• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisis Data

BAB II KERANGKA TEORI

3.6 Teknik Analisis Data

Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah di analisis dengan menggunakan alat analisis deskriptif kualitatif. Analisis ini untuk mendeskripsikan, menggambarkan, menjabarkan, atau menguraikan data (Ramli, 2009). Analisisnya adalah membandingkan secara deskriptif keadaan responden sebelum dan sesudah pengembangan obyek wisata. Faktor yang dibandingkan adalah aktivitas ekonomi dan pendapatan. Sehingga dapat memberikan penjelasan tentang bagaimana dampak pengembangan pariwisata Taman Raja Batu MADINA terhadap kehidupan masyarakat lokal di kawasan sekitar wisata.

1. Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dari observasi, wawancara, kepustakaan dan dokumentasi dicatat dalam catatan lapangan yang berisi tentang apa yang dijumpai selama penelitian.

2. Penyajian Data

Dengan penyajian data akan dipahami apa yang terjadi, apa yang dilakukan, dan lebih lanjut lagi menganalisis mengambil tindakan berdasarkan atas pemahaman yang dapat dari penyajian data tersebut.

3. Penerikan Kesimpulan

Kesimpulan merupakan langkah terakhir dalam pembuatan suatu laporan.

Penarikan kesimpulan adalah usaha untuk mencari atau memahami makna keteraturan pola-pola, kejelasan, alur sebab akibat atau proposisi. Hal ini perlu dilakukan agar data yang diperoleh data memiliki validitas sehingga kesimpulan yang ditarik akan semakin kokoh dan jelas.

atas permukaan laut. Luas Wilayah Kabupaten Mandailing Natal ±6.620,70 km² atau 9,23 persen dari wilayah Sumatera Utara.

Kabupaten Mandailing Natal sendiri terdiri dari 23 Kecamatan, 27 Kelurahan, dan 377 desa dengan luas wilayah mencapai 6.134,00 km² dan jumlah penduduk sekitar 480.911 jiwa (2017) dengan kepadatan penduduk 78 jiwa/km².

Kabupaten Mandailing Natal khususnya di Kecamatan Panyabungan memiliki potensi Bisnis Pariwisata yang sangat besar ke depannya, dimana dengan kekayaan alamnya yang sangat melimpah. Apabila pengelolaan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan terencana maka bisa jadi kabupaten Mandailing Natal menjadi pusat Pariwisata di daerah Sumatera Utara yang memiliki daya saing yang patut di pertimbangkan oleh wisatawan dibanding daerah-daerah lain. Salah satu pariwisata yang sangat terkenal saat ini khususnya dikalangan anak Milenial untuk dijadikan tempat rekreasi dan spot untuk foto Instagram adalah Taman Raja Batu.

Taman Raja Batu MADINA ini terletak di Kecamatan Panyabungan tepatnya di Desa Parbangunan Aek Godang. Desa Parbangunan adalah nama suatu wilayah yang berada di Kecamatan Panyabungan dimana menurut beberapa tokoh masyarakat Desa Parbangunan dahulunya bernama Desa Ujung Padang yang terletak di sebelah Kota Panyabungan. Desa Parbangunan memiliki luas wilayah sebesar 1.011 Ha dimana 65% wilayah berupa Daratan yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian/perkebunan dan 35% daratan dimanfaatkan sebagai permukiman penduduk, yang mana Desa Parbangunan berbatasan dengan Desa dan Kelurahan di Kecamatan Panyabungan, dengan

titik koordinat long. 0'48'13.0”N Lat. 99'34'13.3”E. Iklim di Desa Parbangunan sebagaimana desa/wilayah lain di Indonesia mempunyai iklim kemarau dan penghujan, hal tersebut berpengaruh langsung terhadap pola tanam pada lahan perkebunan dan pertanian masyarakat di Desa Parbangunan.

4.1.2 Kondisi Ekonomi Masyarakat Desa Parbangunan 4.1.2.1 Kondisi Umum Demografis Daerah

Jumlah penduduk Desa Parbangunan sebanyak 1.330 Jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 677 Jiwa, sedangkan penduduk perempuan 653 Jiwa yang terdiri dari 2 (dua) banjar di daerah Desa Parbangunan.

4.1.2.2 Kondisi Ekonomi

Desa Parbangunan memiliki berbagai potensi yang baik. Potensi tersebut dapat meningkatkan taraf perekonomian dan pendapatan masyarakat. Disamping itu, lokasi yang relatif dekat dengan Ibu Kota Kabupaten dan pusat perekonomian memberikan peluang kehidupan yang maju dalam sektor formal maupun non Formal. Tabel berikut menyampaikan data keadaan ekonomi masyarakat Desa Parbangunan.

Tabel 4.1

Keadaan Ekonomi Masyarakat

NO KESEJAHTERAAN SOSIAL KK

1 Keluarga Pra Sejahtera I 80 KK

Sumber Data : Kantor Kepala Desa Parbangunan, 2018

Data pada Tabel 4.1 menunjukkan bahwa kesejahteraan sosial pada masyarakat Desa Parbangunan sudah dikatakan Sejahtera, karna 307 KK berada di atas garis kemiskinan, tidak menutup kemungkinan dengan pengembangan pariwisata Taman Raja Batu ini kedepan dapat meningkatkan kualitas hidup mayarakat Desa Parbangunan khususnya dan masyarakat Mandailing Natal umunya, sebab sektor Pariwisata sangatlah berpengaruh besar terhadap kehidupan suatu daerah.

Mata pencaharian masyarakat di Desa Parbangunan berbeda-beda.

Berdasarkan hasil penelitian, penduduk yang bekerja dan tidak bekerja dapat di sajikan pada Tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.2

Mata Pencaharian Masyarakat

NO PENCAHARIAN JIWA PERSENTASE(%)

1 BURUH TANI 210 55,55

2 PETANI/PEKEBUN 32 8,46

3 PEDAGANG 30 7,93

4 TUKANG 20 5,30

5 PEGAWAI NEGERI SIPIL 47 12,43

6 TNI/POLRI 30 7,93

7 TUKANG KAYU 1 0,28

8 TUKANG BATU 5 1,32

9 PENJAHIT 2 0,52

10 PENGRAJIN/PEKERJA SENI 1 0,28

Jumlah 378 100

Tabel 4.2 menunjukkan penduduk kelompok berdasarkan mata pencaharian yang bekerja pada berbagai bidang pekerjaan berjumlah 378 orang. Dari data diatas dapat dilihat bahwa masyarakat memiliki mata pencaharian umum yang berbeda-beda, dengan pengembangan pariwisata ini diharapkan masyarakat yang mata pencahariannya masih serabutan atau belum tetap nantinya memiliki usaha sendiri yang dikelolanya dengan harapan dapat meningkatkan kualitas kehidupannya.

4.1.3 Kondisi Sosial Masyarakat Desa Parbangunan

Berdasarkan hasil pendataan penduduk pada tahun Desember 2018 gunan penyusunan Buku Profil Desa yaitu berjumlah 2.134 jiwa yang tersebar di 2 (dua) dusun, yaitu Dusun Lombang dengan Jumlah penduduk 814 jiwa dan Dusun Dolok 1.320 Jiwa.

4.1.3.1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin per Dusun

Informasi mengenai jumlah penduduk menurut jenis kelamin penting diketahui terutama untuk mengetahui banyaknya orang yang tinggal di suatu wilayah pada waktu tertentu. Di bawah ini tersaji tabel informasi jumlah dan proporsi penduduk Desa Parbangunan menurut jenis kelamin yang tinggal di wilayah Dusun tertentu.

Tabel 4.3

Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin

NO DUSUN

JUMLAH PENDUDUK

PRIA WANITA JUMLAH

1 DUSUN LOMBANG 412 402 814

2 DUSUN DOLOK 672 648 1.320

JUMLAH 2.134

Sumber Data : Kantor Kepala Desa Parbangunan, 2018

Berdasarkan tabel 4.3 di atas, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Desa Parbangunan adalah 2.134 jiwa, yang terbagi atas 412 jiwa berjenis kelamin pria dan 402 jiwa berjenis kelamin wanita di Dusun Lombang dan 672 jiwa berjenis kelamin pria dan 648 jiwa berjenis kelamin wanita di Dusun Dolok.

4.1.3.2 Jumlah Penduduk Menurut Usia

Informasi mengenai jumlah penduduk menurut Usia penting diketahui terutama untuk mengetahui banyaknya orang yang tinggal di suatu wilayah pada waktu tertentu sehingga dapat digunakan untuk mengetahui grafik usia masyarakat. Di bawah ini tersaji informasi jumlah dan proporsi penduduk Desa Parbangunan menurut usia yang tinggal di wilayah Desa Parbangunan

.

Tabel 4.4

Jumlah Penduduk Menurut Usia

NO UMUR/USIA

DUSUN

JUMLAH

DOLOK LOMBANG

1 0-17 Tahun 682 354 1.036

2 18-56 Tahun 582 418 1.000

3 56 Keatas 56 42 98

JUMLAH 1.320 814 2.134

Sumber Data : Kantor Kepala Desa Parbangunan, 2018

Tabel 4.4 menunjukkan distribusi penduduk menurut kelompok usia dan produktivitas kerja. Masyarakat yang tergolong belum produktif adalah mereka berada pada kelompok usia 0-17 Tahun yang berjumlah 682 jiwa di Dusun Dolok dan 354 jiwa di Dusun Lombang dengan jumlah 1.036 jiwa, sementara itu penduduk yang tergolong produktif adalah mereka yang berusia 18-56 Tahun yang berjumlah 582 jiwa di Dusun Dolok dan 418 jiwa di Dusun Lombang dengan jumlah 1.000 jiwa, sedangkan yang tidak produktif adalah mereka yang berusia 56 Keatas yang berjumlah 56 jiwa di Dusun Dolok dan 42 jiwa di Dusun Lombang dengan jumlah 98 jiwa di Desa Parbangunan

4.1.3.3 Keadaan Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pada tabel 4.5 di bawah ini menunjukkan jumlah penduduk Desa Parbangunan berdasarkan tingkat pendidikan terakhir yang di ikuti:

Tabel 4.5

Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Parbangunan

NO TINGKAT PENDIDIKAN ORANG/JIWA

1 TAMAN KANAK-KANAK -

2 SEKOLAH DASAR/SEDERAJAT 228

3 SMP/SEDERAJAT 161

4 SMA/SEDERAJAT 192

5 AKADEMI/D1-D3 25

6 SARJANA S-1 102

7 SARJANA S-2 5

8 SARJANA S-3 1

JUMLAH 714

Sumber Data : Kantor Kepala Desa Parbangunan, 2018

Dilihat dari tabel tersebut di atas, bahwa sebagian besar masyarakat Desa Parbangunan kebanyakan hanya mengenyam pendidikan pada tingkatan SD sebesar 228 jiwa dan SMA sebesar 192 jiwa. Bahkan, hanya 1 jiwa yang sampe ke tingkat S-3. Dengan demikian tingkat pendidikan masyarakata Desa Parbangunan masih sangat rendah, dengan perbaikan keadaan ekonomi ini nantinya baik dari sektor pariwisata ini generasi selanjutnya dapat mengenyam pendidikan tertinggi agar memiliki ilmu yang luas untuk memajukan keluarganya dan daerahnya.

4.1.4 Perencanaan Pengembangan Obyek Wisata Taman Raja Batu

Ada beberapa prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan perumusan perencanaan pengembangan pariwisata yaitu:

1. Perencanaan pengembangan pariwisata haruslah merupakan suatu kesatuan dengan pembangunan regional atau nasional dari pembangunan perekonomian, sosial dan budaya.

2. Perencanaan pengembangan pariwisata haruslah dilakukan secara terpadu dengan sektor-sektor lainnya yang berkaitan dengan bidang pariwisata.

3. Perencanaan pengembangan pariwisata daerah haruslah dibawah koordinasi perencanaan fisik daerah sacara keseluruhan.

4. Perencanaan fisik pengembangan pariwisata harus didasarkan suatu studi atau penelitian dan memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan alam dan budaya disekitar wilayah pengembangan.

5. Perencanaan fisik pengembangan pariwisata tidak hanya dilihat dari segi administrasi, tetapi harus sesuai dengan lingkungan alam sekitar dengan memperhatikan faktor geografis yang lebih luas.

6. Perencanaan pengembangan pariwisata tidak hanya memperhatikan masalah dari segi ekonomi saja, tetapi juga harus memperhatikan masalah dari segi sosial dan budaya yang ditimbulkannya.

7. Perencanaan pengembangan pariwisata salah satu tujuannya adalah untuk memberikan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu perencanaan pengembangan pariwisata harus memperhatikan peningkatan kerjasama dengan negara-negara lain yang saling menguntungkan khususnya dibidang pariwisata.

Selain itu dalam menarik para wisatawan dan menimbulkan dampak yang besar bagi kehidupan masyarakat lokal tidak hanya berfokus pada satu tempat saja, tetapi juga perlu mengembangkan beberapa lokasi wisata yang lain agar

Gambar 4.7 Gambar 4.8 Situs Bagas Godang Panyabungan Pesantren Purba Baru

Gambar 4.9 Gambar 4.10

Candi Simangambat Wisata Aek Milas

Gambar 4.11 Gambar 4.12

Wisata Alam Sopotinjak Pantai Natal, Natal

Gambar 4.13 Gambar 4.14

Masjid Agung Nur Alannur Air Terjun Sigala-Gala

Dari beberapa tempat wisata diatas merupakan salah satu dari sekian banyak tempat wisata di Mandailing Natal, dengan dukungan beberapa tempat wisata tersebut maka para wisatawan yang datang berkunjung tidak hanya mengunjungi satu tempat saja akan tetapi banyak tempat yang menjadi reverensi bagi para wisatawan lokal dan manca negara. Pengembangan pariwisata tidak akan pernah dirasakan jika hanya berfokus pada satu tempat saja. Penyelenggaraan kepariwisataan juga ditujukan untuk meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, memperluas, memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja, mendorong pembangunan daerah, memperkenalkan dan mendaya gunakan obyek dan daya tarik wisata di Indonesia serta memupuk rasa cinta tanah air dan mempererat persahabatan antar bangsa. Perkembangan pariwisata juga mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kegiatan pariwisata menciptakan permintaan, baik konsumsi maupun investasi yang pada gilirannya akan menimbulkan kegiatan produksi barang dan jasa.

Sehubungan dengan pesatnya perkembangan pariwisata, pola pembangunan berkelanjutan tersebut sangat cocok diterapkan dalam pengembangan pariwisata ini bertujuan untuk melestarikan keberadaan pariwisata yang ada sekarang ini kepada generasi yang akan datang.

Pembangunan pariwisata difokuskan pada tiga aspek utama yaitu ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan.

4.1.4.1 Pendekatan Perencanaan Pengembangan Pariwisata

Ada 5 (lima) pendekatan perencanaan pengembangan pariwisata yang perlu diketahui dan diaplikasikan dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata, yaitu:

1. Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat Lokal 2. Pendekatan Berkelanjutan

3. Pendekatan Kesisteman 4. Pendekatan Kewilayahan

5. Pendekatan dari Sisi Penawaran (supply) dan permintaan (demand) Kelima pendekatan perencanaan tersebut harus benar-benar dijalankan jika ingin memajukan suatu pariwisata dalam suatu daerah.

4.1.5 Karakteristik Responden

Karakteristik responden merupakan latar belakang kehidupan yang dapat mempengaruhi cara berpikir, sikap serta keterampilan masyarakat dalam mengelola setiap usahanya. Masyarakat dalam menjalankan berbagai usaha tersebut dipengaruhi oleh umur, tingkat pendidikan dan jumlah tanggungan keluarga.

1. Umur

Umur seseorang sangat berpengaruh terhadap aktivitasnya yang dijalankan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada umumnya responden yang berumur lebih mudah memiliki kemampuan fisik yang lebih kuat dibandingkan responden yang berumur sudah tua. Adapun kisaran umur responden dalam penelitian ini adalah 30 - 50 tahun, untuk lebih jelasnya disajikan pada Tabel 4.6 berikut :

Tabel 4.6

Keadaan umur Responden di Taman Raja Batu

KELOMPOK UMUR JUMLAH RESPONDEN PERSENTASE

30-39 8 53,33% disimpulkan bahwa responden masih dalam usia produktif dan masih memiliki peluang besar dalam berpartisipasi untuk pengembangan Taman Raja Batu ini.

2. Tingkat Pendidikan Responden

Pada umumnya pendidikan dapat dipengaruhi cara berpikir sekaligus menambah keterampilan khususnya dalam mengelola setiap usahanya. Sesuai dengan hasil penelitian disimpulkan bahwa mayoritas responden yang diteliti memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Untuk lebih jelasnya mengenai tingkat pendidikan responden disajikan pada Tabel berikut :

Tabel 4.7

Tingkat Pendidikan Responden di Taman Raja Batu TINGKAT

Data pada tabel diatas menunjukkan bahwa dari 15 responden yang disajikan sebagian besar mempunyai tingkat pendidikan tamat SMA yaitu 5 Responden atau 33,33 persen, selanjutnya di ikuti tammatan SMP dan SD sebanyak 8 Responden atau 50,34 persen dan hanya 2 responden atau 13,33 persen yang Sarjana. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kondisi sosial Responden tergolong rendah bila di ukur dari tingkat pendidikan.

4.2 Kondisi/ Gambaran Umum Taman Raja Batu

Taman Raja Batu MADINA terletak di Kecamatan Panyabungan tepatnya di Desa Parbangunan Aek Godang. Desa Parbangunan adalah nama suatu wilayah yang berada di Kecamatan Panyabungan dimana menurut beberapa tokoh masyarakat Desa Parbangunan dahulunya bernama Desa Ujung Padang yang terletak di sebelah Kota Panyabungan. Desa Parbangunan memiliki luas wilayah sebesar 1.011 Ha dimana 65% wilayah berupa Daratan yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian/perkebunan dan 35% daratan dimanfaatkan sebagai permukiman penduduk, yang mana Desa Parbangunan berbatasan dengan Desa dan Kelurahan di Kecamatan Panyabungan, dengan titik koordinat long.

0'48'13.0”N Lat. 99'34'13.3”E. Iklim di Desa Parbangunan sebagaimana desa/wilayah lain di Indonesia mempunyai iklim kemarau dan penghujan, hal tersebut berpengaruh langsung terhadap pola tanam pada lahan perkebunan dan pertanian masyarakat di Desa Parbangunan.

Jarak antara Taman Raja Batu hanya 6 Km dari pusat kota dan tidak terlalu jauh untuk di tempuh oleh para wisatawan, para wisatawan yang tidak memiliki kendaraan pribadi juga bisa sampe kelokasi ini dengan menaiki angkot atau becak yang mudah dijumpai di sepanjang jalan Kota Panyabungan, dengan

kisaran ongkos yang terjangkau antara Rp.5.000/orang untuk naik angkot sekali jalan dan Rp. 15.000 untuk becak sekali jalan tergantung titik penjemputan.

Bagi para wisatawan luar kota atau mancanegara juga bisa sampe ke lokasi ini dengan menaiki Pesawat Terbang, karna di Kota Panyabungan sendiri sudah memiliki Bandara Udara sendiri yang terletak di Bukit Malintang. Jadi para wisatawan tidak perlu khawatir lagi untuk naik berapa kali transportasi untuk sampai ke lokasi ini.

Di Taman Raja Batu sendiri ada beberapa fasilitas yang disediakan anatara lain Mushollah untuk tempat beribadah untuk ummat Muslim yang berkunjung kesana, kamar mandi, warung atau kedai kopi, bahkan rumah makan juga ada di sekitar lokasi Taman Raja Batu sendiri. Jadi, para wisatawan juga tidak perlu khawtir jika berkunjung kesana. Selain itu, bagi para wisatawan luar yang ingin bermalam di Kota Panyabugan juga tidak perlu repot untuk tidur dimana, karna tidak jauh dari lokasi Taman Raja Batu sendiri ada Hotel yang disediakan yang tidak jauh dari lokasi tersebut.

4.3 Potensi Taman Raja Batu

Taman Raja Batu merupakan pariwisata terbaru di Kecamatan Panyabungan yang menyajikan pemandangan yang indah untuk bersantai dan spot baru untuk anak milineal untuk foto Instagramnya yang memiliki hamparan baru yamg indah dan di susun secara rapi. Taman Raja Batu ini salah satu rujukan bagi masyarakat Panyabungan dan Mandailing Natal atau wisatawan yang ingin melepas kepenatan dan menikmati kesegaran alam Panyabungan.

Taman Raja Batu ini berlokasi di Jalan Lintas Sumatera dimana bagi orang yang ingin masuk ke Sumatera Barat atau sebaliknya pasti melewati Taman

Raja Batu ini. Dengan lokasi yang sangat bagus ini dapat menjadi daya tarik bagi para pengunjung yang melewati lokasi ini untuk bersantai sejenak dari lelahnya perjalanan yang di tempuh.

Potensi Taman Raja Batu ini sangat besar kedepannya jika pengelolaannya terus dilakukan karna akan menjadi daya tarik tambah bagi para wisatawan untuk berkunjung lagi ke lokasi tersebut. Tempat yang indah dan juga asri dengan sungai yang ada di lokasi juga menambah daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Dengan penambahan fasilitas seperti kreta gantung yang dibuat di atas Taman Raja Batu, Taman bermain pasir untuk anak-anak dan juga wahana air akan menjadi tambahan untuk daya tarik wisatawan berkunjung ke lokasi ini.

Wisatawan juga tidak perlu khawatir jika berkunjung ke kota Panyabungan, karena bukan hanya Taman Raja Batu sendiri yang menjadi spot pariwisata di daerah ini , melainkan ada banyak spot pariwisata lainnya, seperti air terjun, Bagas Godang (Rumah Adat Panyabungan), Pesantren Purba Baru dan masih banyak lainnya. Inti dari sebuah perjalanan pariwisata adalah ada banyak tempat yang dikunjungi jika berkunjung kesuatu lokasi wisata atau yang sering di sebut dengan Pariwisata Estafet (bergilir) agar pengujung tidak bosan di satu tempat saja.

4.4 Kondisi Perekonomian Responden di Sekitar Taman Raja Batu Sebelum Adanya Pengembangan Taman Raja Batu

4.4.1 Aktivitas Ekonomi Responden

Sumber kehidupan masyarakat di sekitar Taman Raja Batu sebelum pengembangan Taman Raja Batu pada umunya adalah kerja srabutan seperti jualan kerupuk di pasar, buruh tani, penjahit, pengerajin dan lain-lain. Untuk

mengetahui jenis aktivitas ekonomi responden di sekitar Taman Raja Batu sebelum adanya pengembangan Taman Raja Batu, penulis sajikan pada tabel berikut ini:

Tabel 4.8

Aktivitas Ekonomi Responden di Sekitar Taman Raja Batu Sebelum Adanya Pengembangan Taman Raja Batu

NO AKTIVITAS EKONOMI RESPONDEN PERSENTASE(%)

1 Penjual Kerupuk 2 13,33

2 Buruh Tani 4 26,67

3 Penjahit 2 13,33

4 Petani 3 20

5 Tukang 4 26,67

JUMLAH 15 100

Sumber : Data Primer (diolah)

Pada Tabel 4.8 menunjukkan bahwa sebagian besar responden bergerak di Buruh Tani sebanyak 4 responden atau 26,67 persen dan Tukang sebanyak 4 responden juga atau 26,67 persen, menyusul responden yang memiliki aktivitas ekonomi sebagai Petani sebanyak 3 responden atau 20 persen dan selanjutnya yang memiliki aktivitas ekonomi sebagai penjual kerupuk dan penjahit sebanyak 2 responden atau 13,33 persen.Jadi dapat disimpulkan bahwa kehidupan perekonomian responden dilihat dari aktivitas ekonominya masih relatif kurang baik, karena responden tersebut kerjanya hanya serabutan atau musiman.

4.4.2 Penpatan Responden

Pendapatan merupakan nilai bersih penerimaan yang diperoleh responden dari hasil usaha yang dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum adanya pengembangan Taman Raja Batu, pendapatan yang diperoleh responden masih tergolong rendah, untuk lebih jelasnya ditampilkan pada tabel berikut :

Tabel 4.9

Rata-Rata Pendapatan Responden di Sekitar Taman Raja Batu Sebelum Adanya Pengembangan Taman Raja Batu

No PENDAPATAN(Rp/Bulan) Responden Persentase (%)

1 500.000-700.000 3 20

2 710.000-800.000 6 40

3 810.000-1.000.000 2 13,33

4 >1.000.000 4 26,67

JUMLAH 15 100

Sumber : Data Primer (diolah)

Tabel 4.9 menunjukkan bahwa sebagian besar responden masih tergolong pendapatan rendah yaitu sejumlah 6 responden atau 40 persen, berpendapatan sebesar Rp. 710.000 - Rp. 800.000/ bulan. Sedangkan responden yang mempunyai pendapatan Rp. > 1.000.000/ bulan sebanyak 4 responden atau 26,67 persen.

Bila dilihat data-data di atas kondisi perekonmian responden pada umunya masih tergolong menengah kebawa, karena pekerjaan yang dilakukan

4.5 Kondisi Perekonomian Responden di Sekitar Taman Raja Batu Sesudah Adanya Pengembangan Taman Raja Batu

4.5.1 Aktivitas Ekonomi Responden

Adanya kegiatan kepariwisataan sudah dapat dipastikan akan membuka lapangan kerja dan lapangan usaha, baik langsung maupun tidak langsung.

Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Taman Raja Batu ini dapat memperbaiki keadaan perekonomian masyarakat, dimana pada saat sebelum pengembangan Taman Raja Batu masyarakat banyak yang bekerja tidak tetap dan hanya musiman, meskipun dalam pengembangan Taman Raja Batu ini belum semua masyarakat dapat merasakan dampak yang begitu besar di karenakan dalam pengembangannya belum maksimal, namun hanya beberapa masyarakat saja yang masih merasakannya karena melihat peluang yang ada.

Berdasarkan hasil wawancara dengan warga setempat mereka bekerja sebagai pedagang yang semuanya itu untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan. Adanya sumber mata pencaharian itu tentu akan membuat mereka betah tinggal di kampung halaman serta dengan meningkatnya kunjungan wisatawan dapat merubah keadaan perekonomian responden ke arah yang lebih baik dibanding sebelum adanya pengembangan obyek wisata. Untuk lebih jelasnya aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.10

Jenis Aktivitas Ekonomi Responden di Sekitar Taman Raja Batu Sesudah Adanya Pengembangan Taman Raja Batu

No Aktivitas Ekonomi Jumlah Responden Persentase (%)

1 Pedagang Snack dan minuman 4 26,67

2 Kantin 1 6,67

3 Rumah Makan 5 33,33

4 Es – Kelapa 5 33,33

JUMLAH 15 100

Sumber : Data Primer (diolah)

Pada Tabel 4.8 menunjukkan bahwa jenis aktivitas ekonomi sesudah adanya pengembangan Taman Raja Batu ini, jenis aktivitas tambahan responden yaitu membuka rumah makan dan es kelapa total sebanyak 10 respoonden atau 33,33 persen, selanjutnya pedagang snack dan minuman sebanyak 4 responden atau 26,67 persen, kemudian kantin yang berada di lokasi Taman Raja Batu sebanyak 1 responden atau 6,67% persen. Hal ini menunjukkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik lagi dimana yang tadinya aktivitas ekonomi respondennya belum tetap akan tetapi dengan adanya Taman Raja Batu ini para responden mendapat pekerjaan dalam bidang pengembangan pariwisata ini meski tidak semua penduduk merasakannya.

4.5.2 Penpatan Responden

Pendapatan merupakan nilai bersih penerimaan yang diperoleh responden

pendapatan responden umumnya di atas rata-rata dan mengalami peningkatan sesudah adanya pengembangan pariwisata, untuk lebih jelasnya ditampilkan pada tabel berikut :

pendapatan responden umumnya di atas rata-rata dan mengalami peningkatan sesudah adanya pengembangan pariwisata, untuk lebih jelasnya ditampilkan pada tabel berikut :

Dokumen terkait