• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lihat Bab VII Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008)

Dalam dokumen Kybernologi dan Metodologi Metodologi Il (Halaman 77-81)

SERENITY >EMPATHY >UNDERSTANDING

Lihat Bab VII Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008)

jawaban terhadap pertanyaan “apa” itu adalah “Y.” Terhadap “Y” pada gilirannya dapat diajukan “5W1H.” Misalnya “Hal apa yang berhubungan dengan “Y,” “adakah hubungan antara “Y” dengan sesuatu hal lain, dan jika ada “bagaimana sifat hubungan itu,” “seberapa kuat” hubungan itu,” “hubungan itu signifikan di bawah kondisi seperti apa,” dan seterusnya. Modelnya ---Y--- . Pertanyaan

“mengapa” membawa pemikiran terarah ke hubungan kausal antara “Y” dengan satu atau beberapa “hal yang menyebabkan, melatarbelakangi atau melatardepani keberadaan atau terjadinya “Y” itu. Penyebab (faktor) kejadian atau latar

keberadaan “Y” itu disebut saja “X.” Jadi modelnya X--->Y. Pertanyaan

“bagaimana” diajukan untuk mengetahui “proses atau perihal kejadian atau

keberadaannya,” “lokasi,” “waktu,” dan “pelaku,” dengan model: X---?--->Y.

Tabel 4 menunjukkan beberapa model bangunan masalah. Model X--->Y

dalam arti dengan alasan tertentu memasangkan Y dengan suatu X tertentu, oleh Herman Soewardi dalam Prapasca S3 Ilmu-Ilmu Sosial (Bandung, Agustus 2005, ref. Bab XV Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama, 2005) disebut spurious:

Adapun kesalahan metodologi yang paling fatal adalah level pemikiran yang tak meningkat, ialah tetap pada level pemikiran S2, dengan studi-studi yang bersifat verifikatif tanpa dasar. (Oleh mahasiswa) Diupayakan agar

ditemukan hubungan antara 2 dan tiga variabel, secara signifikan, berlandaskan uji statistikal tertentu. Ini adalah variabel-variabel yang dipasang-pasangkan tanpa landasan teori yang benar. Maka bila ada suatu hubungan kausalitas yang signifikan, karena tanpa landasan teori yang “sound,” kajian itu bersifat spurious atau kosong. ……. (h. 11)

Dengan uraian ini, mudah-mudahan tidak lagi terjadi “asal pasang” saja, yang biasanya kini terjadi pada tingkatan S2, bahkan terus terjadi pada tingkat S3. “Asal pasang,” suatu hubungan antara X dengan Y tanpa dilandasi dengan teori hanya akan menghasilkan hubungan yang spurious,

atau suatu signifikansi tanpa dasar logika (h. 12)

Yang dimaksud oleh pakar Filsafat Ilmu dan Sosiologi Pertanian ini dengan hubungan yang spurious adalah bangunan pertanyaan antara X dengan Y tanpa teori yang menjelaskan mengapa X yang dihubungkan dengan Ydan bukan X1, adakah hubungan (kausal) antara X dengan Y, dan jika ada, bagaimana X

mempengaruhi Y atau bagaimana Y dipengaruhi oleh X, yaitu faktor-faktor yang oleh gurubesar senior UNPAD tersebut diberi nama contingent factors (variabel Z).

Pemasang-masangan sembarangan itu di beberapa kalangan akademik diikuti dengan pertanyaan: “Seberapa besar pengaruh X terhadap Y,” dan seterusnya, seperti telah diuraikan di atas. Hubungan kausal itu kemudian memang teruji, koefisien dan signifikansinya dapat dihitung menurut analisis statistik. Setiap konstruksi teoretik yang dimulai dari pemasang-masangan secara sembarangan dua atau lebih konsep atau variabel sebagai dasar bagi konstruksi kerangka pemikiran: X--->Yadalah spurious. Sifat spurious berarti 1. not genuine, authentic, or true; 3. having a similar appearance but a different structure. – synonim false, sham. Teruji, tetapi kosong, tidak sesuai dengan fakta. Kepalsuan itu terlihat jika pemikiran mengikuti alurpikir yang genuine. Alurpikir disebut

genuine jika penemuan Y disusul dengan pertanyaan berkerangka ?--->Y atau X--->? dan dijawab dengan teori. Teorilah yang menjelaskan apa saja

(X1X2X3Xn) yang menyebabkan Y atau apa saja yang dapat disebabkan oleh Y jika

fungsinya berubah dari variabel tergantung menjadi variabel bebas (X):

X--->Y1. Ada kemungkinan, dengan menggunakan teori tertentu model yang

ditemukan adalah kerangka yang berbeda ketimbangan model spurious. Dengan alurpikir yang spurious ditemukan X--->Y, sedangkan dengan alurpikir yang genuine ditemukan pertama, X1---->Y atau kedua, X--->Y1. Sudah barang

tentu, dalam kemungkinan kedua Y berubah menjadi X yang dapat menyebabkan apa saja (Y1Y2Y3Yn). Penggunaan alurpikir spurious sebagai instrumen

pembelajaran, dapat difahami, tetapi tidak dalam proses kebijakan!

Seperti telah dikemukakan di atas, “bertanya” adalah dasar ajar, fondasi pembelajaran. Filsafat bermula dari dan pada “tanya.” “Gayung (harus)

bersambut,” demikian peribahasa, dalam arti “penyambutan” bergantung pada “gayung” dan “pelemparannya.” Ketepatan merumuskan pertanyaan (soal) dan teknik penyampaiannya menunjukkan kadar intelektualitas, sementara ketepatan merumuskan jawaban dan teknik penanggapannya menunjukkan tingkat kearifan. Bukan hanya bentuk tetapi juga isi, motif dan tujuan tanya-jawab, agar tidak

terjerumus ke debat kusir belaka. Tanya-jawab yang berputar-putar tanpa

ujungpangkal seperti alurpikir lingkaran-setan-kemiskinan (the vicious circle of

poverty) tidak bermanfaat, walau dari panggung kedengarannya keren. Tanya- jawab harus terkendali; dikendalikan oleh kebutuhan akan konklusi yang tepat. Dialogues of Plato seperti “Apology,” “Crito,” “Phaedo,” “Symposium,” dan “Republic,” adalah contoh dialog yang sehat. Sudah barang tentu, dalam suatu batas, pada suatu tingkat, semakin sukar suatu pertanyaan dijawab

(diterangkan), semakin layakpertanyaan itu dipelajari menurut Metodologi. Perlu dikemukakan di sini bahwa semua pertanyaan layak diajukan, baik melalui pendekatan kualitatif, maupun kuantitatif. Pertanyaan “mengapa” misalnya, dapat dijawab melalui Metodologi Kualitatif dan juga Metodologi Kuantitatif. Perbedaan utamanya ialah, temuan kualitatif hanya berlaku untuk kasus yang bersangkutan, sedangkan temuan kuantitatif pada sampel, di bawah kondisi tertentu, berlaku untuk populasinya.

JAWABAN

bangunan struktursupra

PERTANYAAN

fondasi,bangunan strukturinfra

Gambar 45 Bangunan Pertanyaan dan Jawaban

Unit BOK terkecil adalah tulisan ilmiah formal (Gambar 39). Disertasi diambil sebagai contoh, berdasarkan anggapan bahwa rekonstruksi Disertasi adalah model yang merupakan bekal bagi seorang ilmuwan profesional dalam menjalankan fungsi pengembangan BOK sebagai ilmu, maupun pengusahaan BOK sebagai komoditi ilmiah.

Seperti telah disinggung, ada dua cara pendekatan rekonstruksi tulisan ilmiah formal: kualitatif dan kuantitatif (Gambar 37). Dua pendekatan itu terhubung pada fungsi fakta (empirik, “the quality of existing or of being real,” Babbie: “some phenomenon that has been observed”) dalam proses pemikiran manusia. Jika fakta difungsikan sebagai bahan baku atau bahan bangunan (pembentukan) teori, maka pendekatan yang ditempuh adalah kualitatif. Manakala fakta difungsikan sebagai alat untuk menguji (membuktikan) teori, maka pendekatannya adalah kuantitatif. Kedua pendekatan itu bergulir ibarat sebuah roda yang oleh Babbie disebut “the wheel of science:”

THEORIES EMPIRICAL GENERAL- HYPOTHESES IZATIONS OBSERVATIONS

Gambar 46 The Wheel of Science (Sumber: Earl Babbie)

Roda Babbie ini digunakan di sini sebagai model pemikiran. Pendekatan kuantitatif berawal pada pertanyaan yang terungkap dari dalam fakta, dijawab dengan teori, melalui hipotesis teori diuji dengan fakta pada sampel. Hasil analisis data pada sampel kemudian digeneralisasikan pada populasi. Dari sini teori terlihat,

didukung (sesuai dengan) atau tidak (tidak sesuai) oleh fakta. Pendekatan kualitatif bermula pada pertanyaan dan langsung dijawab dengan fakta hasil observasi. Melalui metodologi yang bervariasi dan rumit, antara lain adalah yang lazim disebut “grounded,” fakta diinterpretasi (reduksi, kategorisasi, dan triangulasi), direkonstruksi (induktif), --- empirical generalization --- sehingga terbentuklah konsep (baru) dan teori (baru). Contoh klasik tentang hal ini terdapat dalam Barney G. Glaser dan Anselm L. Strauss, The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research (1974), lihat Bab 36 Kybernologi (2003). Ada juga yang tidak langsung menjawabnya dengan fakta, melainkan dengan teori yang ada, seadanya. Inilah yang model kualitatif yang menggunakan hipotesis kerja

(working hypothesis).

Pemikiran Kybernologi yang bertujuan membangun empathic understanding,

mutual understanding (Verstehen) antar manusia, mengembangkan model “single- wheel of science” tersebut menjadi “double-wheel of science” (Gambar 47). Hubungan antar Verstehen kemudian diobservasi dari waktu ke waktu, dari ruang ke ruang, dengan menggunakan “working hypotheses,” (desain observasi)

ditafsirkan, direkonstruksi, dan terbentuklah konsep atau teori baru. Gambar 47 menunjukkan bahwa pada gilirannya roda kuantitatif bergerak dari F1 ke

THEORIES EMPIRICAL GENERAL- HYPOTHESES IZATIONS F1 FAKTA F2 INTERPRETASI WORKING REKONSTRUKSI HYPOTHESES

Dalam dokumen Kybernologi dan Metodologi Metodologi Il (Halaman 77-81)

Dokumen terkait