BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ANALISIS
4.2.2 Latar Waktu
Novel Burung-burung Manyar ini dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian I 1934-1944, bagian II 1945-1950, bagian III 1968-1978. Secara garis besar bagian I menceritakan tentang masa kecil tokoh utama Setadewa yang menyenangkan. Pada tahun itu, menjadi masa penjajahan Belanda dan memasuki masa penjajahan Jepang. Ketika masa penjajahan Jepang, kehidupan Setadewa mulai berubah. Bagian II menceritakan tentang masa muda Setadewa yang dipenuhi dengan berbagai konflik fisik dan batin. Di bagian kedua ini, Setadewa terpisah oleh kedua orang tuanya dan Atik yang dia sayang. Tetapi pada bagian III, Setadewa juga dapat bertemu dengan Atik, suami Atik dan Bu Antana ibu Atik.
Latar Waktu
Surya sudah terbenam
Saptu, tahun 1944
Sebab menjelang senja itu
Tahun 1946
Petang hari yang sama itu, 19 Desember 1948
Dini pagi (tahun 1968—1978)
Berikut beberapa kutipan yang menggambarkan latar waktu
Masa Kecil
Surya sudah terbenam (tahun 1944)
(46) Surya sudah terbenam. Ketokan pintu. Ketika dibuka, kaget setengah mati kami. Sesosok tubuh tampak di pintu. Mami menjerit dan langsung memeluknya. Papi tanpa berita apa-apa pulang.
Ia telah lepas dari tahanan militer setelah beberapa bulan meringkuk sebagai lawan perang Jepang. Dunia-serba-gemilang kami telah cepat runtuh. Jepang datang. KNIL kalah dan bubar (Mangunwijaya, 2010: hlm 31).
Kutipan di atas “Surya sudah terbenam” menunjukan latar waktu di sore hari.
berdampak pada perubahan kehidupan Setadewa. KNIL kalah dan mereka harus mencari tempat persembunyian yang aman.
Saptu, tahun 1944
(47) Tetapi suatu Saptu, tahun 1944, sepulang dari Semarang, ketika aku ingin menengok Papi dan Mami, rumah terkunci rapat. Para tetangga mengatakan orang-tuaku sedang menengok Kakek, ayah Mami yang sakit. Aku heran, sebab keduanya, Papi dan Mami sudah lama tak berorang-tua. Segera aku mengerti, ada masalah gawat (Mangunwijaya, 2010: hlm 35—36).
Sepulangnya dari Semarang, Setadewa menemui rumahnya telah kosong dan ini pertanda ada hal yang tidak beres. Akhirnya Setadewa pergi ke Kramat menemui ibunya yang sedang menangis karena ayah Setadewa ditangkap oleh Jepang pada hari
“Saptu, tahun 1944”. Sejak saat itulah Setadewa memasuki babak baru dalam
hidupnya.
Sebab menjelang senja itu
(48) Sebab menjelang senja itu, di bawah pohon mangga kebun belakang rumah Bu Antana, untuk perama kali dalam segala tahun yang masih kuingat jelas, aku, anak KNIL yang telah ditempa dengan hati dari tembaga peluru tangsi, yang terbiasa untuk bertahan, toh menanggis (Mangunwijaya, 2010: hlm 40).
Menjelang senja Setadewa bertemu dengan Bu Antana dan Bu Antana menceritakan apa yang sedang terjadi. Di tahun yang sama pula ibunya Setadewa ditangkap dan dijadikan gundik Jepang. Hal ini ia lakukan karena ia diberi ultimatum dari Kepala Kenpetai yang berwenang atas nasip suaminya. Ia boleh memilih suaminya mati atau ia suka menjadi gundiknya. Dan akhirnya ia memilih menjadi
gundik. Saat ini lah Setadewa menangis dan tak tau apakah harus bangga dengan maminya atau harus membunuhnya. Sejak kejadian itu, Bu Antana dan suaminya menjadi orang tua angkat Setadewa dan sejak saat itu pula kebenciannya terhadap Jepang semakin menjadi.
Masa Remaja
Tahun 1946
(49) Tahun 1946 bagiku serba simpang-siur dan aku sendiri sudah tidak tahu lagi harus berpikir apa. Patrol rutin semakin membosankan, karena terus-terang saja, kami orang-orang tentara tidak paham soal diplomasi dan segala kemunafikan kaum diplomat, sehingga merasa dijadikan bulan-bulanan (Mangunwijaya, 2010: hlm 96).
Setelah Setadewa berpisah dengan kedua orang tuanya, Setadewa ikut menjadi anggota tentara kerajaan. Tepatnya tahun 1946 keadaan semakin rumit, karena Setadewa dan Verburggen merasa dijadikan bulan-bulanan. Di satu pihak Jenderal Spoor melakukan penyerangan total, tetapi dipihak lain van Mook bersimpatik dengan Soekarno. Hal ini dirasakan Inggris lah yang menjadi biangkeladinya atas semua yang telah terjadi.
Petang hari yang sama itu, 19 Desember 1948
(50) Pada petang hari yang sama itu, 19 Desember 1948, sambil duduk lunglai karena payahnya di atas tangga-tangga istana, dengan bayangan raksasa batu di halaman rumah itu, ak ditumbuhi perasaan bimbang lagi. Pasukanku menang, Kapitein Seta
jaya. Tetapi kehilangan Larasati. Barangkali … barang kali toh aku salah pilih (Mangunwijaya, 2010: hlm 127).
19 Desember 1948 menjadi peristiwa penting karena Kapitein Setadewa berhasil menduduki Yogya yang sudah lama ia inginkan. Tetapi setelah berhasil mendududki Yogya, Setadewa ditumbuhi rasa bimbang atas hal yang ia lakukan. Ia merasa salah memilih karena ketika dia berhasil menduduki Yogya, ia kehilangan Larakasti wanita yang dia sayangi.
Masa Dewasa
Dini pagi (tahun 1978)
(51)… bahwa pesawat terbang Maritim yang ditumpangi Atikku dan Jana, pada suatu
dini pagi yang khusus terjamah tangan Tuhan, menabrak bukit di dekat Kolombo, Sri Lanka sana? Tuhan yang member. Tuhan yan mengambil. Terpujilah selalu namanya yang Kudus (Mangunwijaya, 2010: hlm 317).
Tahun 1978 menjadi tahun bersejarah dalam hidup Setadewa karena di tahun itu dia dapat bertemu dengan Atik. Meskipun akhirnya mereka harus berpisah dengan kepergian Atik meninggal karena kecelakaan pesawat. Setadewa pun bisa menerima semua itu.
Kesimpulan dari uraian latar waktu di atas, latar waktu ini memberi pengaruh terhadap perkembangan tokoh. Latar waktu dalam novel Burung-burung Manyar yaitu, Surya sudah terbenam; Saptu, tahun 1944; Sebab menjelang senja itu; Tahun 1946; Petang hari yang sama itu, 19 Desember 1948; Dini pagi (tahun 1968—1978). Latar waktu yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan tokoh yaitu berawal tahun 1944, pada tahun ini ayah Setadewa ditangkap dan ibunya dijadikan gundik Jepang. Dengan kejadian itu, Setadewa benci dengan Jepang dan akhirnya dia masuk
menjadi anggota KNIL. Tahun 1946, ketika sudah menjadi anggota KNIL dan menjadi letnan II, Setadewa merasa hanya dijadikan bulan-bulanan yang tidak jelas. Tahun itu banyak terjadi kerusuhan.
Selanjutnya tahun 1948, Setadewa berhasil menduduki Yogya, pasukan Setadewa menang, Setadewa jaya tetapi ketika itu pula dia ditumbuhi rasa bimbang atas hal yang dia lakukan. Setadewa merasa kehilangan Larasati. Setelah sekian lama tak berjumpa, akhirnya Setadewa dan Atik berjuma di tahun 1978. Di tahun itu pula lah Setadewa melakukan pengakuan atas kecurangan yang terjadi diperusahaannya dan merugikan Indonesia. Setadewa dipecat dan Atik meninggal karena kecelakaan maut. Ketika itu terjadi, Setdewa bisa menerima semua itu.