Teori liberal HI akan kita turunkan untuk secara khusus menjelaskan kebijakan luar negeri. Tidak ada perbedaan signifikan antara liberalisme HI dan liberalisme kebijakan luar negeri. Perbedaannya barangkali hanya pada obyek penelitiannya. Namun, khusus teori neoliberal institusionalisme, kita tidak dapat memakai teori ini untuk kepentingan kita menganalisis kebijakan luar negeri semata-mata karena teori ini merupakan teori politik internasional.
Sementara teori liberalisme interdependensi tidak kita singgung di sini karena fokus kita bukan kebijakan luar negeri dalam isu ekonomi (foreign economic policy). Di bagian ini kita akan mendiskusikan dua karakter kebijakan luar negeri liberal yakni pendekatan berbasis domestik (domestic approach) untuk menjelaskan kebijakan luar negeri dan pendekatan berbasis nilai dalam praktik kebijakan luar negeri (value-based foreign policy).
Pertama, karakter utama teori liberal yaitu menganalisis kebijakan luar negeri melalui pendekatan domestik. Seperti telah diuraikan di bagian sebelumnya, salah satu asumsi dasar liberalisme HI adalah memandang pentingnya keberadaan aktor-aktor domestik alih-alih memperlakukan negara sebagai aktor uniter. Andrew Moravscik mengatakan,
Liberal theory rests on a ‘bottom-up’ view of politics in which the demands of individuals and societal groups are treated as analytically prior to politics. Political action is embedded in domestic and transnational civil society, understood as an aggregation of boundedly rational individuals with differentiated tastes, social commitments, and resource endowments. Socially differentiated individuals define their material and ideational interests independently of politics and
then advance those interests through political exchange and collective action.23
Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa kebijakan luar negeri adalah cermin dari kepentingan aktor-aktor domestik. Aktor-aktor-aktor tersebut memiliki kepentingannya masing-masing dan berusaha memperjuangkan kepentingan tersebut di dalam proses perumusan kebijakan.
Moravscik menyebut negara bukan aktor kebijakan luar negeri melainkan sekadar pelaksana dari kepentingan aktor-aktor domestik. Dengan demikian, aktor-aktor utama kebijakan luar negeri adalah aktor-aktor domestik tadi. Menurut Moravscik, “In the liberal conception of domestic politics, the state is not an actor but a representative institution constantly subject to capture and recapture, construction and reconstruction by coalitions of social actors.”24 Pemerintah berperan sebagai penampung aspirasi publik untuk kemudian diolah menjadi produk kebijakan. Tentu saja, tidak semua aktor domestik memiliki peluang dan pengaruh yang sama terhadap proses perumusan kebijakan. Ada yang lemah, ada pula yang kuat pengaruhnya tergantung pada sumberdaya, strategi, dan koneksi dengan pemerintah. Aspirasi aktor domestik ini kemudian turut mendefinisikan konsep kepentingan nasional.
Menurut Moravscik, kepentingan nasional dalam terminologi liberal disebut dengan “preferensi” yaitu “a set of fundamental interests defined across ‘states of the world’. Preferences are by definition causally independent of the strategies of other actors and, therefore, prior to specific interstate political interactions, including
23 Andrew Moravscik, “Taking preferences seriously: a liberal theory of international politics,” International Organization, Vol. 51, No. 4 (1997), hlm. 517.
24 Ibid., hlm. 518.
external threats, incentives, manipulation of information, or other tactics.”25 Jadi, antara konsep “preferensi” dan “kepentingan nasional” sebenarnya sama saja; mengacu pada tujuan-tujuan aktor yang mendasari tindakannya.
Kedua, karakter kebijakan luar negeri liberal adalah mengusung nilai-nilai fundamental yaitu demokrasi dan HAM. Kedua nilai ini merupakan nilai paling mendasar dalam filosofi liberalisme. Tak mengherankan apabila kebijakan luar negeri negara-negara Barat mencerminkan nilai-nilai ini karena liberalisme telah menjadi ideologi masyarakat Barat sejak ratusan tahun. AS dan Eropa adalah aktor internasional yang kerap memperjuangkan demokrasi dan HAM dan mengintegrasikannya ke dalam kebijakan luar negeri mereka. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa demokrasi dan HAM merupakan nilai universal (bukan spesifik untuk masyarakat liberal) yang harus diadopsi oleh semua negara. Mereka beranggapan bahwa perdamaian hanya bisa diwujudkan apabila kedua nilai itu dianut dan menjadi praktik politik negara-negara. Jelas asumsi ini merujuk pada pemikiran Immanuel Kant tentang konsep
“perdamaian abadi” (perpetual peace) yang mensyaratkan prinsip republikanisme dan pemikiran Michael Doyle tentang teori perdamaian demokratis. Di jaman Perang Dunia I, prinsip ini diadopsi dan dikampanyekan Woodrow Wilson guna mengakhiri perang.
Di tataran politik luar negeri, gagasan liberal ini mengejawantah ke dalam aliran kebijakan luar negeri khas AS yaitu liberal internasionalisme. Gagasan ini mengacu pada hasrat negara-negara liberal untuk menyebarluaskan
25 Ibid., hlm. 519.
nilai-nilai liberal (khususnya demokrasi) ke seluruh dunia.
Roland Paris mendefinisikan liberal internasionalisme sebagai “an activist foreign policy that promotes liberal principles abroad, especially through multilateral cooperation and international institution.”26 Meskipun titik tekannya pada kerjasama multilateral dan lembaga-lembaga internasional, namun dalam praktiknya liberal internasionalisme kerap menggunakan instrumen koersif (militer). Secara umum, agenda menyebarluaskan nilai-nilai liberal dilakukan dengan dua cara yaitu mempromosikan demokrasi (democracy promotion) dan perubahan rezime (regime change).
Mempromosikan demokrasi bisa dilakukan mulai dari cara-cara halus (misalnya bantuan luar negeri, pertukaran budaya, skema beasiswa, pertukaran pelajar dan mahasiswa, seminar, konferensi, penelitian, dan sebagainya) sampai yang memaksa (misalnya teknik ‘naming and shaming’ dan sanksi ekonomi). Sementara pendekatan perubahan rezim biasanya dilakukan dengan instrumen militer yakni menginvasi negara non-demokratis dan menggantinya dengan pemerintahan demokratis. Invasi AS ke Afganistan tahun 2001 dan Irak tahun 2003 serta invasi NATO ke Libya tahun 2011 adalah contoh pendekatan ini. Selain itu, strategi perubahan rezim bisa juga dilakukan dengan cara tak langsung, yaitu mendukung kelompok pemberontak untuk menumbangkan rezim yang dianggap tidak bersahabat dengan negara-negara Barat yang liberal. AS dan Inggris dalam sejarahnya melakukan operasi-operasi intelijen untuk mendukung kelompok pemberontak di banyak negara Dunia Ketiga sepanjang era Perang Dingin.
26 Roland Paris, “Peacebuilding and the limits of liberal internationalism,”
International Security, Vol. 22, No. 2 (1997), hlm. 59.
Semua ini adalah bagian dari “upaya menciptakan zona damai” dengan memerangi rezim-rezim non-demokratis.
Karakter ini sekaligus menyangkal anggapan umum bahwa liberalisme tidak menyukai peperangan dan lebih memilih perdagangan bebas. Menurut kaum liberal internasionalis, perang demi demokrasi adalah sah dan dapat dibenarkan (legitimate and justified). Meskipun demikian, di kalangan penganut liberalisme sendiri, pendekatan ini dikritik dengan sebutan “imprudence liberalism” yaitu kecenderungan negara liberal berperang dengan negara non-liberal. Michael Doyle mengatakan, “Peaceful restraint only seems to work in liberals’ relations with other liberals. Liberal states have fought numerous wars with non-liberal states.”27 Berbeda dengan prudence liberalism yang bersifat defensif (negara liberal membela diri dari agresi negara non-liberal), imprudence liberalism terjadi ketika negara liberal menginvasi negara non-liberal dengan motivasi menyebarluaskan demokrasi.28
Rangkuman
Liberalisme memandang kebijakan luar negeri sebagai produk dari dinamika politik domestik. Aktor-aktor domestik baik individu maupun kelompok memagang peranan penting di baliknya. Sementara negara hanyalah aktor pasif yang sekadar melaksanakan apa yang menjadi desakan aktor-aktor domestik tadi. Alhasil, apa yang kemudian dikenal dengan
27 Michael Doyle, “Liberalism and world politics,” American Political Science Review, Vol. 80, No. 4 (1986), hlm. 1156.
28 Pauline Kleingeld (ed.), Toward Perpetual Peace and Other Writings on Politics, Peace, and History (New Haven: Yale University Press, 2006), hlm. 214-215.
kepentingan nasional hanyalah representasi dari kepentingan aktor-aktor domestik tadi. Selain itu, karakteristik menonjol dari kebijakan luar negeri liberal adalah adanya agenda menyebarluaskan demokrasi dan HAM ke seluruh dunia.
Hal ini dilandasi prinsip republikanisme yang percaya bahwa perdamaian tercipta apabila demokrasi diadopsi sebagai prinsip universal. Kebijakan memerangi negara non-demokratis adalah representasi perang antara negara liberal dan non-liberal.
Studi kasus
Studi kasus ini akan mengambil dua contoh untuk menunjukkan bagaimana liberalisme menganalisis kebijakan luar negeri Indonesia. Contoh kasus pertama adalah kebijakan Indonesia di bawah pemerintahan B.J. Habibie meratifikasi International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination 1965 (Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial 1965) atau disingkat CERD. Ratifikasi itu tertuang dalam UU Nomor 29 Tahun 1999. Meskipun ini merupakan kebijakan domestik, namun meratifikasi norma internasional termasuk ke dalam dimensi kebijakan luar negeri. Menggunakan teori liberal, kebijakan tersebut dipengaruhi oleh desakan aktor-aktor domestik, yang dalam kasus itu adalah desakan dari masyarakat sipil pro-demokrasi yang berkepentingan terhadap jaminan perlindungan HAM dari negara.
Contoh kasus kedua adalah pembentukan Bali Democracy Forum (BDF) di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). BDF dibentuk tahun 2008 yang bertujuan untuk mempromosikan demokrasi di kawasan.
Indonesia menjadi inisiator forum multilateral ini karena di masa SBY berkuasa, demokrasi menjadi salah satu nilai yang sangat dijunjung tinggi. Indonesia bangga dengan reputasinya sebagai “negara demokrasi terbesar ketiga di dunia” yang menjadikannya merasa sebagai role model demokrasi di Asia.
Menggunakan perspektif liberal, kebijakan SBY membentuk BDF dipandang sebagai bentuk kebijakan luar negeri liberal yang bertujuan mempromosikan demokrasi. Sebab dengan demokrasi, stabilitas keamanan dan kesejahteraan kawasan dapat diwujudkan.
Daftar pertanyaan
1. Bagaimana liberalisme memandang peran negara dalam politik luar negeri?
2. Bagaimana konsep kepentingan nasional menurut teori liberal?
3. Apa asumsi dasar teori perdamaian demokratis?
Bagaimana teori ini berkaitan dengan teori liberal internasionalisme?
4. Mengapa negara berhasrat menyebarluaskan nilai-nilai demokrasi dan HAM ke seluruh dunia?
5. Apakah demokrasi benar-benar menjamin perdamaian dan kesejahteraan?
Saran bacaan lebih lanjut
1. Untuk memahami asumsi dasar liberalisme HI silakan baca Andrew Moravscik, “Taking preferences seriously:
a liberal theory of international politics,” International Organization, Vol. 51, No. 4 (1997), pp. 513-553.
2. Untuk memahami dasar pemikiran teori perdamaian demokratis lihat Michael Doyle, Liberal Peace: Selected Essays (New York: Routledge, 2012).
3. Untuk analisis kebijakan luar negeri liberal internasionalis negara Barat lihat Rita Abrahamsen, Louise Riis Andersen, and Ole Jacob Sending, “Introduction: Making liberal internationalism great again?” International Journal, Vol. 41, No. 1 (2019), pp. 5-14.
KONSTRUKTIVISME
D
ari sekian banyak ragam teori HI, konstruktivisme menjadi salah satu varian yang bisa dikatakan paling populer di kalangan mahasiswa. Konstruktivisme dianggap alternatif terhadap cara pandang kita tentang politik global.Riset-riset HI di Indonesia cukup banyak yang menggunakan konstruktivisme sebagai pisau analisis. Perkembangan ini menggembirakan karena menunjukkan keragaman cara berpikir penstudi HI Indonesia yang selama puluhan tahun didominasi oleh perspektif realis.
Bab ini mendiskusikan konstruktivisme sebagai teori politik luar negeri. Sebelum mendiskusikan konsep-konsep kunci kontruktivisme, bagian pertama membahas premis dasar konstruktivisme dalam HI. Selanjutnya, bagian kedua membahas konsep identitas dan bagaimana ia menjelaskan kebijakan luar negeri. Bagian ketiga membahas konsep norma dan penerapannya untuk menganalisis kebijakan luar negeri.
Bagian terakhir membahas konsep budaya dan aplikasinya untuk menganalisis kebijakan luar negeri. Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami premis-premis dasar kontruktivisme serta konsep-konsepnya.
B A B 6
Mahasiswa juga diharapkan mampu menerapkan salah satu dari konsep-konsep tadi untuk menganalisis kebijakan luar negeri.