VI HASIL DAN PEMBAHASAN
6.5. Manajemen Risiko yang dilakukan Petan
Petani sebagai pelaku utama dalam kegiatan usahatani, pada dasarnya telah melakukan beberapa tindakan dalam menghadapi adanya risiko usaha. Berdasarkan observasi di lapangan bahwa rata-rata petani telah memiliki pengalaman berusahatani cabai merah selama bertahun-tahun. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tingkat risiko usahatani cabai merah cukup tinggi, namun usahatani tersebut masih dianggap menguntungkan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan petani cabai merah di lapangan, terdapat beberapa hal yang biasa dilakukan oleh petani dalam mengahadapi risiko pada kegiatan usahatani cabai merah, yaitu sebagai berikut:
1. Pengaturan pola tanam
Pada dasarnya setiap tanaman memiliki kriteria ekologis masing-masing. Begitu pula dengan tanaman cabai merah. Kesesuaian kondisi lingkungan dengan kriteria ekologis yang dibutuhkan sangat dipengaruhi oleh penentuan waktu dan pola penanaman. Selain aspek teknis, pengaturan pola tanam juga berhubungan dengan aspek ekonomis, seperti faktor harga dan efisiensi usahatani. Oleh karena itu, pengaturan pola tanam ini dapat digunakan sebagai upaya dalam menghadapi risiko usahatani.
Pada petani cabai merah di Desa Perbawati, pola tanam cabai merah yang dilakukan cenderung sama untuk setiap musimnya, yaitu secara monokultur. Hal ini dilakukan oleh petani cabai merah karena apabila penanaman cabai merah ditumpangsarikan dengan tanaman lain, maka pertumbuhan tanaman cabai kurang optimal karena cabai merupakan tanaman yang banyak memakan unsur hara tanah. Biasanya petani melakukan masa “bera” dalam pola tanamnya, yaitu berkisar dua bulan. Masa “bera” ini biasanya digunakan petani cabai merah untuk menanam tanaman yang dapat mengembalikan unsur hara tanah dan yang memiliki umur tanam tidak lama, seperti kacang panjang, kubis, dan bawang daun.
Pola tanam yang dijelaskan seperti pada Gambar 8 merupakan pola tanam petani responden secara umum. Pada praktiknya, tidak seluruh petani menanam cabai merah secara serentak dalam satu waktu. Berdasarkan wawancara yang dilakukakn kepada responden, keputusan petani dalam menanam sangat dipengaruhi oleh ketersediaan modal, terutama bagi petani kecil. selain itu, penanaman yang tidak serentak ini juga dilakukan petani karena apabila seluruh petani menanam cabai, maka pasokan cabai akan berlebih sehingga harga cabai akan rendah. Namun, penanaman cabai merah yang tidak serentak ini akan dapat menyebabkan siklus hama menjadi tidak terputus. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengaturan pola tanam untuk seluruh petani cabai merah secara serentak. Akan tetapi, untuk mengatasi over supply maka pengaturan pola tanam secara serentak harus dilakukan di setiap wilayah sentra.
2. Pengendalian hama dan penyakit
Cabai merah merupakan tanaman yang cukup rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Hama dan penyakit tersebut dapat menyerang mulai dari akar, batang, daun, bunga, dan buah. Oleh karena itu, hama dan penyakit tanaman merupakan faktor risiko pada kegiatan usahatani. Untuk menghadapi permasalahan hama dan penyakit tanaman tersebut, maka petani melakukan beberapa hal seperti penyemprotan secara rutin, penggunan obat-obatan tertentu, dan sebagainya.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan, rata-rata frekuensi penyemprotan tanaman berkisar dua hingga tiga hari sekali. Namun, jika musim hujan penyemprotan dapat dilakukan satu hari sekali. Sementara saat kemarau panjang penyemprotan dapat dilakukan 6 hari sekali. Perlakuan penyemprotan ini juga disesuaikan dengan jenis hama dan penyakit yang dihadapi. Selain itu, perlakukan dalam pengendalan hama dan penyakit tanaman cabai merah, juga disesuaikan dengan waktu dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Penjelasan mengenai pengendalian hama dan penyakit tanaman cabai merah dapat dilihat pada Tabel 29.
Meskipun petani cabai merah sudah melakukan beberapa cara untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman, namun upaya-upaya tersebut belum bersifat terpadu. Petani cabai merah di Desa Perbawati cenderung menggunakan obat-obatan melebihi dosis yang ditentukan. Dalam menggunakan obat-obatan tersebut, petani cabai merah di Desa Perbawati belum memperhatikan aspek lingkungan dan kesehatan. Akibatnya, beberapa jenis hama maupun penyakit justru menjadi resisten terhadap obat-obatan tersebut. Belum dilakukannya pengendalian hama dan penyakit secara terpadu bukan karena pengetahuan petani yang terbatas, namun karena petani tidak ingin hasil usahatani cabainya rusak dan produksi rendah.
Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, bahwa petani telah sering mendapatkan penyuluhan mengenai budidaya cabai merah yang baik dan benar, bahkan petani juga telah mendapatkan pelatihan dalam penggunaan bahan organik. Namun, sampai saat ini petani masih sulit untuk mendapatkan bahan oraganik tetsebut serta harganya yang cukup tinggi. Sementara harga cabai masih berfluktuatif. Oleh karena itu, petani cabai merah lebih baik menghindari risiko dengan cara masih menggunakan obat-obatan kimia.
Tabel 29. Cara Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Cabai Merah yang Dilakukan oleh Petani di Desa Perbawati
Jenis hama dan penyakit Perlakuan
Lalat buah (Dacus ferrugineus) Mengumpulkan buah cabai yang diserang kemudian dimusnahkan
Penyemprotan secara rutin dengan insektisida
Thrips (Thrips sp) Penyemprotan rutin dengan insektisida Tungau (Tarsonemus translucens) Penyemprotan secara rutin dengan
insektiseda Layu bakteri (Pseudomonas solana-cearum
E.F Smith)
Perlakuan benih sebelum ditanam dengan direndam dalam bakterisida
Perbaikan drainase
Pencabutan tanaman yang sakit
Bercak daun dan buah Perlakuan benih yaitu direndam dalam fungisida
Pembersihan lingkungan dan membuang tanaman yang terserang
Penyemprotan dengan fungisida Busuk daun dan buah Pengaturan jarak tanam
Memusnahkan buah cabai yang busuk
Penyemprotan dengan fingisida Sumber: BP4K Kabupaten Sukabumi 2012
3. Pengelolaan pascapanen
Pengelolaan pascapanen pada kegiatan produksi cabai merah merupakan hal yang snagat penting. Hal ini dikarenakan sifat dari cabai merah yang tidak tahan lama. Pengelolaan pascapanen yang dilakukan oleh petani cabai merah di Desa Perbawati hanya proses sortasi, yaitu proses pemisahan antara cabai merah, cabai yang masih hijau, dan cabai yang busuk. Kemudian setelah proses sortasi, dilakukan pengepakan di dalam kardus. Proses grading dan penyimpanan tidak dilakukan petani cabai karena hasil panen petani akan langsung dibawa oleh pengumpul ke Pasar Induk Kramat Jati. Rata-rata hampir seluruh petani di Desa Perbawati melakukan hal yang sama. Namun, ada beberapa petani yang tidak langsung menjual kepada pengumpul. Beberapa petani cabai merah ini menjual atau penyuplai restoran-restoran padang dan supermarket, lalu cabai yang berkualitas rendah akan dijual ke pasaran. Biasanya petani cabai merah yang melakukan hal ini adalah petani yang memiliki modal sendiri atau tidak bergantung dengan pengumpul.
Meskipun risiko ketidakpastian harga sangat tinggi, namun petani cabai merah di Desa Perbawati tetap mengusahakan cabai merah. Petani akan langsung menjual cabai merah hasil panen karena petani tidak memiliki gudang penyimpanan. Oleh karena itu, meskipun harga cabai merah sangat rendah petani tetap akan langsung menjual tanpa harus menunggu harga cabai merah tinggi. 6.6. Analisis Perilaku Penawaran Cabai Merah di Desa Perbawati
Perilaku penawaran cabai merah dalam penelitian ini dijelaskan dengan melihat produksi cabai merah ditingkat petani. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa cabai merah yang diproduksi adalah cabai merah yang akan dipasok ke pasaran (penawaran sama dengan produksi). Asumsi ini digunakan untuk memudahkan peneliti dalam menganalisis perilaku penawaran cabai merah di Desa Perbawati. Selain itu, asumsi ini juga didasari oleh teori penawaran produksi pertanian.
Perilaku penawaran cabai merah ini dirumuskan dalam sebuah model regresi linier berganda dan double log. Selain didasarkan pada teori penawaran, penggunaan model regresi linier berganda ini dikarenakan model tersebut merupakan model yang cukup sederhana untuk menggambarkan suatu keadaan. Sementara, double log digunakan untuk mengetaui seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dalam satuan persen. Adapun variabel yang digunakan meliputi variabel biaya benih cabai merah (X1), variabel harga output cabai merah (X2), variabel biaya obat (X3), variabel biaya pupuk ponska (X4), variabel pupuk kompos (X5), variabel biaya kapur (X6), variabel variasi produksi cabai merah (X7). Adapun gambaran deskriptif secara statistik dari seluruh variabel dapat dilihat seperti pada Tabel 30.
Tabel 30. Deskripsi Statistik dari Setiap Variabel
Variabel Mean Std. Deviation N
(Y) Penawaran cabai merah 40,3376 37,05402 23 (X4) Biaya Benih 1.431.304.3478 336.604,76348 23 (X7) Harga Cabai Merah 13.978,2609 4.140,92178 23 (X5) Biaya Obat 15.958.356,5217 10.951.199,02496 23 (X1) Biaya Ponska 1.551.086,9565 834.855,67142 23 (X2) Biaya Kompos 8.555.652,1739 2.813.667,65836 23 (X3) Biaya Kapur 739.478,2609 123.130,70275 23 (X6) Nilai Variasi Produksi 18,6861 28,92887 23
Dalam penelitian ini, faktor penawaran yang lain seperti harga input dan teknologi tidak digunakan. Faktor tersebut tidak digunakan karena tidak memiliki nilai variasi. Jika suatu variabel tidak memiliki nilai variasi maka variabel tersebut tidak dapat dilakukan analisis regresi.
6.7. Analisis Model Perilaku Penawaran Cabai Merah