• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lingkungan Hidup

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM (Halaman 57-60)

2008 2009 2010 2011 SULAWESI SELATAN 52.96 53.67 62.46 63

8. Lingkungan Hidup

Capaian kinerja Pembangunan Lingkungan Hidup Kabupaten Bone dalam kurun waktu lima tahun (2008-2012) menunjukkan peningkatan, baik dalam pencegahan pencemaran air, tanah maupun udara dan pencegahan kerusakan lingkungan; penghijauan dalam rangka pelestarian sumber-sumber mata air; perlindungan sumberdaya alam dan lingkungan; pelestarian ekosistem pesisir; pengembangan ruang terbuka hijau; maupun pengelolaan sampah melalui sistem 3R (Reuse, Reduce and Recycle). Cakupan pelayanan pencegahan pencemaran air pada tahun 2012 mencapai 75,00%, masih lebih rendah dari target SPM sebesar 100% pada tahun 2013. Capaian pelayanan tindak lanjut pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup telah mencapai 100% pada tahun 2012, lebih tinggi dari target SPM sebesar 90%. Kondisi serupa juga terjadi pada indikator pemantauan pencemaran status mutu air yang telah mencapai 100%. Sementara itu cakupan penegakan hukum lingkungan baru mencapai 67,00% pada tahun 2012, disebabkan beberapa kasus masih dalam proses hukum. Terkait pelayanan pencegahan pencemaran udara, Pelayanan pencegahan pencemaran udara dari sumber tidak bergerak capaiannya masih rendah, yaitu baru mencapai 22,00% pada tahun 2012, jauh lebih rendah dari target SPM sebesar 100%.

Penghijauan dalam rangka pelestarian sumber-sumber mata air capaiannya masih rendah, terlihat dari indikator cakupan penghijauan wilayah rawan longsor dan Sumber Mata Air sebesar 28,00% pada tahun 2012. Terkait perlindungan sumberdaya alam dan lingkungan, cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL di Kabupaten Bone mencapai sebesar 100%, sedangkan

cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan UKL-UPL masih kurang, yaitu baru mencapai sebesar 60,00%.

Kinerja pelestarian ekosistem pesisir di Kabupaten Bone terlihat dari luas kerusakan kawasan mangrove yang cukup tinggi, yaitu mencapai sebanyak 745,00 hektar pada tahun 2012. Terkait ketersediaan ruang terbuka hijau, capaian persentase luas Ruang Terbuka Hijau wilayah perkotaan di Kabupaten Bone sebesar 15,00 ha. Sampai dengan tahun 2012 pelayanan informasi status kerusakan lahan dan/atau tanah untuk produksi biomassa belum diketahui capaiannya, karena belum ada penetapan kawasan produksi biomassa. Terkait pengelolaan sampah, persentase volume sampah perkotaan yang terkelola melalui 3R sebesar 3,00%.

Perkembangan kinerja pelayanan Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Bone dalam kurun waktu lima tahun (2008-2012) dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.53

Kinerja Pelayanan Badan Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Bone Tahun 2008-2012

No Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD

Realisasi Capaian Tahun ke-

2008 2009 2010 2011 2012

1 Pelayanan pencegahan pencemaran air (%)

55,00 60,00 56,00 71,00 75,00 2 Pelayanan tindak lanjut pengaduan

masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup (%)

100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

3 Pencemaran status mutu air (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 4 Penegakan hukum lingkungan (%) 60,00 66,67 100,00 80,00 67,00 5 Pelayanan pencegahan pencemaran

udara dari sumber tidak bergerak (%)

20,00 20,00 20,00 21,00 22,00 6 Cakupan penghijauan wilayah rawan

longsor dan Sumber Mata Air (%)

4,00 10,00 16,00 22,00 28,00 7 Cakupan pengawasan terhadap

pelaksanaan AMDAL (%)

100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 8 Cakupan pengawasan terhadap

pelaksanaan UKL-UPL (%)

40,00 45,00 50,00 55,00 60,00 9 Luas kerusakan kawasan mangrove

(ha)

495,00 545,00 595,00 695,00 745,00 10 Persentase luas Ruang Terbuka Hijau

wilayah perkotaan (ha)

3,00 6,00 9,00 12,00 15,00 11 Pelayanan informasi status kerusakan

lahan dan/atau tanah untuk produksi biomassa (%)

0 0 0 0 0

12 Persentase volume sampah perkotaan yang terkelola melalui 3R (%)

0,50 1,00 1,50 2,00 3,00 Sumber : BLHD Kabupaten Bone, Tahun 2013

Terdapat beberapa tantangan atau ancaman yang dihadapi berkaitan dengan pembangunan lingkungan hidup di Kabupaten Bone. Pertama ancaman pencemaran lingkungan akibat peningkatan aktivitas perekonomian masyarakat, diantaranya oleh aktivitas industri, aktivitas rumah tangga (domestik), dan

pertanian dengan adanya pemakaian pupuk anorganik dan pestisida. Pembangunan industri menghasilkan limbah cair, gas dan padatan yang dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan air, udara dan tanah. Kedua, degradasi hutan, lahan dan sumber-sumber mata air. Kerusakan lahan di Kabupaten Bone ditandai dengan semakin luasnya lahan-lahan yang tidak produktif atau lahan kritis yang diakibatkan oleh pembukaan lahan pada daerah kemiringan, penambangan bahan galian secara liar (Penambangan Tanpa Ijin/PETI), dan pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air. Ketiga, degrasi pesisir dan laut yang ditandai oleh adanya kerusakan ekosistem mangrove. Kawasan mangrove di pesisir Teluk Bone Kabupaten Bone sepanjang 138 km, sebagian besar mengalami kerusakan yang parah. Kerusakan tersebut disebabkan oleh konversi hutan mangrove menjadi areal tambak, permukiman/persawahan, dan penggunaan lainnya. Keempat perubahan iklim yang dapat mempengaruhi kondisi lingkungan hidup dan dapat menjadi ancaman terjadinya bencana alam.

9. Pertanahan

Pembangunan urusan pertanahan mencakup administrasi pertanahan, penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah, penyelesaian konflik-konflik pertanahan, dan pengembangan sistem informasi pertanahan. Pembangunan pertanahan diarahkan untuk menjamin kepastian hukum akan penggunaan tanah untuk berbagai kepentingan, baik yang bersifat kepentingan pribadi, keperluan usaha, maupun kepentingan umum.

Luas lahan bersertifikat di Kabupaten Bone pada tahun 2008-2012 mengalami peningkatan dari sebanyak 75.598 bidang pada tahun 2008, menjadi 81.825 bidang pada tahun 2012. Persentase luas petak lahan yang bersertifikat pada tahun 2008 sebesar 12,08%, tahun 2012 meningkat menjadi 13,07%. Jumlah petak tanah bersertifikat hak milik mengalami peningkatan dari sebanyak 2.057 sertifikat pada tahun 2008, menjadi 3.923 petak pada tahun 2012. Tanah bersertifikat hak pakai juga meningkat dari sebanyak 1 petak pada tahun 2008 menjadi sebanyak 7 petak pada tahun 2012. Sementara itu petak tanah Hak Guna bangunan mengalami penurunan dari sebanyak 40 petak pada tahun 2008 menjadi sebanyak 2 petak. Rincian indikator kinerja terlihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 2.54

Indikator Kinerja Urusan Pertanahan Kaupaten Bone

No Indikator 2008 2009 2010 2011 2012

a. Luas lahan bersertifikat (ha/bidang)

75.598 77.848 79.958 80.248 81.825

Persentase luas lahan bersertifikat (%)

12,08 12,44 12,77 12,82 13,07

b. Jumlah petak lahan bersertifikat (petak)

 Hak milik 2.057 1.373 2.047 2.140 3.923

 Hak Pakai 1 3 6 160 7

 Hak Guna Bangunan 40 74 43 8 2

c. Penyelesaian kasus tanah Negara

0 0 1 1 2

d. % Penyelesaian izin lokasi

0 0 0 0 0

Jumlah tanah asset pemerintah Kabupaten Bone cukup banyak, namun yang tersretifikasi masih relative sedikit. Gambaran jumlah tanah Pemerintah Kabupaten Bone yang bersertifikai adalah sebagai berikut:

Tabel 2.55

Perkembangan Jumlah Asset Pemerintah Kabupaten Bone Yang sudah bersertifikat

Tahun 2008 – 2012

No. Tahun

Jumlah tanah Asset Pemda (persil)

Jumlah tanah Asset Pemda yang bersertifikat

(persil) Persentase (%) 1. 2008 1714 232 13,54 2. 2009 1482 0 0 3. 2010 1482 150 10,12 4. 2011 1332 0 0 5. 2012 1332 0 0

Sumber: Bagian Keagrariaan Setda Kabupaten Bone

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM (Halaman 57-60)

Dokumen terkait