• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ANALISIS

4.2.3 Latar Sosial

Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.

Tahun 19341944

Novel Burung-burung Manyar ini berawal dari latar belakang kehidupan keraton Surakarta berpadu pada kebudayaan barat. Setadewa sebagai tokoh protagonis dalam novel Burung-burung Manyar, memiliki latar belakang keluarga keraton berpadu dengan budaya barat. Setadewa kurang tertarik dengan kehidupan keraton yang sangat bertentangan denagn dirinya sebagai anak kolong. Setadewa lebih suka hidup dikalangan bawah sebagai anak kolong

(52) Setiap kami pulang dari kol istana, bertambahlah keyakinanku, bahwa tidak ada dunia yang lebih firdaus daripada dunia anak kolong tangsi Magelang (Mangunwijaya, 2010: hlm 9).

Ketidaksukaan Setadewa dengan kehidupan keraton juga dibuktikan dengan

sebutan nama “Raden Mas Sinyo” yang baginya sangat menertawakan. Kepribadian

Setadewa lebih dominan kepada budaya barat. Selain itu juga pengaruh ayahnya yang lebih suka dengan kehidupan di luar keraton dan tidak basa-basi.

(53) Aku disebut Raden Mas Sinyo di situ. Sebutan yang sangat menertawakan dan omong kosong. Tetapi memang muka dan kulitku mendekati Mami punya. Hanya kejiwaan barangkali aku ikut Papi, Si Blo’on gembala sapi (Mangunwijaya, 2010: hlm 7).

(54)… Baru kelak aku sadar, bahwa dalam citarasa aku satu kompi dengan Papi. Papi ternyata (tetapi itu baru kelak kuketahui) sengaja menjauhkan diri dari kaum istana, karena ia tidak suka basa-basi Jawa yang halus tetapi banyak yang tidak jujur. Ia dulu meminta sendiri dari atasannya agar boleh masuk garnisun di Surabaya, karena orang-orang Sungai Brantas sana tidak pernah suka berbahasa kromo; apa adanya tanpa tedeng aling-aling (Mangunwijaya, 2010: hlm 33).

Sebagai anak kolong, Setadewa memiliki kepribadian yang jujur, tidak suka basa-basi seperi yang ada di kehidupan Jawa.

(55) Aku tipe anak kolong yang sejak kecil punya kode etika berterus-terang. Lebih baik berkelahi berbahasa kepal dan tendangan kaki daripada bohong dan pura-pura. Baru kelakaku sadar, bahwa dalam citarasa aku satu kompi dengan Papi (Mangunwijaya, 2010: hlm 32—33).

Tahun 19451950

Memasuki tahun 1945, banyak terjadi kerisuhan. Kehidupan Setadewa pun mulai berubah. Ketika Jepang masuk, ayah Setadewa keluar dari KNIL dan ditangkap oleh Jepang, sedangkan ibunya di jadikan gundik Jepang. Sejak saat itulah Setadewa berpisah dengan kedua orang tuanya. Kepribadian Setadewa yang dominan ke

ayahnya, akhirnya membawa dia ikut terlibat menjadi anggota KNIL dan pada saat itulah Setadewa beranggapan kekuasaan harus kembali ke tangan Belanda. Situasi sosial yang ada hanya perebutan kekuasaan. Setelah Setadewa masuk menjadi anggota KNIL, dia pun dalam waktu dua bulan menjabat letnan II. Setadewa memiliki kekuasaan untuk mengarahkan anak buahnya untuk berperang.

Latar sosial yang terjadi pada bagian kedua ini terletak di kota Jakarta yang banyak terjadi kerusuah. Kerusuhan akibat perebutan kekuasaan antara pihak Republik dan Belanda. Dalam hal ini, Setadewa berpihak kepada Belanda dan menganggap Republik belum pantas untuk merdeka. Bagi Setadewa kemerdekaan Indonesia hanya sebagai impian saja. Menurut penilaian Setadewa masyarakat Indonesia, khususnya Jawa bersifat emosiaonal

(56)… Memang tidak pernah dapat dipercaya serdadu-serdadu Jawa kita. Sata minta pasukan Ambon saja. Mereka setia dan berdisiplin. Tetapi yang Jawa-Jawa itu…” “Ya emosi lagi. Orang Jawa itu punya kanker, emosi namanya (Mangunwijaya, 2010: hlm 85).

Latar kehidupan sosial masyarakat Jawa juga masih percaya dengan adanya

tahayul. Hal ini tampak pada bagian 11 “Ayam-ayam disambar”.

(57) Sebab menurut tahayul orang-orang sekitar Juranggede, siapa yang berhasil memisahkan kepala dari mayat yang mati pada malam Selasa Kliwon dan mampu menggondolnya (Tidak boleh pakai alat. Menggali kuburan harus dengan tangan telanjang saja dan memisahkan kepala serta menggondolnya hanya boleh dengan gigi!), orang itu akan kaya-raya (Mangunwijaya, 2010: hlm 137).

Kepercayaan akan tahayul ini menggambarkan kepribadian masyarakat yang masih tradisional. Hal ini bertentangan ke kepribadian Setadewa yang memiliki

pemikiran lebih modern. Menurut Setadewa, Indonesia belum pantas untuk merdeka karena mereka belum matang.

(58)… Suatu bangsa yang sudah berabad-abad hanya membongkok dan minder harus dididik dahulu menjadi kepribadian. Barulah kemerdekaan datang seperti buah durian yang jatuh karena sudah matang (Mangunwijaya, 2010: hlm 89).

Pada bagian kedua ini, keadaan sosial yang terjadi hanyalah perebutan kekuasaan antara pihak Republik dan Belanda. Bagi Setadewa kehidupan masyarakat Indoneisa akan baik jika mereka benar-benar sudah matang.

Bagian 19681978

Latar sosial yang ada dibagian ketiga ini yaitu kehidupan masyarakat modern dan masyarakat desa yang tradisional. Kehidupan melarat masih saja ada.

(59)… Tetapi tak lupa juga lensa kadang-kadang dibidikkan kearah anak-anak melarat yang berduyun bersorak ria ingin masuk ke dalam film itu; entah dengan harapan apa tak seorang pun tahu sebenarnya (Mangunwijaya, 2010: hlm 181).

(60) Bapak Gubernur tampak kesal melihat bangsanya begitu terbelakang, ndeso (Mangunwijaya, 2010: hlm 182).

Dibagian ketiga ini, Setadewa mengunjungi makam ibunya dan setelah mengunjungi makam ibunya, Setadewa bermalam disalah satu rumah warga di Juranggede. Di sini lah terungkap, masyarakat suka zaman dulu yang tidak ada perampokan.

(61) Memang jaman resah-rusuh, “jaman merdeka” dulu itu. tetapi bicara tentang

keresahan, soalnya masih sama. Di sekitar Merapi-Merbabu soal bandit dan perampok belum pernah beres (Mangunwijaya, 2010: hlm 235).

Tidak hanya kehidupan masyarakat desa, tetapi kehidupan modern juga muncul di bagian ketiga ini. Ketika Setadewa bertamu ke rumah Ambassadora, prihatin melihat kehidupan masyarakat Jawa yang belum juga berubah.

(62)“Maaf, Excellency, tetapi sungguh, saya selalu sedih kalau melihat orang menunduk-nunduk seperti kuli jaman Raffles.” (Mangunwijaya, 2010: hlm 204).

Selanjutnya di bagian ketiga ini, Setadewa pun akan melakukan pengakuan atas kecurangan yang selama ini terjadi, meskipun dia harus kehilangan pekerjaannya. Hal ini dia lakukan karena dia telah bersumpah dengan profesor dan dia tidak ingin mengecewakan ibunya. Setadewa menyesal dengan semua yang telah ia lakukan dan ingin kembali seperti manusia biasa. Berkat pengorbanan ibunya, akhirnya Setadewa akan memulai hidup barunya. Berikut kutipannya:

(63) Begitulah maka sekarang sudah saatnya aku datang, sebagai manusia biasa, yang ingin mengadakan perhitungan dengan ular Kepala Dua yang hidup di bawah tanah hati nuraniku. Ini berka pengorbanan Mami. Buah hasil penderitaan dan doa ibuku. Bukan karena Setadewa yang baik, melaikan karena kebaikan dan keperwiraan Kapitein Brajabasuki ayahku yang jauh lebih jaya daripada kekolongan jiwa liar pengeluyur kali tangsi Teto dalam diriku (Mangunwijaya, 2010: hlm 225).

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan latar sosial yang ada dalam novel

Burung-burung Manyar karya YB.Mangunwijaya ada tiga bagian. Bagian pertama

1934—1944 menceritakan tentang perbedaan sosial di kalangan keraton dan masyarakat biasa, perpaduan kehidupan keraton dan kebudayaan barat. Pada bagian ini, Setadewa dan ayahnya merasa lebih nyaman hidup di luar keraton karena kehidupan keraton baginya terlalu membelenggu dan banyak munafik. Setadewa dan

ayahnya bukan karakter orang yang suka basa-basi, mereka lebih suka mengatakan sejujurnya.

Latar sosial kedua tahun 1945—1950, terjadi di Jakarta. Bagian ini banyak terjadi kerusuhan akibat perebutan kekuasaan Republik dan Belanda. Bagi Setadewa, Indonesia belum pantas untuk merdeka karena masyarakatnya belum matang dan masih bermental kuli. Mereka masih perpul dididik. Selanjutnya pada bagian ketiga 1968—1978, latar sosial yang ada yaitu kehidupan masyarakat yang masih tradisional, kebiasaan menunduk ketika ada orang lain masih terbawa hingga tahun itu, dan kehidupan politik yang terjadi saat itu yaitu korupsi. Korupsi ini lah yang menyebabkan Indonesia melarat. Dibagian ini, Setadewa berusaha membongkar korupsi yang dilakukan di tempat kerjanya, meskipun dia harus dikeluarkan dari tempat kerjanya.

Uraian yang berkaitan dengan latar sosial ini memiliki kontribusi terhadap perkembangan tokoh utama yaitu Setadewa. Dilatar sosial ini terlihat bagaimana karakter tokoh Setadewa yang suka hidup di luar keraton, yang memiliki kebebasan dalam bersikap dan bergaul dengan siapa pun, memiliki pandangan hidup yang berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumnya yang suka basa-basi.

Dokumen terkait