• Tidak ada hasil yang ditemukan

Realisme Neoklasik

Dalam dokumen Indra Kusumawardhana CV. Pustaka Ilmu Group (Halaman 53-62)

Realisme neoklasik adalah teori kebijakan luar negeri yang mengombinasikan neorealisme dan realisme klasik, liberalisme, dan konstruktivisme. Aliran ini menyempurnakan kelemahan neorealisme yang dianggap tidak cukup memadai untuk menjelaskan politik luar negeri. Hal ini dikarenakan neorealisme menjelaskan perilaku negara dari tingkat analisis struktur internasional (outside looking in approach). Menurut logika berpikir neorealisme, perilaku setiap negara merupakan respons dari kondisi eksternal, yakni anarki. Jadi baik negara besar maupun kecil, juga terlepas dari karakteristik masing-masing negara, akan bertindak secara seragam. Neorealisme, dengan demikian, mengabaikan fakta bahwa negara-negara memiliki karakter kebijakan luar negeri yang beragam.

Keragaman ini dilatarbelakangi oleh faktor domestik negara tersebut. Karena itu, realisme neoklasik mencoba

17 Ibid., hlm. 87.

meminjam teori-teori HI lain (terutama yang berfokus pada tingkat analisis domestik) untuk melengkapi penjelasan mengenai kebijakan luar negeri. Secara garis besar, teori ini berasumsi bahwa kebijakan luar negeri merupakan produk dari penafsiran faktor domestik terhadap kondisi-kondisi eksternal. Skema di bawah ini menunjukkan bagaimana alur berpikir realisme neoklasik. Ada tiga variabel yang perlu menjadi perhatian analis kebijakan luar negeri. Variabel pertama adalah “stimulus sistemik” yang didefinisikan sebagai konteks eksternal kebijakan luar negeri. Variabel ini identik dengan neorealis yang menekankan pentingnya struktur internasional untuk menjelaskan perilaku negara.

Konkretnya, faktor eksternal ini terutama adalah pola keseimbangan kekuatan antar negara-negara besar, baik di tingkat global maupun regional. Variabel kedua adalah

“faktor domestik” yang dalam hal ini terbagi menjadi tiga tahap yaitu persepsi, pembuatan keputusan, dan implementasi keputusan. Faktor domestik yang menjadi pusat perhatian realisme neoklasik adalah peran persepsi pembuat kebijakan. Persepsi elit ini memainkan peran kunci karena realisme berasumsi bahwa kebijakan luar negeri bersifat elitis dimana pemimpin suatu negara sangat mendominasi proses perumusan kebijakan. Di sini, persepsi elit dikaitkan dengan faktor eksternal tadi. Maksudnya, bagaimana persepsi elit terhadap konteks internasional akan sangat menentukan proses perumusan kebijakan. Variabel ketiga adalah “respons kebijakan” atau kita kenal dengan kebijakan luar negeri. Ini adalah output dari persepsi elit terhadap faktor eksternal tadi.

Sumber: Norrin Ripsman, Jeffrey Taliafero, and Steven Lobell, Neoclassical Realist Theory of International Politics (New York: Oxford University Press, 2016), hlm. 31.

Gambar 4.1 Alur pemikiran realisme neoklasik

Meskipun persepsi elit memainkan peran penting, akan tetapi itu bukan satu-satunya faktor domestik yang menjelaskan kebijakan luar negeri. Ada empat faktor domestik yang sangat krusial peranannya dalam proses perumusan kebijakan yaitu pemikiran atau keyakinan pemimpin, budaya strategis, relasi negara-masyarakat, dan institusi domestik.

Pertama, pemikiran atau keyakinan pemimpin biasa dikenal dengan pendekatan idiosinkratisme menekankan pentingnya kepribadian pemimpin seperti bagaimana pemikirannya tentang hakikat politik (termasuk politik internasional), bagaimana pemikirannya tentang kerjasama, tentang cara mengelola konflik, dan sebagainya. Hal-hal semacam ini penting sekali karena penafsiran elit terhadap konteks eksternal akan ditentukan oleh filosofinya di dunia politik secara umum. Misalnya, seorang pemimpin yang percaya bahwa konflik hanya bisa diselesaikan dengan kekerasan akan melihat perang di negara lain sebagai potensi ancaman sehingga ia akan berpikir untuk meningkatkan kekuatan

militer dan persiapan menuju peperangan. Sebaliknya, seorang pemimpin yang percaya bahwa kerjasama adalah solusi jitu bagi konflik maka ia akan melihat perang di negara lain dengan cara berbeda. Mungkin ia akan berupaya mendamaikan pihak-pihak yang terlibat perang misalnya dengan mengirimkan utusan khusus dan sebagainya.

Kedua, budaya strategis yakni seperangkat ide, norma, dan aturan yang dianut oleh suatu negara atau lembaga negara yang mengandung konsepsi tentang hakikat ancaman serta bagaimana cara mengatasi ancaman tersebut. Jadi, budaya strategis mencakup dua elemen yakni konsep ancaman dan strategi menghadapi ancaman. Budaya strategis bisa muncul dari beberapa sumber misalnya ideologi nasional, sejarah bangsa, filsafat, atau doktrin politik atau militer.

Negara dengan ideologi komunis memiliki budaya strategis yang berbeda dengan negara demokratis. Negara yang punya pengalaman pahit dijajah ratusan tahun memiliki budaya strategis yang berbeda dengan negara yang tidak pernah dijajah. Negara dengan tradisi filsafat yang kaya memiliki budaya strategis yang berbeda dengan yang tidak punya tradisi filsafat. Negara yang tentaranya ikut aktif terlibat dalam politik memiliki budaya strategis yang berbeda dengan negara yang tentaranya profesional.

Ketiga, relasi negara-masyarakat mengacu pada bagaimana dinamika interaksi antara pemerintah dan publik mempengaruhi kebijakan luar negeri. Faktor ini biasanya hanya berlaku pada negara demokratis dimana peran masyarakat cukup luas untuk memberikan masukan kepada pemerintah. Ini berbeda dengan negara otoriter dimana

pemimpin adalah aktor dan faktor satu-satunya kebijakan luar negeri. Di negara demokrasi, keberadaan aktor-aktor domestik semacam kelompok kepentingan, LSM, organisasi masyarakat, dan media massa sangat diperhitungkan.

Seringkali, meskipun tidak selalu, peran aktor-aktor tersebut lebih dominan dibanding pemerintah. Dengan kata lain, keputusan yang dibuat pemerintah hanya mencerminkan kepentingan aktor-aktor domestik tadi. Misalnya, kebijakan luar negeri mungkin dipengaruhi oleh hasil jajak pendapat di media massa. Bisa juga dipengaruhi oleh desakan kelompok kepentingan. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah tindakan aktor-aktor domestik tadi merupakan respons terhadap konteks internasional, bukan dalam keadaan vakum. Misalnya, kebijakan mengirim bantuan kemanusiaan ke negara lain bisa jadi karena desakan LSM kemanusiaan di negara tersebut yang concern dengan krisis kemanusiaan di negara lain akibat konflik negara-negara besar.

Keempat, institusi domestik yaitu peran lembaga atau organisasi. Kebijakan luar negeri kerapkali dipengaruhi oleh keberadaan lembaga-lembaga di luar eksekutif. Misalnya saja peran legislatif untuk mempengaruhi proses perumusan kebijakan luar negeri. Meskipun keputusan di tangan eksekutif (melalui presiden, perdana menteri, atau menteri luar negeri), namun dalam prosesnya pengaruh lembaga di luar eksekutif berperan penting. Hal ini berlaku terutama untuk sistem demokrasi yang mengenal mekanisme check and balances. Di negara otoriter, situasi semacam ini kecil kemungkinannya terjadi dikarenakan sistem yang terpusat.

Rangkuman

Realisme adalah teori HI yang jamak dipakai untuk menganalisis kebijakan luar negeri. Akan tetapi, kebanyakan penstudi kebijakan luar negeri mereduksi realisme ke dalam konsep kepentingan nasional yang, sayangnya, didefinisikan secara serampangan. Banyak kalangan memasukkan pelbagai elemen ke dalam konsep kepentingan nasional menurut realisme, khususnya kepentingan ekonomi (wealth). Padahal, konsep kepentingan nasional menurut realisme terbatas pada isu keamanan dan kekuasaan yang cenderung berhubungan erat dengan elemen militer. Realisme klasik adalah teori kebijakan luar negeri yang mendasarkan asumsinya pada konsep kekuasaan (power) sebagai alat sekaligus tujuan negara. Selain itu realisme memandang remeh etika atau moralitas internasional kecuali hal itu melayani kepentingan negara. Sementara itu, realisme neoklasik beranjak lebih jauh dengan mengombinasikan faktor eksternal dan internal untuk menganalisis kebijakan luar negeri. Teori ini lebih menekankan pada peran variabel-variabel domestik seperti keyakinan dan pemikiran elit, budaya strategis, relasi negara-masyarakat, dan institusi domestik sebagai faktor penjelas kebijakan luar negeri.

Studi kasus

Kasus empiris yang akan kita gunakan untuk menguji teori realisme klasik dan realisme neoklasik adalah kebijakan luar negeri Indonesia di perairan Natuna.

Wilayah Natuna merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia namun bersinggungan dengan konflik di Laut China Selatan yang melibatkan China dan sejumlah

negara ASEAN. Selama pemerintahan Jokowi, kebijakan Indonesia di kawasan tersebut cenderung asertif dalam arti menegaskan status kedaulatan Natuna kepada China. Pada kunjungan kedua Menlu AS Mike Pompeo ke Indonesia, 29 Oktober 2020, Menlu Retno Marsudi mengundang AS untuk berinvestasi di Natuna. Langkah ini dianggap para pengamat mencerminkan strategi hedging Indonesia untuk mengurangi dominasi China di kawasan. Meski demikian, bukan berarti Indonesia melawan China. Indonesia tetap menjalin hubungan jarak dekat dengan China melalui kesepakatan di bidang perdagangan dan investasi. Dari sudut pandang realisme klasik, kebijakan Indonesia tersebut dilandasi oleh adanya kepentingan nasional yakni keamanan. Menguatnya pengaruh China di kawasan memberikan dampak langsung bagi tingkat kerawanan Indonesia terutama menyangkut kawasan terluar. Dengan mengundang AS berinvestasi di Natuna, Indonesia merasa mendapatkan payung keamanan dari AS sehingga China akan berpikir berkali-kali untuk bersikap agresif di Natuna. Sementara itu, apabila dianalisis menggunakan teori realisme neoklasik, maka fokus perhatian diarahkan pada variabel domestik, misalnya saja kita ambil contoh budaya strategis Indonesia yang menganut doktrin Wawasan Nusantara. Doktrin ini menegaskan wilayah geografis Indonesia serta ancaman-ancaman apa saja yang berpotensi mengganggu kedaulatan Indonesia. Alhasil, kebijakan Indonesia mengundang AS berinvestasi di Natuna dipandang sebagai interpretasi pemerintah terhadap dinamika keamanan di kawasan serta dikaitkan dengan doktrin Wawasan Nusantara.

Daftar pertanyaan

1. Bagaimana peran kekuasaan dalam perspektif realisme klasik?

2. Bagaimana pandangan realisme klasik tentang moralitas internasional?

3. Sebutkan tiga bentuk kebijakan luar negeri menurut Hans Morgenthau!

4. Apa kelemahan neorealisme dalam menjelaskan kebijakan luar negeri?

5. Bagaimana peran variabel domestik dalam realisme neoklasik untuk menjelaskan kebijakan luar negeri?

Saran bacaan lebih lanjut

1. Untuk rujukan utama realisme klasik lihat Hans J.

Morgenthau, Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace, 6th edn (Beijing: Peking University Press, 1997).

2. Untuk uraian komprehensif tentang varian-varian realisme lihat William Wohlforth, ‘Realism’, dalam Christian Reus-Smit and Duncan Snidal (eds.), The Oxford Handbook of International Relations (Clarendon: Oxford University Press, 2008).

3. Untuk pengantar tentang realisme neoklasik lihat Gideon Rose, ‘Neoclassical realism and theories of foreign policy’, World Politics, Vol. 51, No. 1 (1998), pp. 144-172.

4. Untuk uraian komprehensif tentang realisme neoklasik lihat Norrin Ripsman, Jeffrey Taliafero, and Steven Lobell, Neoclassical Realist Theory of International Politics (New York: Oxford University Press, 2016).

LIBERALISME

R

ival realisme adalah liberalisme. Teori ini menjelaskan kebijakan luar negeri dengan cara yang kontras dengan realisme. Bagi para mahasiswa, liberalisme selalu dikaitkan dengan fenomena kerjasama internasional atau isu ekonomi, misalnya perdagangan internasional. Meskipun ini tidak salah, namun asosiasi semacam itu keliru. Faktanya, liberalisme jauh lebih luas daripada sekadar dua kata kunci; kerjasama dan ekonomi. Liberalisme mencakup gagasan filosofis sejak era Pencerahan di Eropa yang hingga kini masih diadopsi oleh sebagian besar masyarakat dunia. Bahkan, proyek liberalisme banyak mewarnai corak kebijakan luar negeri banyak negara, khususnya negara-negara Barat.

Bab ini membahas liberalisme sebagai teori politik luar negeri. Namun demikian, bab ini terlebih dahulu akan melacak akar pemikiran liberalisme berikut asumsi-asumsi dasarnya di dalam kajian HI. Selain itu, bab ini juga membahas beberapa cabang pemikiran liberalisme HI yang juga nanti mempengaruhi kebijakan luar negeri. Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami asumsi dasar liberalisme sebagai teori HI dan bagaimana

B A B 5

penerapannya dalam menganalisis kebijakan luar negeri.

Selain itu, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan studi kasus dengan teori liberalisme.

Dalam dokumen Indra Kusumawardhana CV. Pustaka Ilmu Group (Halaman 53-62)