2008 2009 2010 2011 SULAWESI SELATAN 52.96 53.67 62.46 63
3) Pendidikan Menengah
Gambaran Kondisi sarana dan prasarana baru SMA/SMK/MA di Kabupaten Bone selama kurun waktu 2008 – 2012 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.26
Kondisi Sarana dan prasarana SMA/SMK/MA Di Kabupaten Bone Tahun 2008 – 2012
No Sarana dan Prasarana Tahun
2008 2009 2010 2011 2012
1 Rasio Rombel / Kelas 1 : 1 (%) 1,91 1,63 1,46 1,48 1,68 2 Setiap sekolah memiliki ruang
guru lengkap dengan prabotnya (%)
62,96 81,48 85,19 88,89 92,59
3 Setiap sekolah memiliki perpustakan lengkap dengan prabotnya (%)
85,19 88,89 90,74 94,44 94,44
4 Setiap sekolah memiliki Lab IPA lengkap dengan prabotnya (%)
77,78 79,63 79,63 81,48 81,48 5 Setiap sekolah memiliki Lab
Komputer lengkap dengan prabotnya (unit)
3,70 11,11 27,78 48,15 59,26
6 Setiap ruang kelas dalam kondisi baik dan layak dipergunakan (%)
48,15 51,85 57,41 64,81 68,52
No Sarana dan Prasarana Tahun
2008 2009 2010 2011 2012
matapelajaran 1:1 (%) 8 Setiap sekolah memiliki alat
peraga IPA (%)
29,63 48,15 53,70 62,96 70,37 9 Setiap Sekolah memiliki 200
judul buku pengayaan dan 20 buku referensi(%)
44,44 51,85 53,70 59,26 66,67
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Bone 2013
Tabel 2.27
Rasio Siswa/kelas, Siswa /Guru, Siswa Sekolah, ruang kelas/Rombel SMA/SMK/MA Di Kabupaten Bone Tahun 2008 – 2012
No. Uraian Target
SPM
Tahun
2008 2009 2010 2011 2012
1 Rasio siswa / kelas 1:36 38 43 37 35 38
2 Rasio Guru / siswa 1:24 14 14 14 13 13
3 Rasio R. Kls / rombel 1:1 1:11 1:03 1:13 1:13 1:13 Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, 2013
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa secara rata-rata SMA/SMK/MA di kabupaten Bone kelebihan murid. Dengan kata lain Jumlah sekolah SMA/SMK/MA di Kabupaten Bone masih kurang. Sedangkan dari rasio guru /siswa terlihat di Kabupaten Bone kelebihan guru pada jenjang pendidikan SMA/SMK/MA.
b Keterjangkauan Pelayanan Pendidikan
Penyelenggaraan pelayanan pendidikan harus dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat baik dari aspek biaya maupun geografis. Keterjangkauan diukur melalui beberapa indikator yaitu Angka Partisapasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Melanjutkan (AM) pada tiap jenjang pendidikan. Gambaran tingkat keterjangkauan pelayanan pendidikan masing-masing jenjang pendidikan adalah sebagai berikut:
a.) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Gambaran tingkat pelayanan pendidikan dalam jenjang pendidikan PAUD diukur melalui indikator APK dan APM PAUD. Capaian APK dan APM PAUD terlihat pada tabel berikut:
Tabel 2.28
Jumlah Murid Tingkat PAUD/TK Kabupaten Bone tahun 2008 – 2012
No Tahun Jumlah 1 2008 17.000 2 2009 18.829 3 2010 19.854 4 2011 22.729 5 2012 22.402
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, 2013
b.) Pendidikan Dasar
APK dan APM Pendidikan Dasar yaitu SD dan SMP di kabupaten Bone relatif rendah bila dibandingkan dengan capaian provinsi maupun nasional. Gambaran capaian APK dan APM pendidikan dasar selama kurun waktu 2008 – 2012 terlihat dari tabel berikut:
Tabel 2.29
APK dan APM Jenjang Pendidikan SD/MI//Paket A dan SMP/MTs/Paket B Kabupaten Bone tahun 2008 – 2012
No Uraian Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 1 SD/MI (%) APK (%) 115,06 115,11 115,16 110,75 107,29 APM (%) 98,79 97,68 97,77 98,09 99,21 2 SMP/MTs APK (%) 86,86 92,51 92,19 91,97 89,83 APM (%) 67,94 68,37 76,08 76,25 80,12 Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Bone 2012
Tabel di atas menggambarkan bahwa APK dan APM SD/MI/Paket A dan SMP/MTs/Paket B selama kurun waktu 2008 – 2012 mengalami peningkatan. Sebagaimana target capaian APK dan APM jenjang pendidikan SD/MI dan SMP/MTs yang tercantum dalam Renstra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2010 – 2014 capaian APK dan APM SD/MI/Paket A di atas target Renstra Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sedangkan APK dan APM jenjang pendidikan SMP/MTs/Paket B Kabupten Bone masih di bawah APK dan APM Nasional. Target APK dan APM jenjang pendidikan SD/MI/Paket A tingkat nasional sebesar 100,00% APK dan 95,53% APM sedangkan untuk SMP/MTs/Paket B sebesar 95% APK dan 90% APM.
Data tersebut menggambarkan bahwa di Kabupaten Bone tingkat partisipasi penduduk usia sekolah SMP relatif rendah. Masih banyak penduduk usia sekolah SMP/MTs yaitu 13 – 15 tahun tidak dapat menikmati pendidikan di SMP.
Angka melanjutkan ke jenjang pendidikan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Angka Melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP dan SMA selama kurun waktu 2008 – 2012 terihat pada tabel berikut:
Tabel 2.30
Angka Melanjutkan Ke SMP/MTs dan ke SMA/SMK Di Kabupaten Bone tahun 2008 – 2011
No Uraian 2008 2009 2010 2011 2012
1 Angka Melenjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs (%)
82,36 91,11 90,01 92,79 93,6 2 Angka Melanjutkan (AM) dari
SMP/MTs ke SMA/SMK/MA (%)
80,41 85,85 89,75 91,42 92,2 Sumber Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Tahun 2012
Tabel diatas menggambarkan lulusan SD yang melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP selama kurun waktu 2008 – 2012 fluktuatif, namun apabila dibandingkan dengan tahun 2008 cenderung meningkat. Pada tahun 2012 jumlah lulusan SD/MI yang melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP/MTs sebesar 93,6%. Hal ini berarti pada tahun 2012 lulusan SD/MI yang tidak melanjutkan ke SMP/MTs sebesar 6,4%. Angka melanjutkan ke jenjang pendidikan SMA/SMK/MA lebih rendah dibandingkan angka melanjutkan ke SMP/MTs. Pada tahun 2012 angka melanjutkan ke jenjang pendidikan SMA/SMK/MA sebesar 92,2%. Dengan demikian banyak lulusan SMP/MTs di Kabupaten Bone yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sebesar 7,8%.
Angka Putus sekolah pada pendidikan dasar relatif cukup tinggi. Target yang ditetapkan dalam Renstra kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan angka putus sekolah untuk Pendidikan Dasar ditargetkan sebesar 0,12% untuk SD/MI dan 0,22 untuk SMP/MTs. Di Kabupaten Bone Angka Putus sekolah untuk jenjang pendidikan dasar pada tahun 2012 mencapai 0,13% untuk SD/MI. Dengan demikian angka putus sekolah di Kabupaten Bone termasuk kategori rendah pada jenjang pendidikan SD/MI. Perkembangan APS jenjang pendidikan Dasar selama kurun waktu 2008 – 2012 terlihat pada tabel berikut:
Tabel 2.31
Angka Putus Sekolah
Jenjang Pendidikan SD/MI dan SMP/MTs Kabupaten Bone Tahun 2008 - 2012
No INDIKATOR 2008 2009 2010 2011 2012
1 Angka Putus Sekolah (APS)
SD/MI (%) 0,59 0,32 0,21 0,17 0,13
2 Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs (%)
1,54 0,69 0,44 0,37 0,18 Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Tahun 2012
c.) Pendidikan Menengah
APK dan APM Pendidikan menengah yaitu SMA/SMK/MA di kabupaten Bone relatif rendah. Gambaran capaian APK dan APM pendidikan dasar selama kurun waktu 2008 – 2012 terlihat dari tabel berikut:
Tabel 2.32
APK dan APM Jenjang Pendidikan SMA/SMK/MA/Paket C Kabupten Bone tahun 2008 – 2012
NO. Uraian
Tahun
1. APK 52,71 56,74 58,84 60,97 63,54
2. APM 35,83 43,52 46,52 53,32 54,21
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Tahun 2012
Tabel di atas menggambarkan bahwa APK dan APM SMA/SMK/MA/Paket C selama kurun waktu 2008 – 2012 mengalami peningkatan. Capaian APK dan APM SMA/SMK/MA/Paket C di Kabupten Bone masih di bawah APK dan APM Nasional. Target APK dan APM jenjang pendidikan SMA/SMK/MA/paket C tingkat nasional sebesar 85% APK dan 80% APM. Data tersebut menggambarkan bahwa di Kabupaten Bone tingkat partisipasi penduduk usia 16 – 18 relatif rendah. Masih banyak penduduk usia sekolah SMA yang tidak menempuh pendidikan di SMA.
Angka Putus sekolah pada pendidikan menengah relatif cukup tinggi. Target yang ditetapkan dalam Renstra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebesar kurang dari 1%, Di Kabupaten Bone Angka Putus sekolah untuk jenjang pendidikan menengah pada tahun 2012 mencapai 0,04%. Dengan demikian angka putus sekolah di Kabupaten Bone termasuk kategori sangat baik. Perkembangan APS jenjang pendidikan menengah selama kurun waktu 2008 – 2012 terlihat pada tabel berikut:
Tabel 2.33
Angka Putus Sekolah
Jenjang Pendidikan SMA/SMK/MA/Paket C Kabupten Bone tahun 2008 – 2012
Tahun APS 2008 0,09% 2009 0,71% 2010 0,53% 2011 0,22% 2012 0,04%
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, 2012
c Kualitas Pelayanan Pendidikan
Kualitas pelayanan pendidikan akan tercapai apabila satuan pendidikan memenuhi standar sebagaimana yang ditetapkan dalam PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Delapan standar tersebut merupakan
bench mark agar sebuah satuan pendidikan dapat melaksanakan proses
pembelajaran dengan baik. Upaya pemerintah untuk mendorong satuan pendidikan memenuhi standar tersebut sudah sejak lama dilakukan namun belum memperoleh hasil yang maksimal.
Pelayanan pendidikan yang berkualitas menjadi harapan masyarakat selain juga harus dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Kualitas pendidikan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan diukur melalui beberapa indikator yaitu angka kelulusan, rasio guru terhadap murid dan kualitas. Gambaran kualitas pelayanan pendidikan di Kabupaten Bone terlihat pada tabel berikut:
Tabel 2.34
Capaian Indikator Kualitas Pelayanan Pendidikan Kabupaten Bone Tahun 2008 - 2012
No Indikator 2008 2009 2010 2011 2012 SD/MI
1 Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV (%)
28,27 38,25 50,92 53,36 51,14 2 Guru yang telah bersertifikasi
(%)
17,33 27,56 29,91 42,73 62,72 3 Kepala Sekolah berkulifikasi S-1 72,23 75,53 78,26 81,13 82,13 4 Kepala Sekolah nyang memiliki
sertifikasi Pendidik
65,2 68,21 69,78 70,23 71,6
SMP/MTs
1 Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV/S2 (%)
84,59 84,36 95,86 95,01 96,11 2 Guru yang telah bersertifikasi
(%)
36,43 57,36 60,34 63,28 64,45 3 Kepala Sekolah berkulifikasi S-1 100 100 100 100 100 4 Kepala Sekolah nyang memiliki
sertifikasi Pendidik
23,48 56,78 63,94 71,43 94,56
SMA/SMK
1 Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV (%)
50,76 67,01 79,51 89,01 92,42 2 Guru yang telah bersertifikasi
(%)
40,61 49,08 50,01 55,20 57,94 3 Kepala Sekolah berkulifikasi S-1 100 100 100 100 100 4 Kepala Sekolah nyang memiliki
sertifikasi Pendidik
86,49 86,49 93,47 93,47 93,47 Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Tahun 2012
2. Kesehatan
Indikator utama pembangunan kesehatan adalah meningkatnya usia harapan hidup (UHH), menurunnya angka kematian bayi (AKB), angka kematian ibu melahirkan (AKI), dan presentase gizi buruk balita. UHH di Kabupaten Bone pada tahun 2011 sebesar 70 tahun meningkat dari tahun 2010 sebesar 69,73 tahun, tahun 2009 sebesar 69,4 tahun dan tahun 2008 = 69,0 tahun, sedangkan AKB di Kabupaten Bone cenderung mengalami penurunan dari tahun 2008 – 2012. Pada tahun 2008 AKB sebesar 3,46 per 1.000 kelahiran hidup menurun pada tahun 2012 menjadi 3,23 per 1.000 kelahiran hidup.
Gambar 2.13
Analisis Relevansi Angka Kematian Bayi Kabupaten Bone tahun 2008 – 2011
Sumber : Data Dinas Kesehatan Kab. Bone
Gambar 2.14
Analisis relevansi Angka Kematian Balita (AKABA) Kabupaten Bone tahun 2008 - 2011
Sumber : Data Dinas Kesehatan Kab. Bone
Grafik 2.15
Sumber : Data Dinas Kesehatan Kab. Bone
Angka Kematian Ibu (AKI) dari tahun 2008 – 2012 cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 AKI Kabupaten Bone sebesar 24,2 per 100.000 kelahiran hidup meningkat pada tahun 2012 menjadi 29,32 per 100.000 kelahiran hidup. Tingginya kasus kematian ibu melahirkan disebabkan oleh terlambatnya penanganan pada ibu hamil yang mengalami komplikasi (jantung, hipertensi dan DM).
Gambar 2.16
Analisis Relevansi Angka Kematian Ibu Melahirkan Kabupaten Bone tahun 2008 - 2011
Sumber : Data Dinas Kesehatan Kab. Bone Grafik 2.17
Perkembangan AKI per 100.000 kelahiran hidup Kabupaten Bone Tahun 2008 – 2012 3,46 4,03 3,37 3,7 3,23 3 3,2 3,4 3,6 3,8 4 4,2 2008 2009 2010 2011 2012 AKB per 1.000
Sumber : Data Dinas Kesehatan Kab. Bone
Persentasi gizi buruk balita di Kabupaten Bone mengalami penurunan dari tahun 2010 – 2012. Pada tahun 2010 persentase gizi buruk balita pada tahun 2010 sebesar 0,58% menurun pada tahun 2012 menjadi 0,05%, sedangkan gizi kurang pada tahun 2010 sebesar 5,05% menurun menjadi 0,15%.
Berdasarkan hasil evaluasi pencapaian indikator SPM Bidang Kesehatan (Permenkes 741 tahun 2008), sebagian besar target telah tercapai pada tahun 2012. Terdapat 3 capaian yang belum tercapai yaitu cakupan ibu hamil komplikasi yang ditangani, cakupan neo-natal dengan komplikasi yang ditangani, cakupan kunjungan balita, cakupan Desa dengan UCI (Universal Child Immunization), cakupan penemuan AFP rate per 10.000 penduduk< 15 tahun, dan cakupan penemuan pasien baru TB BTA posistif.
Tabel 2.35
Kinerja Pencapaian Standar Pelayanan Dinas Kesehatan Tahun 2008 -2012
NO Indikator SPM Tahun
2008 2009 2010 2011 2012
1 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4
92,27 94,23 98,78 99,96 98,01 2 Cakupan Ibu Hamil dengan
komplikasi yang ditangani
51,96 15,3 51,3 71,74 61,28 3 Cakupan pertolongan
persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan
75,65 76,63 88,17 90,29 93,43
4 Cakupan pelayanan ibu nifas
75,65 78,63 88,17 90,29 93,43 5 Cakupan neonatal dengan
komplikasi yang ditangani
48,34 69,97 11,4 71,57 62,69 6 Cakupan kunjungan bayi 80,91 85,27 94,94 86,05 96,83 7 Cakupan desa/kelurahan
dengan UCI (Universal Child
89,52 89,79 88,17 89,78 89,79 30,05 24,2 21,51 16,09 29,32 0 5 10 15 20 25 30 35 2008 2009 2010 2011 2012
NO Indikator SPM Tahun
2008 2009 2010 2011 2012
Immunization)
8 Cakupan pelayanan anak balita
46,43 47,01 19,07 49,65 55,92 9 Cakupan pemberian
makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24 bulan keluarga miskin
0 0 100 0 0
10 Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan
100 100 100 100 100
11 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan sederajat
8,07 40,27 78,63 16,26 95,01
12 Cakupan peserta KB aktif 66,04 72,2 54,39 85,78 63,47 13 Cakupan penemuan dan
penanganan penderita penyakit
a. AFP rate per 10.000 penduduk< 15 tahun
2,31 1,39 0,93 1,39 0,93 b. Penemuan penderita
Pneumonia balita
100 100 2,83 7,89 0
c. Penemuan pasien baru TB BTA posistif 30,61 30,54 43,4 56,87 49,12 d. Penderita DBD yang ditangani 100 100 0,11 100 100 e. Penemuan penderita Diare 26,43 10,41 0,54 100 89,78 14 Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin 0 66,52 52,59 26,90 4,58 15 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin
0 1,30 0,78 0,09 100
16 Cakupan pelayanan kesehatan darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan (RS) di Kab./Kota 0 95,12 100 30,59 0 17 Cakupan desa/kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi< 24 jam 100 100 100 100 100
18 Cakupan Desa Siaga Aktif 7,53 0 59,14 67,74 100 Sumber : Data Olahan Dinas Kesehatan Kabupaten Bone, 2013
Upaya pendukung peningkatan kinerja pelayanan kesehatan adalah upaya Pembinaan Kesehatan Lingkungan pada kegiatan Pemeriksaan Tempat-Tempat Umum (TTU), Penyediaan air bersih dan penggunaan Jamban Keluarga. TTU yang diperiksa di Kabupaten Bone relatif meningkat setiap tahunnya, sedangkan
pemeriksaaan pada sarana air bersih relatif kecil, dari tahun 2008 – 2012 sebanyak 40,97%-58,53%.
Penggunaan Jamban Keluarga (Jaga) masyarakat Bone mengalami peningkatan namun kondisinya masih dibawah target Indikator Indonesia Sehat. Penggunaan Jaga pada tahun 2012 hanya 48,70% dengan target 65%.
Grafik 2.18
Perkembangan Sarana Sanitasi Kabupaten Bone Tahun 2008 – 2012
Sumber : Data Olahan Dinas Kesehatan Kabupaten Bone, 2013
Sumber daya Kesehatan salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas, yang diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Ketersediaan sumber daya kesehatan sesuai dengan kebutuhan baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Sumber daya kesehatan yang diperlukan didalam pembangunan kesehatan antara lain tenaga,dana, sarana dan prsarana serta teknologi.
Sesuai Peraturan Pemerintah RI No. 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan yang termasuk tenaga kesehatan adalah tenaga medis meliputi dokter dan dokter gigi. Tenaga keperawatan meliputi tenaga perawat dan bidan. Tenaga kefamasian meliputi apoteker, analis farmasi, asisten apoteker. Tenaga Kesehatan Masyarakat meliputi epidemologi kesehatan, entomologi kesehatan, mikrobiologi kesehatan, penyuluh kesehatan, administrasi keseahtan serta tenaga saitasi. Tenaga Gizi meliputi tenaga nutrisionis, dan dietisien. Tenaga keterapian fisik meliputi fisioterafis, okuterapis, dan terapi wicara. Tenaga keteknisan medis meliputi radiografis, radioterapis, teknisi gigi, teknis elektromedis, analisis kesehatan, refraksionis optisien, otorik prostetik, teknis transfusi dan perekam medis serta tenaga non kesehatan.
Berikut ini sumber daya manusia yang dimiliki oleh Kabupaten Bone yang tersebar di Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit serta sarana kesehatan yang lain:
Tabel 2.36
Persebaran Tenaga Kesehatan Menurut Unit Kerja
74,49 85,42 80,07 72,80 86,12 40,97 51,11 43,80 50,30 48,70 35,07 35,94 49,67 59,00 58,53 - 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 100,00 2008 2009 2010 2011 2012 TTU SAB JAGA
Kabupaten Bone Tahun 2012 No Tenaga Kesehatan PUSKESMAS (Termasuk Pustu, Polindes & Balai Kesehatan Gigi) Rumah Sakit Institusi Diklat/ Diknakes Sarana Kesehatan Lain Dinas Kesehatan 1 Medis 45 29 0 0 3 2 Perawat Dan Bidan 335 139 0 0 2 3 Kefarmasian 9 15 0 0 8 4 Kesehatan Masyarakat 97 3 0 0 41 5 Sanitarian 10 0 0 0 5 6 Ahli Gizi 25 9 0 0 5 7 Keteknisan Gizi 0 0 0 0 0 T O T AL 521 195 0 0 64
Sumber : Sub Bagian Umum dan Perencanaan (Dinkes Bone)