbedaan tentang cara mereka

berkomunikasi melalui media sosial pada hubungan berpacaran. Terdapat

penelitian yang meneliti bagaimana perempuan dan laki-laki menggunakan

internet, dan pesan instan secara khusus, untuk mempertahankan hubungan

penelitian menunjukkan bahwa wanita, dibandingkan dengan pria, lebih dapat

mengungkapkan emosinya, seperti sedih, takut, cinta, kebahagiaan, dan

kemarahan. Dibandingkan dengan pria, wanita lebih mungkin untuk

memberlakukan perilaku keterbukaan diri, terlibat dalam kesetiaan terhadap

pasangan mereka, dan berbagi tugas dalam upaya untuk mempertahankan

hubungan mereka. Menariknya, wanita lebih cenderung untuk menjalankan

strategi kekuasaan daripada pria. Dibandingkan dengan pria, wanita lebih

mungkin untuk terlibat dalam perilaku manipulatif serta melakukan perilaku

yang terkadang menimbulkan konflik dan konfrontatif (Dan&Sommer,1997).

Salah satu teori yang mempelajari tentang komunikasi interpersonal

adalah teori komunikasi Eric Berne. Teori komunikasi Eric Berne dikenal

dengan nama Teori Analisis Transaksional. Menurut Berne, setiap orang baik

pria maupun wanita, saat berkomunikasi memiliki cara yang berbeda-beda

dalam menyampaikan atau menanggapi pesan. Hal ini dipengaruhi oleh

adanya suatu “sikap diri” pada diri setiap orang yang muncul saat seseorang berkomunikasi. Istilah “sikap diri” atau dalam teori komunikasi Eric Berne

disebut sebagai Status Ego, yaitu suatu sistem perasaan dan kondisi pikiran

yang saling berkaitan dengan bagaimana seseorang berbicara dan bersikap

pada dunia di sekitarnya (Harris, 1969).

Eric Berne mengatakan bahwa setiap orang memiliki status ego yang

terdiri dari tiga bagian, yaitu “Parent Ego State” atau “Orangtua” (P), “Adult Ego State” atau “Dewasa” (A), dan “Child Ego State” atau “Kanak” (C) (Blot,1992). Status Ego “Orangtua” dipengaruhi oleh figur orangtua yang

tertanam dalam diri seseorang, oleh karena itu pada saat berbicara dan

bersikap seseorang akan menunjukkan sikap misalnya: perasaan ingin

membantu, mengarahkan, menyayangi, menasihati, atau mengecam,

memerintah, dan sebagainya. Status ego “Dewasa” terbentuk pada saat seseorang mampu berbicara dan bersikap secara objektif, rasional, logis dan

cepat tanggap terhadap segala situasi konkrit yang terjadi di sekitarnya. Status

ego “Kanak” merupakan bagian dari kepribadian setiap orang yang

terpelihara sejak usia belia yang ditunjukkan dalam bentuk keinginan untuk

dimanja dan disayangi, bereaksi spontan terhadap segala sesuatu, serta penuh

rasa ingin tahu, (Hukom, 1990).

Dalam proses komunikasi pada hubungan berpacaran, status ego

merupakan landasan dari bagaimana seseorang mengirimkan atau

menanggapi suatu pesan kepada pihak lain dalam rangka membentuk

komunikasi interpersonal yang efektif. Pada teori analisis transaksional,

komunikasi diibaratkan sebagai sebuah transaksi. Sebuah transaksi terjadi jika

dalam berkomunikasi terjadi pertukaran antara pesan yang dikirim (stimulus)

dengan pesan yang diterima (respon). Stimulus dan respon tersebut berasal

dari status ego dalam diri seseorang yang berinteraksi dengan status ego yang

ada dalam diri orang lain (Hukom,1990). Dalam berkomunikasi dapat terjadi

berbagai macam jenis transaksi, hal ini bergantung pada status ego mana yang

dimunculkan oleh masing-masing pihak dalam pacaran. Eric Berne

mengajukan tiga pola transaksi komunikasi yaitu: Transaksi komplementer,

Transaksi komplementer merupakan jenis transaksi yang mana

stimulus status ego yang dikirim oleh pengirim pesan direspon dengan status

ego yang sama oleh penerima pesan. Transaksi komplementer dapat terjadi

antara dua status ego yang sama, misalnya antar status ego dewasa, ataupun

pada dua status ego yang berbeda asalkan tetap komplementer, misalnya

status ego orang tua dan status ego Kanak. Dalam transaksi ini pihak yang

berkomunikasi memiliki kesamaan makna terhadap pesan yang dipertukarkan

sehingga komunikasi dapat saling melengkapi dan berjalan dengan lancar

(Harris,1969). Pada saat berkomunikasi dengan media, pasangan dapat

memanfaatkan salah satu kelebihan komunikasi bermedia yaitu adanya

umpan balik yang tidak segera untuk lebih memahami maksud dari isi pesan

yang dikirim sehingga dapat menghasilkan status ego yang sejajar, dan dapat

menciptakan suatu komunikasi komplementer yang efektif. Misalnya,

pasangan wanita mengatakan kepada pasangan prianya, "Sayang, aku punya

hari yang buruk hari ini." Di permukaan, ini adalah pernyataan fakta, akan

tetapi ini memberikan pasangan pria sebuah informasi. Transaksi

komplementer terjadi jika pasangan pria memahami maksud dari pihak

wanita dengan kemudian memberi respon berupa “"Oh, maafkan aku,

Sayang. Apa yang terjadi denganmu? " (Wiley,2006).

Sementara itu, transaksi silang terjadi ketika respon status ego yang

dikirim oleh penerima pesan tidak datang dari arah respon status ego yang

ingin dituju oleh pengirim pesan sehingga menghasilkan respon yang tidak

makna dalam menginterpretasikan pesan sehingga dapat menyebabkan

kesalahpahaman dalam penerimaan pesan. Selain itu, transaksi ini dapat juga

terjadi dikarenakan masing-masing pihak yang berpacaran memiliki pendapat

yang berlainan akan suatu hal dan saling tidak mengalah sehingga terjadi

pertengkaran (Blot,1992). Pada saat berkomunikasi melalui media, ada

kalanya pasangan memiliki pemikiran yang berbeda terhadap suatu hal, yang

kemudian memunculkan perbedaan bahkan perdebatan. Salah satu cara

berkomunikasi yang tidak efektif dalam hubungan pacaran meliputi

kesalahpahaman dan menyalahartikan apa yang pasangan katakan. Misalnya

ketika pihak pria mencoba untuk mengutarakan keluhannya kepada pasangan

wanitanya dengan mengirim pesan singkat melalui BBM “aku tadi tidak senang melihat kamu berpakaian seperti itu”. Pihak wanita yang menerima

pesan tersebut merasa tersinggung dan menyimpulkan bahwa pihak pria

membenci dirinya karena menurutnya kata “tidak senang” dipahami sebagai “benci” (Safari,2012).

Jenis transaksi yang terakhir adalah transaksi terselubung. Transaksi

terselubung merupakan suatu transaksi yang kompleks. Transaksi ini terjadi

apabila dalam proses komunikasi melibatkan lebih dari satu status ego dalam

diri seseorang, sehingga menimbulkan campuran beberapa status ego.

Misalnya, pengirim pesan berusaha menunjukkan status ego tertentu dengan

tujuan untuk menyembunyikan suatu pesan yang sebenarnya ingin direspon.

Transaksi ini terjadi biasanya karena salah satu pihak dalam pasangan merasa

mengungkapkan keinginannya (Lunandi,1987). Misalnya, adanya percakapan

pada status ego Dewasa akan tetapi sebenarnya pengirim pesan ingin

mengarahkan pada transaksi Kanak-Orangtua. Salah satu bentuk komunikasi

yang tidak efektif adalah menjadi seseorang yang tidak langsung. Jenis

transaksi ini merupakan komunikasi yang tidak langsung. Seseorang tidak

mengungkapkan apa yang sebenarnya diinginkan secara terbuka. Terkadang

seseorang ingin menyelubungi kata-kata mereka dalam misteri dan membuat

pihak lain bekerja keras untuk mengungkap maksud sebenarnya

(Wiley,2006).

Dalam hubungan berpacaran, setiap jenis transaksi ini selalu ada pada

saat pasangan yang berpacaran berkomunikasi. Akan tetapi dapat dipahami

bahwa tidak semua jenis transaksi menciptakan suatu komunikasi yang efektif

dalam komunikasi bermedia. Semua pasangan perlu belajar bagaimana

mengontrol stimulus dan respons status ego mereka sehingga pasangan dapat

menciptakan suatu komunikasi transaksional yang efektif melalui media.

Menurut Juliat T. Wood dalam bukunya “Interpersonal Communication: Everyday Encounters” (2007), karena komunikasi yang terbentuk sifatnya yang transaksional, maka setiap pasangan berpacaran yang terlibat dalam

sebuah percakapan berbagi tanggung jawab untuk membuat agar percakapan

diantara mereka berjalan efektif. Dengan demikian, komunikasi yang efektif

dalam sebuah percakapan bukan menjadi beban satu orang saja melainkan

menjadi tanggung jawab setiap pasangan yang terlibat dalam percakapan

komunikasi efektif dapat terjadi ketika pihak pria dan wanita dalam pasangan

mampu memahami dan menggunakan status egonya dengan tepat baik

sebagai stimulus maupun respon, sehingga menciptakan transaksi komunikasi

yang komplementer (Berne,1964).

Berdasarkan pemaparan tentang bagaimana pentingnya komunikasi

dalam berpacaran dikaitkan dengan teori komunikasi Berne mengenai status

ego dan jenis transaksi yang berhubungan dengan tercapainya komunikasi

yang efektif, maka peneliti tertarik untuk mengetahui pola transaksi

komunikasi apa saja yang terjadi pada pasangan mahasiswa usia remaja akhir

yang berpacaran melalui media sosial. Selain itu, ketertarikan peneliti untuk

melakukan penelitian ini dikarenakan belum ada satupun penelitian yang

meneliti tentang teori analisis transaksional Eric Berne dalam lingkup

komunikasi pada pasangan berpacaran.

Dokumen terkait