• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.4 Pembelajaran Sastra di SMA

Pada haketatnya, pelajaran sastra bukanlah pembelajaran tentang sastra, melainkan proses belajar mengajar yang memberikan kemampuan dan keterampilan mengapresiasikan sastra melalui proses interaksi dan transaksi antar siswa dengan cipta sastra yang dipelajarinya. Oleh sebab itu pembelajaran sastra harus direncanakan untuk melibatkan siswa dalam proses menampilkan kebermaknaan. Siswa tidak boleh hanya dijejali dengan akumulasi informasi

tentang makna karya sastra, melaikan diajar untuk memperoleh secara mandiri (Gani, 1988:125).

Pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi 4 manfaat:

1. Membantu keterampilan berbahasa 2. Meningkatkan pengetahuan budaya 3. Mengembangkan cipta dan rasa 4. Menunjukan pembentukan watak

Dalam kaitannya pembelajaran sastra di SMA, siswa tidak hanya dituntut untuk memahami karya sastra, tetapi juga mengapresiasikan karya sastra. Tahapan pembelajaran sastra di SMA memuat empat komponen yaitu, mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis (Depsiknas, 2006:232). Komponen mendengarkan meliputi kemampuan mendengar, memahami dan mengapresiasikan ragam karya sastra seperti, cerpen, puisi, drama dan novel. Komponen berbicara meliputi kemampuan membahasa, menaggapi dan mendiskusi ragam karya sastra sesuai isinya. Komponen membaca meliputi kemampuan membaca serta memahami berbagai jenis karya sastra dan dapat mengapresiasikannya. Komponen menulis meliputi kemampuan mengapresiasikan karya sastra ke dalam bentuk tulisan kesastraan berdasarkan ragam-ragam karya sastra yang dibaca (Depdiknas, 2006: 242).

2.4.1 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP pasal 1, Ayat 15), dijelaskan bahawa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilakasanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyususnan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memerhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) (Sanjaya, 2008:128).

Dalam KTSP, pembelajaran sastra khususnya novel diajarkan untuk: (1) kelas XI semester 1 dengan standar kompetensi membaca yaitu dengan memahai berbagai hikayat, novel Indonesia/terjemahan. Kompetensi dasarnya adalah menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan. (2) kelas XII semester 1 dengan standar kompetensi mendengarkan yaitu dengan memahai pembacaan novel. Kompetensi dasarnya adalah menaggapi pembacaan penggalan novel dari vokal, intonasi,dan penghayatan serta menjelaskan unsur intrinsik dari pembacaan penggalan novel. Penelitian ini, memilih kurikulum kelas XII semester 1 yaitu memahai pembacaan novel. Setelah siswa mendapatkan pengetahuan tentang cara menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel yang didapat pada saat mereka kelas XI semester 1 maka, untuk kelas XII semester 1 diharapkan siswa dapat memahami pembacaan novel dengan cara menaggapi pembacaan novel

dari segi vocal, intonasi, dan intonasi,dan penghayatan serta menjelaskan unsur intrinsik dari pembacaan penggalan novel.

2.4.2 Silabus

Silabus merupakan penjabaran dari standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian (Depdiknas, 2006:7).

Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau kelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendidikan (BNSP,2006:14)

Berikut ini uraian prinsip pengembangan silabus yang terdapat pada Kurikulim Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006.

1. Ilmiah: keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmuan.

2. Relevansi: cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran,dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik.

3. Sistematis: komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dan mencapai kompetensi.

4. Konsisten : adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat, asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar dan sistem penilaian.

5. Memadai: cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

6. Actual dan kontekstual: cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar dan sistem penilaian harus memperhatian perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyatan dan peristiwa yang terjadi.

7. Fleksibe keseluruhan kompnen silabus dapat mengakomodasi keragaman perseta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.

8. Menyeluruh: komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotorik)

Komponen-komponen yang ada di dalam silabus antara lain yaitu identifikasi, standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, pengalaman belajar, indikator, penilaian, alokasi waktu, sumber/bahan/alat. Berdasarkan kompenen tersebut terdapat langkah-langkah penting yang terdapat dalam silabus pembelajaran.

1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran seperi yang tercantum pada standar isi dengan memperhatikan hal-hal berikut:

a. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu atau tingkat kesulitan materi

b. Berkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam suatu materi pelajaran

c. Keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran

2. Mengidentifikasi Materi Pokok

Mengidentifikasi materi pokok yang menunjang pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:

a. Potensi peserta didik

b. Relevansi dengan karakteristik daerah

c. Tingkat perkembangan fiksi, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik

d. Struktur keilmuan

e. Aktualisasi, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran

f. Relevansi dengan kebutuhan peresta didik dan tutuntan lingkungan, serta

3. Mengembangkan Pengalaman Belajar

Pengalaman belajar adalah kegitan mental dan fisik yang dilakukan peserta didik dalam berinteraksi dengan sumber belajar melalui pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan perserta didik. Hal-hal yang perlu diaktifkan dalam mengembangkan kegiatan pelajaran adalah sebagi berikut:

a. Kegitan pembelajaran disusun untuk memberiakan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru agar dapat melaksanakan proses pembelajarn secara professional

b. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peresta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar

c. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran

d. Rumusan pernyataan dalam kegiatan minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu siswa dan materi

4. Merumuskan Indikator Keberhasilan Belajar

Indikator merupakan penjabaran dari kompetensi dasar yang menujukan tanda-tanda perbuatan atau respon yang ditampilkan oleh peserta didik.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, porensi daerah dan peserta didik, dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

5. Penentuan Jenis Penilaian

Penilaian terhadapt pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian digunakan dengan melakukan tes atau non tes dalam bentuk tulisan atau lisan, pengamatan kegiatan siswa, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio dan penilaian diri. Hal-hal yang perlu diperhatiakn dalam penilaian (BNSP, 2006:17) yaitu,

a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi b. Penilaian menggunakan acuan criteria

c. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut, dan

e. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran

6. Menentukan Alokasi Waktu

Alokasi waktu adalah perkiraan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mempelajari suatu materi pembelajaran. Prinsip yang diperlukan dalam mengalokasi waktu (Trianto, 2009:209), antara lain: 1.

Tingkat perkembangan psikologi peserta didik, 2. Tingkat kesukaran materi, 3. Cakupan materi, 4. Frekuensi penggunaan materi (di luar/ di dalam kelas), dan 5. Tingkat pentingnya materi yang dipelajari.

7. Menentukan Sumber Belajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompentesi dasar, serta materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

2.4.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

RPP disusun untuk setiap pertemuan pembelajaran. Komponen-komponen yang penting yang ada dalam RPP, meliputi: Standar kompetensi (SK), Kompetensi dasar (KD), hasil belajar, indikator pencapaian hasil belajar, strategi pembelajaran, sumber pembelajaran, alat dan bahan, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, dan evaluasi.

Menurut Muslich (2007:54) langkah-langkah penyusunan RPP

1. Ambil satu unit pembelajaran (dalam silabus) yang akan diterapkan dalam pembelajaran

2. Tulis standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam unit tersebut

3. Tentukan indikator untuk mencapai kompetensi dasar tersebut

4. Tentukan alokasi waktu yang diperlukan untuk mencapai indikator tersebut 5. Rumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran

tersebut

6. Tentukan materi pembelajaran yang akan diberikan/dikenakan kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumskan

7. Pilih metode pembelajaran yang dapat mendukung sifat materi dan tujuan pembelajaran

8. Susunlah langkah-langkah kegiatan pembelajaran pada setiap satuan rumusan tujuan pembelajaran, yang bisa dikelompokan menjadi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup

9. Jika alokasi waktu untuk mencapai satu kompetensi dasar lebih dari 2 jam pelajaran, bagilah langkah-langkah pembelajaran menjadi lebih dari satu pertemuan. Pembagian setiap jam pertemuan bisa didasarkan pada satuan tujuan pembelajaran atau sifat/tipe/ jenis materi pembelajaran

10. Sebutkan sumber/ media belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran secara konkret dan untuk setiap bagian/ unti pertemuan

11. Tentukan teknik penilaian, bentuk, dan contoh instrumen penilaian yang akan digunakan untuk mengukur ketercapaian kompetensi dasar atau tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

Ada tiga aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pemilihan bahan pembelajaran sastra (Rahmanto,1988:27), yaitu bahasa, psikologi, dan latar belakang budaya. Pertama, bahasa yang digunakan dalam novel itu harus ada pada taraf kemampuan siswa. Bahasa pada sebuah karya sastra yang digunakan dalam pembelajaran harus sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa dan tidak mengandung kosakata asing yang kurang mereka pahami. Kedua, aspek psikologi. Dalam tahap perkembangan psikologi ini hendaknya diperatikan karena tahap-tahap ini sangat besar pengaruhnya di dalam minat dan keengganan siswa di dalam banyak hal. Tahap perkembangan psikologi ini juga sangat besar pengaruhnya terhadap daya ingat, kemampuan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan pemecahan masalah.

Untuk membantu pemahaman guru terhadap psikologi anak sekolah mengengah, Rahmanto (1988:30) menyajikan perkembangan psikologi sebagai berikut:

1. Tahap pengkhayal (8 sampai 9 tahun)

Pada tahap ini imajinasi anak belum banyak diisi hal-hal nyata tetapi masih penuh dengan berbagai macam fantasi kekanakan.

2. Tahapan romantic (10 sampai 12 tahun)

Pada tahap ini, anak mulai meninggalkan fantasi-fantasi dan mengarah ke realitas. Meskipun pandangannya tentang dunia ini masih sangat sederhana, tapi pada tahap ini anak telah menyenangi cerita-cerita kepahlawanana, petualang, dan bahkan kejahatan.

3. Tahapan realistic (13 samapi 16 tahun)

Sampai tahap ini anak-anak sudah benar-benar terlepas dari dunia fantasi, dan sangat berminat pada realitas atau apa yang benar-benar terjadi. Mereka terus berusaha mengetahui dan siap mengikuti dengan teliti fakta-fakta untuk memahami masalah-masalah dalam kehidupan yang nyata.

4. Tahapan generalisasi (umur 16 tahun dan selanjutnya)

Pada tahap ini anak sudah tidak lagi hanya berminta pada hal-hal praktis saja tetapi juga berminat untuk menemukan konsep-konsep abstrak dengan menganalisis suatu fenomena. Dengan menganalisis fenomena, mereka berusaha menemukan dan merumuskan penyebab utama fenomena yang kadang-kadang mengarah ke pemikiran filsafat untuk menentukan keputusan-keputusan moral.

Daftar SK dan KD Kelas XII Semester 1

Mendengarkan 5. Memahami

pembacaan novel

5.1 Menanggapipembacaan penggalan noveldari segi vokal, intonasi, dan penghayatan

5.2 Menjelaskan unsur-unsur intrinsikdari pembacaan penggalan novel

45

Dokumen terkait