• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Taman Raja Batu

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3 Potensi Taman Raja Batu

Taman Raja Batu merupakan pariwisata terbaru di Kecamatan Panyabungan yang menyajikan pemandangan yang indah untuk bersantai dan spot baru untuk anak milineal untuk foto Instagramnya yang memiliki hamparan baru yamg indah dan di susun secara rapi. Taman Raja Batu ini salah satu rujukan bagi masyarakat Panyabungan dan Mandailing Natal atau wisatawan yang ingin melepas kepenatan dan menikmati kesegaran alam Panyabungan.

Taman Raja Batu ini berlokasi di Jalan Lintas Sumatera dimana bagi orang yang ingin masuk ke Sumatera Barat atau sebaliknya pasti melewati Taman

Raja Batu ini. Dengan lokasi yang sangat bagus ini dapat menjadi daya tarik bagi para pengunjung yang melewati lokasi ini untuk bersantai sejenak dari lelahnya perjalanan yang di tempuh.

Potensi Taman Raja Batu ini sangat besar kedepannya jika pengelolaannya terus dilakukan karna akan menjadi daya tarik tambah bagi para wisatawan untuk berkunjung lagi ke lokasi tersebut. Tempat yang indah dan juga asri dengan sungai yang ada di lokasi juga menambah daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Dengan penambahan fasilitas seperti kreta gantung yang dibuat di atas Taman Raja Batu, Taman bermain pasir untuk anak-anak dan juga wahana air akan menjadi tambahan untuk daya tarik wisatawan berkunjung ke lokasi ini.

Wisatawan juga tidak perlu khawatir jika berkunjung ke kota Panyabungan, karena bukan hanya Taman Raja Batu sendiri yang menjadi spot pariwisata di daerah ini , melainkan ada banyak spot pariwisata lainnya, seperti air terjun, Bagas Godang (Rumah Adat Panyabungan), Pesantren Purba Baru dan masih banyak lainnya. Inti dari sebuah perjalanan pariwisata adalah ada banyak tempat yang dikunjungi jika berkunjung kesuatu lokasi wisata atau yang sering di sebut dengan Pariwisata Estafet (bergilir) agar pengujung tidak bosan di satu tempat saja.

4.4 Kondisi Perekonomian Responden di Sekitar Taman Raja Batu Sebelum Adanya Pengembangan Taman Raja Batu

4.4.1 Aktivitas Ekonomi Responden

Sumber kehidupan masyarakat di sekitar Taman Raja Batu sebelum pengembangan Taman Raja Batu pada umunya adalah kerja srabutan seperti jualan kerupuk di pasar, buruh tani, penjahit, pengerajin dan lain-lain. Untuk

mengetahui jenis aktivitas ekonomi responden di sekitar Taman Raja Batu sebelum adanya pengembangan Taman Raja Batu, penulis sajikan pada tabel berikut ini:

Tabel 4.8

Aktivitas Ekonomi Responden di Sekitar Taman Raja Batu Sebelum Adanya Pengembangan Taman Raja Batu

NO AKTIVITAS EKONOMI RESPONDEN PERSENTASE(%)

1 Penjual Kerupuk 2 13,33

2 Buruh Tani 4 26,67

3 Penjahit 2 13,33

4 Petani 3 20

5 Tukang 4 26,67

JUMLAH 15 100

Sumber : Data Primer (diolah)

Pada Tabel 4.8 menunjukkan bahwa sebagian besar responden bergerak di Buruh Tani sebanyak 4 responden atau 26,67 persen dan Tukang sebanyak 4 responden juga atau 26,67 persen, menyusul responden yang memiliki aktivitas ekonomi sebagai Petani sebanyak 3 responden atau 20 persen dan selanjutnya yang memiliki aktivitas ekonomi sebagai penjual kerupuk dan penjahit sebanyak 2 responden atau 13,33 persen.Jadi dapat disimpulkan bahwa kehidupan perekonomian responden dilihat dari aktivitas ekonominya masih relatif kurang baik, karena responden tersebut kerjanya hanya serabutan atau musiman.

4.4.2 Penpatan Responden

Pendapatan merupakan nilai bersih penerimaan yang diperoleh responden dari hasil usaha yang dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum adanya pengembangan Taman Raja Batu, pendapatan yang diperoleh responden masih tergolong rendah, untuk lebih jelasnya ditampilkan pada tabel berikut :

Tabel 4.9

Rata-Rata Pendapatan Responden di Sekitar Taman Raja Batu Sebelum Adanya Pengembangan Taman Raja Batu

No PENDAPATAN(Rp/Bulan) Responden Persentase (%)

1 500.000-700.000 3 20

2 710.000-800.000 6 40

3 810.000-1.000.000 2 13,33

4 >1.000.000 4 26,67

JUMLAH 15 100

Sumber : Data Primer (diolah)

Tabel 4.9 menunjukkan bahwa sebagian besar responden masih tergolong pendapatan rendah yaitu sejumlah 6 responden atau 40 persen, berpendapatan sebesar Rp. 710.000 - Rp. 800.000/ bulan. Sedangkan responden yang mempunyai pendapatan Rp. > 1.000.000/ bulan sebanyak 4 responden atau 26,67 persen.

Bila dilihat data-data di atas kondisi perekonmian responden pada umunya masih tergolong menengah kebawa, karena pekerjaan yang dilakukan

4.5 Kondisi Perekonomian Responden di Sekitar Taman Raja Batu Sesudah Adanya Pengembangan Taman Raja Batu

4.5.1 Aktivitas Ekonomi Responden

Adanya kegiatan kepariwisataan sudah dapat dipastikan akan membuka lapangan kerja dan lapangan usaha, baik langsung maupun tidak langsung.

Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Taman Raja Batu ini dapat memperbaiki keadaan perekonomian masyarakat, dimana pada saat sebelum pengembangan Taman Raja Batu masyarakat banyak yang bekerja tidak tetap dan hanya musiman, meskipun dalam pengembangan Taman Raja Batu ini belum semua masyarakat dapat merasakan dampak yang begitu besar di karenakan dalam pengembangannya belum maksimal, namun hanya beberapa masyarakat saja yang masih merasakannya karena melihat peluang yang ada.

Berdasarkan hasil wawancara dengan warga setempat mereka bekerja sebagai pedagang yang semuanya itu untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan. Adanya sumber mata pencaharian itu tentu akan membuat mereka betah tinggal di kampung halaman serta dengan meningkatnya kunjungan wisatawan dapat merubah keadaan perekonomian responden ke arah yang lebih baik dibanding sebelum adanya pengembangan obyek wisata. Untuk lebih jelasnya aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.10

Jenis Aktivitas Ekonomi Responden di Sekitar Taman Raja Batu Sesudah Adanya Pengembangan Taman Raja Batu

No Aktivitas Ekonomi Jumlah Responden Persentase (%)

1 Pedagang Snack dan minuman 4 26,67

2 Kantin 1 6,67

3 Rumah Makan 5 33,33

4 Es – Kelapa 5 33,33

JUMLAH 15 100

Sumber : Data Primer (diolah)

Pada Tabel 4.8 menunjukkan bahwa jenis aktivitas ekonomi sesudah adanya pengembangan Taman Raja Batu ini, jenis aktivitas tambahan responden yaitu membuka rumah makan dan es kelapa total sebanyak 10 respoonden atau 33,33 persen, selanjutnya pedagang snack dan minuman sebanyak 4 responden atau 26,67 persen, kemudian kantin yang berada di lokasi Taman Raja Batu sebanyak 1 responden atau 6,67% persen. Hal ini menunjukkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik lagi dimana yang tadinya aktivitas ekonomi respondennya belum tetap akan tetapi dengan adanya Taman Raja Batu ini para responden mendapat pekerjaan dalam bidang pengembangan pariwisata ini meski tidak semua penduduk merasakannya.

4.5.2 Penpatan Responden

Pendapatan merupakan nilai bersih penerimaan yang diperoleh responden

pendapatan responden umumnya di atas rata-rata dan mengalami peningkatan sesudah adanya pengembangan pariwisata, untuk lebih jelasnya ditampilkan pada tabel berikut :

Tabel 4.11

Rata-Rata Pendapatan Responden di Sekitar Taman Raja Batu Sesudah Adanya Pengembangan Taman Raja Batu

No PENDAPATAN(Rp/Bulan) Responden Persentase (%)

1 400.000-700.000 - -

2 710.000-800.000 - -

3 810.000-1.000.000 6 40

4 >1.000.000 9 60

JUMLAH 15 100

Sumber : Data Primer (diolah)

Tabel 4.11 menunjukan bahwa rata-rata pendapatan responden sesudah adanya pengembangan obyek wisata pantai meningkat yakni, sebanyak 9 responden atau 60 persen memiliki pendapatan diatas Rp. > 1000.000,-/bulan, sedangkan responden yang berpendapatan Rp. 850.000,-/bulan – Rp 1.000.000, -/bulan sebanyak 6 responden atau 40 persen.

Pendapatan responden yang semakin meningkat tersebut maka pemenuhan kebutuhan responden (masyarakat) atau keluarganya semakin terpenuhi baik kebutuhan primer maupun sekunder, sehingga kesejahteraan masyarakat atau keluarga diasumsikan akan semakin baik dari sebelum adanya pengembangan Taman Raja Batu.

4.6 Dampak Pengembangan Taman Raja Batu Terhadap Perekonomian Masyarakat

Adanya pengembangan Taman Raja Batu maka dampaknya bisa dilihat dari aktivitas perekonomian masyarakat yang menunjukkan suatu perubahan kearah yang lebih baik, dimana sebelum pengembangan Taman Raja Batu aktivitas responden sebagian besar adalah petani, buruh tani, penjahit, dan tukang. Namun dengan adanya pengembangan Taman Raja Batu responden mengalami transformasi struktur mata pencaharian yaitu terjadinya perubahan mata pencaharian individu masyarakat sekitar dari pekerjaan yang pendapatannya kurang sampai pada akhirnya mempunyai usaha sendiri, adanya transformasi norma yaitu perubahan positif dari perilaku masyarakat yang menyimpang menjadi suasana aman terkendali. Membantu permasalahan kemiskinan yang terjadi dengan terbukanya peluang usaha disekitar lokasi wisata sehingga permasalahan ekonomi tersebut dapat berangsur secara perlahan, dari yang dulunya masyarakat hanya berpenghasilan pas-pasan namun dengan adanya peluang ini dapat membantu mengatasi masalah tersebut dengan cara membuka usaha disekitar lokasi wisata seperti membuka jasa tempel ban, ojek, pemandu wisata, rumah makan, es-kelapa, dan juga jasa penginapan bagi para wisatawan luar kota. Selain itu dapat juga mengurangi angka pengangguran yang terus meledak dari tahun ketahun, penyebab utama pengangguran di negeri ini bukan karna kualitas orangnya, akan tetapi sempitnya lapangan pekerjaan yang di dapat. Pengembangan Taman Raja Batu ini menjadi salah satu solusi yang diciptakan agar angka pengangguran tersebut dapat berkurang karena dengan terbuka luasnya lapangan pekerjaan. Dalam

mendapatkan kualitas pelayanan yang bagus dan baik untuk para wisatawan pemerintah juga harus mampu bekerja sama dengan membuka pelatihan siap kerja kepada masyarakat agar para wisatawan yang datang merasa puas dan memiliki niat untuk datang berkunjung kembali.

4.7 Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian Dampak Pengembangan Taman Raja Batu MADINA Terhadap Kehidupan Masyarakat Sekitar Lokasi Wisata memiiki dampak yang sangat bessar baik untuk pemerintah, khususnya masyarakat yang berada di sekitar lokasi wisata tersebut. Secara teoritis maka dapat dilihat bahwa manfaat dan dampak pembangunan pariwisata yang ditinjau setidaknya dari empat sudut pandang yang meliputi manfaat ekonomi, manfaat sosial budaya, manfaat dalam berbangsa dan bernegara, serta manfaat bagi lingkungan (Sedarmayanti, 2005:6-7).

Menurutnya dari segi ekonomi (kesejahteraan) antara lain dapat dilihat dalam penerimaan devisa, kesempatan berusaha, terbukanya lapangan kerja, meningkatnya pendapatan masyarakat dan pemerintah, serta mendorong pembangunan daerah. Dari segi sosial budaya manfaat yang didapat adalah pelestarian adat istiadat, meningkatkan kecerdasan masyarakat, meningkatkan kesehatan dan kesegaran jasmani ataupun rohani, dan mengurangi konflik sosial.

Manfaat dalam berbangsa dan bernegara antara lain mempererat persatuan dan kesatuan, menumbuhkan rasa memiliki, keinginan untuk memelihara dan mempertahankan negara yang berujung pada rasa cinta pada tanah air, serta memelihara hubungan baik internasional dalam hal pengembangan pariwisata.

Sedangkan manfaat bagi lingkungan dimana wisatawan biasanya mencari kondisi

dan tempat yang tenang, bersih dan nyaman maka pengembangan pariwisata juga dapat menjadi salah satu cara dalam melestarikan lingkungan.

Sementara itu menurut Yoeti (2008, 77-78) terdapat tiga alasan mengapa dikembangkannya pariwisata pada suatu daerah baik secara lokal, regional maupun internasional. Pertama, yang disebutnya sebagai alasan utama sangat erat kaitannya dengan pembangunan perekonomian daerah atau negara tersebut. Alasan kedua menurutnya ialah, pengembangan pariwisata lebih banyak bersifat non ekonomis, seperti memelihara adat istiadat, bangunan-bangunan kuno, kesenian daerah serta membuat suasana yang nyaman, bersih dan aman.

Terakhir atau yang ketiga, adalah untuk menghilangkan kepicikan berfikir, dan mengurangi salah pengertian.

Perkembangan pariwisata juga mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kegiatan pariwisata menciptakan permintaan, baik konsumsi maupun investasi yang pada gilirannya akan menimbulkan kegiatan produksi barang dan jasa. Selama berwisata, wisatawan akan melakukan belanja, sehingga secara langsung menimbulkan permintaan (Tourism Final Demand) pasar barang dan jasa. Dalam usaha memenuhi permintaan wisatawan diperlukan investasi di bidang transportasi dan komunikasi, perhotelan dan akomodasi lain, industri kerajinan dan industri produk konsumen, industri jasa, rumah makan restoran dan lain-lain.

Sehubungan dengan pesatnya perkembangan pariwisata, pola pembangunan berkelanjutan tersebut sangat cocok diterapkan dalam pengembangan pariwisata ini bertujuan untuk melestarikan keberadaan pariwisata yang ada sekarang ini kepada generasi yang akan datang. Pembangunan

pariwisata difokuskan pada tiga aspek utama yaitu ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan.

Gambar 4.15

Dampak Pengembangan Pariwisata

Sumber: Diolah oleh Penuli, 2019

Menurut penulis dampak pengembangan pariwisata dapat dirasakan apabila ada rancangan matang yang dibuat sebelum melakukan pengembangan pariwisata agara tidak menimbulkan dampak yang tidak diinginkan dikemudian hari nanti. Tujuan dibuatnya rancangan perencanaan yang matang adalah agar proses pengembangan pariwisata terstruktur dan terarah agar dapat hasil yang memuaskan sesuai dengan apa yang diharapkan. Menurut penulis Sektor

Dampak Pengembangan Pariwisata

Perencanaan Pengembangan

Pengembangan Pariwisata

Peningkatan

Kemampuan Masyarakat Dampak dari

Pengembangan Pariwisata dibidang Ekonomi dan Sosial

Budaya

pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah. Usaha memperbesar pendapatan asli daerah, maka program pengembangan dan pendayagunaan sumber daya dan potensi pariwisata daerah diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan ekonomi. Secara luas pariwisata dipandang sebagai kegiatan yang mempunyai multidimensi dari rangkaian suatu proses pembangunan.

Pengembangan Pariwisata harus lebih diarahkan dan dipergunakan dalam upaya pengembangan kawasan wisata ramah lingkungan. Pengembangan Pariwisata juga perlu mengetengahkan faktor kewaspadaan terhadap dampak lingkungan menjadi sangat penting, terutama dari kunjungan wisatawan yang tidak terkendali guna memelihara keberlanjutan kualitas lingkungan hidup khususnya dalam menjamin pembangunan dalam bidang ekonomi yang berkelanjutan. Pengembangan pariwisata mempunyai pengaruh dan hubungan yang positif dengan pengembangan sektor lainnya, terutama terhadap sektor industri kecil dan kerajinan rumah tangga, stabilitas lingkungan hidup. Dampak yang ditimbulkan sebagai akibat adanya aktivitas ekonomi sangat berpengaruh terhadap masyarakat Mandailing Natal khususnya Desa Parbangunan.

Perubahan yang terjadi karena aktivitas pariwisata sangat berpengaruh pula pada struktur dan ekonomi daerah. Kesempatan kerja, pendapatan perkapita maupun distribusinya akan memberikan peluang kepada peningkatan produksi maupun kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Adanya perubahan kondisi ekonomi masyarakat mendorong komponen-komponen ekonomi untuk merubah lingkungannya sesuai dengan kemampuan daya dukung lingkungan, baik dalam

ditimbulkan akibat adanya pengembangan pariwisata adalah adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat sekitar obyek wisata, hal ini merupakan konsekuensi dari dampak yang ditimbulkan pariwisata. Secara konseptual perubahan-perubahan yang terjadi ini diakibatkan karena proses akulturasi antara kebudayaan masyarakat sekitar obyek wisata dengan kebudayaan luar yang dibawa para wisatawan yang berkunjung.

Untuk menimbulkan kesan yang mendalam terhadap suatu objek wisata agar pengunjung berminat dan mau kembali lagi pada suatu waktu, sangat dibutuhkan suatu kenangan atau cenderamata yang dapat berbentuk produk produk asli daerah tersebut seperti produk herbal (ramuan pengobatan asli daerah), makanan dan minuman khas daerah, kerajinan (hand craf) dan hasil bumi yang dapat dijual belikan.

Untuk meningkatkan minat pengunjung ke suatu objek wisata perlu didukung teknologi seperti ketersediaan informasi yang valid yang dapat diperoleh dari biro-biro perjalanan dan mudah memperoleh informasi jika suatu waktu ingin berkunjung ke objek wisata. Karena dengan terpenuhinya kepuasan wisatawan akan fasilitas dan jasa yang ditawarkan Daerah Tempat Wisata(DTW) akan berdampak terhadap kunjungan wisatawan. Semakin sering wisatawan berkunjung ke daerah wisata maka akan semakin tinggi dampak yang dirasakan, seperti terbukanya lapangan usaha baru yang menciptakan kesempatan kerja serta mampu meningkatkan pendapatan bagi masyarakat. Dengan kata lain pengeluaran Wisatawan adalah pendapatan bagi para pelaku usaha.

Dari survei lapangan yang peneliti lakukan diketahui belum banyak para pelaku usaha yang menjadi penggerak perekonomian di Taman Raja Batu. Alasan yang peneliti temukan karena ada beberapa faktor diantaranya alasan pengelolaan lokasi yang belum maksimal sehingga wisatawan yang berkunjung belum terkontrol dan kurangnya respon masyarakat dalam mengembangkan Taman Raja Batu ini. Oleh sebab itu peneliti membuat sebuah kerangka konsep untuk memecahkan masalah tersebut sesuai dengan Gambar 4.15 diatas.

Di dalam mengembangkan suatu pariwisata harus dibuat rencana yang matang sehingga proses pengembangan pariwisata dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencana yang diharapkan. Seiring berjalannya pengembangan pariwisata pemerintah dan beberapa bidang usaha bekerja sama dalam meningkatkan kemampuan masyarakat khususnya yang ada disekitar lokasi wisata agar memiliki bekal yang cukup dalam berpartisipasi untuk meningkatkan pengunjung Taman Raja Batu. Sehingga dampak yang diharpkan pemerintah maupun masyarakat dapat dirasakan dan membantu memperbaiki perekonomian masyrakat sekitar. Dengan mengoptimalisasikan daerah wisata dapat mampu meningkatkan pendapatan daerah dan juga negara (Basyir, 2017). Dengan adanya pariwisata ini diharapkan mampu mendatangkan dampak yang positif khususnya di sektor pendapatan dan penyerapan tenaga kerja.

Oleh karena itu pariwisata perlu mendapat perhatian yang serius dari pembuat kebijakan dalam negeri dan perancang kesepakatan perdagangan internasional, mengingat pariwisata di masa mendatang merupakan penyumbang besar kesejahteraan ekonomi dunia.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai dampak pengembangan pariwisata Taman Raja Batu MADINA terhadap kehidupan masyarakat lokal di kawasan wisata, maka penulis akan mengambil kesimpulan pada dua dampak sesuai dengan maksud dan tujuan penulis melakukan penelitian ini, yaitu:

1. Dampak sosial.

Dampak sosial setelah adanya pengembangan pariwisata Taman Raja Batu yang pertama adalah bertambahnya jumlah kunjungan wisata yang datang hampir 1.000 orang/hari dan selama peneliti melakukan observasi pada kondisi dilapangan bahwa jarang sekali tempat ini sepi selalu saja ada para wisatawan baik lokal maupun luar daerah yang datang ketempat ini.

Langkah pemerintah juga saat ini sudah bagus karena menampilkan gordang sambilan di Taman Raja Batu dan membuat lukisan baju adat Panyabungan di lokasi wisata, langkah ini menjadi salah satu untuk memperkenalkan adat dan budaya Mandailing Natal. Selain itu dampak sosial yang terlihat adalah makin ramahnya penduduk setempat kepada para pengunjung.

2. Dampak Ekonomi.

Dari hasil penelitian, sebelum pengembangan wisata Taman Raja Batu, sebagian besar masyarakat bekerja sebagai buruh tani dan pedagang

aktivitas ekonomi meningkat. Masyarakat mendapat pekerjaan tambahan sebagai pedagang makanan dan miniuman serta penyedia jasa disekitar lokasi wisata. Pengembangan obyek wisata juga berdampak pada pendapatan masyarakat, dimana sebelum pengembangan obyek wisata pendapatan informan masih tergolong rendah , namun setelah adanya pengembangan obyek wisata Taman Raja Batu pendapatan informan mengalami peningkatan.

5.2 Saran

Berdasarkan penelitian dan kesimpulan diatas, maka penulis memberikan saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak baik pemerintah setempat maupun masyarakat, yakni sebagai berikut:

1. Khusus Pemerintah Mandailing Natal yaitu Dinas Pariwisata dan Dinas Terkait untuk mengoptimalkan pendidikan dalam pengembangan pariwisata, maka pemerintah harus membangun pendidikan kepariwisataan, pelatihan kepariwisataan, dan juga meningkatkan sarana dan prasarana serta fasilitas rekreasi dengan lebih baik lagi di obyek wisata Taman Raja Batu ini. Selain itu pemerintah juga harus mensosialisasikan dengan baik keuntungan dari pengembangan pariwisata ini agar masyarakat sekitar mau bekrja sama untuk mengambangkan pariwisata di daerah Mandailing Natal ini dengan cara memberikan pengetahuan dan membuka stand untuk masyrakat disekitar lokasi wisata agar masyarakat juga melihat keseriusan pemerintah dalam hal membantu perekonomian masyarakat ini dan pengembangan pariwisata di daerah

Mandailing Natal ini. Memang dalam hal pengembangan tidaklah instan mendapatkan hasil, akan tetapi jika pemerintah dan masyarakat serius dalam hal pengembangan wisata ini akan memberikan dampak yang besar nanti buat masyarakat dan daetah Mandailing Natal ini kelak.

2. Dan saran yang peneliti berikan untuk masyarakat adalah dengan fasilitas-fasilitas yang pemerintah bangun nantinya dalam mengembangkan obyek wisata Taman Raja Batu ini agar masyarakat dapat mempergunakan sebaik mungkin, menjaga dan merawat fasilitas yang diberikan serta dapat meningkatkan kegiatan usahanya dengan menyediakan berbagai fasilitas rekreasi dan dagangannya yang pada dan akhirnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga masyarakat dapat merasakan dampak pengembangan obyek wisata Taman Raja Batu MADINA. Dengan adanya peningkatan pada jumlah kunjungan wisatawan, sebaiknya juga menambah kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian alam dan kebersihan lingkungan sekitar, sehingga kawasan Taman Raja Batu ini tetap terjaga dan dapat dinikmati untuk jangka waktu yang lama hingga ke anak cucu sebagai warisan budaya dan kelestarian lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU:

Bungaran, Flores dan Rosramadhana. 2017. Sejarah Pariwisata: Menuju Perkembangan Pariwisata Indonesia. Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia Jakarta.

Emzir. 2012. Metode Penelitian Kualitatif Analisis Data. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Happy dan Herman. 2002. Pengantar Pariwisata. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Ida, Putu, dkk. 2003. Hukum Bisnis Pariwisata. Bandung: Penerbit PT Refika Aditama.

Pitana, I Gede dan Surya Diarta, I ketut. 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata.

Yogyakarta: Penerbit Andi.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Bisnis. CV. Alfabeta. Bandung Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

Wardiyanto dan Baiquni. 2011. Perencanaan dan Pegembangan Pariwisata.

Bandung: Penerbit CV. Lubuk Agung.

JURNAL dan Skripsi:

Akhmad, Djamhur, dan Topowijono. 2016. Dampak Pengembangan Pariwisata Teradap Kehidupan Masyarakat Lokal Di Kawasan Wisata (Studi Pada Masyarakat Sekitar Wisata Wendit, Kabupaten Malang): Fakultas Ilmu Admistrasi Universitas Brawijaya Malang. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 30 No.1 Januari 2016.

Andika, Fitri. 2017.Dampak Pengembangan Pariwisata Terhadap Kesempatan Kerja Dalam Prespektif Ekonomi Islam (Studi di Pantai Labuhan Jukung Kec. Pesisir Tengah, Kab. Pesisir Barat): Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Anisah dan Riswandi. 2015. Pantai Lampuuk Dan Dampaknya Terhadap Perekonomian Masyarakat. Jurnal Ekonomi Dan Kebijakan Publik. Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Aceh. Jurnal Ekonomi Dan Kebijakan Publik Volume 2 Nomor 2, November 2015 Damanik, Janianton. 2009. Isu-Isu Krusial Dalam Pengelolaan Desa Wisata

Dewasa Ini. Jurnal Kepariwisataan Indonesia. Universitas Gadjah Mada.

Lilian, Wildoms. 2013. Dampak Pariwisata Terhadap Pendapatan Dan Tingkat Kesejahteraan Pelaku Usaha Di Kawasan Wisata Pantai Natsepa, Pulau Ambon. Universitas Terbuka. Jurnal Organisasi dan Manajemen, Volume 9, Nomor 1, Maret 2013

Puspita, 2016. Dampak Pengembangan Industri Pariwisata Terhadap Kondisi Ekonomi Masyarakat Sekitar (Studi Di Pantai Embe Desa Merak Belantung Kalianda Lampung Selatan): Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Lampung Bandar Lampung

Rusdin, 2016. “Dampak Pengembangan Wisata Bahari Pantai Toronipa

Rusdin, 2016. “Dampak Pengembangan Wisata Bahari Pantai Toronipa

Dokumen terkait