Uraian tata susunan upacara kepercayaan Jawa di atas pada intinya memiliki urut-urutan sebagai berikut: (1) Pemberian sesaji kepada Hyang
Kewâsâ untuk memuji, mengucap syukur, ataupun tebusan atas kesalahan dari pihak manusia. (2) Penyampaian ujûb kepada khalayak. (3) Pemanjatan doa permohonan berkat bagi yang sedang menjalani slamêtan. (4) Pem- bagian bancaan untuk dinikmati bersama. Meskipun di dalam persiapannya cukup rumit karena banyaknya barang-barang kebutuhan yang harus di- sediakan sebagai syarat (ubârampe) sangat beragam, akan tetapi di dalam pelaksanaannya upacara itu sesungguhnya sederhana dan khas.
Namun kekhasan slamêtan sebagai liturgi kontekstual Jawa tidak hanya sebatas tampilan-tampilan luar. Meminjam istilah Huang Po Ho dan Sedmak, berbagai tampilan luar liturgi Jawa itu merupakan cerminan keyakinan (teologi) maupun berkeyakinan (berteologi) yang bersifat kontekstual sebagai hal yang paling pokok. Seperti dinyatakan di dalam Bab I, teologi kontekstual adalah teologi yang mengambil konteks, situasi dan kondisi daerah tempat tinggal, sejarah dan kebudayaan umat di tengah masyarakat sebagai sumber refleksi dan pengakuan iman, serta untuk membangunan teologi yang dapat membentuk identitas relevan dengan konteksnya.138 Sedangkan berteologi kontekstual yang oleh Sedmak disebut juga berteologi lokal adalah teologi yang dihasilkan dari perhatian penuh pada suasana keadaan-keadaan khusus dalam kehidupan manusia di ling-
138
93
kungan sekitar di bumi ini dan berhubungan penting dengan budaya tertentu di manapun, di sini dan saat ini yang meliputi politik, ekonomi, maupun spiritual.139 Karena itu kekhasan pokok dari liturgi upacara kepercayaan Jawa tadi adalah inti teologi ataupun berteologinya.
Teologi khas yang menjadi sumber tata susunan upacara kepercayaan Jawa sudah cukup jelas diterangkan dalam bagian sebelumnya tentang faham dan berbagai wujudnya. Pada intinya orang Jawa mengimani bahwa Tuhan itu ada. Dia adalah Sang Pencipta Maha Kuasa dan Maha Suci yang memiliki hakikat transenden, dan sebagai sosok hakiki itu mampu ber- imanensi dalam rupa profan (Gûsti tan kênâ kinirâ-kirâ, aywâ tan kenâ
kinâyâ ngâpâ, ngìng bisâ rinâsâ; Gûsti iku dumunûng ìng ngêndi papan, anéng sirâ ugâ ânâ Gûsti). Meminjam istilah M. Sastrapratedja, asas faham kebudayaan Jawa itu disebut juga sebagai teologi kodrati(teologi naturalis), yaitu teologi yang mengajarkan tentang Allah yang keberadaanNya dapat diketahui dengan akal budi manusiawi melalui barang-barang atau benda- benda ciptaan. Dalam hubungan DiriNya dengan manusia dan demikian pula sebaliknya, keberadaanNya tidak dibatasi oleh pewahyuan saja.140 Itulah mengapa liturgi kontekstual Jawa secara lahiriah nampak berkiblat pada alam, seperti laut, sungai, gunung, hutan, sawah maupun ladang, benda-benda yang dianggap bertuah atau memiliki kekuatan gaib, dan lain sebagainya. Sebab wahana itu memiliki kedekatan dengan kehidupan sehari-
139
Clemens Sedmak, Doing Local Theology: A Guide for Artisans of a New
Humanity (Maryknoll, New York: Orbis Books, 2006), 3-4.
140
M. Sastrapratedja, Allah Sebagai Dasar Ada: Filsafat dan Teologi Paul Tillich (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Sanata Dharma, 2001), 16.
94
hari orang Jawa. Bagi mereka, aneka rupa alam itu memiliki nilai ekonomis sebagai sumber pencaharian kebutuhan pokok untuk hidup dan kehidupan. Bahkan rupa-rupa alam beserta dengan kekuatannya itu menjadi bernilai pula secara spiritual. Melalui alam dan kekuatannya orang-orang Jawa merasa yakin bisa menemukan atau berjumpa dengan Tuhan, Sumber kehidupan dan keselamatan dalam berbagai wujud kuasaNya sebagai peng- alaman praktis dan nyata. Kekhasan liturgi kontekstual Jawa tersebut tidak terpisahkan dengan inti yang terdapat pada sisi berteologinya. Seperti disajikan secara ringkas pada bagian sebelumnya tentang wujud aneka jenis upacara kepercayaan Jawa maupun tata susunan dan isinya, berteologi sebagai tindakan pengungkapan keyakinan yang menggunakan cara tertentu dan rupa-rupa lambang dalam slamêtan juga khas. Lambang-lambang itu berupa piranti-piranti yang berasal dari alam untuk menggambarkan gagasan-gagasan tentangnya sebagai sarana untuk menghubungkan keber- adaan Tuhan dan manusia, maupun etika kehidupan menyeluruh. Sekian banyak lambang yang dimungkinkan ada dalam berbagai slamêtan, tumpêng merupakan piranti wajib diadakan dan tak tergantikan. Sebab ubârampe itu adalah lambang pusat yang menggambarkan gunung dengan makna penyembahan Tuhan Maha Agung di tempat tinggi dan mulia (sêmbah
Hyang), sekaligus cerminan alam dan etika kehidupan yang serasi dalam tanggung jawab politik tiap pribadi manusia untuk mengatur di tengah kedudukan kemasyarakatannya, seperti makna yang terdapat pada pokok pengertian jagad gêdhe dan jagad cilìk. Inilah acuan aksi dan refleksi orang
95
Jawa dalam berbagai kehidupan berkebudayaan yang sampai sekarang tetap ada walaupun pada keadaan tertentu seakan tersamar oleh berbagai macam perubahan jaman di tengah masyarakatnya.
2.6. Penutup
Dari semua sudut kajian liturgi dan kontekstualisasinya di tengah budaya dan sejarah Kekristenan, khususnya di dalam budaya kehidupan masyarakat Jawa dengan pandangan beserta tradisi ritual keagamaannya di atas, maka liturgi kontekstual dalam budaya Jawa disimpulkan sebagai tata perilaku keagamaan masyarakat Jawa untuk pengungkapan keyakinan akan pengalaman tentang karya penyelamatan Tuhan di seluruh segi kehidupan yang terbingkai dalam teologi Kêjawén dan terpusat pada lambang tumpêng maupun berbagai kelengkapan terkait untuk mengkomunikasikannya. Liturgi kontekstual Jawa tersebut memberikan peringatan akan karya pertolongan Tuhan, sekaligus mendorong setiap orang untuk ikut serta menikmati anugerahNya itu, dan mau terlibat aktif menjaga keselamatan dengan tindakan menurut kedudukan dan peran yang telah ditetapkan
(pêpêsthi). Pelaksanaan liturgi adat kepercayaan Jawa itu bertujuan untuk menciptakan keselamatan atau kehidupan harmoni semua orang beserta alam yang menjadi tempat tinggalnya. Sedangkan berpijak dari Kekristenan, liturgi kontekstual dalam budaya Jawa dapat disimpulkan sebagai liturgi yang dibangun dengan melibatkan atau mendayagunakan pandangan mau- pun tradisi kepercayaan beserta aneka lambang yang berasal dari budaya
96
masyarakat Jawa di tengah suasana keberadaan hidup mereka sebagai langkah penyesuaian untuk menyampaikan gagasan Injil Kristus secara efektif, yaitu penyataan Tuhan yang menyelamatkan manusia sebagai kasih karunia yang terjelma di dalam Yesus Kristus Sang Sabda yang menjadi manusia, dan dilambangkan dengan sakramen. Jadi, liturgi kontekstual dalam budaya Jawa tidak cukup hanya ditentukan oleh penggunaan bahasa Jawa atapun pakaian tradisionalnya, tetapi dengan keseluruhan tata kehidupan masyarakat Jawa, sehingga Injil Kristus dapat dijumpai dan di- alami di dalam segi-segi kebudayaan Jawa beserta suasana dan keberadaan yang tengah terjadi sebagai konteks yang saling mempengaruhi.141
141
F. J. Clasen, “Liturgy on the Edge of Change”. Practical Theology in South