• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Ruang Lingkup

Ruang lingkup penelitian ini membahas tentang evaluasi perangkat lunak otomasi perpustakaan dengan pendekatan functionality, reliability, efficiency, maintaibility, portability, dan usability pada Senayan Library Management System versi 8 Akasia dan Integrated Library System versi 3.0.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Otomasi Perpustakaan

Menurut Kadir (2015, 61) “sistem adalah sekumpulan elemen yang saling terkait atau terpadu yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan”. Setiap sistem memiliki tujuan (goal), entah hanya satu atau mungkin banyak. Tujuan inilah yang menjadi pemotivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi tak terarah dan tak terkendali.

Sistem adalah sekelompok komponen yang saling berhubungan, bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama dengan menerima input serta menghasilkan output dalam proses transformasi yang teratur (O’brien 2005, 29).

Menurut Kadir (2015,62) suatu sistem mempunyai elemen-elemen yang membentuknya yaitu:

1. Tujuan, 2. Masukan.

3. Keluaran, 4. Proses,

5. Mekanisme pengendalian, dan 6. Umpan balik.

Berdasarkan penjabaran pengertian sistem di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sistem adalah bentuk jaringan kerja yang memiliki komponen saling mendukung dan berkerjasama dalam mencapai suatu sasaran atau tujuan tertentu.

Istilah dari otomasi, automasi dan otomatisasi adalah sama. Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia (2000, 805) “otomatisasi dalam pengertiannya adalah penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin yang secara otomatis

melakukan dan mengatur pekerjaan sehingga tidak memerlukan lagi pengawasan manusia”.

Sedangkan menurut Sulistyo-Basuki (1994,95) pengertian otomasi adalah

“konsep atau hasil membuat swatindak atau swakendali dengan menghilangkan campur tangan manusia dalam proses tersebut”.

Dari beberapa pengertian di atas penulis memberikan suatu kesimpulan bahwa otomasi adalah suatu proses kegiatan yang penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin untuk mengerjakan kegiatan rutin sehingga hanya membutuhkan sedikit campur tangan dari manusia.

Dalam konteks perpustakaan, otomasi adalah cara untuk membuat sistem pengelolaan perpustakaan secara otomatis dengan menggunakan bantuan teknologi komputer. Sistem otomatisasi menurut Pendit (2008, 222) dijelaskan sebagai berikut:

Sistem otomatisasi (library automation system) adalah seperangkat aplikasi komputer untuk kegiatan di perpustakaan terutama bercirikan penggunaan pangkalan data ukuran besar dengan kandungan cantuman tekstual yang dominan dan dengan fasilitas utama dalam hal menyimpan, menemukan dan menyajikan informasi.

Sedangkan menurut Sulistyo Basuki (1995, 96) automasi perpustakaan yaitu:

Automasi perpustakaan adalah salah satu aspek pemanfaatan teknologi informasi untuk kepentingan perpustakaan mulai dari pengadaan pengatalogan hingga ke jasa pelayanan informasi informasi bagi pembaca.

Atau sering juga disebut dengan istilah komputerisasi perpustakaan.

Dari berbagai definisi si atas dapat ditarik kesimpulan bahwa definisi otomasi perpustakaan adalah pemanfaatan perangkat teknologi informasi yang meliputi perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) dalam rangka

melaksanakan tugas perpustakaan mulai dari pengadaan bahan pustaka, pengolahan, pelayanan dan penyusunan laporan.

2.1.1 Alasan Otomasi Perpustakaan

Setiap perpustakaan mempunyai alasan-alasan tertentu untuk memudahkan kinerjanya dari mengalihkan sistem manual menjadi suatu sistem yang berbasis komputer. Walaupun alasan-alasan tersebut ada yang bersifat spesifik untuk perpustakaan tertentu, tetapi biasanya terdapat beberapa alasan yang berlaku umum untuk semua perpustakaan. Menurut Saleh (1996) alasan mengapa otomasi diperlukan pada perpustakaan adalah sebagai berikut:

1. Adanya tuntutan mutu layanan perpustakaan

Tuntutan para pemakai perpustakaan saat ini sangat beragam pemakai yang datang ke perpustakaan selain meminjam buku, mereka juga mencari layanan-layanan lain seperti layanan internet, layanan audio visual, layanan multimedia dan lain-lain. Selain itu pemakai juga menginginkan layanan aktif perpustakaan berupa layanan penelusuran secara online dan layanan penelusuran CD ROM dan lain-lain.

2. Adanya tuntutan terhadap efisiensi waktu

Sebelum adanya automasi perpustakaan, pemakai mungkin sudah puas dengan layanan penelusuran artikel bila artikel-artikel dapat ditemukan, sekalipun layanan tersebut memakan waktu dampai berminggu-minggu. Sebagai pemakai menuntut layanan yang tepat.

3. Keragaman media informasi yang dikelola

Media informasi yang ada di perpustakaan saat ini tidak hanya terbatas kepada buku dan jurnal ilmiah saja. Informasi-informasi lain seperti multimedia, audio visual kini banyak dikoleksi oleh perpustakaan.

4. Kebutuhan akan ketepatan layanan informasi

Selain kecepatan dalam memperoleh informasi, pemakai juga membutuhkan ketepatan informasi yang didapatkannya dari perpustakaan.

Pertanyaan-pertanyaan tentang informasi secara spesifik harus bisa dijawab secara spesifik pula. Dengan bantuan teknologi komputer pertanyaan-pertanyaan ini bisa dijawab dengan cepat dan tepat.

Sedangkan faktor pengerak dari otomasi perpustakaan menurut Arif (2003, 1) adalah:

1. Kemudahan mendapatkan produk teknologi informasi

2. Harga semakin terjangkau untuk memperoleh produk teknologi informasi

3. Kemampuan dari teknologi informasi 4. Tuntutan layanan masyarakat serba “klik”.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa alasan yang menyebabkan perpustakaan mengalihkan sistemnya ke otomasi perpustakaan adalah untuk mengembangkan suatu sistem perpustakaan berbasis komputer, memberikan layanan yang lebih baik kepada pengguna perpustakaan dengan mengefisiensikan dan memudahkan pekerjaan perpustakaan, memudahkan kinerja pustakawan dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mencari informasi.

Pustakawan dapat mengalihkan kerjanya ke bidang lain karena pekerjaan sudah dialihkan ke komputer, fungsi pustakawan hanya mengontrol kegiatannya. Untuk meningkatkan citra perpustakaan serta pengembangan infrastruktur nasional, regional dan global.

2.1.2 Fungsi dan Tujuan Automasi Perpustakaan

Otomasi perpustakaan diperlukan untuk meningkatkan mutu layanan kepada pengguna dan dapat meningkatkan kemampuan perpustakaan agar dapat melakukan pertambahan koleksi, transaksi, dan resource sharing dengan perpustakaan lainnya.

Fungsi otomasi pada perpustakaan menurut Sukirno (2008) yang dikutip oleh Sari (2012, 91):

1. Fungsi pengganti sebagai pekerjaan manual menjadi otomasi

2. Fungsi pengetahuan pekerjaan rutin secara otomatis, sehingga fungsi pengaturan manusia berkurang

3. Fungsi informasi, fungsi yang didasarkan pada komunikasi data jaringan kerja komputer dengan berbagai jenis bahasa

4. Fungsi komputasi didasarkan atas data

5. Fungsi koordinasi yaitu fungsi berdasarkan pada sistem informasi manajemen, pengajaran berbantu komputer, pelaksanaan penelitian dan membuat model.

Menurut Harmawan (2009, 6-7) tujuan otomasi perpustakaan adalah sebagai berikut:

1. Mengatasi keterbatasan waktu

2. Mempermudah akses informasi dari berbagai pendekatan minsalnya dari judul, kata kunci judul, pengarang, kata kunci pengarang dan sebagainya

3. Dapat dimanfaatkan secara bersama-sama

4. Mempercepat proses pengolahan, pemimjaman dan pengembalian 5. Memperingan pekerjaan

6. Meningkatkan layanan

7. Memudahkan dalam pembuatan laporan statistik 8. Menghemat biaya

9. Menumbuhkan rasa bangga

10. Mempermudah dalam pelayanan untuk kepentingan akreditasi.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa otomasi perpustakaan bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan terutama efesiensi dan efektifitas kerja pada perpustakaan. Dengan otomasi, beberapa pekerjaan manual dapat dipercepat, dipermudah dan diefisiensikan. Selain itu proses pengolahan bahan pustaka jauh lebih akurat dan dapat ditelusur dengan cepat. Dengan demikian para pustakawan dapat menggunakan waktu lebihnya untuk mengurusi pengembangan perpustakaan lainnya karena beberapa pekerjaan yang manual sudah diambil alih oleh komputer.

2.1.3 Unsur-Unsur Otomasi Perpustakaan

Dalam sebuah sistem otomasi perpustakaan terdapat beberapa unsur atau syarat yang paling mendukung dan terkait satu dengan lainnya. Unsur-unsur atau syarat otomasi perpustakaan menurut Arif (2003, 4-5) yaitu:

1. Pengguna (users)

2. Perangkat Keras (Hardware) 3. Perangkat Lunak (Software) 4. Network / Jaringan

5. Perangkat Data 6. Manual

2.1.3.1 Pengguna (users)

Pengguna merupakan unsur utama dalam sebuah sistem automasi perpustakan. Dalam pembangunan sistem perpustakaan hendaknya selalu dikembangkan melalui konsultasi dengan pengguna-penggunanya yang meliputi pustakawan, staf yang nantinya sebagai operator atau teknisi serta para anggota perpustakaan. Apa misi organisasi tersebut? Apa kebutuhan informasi mereka?

Seberapa melek komputerkah mereka? Bagaimana sikap mereka? Apakah pelatihan dibutuhkan? Itu adalah beberapa pertanyaan yang harus dijawab dalam mengembangkan sebuah sistem automasi perpustakaan. Automasi Perpustakaan baru bisa dikatakan baik bila memenuhi kebutuhan pengguna baik staf maupun anggota perpustakaan. Tujuan daripada sistem automasi perpustakaan adalah untuk memberikan manfaat kepada pengguna.

Konsultasikan dengan pengguna untuk menentukan kebutuhan-kebutuhan mereka. Namun perlu hati-hati terhadap penilaian keliru yang dilakukan oleh pengguna mengenai kebutuhan dan persepsi tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh suatu sistem komputer . Kebutuhan dapat dirincikan terlalu banyak atau terlalu sedikit dan kadang-kadang persepsi bisa juga keliru.

Staf yang bersangkutan harus dilibatkan mulai dari tahap perencanaan dan pelaksanaan sistem. Masukan dari masing-masing staf harus dikumpulkan untuk menjamin kerjasama mereka. Tenaga-tenaga inti yang dilatih untuk menjadi

operator, teknisi dan adminsitrator sistem harus diidentifikasikan dan dilatih sesuai bidang yang akan dioperasikan.

2.1.3.2 Perangkat Keras (Hardware)

Komputer adalah sebuah mesin yang dapat menerima dan mengolah data menjadi informasi secara cepat dan tepat. Pendapat lain mengatakan bahwa komputer hanya sebuah komponen fisik dari sebuah sistem komputer yang memerlukan program untuk menjalankannya.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa komputer adalah sebuah alat dimana kemampuanya sangat tergantung pada manusia yang mengoperasikan dan software yang digunakan.

Kecenderungan perkembangan komputer :

1) Ukuran fisik mengecil dengan kemampuan yang lebih besar 2) Harga terjangkau (murah)

3) Kemampuan penyimpanan data berkapasitas tinggi

4) Transfer pengiriman data yang lebih cepat dengan adanya jaringan

Dalam memilih perangkat keras yang pertama adalah menentukan staf yang bertanggung jawab atas pemilihan dan evaluasi hardware sebelum transaksi pembelian.

Adanya staf yang bertanggung jawab adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain dan menghindari dampak buruk yang mungkin timbul. Hal lain adalah adanya dukungan teknis serta garansi produk dari vendor penyedia komputer.

2.1.3.3 Perangkat Lunak (Software)

Perangkat lunak diartikan sebagai metode atau prosedur untuk mengoperasikan komputer agar sesuai dengan permintaan pemakai.

Kecenderungan dari perangkat lunak sekarang mampu diaplikasikan dalam berbagai sistem operasi, mampu menjalankan lebih dari satu program dalam waktu bersamaan (multi-tasking), kemampuan mengelola data yang lebih handal, dapat dioperasikan secara bersamasama (multi-user).

Sistem Informasi Perpustakaan ini difungsikan untuk pekerjaan operasional perpustakaan, mulai dari pengadaan, katalogisasi, inventarisasi, keanggotaan, OPAC, pengelolaan terbitan berkala, sirkulasi, dan pekerjaan lain dalam lingkup operasi perpustakaan.

Pilihan apapun yang dijatuhkan, software harus:

1) Sesuai dengan keperluan 2) Memiliki ijin pemakaian

3) Ada dukungan teknis, pelatihan , dokumentasi yang relevan serta pemeliharaan.

4) Menentukan staf yang bertanggungjawab atas pemilihan dan evaluasi software. Memilih dan membeli perangkat lunak merupakan suatu proses tersedianya dukungan pemakai, karena diperlukan banyak pelatihan dan pemecahan masalah sebelum sistem tersebut dapat berjalan dengan baik.

Salah satu cara untuk memastikan dukungan pelanggan adalah memilih perangkat lunak yang digunakan oleh sejumlah perpustakaan.

Sekelompok besar pengguna biasanya menjustifikasikan layanan

dukungan pelanggan sebagai hal yang subtansial. Selain itu, pengguna dapat saling membantu dalam pemecahan masalah. Spesifikasi perangkat keras harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan minimum operasi perangkat lunak.

Menurut Kumar (2007) dalam menyeleksi perangkat lunak otomasi perpustakaan dinilai melalui:

1. Temuan dari perangkat lunaknya (pengembang dari perangkat lunak).

2. Lisensi dari perangkat lunak (memiliki standar perangkat lunak).

3. Fungsi modul perangkat lunak (fitur modul sesuai dengan kebutuhan).

4. Stabil dalam pelirisan versinya (stabil dalam memperbaharui perangkat lunak).

5. Memiliki pengembang dan komunitas pengguna.

6. Antarmuka pengguna

7. Dokumentasi (laporan dalam output perpustakaan jelas).

Selain itu, Kamble (2012, 2) berpendapat dalam menilai perangkat lunak otomasi perpustakaan harus memiliki:

1. Kualitas produk 2. Fitur dan fungsi

3. Pelatihan staf dan layanan dukungan 4. Operasi dari sistem

5. Handware dan software yang dibutuhkan

6. Fungsionalitas: modul apa yang tersedia dan nilai fungsi yang ada 7. Antarmuka pengguna: navigasi, peringatan kesalahan, intuitif dan

kostumisasi.

8. Desain: fleksibilitas, dapat beralih dari modul satu ke lainnya, modul multifungsi, apakah desaun meningkatkan produktivitas

9. Standar terkonfirmasi: MARC, 239.50, ISO-2709

10. Skalabilitas: menggunakan tunggal jaringan multi-user, hal ini dapat digunakan di client server LAN arsitektur atau arsitektur web-browsing.

11. Kostumisasi dapat dikendalikan oleh pengguna.

12. Laporan membantu pengambilan keputusan 13. Tingkat keamanannya

14. Dapat migrasi data atau transfer data.

2.1.3.4 Network / Jaringan

Jaringan komputer telah menjadi bagian dari automasi perpustakaan karena perkembangan yang terjadi di dalam teknologi informasi sendiri serta adanya kebutuhan akan pemanfaatan sumber daya bersama melalui teknologi.

Komponen perangkat keras jaringan antara lain : komputer sebagai server dan klien, Network Interface Card ( LAN Card terminal kabel (Hub), jaringan telepon atau radio, modem. Hal yang harus diperhatikan dalam membangun jaringan komputer adalah :

1) Jumlah komputer serta lingkup dari jaringan (LAN, WAN)

2) Lokasi dari hardware : komputer, kabel, panel distribusi, dan sejenisnya 3) Protokol komunikasi yang digunakan

4) Menentukan staf yang bertanggun jawab dalam pembangunan jaringan.

2.1.4.1 Perangkat Data

Data merupakan bahan baku informasi, dapat didefinisikan sebagai kelompok teratur simbol-simbol yang mewakili kuantitas, fakta, tindakan, benda, dan sebagainya. Data terbentuk dari karakter, dapat berupa alfabet, angka, maupun simbol khusus seperti *, $ dan /. Data disusun mulai dari bits, bytes, fields, records, file dan database.

Sistem informasi menerima masukan data dan instruksi, mengolah data tersebut sesuai instruksi, dan mengeluarkan hasilnya. Fungsi pengolahan informasi sering membutuhkan data yang telah dikumpulkan dan diolah dalam periode waktu sebelumnya, karena itu ditambahkan sebuah penyimpanan data file (data file storage) ke dalam model sistem informasi; dengan begitu, kegiatan

pengolahan tersedia baik bagi data baru maupun data yang telah dikumpulkan dan disimpan sebelumnya.

2.1.3.5 Manual

Manual atau biasa disebut prosedur adalah penjelasan bagaimana memasang, menyesuaikan, manjalankan suatu perangkat keras atau perangkat lunak. Prosedur merupakan aturan-aturan yang harus diikuti bilamana menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak. Banyak peripheral perangkat keras maupun sistem tidak berjalan dengan optimal karena dokumentasi yang tidak memadai atau pengguna tidak mengertu manual yang disediakan. Manual harus dibaca dan dimengerti walau serumit apapun. Manual adalah kunci bagi kelancaran sistem.

Manual atau prosedur dapat juga mencakup kebijakan-kebijakan khususnya dalam lingkungan jaringan dimana pemasukan dan pengeluaran data membutuhkan format komunikasi bersama. Pertemuan-pertemuan mungkin perlu sering diadakan diantara anggota-anggota jaringan untuk menentukan standar-standar dan prosedur-prosedur.

2.1.4 Cakupan Otomasi Perpustakaan

Sistem perpustakaan pada dasarnya mencakup seluruh kegiatan rutinitas perpustakaan, antara lain pada pengadaan, pengatalogan, pengawasan, sirkulasi dan pengawasan serial. Cakupan otomasi perpustakaan menurut Arif (2003, 2), sebagai berikut:

1) Pengadaan koleksi

2) Katalogisasi, inventarisasi

3) Sirkulasi, reserve, inter-library loan 4) Pengelolaan penerbitan berkala

5) Penyediaan katalog (OPAC)) 6) Pengelolaan anggota.

2.2 Perangkat Lunak

2.2.1 Pengertian Perangkat Lunak

Dalam menjalankan komputer, diperlukan perangkat yang dapat mengintruksi kegiatan komp uter sehingga bisa berjalan sesuai perintah, disebut perangkat lunak (software). Menurut Kadir (2015, 202) menjelaskan tentang perangkat lunak:

Komputer tidak akan berguna tanpa keberadaan perangkat lunak (software). Komputer bekerja atas dasar intruksi. Sekumpulan instruksi diberikan untuk mengendalikan perangkat keras komputer. Sekumpulan instruksi inilah yang dikenal dengan sebutan program atau program komputer. Secara lebih umum, program komputer inilah yang disebut perangkat lunak.

Menurut Scott (1999, 21) “software atau perangkat lunak adalah program komputer yang fungsinya mengarahkan kegiatan pemrosesan dari komputer”.

Berdasarkan penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa perangkat lunak adalah suatu program komputer yang berfungsi untuk mengarahkan atau mengontrol perangkat keras (hardware).

2.2.2 Pengelompokkan Perangkat Lunak

Perangkat lunak biasa dikelompokkan menjadi program aplikasi (aplication program) dan program sistem (system program), sebagaimana dijelaskan menurut Kadir (2015,179).

a) Program aplikasi (aplication program)

Program aplikasi (sering disebut aplikasi saja) adalah program yang dibuat oleh pemakai yang ditujukan untuk melakukan tugas khusus. Program seperti ini biasa dikelompokkan menjadi dua yaitu program aplikasi serba guna dan program aplikasi spesifik.

1) Program aplikasi serbaguna

Program aplikasi yang dapat digunakan oleh pemakai untuk melaksanakan hal-hal yang bersifat umum (misalnya untuk membuat dokumen atau untuk mengirim surat secara elektronis) serta mengotomasikan tugas-tugas individual yang bersifat berulang (minsalnya melakukan perhitungan-perhitungan yang bersifat rutin). Termasuk untuk kategori ini antara lain adalah DBMS sederhana, Web Browser, surat elektronis, pengolah kata (word processor), lembar kerja (spreadsheet) dan program presentasi.

Program aplikasi serbaguna seringkali disebut perangkat lunak pemakai akhir (end-user software).

2) Program aplikasi spesifik

Program yang ditujukan untuk menangani hal-hal yang sangat spesifik.

Minsalnya, program pada sistem POS (point-of-scale) dan ATM. Termasuk dalam kategoriini adalah program yang disebut sebagai paket aplikasi atau perangkat lunak paket. Contohnya Deac Easy Accounting (DEA) yang dipakai untuk menangani masalah akuntasi.

b) Program Sistem (system program)

Program sistem (sering disebut perangkat lunak pendukung atau support software) adalah program yang digunakan untuk mengontrol sumber daya komputer, seperti CPU dan peranti masukan/ keluaran. Kedudukan program ini adalah sebagai perantara antara program aplikasi dan perangkat keras komputer. Itulah sebabnya, peran program sistem sering kali tidak terlihat secara langsung. Program sistem dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu program pengendali sistem, program pendukung sistem, dan program pengembangan sistem.

1) Program Pengendali Sistem

Program yang mengendalikan pemakaian perangkat keras, perangkat lunak dan data pada komputer selama program ini dijalankan. Misalnya, sistem operasi.

2) Program pendukung sistem

Program yang mendukung operasi, manajemen, dan pemakai sistem komputer dengan menyediakan bermacam-macam layanan. Termasuk dalam kelompok ini adalah program utilitas, pemantauan kerja sistem, dan pemantau keamanan.

3) Program pengembangan sistem

Program yang ditujukan untuk membantu pemakai dalam membuat/

mengembangkan program. Termasuk dalam kategori ini yaitu kompailer dan interpreter.

Berkaitan dengan perangkat lunak, ada jenis perangkat lunak yang harus menggunakan biaya bila mendapatkannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Kadir (2015, 209) pelangkat lunak menggunakan biaya dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a) Perangkat lunak komersial

Perangkat lunak komersial adalah perangkat lunak yang harus dibeli kalau pemakai bermaksud menggunakannya. Perangkat lunak seperti Microsoft Office merupakan contoh perangkat lunak komersial.

Beberapa vendor menyediakan versi “tril”. Perangkat lunak seperti ini diedarkan secara gratis dan memungkinkan pemakai dapat melaukan percobaan terlebih dahulu. Namun, pemakaiannya hanya dalam jangka waktu tertentu, misalnya 30 hari, dan setelah itu perangkat lunak tersebut tak dapat digunakan lagi. Versi trial biasanya juga tidak selengkap versi komersialnya.

b) Shareware

Shareware adalah perangkat lunak yang bisa digunakan oleh pemakai dengan tujuan untuk evaluasi selama masa tertentu tanpa membayar sama sekali dan jika sesudah masa tersebut berlalu pemakai bermaksud tetap menggunakannya maka ia perlu membayar ke pembuat perangkat lunak tersebut. Berbeda dengan versi trial, shareware tidak memiliki masa kadaluwarsa. Artinya, pemakai tetap dapat menggunakan perangkat lunak tersebut walaupun batas uji coba telah berakhir.

Umumnya pembuat shareware menyediakan layanan untuk konsultasi manual tercetak, pemutakhiran ke versi yang lebih baru secara gratis, dan terkadang memberikan bonus berupa perangkat lunak yang lain.

c) Freeware

Freeware adalah perangkat lunak yang dapat dipakai oleh siapa pun tanpa perlu membayar sama sekali.

Pada saat ini juga muncul kecendrungan yang tidak terbatas hanya pada penggunaan perangkat lunak dalam bentuk binernya yang gratis, tetapi pemakai juga disodori bentuk kode sumbernya tanpa perlu membayar apa pun. Istilah open source unutk menyatakan keadaaan seperti ini cukup populer pada dewasa ini.

d) Open source

Sebelum istilah open source populer digunakan, perangkat lunak yang tersedia dalam bentuk biner maupun kode sumber biasa disebut free software. Menurut Stallman (1999), sebuah program dikatakan free software bagi pemakai jika:

1) Pemakai memiliki kebebasan untuk menjalankan program tersebut untuk tujuan apa saja.

2) Pemakai memiliki kebebasan untuk mengubah program sesuai dengan kebutuhannya. (Untuk mewujudkan kebebasan ini secara efektif dalam praktek, pemakai harus memiliki akses terhadap kode sumber, karena membuat perubahan dalam tanpa memiliki kode sumber sangatlah sulit.

3) Pemakai memiliki kebebasan untuk mendistribusikan kembali salinannya baik secara gratis atau dengan biaya.

4) Pemakai memiliki kebebasan untuk mendistribusikan versi hasil modifikasi dari program sehingga komunitas dapat memperoleh manfaat dari pengembangan pemakai.

Jadi, pengerian “free” pada free software cenderung kearah kebebasan (freedom) dan bukannya free dalam arti gratis. Stallman bersama rekan-rekannya mendirikan Free Software Foundation pada tahun 1985 dengan tujuan untuk memperkuat pengembangan free software. Stallman (1999) juga menjelaskan bahwa free software dan open source sebenarny amenyatakan keadaan yang sama terhadap perangkat lunak, tetapi memiliki perbedaan pandangan. Dapat dikatakan bahwa open source menekankan pada kebebasan dari pengontrolan oleh pihak lain.

Istilah open source dicanangkan oleh Eric Raymond pada tahun 1998 dan dimaksudkan untuk menghilangkan makna “free” dalam bahasa inggris yang sangat membingungkan karena memiliki arti yang bermacam-macam.

Open source timbul dari ide bahwa seandainya setiap orang dapat berpartisipasi dalam megembangkan suatu perangkat lunak tentu perangkat lunak tersebut akan segera berevolusi menuju tingkat kesempurnaan. Dengan cara seperti ini, perangkat lunak dapat dikembangkan tanpa membutuhkan wadah berupa perusahaan.

Sebagaimana dikatakan oleh Momjian (2000), open source memberikan keuntungan:

1) Tak perlu struktur perusahaan, sehingga tak ada biaya maupun batasan ekonomis.

2) Pengembangan program tak di batasi oleh staf pemrograman yang digaji, tetapi memanfaatkan kemampuan dan pengalaman kelompok pemrograman yang berada di internet.

3) Umpan balik pemakai difasilitasi sehingga memungkinkan pengujian berupa program oleh banyak pemakai dalam waktu yang singkat.

4) Pengembangan program dapat didistribusikan oleh pemakai dengan cepat.

Definisi resmi open source tercantum pada situs http://www.opensource.org/osd.html. secara prinsip, open source memperkenankan siapa saja untuk mendistribusikan perangkat lunak yang tergolong sebagai open source secara gratis atau dengan bayaran dan tak ada royalti atau kompensasi yang diberikan. Prinsip penting lainnya adalah bahwa sekiranya terdapat orang yang mengubah kode sumber, referensi terhadap pencipta asalnya tetap perlu dituliskan, sebagai bentukpenghargaan.

Berdasarkan pengelompokkan jenis-jenis pengelompokkan perangkat lunak dapat disimpulkan bahwa setiap jenis perangkat aplikasi berbeda kegunaan

Berdasarkan pengelompokkan jenis-jenis pengelompokkan perangkat lunak dapat disimpulkan bahwa setiap jenis perangkat aplikasi berbeda kegunaan

Dokumen terkait