• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian merupakan lokasi tertentu yang digunakan untuk objek dan subjek yang akan diteliti dalam penelitian. Sesuai dengan judul penelitian ini, maka lokasi penelitian akan dilaksanakan di Bursa Efek Indonesia. Data yang diperoleh di unduh di situs resmi BEI (www.idx.co.id).

Waktu pelaksanaan dilakukan selama 2 (dua) bulan, yakni bulan September sampai bulan Oktober pada tahun 2021.

C. Operasional Variabel Penelitian

Dalam rangka pengujian hipotesis yang telah diajukan sebelumnya, pada penelitian ini terdapat dua variabel yang akan diteliti, diantaranya sebagai berikut:

1. Variabel Dependen (Y)

Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel independen (Sugiyono, 2012).

Variabel dependen sering juga disebut variabel kriteria, respon,output (hasil).

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Relevansi nilai informasi akuntansi (Harga saham). Harga saham merupakan salah satu bentuk efek atau surat berharga yang di perdagangkan di pasar modal (bursa). Harga saham yang dimaksud dalam penelitian Ini adalah harga saham penutupan akhir (closing price) tiap perusahaan yang di peroleh dari harga saham penutupan akhir tahun per 31 Desember dengan periode 2018-2020 pada perusahaan manufaktur seb sektor makanan dan minuman di BEI.

2. Variabel Independen (X)

Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono,2014). Variabel independen sering disebut juga variabel prediktor,atau variabel yang mempengaruhi. Adapun variabel independen dalam penelitian ini yaitu:

a. Nilai Laba

Laba per lembar saham adalah tingkat keuntungan yang bersih untuk setiap lembar saham. Yang sudah mampu diraih oleh suatu perusahaan saat menjalankan operasinya. Laba akuntasi merupakan laba tahunan yang dibagi deng jumlah saham umum yang beredar.

24

Variabel ini yang diukur dengan menggunakan rasio laba per lembar saham yaitu:

𝐸𝑃𝑆= πΏπ‘Žπ‘π‘Ž π΅π‘’π‘Ÿπ‘ π‘–β„Ž

π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘†π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘š π‘Œπ‘Žπ‘›π‘” π΅π‘’π‘Ÿπ‘’π‘‘π‘Žπ‘Ÿ b. Nilai Buku

Nilai buku merupakan nilai buku aset yang dikurangkan dengan nilai buku kewajiban pada awal tahun dan dibagi dengan jumlah saham umum yang beredar. Nilai yang diperoleh dengan pengambilan total ekuitas sebagi nilai buku, bukan modal yang disetor. Variabel ini yang diukur dengan menggunakan rasio nilai buku ekuitas yang digunakan yaitu:

𝐡𝑉𝑃𝑆= π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ πΈπ‘˜π‘’π‘–π‘‘π‘Žπ‘ 

π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘†π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘š π‘Œπ‘Žπ‘›π‘” π΅π‘’π‘Ÿπ‘’π‘‘π‘Žπ‘Ÿ

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek peneliti. Memurut Sugiyono populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2008). Populasi yang dimaksud dan akan menjadi objek dalam penelitian ini adalah 30 perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono,2008). Subjek penelitian merupakan sebagian

populasi yang mengambil sampel penelitiannya menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu berdasarkan kriteria yang telah ditentukan (Sugiyono). Sampel dalam penelitian ini untuk mewakili populasi secara keseluruhan berjumlah 25 perusahaan sampel yang dijadikan responden dalam penelitian. Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah:

a. Perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2018-2020

b. Perusahaan yang tidak menerbitkan atau mempublikasikan laporan keuangan di BEI tahun 2018-2020

26

Table 3.1 Kriteria Perusahaan

No Kriteria Tahun

2018-2020 1 Perusahaan manufaktur sub sektor makanan

dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018-2020

30

2 Perusahaan yang tidak menerbitkan atau mempublikasikan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia tahun 2018-2020

(5)

Jumlah Sampel yang digunakan dalam penelitian 25

Jumlah Observasi (25 X 3 tahun) 75

Tabel 3.2 Sampel Perusahaan

No Nama Perusahaan Kode

Perusahaan

1 Akasha Wira International Tbk ADES

2 Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk AISA

3 Tri Banyan Tirta Tbk ALTO

4 Bumi Teknokultura Unggul Tbk BTEK

5 Budi Starch & Sweetener Tbk BUDI

6 Campina Ice Cream Industry Tbk CAMP

7 Wilmar Cahaya Indonesia Tbk CEKA

8 Sariguna Primatirta Tbk CLEO

9 Delta Djakarta Tbk DLTA

10 Sentra Food Indonesia Tbk FOOD

11 Garudafood Putra Putri Jaya Tbk GOOD

12 Buyung Poetra Sembada Tbk HOKI

13 Indofood CBP Sukses Makmur Tbk ICBP

14 Inti Agri Resources Tbk IIKP

15 Indofood Sukses Makmur Tbk INDF

16 Multi Bintang Indonesia Tbk MLBI

17 Mayora Indah Tbk MYOR

18 Pratama Abadi Nusa Industri Tbk PANI

19 Prima Cakrawala Abadi Tbk PCAR

20 Nippon Indosari Corpindo Tbk ROTI

21 Sekar Bumi Tbk SKBM

22 Sekar Laut Tbk SKLT

23 Siantar Top Tbk STTP

24 Tunas Baru Lampung Tbk TBLA

25 Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk

ULTJ Sumber : www.idx.co.id

Berdasarkan kriteria sampel yang ditentukan di atas, maka didapatkan sampel sebanyak 25 perusahaan yang diperoleh dari hasil pengamatan. Jumlah periode pengamatan yang digunakan dalam penelitian ini selama 3 tahun, sehinggah jumlah data yang digunakan pada penelitian ini adalah sebanyak 75 data penelitian.

E. Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi yang dilakukan dengan cara mencari data langsung dari catatan-catatan atau laporan keuangan perusahaan manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2018-2020 dan dapat diakses melalui situs resmi www.idx.co.id. Adapun data yang dimaksud adalah:

1. Data laporan keuangan laba rugi 2. Data laporan nilai buku ekuitas 3. Data harga saham

F. Teknik Analisis

Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis kuantitatif eksplanatori. Teknik analisis kuantitatif dilakukan dengan cara menganalisis suatu permasalahan yang diwujudkan dengan kuantitatif.

Teknik analisis ini menggunakan teknik analisis regresi berganda, uji asumsi dan uji hipotesis.

1. Analisis Statistik Deskriptif dengan SPSS

Softwere SPSS adalah program canggih yang salah satu fiturnya mampu membantu untuk melakukan statistik deskriptif terhadap data penelitian. Analisis statistik deskriptif memberikan gambaran atau

28

deskriptif suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, maksimum dan minimum. ( Imam Ghozali, 2016).

2. Uji Asumsi Klasik

Pendugaan nilai koefisien regresi dengan metode kuadrat terkecil Ordinary Least Square ( OLS ) bertujuan untuk mencapai kondisi yang baik. Untuk pada kondisi tersebut, maka persamaan regresi harus memenuhi asumsi klasik. Sebelum melakukan uji hipotesis terlebih dahulu data di uji apakah terdapat kondisi normalitas, multikolonieritas, autokorelasi dam heteroskedastisitas.

a. Uji Nomalitas

Uji normalitas ialah pengujian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui atau menilai sebaran data pada sebuah kelompok data atau variabel, apakah sebaran data tersebut sudah berdistribusi normal atau tidak. Salah satu cara untuk mendeteksi apakah sebaran data tersebut sudah berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan uji normalitas Kolmogorov Smirnov.

Pengujian normalitas dilakukan dengan melihat nilai 2-tailed significant. Jika data memiliki hasil perhitungan dengan tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 (Ξ± > 5%), maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, sehingga dapat dikatakan data tersebut berdistribusi normal (Ghozali, 2011).

b. Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah ada korelasi antara variabel independen (Santoso dalam Komala, 2012). Salah satu cara untuk mengetahui ada tidaknya

multikolinearitas pada suatu model regresi adalah dengan melihat nilai tolerance dan VIF (Variance Inflation Faktor), yaitu:

1) Jika nilai tolerance > 0.10 dan VIF < 10, maka dapat diartikan bahwa tidak terdapat multikolinearitas pada penelitian tersebut.

2) Jika nilai tolerance < 0.10 dan VIF > 10, maka dapat diartikan bahwa terjadi gangguan multikolinearitas pada penelitian tersebut.

c. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 atau sebelumnya (Ghozali, 2011).

Model regresi yang baik adalah yang bebas dari autokorelasi, salah satu cara yang digunakan untuk mendeteksi adanya autokorelasi adalah dengan Uji Durbin Watson (DW).

Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi ditentukan sebagai berikut:

1) Deteksi Autokorelasi Positif :

a) Jika d < dL maka terdapat autokorelasi positif.

b) Jika d > dU maka tidak terdapat autokorelasi positif.

c) Jika dL < d < dU maka pengujian tidak meyakinkan atau tidak dapat disimpulkan.

2) Deteksi Autokorelasi Negatif :

a) Jika (4 – d) < dL maka terdapat autokorelasi negative.

30

b) Jika (4 – d) > dU maka tidak terdapat autokorelasi negative.

c) Jika dL < (4 – d) < dU maka pengujian tidak meyakinkan atau tidak dapat disimpulkan.

d. Uji Heteroskedastisita

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual antara satu pengamatan dengan pengamatan yang lain berbeda disebut heteroskedastisitas, sedangkan model yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas.

Cara mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik Plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID (Gozhali, 2009 : 125). Model yang baik didapatkan jika tidak terdapat pola tertentu pada grafik, seperti mengumpul di tengah, menyempit kemudian melebar atau sebaliknya melebar kemudian menyempit. Uji statistik yang dapat digunakan adalah uji Glejser, dengan meregresikan nilai absolute residual terhadap variabel independen. Jika nilai signifikan hitung lebih besar dari alpha = 5%

maka tidak ada masalah heteroskedastisitas. Tetapi sebaliknya jika nilai signifikan hitung kurang dari alpha = 5% maka dapat disimpulkan bahwa model regresi terjadi heteroskedastisitas.

Hipotesis dalam pengujian heteroskedastisitas adalah sebagai berikut :

1) Ho : tidak ada heteroskedastisitas

2) Ha : ada heteroskedastisitas

Dasar pengambilan keputusan jika signifikansi < 0,05 maka Ha ditolak (ada heteroskedastisitas). Jika signifikansi > 0.05 maka Ho diterima (tidak ada heteroskedastisitas).

3. Analisis Regresi Berganda

π‘Œ = a + Ξ²1𝑋1 + Ξ²2𝑋2 + e Keterangan :

Y = Harga Saham a = Konstanta 𝛽1 dan 𝛽2 = Koefisien regresi 𝑋1 = Nilai Laba Akuntansi 𝑋2 = Nilai Buku Ekuitas 𝑒 = Error

4. Uji Hipotesis a. Uji t

Uji t atau sering disebut dengan uji parsial merupakan uji yang dilakukan untuk menguji bagaimana pengaruh masing-masing variabel bebasnya secara sendiri-sendiri terhadap variabel terkaitnya. Uji t digunakan untuk menghitung masing-masing variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini secara parsial. Pada uji t, nilai t hitung akan dibandingkan dengan nilai t tabel dengan cara sebagai berikut :

1) Jika nilai signifikan < 0,05 atau t hitung > t tabel maka terdapat pengaruh variabel X terhadap variabel Y.

32

2) Jika nilai signifikan > 0,05 atau t hitung < t tabel maka tidak terdapat pengaruh variabel X terhadap Variabel Y.

Taraf signifikansinya > 0,05 Ha ditolak dan jika taraf signifikansinya

<0,05 Ha diterima.

b. Uji Koefisien Determinasi (R Square)

Koefisien determinasi (R2) merupakan pengujian untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variabel dependen. Nilainya berkisar antara 0-1, biasanya pada time series mempunyai nilai koefisien determinasi yang cukup tinggi. Adapun kelemahannya adalah adanya bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan dalam model. Oleh karena itu, banyak peneliti yang mengajukan untuk menggunakan nilai adjusted . Bila nilai R2 kecil berarti kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen sangat terbatas. Sedangkan jika R2 mendekati 1 berarti variabel independen dapat memberikan hampir semua informasi yang diperlukan untuk memprediksi variabel dependen.

33 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Perusahaan Manufaktur Di Bei 1. Sejarah Bursa Efek Indosnesia (BEI)

Pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau bursa efek yang telah hadir sejak jaman kolonial Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah colonial atau VOC.

Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dunia ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari pemerintah colonial kepada pemerintah Republik Indonesia, dan berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian pasar modal mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah. Berikut perkembangan pasar modal di Indonesia.

2. Visi dan Misi Bursa Efek Indonesia a. Visi

Menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia.

34

b. Misi

Menciptakan infrastruktur pasar keuangan yang terpercaya dan kredibel untuk mewujudkan pasar yang tertib, adil, dan efesien melalui produk dan layanan inovatif yang dapat diakses oleh semua pihak yang terlibat.

3. Struktur Organisasi Bursa Efek Indonesia

Struktur organisasi merupakan elemen penting dalam menjalankan aktivitas perusahaan yang menggambarkan hubungan tugas, wewenang dan tanggung jawab bagi setiap sumber daya manusia yang ada di dalam perusahaan. Dengan adanya struktur organisasi yang jelas, maka seleuruh aktivitas perusahaan dapat dilaksanakan dengan baik. Struktur organisasi pada Bursa Efek Indonesia dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Bursa Efek Indonesia

B. Hasil Penelitian

1. Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran sacara statistik atas variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu nilai laba dan nilai buku sedangkan veriabel dependen yaitu harga saham. Informasi yang terdapat dalam statistic descriptive berupa nilai rata-rata (mean), nilai minimum, maksimum dan standar deviasi ( Standard Deviation ). Berikut adalah hasil uji statistik deskriptif dengan menggunakan SPSS.

Tabel 4.1 Analisis Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

LN_X1 69 11.50 11.51 11.5089 .00125

LN_X2 69 13.71 13.71 13.7111 .00068

LN_Y 69 17.73 23.13 20.3843 1.42936

Valid N (listwise) 69

Nilai laba dalam penelitian ini diproksikan dengan ( EPS ).

Berdasarkan hasil statistic deskriptif yang ditunjukkan pada tabel 4.1 dengan jumlah data ( N ) sebanyak 69 dengan periode tiga tahun ( 2018-2020 ) menunjukkan nilai rata-rata ( mean ) sebesar 11, 5089 dengan standar deviasi sebesar 0,00125. Nilai terendah ( minimum ) dari nilai laba 11,50, sedangkan nilai tertinggi ( maximum ) dari nilai laba adalah 11,51.

Nilai buku dalam penelitian ini diproksikan dengan ( BVPS ).

Berdasarkan hasil statistik deskriptif yang ditunjukkan pada tabel 4.1 dengan jumlah data ( N ) sebanyak 69 dengan periode tiga tahun (2018-2020) menunjukkan nilai rata-rata (mean) 13,7111 dengan standar deviasi

36

sebesar 0.00068. Nilai terendah (minimum) dari nilai buku 13,71 sedangkan nilai tertinggi (maximum) dari perputaran nilai buku adalah 13,71.

Harga saham dalam penelitian ini merupakan hasil statistik deskriptif yang ditunjukkan pada tabel 4.1 dengan jumlah data (N) sebanyak 69 dengan periode tiga tahun (2018-2020) menunjukkan nilai rata-rata (mean) 20.3843 dengan standar deviasi sebesar 1.42936. Nilai rendah (minimum) bahwa nilai minimum 17,73 sedangkan nilai tertinggi (maximum) dari harga saham yaitu 23.13.

2. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah dalam model regresi mempunyi distribusi normal atau tidak. Untuk menguji normalitasnya menggunakan SPPS. Hasil uji normalitas untuk semua variabel dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut:

Tabel 4.2 Uji Normalitas Klmogorov-Smirnov One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 69

Normal Parametersa,b Mean .0000000

Std. Deviation 1.15773308

Most Extreme Differences Absolute .077

Positive .077

Negative -.048

Test Statistic .077

Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance.

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan ( Sig .200) yang berarti > 0,05 signifikansi sehingga untuk semua variabel diatas maka dapat disimpulkan bahwa variabel Nilai Laba (X1), Nilai Buku (X2) dan Nilai informasi Akuntansi (Harga Saham) (Y) dinyatan bahwa informasi dari masing-masing variabel penelitian berdistribusi normal secara statistik dan layak digunakan sebagai informasi penelitian.

b. Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan korelasi antara variabel bebas (independen). Model regresi yang baik adalah terbebas dari multikolonieritas. Metode yang digunakan untuk medeteksi ada tidaknya multikolonieritas dalam model regresi dapat dilihat dari nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Jika nilai danya bebas. Hal ini dapat dilakukan dengan melihat nilai variance inflation faktor (VIF). Jika nilai tolerance > 0,1 dan nilai VIF

< 10, maka tidak terjadi multikolonieritas begitu sebaliknya.

Tabel 4.3 Uji Multikolonieritas Coefficientsa

Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF

1 LN_X1 .341 2.936

LN_X2 .341 2.936

a. Dependent Variable: LN_Y

Berdasarkan tabel 4.4 di peroleh hasil perhitungan tidak ada variabel yang memiliki nilai VIF yang lebih besar dari 10 dan juga tidak ada variabel yang memiliki nilai tolerance lebih kecil dari 0,1. Kondisi ini

38

menunjukkan bahwa model regresi terbebas dari masalah multikolineritas.

c. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ditemukan adanya korelasi antara kesalah pengganggu pada periode t dengan kesalahan periode t-1 (sebelumnya). Uji autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-watson. Berikut ini hasil uji autokorelasi.

a. Predictors: (Constant), LN_X2, LN_X1 b. Dependent Variable: LN_Y

Dari pengujian SPSS diatas diketahui nilai Durbin Watson sebesar .949 sedangkan nilai Durbin-Watson berdasarkan n= 69, K=2, diperoleh nilai dL = 1.5507 dan dU = 1.6697. Sehingga nilai 4-dU adalah 4 – 1.6697 = 2.3303. Jadi disimpulkan model regresi menunjukkan tidak ada autokorelasi.

d. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variabel dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain berbeda maka disebut heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan uji

grafik dan uji glejser. Model regresi yang baik adalah model regresi yang tidak terjadi heteroskedastisitas. Berikut ini hasil uji heteroskedastisitas.

Gambar 4.2 Uji Heteroskedastisitas dengan Grafik Scatterplot

Menurut tabel diatas hasil grafik scatterplot dapat diketahui bahwa titik-titik tidak membentuk pola yang jelas. Titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbuh Y. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas dalam model regresi.

3. Analisis Regresi Berganda

Analisis Regresi berganda bertujuan untuk mengetahui hubungan linear antara dua variabel atau lebih. Dimana satu sebagai variabel dependen dan variabel lainnya sebagai indepeden. Berikut hasil analisis regresi berganda.

40

Tabel 4.5 Analisis Regresi Berganda Coefficientsa

Berdasarkan tabel diatas, analisis regresi berganda dihasilkan persamaan yaitu: Y = 14841.413 - 198.395 - 914.423. Adapun hasil dari persamaan regresi berganda tersebut adalah:

a. Nilai konstan (constant) yaitu sebesar 14841.413 menyatakan bahwa apabila variabel nilai EPS dan nilai BVPS constantmaka besarnya nilai relevansi akuntansi (hargasaham) yaitu sebesar14841.413

b. nilai koefisien regresi yaitu variabel EPS (X1) sebesar -198.395 pada variabel nilai EPS terdapat hubungan negatif terhadap relevansi nilai akuntansi (harga saham). Hal ini menunjukkan variabel EPS mengalami penurunan sebesar 1% sementara dengan asumsi bahwa variabel lain konstan, maka menyebabkan penurunan harga saham (Y) sebesar 198.395.

c. nilai koefisien regresi variabel BVPS (𝑋2) yaitu sebesar -914.423 pada variabel BVPS terdapat hubungan negatif dengan relevansi nilai akuntansi (harga saham). Hal ini menunjukkan variabel BVPS mengalami penurunan 1% dengan asumsi bahwanya nilai vaiabel lain konsta, maka menyebabkan penurunan harga saham (Y) sebesar 914.423

.

4. Uji Hipotesis

a. Koefisien Determinan (RΒ²)

Koefisien determinasi (RΒ²) untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerengkan variasi variabel dependen.

Nilai RΒ² yang lebih kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam penjelasan variasi dependen sangat terbatas (Ghozali,2011).

a. Predictors: (Constant), LN_X2, LN_X1 b. Dependent Variable: LN_Y

Hasil analisis regresi berganda tersebut dapat terlihat dari Adjusted R Square sebesar 0.324 yang menunjukkan bahwa harga saham dipengaruhi oleh kedua variabel yaitu EPS dan BVPS pengaruh sebesar 32.4%, sisanya yaitu 67.6% (100% - 32.4%) harga saham dipengaruhi variabel lain yang belum diteliti dalam penelitian ini.

b. Uji Parameter Individual (Uji T)

Uji parameter individual atau yang sering diketahui dengan uji t bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh dari masing-maisng variabel bebas EPS dan BVPS terhadap variabel terikat yaitu Harga Saham. Maka diadakan uji t, dengan tingkat probability =0,05 dan nilai t tabel = 1,66792, hasil uji signifikan parameter individual atau uji t dapat dilihat dari tabel 4.6 berikut:

42

Tabel 4.7 Uji Parameter Individual (Uji t)

Coefficientsa

1) Hasil uji t Relevansi Nilai Laba (EPS) terhadap Harga Saham Berdasarkan tabel diatas, nilai signifikan (Sig) variabel EPS (𝑋1) lebih besar dari probability atau 0,315 > 0,05 sedangkan nilai t hitung < t tabel atau -1,012 < 1,66792. Hal ini menunjukkan bahwa EPS berpengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap harga saham. Sehingga menandakan bahwa tidak ada pengaruh variabel bebas EPS terhadap variabel terikat Harga saham atau hipotesis ditolak.

2) Hasil uji t Relevansi Nilai Buku (BVPS) terhadap Harga Saham Berdasarkan tabel diatas, nilai signifikan (Sig) variabel nilai buku (BVPS) lebih kecil dari probability atau 0,013 < 0,05 sedangkan nilai t hitung > t tabel atau -2,560 < 1,66792. Hal ini menunjukkan bahwa BVPS berpengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham. Sehingga menandakan bahwa ada pengaruh variabel bebas BVPS terhadap variabel terikat Harga saham atau hipotesis diterima.

C. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk menguji Relevansi Nilai Laba dan Nilai Buku Terhadap Nilai Informasi Akuntansi Dalam Pengambilan Keputusan Investor Pada Perusahaan Yang Terdaftar di BEI Sektor Makanan dan Minuman Tahun 2018-2020. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diperoleh sebagai berikut:

1. Pengaruh Nilai Laba Terhadap Nilai Informasi Akuntansi (Harga Saham) Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di BEI Sektor Makanan dan Minuman Tahun 2018-2020.

Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan bahwa variabel X1 nilai laba (EPS) diketahui nilai koefisien regresi nilai laba (EPS) sebesar -198,395. Hal ini menunjukkan bahwa jika EPS mengalami penurunan sebesar 1%, maka dari itu menyebabkan penurunan harga saham sebesar 198,395 dengan asumsi bahwa nilai variabel lain konstan.

Dilihat dari nilai t hitung < t tabel atau -1,012 < 1,66792 dengan nilai signifikan 0,315 > 0,05. Hal tersebut sudah terbukti bahwa EPS berpengaruh negative namun tidak signifikan, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel EPS tidak berpengaruh terhadap harga saham atau hipotesis 1(𝐻1) ditolak.

Meski Nilai Laba (EPS) merupakan cerminan pada laporan keuangan untuk mengetahui apakah perusahaan mampu mengolah ekuitas serta asetnya untuk mendapatkan profit atau laba bersih setiap tahunnya. Sehingga para investor dapat memutuskan untuk dapat berinvestasi saham pada perusahaan tersebut, semakin tinggi nilai laba (EPS) maka investor menganggap prospek perusahaan sangat baik untuk

44

kedepannya sehingga mempengaruhi terhadap harga saham. Namun berdasarkan hasil analisis yang diperoleh yang menunjukkan hipotesis 1 tidak diterima hal tersebut disebabkan adanya pengaruh perekonomian yang tidak stabil pada saat periode pengamatan yang menyebabkan nilai laba rendah sehingga mempengaruhi harga saham, dimana nilai harga

kedepannya sehingga mempengaruhi terhadap harga saham. Namun berdasarkan hasil analisis yang diperoleh yang menunjukkan hipotesis 1 tidak diterima hal tersebut disebabkan adanya pengaruh perekonomian yang tidak stabil pada saat periode pengamatan yang menyebabkan nilai laba rendah sehingga mempengaruhi harga saham, dimana nilai harga

Dokumen terkait