Menjelaskan kebijakan luar negeri berarti seseorang mencari variabel yang paling berpengaruh di balik tindakan negara. Pemilihan variabel penjelas atau dalam bahasa metodologis “variabel independen” ini dipilah-pilah menjadi beberapa unit atau “tingkat analisis.” Tingkat analisis secara sederhana adalah unit yang digunakan peneliti sebagai sumber penjelasan mengenai suatu fenomena. Dinamakan “tingkat”
karena variabel penjelas ini disusun secara bertingkat-tingkat berdasarkan luas cakupan atau ruang lingkupnya.
Literatur HI kerap mengacu pada dua nama ketika berbicara tentang tingkat analisis ini yaitu Kenneth Waltz dan David Singer. Kenneth Waltz menulis buku berjudul
“Man, the State, and War” pada 1954 dan hingga kini masih sering dirujuk sebagai literatur kunci memahami tingkat analisis hubungan internasional. Di buku itu, Waltz membagi variabel independen guna menjelaskan sebab perang menjadi tiga tingkatan yakni individu, negara, dan sistem internasional. Tingkat analisis individu meneliti mengenai faktor-faktor personal seorang pemimpin negara meliputi pemikiran, keyakinan, gaya kepemimpinan dan sejenisnya.
Tingkat analisis negara meneliti karakteristik negara yang oleh Waltz ditekankan pada aspek ideologi negara tersebut.
Tingkat analisis sistem internasional meneliti struktur
5 Christopher Hill, op.cit., hlm. 44-45.
internasional yaitu aturan main yang mengatur bagaimana antarnegara saling berinteraksi. Aturan main ini kemudian disebut dengan anarki, yakni ketiadaan otoritas internasional yang dapat mengatur negara.6
Sementara itu, David Singer dalam tulisannya tahun 1961 berjudul “The Levels of Analysis Problem in International Relations” menyebutkan ada dua tingkat analisis yaitu sistem internasional (systemic level) dan negara (state level). Tingkat analisis sistem berfokus pada pola-pola interaksi antarnegara.
Pendekatan sistemik ini cenderung mengabaikan variasi kebijakan luar negeri. Sementara tingkat analisis negara berfokus pada karakteristik suatu negara untuk menjelaskan fenomena hubungan internasional. Menurut Singer, pendekatan ini dianggap lebih memadai untuk menjelaskan hubungan internasional dibanding pendekatan sistemik semata-mata karena negara adalah aktor utama hubungan internasional.7
Sayangnya, untuk menjelaskan kebijakan luar negeri, baik klasifikasi Waltz maupun Singer kurang memadai.
Keduanya sama-sama kurang lengkap. Kebijakan luar negeri dipengaruhi oleh banyak variabel sehingga diperlukan tingkat analisis yang lebih beragam. Namun secara umum, tingkat analisis kebijakan luar negeri dapat kita bagi menjadi empat yakni sistem internasional, negara atau level domestik, kelompok, dan individu.
6 Kenneth Waltz, Man, the State, and War (New York: Columbia University Press, 1954). Untuk karyanya yang berfokus pada tingkat analisis sistemik lihat Kenneth Waltz, Theory of International Politics (Reading, MA: Addison-Wesley, 1979).
7 J. David Singer, “The Levels of Analysis Problem in International Relations,”
World Politics, Vol. 14, No. 1 (1961), pp. 77-92.
Pertama, menjelaskan kebijakan luar negeri menggunakan level sistemik berarti memfokuskan pada dinamika internasional (baik di tingkat global maupun regional) yang mempengaruhi tindakan negara. Teori-teori HI yang menggunakan pendekatan ini adalah neorealisme (ofensif dan defensif), Marxisme (teori ketergantungan dan varian baru Teori Kritis), konstruktivisme (struktural), dan poskolonialisme. Kita ambil contoh jika menggunakan teori Marxis, kebijakan luar negeri suatu negara akan dipengaruhi oleh struktur kapitalisme global, misalnya saja bagaimana negara-negara kaya mendominasi sistem perdagangan internasional sehingga cenderung merugikan negara-negara berkembang.
Kedua, menjelaskan kebijakan luar negeri menggunakan level domestik berarti memfokuskan pada karakteristik suatu negara. Pendekatan ini memperlakukan negara sebagai unit tunggal (uniter), bukan terpilah-pilah berdasarkan aktor-aktor domestik. Artinya, sekalipun yang memutuskan kebijakan luar negeri adalah presiden, perdana menteri, atau menteri luar negeri, hal itu dianggap sebagai kebijakan negara secara utuh. Teori HI yang menggunakan pendekatan ini adalah realisme klasik dan konstruktivisme (domestik).
Misalnya kita ingin menjelaskan kebijakan luar negeri suatu negara memakai konstruktivisme, maka fokus analisis kita adalah identitas nasional atau norma domestik yang dianut negara tersebut.
Ketiga, menjelaskan kebijakan luar negeri menggunakan level kelompok berarti memfokuskan pada dinamika aktor-aktor domestik yang mempengaruhi proses perumusan kebijakan. Aktor-aktor domestik ini sangat bervariasi misalnya
birokrasi, lembaga pemerintah, partai politik, kelompok kepentingan, media massa, lembaga non-pemerintah, dan sebagainya. Teori HI yang menggunakan pendekatan ini adalah liberalisme. Apabila kita ingin menganalisis memakai pendekatan kelompok ini, maka fokus kita adalah memilih aktor domestik mana yang paling berpengaruh terhadap keluarnya suatu kebijakan luar negeri. Misalnya saja kita ingin menganalisis mengapa Indonesia menjajaki kerjasama pembelian alutsista besar-besaran dari Rusia, maka fokus kita adalah meneliti (misalnya) sejauh mana Kementerian Pertahanan berperan di balik itu? Apakah pihak militer ikut terlibat? Atau misalnya kita ingin meneliti mengapa Indonesia membantu etnis Rohingya di Myanmar, maka kita bisa meneliti sejauh mana peran organisasi massa keagamaan di Indonesia di balik keterlibatan Indonesia tersebut.
Keempat, menjelaskan kebijakan luar negeri menggunakan level individu berarti memfokuskan pada karakteristik personal elit (apakah itu presiden, perdana menteri, atau menteri luar negeri). APLN menyebut pendekatan ini dengan istilah pendekatan idiosinkratisme. Pendekatan ini meminjam teori-teori dari disiplin psikologi politik sehingga sering disebut dengan pendekatan kognitivisme. Peneliti biasanya akan menganalisis kepribadian, termasuk pemikiran, keyakinan, dan gaya kepemimpinan serta mengaitkannya dengan output kebijakan yang dihasilkannya. Misalnya kebijakan luar negeri Indonesia di forum-forum multilateral lebih banyak dipengaruhi oleh preferensi personal Presiden Jokowi yang berlatarbelakang pengusaha karena cenderung memprioritaskan pada pencapaian keuntungan ekonomi dibanding tujuan-tujuan strategis lainnya.
Tabel 2.1 Pembagian tingkat-tingkat analisis kebijakan luar negeri
Sumber: Valerie Hudson, Foreign Policy Analysis: Classic and Contemporary Theory, 2nd edn (Lanham: Rowman & Littlefield, 2014), hlm. 34.
Rangkuman
Kebijakan luar negeri adalah sikap atau tindakan negara di luar batas wilayah kedaulatannya. Sikap atau tindakan ini dilakukan oleh pemerintah suatu negara dan atas nama negara.
Aktor-aktor non-negara hanya mempengaruhi kebijakan luar
negeri tetapi tidak menjalankannya. Kebijakan luar negeri harus dibedakan dengan diplomasi yang merupakan strategi negara mencapai kepentingan nasional. Untuk menjelaskan kebijakan luar negeri, seseorang perlu memfokuskan pada salah satu tingkat analisis dimana ia yakin di tingkatan itulah sumber penjelasan diperoleh secara memadai. Secara garis besar ada empat tingkatan analisis yaitu sistem internasional, negara, kelompok, dan individu.