• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Positif Pariwisata Bagi Ekonomi

BAB II KERANGKA TEORI

2.8 Dampak Pariwisata Dalam Bidang Ekonomi

2.8.2 Dampak Positif Pariwisata Bagi Ekonomi

Ada banyak dampak positif pariwisata bagi perekonomian, diantaranya adalah sebagai berikut (Leiper, 1990 dalam Pitana dan Diarta 2009):

1. Pendapatan dari penukaran valuta asing 2. Menyehatkan neraca perdagangan luar negeri 3. Pendapatan dari usaha atau bisnis pariwisata 4. Pendapatan pemerintah

5. Penyerapan tenaga kerja

6. Multiplier effects (efek ekonomi)

7. Pemanfaatan fasilitas pariwisata oleh masyarakat lokal 2.8.3 Dampak Negatif Pariwisata Bagi Ekonomi

Dampak negatif pariwisata diantaranya adalah sebagai berikut (Mathieson dan wall, 1992 dalam Pitana dan Diarta 2009):

1. Ketergantungan terlalu besar pada pariwisata

2. Meningkatkan angka inflasi dan meroketnya harga tanah

3. Meningkatnya kecendrungan untuk mengimpor bahan-bahan yang diperlukan dalam pariwisata

4. Sifat pariwisata yang musiman

5. Timbulnya biaya-biaya tambahan lain bagi perekonomian setempat 2.9 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang digunakan sebagai bahan referensi dalam penelitian ini antara lain:

1. Akhmad Bories, dkk 2016 (Universitas Brawijaya) melakukan penelitian berjudul, “Dampak Pengembangan Pariwisata Teradap Kehidupan

Masyarakat Lokal Di Kawasan Wisata (Studi Pada Masyarakat Sekitar Wisata Wendit, Kabupaten Malang)” menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat sekitar khususnya masyarakat sekitar Taman Wisata Air Wendit.

Pemerintah Kabupaten Malang telah melakukan banyak perubahan mulai dari penambahan fasilitas wisata serta wahana-wahana permainan yang menjadi daya tarik wisata. Saat ini promosi yang dilakukan masih kurang maksimal dengan melihat tingkat kunjungan wisata Wendit yang dari tahun ke tahun menurun. Dampak lain yang ditimbulkan dari pengembangan Taman Wisata Air Wendit dari aspek sosial diantaranya meningkatnya keterampilan penduduk dengan membuat cinderamata, transformasi mata pencaharian ke pekerjaan yang lebih baik, transformasi norma dari norma negatif ke norma positif.

2. Rusdin, 2016 (Universitas Halu Oleo Kendari) melakukan penelitian berjudul, “Dampak Pengembangan Wisata Bahari Pantai Toronipa Terhadap Perekonomian Masyarakat Di Kelurahan Toronipa Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe” menunjukkan bahwa dampak pengembangan wisata bahari pantai Toronipa terhadap perekonomian masyarakat di Kelurahan Toronipa Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pengembangan obyek wisata pantai Toronipa memberikan dampak positif terhadap aktivitas perekonomian masyarakat.

Sebelum pengembangan wisata pantai Toronipa, sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani dan nelayan, namun sesudah pengembangan obyek wisata pantai aktivitas ekonomi meningkat. Masyarakat mendapat pekerjaan

tambahan sebagai pedagang makanan dan minuman serta penyedia jasa berupa fasilitas yang di sewakan untuk wisatawan seperti gazebo, ruang bilas, ban pelampung, banana boat dan penginapan. 2. Pengembangan obyek wisata pantai juga berdampak pada pendapatan masyarakat, dimana sebelum pengembangan obyek wisata pantai tingkat pendapatan responden masih tergolong rendah.

3. Rani Puspita, 2016 (Universitas Lampung) melakukan penelitian berjudul,

“Dampak Pengembangan Industri Pariwisata Terhadap Kondisi Ekonomi Masyarakat Sekitar (Studi Di Pantai Embe Desa Merak Belantung Kalianda Lampung Selatan)” menunjukkan bahwa pengembangan obyek wisata pantai Embe memberikan dampak positif terhadap aktivitas perekonomian masyarakat. Sebelum pengembangan wisata pantai Embe, sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani dan nelayan, namun sesudah pengembangan obyek wisata pantai aktivitas ekonomi meningkat. Masyarakat yang berada di sekitar lokasi wisata mendapat pekerjaan tambahan sebagai pedagang makanan dan minuman serta penyedia jasa berupa fasilitas yang di sewakan untuk wisatawan seperti pondok, perahu, ban pelampung, serta juru parkir. Sedangkan yang berada di luar lokasi wisata yang sebelumnya hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga, buruh cuci, dan peternak, mendapatkan aktivitas tambahan seperti membuka toko oleh-oleh, menjual perlengkapan renang, serta penyewaan homestay. Harga yang ditawarkan, relatif lebih murah dibandingkan harga di lokasi wisata.

2.10 Kerangka Berfikir

Berdasarkan tinjauan pustaka dan penelitian terdahulu, maka kerangka berfikir dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir

Sumber: Diolah oleh Penulis, 2019 1. Kunjungan

Wisata 2. Pengenalan

Budaya Pengembangan Pariwisata Taman Raja Batu

MADINA

Dampak Ekonomi

Dampak Bagi Masyarakat

1. Pendapatan Penduduk 2. Meningkatkan

Pendidikan

Dampak Sosial

Rekomendasi

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Bentuk Penelitian

Bentuk penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu data yang diperoleh dan dikumpulkan dari proses penelitian yang disajikan ke dalam bentuk-bentuk kalimat. Hasil penelitian kualitatif deskriptif berisi kutipan-kutipan dari data-data. Data-data tersebut mencakup transkrip wawancara, dokumen pribadi dan resmi, gambar dan rekaman-rekaman resmi lainnya (Emzir, 2012).

Jenis penelitian ini digunakan agar dapat memberikan pemahaman dan penafsiran secara mendalam mengenai dampak pengembangan pariwisata Taman Raja Batu MADINA terhadap kehidupan masyarakat lokal di kawasan wisata ini.

Hasil penelitian didapat melalui observation (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi dan gabungan dari ketiganya (triangulasi) (Sugiyono, 2014:62-63). Dan dengan menggunakan metode kualitatif, maka data yang didapat lebih lengkap, lebih mendalam, kredibel dan bermakna sehingga tujuan penelitian dapat dicapai (Sugiyono, 2016: 205).

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Taman Raja Batu MADINA, Desa Parbangunan Aek Godang, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.

3.3 Informan Penelitian

Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari

populasi dan sampel. Subjek penelitian ini menjadi informan yang akan memberikan informasi yang diperlukan selama proses penelitian (Suyanto dan Sutinah, 2011:171). Informan penelitian diharapkan mempunyai banyak pengalaman mengenai latar dari penelitian yang dilakukan.

Ada tiga kategori informan menurut Suyanto dan Sutinah (2011:172) yaitu:

1. Informan Kunci (Key Informan), yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang di perlukan dalam penelitian. Informan kunci dalam penelitian ini adalah Dinas Pariwisata yang diwakili oleh Bapak Miswar Husin, S. Pi, M. Si selaku KABID Pengembangan Destinasi Pariwisata Kabupaten Mandailing Natal dan Bapak Zulkhairi, S.E selaku KABID Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Mandailing Natal.

2. Informan Utama, yaitu mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Informan utama dalam penelitian ini adalah masyarakat di sekitar lokasi wisata Taman Raja Batu berjumlah 15 orang.

3. Informan Tambahan, yaitu mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang diteliti. Informan tambahan dalam penelitian ini adalah perangkat desa yang diwakili oleh Kepala Desa Parbangunan Bapak Fahrul Rahman (Usia 56 Tahun).

3.4 Definisi Konsep

Untuk memberikan batasan-batasan yang lebih jelas dari masing-masing konsep guna menghindari adanya salah pengertian, maka definisi konsep yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, Adapun yang menjadi defenisi konsep dalam penelitian ini adalah

1. Dampak Pengembangan Pariwisata adalah perubahan-perubahan yang terjadi terhadap masyarakat sebagai komponen dalam lingkungan hidup sebelum dan setelah ada kegiatan pariwisata. Identifikasi tersebut diartikan sebagai suatu proses penetapan mengenai pengaruh dari perubahan sosial ekonomi, budaya, tradisi dan perilaku untuk meningkatkan kualitas hidup.

2. Kehidupan Masyarakat adalah hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, dikarenakan manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri atau masih memnutuhkan bantuan dari pihak lain.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

a. Wawancara

Wawancara yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah dengan cara tanya jawab langsung kepada informan yang tinggal di sekitar pariwisata Taman Raja Batu MADINA dan beberapa pengunjung.

b. Observasi

Teknik observasi yang dilakukan peneliti dengan cara melihat dan mengamati langsung obyek penelitian, yaitu kegiatan apa saja yang dilakukan masyarakat sekitar untuk memajukan pariwisata Taman Raja Batu MADINA dan melihat langsung kondisi rumah maupun ekonomi masyarakat sekitar.

c. Dokumentasi

Teknik dokumentasi yang dilakukan peneliti yaitu dengan beberapa foto, video, rekaman wawancara, dan mengambil data ekonomi masyarakat sekitar kepada pemerintah yang berkaitan.

d. Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pegumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data (Sugiyono, 2014:83).

3.6 Teknik Analisis Data

Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah di analisis dengan menggunakan alat analisis deskriptif kualitatif. Analisis ini untuk mendeskripsikan, menggambarkan, menjabarkan, atau menguraikan data (Ramli, 2009). Analisisnya adalah membandingkan secara deskriptif keadaan responden sebelum dan sesudah pengembangan obyek wisata. Faktor yang dibandingkan adalah aktivitas ekonomi dan pendapatan. Sehingga dapat memberikan penjelasan tentang bagaimana dampak pengembangan pariwisata Taman Raja Batu MADINA terhadap kehidupan masyarakat lokal di kawasan sekitar wisata.

1. Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dari observasi, wawancara, kepustakaan dan dokumentasi dicatat dalam catatan lapangan yang berisi tentang apa yang dijumpai selama penelitian.

2. Penyajian Data

Dengan penyajian data akan dipahami apa yang terjadi, apa yang dilakukan, dan lebih lanjut lagi menganalisis mengambil tindakan berdasarkan atas pemahaman yang dapat dari penyajian data tersebut.

3. Penerikan Kesimpulan

Kesimpulan merupakan langkah terakhir dalam pembuatan suatu laporan.

Penarikan kesimpulan adalah usaha untuk mencari atau memahami makna keteraturan pola-pola, kejelasan, alur sebab akibat atau proposisi. Hal ini perlu dilakukan agar data yang diperoleh data memiliki validitas sehingga kesimpulan yang ditarik akan semakin kokoh dan jelas.

atas permukaan laut. Luas Wilayah Kabupaten Mandailing Natal ±6.620,70 km² atau 9,23 persen dari wilayah Sumatera Utara.

Kabupaten Mandailing Natal sendiri terdiri dari 23 Kecamatan, 27 Kelurahan, dan 377 desa dengan luas wilayah mencapai 6.134,00 km² dan jumlah penduduk sekitar 480.911 jiwa (2017) dengan kepadatan penduduk 78 jiwa/km².

Kabupaten Mandailing Natal khususnya di Kecamatan Panyabungan memiliki potensi Bisnis Pariwisata yang sangat besar ke depannya, dimana dengan kekayaan alamnya yang sangat melimpah. Apabila pengelolaan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan terencana maka bisa jadi kabupaten Mandailing Natal menjadi pusat Pariwisata di daerah Sumatera Utara yang memiliki daya saing yang patut di pertimbangkan oleh wisatawan dibanding daerah-daerah lain. Salah satu pariwisata yang sangat terkenal saat ini khususnya dikalangan anak Milenial untuk dijadikan tempat rekreasi dan spot untuk foto Instagram adalah Taman Raja Batu.

Taman Raja Batu MADINA ini terletak di Kecamatan Panyabungan tepatnya di Desa Parbangunan Aek Godang. Desa Parbangunan adalah nama suatu wilayah yang berada di Kecamatan Panyabungan dimana menurut beberapa tokoh masyarakat Desa Parbangunan dahulunya bernama Desa Ujung Padang yang terletak di sebelah Kota Panyabungan. Desa Parbangunan memiliki luas wilayah sebesar 1.011 Ha dimana 65% wilayah berupa Daratan yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian/perkebunan dan 35% daratan dimanfaatkan sebagai permukiman penduduk, yang mana Desa Parbangunan berbatasan dengan Desa dan Kelurahan di Kecamatan Panyabungan, dengan

titik koordinat long. 0'48'13.0”N Lat. 99'34'13.3”E. Iklim di Desa Parbangunan sebagaimana desa/wilayah lain di Indonesia mempunyai iklim kemarau dan penghujan, hal tersebut berpengaruh langsung terhadap pola tanam pada lahan perkebunan dan pertanian masyarakat di Desa Parbangunan.

4.1.2 Kondisi Ekonomi Masyarakat Desa Parbangunan 4.1.2.1 Kondisi Umum Demografis Daerah

Jumlah penduduk Desa Parbangunan sebanyak 1.330 Jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 677 Jiwa, sedangkan penduduk perempuan 653 Jiwa yang terdiri dari 2 (dua) banjar di daerah Desa Parbangunan.

4.1.2.2 Kondisi Ekonomi

Desa Parbangunan memiliki berbagai potensi yang baik. Potensi tersebut dapat meningkatkan taraf perekonomian dan pendapatan masyarakat. Disamping itu, lokasi yang relatif dekat dengan Ibu Kota Kabupaten dan pusat perekonomian memberikan peluang kehidupan yang maju dalam sektor formal maupun non Formal. Tabel berikut menyampaikan data keadaan ekonomi masyarakat Desa Parbangunan.

Tabel 4.1

Keadaan Ekonomi Masyarakat

NO KESEJAHTERAAN SOSIAL KK

1 Keluarga Pra Sejahtera I 80 KK

Sumber Data : Kantor Kepala Desa Parbangunan, 2018

Data pada Tabel 4.1 menunjukkan bahwa kesejahteraan sosial pada masyarakat Desa Parbangunan sudah dikatakan Sejahtera, karna 307 KK berada di atas garis kemiskinan, tidak menutup kemungkinan dengan pengembangan pariwisata Taman Raja Batu ini kedepan dapat meningkatkan kualitas hidup mayarakat Desa Parbangunan khususnya dan masyarakat Mandailing Natal umunya, sebab sektor Pariwisata sangatlah berpengaruh besar terhadap kehidupan suatu daerah.

Mata pencaharian masyarakat di Desa Parbangunan berbeda-beda.

Berdasarkan hasil penelitian, penduduk yang bekerja dan tidak bekerja dapat di sajikan pada Tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.2

Mata Pencaharian Masyarakat

NO PENCAHARIAN JIWA PERSENTASE(%)

1 BURUH TANI 210 55,55

2 PETANI/PEKEBUN 32 8,46

3 PEDAGANG 30 7,93

4 TUKANG 20 5,30

5 PEGAWAI NEGERI SIPIL 47 12,43

6 TNI/POLRI 30 7,93

7 TUKANG KAYU 1 0,28

8 TUKANG BATU 5 1,32

9 PENJAHIT 2 0,52

10 PENGRAJIN/PEKERJA SENI 1 0,28

Jumlah 378 100

Tabel 4.2 menunjukkan penduduk kelompok berdasarkan mata pencaharian yang bekerja pada berbagai bidang pekerjaan berjumlah 378 orang. Dari data diatas dapat dilihat bahwa masyarakat memiliki mata pencaharian umum yang berbeda-beda, dengan pengembangan pariwisata ini diharapkan masyarakat yang mata pencahariannya masih serabutan atau belum tetap nantinya memiliki usaha sendiri yang dikelolanya dengan harapan dapat meningkatkan kualitas kehidupannya.

4.1.3 Kondisi Sosial Masyarakat Desa Parbangunan

Berdasarkan hasil pendataan penduduk pada tahun Desember 2018 gunan penyusunan Buku Profil Desa yaitu berjumlah 2.134 jiwa yang tersebar di 2 (dua) dusun, yaitu Dusun Lombang dengan Jumlah penduduk 814 jiwa dan Dusun Dolok 1.320 Jiwa.

4.1.3.1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin per Dusun

Informasi mengenai jumlah penduduk menurut jenis kelamin penting diketahui terutama untuk mengetahui banyaknya orang yang tinggal di suatu wilayah pada waktu tertentu. Di bawah ini tersaji tabel informasi jumlah dan proporsi penduduk Desa Parbangunan menurut jenis kelamin yang tinggal di wilayah Dusun tertentu.

Tabel 4.3

Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin

NO DUSUN

JUMLAH PENDUDUK

PRIA WANITA JUMLAH

1 DUSUN LOMBANG 412 402 814

2 DUSUN DOLOK 672 648 1.320

JUMLAH 2.134

Sumber Data : Kantor Kepala Desa Parbangunan, 2018

Berdasarkan tabel 4.3 di atas, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Desa Parbangunan adalah 2.134 jiwa, yang terbagi atas 412 jiwa berjenis kelamin pria dan 402 jiwa berjenis kelamin wanita di Dusun Lombang dan 672 jiwa berjenis kelamin pria dan 648 jiwa berjenis kelamin wanita di Dusun Dolok.

4.1.3.2 Jumlah Penduduk Menurut Usia

Informasi mengenai jumlah penduduk menurut Usia penting diketahui terutama untuk mengetahui banyaknya orang yang tinggal di suatu wilayah pada waktu tertentu sehingga dapat digunakan untuk mengetahui grafik usia masyarakat. Di bawah ini tersaji informasi jumlah dan proporsi penduduk Desa Parbangunan menurut usia yang tinggal di wilayah Desa Parbangunan

.

Tabel 4.4

Jumlah Penduduk Menurut Usia

NO UMUR/USIA

DUSUN

JUMLAH

DOLOK LOMBANG

1 0-17 Tahun 682 354 1.036

2 18-56 Tahun 582 418 1.000

3 56 Keatas 56 42 98

JUMLAH 1.320 814 2.134

Sumber Data : Kantor Kepala Desa Parbangunan, 2018

Tabel 4.4 menunjukkan distribusi penduduk menurut kelompok usia dan produktivitas kerja. Masyarakat yang tergolong belum produktif adalah mereka berada pada kelompok usia 0-17 Tahun yang berjumlah 682 jiwa di Dusun Dolok dan 354 jiwa di Dusun Lombang dengan jumlah 1.036 jiwa, sementara itu penduduk yang tergolong produktif adalah mereka yang berusia 18-56 Tahun yang berjumlah 582 jiwa di Dusun Dolok dan 418 jiwa di Dusun Lombang dengan jumlah 1.000 jiwa, sedangkan yang tidak produktif adalah mereka yang berusia 56 Keatas yang berjumlah 56 jiwa di Dusun Dolok dan 42 jiwa di Dusun Lombang dengan jumlah 98 jiwa di Desa Parbangunan

4.1.3.3 Keadaan Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pada tabel 4.5 di bawah ini menunjukkan jumlah penduduk Desa Parbangunan berdasarkan tingkat pendidikan terakhir yang di ikuti:

Tabel 4.5

Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Parbangunan

NO TINGKAT PENDIDIKAN ORANG/JIWA

1 TAMAN KANAK-KANAK -

2 SEKOLAH DASAR/SEDERAJAT 228

3 SMP/SEDERAJAT 161

4 SMA/SEDERAJAT 192

5 AKADEMI/D1-D3 25

6 SARJANA S-1 102

7 SARJANA S-2 5

8 SARJANA S-3 1

JUMLAH 714

Sumber Data : Kantor Kepala Desa Parbangunan, 2018

Dilihat dari tabel tersebut di atas, bahwa sebagian besar masyarakat Desa Parbangunan kebanyakan hanya mengenyam pendidikan pada tingkatan SD sebesar 228 jiwa dan SMA sebesar 192 jiwa. Bahkan, hanya 1 jiwa yang sampe ke tingkat S-3. Dengan demikian tingkat pendidikan masyarakata Desa Parbangunan masih sangat rendah, dengan perbaikan keadaan ekonomi ini nantinya baik dari sektor pariwisata ini generasi selanjutnya dapat mengenyam pendidikan tertinggi agar memiliki ilmu yang luas untuk memajukan keluarganya dan daerahnya.

4.1.4 Perencanaan Pengembangan Obyek Wisata Taman Raja Batu

Ada beberapa prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan perumusan perencanaan pengembangan pariwisata yaitu:

1. Perencanaan pengembangan pariwisata haruslah merupakan suatu kesatuan dengan pembangunan regional atau nasional dari pembangunan perekonomian, sosial dan budaya.

2. Perencanaan pengembangan pariwisata haruslah dilakukan secara terpadu dengan sektor-sektor lainnya yang berkaitan dengan bidang pariwisata.

3. Perencanaan pengembangan pariwisata daerah haruslah dibawah koordinasi perencanaan fisik daerah sacara keseluruhan.

4. Perencanaan fisik pengembangan pariwisata harus didasarkan suatu studi atau penelitian dan memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan alam dan budaya disekitar wilayah pengembangan.

5. Perencanaan fisik pengembangan pariwisata tidak hanya dilihat dari segi administrasi, tetapi harus sesuai dengan lingkungan alam sekitar dengan memperhatikan faktor geografis yang lebih luas.

6. Perencanaan pengembangan pariwisata tidak hanya memperhatikan masalah dari segi ekonomi saja, tetapi juga harus memperhatikan masalah dari segi sosial dan budaya yang ditimbulkannya.

7. Perencanaan pengembangan pariwisata salah satu tujuannya adalah untuk memberikan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu perencanaan pengembangan pariwisata harus memperhatikan peningkatan kerjasama dengan negara-negara lain yang saling menguntungkan khususnya dibidang pariwisata.

Selain itu dalam menarik para wisatawan dan menimbulkan dampak yang besar bagi kehidupan masyarakat lokal tidak hanya berfokus pada satu tempat saja, tetapi juga perlu mengembangkan beberapa lokasi wisata yang lain agar

Gambar 4.7 Gambar 4.8 Situs Bagas Godang Panyabungan Pesantren Purba Baru

Gambar 4.9 Gambar 4.10

Candi Simangambat Wisata Aek Milas

Gambar 4.11 Gambar 4.12

Wisata Alam Sopotinjak Pantai Natal, Natal

Gambar 4.13 Gambar 4.14

Masjid Agung Nur Alannur Air Terjun Sigala-Gala

Dari beberapa tempat wisata diatas merupakan salah satu dari sekian banyak tempat wisata di Mandailing Natal, dengan dukungan beberapa tempat wisata tersebut maka para wisatawan yang datang berkunjung tidak hanya mengunjungi satu tempat saja akan tetapi banyak tempat yang menjadi reverensi bagi para wisatawan lokal dan manca negara. Pengembangan pariwisata tidak akan pernah dirasakan jika hanya berfokus pada satu tempat saja. Penyelenggaraan kepariwisataan juga ditujukan untuk meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, memperluas, memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja, mendorong pembangunan daerah, memperkenalkan dan mendaya gunakan obyek dan daya tarik wisata di Indonesia serta memupuk rasa cinta tanah air dan mempererat persahabatan antar bangsa. Perkembangan pariwisata juga mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kegiatan pariwisata menciptakan permintaan, baik konsumsi maupun investasi yang pada gilirannya akan menimbulkan kegiatan produksi barang dan jasa.

Sehubungan dengan pesatnya perkembangan pariwisata, pola pembangunan berkelanjutan tersebut sangat cocok diterapkan dalam pengembangan pariwisata ini bertujuan untuk melestarikan keberadaan pariwisata yang ada sekarang ini kepada generasi yang akan datang.

Pembangunan pariwisata difokuskan pada tiga aspek utama yaitu ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan.

4.1.4.1 Pendekatan Perencanaan Pengembangan Pariwisata

Ada 5 (lima) pendekatan perencanaan pengembangan pariwisata yang perlu diketahui dan diaplikasikan dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata, yaitu:

1. Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat Lokal 2. Pendekatan Berkelanjutan

3. Pendekatan Kesisteman 4. Pendekatan Kewilayahan

5. Pendekatan dari Sisi Penawaran (supply) dan permintaan (demand) Kelima pendekatan perencanaan tersebut harus benar-benar dijalankan jika ingin memajukan suatu pariwisata dalam suatu daerah.

4.1.5 Karakteristik Responden

Karakteristik responden merupakan latar belakang kehidupan yang dapat mempengaruhi cara berpikir, sikap serta keterampilan masyarakat dalam mengelola setiap usahanya. Masyarakat dalam menjalankan berbagai usaha tersebut dipengaruhi oleh umur, tingkat pendidikan dan jumlah tanggungan keluarga.

1. Umur

Umur seseorang sangat berpengaruh terhadap aktivitasnya yang dijalankan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada umumnya responden yang berumur lebih mudah memiliki kemampuan fisik yang lebih kuat dibandingkan responden yang berumur sudah tua. Adapun kisaran umur responden dalam penelitian ini adalah 30 - 50 tahun, untuk lebih jelasnya disajikan pada Tabel 4.6 berikut :

Tabel 4.6

Keadaan umur Responden di Taman Raja Batu

KELOMPOK UMUR JUMLAH RESPONDEN PERSENTASE

30-39 8 53,33% disimpulkan bahwa responden masih dalam usia produktif dan masih memiliki peluang besar dalam berpartisipasi untuk pengembangan Taman Raja Batu ini.

2. Tingkat Pendidikan Responden

Pada umumnya pendidikan dapat dipengaruhi cara berpikir sekaligus menambah keterampilan khususnya dalam mengelola setiap usahanya. Sesuai dengan hasil penelitian disimpulkan bahwa mayoritas responden yang diteliti memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Untuk lebih jelasnya mengenai tingkat pendidikan responden disajikan pada Tabel berikut :

Tabel 4.7

Tingkat Pendidikan Responden di Taman Raja Batu TINGKAT

Data pada tabel diatas menunjukkan bahwa dari 15 responden yang disajikan sebagian besar mempunyai tingkat pendidikan tamat SMA yaitu 5 Responden atau 33,33 persen, selanjutnya di ikuti tammatan SMP dan SD sebanyak 8 Responden atau 50,34 persen dan hanya 2 responden atau 13,33 persen yang Sarjana. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kondisi sosial Responden tergolong rendah bila di ukur dari tingkat pendidikan.

4.2 Kondisi/ Gambaran Umum Taman Raja Batu

Taman Raja Batu MADINA terletak di Kecamatan Panyabungan tepatnya di Desa Parbangunan Aek Godang. Desa Parbangunan adalah nama suatu wilayah yang berada di Kecamatan Panyabungan dimana menurut beberapa tokoh masyarakat Desa Parbangunan dahulunya bernama Desa Ujung Padang yang terletak di sebelah Kota Panyabungan. Desa Parbangunan memiliki luas wilayah sebesar 1.011 Ha dimana 65% wilayah berupa Daratan yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian/perkebunan dan 35% daratan dimanfaatkan sebagai permukiman penduduk, yang mana Desa Parbangunan berbatasan dengan Desa dan Kelurahan di Kecamatan Panyabungan, dengan titik koordinat long.

0'48'13.0”N Lat. 99'34'13.3”E. Iklim di Desa Parbangunan sebagaimana desa/wilayah lain di Indonesia mempunyai iklim kemarau dan penghujan, hal tersebut berpengaruh langsung terhadap pola tanam pada lahan perkebunan dan

0'48'13.0”N Lat. 99'34'13.3”E. Iklim di Desa Parbangunan sebagaimana desa/wilayah lain di Indonesia mempunyai iklim kemarau dan penghujan, hal tersebut berpengaruh langsung terhadap pola tanam pada lahan perkebunan dan

Dokumen terkait