• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Maksud dan Tujuan

Maksud penyusunan Laporan Tahunan 2020 adalah agar diperoleh data dan bahan informasi penilaian atas pencapaian kinerja organisasi yang disajikan dalam bentuk tabel dan angka, serta narasi capaian kinerja.

Tujuan penyusunan Laporan Tahunan ini yaitu:

1. Untuk mengetahui capaian kinerja sesuai dengan target yang telah ditetapkan, hambatan, dan upaya tindak lanjut yang akan diambil untuk menyelesaikan masalah;

2. Untuk mengetahui informasi terkait sumber daya rumah sakit;

3. Untuk mengetahui keberhasilan program dan kegiatan yang ditetapkan;

4. Sebagai acuan dalam menyusun dan membandingkan kinerja setiap unit kerja untuk peningkatan kinerja di masa yang akan datang.

C. SISTEMATIKA LAPORAN

Sistematika penyajian Laporan Tahunan 2020 RSJM adalah sebagai berikut:

Bab 1 Pendahuluan

Berisi latar belakang, maksud dan tujuan, serta sistematika laporan. Menjelaskan secara singkat profil dan dasar hukum RSJM; maksud dan tujuan penyusunan L aporan Tahunan 2020; serta sistematika penyusunan laporan.

Bab 2 Kondisi Rumah Sakit

Terdiri dari sejarah, kelembagaan RS, tujuan dan sasaran RS yang tercantum dalam Rencana Strategis Tahun 2019-2024, Sumber Daya Manusia (SDM), serta aset yang dimiliki RS.

Bab 3 Kinerja Keuangan

Menguraikan tentang realisasi anggaran pendapatan, realisasi anggaran belanja baik fungsional maupun non fungsional, serta capaian indikator kinerja keuangan.

Bab 4 Kinerja Non Keuangan

Memaparkan tentang kinerja layanan per unit kerja, capaian dan evaluasi program kegiatan, capaian dan evaluasi Indikator Kinerja Utama (IKU), capaian dan evaluasi Standar Pelayanan Minimal (SPM), capaian dan evaluasi indikator mutu, dan penilaian kinerja Badan Layanan Umum Daerah secara keseluruhan.

Bab 5 Permasalahan

Menguraikan tentang permasalahan dan upaya pemecahan masalah.

Bab 6 Penutup

Menjelaskan tentang kesimpulan, serta rekomendasi dalam upaya perbaikan di masa yang akan datang.

BAB II KONDISI RUMAH SAKIT

A. SEJARAH

Pelayanan Kesehatan Jiwa di Surabaya dimulai sekitar tahun 1954, untuk wilayah Jawa Timur sudah dilakukan oleh Rumah Sakit Simpang Surabaya. Pada kurun waktu tersebut pelayanan kesehatan jiwa dilakukan oleh dokter jiwa dan dokter umum yang jumlahnya masih sangat terbatas, dengan sarana dan prasarana yang sangat sederhana.

Pelayanan rawat inap ditampung di Rumah Sakit Pegirian dengan kapasitas tempat tidur terbatas, serta sarana dan prasarana yang belum memenuhi syarat yang merupakan peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang fungsinya sebagai Doorganghuis (Rawat Inap dengan surat pengadilan sebagai referensi dari Rumah Sakit Pegirian bila rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Lawang). Dengan adanya fenomena tersebut Prof. DR.

Dr. R. Moeljono Notosoedirdjo, Sp.KJ., Sp.S., MPH. mempunyai gagasan dan sebagai konseptor untuk mendirikan pusat pelayanan kesehatan jiwa masyarakat wilayah Surabaya sekitarnya dan Jawa Timur pada umumnya.

Pada tahun 1951 Departemen Kesehatan membeli sebidang tanah di kawasan Menur dan pembangunan dilakukan mulai tahun 1954, tetapi terkendala kebijakan keuangan dan pendanaan. Selanjutnya pada tahun 1960 secara bertahap dilakukan pembangunan ruang-ruang perawatan dan fasilitas lain yang persiapannya dilakukan oleh Departemen Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan. Agar pembangunannya dapat berjalan lancar, diadakan kerjasama antara Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur, Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur, Dr. Bahrawi Wongsokoesoemo, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Prof.

Asmino Setyonegoro dan Kepala Direktorat Kesehatan Jiwa Departeman Kesehatan, Prof. Kusumanto Setyonegoro pada bulan Januari 1972.

Pada tahun 1973 – 1974 Departemen Kesehatan Republik Indonesia. mengeluarkan Surat Keputusan tanggal 28 Desember 1973 No. 1867/Kes/10/1973 Tentang Pengurusan Penyerahan Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya kepada Daerah Propinsi Tingkat I Jawa Timur, kemudian pembangunannya dilanjutkan dengan usulan DUP tahun 1973 – 1974. Sejak itu dimulailah pembangunan dan pemenuhan fasilitas kesehatan dan pembentukan Tim yang menangani proyek tersebut yaitu Prof. DR. Dr. R.Moeljono Notosoedirdjo, Sp.KJ., Sp.S., MPH. sebagai pimpinan proyek.

Pembangunan fisik Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya didasari suatu pemikiran bahwa suasana lingkungan mempengaruhi proses penyembuhan yang dikenal sebagai “milieu therapy“. Lingkungan itu terdiri dari lingkungan fisik dan lingkungan non fisik manusianya.

Keduanya harus mendukung tercapainya lingkungan terapeutik, lingkungan yang nyaman dan tenang. Prinsip lain yang mendasari pembangunan Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya ini adalah kemasyarakatan “community base“ pada (Community Mental Health Center) yang berarti bahwa RSJM merupakan suatu tempat di mana masyarakat datang membawa segala keluhan kejiwaan, bukan suatu tempat yang tertutup dan menakutkan.

Pada tanggal 2 Juni 1976 melalui SK. Nomor 2501/Um, Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur menunjuk Dr. Moeljono Notosoedirdjo, Sp.KJ, MPH untuk menyelesaikan, menyiapkan, dan melaksanakan Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya yang mempunyai orientasi kemasyarakatan (Community Mental Health Approach).

Pembangunan fisik dibiayai anggaran APBN, sedangkan belanja rutin menjadi tanggung jawab Pemda Tingkat I Jawa Timur, sementara Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menyediakan tenaga ahlinya.

Setelah melengkapi gedung- gedung yang sudah ada dengan peralatan ruangan dan kantor maka Januari 1977 Pegawai dan Pasien dari RSJ Pegirian dipindahkan ke RS Jiwa Menur Surabaya setelah diseleksi. Setelah segala persiapan dilakukan maka pada tanggal 24 Maret 1977 Pusat Kesehatan Jiwa Masyarakat Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur, Bapak Soenandar Prijosoedarmo. Status Pusat Kesehatan Jiwa Masyarakat/Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya waktu itu adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur sampai tahun 1985.

Melalui SK Gubernur Jawa Timur Nomor 93 Tahun 1985 tanggal 14 September 1985, tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Jiwa Daerah, Pusat Kesehatan Jiwa Masyarakat /Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya menjadi Rumah Sakit Jiwa Daerah Menur dan merupakan Rumah Sakit Jiwa Kelas A dengan status Unit Pelaksana Dinas Kesehatan, menduduki Eselon II B serta bertanggung jawab kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur.

Pada tahun 2001 telah selesai dibangun Unit Pelayanan NAPZA/NARKOBA oleh Biro Perlengkapan Propinsi Jawa Timur dan diresmikan penggunaannya. Unit ini terdiri dari Gedung Poliklinik dan Gedung Pertemuan, Gedung Administrasi dan Penunjang Medik serta Gedung Rawat Inap dan Gedung Rehabilitasi; seluruhnya seluas 1.679m2.

Sesuai dengan perkembangan situasi maka dilakukan perubahan sistem manajemen Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya melalui ditetapkannya Peraturan Daerah Nomor 23 Tahun 2002 tentang Struktur Organisasi Tata Kerja Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya.

Struktur Organisasi Tata Kerja yang baru mengamanatkan bahwa Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya adalah unsur Penunjang Pemerintah Propinsi Jawa Timur yang berbentuk Badan yang bertanggung jawab kepada Gubernur lewat Sekretariat Propinsi Jawa Timur dengan eseloneringnya II a.

Pada tahun 2003 telah selesai dibangun fasilitas pelayanan rawat jalan yaitu Gedung Poliklinik Spesialis Non Jiwa yang meliputi pelayanan kesehatan bidang Syaraf, Jantung, THT, Paru, Kulit Kelamin, Gigi dan Kesehatan Jiwa non Psikotik dan Napza. Instalasi Laboratorium, Radiologi & Elektromedik telah dipimpin oleh dokter spesialis patologi klinik dan spesialis radiologi, sehingga semakin menunjang layanan RSJM yang paripurna.

B. KELEMBAGAAN

Tugas dan fungsi RSJM sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 11 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tatakerja RS Daerah Provinsi Jawa Timur dan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 113 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas Direktur, Wakil Direktur, Bidang, Bagian, Seksi, dan Sub bagian di RS Jiwa Menur.

Rumah Sakit mempunyai tugas melaksanakan upaya kesehatan secara berdayaguna dan berhasilguna dengan mengutamakan upaya penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya promotif, pencegahan, dan pelayanan rujukan kesehatan serta penyelenggaraan pendidikan, pelatihan tenaga kesehatan, penelitian, dan pengembangan di bidang kesehatan.

Untuk melaksanakan tugas tersebut, RSJM mempunyai fungsi yaitu:

1. Penyelenggaraan pelayanan medik;

2. Penyelenggaraan pelayanan penunjang medik dan non medik;

3. Penyelenggaraan pelayanan dan asuhan keperawatan;

4. Penyelenggaraan pelayanan rujukan;

5. Penyelenggaraan usaha pendidikan dan pelatihan;

6. Pelaksanaan fasilitasi penyelenggaraan pendidikan bagi calon dokter, dokter spesialis, sub spesialis, dan tenaga kesehatan lainnya;

7. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan kesehatan;

8. Penyelenggaraan kegiatan ketatausahaan;

9. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Gubernur sesuai bidang tugasnya.

Struktur Organisasi RSJM terdiri dari:

1. Direktur Tugas:

Memimpin, menetapkan kebijakan, membina, mengkoordinasikan dan mengawasi serta melakukan pengendalian terhadap pelaksanaan

2. Wakil Direktur Tugas:

Merumuskan kebijakan, mengembangkan, mengkoordinasikan, mengawasi, membina dan mengendalikan kegiatan pelayanan medik, keperawatan, penunjang medik dan instalasi di bawah koordinasinya.

3. Wakil Direktur Umum dan Keuangan Tugas:

Merumuskan kebijakan, mengembangkan, mengkoordinasikan, mengawasi, membina, dan mengendalikan kegiatan ketatausahaan, penyusunan program, pengelolaan keuangan, dan instalasi di bawah koordinasinya.

4. Bidang Pelayanan Medik Tugas :

Merencanakan dan mengembangkan pelayanan rawat inap, rehabilitasi, rawat jalan, rawat darurat, napza, keswamas, PKMRS, dan perumusan kebijakan dan koordinasi dengan instalasi.

5. Bidang Keperawatan Tugas :

Merencanakan dan mengembangkan pelayanan asuhan, mutu, tenaga, sarana keperawatan, perumusan kebijakan dan koordinasi dengan instalasi.

6. Bidang Penunjang Medik Tugas:

Merencanakan dan mengembangkan pelayanan penunjang medik, rekam medik, dan perumusan kebijakan dan koordinasi dengan instalasi.

7. Bagian Tata Usaha Tugas:

Merencanakan dan mengembangkan kegiatan ketatausahaan, kepegawaian, perlengkapan, perumusan kebijakan, dan koordinasi dengan instalasi.

8. Bagian Program Tugas:

Merencanakan dan mengembangkan penyusunan program, anggaran, evaluasi, pelaporan dan perumusan kebijakan dan koordinasi dengan instalasi.

9. Bagian Keuangan Tugas:

Mempunyai merencanakan dan mengembangkan kegiatan penerimaan pendapatan, perbendaraan, verifikasi, akuntansi, dan perumusan kebijakan dan koordinasi dengan instalasi.

10. Instalasi

a. Instalasi Rawat Jalan b. Instalasi Psikologi

c. Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja d. Instalasi Rawat Inap I

e. Instalasi Rawat Inap II

f. Instalasi Gawat Darurat g. Instalasi Rehabilitasi h. Instalasi Napza

i. Instalasi Farmasi j. Instalasi Laboratorium

k. Instalasi Radiologi dan Elektromedik l. Instalasi Gizi

m. Instalasi Pemeliharaan Sarana RS n. Instalasi Kesehatan Lingkungan

o. Instalasi Pendidikan, Pelatihan, dan Penelitian p. Instalasi Kesehatan Jiwa Masyarakat dan PKRS q. Instalasi TI dan SIM

r. Instalasi Casemix 11. Komite

a. Komite Medik

b. Komite Keperawatan

c. Komite Tenaga Kesehatan Lainnya

d. Komite Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien e. Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

f. Komite Farmasi dan Terapi

g. Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja h. Komite Etik dan Penelitian

i. Komite Etik dan Hukum

j. Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba

12. Staf Medik Fungsional (Kelompok Staf Medis) dan Staf Fungsional Lainnya

13. Satuan Pemeriksaan Internal

Struktur Organisasi dapat dilihat pada Gambar 1.1 pada halaman berikutnya.

Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tatakerja Rumah Sakit Daerah Provinsi Jawa Timur, Struktur Organisasi Rumah Sakit Jiwa Menur ditampilkan pada Gambar 2.3.

Gambar 2.1

Struktur Organisasi RS Jiwa Menur Provinsi Jawa Timur

C. TUJUAN DAN SASARAN

Berdasarkan visi dan misi kedua Gubernur Jawa Timur yaitu terciptanya Kesejahteraan yang Berkeadilan Sosial, Pemenuhan Kebutuhan Dasar Terutama Kesehatan dan Pendidikan, Penyediaan Lapangan Kerja dengan Memperhatikan Kelompok Rentan, RSJM menetapkan tujuan dan sasaran jangka menengah guna mewujudkan visi dan misi Gubernur Jawa Timur tersebut.

Berdasarkan visi dan misi Gubernur Jawa Timur yang telah ditetapkan (misi 2), maka RSJM memiliki tujuan sebagai berikut:

Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Adapun indikator tujuan RSJM yang ingin dicapai pada tahun 2020 dapat dijabarkan sebagai berikut:

 Indeks Kesehatan menjadi 0.786

Sedangkan sasaran jangka menengah (sasaran strategis) juga ditetapkan berdasarkan tujuan RSJM, yaitu kondisi dengan indikator kinerja yang ingin dicapai pada akhir tahun 2020, terdiri dari:

1. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan jiwa dan non jiwa di RS yang efisien dan efektif meliputi pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, dengan indikator kinerja;

 Persentase elemen akreditasi RS yang memenuhi Standar Nasional Akreditasi RS menjadi 83%

2. Meningkatnya akuntabilitas kinerja perangkat daerah, dengan indikator kinerja;

 Nilai evaluasi implementasi SAKIP perangkat daerah menjadi 90,5 D. SUMBER DAYA MANUSIA

Gambaran selengkapnya keadaan ketenagaan RSJM sampai dengan 31 Desember 2020 dapat dilihat pada Tabel 2.1, Tabel 2.2, dan Tabel 2.3 berikut ini.

Tabel 2.1

Data Terpilah SDM RSJM Berdasarkan Golongan Tahun 2020

Golongan Perempuan Laki-Laki Jumlah

PNS Gol IV 18 8 26

PNS Gol III 123 80 203

PNS Gol II 47 50 97

PTT-PK 41 77 118

Total 229 215 444

Sumber : Laporan Bulanan RSJM

Pada tahun 2020, SDM RSJM berjumlah 444 orang, terdiri dari 229 perempuan dan 215 laki-laki. Berdasarkan Tabel 2.1 dapat terlihat bahwa SDM RSJM berstatus PNS berjumlah 326 orang atau 73,42% dan terdapat 118 orang (26,58%) yang berstatus PTT-PK. Adapun yang berstatus PNS sebagian besar berada pada Golongan III (62,27%), disusul Golongan II (29,75%), dan Golongan IV sebanyak 7,98%, serta tidak ada PNS dengan Golongan I. Pada PNS Golongan III dan Golongan IV terlihat bahwa proporsi perempuan lebih mendominasi, tetapi pada PNS Golongan II dan PTT-PK terlihat jika laki-laki menempati proporsi lebih besar.

Tabel 2.2 menampilkan data terpilah SDM berdasarkan jenis jabatan.

Berdasarkan jenis jabatan yang ada, keperawatan menempati posisi pertama dengan 164 orang atau 36,94% dari seluruh SDM yang ada, disusul tenaga non kesehatan dengan 131 orang (29,50%). Tenaga kesehatan lingkungan menempati proporsi terkecil yaitu 1,35% dan semuanya terdiri dari perempuan (100%).

Tabel 2.2

Data Terpilah SDM RSJM Berdasarkan Jabatan Tahun 2020

Jabatan Perempuan Laki-Laki Jumlah

Struktural 10 9 19

Medis 22 16 38

Psikolog Klinis 5 2 7

Keperawatan 81 83 164

Kefarmasian 19 3 22

Kesehatan Lingkungan 6 0 6

Gizi 10 1 11

Keterapian Fisik 8 4 12

Keteknisian Medis 12 6 18

Teknik Biomedika 12 4 16

Non Kesehatan 44 87 131

Total 229 215 444

Sumber : Laporan Bulanan RSJM

Data pola ketenagaan berdasarkan agama ditampilkan pada Tabel 2.3, terlihat bahwa sebagian besar SDM RSJM memeluk agama Islam (91,44%); disusul agama Kristen Protestan (4,95%); Katholik (2,70%);

serta Hindhu dan Budha masing-masing sebesar 0,45%.

Tabel 2.3

SDM RSJM Berdasarkan Agama Tahun 2020

Agama PNS PTT-PK Jumlah

Budha 0 2 2

Hindhu 1 1 2

Katholik 8 4 12

Kristen Protestan 21 1 22

Islam 296 110 406

Total 326 118 444

Sumber : Laporan Bulanan RSJM

E. ASET

Aset RSJM terdiri atas aset tetap, aset ekstra komptabel, aset tidak berwujud, dan aset lain-lain. Rekapitulasi jumlah aset RSHM pada akhir Tahun 2020 dapat dilihat pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4

Rekapitulasi Aset RSJM Per 31 Desember Tahun 2020

No. Jenis Aset Jumlah Nilai (Rp.)

1. Aset Tidak Berwujud

Aset Tidak Berwujud 18 Buah

1.037.265.600,00 1.037.265.600,00 2. Aset Ekstra Komptabel

Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan, Irigasi, dan Jaringan Aset Tetap Lainnya

225 Bh/Set

Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan, Irigasi, dan Jaringan Aset Tetap Lainnya

Konstruksi Dalam Pengerjaan

14.380 Bh/Set

Peralatan dan Mesin Aset Tidak Berwujud

1 Bh/Set 3 Bh

337.587.503,00 325.245.503,00 12.342.000,00

Total 177.128.579.029,13

Sumber : Laporan Mutasi Aset 2020

Dari total besaran aset sebesar Rp177.128.579.029,13; terdiri dari aset tidak berwujud sebesar Rp1.037.265.600,00 (0,59%); aset ekstra komptabel sebesar Rp63.289.835,00 (0,04%); aset tetap sebesar Rp175.690.436.091,13 (99,19%); dan aset lain-lain sebesar Rp337.587.503,00 (0,19%). Pada 01 Januari 2020 keadaan awal total aset sebesar Rp245.274.475.330,77 dan mengalami pengurangan sebesar Rp68.145.896.301,64 atau 17,79%. Mutasi aset terjadi pada:

1. Penambahan aset tidak berwujud sebesar Rp197.010.000,00

2. Penambahan aset tetap sebesar Rp50.532.557.916,36 dan pengurangan sebesar Rp116.296.171.277,00

3. Pengurangan aset lain-lain sebesar Rp2.579.292.941,00

Luasan bangunan RSJM secara keseluruhan sebesar 30.799 m², dengan rincian sebagaimana tersaji pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5

Rekapitulasi Bangunan RSJM Tahun 2020

No. Gedung Satuan Luas

1 Gedung Utama Lantai 1 M2 500

2 Gedung Utama Lantai 2 M2 500

3 Gedung Poliklinik Jiwa Lantai 1 M2 435 4 Gedung Poliklinik Jiwa Lantai 2 M2 379 5 Gedung Poli Spesialis Lantai 1 M2 640 6 Gedung Poli Spesialis Lantai 2 M2 640 7 Gedung Poli Spesialis Lantai 3 M2 640

8 Gedung IGD (3 Lantai) M2 1.548

9 Gedung Wijaya Kusuma M2 616

10 Gedung Anggrek M2 1.259

11 Gedung Flamboyan (2 Lantai) M2 1.301

12 Gedung Kenari M2 1.935

13 Gedung Rehabilitasi M2 445

14 Gedung Kesehatan Lingkungan & Dalin M2 122

15 Gedung Laundry M2 96

16 Pos Utara M2 23

17 Pos Selatan M2 23

18 Gedung Gizi M2 348

19 Gedung Radiologi M2 56

20 Gedung Graha Menur Lantai 1 M2 682

21 Gedung Graha Menur Lantai 2 M2 752

22 Gedung Hidrofuur M2 46

23 Gedung Gudang M2 204

24 Gedung Mushola M2 98

25 Gedung Kamar Mayat M2 80

26 Gedung Laboratorium M2 197

27 Gedung Poli Psikologi M2 235

No. Gedung Satuan Luas

28 Gedung Rekreasi M2 288

29 Gedung Prof. Soejonoes M2 364

30 Gedung Puri Mitra M2 305

31 Gedung Napza dan Metadon M2 1.279

32 Gedung Elektromedik M2 261

33 Gedung Rumah Dinas M2 300

34 Gedung Rumah Genset M2 32

35 Gedung Rumah Panel M2 156

36 Gedung Rumah Travo M2 86

37 Gedung Incinerator M2 9

38 Gedung Asrama M2 1.262

39 Gedung Asrama (PMI) M2 1.100

40 Gedung Ruang Mutu PPI M2 125

41 Gedung Instalasi Air Limbah M2 100

42 Gedung Ruang TB DOTS M2 24

43 Gedung Depo Air Minum M2 60

44 Gedung Gudang Laboratorium M2 26

45 Gedung Farmasi Apotek M2 874

46 Gedung Swab M2 60

47 Tempat Parkir (Kanan Gedung Rekreasi)

M2 300

48 Tempat Parkir (Kiri Gedung Rekreasi) M2 210

49 Gedung IPS-RS M2 400

50 Tempat Pembuangan Sementara Limbah B3

M2 120

51 Rumah Dinas Direktur M2 300

52 Gedung Gelatik M2 1.109

53 Gedung Generator Set M2 39

54 Gedung Rumah Genset M2 32

55 Gedung Intensive Care 3 Lantai M2 1.748

56 Gedung Gizi 2 Lantai M2 817

No. Gedung Satuan Luas

57 Gedung Terintegrasi M2 4.107

58 Gedung CSSD M2 128

59 Gedung PCR M2 88

60 Gedung Hydrant 1 M2 200

61 Gedung Hydrant 2 M2 200

62 Gedung Arsip M2 120

63 Gedung Instalasi Air Limbah M2 70

Total M2 30.799

Sumber : Subbag Perlengkapan

F. KAPASITAS TEMPAT TIDUR

Berdasarkan Surat Keputusan Direktur RS Jiwa Menur Nomor 188.4/6133/305/2020, berikut kapasitas tempat tidur di RSJM.

Tabel 2.6

Kapasitas Tempat Tidur RSJM

No Nama Ruang Kelas Jumlah TT Jumlah

Pria Wanita

1 Ruang Rawat Inap Jiwa 111 70 181

Puri Anggrek VIP A 1 1 2

Puri Anggrek VIP B 4 3 7

Puri Anggrek VIP C 2 2 4

Puri Anggrek VIP D 6 6 12

Puri Anggrek Kelas I 8 8 16

Gelatik Kelas II 5 0 5

Gelatik Kelas III 65 0 65

Flamboyan Kelas II 0 5 5

Flamboyan Kelas III 0 25 25

Kenari Selatan Kelas III

20 20 40

2 Ruang Rawat Isolasi Khusus Pasien ODGJ + COVID-19 (Moderate Care)

15 10 25

Wijaya Kusuma Kelas

II 15 10 25

No Nama Ruang Kelas Jumlah TT Jumlah Pria Wanita

3 Ruang Rawat Isolasi Khusus

COVID-19 (Moderate Care) 20

Lavender Kelas I 12

Edelweis Kelas I 8

4 Ruang Rawat Isolasi Khusus

COVID-19 (Low Care) 40

Kenari Utara Kelas II 40

5 Rehabilitasi Napza 20 0 20

Puri Permata Harapan Kelas 3

20 0 20

Jumlah Total 286

Sumber : SK Direktur RSJM

BAB III KINERJA KEUANGAN

A. REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN

Total pendapatan fungsional RSJM yang diperoleh sepanjang Tahun mencapai Rp51.859.037.711,82 atau tercapai 126,49%

dibandingkan target tahunan sebesar Rp41.000.000.000,00. Target tahunan ini telah mengalami penambahan pada PAPBD 2020 sebesar Rp4.350.000.000,00 dibandingkan target pendapatan pada APBD Murni Tahun 2020 sebesar Rp36.650.000.000,00. Secara keseluruhan pendapatan RSJM pada Tahun 2020 mengalami peningkatan sebesar Rp10.368.768.335,97 atau memiliki Sales Growth Rate (SGR) sebesar 24,99% dibandingkan pendapatan tahun 2019 sebesar.

Berdasarkan Tabel 3.1, terlihat bahwa tidak semua rincian pendapatan dapat melebihi target yang ditetapkan, rincian hasil pemanfaatan aset BLUD hanya dapat mencapai 89,33% dari target.

Tabel 3.1

Realisasi Pendapatan Fungsional RSJM Tahun 2020

Rincian Pendapatan Target (Rp) Realisasi Tahun 2020 (Rp)

% Capaian

Jasa Layanan BLUD 41.000.000.000,00 51.183.255.374,00 126,90 Hasil Pemanfaatan Aset

BLUD 500.000.000,00 446.630.500,00 89,33

Jasa Giro BLUD 90.000.000,00 105.555.012,82 117,28 Penerimaan BLUD Atas

Komisi, Potongan, Atau

Bentuk Lain 75.000.000,00 123.596.825,00 164,80

Total 41.000.000.000,00 51.859.037.711,82 126,49 Sumber : Laporan Bulanan RSJM, diolah

Penerimaan BLUD atas Komisi memiliki capaian realisasi tertinggi dibandingkan target yang ditetapkan, diikuti oleh Jasa Layanan BLUD, serta Jasa Giro BLUD. Tabel 3.2 menyajikan realisasi pendapatan fungsional RSJM pada tahun 2020 per bulannya.

Tabel 3.2

Realisasi Pendapatan Fungsional RSJM Tahun 2020 Per Bulan

Bulan Jasa Layanan BLUD

Hasil Pemanfaatan

Aset BLUD Jasa Giro BLUD

Penerimaan BLUD Atas

Komisi, Potongan, atau

Bentuk Lain

Jumlah

Januari 3.097.668.702,00 107.572.500,00 4.235.720,10 0,00 3.209.476.922,10 Februari 4.489.245.883,00 157.600.000,00 9.210.478,95 0,00 4.656.156.361,95 Maret 2.783.354.844,00 3.412.500,00 9.529.388,90 16.598.397,00 2.812.895.129,90 April 2.501.287.400,00 0,00 11.363.339,04 13.757.820,00 2.526.408.559,04 Mei 1.578.814.287,00 0,00 10.366.220,09 1.422.482,00 1.590.602.989,09 Juni 4.657.581.625,00 3.412.500,00 8.697.061,17 0,00 4.669.691.186,17

Juli 2.387.356.015,00 0,00 6.340.000,00 0,00 2.293.696.172,51

Agustus 5.483.966.051,00 0,00 7.070.030,50 54.017.263,00 5.545.053.344,50 September 4.815.688.480,00 69.440.000,00 7.018.613,42 21.399.864,00 4.913.546.957,42 Oktober 8.787.633.329,00 45.000.000,00 8.943.440,05 0,00 8.841.576.769,05 November 6.411.889.842,00 0,00 11.438.957,16 5.230.500,00 6.428.559.299,16 Desember 4.288.668.916,00 60.193.000,00 11.341.605,93 11.170.499,00 4.371.374.020,93

Total 51.183.255.374,00 446.630.500,00 105.555.012,82 123.596.825,00 51.859.037.711,82 Sumber : Laporan Bulanan RSJM, diolah

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa jasa layanan BLUD menempati proporsi terbesar dari seluruh pendapatan fungsional yaitu 99,02%; disusul hasil pemanfaatan aset BLUD (0,54%), selanjutnya penerimaan BLUD atas komisi, potongan, atau bentuk lain sebesar 0,28%. Adapun jasa giro BLUD menempati proporsi paling kecil yaitu sebesar 0,16%.

Realisasi pendapatan BLUD bulanan terlihat berfluktuatif, realisasi tertinggi dicapai pada Bulan Oktober 2020, sedangkan realisasi terendah terjadi di Bulan Mei 2020. Rendahnya realisasi pendapatan ini sangat dipengaruhi oleh masa pandemi COVID-19 yang menurunkan volume layanan di RSJM. Meskipun secara komulatif target pendapatan tercapai sebesar 126,49%, tetapi jika dibandingkan dengan target bulanan, tidak setiap bulan dapat mencapai target yang ditetapkan.

Pada awal pandemi yaitu Bulan Maret, April, dan Mei, realisasi pendapatan BLUD berada di bawah target yang ditetapkan, tetapi pada Bulan Juni 2020 realisasi pendapatan BLUD kembali berada di atas target bulanan yang ditetapkan kecuali pada Bulan Juli 2020 karena pembayaran klaim dari pihak ketiga khususnya dalam pelayanan COVID-19 masih belum diverifikasi, sementara volume layanan selain COVID-COVID-19 mengalami penurunan yang sangat berpengaruh pada realisasi pendapatan di bulan tersebut. Gambaran pendapatan fungsional per bulan secara lebih jelas ditampilkan pada Gambar 3.1 berikut ini.

Gambar 3.1

Realisasi Pendapatan Fungsional RSJM Tahun 2020 Per Bulan

Gambar 3.1 menggambarkan realisasi pendapatan fungsional tiap bulan jika dibandingkan dengan target pendapatan bulanan. Pada Bulan Januari sampai dengan Bulan September 2020, target pendapatan sesuai dengan target pendapatan APBD Murni Tahun 2020. Mulai Bulan Oktober 2020 terdapat peningkatan target pendapatan bulanan sebesar Rp362.500.000,00 per bulan atau meningkat sebesar 11,87% karena penyesuaian target pendapatan berdasarkan PAPBD Tahun 2020.

Selanjutnya disajikan rincian pendapatan berdasarkan uraian pendapatan sampai dengan akhir Desember 2020 yang ditampilkan pada Tabel 3.3.

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Target 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,4 3,4 3,4 Realisasi 3,2 4,6 2,8 2,5 1,5 4,6 2,2 5,5 4,9 8,8 6,4 4,3 1,000,000,000.00

2,000,000,000.00 3,000,000,000.00 4,000,000,000.00 5,000,000,000.00 6,000,000,000.00 7,000,000,000.00 8,000,000,000.00 9,000,000,000.00 10,000,000,000.00

Pendapatan (Rupiah)

Tabel 3.3

Realisasi Pendapatan Fungsional RSJM Tahun 2020 Per Uraian Pendapatan

Uraian Pendapatan Target Pendapatan Realisasi Tahun

2020 %

Instalasi Rawat Jalan 1.100.000.000,00 1.648.005.000,00 149,82 Instalasi Rawat Inap 1.000.000.000,00 886.471.796,00 88,65

NAPZA 600.000.000,00 528.471.796,00 88,07

IGD 35.000.000,00 192.891.000,00 551,12

Laboratorium 207.000.000,00 567.293.300,00 274,05 Rehabilitasi Medik 5.000.000,00 4.300.000,00 86,00

Radiologi 40.000.000,00 70.360.000,00 175,90

Instalasi Gizi 300.000.000,00 358.973.500,00 119,66 Instalasi Farmasi 6.030.000.000,00 6.160.515.928,00 102,16 Jaminan Kesehatan

Nasional 16.000.000.000,00 16.160.515.928,00 104,33 Pely. Masyarakat Miskin 4.500.000.000,00 4.596.525.486,00 102,15 Pelayanan Pendidikan 421.800.000,00 561.250.000,00 130,69 Pelayanan COVID-19 10.096.200.000,00 18.925.418.400,00 187,45 Sewa Bangunan 500.000.000,00 446.630.500,00 89,33 Jasa Giro Bank 90.000.000,00 105.555.012,82 117,28 Retur, denda 75.000.000,00 123.596.825,00 164,80 Total 41.000.000.000,00 51.859.037.711,82 126,49 Sumber : Laporan Bulanan RSJM

Berdasarkan Tabel 3.3 terlihat bahwa hampir seluruh layanan/uraian pendapatan dapat memenuhi target yang ditetapkan dalam PAPBD 2020, bahkan beberapa layanan memiliki capaian di atas 200% yaitu layanan IGD dan Laboratorium. Terdapat beberapa layanan masih belum dapat melampaui target meskipun sudah mengalami penyesuaian besaran target dalam PAPBD 2020 yaitu Instalasi Rawat Inap, NAPZA, dan Rehabilitasi Medik, serta sewa bangunan.

Tabel 3.4

Perbandingan Pendapatan Fungsional RS Jiwa Menur Tahun 2019-2020

Rincian Pendapatan Realisasi Tahun 2019 (Rp)

Realisasi Tahun 2020 (Rp)

% Peningkatan

Jasa Layanan BLUD 40.890.990.822,00 51.183.255.374,00 25,17 Hasil Pemanfaatan

Aset BLUD 481.251.168,00 446.630.500,00 (7,19)

Jasa Giro BLUD 86.216.291,85 105.555.012,82 22,43 Penerimaan BLUD

Atas Komisi, Potongan, Atau Bentuk Lain

31.811.094,00 123.596.825,00 288,53

Total 41.490.269.375,85 51.859.037.711,82 24,99 Sumber : Laporan Bulanan RSJM, diolah

Meskipun terlihat bahwa secara total terdapat peningkatan pendapatan sebesar 24,99% dibandingkan pendapatan tahun 2019, tetapi tidak seluruh rincian pendapatan mengalami peningkatan, seperti pada hasil pemanfaatan aset BLUD yang justru mengalami penurunan sebeasr 7,19%; hal ini karena tidak adanya pemanfaatan asrama selama masa

Meskipun terlihat bahwa secara total terdapat peningkatan pendapatan sebesar 24,99% dibandingkan pendapatan tahun 2019, tetapi tidak seluruh rincian pendapatan mengalami peningkatan, seperti pada hasil pemanfaatan aset BLUD yang justru mengalami penurunan sebeasr 7,19%; hal ini karena tidak adanya pemanfaatan asrama selama masa

Dokumen terkait