• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. SETING SOSIAL EKONOMI DAN KARAKTERISTIK

4.6. Magnet Nagri Arab:Lain Kapok Kalah Beuki Gawok

Akumulasi dari berbagai permasalahan dalam ketenagakerjaan di tanah air seperti kurangnya lapangan kerja, kurangnya akses terhadap berbagai sumberdaya seperti lahan pertanian, kemiskinan dan mudahnya mendapatkan sponsor yang siap membantu membiayai bekerja di luar negeri menyebabkan permintaan terhadap tenaga kerja di luar negeri setiap tahun terus bertambah. Berbagai kasus mengenaskan yang menimpa tenaga kerja perempuan di luar negeri tidak pernah menyurutkan keinginan perempuan muda dari desa-desa di Indonesia, termasuk dari Desa Panyingkiran dan Ciherang untuk mengadu nasib di negara-negara kaya.

Menurut migran di kedua desa, perlakuan tidak manusiawi yang di alami mereka selama bekerja di Arab Saudi merupakan resiko dari bekerja di luar negeri. Mereka seringkali hanya

mengaitkan dengan “tos nasibna panginten”, karena menurut mereka, nasib setiap orang tidak

sama. Mereka sering mengistilahkan bahwa bekerja di Arab Saudi “lain kapok, kalah beuki gawok” yang artinya meskipun selama bekerja mereka pernah mengalami perlakuan yang tidak manusiawi dari majikan dan keluarganya, tetapi hal tersebut tidak pernah membuat mereka jera dan kapok, bahkan seperti ketagihan, sehingga mengakibatkan mereka akan kembali ke Arab

Saudi66, atau apa yang dinamakan sebagai yo-yo migration(Margolis, 2004)

65

Istilah ini untuk diambil dari penuturan beberapa responden selama penelitian, dan diambil dari peribahasa Sunda

yang arti harfiahnya adalah “bukannya kapok malah semakin bertambah ketagihan”. Kondisi ini menggambarkan, bahwa meskipun buruh migran permpuan dari Desa Panyingkiran dan Ciherang sering mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari majikan, tetapi keinginan untuk menjadi pembantu rumahtangga di luar negeri, khususnya di Negara-negara Timur Tenga tidak pernah surut, bahkan setiap tahun terus bertambah.

66

Seorang informan dari Desa Ciherang yaitu H.Omn, dalam wawancaranya mengungkapkan bahwa sebagian besar dari kerabat dia pernah dan ada beberapa yang masih bekerja di Arab Saudi. Salah seorang keponakannya yang lebih dari sepuluh tahun bekerja di Arab Saudi pernah dilarang untuk pergi lagi, dengan harapan mendapatkan jodoh dan segera menikah di kampungnya. Hal ini mengingat usia keponakannya sudah dua puluh lima tahun lebih, dimana usia tersebut untuk ukuran di pedesaan sudah termasuk kategori melewati cukup umur. Namun usaha keluarga

Daya tarik untuk meraih real dan dinar agar bisa memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga mengalahkan ketakutan dan resiko bekerja yang harus dihadapi migran perempuan pedesaan. Pada kondisi ini seharusnya terdapat jalan keluar yang harusnya menjadi prioritas pemerintah dalam menangani ketenagakerjaan, khsusunya perlindungan para tenaga kerja yang bekerja di luar negeri.

Daya tarik lain adalah keinginan untuk bisa melaksanakan ibadah haji dari sebagian67

migran perempuan, baik dariDesa Panyingkiran maupun Desa Ciherang yang mayoritas

beragama Islam. Menurut mereka, sebagai warga yang berasal dari lapisan “jelema teu boga”,

bisa melaksanakan ibadah haji merupakan suatu keinginan yang sulit terwujud, tetapi dengan menjadi PRT di Arab Saudi, maka peluang tersebut semakin terbuka.

Rasionalitas dibalik motif tersebut karena menunaikan ibadah haji selain merupakan kewajiban rukun Islam kelima, dan hukumnya wajib bagi umat yang memiliki kemampuan baik secara ekonomi, maupun fisik, gelar haji/hajjah juga menjadi simbol status sosial baru di pedesaan. Hal ini terungkap dari sebutan warga kepada setiap orang yang pernah melaksanakan

Haji, selalu diberi tambahan gelar “Haji atau Hajjah”, baik dalam penyebutan nama sehari-hari

maupun dalam bentuk undangan atau catatan berbagai dokumen resmi di desa.Sebagai sebuah ilustrasi, di Panyingkiran terdapat eks migran perempuan yang saat ini membuka warung, dan berjualan nasi uduk. Ketika pembeli berbelanja, dari luar warung, pembeli cukup memanggil “Haji, meuli yeuh” (Haji, membeli nih), atau ketika seorang eks-migran lewat di depan rumah

tetangganya, akan disapa “ Bade kamana Nyi Haji?”(Mau kemana Nyi Haji?).

Dibalik keberhasilan beberapa migran perempuan Desa Panyingkiran dan Ciherang dalam memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga, terdapat beberapa migran yang kurang beruntung. Salah seorang migran perempuan yang nasibnya kurang beruntung adalah Iym (42 tahun), yang pernah bekerja selama dua belas tahun di Arab Saudi, dan untuk sementara Iym memutuskan untuk tidak pergi lagi ke Arab Saudi, Iym hanya memiliki rumah permanen dan sempat menggadai sawah dan membeli motor. Saat ini anak Iym sudah empat tahun bekerja di Arab Saudi. Selama bekerja di Arab Saudi, Iym berganti-ganti majikan, dan beberapa kali

mereka untuk secepatnya mencarikan jodoh belum berhasil, karena keponakan tersebut hanya betah beberapa bulan tinggal di Ciherang, dan memilih beranngkat bekerja lagi di Arab Saudi.

67

Dikatakan sebagian, karena selama wawancara di Desa Panyingkiran maupun Ciherang, hanya beberapa orang saja yang terang-terangan yang sejak awal memiliki niat untuk bisa melaksanakan ibadah haji disamping tentu saja memperbaiki kondisi perekonomian keluarga, mereka umumnya berasal dari migran perintis dan beberapa migran pengikut terutama mereka yang memiliki pemahaman terhadap agamanya kuat.

mendapat perlakuan kasar seperti dipukul majikan perempuan, dan laki-laki, dibenturkan kepala dan perlakuan non fisik sepertidimarahimajikan sudah sering diterima Iym. Menurut penuturan Iym, semua penderitaan yang dialami selama bekerja sebagai pembantu rumahtangga sudah „nasibnya‟ yang kurang baik, karena banyak teman-temannya yang cukup beruntung memiliki majikan yang baik. Berikut penuturan Iym:

Selama bekerja di Arab Saudi lebih banyak penderitaaannya, mungkin sudah nasib saya harus begini, tetapi saya selalu menguatkan diri untuk bertahan, apalagi saya tahu

Abah di kampung selalu membantu saya dengan usaha batin68, sering puasa sehingga

penderitaan yang saya rasakan seringkali tidak saya rasakan. Saya hanya ingin memiliki rumah bagus seperti tetangga, punya sawah untuk bekal makan sehari-hari dan bekal kalau saya sudah tidak kuat lagi bekerja(Wawancara, 10/2/2010).

Meskipun pernah mengalamiberbagai pengalaman pahit, Iymmengaku tidak kapok bekerja di Arab Saudi, tetapi saat ini, untuk sementara, tidak akan berangkat lagi karena harus mengurus dua anaknya yang masih bersekolah di SD, dan satu orang cucu dari anak pertamayang saat ini masih bekerja di Arab Saudi.

Dari hasil penelitian di kedua desa sangat jelas terlihat bahwa keinginan untuk memperbaiki perekonomian keluarga menjadi motif utama mengapa mereka memilih bekerja di luar negeri. Apabila kondisi perekonomian keluarga mereka membaik dengan indikator rumah permanen lengkap dengan berbagai perabotan rumahtangga, memiliki kendaraan bermotor, bahkan memiliki lahan pertanian (berupa tanah darat dan sawah), maka status sosial keluarga migran juga mengalami peningkatan. Keluarga migran perempuan yang mengalami mobilitas sosial vertikal dari lapisan sosial terbawah bisa naik menjadi lapisan menengah, bahkan masuk ke lapisan atas di desa mereka. Hal ini di alami antara lain oleh ITA (36 tahun) yang setelah bekerja di Arab Saudi selama delapan tahun lebih, saat ini menjadi “jelema beunghar”, dia

68

Menurut pengakuan Iym, selama bekerja di luar negeri, dia pernah dipukul bagian perut dan tangannya oleh sepotong besi, gara-gara lalai dalam mengerjakan tugas sehari-hari. Perlakuan kasar majikan terutama diterima pada waktu pertama menjadi pembantu dan Iym belum memiliki keterampilan bekerja dengan menggunakan alat-alat rumahtangga yang semuanya serba elektrik. Bapak Iym yang merupakan “orang pintar” di kampunya sering melakukan tirakat agar Iym diberi kekuatan fisik dan ketabahan. Menurut pengakuan Iym, usaha bapaknya sangat terasa ketika dia dipukuli seringkali badannya tidak begitu merasa sakit, dan majikannya kadang-kadang bersikap sangat baik kepada Iym. Dalam hal usaha batin, salah seorang Bapak, yaitu Gcn, yang anak perempuannya bernama N.Yt pernah bekerja di Arab Saudi mengaku bahwa selama anaknya bekerja di Arab Saudi, dia selalu mendatangi beberap orang kyai ternama dan melakukan jiarah ke tempat-tempat yang dikeramatkan umat Islam seperti ke makam Sunan Gunung Jati-Cirebon, makam Sultan Hasanuddin-Serang dan Syeh Mansur di Cikadueun-Banten. Hal ini dilakukan Gcn, agar anaknya diberi berkah keselamatan, kesehatan dan disayang oleh majikan, dan menurutnya, usahanya membuahkan hasil, anaknya selama 8 tahun betah bekerja di Arab Saudi dan termasuk berhasil karena mampu membeli sawah yang luasnya kurang lebih 2,5 hektar, serta bisa membuka warung yang cukup besar untuk ukuran di desa.

mampu memiliki kekayaan berupa sawah kurang lebih 3,5 hektar, tanah darat, toko sarana produksi pertanian, mobil bak terbuka, dan rumah permanen. Keluarga ITA saat ini bisa dikatakan sebagai salah satu patron di desa Panyingkiran yang memiliki beberapa pekerja yang menjadi clientnya. Bentuk patronase ini terjadi sebagai pengaruh adanya resiprositas antara keluarga ITA sebagai orang kaya dengan beberapa pekerja/buruh yang menggantungkan hidupnya kepada keluarga ITA.

Perbaikan status sosial ekonomi yang dirasakan keluarga migran diakui oleh berbagai pihak, meskipun demikian beberapa migran mengalami nasib yang kurang beruntung, bahkan ada yang pulang ke desa hanya membawa pakaian yang melekat di badan. Informan kunci dari Desa Panyingkiran yaitu Swd(50 tahun) dalam wawancara mendalam menyatakan bahwa keluarga yang memiliki anak bekerja di luar negeri khususnya di Arab Saudi mengalami perbaikan sosial ekonomi, tetapi juga memiliki resiko kerja yang sangat berat. Berikut petikan wawancara dengan Swd (50 Thn):

Bekerja di Arab Saudi memang sangat banyak resiko, bukan hanya menurut berita di koran atau TV, di desa saya ada beberapa orang yang pulang dari Arab bukannya berhasil membeli ini dan itu, tetapi pulang dengan kondisi menghawatirkan. Misalnya ada seorang perempuan warga desa yang pulang dalam keadaan stres, ada beberapa perempuan yang hamil tanpa suami. Tetapi meskipun banyak kejadianyang sangat mengenaskam, sampai saat ini penduduk desa Panyingkirantidak pernah kapok atau takut

pergi bekerja di Saudi. Asal perempuannya rajin dan “leukeun” (tekun), mereka bisa

berhasil, tetapi merekayang tidak tahan mental, pasti tidak akan berhasil.Mereka bukan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, malah sebaliknya banyak yang hanya menderita dan mendapat malu.(Wawancara, 12/2/2010)

Mengenai resiko berat yang harus dihadapi migran perempuan di luar negeri, semua migran mengaku bahwa sebelum mereka berangkat tetap saja memiliki berbagai kehawatiran. Berbagai informasi mengenai resiko bekerja di Arab Saudi, baik suka dan duka umumnya diperoleh dari cerita teman, saudara, tetangga yang terlebih dahulu bekerja di Arab. Meskipun sudah banyak memperoleh informasi, mereka mengaku tetap saja memiliki kehawatiran sebelum berangkat. Salah satu resiko berat bagi migran perempuan adalah kemungkinan mendapat perlakuan majikan berupa pelecehan seksual, pemerkosaan yang seringkali berakhir dengan kehamilan di luar nikah. Hal ini dialami oleh beberapa orang perempuan migran asal Desa

Panyingkiran dan Ciherang69.

69

Informan kunci menyebutkan beberapa mantan migran perempuan yang memiliki anak “Arab” dan informasi tersebut bukan sekedar isapan jempol, dalam kesempatan FGD di Balai Desa, peneliti menemukan beberapa anak