BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ANALISIS
4.2.1 Latar Tempat
Latar tempat, menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Beberapa latar tempat yang terdapat dalam novel Burung-burng
Manyar.
Latar Tempat Delem
Tangsi
mangga belakang rumah Bu Antana
Klender, Tanah Abang
Yogya Kramat, Magelang Jurang Gede Istana Soekarno Masa Kecil Dalem
(36) Kelak sesudah aku menjadi pelajar HBS dalam suatu kesempatan kol segala kerabat istana Mangkunegara, Papi mengajakku memasuki ruang keramat di belakang pringgitan istana yang disebut dalem. Dan memberi petuah: dalem artinya ruang dalam, ruang keramat, ruang pemilik istana. Siapa pemilik istana? Bukan Gusti Raja Mangkunegara melaikan Dewi Sri.
… Mengikuti Papi dan Mami ke istana betul-betul siksaan bagiku. Aku di sebut Raden Mas Sinyo di situ. Sebutan yang sangat menertawakan dan omong kosng. Tetap memang muka dan kulitku mendekati Mami punya. Hanya dalam kejiwaan barangkali aku ikut Papi, Si Blo’on gembala sapi(Mangunwijaya, 2010: hlm 7). (37) Setiap kami pulang dari kol istana, bertambahlah keyakinanku bahwa tidak ada
dunia yang lebih firdaus daripada dunia anak kolong tangsi Magelang (Mangunwijaya, 2010: hlm 9).
Kutipan di atas menggambarkan latar tempat istana keraton Surakarta. Ketika Setadewa diajak ke dalem, Setadewa merasa kurang tertarik dengan kondisi di istana. Ditambah dengan sebutan Raden Mas Sinyo yang baginya sangat menertawakan. Setadewa merasa lebih senang menjadi anak klong di tangsi Magelang.
Tangsi
(38)…Tangsi dengan pohon-pohon kenarinya yang besar dan rindang, dan yang setiap musim merontokkan ulat-ulat yang membuat noni-noni menjerit; dan yang bahkan minta lebih dijeritkan lagi oleh lemparan-lembaran anak kolong kami berupa paket-paket ulat yang, nikmat sekali, membuat mereka panic. Yang melempari noni-noni itu biasanya aku, sebab aku anak letnan (Mangunwijaya, 2010: hlm 9).
Latar tempat tangsi ini menceritakan masa kecil Setadewa yang senang mengganggu noni-noni. Setadewa berani melakukan hal tersebut karena dia anak letnan dan Setadewa anak kolong yang liar. Cerita ini terletak pada bab awal, yaitu bab 1 Anak Kolong.
(Kramat) Di bawah pohon mangga kebun belakang Rumah Bu Antana
(39) Sebab menjelang senja itu, di bawah pohon mangga kebun belakang rumah Bu Antana, untuk pertama kali dalam segala tahun yang masih kuingat jelas, aku, anak KNIL yang telah ditempa dengan hati dari tembaga peluru tangsi, yang terbiasa untuk bertahan, toh menangis. Sepulang dari mencari tambahan nafkah catutan di Pasar Senen, aku menemukan rumah kosong. Hanya secarik surat dari Mami yang kutemukan. Dalam bahasa Belanda. Aku harus pergi ke Tante Antana. Tante yang akan menerangkan, ke mana Teto harus pergi untuk “menemukan” Mami
(Mangunwijaya, 2010: hlm 40—41).
Di daerah Kramat, di bawah pohon mangga rumah Bu Antana ini lah Setadewa mengetahui bahwa maminya di tangkap oleh Jepang untuk dijadikan gundik Jepang. Di sini, Setadewa akhirnya menangis saat mendengar semua penjelasan Bu Antana. Setelah mendengar cerita dari Bu Antana, Setadewa semakin benci dengan Jepang. Bagian ini menjadi awal konflik yang terjadi dalam kehidupan Setadewa di masa kecilnya.
Masa Remaja
Tanah Abang
(40)… Tugas patroli pertama yang kuperoleh menuju Tanah Abang. Tetapi sepulang
dari sana langsung aku menggenjot jip ke jalan Kramat VI ke rumah Bu Tana (Mangunwijaya, 2010: hlm 66).
Tanah Abang adalah tempat pertama kali Setadewa bertugas sejak masuk menjadi anggota KNIL. Setelah selesai bertugas, Setadewa pun melanjutkan perjalannya ke jalan Krama. Dia berharap bisa bertemu dengan keluarga Bu Antana, tetapi karena kondisi perang seperti itu, keluarga Bu Antana pun meninggalkan rumah di Kramat. Setadewa hanya menemukan surat yang berisi bahwa keluarga Bu Antana pindah ke Yogya, dan Atik menjadi juru ketik di Republik. Sejak saat itu lah terjadi konflik batin Setadewa karena gadis yang dia cintai lebih berpihak kepada Republik.
Yogya
(41) Dalam hati aku agak terhibur sedikit, sebab operasi menduduki Yogya ini mirip perang sungguh-sungguh. Perang dengan cara intelektual dan beradab.. Aku masih punya prinsip dan aku tahu, untuk apa aku ikut menyerbu Yogya ini (Mangunwijaya, 2010: hlm 120—121).
(42) Pada petang hari yang sama itu, 19 Desember 1948, sambil duduk lunglai karena payahnya di atas tangga-tangga istana, dengan bayangan raksasa batu di halaman muka itu, aku ditumbuhi perasaan bimbang lagi. Pasukanku menang, Kapitein Seta
jaya. Tetapi kehilangan Larasati. Barangkali… barangkali toh aku salah pilih (Mangunwijaya, 2010: hlm 127).
Yogya menjadi latar tempat dalam novel Burung-burung Manyar. Setadewa melakukan penyerangan di Yogya dengan tujuan mencari ayahnya. Tetapi
sesampainya di Yogya Setadewa tidak menemukan tanda-tanda keberadaan ayahnya. Di Yogya lah Bu Antana dan Atik tinggal. Dengan menduduki Yogya, berharap Setadewa dapat membuktikan bahwa dia menang. Tetapi setelah menduduki Yogya di justru Setadewa merasa kelihangan Atik. Setadewa merasa bimbang dengan pilihannya.
Masa Dewasa
Magelang dan Juranggede
(43) Di dalam jip terbuka itu aku menuju ke Kramat Magelang untuk berziarah ke makam Mamiku di sana. Makam yang telah kupugar sepuluh tahun yang lalu ketika Soekarno masih berkuasa. Nah, ke makam Mamiku itulah acara pokok perjalanan peziarahanku sekarang ini. Sebelum clash terakhir meledak.
Direktur tua rumah-sakit sudah diganti oleh yang lebih muda, dan tiba-tiba aku merasa bahwa aku sendiri telah menginjak ke masa jam 14.00 siang menuju senja hidup. Kota Magelang yang dulu terkenal indahnya dan bersih, sekarang sudah penuh toko dan kios, kotor seperti sepantasnya kota-kota di negeri ini, yang kubenci sekaligus kucintai (Mangunwijaya, 2010: hlm 228—229).
(44)“Ya … ya begitulah.” “Sekarang ke mana?” “Ke Juranggede.” “Ya, yang mana?”
“Saya hanya diberi tahu, dulu pernah jadi markas dan dapur umum gerilya.”
(Mangunwijaya, 2010: hlm 232).
Kota Magelang merupakan kota masa kecil tokoh Setadewa. Ketika Setadewa datang ke kota Magelang, dia teringat masa kecil yang menyenangkan dan menyedihkan. Di kota ini lah Setadewa mengunjungi makam ibunya. Setelah itu dia melanjutkan perjalanan ke Juranggede, di Juranggede lah Setodewa tinggal semasa zaman Belanda.
Istana Soekarno
(45)… “silakan menunaikan program kalian. Aku dapat pergi ketepat lain yang sudah lama ingin aku kunjungi.”
“Ke mana?”.
“Ke bekas istana Soekarno dulu.” Mereka terperanjat. Apa-apaan ini. Atik menggeleng gelengken kepalanya seba prihatin.
“Ada apa, Mas? Masa lampu jangan kau orek-orek lagi.” (Mangunwijaya, 2010: hlm 285).
Di istana Soekarno ini, Setadewa mengenang masa lalunya ketika dia bertugas membawa bedil Thomposn. Di istana Soekarno lah, Setadewa melakukan pengakuan atas kesalah dalam perhitungan komputer dan Setadewa meminta bantuan kepada Janakatami untuk membantu membongkar kecurangan yang telah lama terjadi. Pada bagian ini Setadewa sadar akan kesalahan dirinya yang selama ini dia lakukan hanyalah untuk membalas dendam atas perlakuan Jepang terhadap dirinya dan rasa sayangnya terhadap Atik.
Kesimpulan dari penjelasan di atas, ada beberapa latar tempat yang mewakili perkembangan tokoh utama Setadewa. Latar tempat yang mewakili perkembangan tokoh Setadewa yaitu, Delem; Tangsi; (Kramat) Di bawah pohon mangga belakang rumah Bu Antana; Klender,Tanah Abang; Yogya; Magelang; Jurang Gede; dan Istana Soekarno. Keseluruhan latar tempat ini, memiliki kontribusi terhadap perkembangan tokoh Setadewa. Misalnya, ketika Setadewa berada di dalem, dia kurang tertarik dan dia lebih suka hidup dikalangan bawah menjadi anak kolong tangsi Magelang. Menjadi anak kolong tangsi Magelang, Setadewa dapat bersikap sesuka hati usil
dengan noni-noni yang takut ular. Setadewa lebih merasa senang hidup di luar keraton.
Selanjutnya, latar tempat yang menjadi awal adanya konflik yaitu ketika Setadewa pergi ke rumah Bu Antana di Kramat. Di sinilah Setadewa mengetahui konflik yang sedang terjadi. KNIL kalah, Jepang datang dan ayah Setadewa ditangkap, sedangkan ibunya dijadikan gundik Jepang. Di sini menjadi awal perubahan kehidupan Setadewa yang dulunya hidup bersama orang tuanya, sekarang dia harus hidup sendiri. Bu Antana dan suaminya menjadi orang tua angkat Setadewa. Akhirnya Setadewa memutuskan untuk menjadi anggota KNIL, mengikuti jejak ayahnya, karena kepribadiannya lebih dominan ke ayahnya. Tanah Abang adalah tempat pertama Setadewa bertugas setelah menjadi letna II, di masa-masa ini banyak terjadi kerusuhan. Ketika Setadewa menduduki kota Yogya, dia ditumbuhi perasan bimbang, Setadewa berjaya tetapi kehilangan Larasati wanita yang dia sayangi.
Setadewa semakin dewasa, dia memutuskan untuk keluar dari anggota KNIL dan melanjutkan studinya. Ketika kembali ke Indonesia, dia mengunjungi makam ibunya dan melanjutkan perjalanan ke Juranggede. Setadewa pun sempat bermalam disalah satu rumah warga di Juranggede, di sinilah Setadewa dan Atik bertemu setelah sekian lama tak berjumpa. Dan akhirnya Setadewa juga mengunjungi Istana Soekarno setelah bertemu dengan Bu Antana. Di istana Soekarno Setadewa ingin mengenang masa lalunya.
Pemaparan latar tempat dalam novel Burung-burung Manyar karya YB.Mangunwijaya ini sangat jelas. Latar tempat di sini membawa pengaruh terhadap perkembangan tokoh Setadewa. Latar tempat yang menjadi awal mula perubahan hidup Setadewa yaitu di Kramat ketika mengetahui kekalahan KNIL. Selanjutya di Yogya, Setadewa berhasil menguasai Yogya tetapi ketika berhasil menduduki Yogya, Setadewa ditumbuhi perasaan bimbang, dan di Juranggede Setadewa bertemu dengan Atik wanita yang dia cintai sejak dulu. Tetapi sangat disayangkan, Atik sudah menikah dengan Janakatamsi. Istana Soekarno juga menjadi latar tempat dalam novel ini, karena di sini lah Setadewa melakukan pengakuan atas korupsi yang dilakukan oleh perusahaannya dan membuat Indonesia menjadi melarat. Pengakuan ini menyebabkan dia dikeluarkan dari tempat kerjanya.