• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Manfaat Penelitian

Setiap Penelitian dilakukan guna memperoleh manfaat yang berguna bagi seluruh pihak-pihak yang bersangkutan. Manfaat yang diharapkan oleh penulis dalam melakukan penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1. Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk penulis dalam melihat dampak yang didapat dari pengembangan pariwisata ini dan melihat peluang bisnis apa yang dapat dibuat dalam mendukung kemajuan sektor pariwisata dan kemajuan ekonomi masyarakat sekitar, serta menjadi bacaan bagi mahasiswa pada umumnya, khususunya bagi mahasiswa yang sedang mempelajari dampak

pengembangan pariwisata terhadap kehidupan masyarakat lokal di sekitar tempat wisata.

2. Bagi Pemerintah

Sebagai masukan pada pemerintah berupa pemikiran sebagai evaluasi dalam pengembangan pariwisata kedepannya dan mengetahui dampaknya bagi kehidupan masyarakat sekitar.

3. Bagi Program Studi Administrasi Bisnis

Penelitian ini dapat menjadi masukan bagi program studi dan memberikan informasi tambahan yang berguna bagi mahasiswa/i dalam melakukan penelitian dengan objek maupun masalah yang sama dan mengembangkan dimasa yang akan datang atau ingin mengadakan penelitian lebih lanjut.

BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Pengertian Pariwisata Sebagai Usaha Bisnis 2.1.1 Pengertian Pariwisata

Secara etimologis, pariwisata berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “pari”

berarti „banyak, berkali-kali, berputar-putar‟ dan “wisata” berarti „perjalanan atau berpergian‟. Berdasarkan arti kata ini, pariwisata didefinisikan sebagai perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar, dari satu tempat ke tempat lain dengan maksud dan tujuan tertentu. Sementar itu, seorang ahli turisme asing terkenal bernama G.A. Schmoll menyatakan bahwa “tourism is a highly decentralized industry consisting of enterprises different in size, location,function type organization, range of service provided and method used to market and sell them.” Schmoll menyatakan bahwa usaha turisme itu tergolong industri yang dibedakan atas tipe-tipe: besarnya, tempatnya yang tersebar, dan luas pelayanannya.

Sedangkan menurut Undang-Undang No.10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan pada Bab 1 Pasal 1 bahwa wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.

Pariwisata merupakan salah satu industri baru yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam menyediakan lapangan kerja, peningkatan

Pariwisata menurut Prof. Salah Wahab adalah suatu aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar yang mendapat pelayanan secara bergantian diantara orang-orang dalam suatu negara itu sendiri atau di luar negeri (meliputi pendiaman orang-orang dari daerah lain) untuk mencari kepuasan yang beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang dialaminya dimana ia memperoleh pekerjaan tetap. Koen Meyers (2009), pariwisata adalah aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh semntarawaktu dari tempat tinggal semula ke daerah tujuan dengan alasan bukan untuk menetap atau mencari nafkah melainkan hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu, menghabiskan waktu senggang atau libur serta tujuan-tujuan lainnya.

2.1.2 Sejarah Pariwisata

Sesungguhnya pariwisata telah dimulainya pada peradaban manusia itu sendiri, yang ditandai oleh adanya pergerakan manusia yang melakukan ziarah atau perjalanan agama lainnya. Namun demikian tonggak-tonggak sejarah dalam pariwisata sebagai fenomena modern dapat ditelusuri dari perjalanan Marcopolo (1254-1324) yang menjelajahi Eropa, sampai ke Tiongkok, untuk kemudian kembali ke Venesia, yang kemudian disusul perjalanan Pengeran Henry (1394-1460), Christoper Colombus (1451-1506), dan Vasco da Gama (akhir abad XV). Sedangkan sebagai kegiatan ekonomi, pariwisata baru berkembang pada awal abad ke-19 dan sebagai industri internasional, pariwisata dimulai tahun 1869.

Pada zaman prasejarah, manusia hidup berpindah-pindah (nomadism ) sehingga perjalanan yang jauh merupakan gaya dan cara untuk bertahan hidup.

Seiring perjalanan waktu orang dengan sengaja melakukannya karena aktivitas

tersebut menyenangkan. Di abad 11 sampai abad 15 dalam sejarah peradaban barat, terjadi model baru perjalanan manusia untuk melakukan ziarah ke tempat khusu untuk alasan religius.

Selanjutnya, pada abad 17 sampai abad 20 merupakan era perpindahan dan perjalanan manusia melintasi negara (internasioanal) dan benua (interkontinental). Beberapa orang yang telah mencapai tingkat kesejahteraan dan mempunyai waktu luang mulai melakukan perjalanan bukan untuk mencari tempat bermukim baru, tetapi untuk kesenangan dan untuk mengisi waktu luang, atau alasan budaya. Fenomena inilah yang menjadi poteret awal lahirnya pariwisata.

Istilah tour yang berarti “perjalanan” baru secara luas dikenal dan dipakai setelah abad ke-16. Sekitar tahun 1740-an di Inggris Raya dan di Eropa dikenal istilah Grand Tour yang berarti perjalanan yang cukup panjang tetapi bersifat menyenangkan untuk tujuan pendidikan dan tujuan lain yang bersifat budaya oleh orang muda dari kelas atas.

Tahun 1840-an Thomas Cook mulai memberangkatkan sekelompok orang (group) dalam paket modern atau tur inklusif. Mula-mula dalam wilayah England dan kemudian berkembang ke daratan Eropa. Tahun 1840-an merupakan awal dilakukannya perjalanan jauh dengan menggunakan sistem transportasi masal. Pada abad ke-20, khususnya periode tahun 1960 ke 1980, tampak adanya peningkatan pesat pada jumlah orang yang melakukan perjalanan wisata. Lebih dari 300 juta wisatawan internasional tercatat tiap tahunnya dibeberapa negara tujuan wisata.

Bagi Indonesia, jejak pariwisata dapat ditelusuri kembali ke daswarsa 1910-an, yang ditandai dengan dibentuknya VTV (Vereeneging Toeristen Vekeer), sebuah badan pariwisata Belanda, di Batavia. Badan pemerintah ini sekaligus juga bertindak sebagai tour operator dan travel agent, yang secara gencar mempromosikan Indonesia, khususnya Jawa dan Bali. Pada 1926 berubah menjadi Nitour (Nederlandsche indische Touriten Bureau), sebagai anak perusahaan pelayanan Belanda (KPM). KPM secara rutin melayani pelayanan yang menghubungkan Batavia, Surabaya, Bali, dan Makasar, dengan mengangkut wisatawan.

2.1.3 Dasar Hukum Pariwisata

Dasar hukum pariwisata diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan. Dalam Undang-Undang nomor 10 tahun 2009 dijelaskan tentang ketentuan umum tentang pariwisata, asas, fungsi, dan tujuan pariwisata, prinsip penyelenggaraan pariwisata, pembangunan kepariwisataan, kawasan strategis, usaha pariwisata, hak, kewajiban dan larangan, kewenangan pemerintah dan pemerintah daerah, koordinasi, Badan Promosi Pariwisata Indonesia, gabungan industri pariwisata Indonesia, pelatihan sumber daya manusia, standarisasi sertifikasi, dan tenaga kerja, pendanaan, sanksi administratif, ketentuan pidana, ketentuan peralihan, dan ketentuan penutup.

2.1.4 Bisnis Pariwisata

Bisnis Pariwisata adalah aspek kegiatan kepariwisataan yang berorientasi pada penyediaan jasa pariwisata. Bisnis pariwisata meliputi seluruh kegiatan penyediaan jasa (services) yang dibutuhkan wisatawan. Kegiatan ini meliputi

jasa perjalanan(travel)dan transportasi (transportation), penginapan (accommodation), jasa boga (restaurant), rekreasi (recreation), dan jasa-jasa lain yang terkait, seperti informasi, telekomunikasi, penyediaan tempat dan fasilitas untuk kegiatan tertentu, penukaran uang (money changer), dan jasa hiburan (entertainment) (Ida, Putu, dkk, 2003:17).

Proses Bisnis Pariwisata, dalam arti prosedur dan mekanisme tidak berbeda dengan bisnis pada umunya. Perbedaannya terletak pada substansi format, mekanisme dan proses bisnis tersebut. Sebagai suatu bentuk bisnis yang didominasi unsur asing, bisnis pariwisata seharusnya mengikuti kelaziman-kelaziman yang berlaku dalam tradisi bisnis internasional.

2.1.5 Jenis dan Macam Pariwisata Terwujud Dalam Bentuk Antara Lain:

1. Menurut Letak Geografis , Dimana Kegiatan Itu Berlangsung:

a. Pariwisata Lokal (Local Tourism) yaitu jenis kepariwisataan yang ruang lingkupnya lebih sempit dan terbatas dalam tempat-tempat tertentu saja. Misal, kepariwisataan Jakarta, kepariwisataan Manado, Kepariwisataan Denpasar dll.

b. Pariwisata Regional (Regional Tourism) yaitu kegiatan kepariwisataan yang dikembangkan dalam suatu wilayah tertentu, dapat regional dalam lingkup nasional maupun internasional.

Misalnya Kepariwisataan Bali, Jakarta, Manado dan lain-lain.

c. Pariwisata Nasional (National Tourism) yaitu jenis pariwisata yang dikembangkan dalam wilayah suatu negara, dimana pesertanya tidak hanya terdiri warganegaranya itu sendiri melainkan dari

manca negara atau orang asing yang datang ke negara tersebut.

Misalnya, kepariwisataan yang ada di daerah Indonesia.

d. Pariwisata Regional-Internasional yaitu kegiatan kepariwisataan yang berkembang di suatu wilayah internasional yang terbatas, tetapi melewati batas-batas lebih dari dua atau tiga negara dalam wilayah tersebut. Misal, kepariwisataan ASEAN.

e. Pariwisata Internasional (International Tourism) yaitu kegiatan kepariwisataan yang terdapat atau dikembangkan di banyak negara di dunia.

2. Menurut Pengaruhnya Terhadap Neraca Pembayaran:

a. Pariwisata Aktif (In Bound Tourism) yaitu kegiatan kepariwisataan yang ditandai dengan gejala masuknya wisatawan asing ke suatu negara tertentu. Hal ini tentu akan mendapatkan masukan devisa bagi negara yang dikunjungi dengan sendirinya akan memperkuat posisi neraca pembayaran negara yang dikunjungi wisatawan.

b. Pariwisata Pasif (Out–Going Tourism) yaitu kegiatan kepariwisataan yang ditandai dengan gejala keluarnya warga negara itu sendiri bepergian ke luar negeri sebagai wisatan. Karena ditinjau dari segi pemasukan, negara asal wisatawan akan dirugikan, karena uangnnya akan dibelanjakan di luar negeri.

3. Menurut Alasan/Tujuan Perjalanan

a. Business Tourism yaitu pariwisata dimana pengunjung datang untuk tujuan dinas, usaha dagang yang berhubungan dengan pekerjaannya, kongres, seminar dan lain-lain.

b. Vacational Tourism yaitu jenis pariwisata dimana orang-orang yang melakukan perjalanan wisata terdiri dari orang-orang yang sedang berlibur, cuti dan lain-lain.

c. Educational Tourism yaitu jenis pariwisata dimana pengunjung atau orang yang melakukan perjalanan bertujuan untuk belajar.

d. Familiarzation Tourism yaitu perjalanan yang dimaksudkan guna mengenal lebih lanjut atau daerah yang mempunyai kaitan dengan pekerjaannya.

e. Scientific Tourism yaitu perjalanan wisata yang tujuan pokoknya adalah memperoleh pengetahuan atau penyelidikan terhadap suatu bidang ilmu pengetahuan.

f. Special Mission Tourism yaitu perjalanan wisata yang dilakukan dengan suatu maksud khusus, misalnya misi kesenian dll.

g. Hunting Tourism yaitu perjalanan yang dimaksudkan untuk menyelenggarakan perburuan binatang yang diijinnkann oleh penguasa setempat sebagai hiburan semata-mata.

2.2 Komponen Pariwisata

Komponen Pariwisata Berdasarkan klasifikasi Leiper (1990) dalam Pitana (2009:63), sistem pariwisata terdiri dari tujuh komponen besar, dimana komponen tersebut merupakan sektor utama dalam kepariwisatan yang memerlukan keterkaitan, ketergantungan, dan keterpaduan, yaitu:

a. Sektor pemasaran (The Marketing Sector)

Mencakup semua unit pemasaran dalam industri pariwisata, misalnya, kantor biro perjalanan dengan jaringan cabangnya, kantor pemasaran

maskapai penerbangan (air lines), kantor promosi daerah tujuan wisata tertentu, dan sebagainya.

b. Sektor perhubungan (The Carrier Sector)

Mencakup semua bentuk dan macam transportasi publik, khususnya yang beroperasi sepanjang jalur transit yang menghubungkan tempat asal wisatawan (traveller generating region) dengan tempat tujuan wisatawan (tourist destination region). Misalnya, perusahaan penerbangan (airlines), bus (coachline), penyewaan mobil, kereta api dan sebagainya.

c. Sektor akomodasi (The Accommodation Sector)

Sebagai penyedia tempat tinggal sementara (penginapan) dan pelayanan yang berhubungan dengan hal itu, seperti penyediaan makanan dan minuman (food and beverage). Sektor ini umumnya berada di daerah tujuan wisata dan tempat transit.

d. Sektor daya tarik/atraksi wisata (The Attraction Sector)

Sektor ini terfokus pada penyediaan daya tarik atau atraksi wisata bagi wisatawan. Lokasi utamanya terutama pada daerah tujuan wisata tetapi dalam beberapa kasus juga terletak pada daerah transit.

Misalnya, taman budaya, hiburan (entertainment), event olah raga dan budaya, tempat dan daya tarik wisata alam, peninggalan budaya, dan sebagainya. Jika suatu daerah tujuan wisata tidak memiliki sumber daya atau daya tarik wisata alam yang menarik, biasanya akan dikompensasi dengan memaksimalkan daya tarik atraksi wisata lain.

e. Sektor tour operator (The Tour Operator Sector)

Mencakup perusahaan penyelenggara dan penyedia paket wisata.

Perusahaan ini membuat dan mendesain paket perjalanan dengan memilih dua atau lebih komponen (baik tempat, paket, atraksi wisata) dan memasarkannya sebagai sebuah unit dalam tingkat harga tertentu yang menyembunyikan harga dan biaya masing-masing komponen dalam paketnya.

f. Sektor pendukung/ rupa-rupa (The Miscellaneous Sector)

Sektor ini mencakup pendukung terselenggaranya kegiatan wisata baik di negara/ tempat asal wisatawan, sepanjang rute transit, maupun di negara/ tempat tujuan wisata. Misalnya, toko oleh-oleh (souvenir) atau took bebas bea (duty free shops), restoran, asuransi perjalanan wisata, travel cek (traveller cheque), bank dengan kartu kredit, dan sebagainya.

g. Sektor pengkoordinasi/ regulator (The Coordinating Sector)

Mencakup peran pemerintah selaku regulator dan asosiasi di bidang pariwisata selaku penyelenggara pariwisata, baik di tingkat lokal, regional, maupun internasional. Sektor ini biasanya menangani perencanaan dan fungsi manajerial untuk membuat sistem koordinasi antara seluruh sektor dalam industri pariwisata. Misalnya, di tingkat lokal dan nasional seperti Departemen Pariwisata, Dinas Pariwisata Provinsi 10 (Disparda), Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI), dan sebagainya. Di tingkat regional dan Internasional seperti World

Tourism Organization (WTO), Pacific Asia Travel Association (PATA), dan sebagainya.

2.3 Pelaku Pariwisata

Pelaku pariwisata adalah setiap pihak yang berperan dan terlibat dalam kegiatan pariwisata. Adapun yang menjadi pelaku pariwisata menurut Damanik dan Weber (2006: 19) adalah:

2.3.1 Wisatawan

Wisatawan adalah konsumen atau pengguna produk dan layanan.

Wisatawan memiliki beragam motif dan latar belakang (minat, ekspektasi, karakteristik sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya) yangberbeda-beda dalam melakukan kegiatan wisata. Dengan perbedaan tersebut, wisatawan menjadi pihak yang menciptakan permintaan produk dan jasa wisata.

2.3.2 Industri Pariwisata/ Penyedia Jasa

Industri Pariwisata / Penyedia Jasa adalah semua usaha yang menghasilkan barang dan jasa bagi pariwisata. Mereka dapat digolongkan ke dalam dua golongan utama, yaitu:

1. Pelaku Langsung, yaitu usaha-usaha wisata yang menawarkan jasa secara langsung kepada wisatawan atau yang jasanya langsung dibutuhkan oleh wisatawan. Termasuk dalam kategori ini adalah hotel, restoran, biro perjalanan, pusat informasi wisata, atraksi hiburan, dan lain-lain.

2. Pelaku Tidak Langsung, yaitu usaha yang mengkhususkan diri pada produk-produk yang secara tidak langsung mendukung pariwisata, misalnya usaha kerajinan tangan, penerbit buku atau lembaran panduan wisata, dan sebagainya.

2.3.3 Pendukung Jasa Wisata

Pendukung Jasa Wisata adalah usaha yang tidak secara khusus menawarkan produk dan jasa wisata tetapi seringkali bergantung pada wisatawan sebagai pengguna jasa dan produk itu. Termasuk di dalamnya adalah penyedia jasa fotografi, jasa kecantikan, olahraga, penjualan BBM, dan sebagainya.

2.3.4 Pemerintah

Pemerintah sebagai pihak yang mempunyai otoritas dalam pengaturan, penyediaan, dan peruntukan berbagai infrastruktur yang terkait dengan kebutuhan pariwisata. Tidak hanya itu, pemerintah juga bertanggung jawab dalam menentukan arah yang dituju perjalanan pariwisata. Kebijakan makro yang ditempuh pemerintah merupakan panduan bagi stakeholder yang lain dalam memainkan peran masing-masing.

2.3.5 Masyarakat Lokal

Masyarakat Lokal adalah masyarakat yang bermukim di kawasan wisata.

Mereka merupakan salah satu aktor penting dalam pariwisata karena sesungguhnya merekalah yang akan menyediakan sebagian besar atraksi sekaligus menentukan kualitas produk wisata. Selain itu, masyarakat lokasi merupakan pemilik langsung atraksi wisata yang dikunjungi sekaligus dikonsumsi wisatawan. Air, tanah, hutan, dan lanskap yang merupakan sumberdaya pariwisata yang dikonsumsi oleh wisatawan dan pelaku wisata lainnya berada di tangan mereka. Kesenian yang menjadi salah satu daya tarik wisata juga hampir sepenuhnya milik mereka. Oleh sebab itu, perubahan

perubahan yang terjadi di kawasan wisata akan bersentuhan langsung dengan kepentingan mereka.

2.4 Manfaat Pariwisata

Adapun yang menjadi manfaat pariwisata adalah:

a. Meningkatkan hubungan yang baik antar bangsa dan negara.

b. Membuka kesempatan kerja serta perluaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

c. Menumbuhkan aktivitas ekonomi masyarakat

d. Meperkenalkan dan mendayagunakan keindahan alam dan kebudayaan.

e. Membantu dan menunjang gerak pembangunan, seperti penyediaan sarana dan prasarana yang diperlukan.

f. Menjaga kelestarian flora, fauna, dan lingkungan.

2.5 Obyek Wisata

Objek Wisata atau “Tourist Atracction” adalah segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi orang untuk mengunjungi suatu daerah tertentu. Dalam Ilmu Kepariwisataan, Objek Wisata merupakan segala sesuatu yang menarik dan bernilai untuk dikunjungi dan dilihat. Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan pasal 1 ayat 5, Objek Wisata atau disebut Daya TarikWisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keaneka ragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.

2.6 Pengembangan Pariwisata

Pengembangan pariwisata merupakan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan yang telah ditentukan

sebelumnya. Pada pengembangan obyek dan daya tarik wisata menurut Yoeti (1997:2) syarat dari suatu obyek wisata yaitu something to see, something to do dan something to buy. Pengembangan sarana dan prasarana menurut Yoeti (1997:179) jenis sarana ada tiga yaitu sarana pokok kepariwisataan, sarana perlengkapan kepariwisataan dan sarana penunjang pariwisata. Fandeli (1995) mengemukakan bahwa pengembangan pariwisata pada dasarnya adalah pengembangan masyarakat dan wilayah yang didasarkan pada:

1. Memajukan tingkat hidup masyarakat sekaligus melestarikan identitas dan tradisi lokal.

2. Meningkatkan tingkat pendapatan secara ekonomis sekaligus mendistribusikan secara merata kepada penduduk lokal.

3. Berorientasi kepada pengembangan wisata berskala kecil dan menengah dengan daya serap tenaga kerja besar dan berorientasi pada teknologi kooperatif.

4. Memanfaatkan pariwisata seoptimal mungkin sebagai agen penyumbang tradisi budaya dengan dampak negatif yang seminimal mungkin.

Dalam Undang-Undang R1 No 10 Tahun 2009 Pasal 6 dan 7, tentang pembangunan pariwisata disebutkan bahwa pembangunan pariwisata haruslah memperhatikan keanekaragaman, keunikan dan kekhasan budaya dan alam serta kebutuhan manusia untuk berwisata. Pembangunan pariwisata meliputi industri pariwisata, destinasi pariwisata, pemasaran dan kelembagaan pariwisata.

2.7 Dampak Pariwisata

Dampak pariwisata adalah perubahan-perubahan yang terjadi terhadap masyarakat sebagai komponen dalam lingkungan hidup sebelum dan setelah ada

kegiatan pariwisata. Identifikasi tersebut diartikan sebagai suatu proses penetapan mengenai pengaruh dari perubahan sosial ekonomi, budaya, tradisi dan perilaku untuk meningkatkan kualitas hidup.

Secara teoritis, Cohen (1984) dalam Pitana (2009:194) mengelompokkan dampak sosial budaya pariwisata ke dalam sepuluh kelompok besar, yaitu:

1) Dampak terhadap keterkaitan dan keterlibatan antara masyarakat setempat dengan masyarakat yang lebih luas, termasuk tingkat otonomi atau ketergantungannya.

2) Dampak terhadap hubungan interpersonal antara anggota masyarakat.

3) Dampak terhadap dasar-dasar organisasi/ kelembagaan sosial.

4) Dampak terhadap migrasi dari dan ke daerah pariwisata.

5) Dampak terhadap ritme kehidupan sosial masyarakat.

6) Dampak terhadap pola pembagian kerja.

7) Dampak terhadap stratifikasi dan mobilitas sosial.

8) Dampak terhadap distribusi pengaruh dan kekuasaan.

9) Dampak terhadap meningkatnya penyimpangan-penyimpangan sosial.

10) Dampak terhadap bidang kesenian dan adat istiadat.

2.8 Dampak Pariwisata dalam Bidang Ekonomi

Pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat dalam ketersediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan penduduk, standar hidup serta adanya keterkaitan dengan sektor-sektor produktivitas lainnya. Di samping itu, pariwisata juga berpengaruh terhadap pendapatan bagi pemerintah dalam hal penarikan pajak Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada pengelolaan pariwisata itu sendiri, sebagai dampak dari

pengembangannya dimana pajak diperoleh akan mampu memberikan manfaat pada pembangunan ke depan, guna menjadi sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat dan pemerintah.

Selain itu, para wisatawan juga membutuhkan konsumsi selama melakukan kegiatan wisata, hal ini bisa menjadi sarana dalam mengenalkan jenis makanan khas pada daerah masing-masing. Dibukanya rumah makan atau tempat-tempat yang menyediakan kuliner bagi wisatawan, dapat membuka peluang lapangan pekerjaan yang menyerap tenaga kerja yang berasal dari penduduk sekitar. Dengan demikian, artinya pengembangan industri pariwisata ini memiliki dampak-dampak yang ditimbulkan bagi pemerintah maupun masyarakat sekitar lokasi wisata.

2.8.1 Aspek Ekonomi

Dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan pariwisata dapat bersifat positif dan negatif. Cohen (1984) menyebutkan bahwa dampak kegiatan pariwisata dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Dampak terhadap penerimaan devisa 2. Dampak terhadap pendapatan masyarakat 3. Dampak terhadap kesempatan kerja 4. Dampak terhadap harga-harga

5. Dampak terhadap distribusi manfaat/ keuntungan 6. Dampak terhadap kepemilikan dan kontrol 7. Dampak terhadap pembangunan pada umumnya 8. Dampak terhadap pendapatan pemerintah

2.8.2 Dampak Positif Pariwisata Bagi Ekonomi

Ada banyak dampak positif pariwisata bagi perekonomian, diantaranya adalah sebagai berikut (Leiper, 1990 dalam Pitana dan Diarta 2009):

1. Pendapatan dari penukaran valuta asing 2. Menyehatkan neraca perdagangan luar negeri 3. Pendapatan dari usaha atau bisnis pariwisata 4. Pendapatan pemerintah

5. Penyerapan tenaga kerja

6. Multiplier effects (efek ekonomi)

7. Pemanfaatan fasilitas pariwisata oleh masyarakat lokal 2.8.3 Dampak Negatif Pariwisata Bagi Ekonomi

Dampak negatif pariwisata diantaranya adalah sebagai berikut (Mathieson dan wall, 1992 dalam Pitana dan Diarta 2009):

1. Ketergantungan terlalu besar pada pariwisata

2. Meningkatkan angka inflasi dan meroketnya harga tanah

3. Meningkatnya kecendrungan untuk mengimpor bahan-bahan yang diperlukan dalam pariwisata

4. Sifat pariwisata yang musiman

5. Timbulnya biaya-biaya tambahan lain bagi perekonomian setempat 2.9 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang digunakan sebagai bahan referensi dalam penelitian ini antara lain:

1. Akhmad Bories, dkk 2016 (Universitas Brawijaya) melakukan penelitian berjudul, “Dampak Pengembangan Pariwisata Teradap Kehidupan

Masyarakat Lokal Di Kawasan Wisata (Studi Pada Masyarakat Sekitar Wisata Wendit, Kabupaten Malang)” menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat sekitar khususnya masyarakat sekitar Taman Wisata Air Wendit.

Pemerintah Kabupaten Malang telah melakukan banyak perubahan mulai dari penambahan fasilitas wisata serta wahana-wahana permainan yang menjadi daya tarik wisata. Saat ini promosi yang dilakukan masih kurang maksimal dengan melihat tingkat kunjungan wisata Wendit yang dari tahun ke tahun menurun. Dampak lain yang ditimbulkan dari pengembangan Taman Wisata Air Wendit dari aspek sosial diantaranya meningkatnya keterampilan penduduk dengan membuat cinderamata, transformasi mata pencaharian ke pekerjaan yang lebih baik, transformasi norma dari norma negatif ke norma positif.

2. Rusdin, 2016 (Universitas Halu Oleo Kendari) melakukan penelitian berjudul, “Dampak Pengembangan Wisata Bahari Pantai Toronipa Terhadap Perekonomian Masyarakat Di Kelurahan Toronipa Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe” menunjukkan bahwa dampak pengembangan wisata bahari pantai Toronipa terhadap perekonomian masyarakat di Kelurahan Toronipa Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pengembangan obyek wisata pantai Toronipa memberikan dampak positif terhadap aktivitas perekonomian masyarakat.

Sebelum pengembangan wisata pantai Toronipa, sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani dan nelayan, namun sesudah pengembangan obyek wisata pantai aktivitas ekonomi meningkat. Masyarakat mendapat pekerjaan

tambahan sebagai pedagang makanan dan minuman serta penyedia jasa berupa fasilitas yang di sewakan untuk wisatawan seperti gazebo, ruang bilas,

tambahan sebagai pedagang makanan dan minuman serta penyedia jasa berupa fasilitas yang di sewakan untuk wisatawan seperti gazebo, ruang bilas,

Dokumen terkait