Analisis Risiko Produksi dan Perilaku Penawaran Cabai Merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

170  18  Download (0)

Teks penuh

(1)

12

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dukungan pemerintah terhadap pengembangan sektor pertanian sangat besar. Pemerintah terus melakukan upaya agar produksi dan kualitas pertanian serta Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian mengalami peningkatan. Pertanian merupakan salah satu sektor yang memiliki kontribusi besar terhadap total PDB nasional. Data BPS tahun 2007-2011, menunjukkan bahwa rata-rata laju pertumbuhan sektor pertanian adalah sebesar 5 persen. Namun demikian, sektor pertanian memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian Indonesia. Data laju pertumbuhan sembilan sektor perekonomian nasional dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Laju Pertumbuhan Sektor Perekonomian di Indonesia (%) Tahun 2007-2011

(2)

13 kontribusi terbesar diikuti dengan kelompok sayuran, biofarmaka, dan tanaman hias. Kontribusi PDB kelompok komoditas hortikultura dari tahun 2005-2009 dapat dilihat pada Tabel 2.

Selain sebagai kontributor PDB pertanian yang penting, hortikultura juga merupakan salah satu produk pertanian yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Hal ini terkait dengan fungsinya sebagai sumber gizi berupa vitamin dan mineral. Aneka ragam vitamin dan mineral tersebut diperoleh dari berbagai macam produk hortikultura yang terdiri dari buah-buahan dan sayur-sayuran.

Table 2.Perkembangan PDB Hortikultura Tahun 2005-2009

Komoditas Nilai PDB (Milyar Rp)

2005 2006 2007 2008 2009

Buah-buahan 31.694 35.448 42.362 47.06 50.595

Sayuran 22.63 24.694 25.587 28.205 29.005

Tanaman Hias 4.662 4.734 4.741 4.96 5.348

Biofarmaka 2.806 3.762 4.105 3.853 4.109

Hortikultura 61.792 68.639 76.795 84.078 89.057

Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura 2010

Cabai merah merupakan kelompok komoditas sayuran buah yang banyak dibudidayakan oleh petani baik secara tradisional maupun intensif di lahan sawah dataran rendah. Komoditi cabai merah termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubtitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan yang kaya akan vitamin dan mineral serta sebagai bahan obat tradisional. Komoditi cabai merah dalam bentuk segar antara lain mengandung kalori 31 kal, protein 1 gram, lemak 0,3 gram, karbohidrat 7,3 gram, kalsium 29 mg, fosfor 24 mg, besi 0,5 mg, vitamin A 470 SI, vitamin B1 0,05 mg, vitamin C 18 mg, Niacin, Capsaicin, Pektin, Pentosan, dan air (Setiadi 2008).

(3)

Jika kebutuhan perkapita cabai merah Indonesia adalah 1,38 kg dengan jumlah penduduk tahun 2008 sekitar 220 juta orang, maka kebutuhan cabai merah Indonesia adalah 303.600.000 kg per tahun. Kebutuhan cabai yang sangat besar ini juga harus diimbangi dengan produksi cabai yang tinggi agar tidak terdapat

lag, sehingga kebutuhan cabai lokal juga dapat dipenuhi oleh petani lokal tidak oleh impor, seperti pada akhir tahun 2010, dimana impor cabai dilakukan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan cabai dalam negeri. Pada Tabel 3 dapat dilihat kebutuhan masyarakat dalam mengkonsumsi cabai terutama sebagai bumbu masakan atau dalam bentuk segar untuk memberikan rasa pedas, aroma, warna maupun untuk memenuhi kebutuhan gizi.

Tabel 3. Konsumsi Cabai Merah di Indonesia (Kg/Kapita/Tahun) Tahun 2003-2008

Tahun Konsumsi Per Kapita Pertumbuhan

(Kg/Tahun) (%)

2007 1,35

2008 1,43 5,32

2009 1,40 -1,68

Sumber : Dirjen Hortikultura 2008

Sebagai bumbu masakan, konsumsi cabai merah mengalami perubahan yang cenderung meningkat. Konsumsi tertinggi per kapita tercapai pada tahun 2008 yaitu sebesar 1,43 kg per kapita per tahun, sedangkan terendah terjadi pada tahun 2007 sebesar 1,35 kg per kapita per tahun sehingga mengakibatkan penurunan dari tahun 2008-2009, yaitu sebesar 1,68 persen. Konsumsi yang tinggi ini mengindikasikan permintaan akan cabai merah juga cukup tinggi.

(4)

sebesar 1.378.727 ton. Meskipun demikian belum merupakan produksi maksimal yang bisa dicapai.

Tabel 4. Perkembangan Produksi Cabai Merah di Indonesia Tahun 1997 – 2010

Tahun Cabai Tahun Cabai

(5)

Data Tabel 5 menunjukkan bahwa, Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi cabai merah di Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan nilai perduktivitas tertinggi baik pada tahun 2009 ataupun 2010. Cabai merah merupakan komoditas sayuran yang menarik untuk diteliti, karena saat ini menjadi kebutuhan utama setelah beras. Hal ini terlihat dari nilai konsumsi cabai merah yang dari tahun ke tahun semakin meningkat, namun tidak diimbangi dengan tingginya nilai produksi cabai merah. Pada saat ini banyak wilayah di Provinsi Jawa Barat yang telah melakukan budidaya cabai merah, diantaranya adalah di Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Garut, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bogor.

1.2. Perumusan Masalah

Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu sentra sayuran di Provinsi Jawa Barat, salah satunya adalah cabai merah. Secara umum iklim di wilayah Kabupaten Sukabumi dapat dikategorikan sebagai daerah beriklim basah (humid tropical climate), sehingga cocok untuk pembudidayaan cabai merah. Dari data produksi pada Tabel 6 menunjukkan bahwa, Kabupaten Sukabumi memiliki urutan keempat setelah Kabupaten Cianjur. Hal ini mengindikasikan bahwa cabai merah merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Sukabumi. Selain itu, walaupun Kabupaten Sukabumi memiliki urutan keempat, namun pada Tabel 6 menunjukkan bahwa Kabupaten Sukabumi memiliki perubahan produksi per tahun yang positif. Perubahan terbesar yang bernilai positif ini mengindikasikan bahwa produksi cabai merah di Kabupaten Sukabumi terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan serta penurunan yang relatif kecil. Berikut Tabel 6 yang menunjukkan produksi cabai merah di Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Garut.

Tabel 6. Produksi Cabai Merah di Empat Kabupaten di Provinsi Jawa Barat Tahun 2009 – 2010

Kabupaten Produksi (Tahun/Ton)

2009 2010

Bogor 3571 2950

Sukabumi 7084 8816

Cianjur 23581 17988

Bandung 24174 20495

Garut 76803 56540

(6)

Salah satu daerah sentra sayuran di Kabupaten Sukabumi adalah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi. Desa Perbawati merupakan salah satu Desa di Kecamatan Sukabumi yang memiliki luas lahan tanaman cabai terluas dan memiliki komoditas unggulan berupa cabai merah. Data Produksi cabai merah di Kecamatan Sukabumi Tahun 2008-2010 dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Produksi Cabai Merah di Kecamatan Sukabumi Tahun 2008-2010

Tahun Produksi

(Kwintal)

2008 4660

2009 3950

2010 4720

Sumber: BPS Kabupaten Sukabumi 2011

Pada Tabel 7 menunjukkan produksi cabai merah di Kecamatan Sukabumi yang mengalami fluktuasi. Pada tahun 2010 terjadi musim hujan yang berkepanjangan serta adanya bencana alam, sehingga terjadi gagal panen cabai merah di seluruh wilayah Indonesia. Data produksi cabai merah di Desa Perbawati dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Produktivitas Cabai Merah di Desa Perbawati (Kwintal/Tahun) Tahun 2009-2012

Tahun Produktivitas

(Kwintal/Tahun)

2009 20,90

2010 116,12

2011 185,80

2012 46,45

Sumber: Rata-rata Data Primer Olahan 2009-2012

(7)

Tabel 9 dan Tabel 10 data mengenai luas lahan sayuran dan komoditas unggulan di enam desa di Kecamatan Sukabumi.

Tabel 9. Luas Potensi Usahatani di Kecamatan Sukabumi Tahun 2012

Komoditi Luas Potensi Komoditi (Ha) Jumlah

Karawang Parungseah Perbawati Sudajayagirang Sukajaya Warnasari

Lahan

Data pada Tabel 9 menunjukkan bahwa Desa Perbawati merupakan Desa yang memiliki komoditas unggulan sayuran di Kecamatan Sukabumi. Hal ini terlihat dari luas lahan kering untuk komoditas sayuran terbesar yaitu 100 hektar. Salah satu sayuran unggulan di Desa Perbawati adalah cabai merah. Hal ini ditunjukkan pada Tabel 8. Oleh karena itu, Desa Perbaawati merupakan salah satu sentra pemasok cabai merah terbesar di Kabupaten Sukabumi dan nasional.

Tabel 8. Potensi Usahatani Berdasarkan Komodias Unggulan di enam Desa Kecamatan

Perbawati Tomat,Cabai Suji & Sedap Malam Pisang Ambon

Sudajayagirang - Garbera, Krisan Pisang Ambon

Sukaaya - Krisan & sedap

malam -

Warnasari - - -

Sumber: BP3K Kecamatan Sukabumi 2012

(8)

Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi adalah masalah yang dapat dikontrol oleh petani, seperti masalah sempitnya penguasaan lahan, rendahnya penguasaan teknologi, serta lemahnya permodalan. Sedangkan masalah eksternal adalah masalah masalah yang berada di luar kontrol petani yang mencakup masalah perubahan iklim atau cuaca, serangan hama penyakit, dan harga input. Dari kondisi tersebut, pengembangan bisnis komoditi cabai merah memiliki potensi risiko yang dapat menimbulkan kerugian.

(9)

Sumber: Kementerian Bidang Perekonomian 2011

Gambar 1. Harga Eceran Cabai Merah Januari 2010 - Januari 2011

Berbagai permasalahan pada aspek produksi dapat memberikan gambaran terhadap kemungkinan adanya faktor risiko produksi cabai merah. Sebagaimana teori penawaran, tingkat penawaran suatu komoditas akan dipengaruhi oleh jumlah komoditas yang diproduksi (Nicholson 1991). Oleh karena itu, perlu diketahui sejauh mana tingkat risiko produksi dan perilaku penawaran cabai merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi.

Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:

1. Berapa tingkat risiko produksi dan sumber risiko cabai merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi ?

2. Bagaimana perilaku penawaran cabai merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi ?

3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku penawaran cabai merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi ?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan pokok di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

(10)

2. Menganalisis perilaku penawaran cabai merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi.

3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku penawaran cabai merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi.

1.4. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini adalah:

1. Bagi petani cabai merah di Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam manajemen risiko yang terjadi dalam pengembangan usaha cabai merah. 2. Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi, hasil penelitian ini dapat

dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan agribisnis cabai merah.

(11)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kajian Risiko Produksi

Usaha pertanian adalah usaha yang rawan akan risiko dan ketidakpastian baik itu risiko harga, risiko pasar dan risiko produksi. Produsen dibidang pertanian perlu mempelajari sumber-sumber yang menyebabkan risiko terjadi pada usahanya, kemudian melakukan pengukuran risiko untuk mengetahui dampak dan akibat dan terakhir menentukan strategi atau solusi yang sesuai untuk mengatasi risiko. Risiko produksi adalah risiko yang terkait dengan fluktuasi produksi yang mempengaruhi penerimaan produsen pertanian, disebabkan faktor-faktor seperti perubahan suhu, hama dan penyakit, penggunaan input serta kesalahan teknis (human error) dari tenaga kerja. Pada umumnya risiko tersebut dapat dihindari maupun dikurangi dengan melakukan berbagai cara seperti penggunaan teknologi terbaru, penanganan yang intensif, dan pengadaan input yang berkualitas seperti benih, pupuk dan obat-obatan.

Terdapat beberapa penelitian yang menganalisis risiko produksi pada komoditi hortikultura seperti Fariyanti (2009), Safitri (2009), Wisdya (2009), Tarigan (2009), Utami (2009), Sembiring (2010), dan Situmpang (2011). Dimana masing-masing penelitian menemukan bahwa sumber risiko pada perilaku ekonomi rumah tangga petani sayuran dalam menghadapi risiko produksi dan harga produk di Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung, usaha daun potong, anggrek Phalaeonopsis, sayuran organik, cabai merah keriting, dan bawang merah adalah risiko produksi. Risiko produksi tersebut umumnya meliputi teknik budidaya, human error, penyakit, serangan hama dan cuaca atau iklim yang tidak pasti.

(12)

Pengukuran risiko dilakukan untuk mengukur pengaruh sumber-sumber risiko terhadap suatu kegiatan bisnis melalui penggunaan suatu alat analisis tertentu. Salah satu alat analisis yang digunakan dalam pengukuran risiko adalah koefisien variasi (coefficient variation), ragam (variance) dan simpangan baku (standard deviation). Ketiga ukuran tersebut berkaitan satu sama lain, jika nilai ketiga indikator tersebut semakin kecil maka risiko yang dihadapi kecil.

Ketiga alat analisis ini digunakan oleh Safitri (2009), Wisdya (2009) dan Ginting (2009), Tarigan (2009), Situmpang (2011) dalam penelitiannya masing-masing yang berjudul Analisis Risiko Produksi Daun Potong di PT Pesona Daun Mas Asri Bogor, Analisis Risiko Anggrek Phalaenopsis pada PT Ekakarya Graha Flora di Cikampek, Jawa Barat, Risiko Produksi Jamur Tiram Putih pada Usaha Cempaka Baru di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor, Risiko Produksi Sayuran Organik pada Permata Hati Organic Farm di Bogor, dan Risiko Produksi Cabai Merah Keriting pada Kelompok Tani Pondok Menteng Desa Citapen Bogor. Pada penelitian Utami (2009) juga menggunakan alat analisis koefisien variasi, ragam dan simpangan baku yang ditambah dengan analisis regresi berganda. Berbeda dengan Fariyanti (2009) yang menggunakan alat analisis GARCH.

2.2. Kajian Perilaku Penawaran dan Faktor yang Mempengaruhi

Penawaran adalah jumlah barang yang produsen ingin tawarkan (jual) pada berbagai tingkat harga selama satu periode tertentu.. Sebagaimana teori penawaran, besarnya penawaran suatu komoditi ditentukan oleh jumlah yang diproduksi. Selain aspek produksi, tingkat penawaran suatu komoditi juga dipengaruhi oleh tingkat harga (Nicholson 1991). Selain faktor harga, faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran lainnya adalah harga harga barang lain yang terkait, harga faktor produksi, biaya produksi, teknologi produksi, jumlah produsen/penjual, dan harapan produsen di masa yang akan datang (Rahardja 2006).

(13)

kacang tanah berbeda-beda. Perilaku penawaran usaha bawang merah pada penelitian Utami (2009) dipengaruhi oleh faktor seperti harga output, harga input, biaya obat, ekapektasi produksi, dan variasi produksi. Sementara, pada penelitian Rifqi (2008) perilaku produksi dipengaruhi oleh faktor pupuk kandang, benih, pupuk kimia, tenaga kerja, dan pestisida padat. Sementara Fauzia (2006) faktor yang mempengaruhi produksi kacang tanah adalah harga output, harga benih, harga pupuk, dan tenaga kerja. Alat analisis yang digunakan dari penelitian tersebut adalah regrasi linier dan Cobb-Douglas.

Dari beberapa penelitian terdahulu mengenai risiko dan perilaku penawaran, terdapat persamaan dan perbedaan antara peneliti dengan studi terdahulu. Berikut ini disajikan dalam Tabel 7.

Tabel 11. Persamaan dan Perbedaan Penelitian dengan Studi Terdahulu

Nama Penulis Persamaan Perbedaan

Fariyanti

(2008) Menganalisis risiko produksi.

Perbedaannya terdapat pada alat analisis (peneliti dengan analisis risiko dan regresi, Fariyanti dengan Model GARCH) dan komoditi yang diteliti.

Situmpang

(2011) Alat analisis risiko produksi Komoditi yang diteliti Tarigan (2009) Alat analisis risiko produksi

yang digunakan. Komoditi yang diteliti.

Fauzia (2006) Menganalisis penawaran. Alat analisis dan komoditi yang diteliti.

Safitri (2009) Menganalisis risiko produksi Komoditi yang diteliti Sembiring

(2010) Menganalisis risiko produksi Komoditi yang diteliti Rifqi (2009) Menganalisis faktor yang

(14)

III.

KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Risiko

Risiko menunjukkan peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diukur oleh pembuat keputusan. Pada umumnya peluang terhadap suatu kejadian dapat ditentukan oleh pembuat keputusan berdasarkan pengalaman mengelola kegiatan usaha. Ketidakpastian adalah suatu kejadian dimana seseorang tidak mengetahui secara pasti keajdian yang akan terjadi (Harwood et al 1999).

Risiko adalah kemungkinan kejadian yang menimbulkan kerugian (Harwood et al 1999). Setiap bisnis yang dijalankan pasti memiliki risiko dan ketidakpastian. Hal ini bertentangan dengan perilaku individu yang menginginkan kepastian dalam berusaha. Indikasi adanya risiko dalam kegiatan bisnis dapat dilihat dengan adanya variasi atau fluktuasi, seperti fluktuasi produksi, harga atau pendapatan. Untuk meminimalkan risiko yang mungkin dihadapi, dibutuhkan penilaian atau analisis risiko yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan.

Beberapa konsep lainnya yang penting untuk mengukur risiko yaitu

variance, standar deviation dan coeffition variation (Elton dan Gruber 1995). Ketiga ukuran tersebut berkaitan satu sama lain. Kebanyakan ukuran acak yang digunakan adalah ukuran simpangan baku (standar deviation) yang menggambarkan rata-rata perbedaan penyimpangan atau kecenderungan. Semakin bervariasi hasil atau return semakin besar risiko. Coeffition variation merupakan ukuran yang sangat tepat bagi pengambil keputusan khususnya dalam memilih salah satu alternatif dari beberapa kegiatan usaha dengan mempertimbangkan risiko yang dihadapi dari setiap kegiatan usaha untuk setiap return yang diperoleh. Hubungan antara risiko dan return dapat dilihat pada Gambar 2.

(15)

Return

Ekspected Return

Risiko

Gambar 2. Hubungan Risiko dan Return Sumber : Barrons 1993

3.1.2. Sumber-Sumber Risiko

Beberapa jenis-jenis risiko yang dapat dihadapi petani diantaranya adalah: (1) Risiko produksi, (2) Risiko pasar atau harga, (3) Risiko Kelembagaan, (4) Risiko Kebijakan, (5) Risiko Finansial (Harwood et al 1999).

(1) Jenis risiko yang berasal dari risiko produksi diantaranya adalah gagal panen, rendahnya produktivitas, kerusakan barang (mutu tidak sesuai) yang ditimbulkan oleh serangan hama penyakit, perbedaan iklim, kesalahan sumberdaya manusia, dan lain-lain.

(2) Risiko yang ditimbulkan oleh pasar diantaranya adalah barang yang tidak dapat dijual yang diakibatkan ketidakpastian mutu, permintaan rendah, ketidakpastian harga output, inflasi, daya beli masyarakat, persaingan dan lainlain. Sedangkan risiko yang ditimbulkan oleh harga antara lain, harga yang naik karena inflasi.

(3) Risiko yang ditimbulkan dari kelembagaan antara lain adanya aturan tertentu yang membuat anggota suatu organisasi menjadi kesulitan untuk memasarkan ataupun meningkatkan hasil produksinya.

(4) Risiko yang ditimbulkan oleh kebijakan antara lain adanya suatu kebijakan tertentu yang dapat menghambat kemajuan suatu usaha, misalnya kebijakan tarif ekspor.

(16)

3.1.3. Teori Penawaran

Penawaran adalah jumlah barang yang produsen ingin tawarkan (jual) pada berbagai tingkat harga selama satu periode tertentu. Penawaran menurut Firdaus (2008) berarti keseluruhan dari kurva penawaran. Kurva penawaran adalah kurva yang menggambarkan kurva antara jumlah barang yang ditawarkan oleh produsen dengan harga barang yang ditawarkan. Besar kecilnya barang yang ditawarkan erat hubungannya dengan besaran variabel harga. Untuk jenis barang normal, semakin tinggi barang yang ditawarkan (Q) akan menyebabkna harga barang (P) yang semakin menurun. Jadi rumus penawaran ini dapat dirumuskan dalam sebuah fungsi yaitu (Nicholson 1991):

P = f (Q)

Dengan adanya perubahan Q yang menyebabkan perubahan P, hal ini akan menyebabkan pergesaran kurva penawaran ke sebelah kanan atau kiri. Apabila perubahan Q menyebabkan P penurunan, maka kurva penawaran akan bergeser ke sebelah kanan. Sebaliknya, perubahan Q yang menyebabkan P semakin tinggi, maka kurva penawaran akan bergeser ke sebalah kiri. Hal ini dapat dilihat seperti pada Gambar 3.

P

S S1

D

Q

Gambar 3. Kurva Penawaran (Nicholson 1991)

(17)

S = f (P)

Pengaruh perubahana harga terhadap kuantitas barang yang ditawarkan ini menggambarkan pergerakan di sepanjang kurva penawaran (Mankiw 2002). Hal ini dapat dilihat pada Gambar 4.

P

S

P2

P1

Q1 Q2 q(Q)

Gambar 4. Pergerakan Kurva Penawaran (Mankiw 2002)

Selain faktor harga, faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran lainnya adalah harga barang itu sendiri, harga barang lain yang terkait, harga faktor produksi, biaya produksi, teknologi produksi, jumlah produsen/penjual, dan harapan produsen di masa yang akan datang (Rahardja 2006).

a. Harga barang itu sendiri

Jika harga suatu barang naik, maka produsen cenderung akan menambah jumlah barang yang dihasilkan. Hal ini dijelaskan pada hukum penawaran yang menjelaskan sifat hubungan antara harga suatu barang dengan jumlah barang tersebut yang ditawarkan penjual. Hukum penawaran menyatakan “Semakin tinggi harga suatu barang, cateris paribus, semakin banyak jumlah barang tersebut yang ingin ditawarkan oleh produsen, dan sebaliknya”.

b. Harga barang lain yang terkait

Yang dimaksud sebagai “harga produk yang lain” ini adalah adanya harga produksi alternatif. Pengaruh perubahan harga produk alternatif ini, akan menyebabkan terjadinya produksi yang semakin meningkat atau sebaliknya semakin menurun.

c. Harga faktor produksi

(18)

cenderung membelinya pada jumlah yang relatif lebih besar. Dengan adanya tambahan input, maka produksi akan meningkat.

d. Biaya produksi

Kenaikan harga input sebenarnya juga menyebabkan kenaikan biaya produksi. Dengan demikian, bila biaya produksi meningkat (apakah dikarenakan kenaikan harga faktor produksi atau penyebab lainnya), maka produsen akan mengurangi hasil produksinya, berarti penawaran barang itu berkurang.

e. Teknologi

Adanya perbaikan teknologi akan menyebabkan produksinya semakin meningkat. Akan tetapi penggunaan teknologi yang baru memungkinkan adanya tambahan biaya produksi, beban risiko, dan ketidakpastian, keterampilan khusus, dan lainnya. Apabila permasalahan-permasalahan ini dapat diatasi, maka produksi akan semakin besar.

f. Jumlah produsen

Sering kali dengan adanya rangsangan harga komoditi pertanian tertentu, petani cenderung untuk mengusahakan tanaman tersebut. Akibatnya, produksi atau barang yang ditawarkan menjadi bertambah.

g. Harapan produsen di masa yang akan datang

Pengaruh keempat faktor diatas terhadap kuantitas barang yang ditawarkan digambarkan dalam pergeseran kurva penawaran. Setiap perubahan yang menaikkan kuantitas yang bersedia diproduksi oleh penjual pada tingkat harga tertentu akan menggeser kurva penawaran ke kanan. Sementara, setiap perubahan yang menurunkan kuantitas yang beredia ditawarkan oleh penjual pada tingkat harga tertentu akan menggeser kurva penawaran ke kiri. Hal ini seperti dijelaskan pada Gambar 5.

(19)

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional

Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu sentra komoditi cabai merah di Jawa Barat. Pada penelitian ini akan diambil komoditas cabai merah karena komoditas ini merupakan komoditas unggulan. Dalam menjalankan usahatani, para petani cabai merah di Kecamatan Sukabumi menghadapi risiko produksi. Risiko produksi terjadi karena fakrot iklim dan cuaca, pengaruh hama dan penyakit, tingkat kesuburan tanah, efektivitas penggunaan input, keterampilan sumberdaya manusia yang kurang. Faktor-faktor risiko pada kegiatan produksi cabai merah tersebut berpotensi menimbulkan kerugian.

Sebagaimana teori penawaran, perilaku penawaran suatu komoditas dipengaruhi oleh tingkat produksinya. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penawaran suatu komoditas, yaitu harga output, harga input produksi, teknologi, harga produk lain, jumlah produsen, dan harapan produsen dimasa yang akan datang. Sebagai salah satu daerah sentra cabai di Sukabumi, Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi menjadi salah satu pemasok di Kabupaten Sukabumi dan nasional. Oleh karena itu, perlu diketahui sejauh mana tingkat risiko produksi di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi.

(20)

Gambar 6. Kerangka Pemikiran Operasional

(21)

IV.

METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian mengenai risiko produksi cabai merah ini dilakukan di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Lokasi tersebut dipilih secara purposive karena Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu sentra cabai merah di Jawa Barat dan Kecamatan Sukabumi merupakan salah satu daerah penghasil cabai merah yang cukup besar pasokannya di pasaran, sedangkan desa dipilih karena salah satu penghasil cabai terbesar di Kecamatan Sukabumi. Pengambilan data dilakukan dalam waktu tiga bulan, yaitu 24 Desember 2011 hingga 10 Februari 2012. Waktu tersebut digunakan untuk memperoleh data dan wawancara dengan petani dan data-data lain dari instansi terkait.

4.2. Metode Penentuan Responden

Metode pengambilan responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah sensus (meneliti segala komponen yang ada pada populasi). Populasi adalah semua individu yang menjadi sumber pengambilan sampel. Responden yang menjadi objek penelitian ini adalah 23 petani cabai merah yang merupakan populasi petani cabai merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi. Penentuan responden dengan menggunakan metode sensus ini digunakan karena petani cabai yang ada di Desa Perbawati jumlahnya terbatas.

4.3. Data dan Instrumentasi

(22)

4.4. Metode Pengolahan Data

Metode pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan software

Minitab 14 dan Microsoft Excel. Adapun metode analisis yang digunakan meliputi analisis risiko dan analisis regresi linier berganda dengan natural log. Dalam penelitian ini data yang digunakan bersifat determinan atau non-stokastik dan merupakan data rasio.

4.4.1. Analisis Risiko Produksi

Analisis risiko dilakukan dengan melihat penyimpangan yang terjadi antara nilai yang diharapkan dengan nilai yang terjadi. Untuk menilai tingkat risiko tersebut, beberapa ukuran yang digunakan yaitu nilai variance, standar deviation, dan coefficient variation. Nilai variance menunjukkan adanya penyimpangan, standar deviation diperoleh dari nilai kuadrat nilai variance, dan

coefficient variance diperoleh dari rasio standar deviation dengan nilai yang diukur (Elton dan Gruber 1995).

Dalam menganalisis risiko produksi dilakukkan analisis mengenai faktor-faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan oleh petani. Dalam hal ini, faktor-faktor eksternal yang dimaksud adalah faktor iklim dan cuaca, tingkat kesuburan lahan dan serangan hama penyakit. Analisis terhadap faktor eksternal ini dilakukan dengan melihat dari beberapa besar kemungkinan terjadinya (probabilitas keadian) dari faktor-faktor eksternal yang dianalisis dan seberapa besar kerugian yang disebabkannya. Semakin besar probabilitas kejadian eksternal yang merugikan maka semakin besar pula tingkat risiko yang mungkin dihadapi petani. Pengukuran probabilitas pada setiap kejadian diperoleh dari frekuensi setiap kejadian yang dibagi dengan jumlah periode musim tanam.

Secara matematis, pengukuran probabilitas tersebut dapat dituliskan sebagai berikut:

P = f/T

Keterangan: f = frekuensi kejadian

(23)

4.4.1.1.Expected Value Produksi

Dalam menentukan seberapa besar output produksi yang diharapkan, maka dapat dilakukan denngan penjumlahan dari setiap probabilitas dikalikan dengan tingkat output produksinya. Penentuan estimasi produksi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

E (Q) = dimana :

E (Q) = output produksi yang diharapkan Pi = probabilitas ke-i

Qi = output produksi

I = kondisi (tertinggi, normal, terendah)

4.4.1.2.Standart Deviation

Standard deviation dari output produksi menggambarkan perbedaan atau selisih antara output produksi dengan output yang diharapkan. Semakin besar nilai

standard deviation maka semakin besar pula tingkat risiko yang dihadapi dalam kegiatan produksi. Secara matematis, standard deviation dari output produksi dapat dituliskan sebagai berikut :

∂Q = dimana :

∂Q : Standard deviation

σi2 : Variance

4.4.1.3. Coefficient Variation

Coefficient variation dari output diukur dari rasio standard deviation dari output dengan output yang diharapkan. Semakin kecil coefficient variation maka semakin rendah risiko yang dihadapi. Secara matematis, coefficient variation

dapat dituliskan sebagai berikut : CV = ⁄ E(Q ) dimana

CV : Coefficient variation

(24)

E(Q) : Expected value

4.4.2. Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis perilaku penawaran cabai merah di Kecamatan Sukabumi. Sebagaimana teori penawaran bahwa suplai atau penawaran suatu komoditas dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu teknologi, harga input, harga produk yang lain, jumlah produsen, dan harapan produsen terhadap harga produksi di masa mendatang. Maka faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran cabai merah yang digunakan sebagai variabel independen dalam penelitian ini meliputi:

X1 = Biaya pupuk ponska X2 = Biaya pupuk kompos X3 = Biaya kapur

X4 = Biaya benih cabai merah X5 = Biaya obat-obatan X6 = Harga Cabai Merah X7 = Nilai Variasi produksi

Selanjutnya setelah ditentukan variabel independen kemudian disusun suatu model untuk menduga hubungan antara variabel independen dengan variable dependen yang akan dianalisis. Dalam penelitian ini digunakan dengan analisis regresi linier. Secara matematis model tersebut dapat ditulis seperti berikut:

Y = f (X1, X2, ...., Xn)

Y = a0 + a1X1+a2X2+ .... +anXn+e dimana:

Y = produksi/penawaran cabai merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi a0 = koefisien intersep

an = parameter peubah ke-n, dimana n=1,2,...,11,

dengan hipotesis : a1,a12 > 0

a2,a3,a4,a5,a6,a7,a8,a9,a10,a11 < 0

(25)

X2 = Biaya pupuk kompos X3 = Biaya kapur

X4 = Biaya benih cabai merah X5 = Biaya obat-obatan X6 = Harga Cabai Merah X7 = Nilai Variasi produksi e = unsur galat (eror)

Model regresi yang digunakan diduga dengan menggunakan metode kuadrat terkecil atau Ordinary Least Square (OLS) yang didasarkan pada asumsi - asumsi berikut (Juanda 2008).

1. Nilai rata-rata kesalahan pengganggu sama dengan nol, yaitu E (ei) = 0, untuk i = 1,2,...n

2. Varian (ej) = E (ej) = σ , sama untuk semua kesalahan pengganggu (asumsi homoskedasititas)

3. Tidak ada autokorelasi antara kesalahan pengganggu berarti covarian

(ei,ej) = 0, i ≠ j

4. Variabel bebas X1, X2, ..., Xn konstan dalam sampling yang terulang dan bebas terhadap kesalahan pengganggu, E (Xi, ei) = 0 5. Tidak ada kolinearitas ganda diantara variabel bebas X

6. Ei ≈ N (0 ; σ2 ), artinya kesalahan pengganggu mengikuti distribusi normal dengan rata-rata nol dengan varian σ.

4.4.2.1. Model Double Log

(26)

4.4.2.2. Pengujian terhadap Model Penduga

Pengujian terhadap model penduga ini digunakan untuk mengetahui apakah model penduga tersebut sudah tepat dalam menduga parameter dan fungsi. Adapun hipotesis yang digunakan adalah:

H0 : a1 = a2 = .... = a5 = 0

H1 : minimal ada satu an ≠ 0

dan uji statistik yang digunakan adalah uji F, dimana F-hitung secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

F – hitung dimana:

R2 = koefisien determinasi K = jumlah parameter

N = jumlah pengamatan (contoh) dengan kriteria uji yang digunakan adalah:

- Apabila F-hitung > F-tabel (k-1, n-k) maka tolak H0

- Apabila F-hitung < F-Tabel (k-1, n-k) maka terima H0

Apabila H0 ditolak maka berarti paling sedikit terdapat satu variabel independen

(X) yang digunakan berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen, sehingga model yang digunakan tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan variabel dependen (Y). Sebaliknya, apabila H0 diterima, maka tidak ada variable

independen yang digunakan berpengaruh terhadap variabel dependen secara signifikan dan model yang digunakan tidak dapat digunakan untuk memperkirakan variabel dependen (Y).

Untuk melihat sejauh mana variasi variabel dependen (Y) dijelaskan oleh variable independen (X) dapat dilihat dari besarnya nilai koefisein determinasi (R2). Secara matematis, koefisien determinasi dapat dirumuskan sebagai berikut:

R2 = 1 – R2 = dimana:

(27)

SSR = jumlah kuadrat regresi

Nilai R2 bergerak antara nol sampai dengan satu (0 ≤ R2 ≤ 1). Apabila R2 sama dengan satu berarti bahwa sumbangan variabel independen secara bersamasama terhadap variasi variabel dependen adalah seratus persen. Hal ini berarti bahwa seluruh variasi variabel dependen dapat dijelaskan oleh model (Gujarati 2003).

4.4.2.3 Pengujian terhadap Koefisien Regresi

Tujuan pengujian terhadap koefisien regresi adalah untuk mengetahui apakah setiap variabel independen berpengaruh nyata terhadap variabel dependen. Secara statistik, pengujian terhadap koefisien regresi ini dilakukan dengan melihat nilai t-hitung. Apabila t-hitung lebih besar dari t-tabel atau P-value lebih kecil dari α (P-value<α), berarti variabel independen yang diuji berpengaruh nyata terhadap variabel dependen. Begitu pula sebaliknya (Gujarati 2003).

Adapaun hipotesis yang digunakan adalah: H0 : bn = 0

H1 : bn > 0 ; n = 1,2,...,5

dan uji statistik yang digunakan adalah uji t, dimana t-hitung secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

t − hitung =

dengan kriteria uji yang digunakan adalah:

- Apabila t-hitung > t-tabel (α, n-k) maka tolak H0

- Apabila t-hitung < t-Tabel (α, n-k) maka terima H0

Jika H0 ditolak, artinya variabel Xn berpengaruh signifikan terhadap variable

dependen Y. Sebaliknya, jika H0 diterima maka variabel independen Xn tidak

berpengaruh nyata terhadap variabel dependen Y.

4.4.2.4 Pengujian terhadap asumsi

Untuk mendapatkan model regresi linier yang baik maka perlu dilakukan pengujian terhadap asumsi-asumsi yang diperlukan, yaitu meliputi

nonmulticollienearity, homoscedasticity, dan non-autocorrelation.

(28)

praktis, adanya indikasi multicollinearity terjadi apabila nilai VIF ≥ 10 (Kleinbaum et al 1988 dalam Modul Harmini 2009). Sementara autocorrelation

dapat dilihat dari nilai statistik dari uji Durbin Watson. Nilai statistik Durbin Watson berada pada kisaran 0-4, dan jika nilainya mendekati dua maka menunjukkan tidak ada autokorelasi pada orde kesatu. Adapun homoscedasticity

(29)

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.1. Letak dan Keadaan Geografi Daerah Penelitian

Desa Perbawati merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Batas-batas wilayah Desa Perbawati secara administrative adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Taman Nasional Gede Pangrango Sebelah Selatan : Desa Karawang, Kecamatan Sukabumi

Sebelah Barat : Desa Unrur Binangun, Kecamatan Kadudampit Sebelah Timur : Desa Sudajaya Girang, Kecamatan Sukabumi

Luas wilayah Desa Perbawati sebesar 503,6125 Ha dengan ketinggian 900 Mdpl di atas permukaan laut. Jarak dari Pusat Pemerintahan Kecamatan Sukabumi adalah 3 Km, sedangkan jarak dari Kabupaten Sukabumi adalah 60 Km. Jumlah dusun yang dimiliki oleh Desa Perbawati sebanyak empat dusun, yaitu Dusun Babakan Situ, Dusun Nagrok, Dusun Bobojong, dan Dusun Tenjolaya.

Keadaan alam Desa Perbawati adalah dingin dan basah, serta lembab. Desa Perbawati memiliki beberapa jenis tanah, yaitu tanah sawah, tanah basah, tanah kering, tanah tandus, dan tanah pasir. Tanah sawah terdiri dari lima kategori, yaitu irigasi teknis seluas 52 Ha, irigasi sederhana seluas 22 Ha, sawah tadah hujan seluas 30 Ha, dan tegalan atau kebun seluas 136 Ha. Tanah kering terbagi menjadi dua kategori, yaitu pekarangan seluas 64,7 Ha, hutan primer seluas 201,23 Ha, hutan sekunder seluas 90,21 Ha, tanah perkebunan Negara seluas 224 Ha, dan perkebunan swasta 5 Ha. Tanah basah yaitu balong/ empang/ kolam seluas 3 Ha. Tanah tandus dan pasir seluas 9,9 Ha.

Penggunaan lahan terbesar di Desa Perbawati adalah persawahan yang digunakan untuk menanam tanaman pangan, buah-buahan, dan kebun seluas 241 Ha. Luas wilayah yang dipergunakan untuk pemukiman seluas 64,7 Ha dan untuk prasaran umum lainnya seluas 9 Ha.

(30)

Gambaran mengenai curah hujan di Kecamatan Sukabumi dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7: Curah Hujan di Kecamatan Sukabumi per Bulan Tahun 2009-2011

5.2. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

Jumlah penduduk Desa Perbawati sebesar 6.675 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 3.451 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 3.224 jiwa. Jumlah kepala keluarga di Desa Perbawati sebanyak 1.967 kepala keluarga.

Faktor usia mempengaruhi tingkat produktivitas seseorang karena termasuk kedalam golongan usia angkatan kerja. Komposisi sebaran penduduk berdasarkan usia di Desa Perbawati dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Komposisi Sebaran Penduduk Berdasarkan Usia di Desa Perbawati Tahun 2011-2012

Usia (tahun) Jumlah Penduduk (jiwa) Persentase (%)

< 13 1344 20,13

13 – 18 693 10,38

19 – 24 628 9,41

25 – 55 3174 47,55

> 56 836 12,52

Jumlah 6675 100,00

Sumber: Desa Perbawati 2011-2012

Berdasarkan Tabel 12 terlihat bahwa sebesar 56,96 persen jumlah penduduk di Desa Perbawati termasuk ke dalam golongan angkatan kerja produktif. Sementara golongan dibawah umur hanya sebesar 20,13 persen.

(31)

pensiunan, dan peternak. Mayoritas penduduk bekerja sebagai petani. Hal ini yang menjadi salah satu pertimbangan pemilihan lokasi penelitian. Tabel 13 menunjukkan keberagaman mata pencaharian di Desa Perbawati.

Berdasarkan data potensi Desa Perbawati tahun 2011, matapencaharian terbesar penduduk adalah sebagai petani. Petani di Desa Perbawati dibagi menjadi tiga, yaitu petani tanaman hias, petani sayuran, dan padi. Tanaman sayuran memiliki luas panen terbesar dibandingkan luas panen padi dan tanaman hias, yaitu 52 Ha dan 9,9 Ha. Hal ini yang membuat banyak penduduk memillih menjadi petani.

Tabel 13. Mata Pencaharian Penduduk di Desa Perbawati Tahun 2011-2012

No Jenis Pekerjaan Jumlah (Orang)

1 Petani 538

2 Pengusaha 1

3 Perajin Industri 147

4 Buruh Bangunan 329

5 Buruh Perkebunan 160

6 Pedagang 359

7 Jasa Angkutan 223

8 PNS 45

9 POLRI 5

10 Pensiunan 29

11 Peternak 61

Jumlah 1897

Sumber: Desa Perbawati

5.3. Karakteristik Petani Responden

Petani yang menjadi responden dalam penelitian ini sebanyak 23 orang. Responden dalam penelitian ini adalah petani cabai di Desa Perbawati yang merupakan populasi petani cabai. Walaupun tanaman sayuran memiliki luas panen terbesar, namun petani yang membudidayakan tanaman cabai hanya 4,28 persen dari jumlah petani di Desa Perbawati. Petani cabai di Desa Perbawati memiliki berbagai karakteristik yang berbeda-beda. Beberapa karakteristik yang dinilai penting mencakup usia, pendidikan, luas lahan, dan kepemilikan lahan.

5.3.1. Usia

(32)

usia dapat mempengaruhi kinerja usahatani dan kelompok usia dengan presentase tertinggi termasuk kedalam angkatan kerja. Hal ini dikarenakan dengan usia muda dan produktif maka seseorang akan dan masih kuat untuk melakukan pekerjaan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Karakteristik Petani Cabai Berdasarkan Usia di Desa Perbawati Tahun 2011-2012

Kelompok Umur Jumlah Responde Persentase

(Orang) (%)

20 - 24 1 4.35

25 - 29 0 0.00

30 - 34 3 13.04

35 - 39 6 26.09

40 - 44 4 17.39

45 - 49 3 13.04

50 - 54 2 8.70

55 - 59 1 4.35

60 + 3 13.04

Total 23 100.00

5.3.2. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan petani responden di Desa Perbawati tergolong rendah, yaitu rata-rata mereka berpendidikan Sekolah Dasar (SD). Awalnya mereka adalah seorang buruh perkebunan teh, kemudian setelah pensiun menjadi petani cabai. Meskipun tingkat pendidikan petani rendah, namun petani telah memiliki teknik budidaya cabai yang baik. Hal ini petani peroleh dari pengalaman dan penyuluhan-penyuluhan yang dilakukan penyuluh lapang dari Badan Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) ataupun dari Dinas Pertanian. Tabel 15 menunjukkan karakteristik petani berdasarkan tingkat pendidikannya.

Tabel 15. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Perbawati Tahun 2011-2012

Tingkat Pendidikan Petani (Orang) Presentase (%)

Tamat SD 13 56,52

Tamat SMP 1 4,35

Tamat SMA 8 34,78

Tamat PT 1 4,35

(33)

5.3.3. Jumlah Tanggungan Keluarga

Dilihat dari jumlah tanggungan keluarga, rata-rata responden memiliki tanggungan keluarga nol hingga tiga anggota keluarga. Jumlah tanggungan keluarga terbesar mencapai delapan orang. Besarnya jumlah tanggungan keluarga petani responden ini menunjukkan beban ekonomi yang harus ditanggung oleh petani responden. Maka dapat terlihat bahwa beban ekonomi yang harus ditanggunng oleh petani responden tidak besar. Adapun jumlah tanggungan keluarga petani responden dijelaskan pada Tabel 16.

Tabel 16. Jumlah Tanggungan Keluarga Responden Petani Cabai di Desa Perbawati Tahun 2011-2012

Jumlah tanggungan Jumlah responden (orang) Presentase (%)

0 - 3 14 60,8

4 - 7 8 34,7

8+ 1 4,3

Total 23 100,00

5.3.4. Pengalaman Bertani

Sebagian besar petani cabai yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki pengalaman bertani yang belum lama. Petani ini pada mulanya adalah seorang buruh tani, kemudian setelah mempunyai cukup modal akhirnya petani ini mengusahakan sendiri, sehingga pengalaman mereka belum cukup lama. Namun, 21 persen dari petni cabai ini telah memiliki pengalaman bertani selama lebih dari 20 tahun. Presentase terbesar adalah petani responden dengan pengalaman bertani cabai lebih dari 30 tahun, namun mereka awalnya adalah buruh tani yang saat ini telah menggarap sendiri. Adapun lama pengalaman bertani petani cabai merah dijelaskan pada Tabel 17.

(34)

5.3.5. Status Usahatani Cabai

Pekerjaan petani yang menganggap usahatani cabai sebai pekerjaan sampingan umumnya memiliki pekerjaan lain, yaitu sebagai pengusaha, buruh perkebunan teh, pedagang, dan buruh bangunan. Hal ini dikarenakan hasil dari pekerjaan utama tidak mencukupi dan usahatani cabai memberikan tambahan pendapatan yang baik. Namun, sebagian besar petani cabai di Desa Perbawati menjadikan usahatani cabai sebagai pekerjaan utama. Pengelompokan pekerjaan ini didasarkan pada lamanya waktu bekerja dalam satu minggu. BPS menyatakan bahwa, apabila dalam satu minggu bekerja lebih dari 35 jam maka dapat dikatakan

fulltime atau kegiatan yang dilakukan menjadi pekerjaan utama. Sementara, ika kurang dari 35 jam per minggu maka dikatakan kegiatan yang dilakukan adalah pekerjaan sampingan. Hal ini terlihat pada Tabel 18, presentase terbesar yang menjadikan usahatani cabai sebagai pekerjaan utama, yaitu sebesar 69,57 persen.

Tabel 18. Status Usahatani Petani Responden di Desa Perbawati Tahun 2011-2012

Status Usahatani Petani (Orang) Presentase (%)

Pekerjaan Utama 16 69,57

Pekerjaan Sampingan 7 30,43

Total 23 100,00

5.3.6. Luas Lahan

(35)

Tabel 19. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan yang Digunakan untuk Usahatani Cabai Tahun 2011-2012

Luas Lahan (Ha) Petani (Orang) Persentase (%)

< 0,25 8 34,78

0,25 - 0,5 8 34,78

0,6 - 1,0 3 13,04

> 1,0 4 17,39

Total 23 100,00

5.3.7. Status Kepemilikan Lahan

Status kepemilikan lahan di Desa Perbawati terbagi atas tiga kategori, yaitu milik sendiri, menyewa, dan milik sendiri dan menyewa. Namun, sebagian besar petani menyewa lahan untuk melakukan usahatani cabai. Hal ini terjadi karena tingginya harga lahan, sehingga petani memillih untuk menyewa, dengan menyewa sisa modal dapat digunakan untuk musim tanam berikutnya.

Tabel 20. Karakteritik Petani Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan Tahun 2011 – 2012

Status Kepemilikan Lahan Petani (Orang) Persentase (%)

Milik sendiri 1 4,35

Menyewa 21 91,30

Milik sendiri dan menyewa 1 4,35

Total 23 100,00

Karakteristik petani cabai di Desa Perbawati yang dijadikan responden sebagian besar berada pada usia produktif dengan tingkat pendidikan yang rendah. Petani cabai ini menjadikan usahatani cabai sebagai pekerjaan utama. Luas lahan yang digunakan untuk usahatani cabai dapat dikatakan relatif besar dan sebagian besar lahan tersebut adalah menyewa.

5.3.8. Pola Tanam

(36)

tersebut merupakan musim panas, dimana musim yang sangat tepat untuk penanaman cabai. Selain itu, pada waktu tersebut jumlah hama dan penyakit tanaman pada cabai merah relatif sedikit. Sementara hasil terendah biasanya diperoleh pada musim pertama dan keempat, yaitu pada rentang waktu antara bulan September hingga Februari. Hal ini dikarenakan pada waktu tersebut merupakan musim hujan, sehingga terdapat banyak hama dan penyakit.

Adapun pola tanam yang dilakukan oleh petani cabai di Desa Perbawati adalah monokultur dengan luasan lahan rata-rata satu hektar setiap musim tanam. Hal ini dikarenakan karakteristik tanaman cabai yang rentan terhadap serangan hama dan penyakit, serta banyak menyerap unsur hara. Selama dua bulan masa bera, maka diselangi dengan tanaman lainnya yaitu tanaman yang memiliki umur pendek dan yang dapat mengembalikan unsur hara tanah, seperti kacang panjang, kubis, pakcoy atau bawang daun.

Pola tanam pada Gambar 8 merupakan pola tanam petani responden secara umum. Pada praktiknya, tidak seluruh petani menanam cabai merah secara serentak dalam satu waktu. Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada responden, keputusan petani dalam menanam sangat dipengaruhi oleh ketersediaan modal. Selain faktor tersebut, faktor alam seperti iklim dan cuaca, serta harga benih dan obat juga sangat mempengaruhi keputusan petani dalam menanam cabai merah. Pola tanam cabai merah yang dominan dilakukan oleh petani cabai merah di Desa Perbawati, yaitu sebagai berikut:

 Pola tanam cabai merah – kacang panjang+kubis+bawang daun – cabai merah -

kacang panjang+kubis+bawang daun – cabai merah (Gambar 8)

Luas lahan

September Februari April Oktober Desember Juni September Februari

Bulan

(37)

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1. Penggunaan Input Usahatani Cabai Merah

Penggunaan input pada usahatani cabai merah cukup berbeda antar musim tanam. Adapun yang dimaksud dengan input usahatani dalam penelitian ini adalah meliputi pupuk, kapur, benih, obat-obatan, tenaga kerja, dan mulsa. Perbedaan penggunaan input setiap musim terdapat pada obat-obatan, yaitu insektisida, fungisida, perekat, dan perangsang tumbuh. Hal ini terjadi karena penggunaan obat-obatan ini tergantung dengan kondisi lingkungan (iklim dan cuaca). Sementara penggunaan untuk input lainnya setiap musimnya tetap, untuk pupuk kandang dan kapur digunakan hanya saat pembukaan lahan, yaitu satu kali dalam dua musim tanam cabai merah. Rata-rata penggunaan input pada usahatani cabai merah menurut musim tanam dapat dilihat pada Tabel 21.

Tabel 21. Rata-rata Penggunaan Input dan Produktivitas pada Usahatani Cabai Merah per Musim Tanam di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi Pupuk kandang (krng) 520.215 520.215 520.215 520.215

Kapur (kg) 888.26 888.26 888.26 888.26

Benih (pack) 13.59 13.59 13.59 13.59

Obat insek (cc) 22,260.87 33,391.30 33,391.30 27,826.09 Obat fungi (gr) 13,356.52 20,034.78 20,034.78 16,695.65 Obat perekat (cc) 8,904 13,357.00 13,357.00 11,130 Obat perangsang (cc) 4,452.17 6,678.26 6,678.26 5,565.22

TK luar keluarga (HOK) 7 7 7 7

Mulsa (roll) 12 12 12 12

Produktivitas

(kwintal/Ha) 13.93 116.12 185.80 23.22

(38)

musim ketiga adalah musim kemarau. Hal ini disebabkan adanya hama dan penyakit yang menyerang cabai merah, yaitu Trips, lalat buah, dan Tungau, sehingga dosis dan periode penyemprotan pun lebih sering dilakukan. Penggunaan pupuk pada usahatani cabai merah ini tetap pada setiap musimnya, karena berdasarkan hasil wawancara di lapangan bahwa penggunaan pupuk kimia dan kompos tidak begitu berpengaruh. Para petani hanya memupuk tanaman satu hingga dua kali setiap musimnya. Pemupukan biasanya dilakukan bersamaan dengan pembukaan lahan, yaitu pupuk kompos dicampurkan dengan pupuk ponska, atau pada saat tanaman berumur dua minggu setelah tanam dan saat tanaman berumur dua bulan. Adapun dosis pada saat pemupukan pertama dan kedua tidak berbeda jauh, begitu pula untuk setiap petani, yaitu berkisar tiga kwintal. Jenis pupuk yang digunakan pun relatif sama antara satu petani dengan petani lainnya, yaitu pupuk ponska. Sementara petani cabai di Desa Perbawati juga menggunakan kapur (dolomit) dalam kegiatan usahataninya. Penggunaan kapur ini dimaksudkan untuk mengembalikan pH tanah sehingga tidak terlalu asam. Penggunaan kapur ini biasanya dilakukan saat pembukaan lahan, yaitu satu kali dalam dua musim tanam dan rata-rata penggunaannya sebanyak 1.000 hingga 2.000 kg per hektar.

Penggunaan obat-obatan oleh petani cabai merah di Desa Perbawati banyak jenisnya dan relatif sama untuk setiap petani cabai. Jenis obat-obatan tersebut diantaranya fungisida, insektisida, perekat obat, perangsang tumbuh daun, perangsang tumbuh bunga dan lainnya. Intensitas rata-rata penyemprotan obat-obatan ini dilakukan dua hingga tiga hari sekali bahkan saat musim hujan dilakukan setiap hari. Rata-rata untuk penyemprotan satu hektar lahan digunakan dua drum, dimana setiap drumnya berisi 200 liter dengan biaya rata-rata Rp 250.000,00 – Rp 500.000,00 per drum. Oleh karena itu, dengan keterbatasan modal yang dimiliki petani maka mereka meminjam kepada pengumpul untuk membeli obat-obatan tersebut. Hal ini membuat petani secara psikologis akan menjual hasil panen cabai kepada para pengumpul.

(39)

Petani cabai di Desa Perbawati ini tidak ada yang membuat benih sendiri karena menurut hasil wawancara di lapangan, bahwa benih cabai yang dibuat oleh petani hasilnya akan berbeda dengan benih yang dibeli. Jenis benih yang biasa digunakan petani adalah Hibrida, dimana benih cabai ini merupakan benih lokal. Petani cabai di Desa Perbawati sering mendapatkan penyuluhan untuk jenis-jenis benih cabai yang unggul dan penyuluhan yang lainnya, sehingga meskipun pendidikan petani rendah namun pengetahuan petani mengenai budidaya cabai yang baik dan benar cukup luas.

Kegiatan usahatani cabai merah di Desa Perbawati masih tergolong tradisional, hal ini dapat dilihat belum adanya teknologi yang moderen yang digunakan dalam usahatani. Kegiatan usahatani cabai merah masih menggunakan tenaga kerja manusia, dimana rata-rata tenaga kerja tetap yang digunakan petani sebanyak lima hingga tujuh orang per hektar. Namun, untuk musim panen atau musim tanam tenaga kerja yang digunakan biasanya lebih banyak dan didominasi oleh perempuan. Adapun biaya tenaga kerja di Desa Perbawati berkisar Rp 12.000,00 per HOK untuk perempuan dan Rp 20.000,00 per HOK untuk tenaga kerja laki-laki dengan waktu kerja lima jam per hari.

Kegiatan usahatani cabai merah di Desa Perbawati ini menggunakan mulsa untuk mengurangi waktu tenaga kerja dalam bekerja. Penggunaan mulsa ini dapat mengurangi gulma-gulma atau tanaman pengganggu pada tanaman cabai, sehingga waktu tenaga kerja dapat dilakukan untuk hal lainnya. Rata-rata untuk satu hektar lahan digunakan 12 roll mulsa dengan 800 m2 per roll. Biaya untuk mulsa berkisar Rp 400.000,00 – Rp 500.000,00 per roll dan biasanya mulsa yang berkualitas yaitu yang memiliki tekstur tebal dan tidak mudah robek akan dapat digunakan dua kali musim.

6.2. Struktur Pendapatan Usahatani Cabai Merah 6.2.1. Biaya Produksi

(40)

tidak setiap musim dikeluarkan petani. Biaya kapur dan pupuk kompos dikeluarkan petani cabai hanya saat pembukaan lahan, sedangkan untuk sewa lahan dan mulsa dikeluarkan setiap dua musim sekali. Adapun rata-rata biaya produksi pada usahatani cabai merah per hektar lahan di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi dijelaskan pada Lampiran 4.

Besarnya biaya yang ditanggung oleh petani cabai berbeda satu dengan lainnya. Dari analisis usahatani yang dilakukan, rata-rata total biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani cabai adalah sebesar Rp 47.870.826,09 pada musim pertama (bulan September-Februari), Rp 61.758.826,09pada musim kedua (bulan April-Oktober), Rp 65.353.521,75pada musim ketiga (bulan Desember-Juni), dan Rp 54.109.521,75 pada musim keempat (bulan September-Februari). Sementara rata-rata biaya total yang ditanggung oleh petani cabai yaitu sebesar Rp 54.493.492,76 pada musim pertama, Rp 68.381.492,76 pada musim kedua, Rp 71.976.188,42pada musim ketiga, dan Rp 60.732.188,42pada musim keempat.

Diantara komponen biaya produksi secara keseluruhan, komponen biaya produksi tertinggi adalah biaya tenaga kerja dan biaya obat-obatan. Rata-rata biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh petani cabai setiap musim tanam adalah sebesar Rp 14.820.000,00 dan obat sebesar Rp 28.100.000,00. Sementara komponen biaya produksi terendah adalah biaya kapur (dolomit) dan pupuk ponska. Biaya rata-rata yang dikeluarkan petani cabai untuk kapur sebesar Rp 690.130,43 dan pupuk ponska sebesar Rp 1.414.076,09 setiap musim tanam.

6.2.2. Penerimaan dan Pendapatan Bersih Usahatani Cabai Merah

(41)

ini disebabkan karena pada musim ketiga adalah musim kemarau sehingga hasil panen cabai lebih optimal meskipun harga cabai di tingkat petani tidak cukup tinggi, yaitu rata-rata sebesar Rp 11.000,00 per kilogram. Sementara, pada musim pertama meskipun harga cabai sangat tinggi yaitu rata-rata sebesar Rp 40.000,00 per kilogram, namun hasil panen cabai kurang baik karena musim penghujan, begitu pula pada musim keempat.

Dari perhitungan usahatani yang dilakukan, diketahui bahwa rata-rata pendapatan bersih atas biaya total usahatani cabai merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi dalam empat musim terakhir adalah sebesar Rp 60.065663,32. Seperti dengan penerimaan yang diperoleh petani, pendapatan bersih dari kegiatan usahatani cabai merah ini juga bervariasi setiap musimnya. Pendapatan bersih atas biaya total tertinggi diperoleh pada saat musim ketiga (Desember-Juni) yaitu sebesar Rp 132.400.623,58. Sementara pendapatan bersih atas biaya total terendah diperoleh saat musim keempat (September-Februari 2011/2012) yaitu sebesar Rp 22.876.507,24. Adapun pada musim pertama (September-Februari 2009/2010) yaitu sebesar Rp 29.115.203,24 dan pada musim kedua (April-Oktober) sebesar Rp 55.870.319,24.

Jika diperhitungkan dari seluruh biaya tunai, diketahui bahwa rata-rata pendapatan bersih atas biaya tunai usahatani cabai merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi dalam empat musim terakhir mencapai Rp 66.688.329,99. Pada musim pertama, rata-rata pendapatan bersih atas biaya tunai yang diperoleh petani cabai merah sebesar Rp 35.737.869,91, sedangkan pada musim kedua sebesar Rp 62.492.985,91, dan pada musim ketiga sebesar Rp 139.023.290,25. Pada musim keempat, rata-rata pendapatan bersih atas biaya tunai cabai merah merupakan nilai terendah yaitu mencapai Rp 29.499.173,91.

(42)

Gambar 9. Biaya Produksi, Pendapatan Kotor, Pendapatan atas Biaya Tunai, dan Biaya atas Biaya Total Usahatanai Cabai Merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi Tahun 2009/2012

6.3. Analisis Risiko Produksi Cabai Merah

Petani cabai merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi menghadapi beberapa macam risiko dalam menjalankan usahanya. Oleh karenanya, agar kerugian dapat diminimalisir, pelaku usaha cabai merah harus mengetahui seberapa besar risiko yang dihadapinya. Pada dasarnya tidak terdapat ukuran yang pasti untuk menilai seberapa besar tingkat risiko suatu usaha. Akan tetapi, hal ini dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. Dalam penelitian ini, risiko cabai merah dianalisis dengan melihat nilai variance, standar deviasi, dan koefisien variasi dari nilai produktivitas cabai merah per hektar. Selain itu, aspek risiko juga diukur dengan melihat nilai pendapatan bersih usahatani.

Dalam menganalisis tingkat risiko suatu usaha, perlu diketahui tingkat frekuensi kejadian dalam periode waktu tertentu. Hal ini dibutuhkan untuk mengetahui seberapa besar peluang nilai keuntungan ataupun kerugian yang mungkin diterima. Dalam penelitian ini, banyaknya kejadian dijelaskan ke dalam tiga kondisi, yaitu kondisi terendah, normal, dan tertinggi. Sementara penentuan nilai peluang tersebut berdasarkan kemungkinan produktivitas cabai merah per hektar dalam empat musim. Nilai peluang setiap kejadian berbeda-beda antara satu petani dengan petani yang lain. Adapun nilai rata-rata peluang dapat dilihat pada Tabel 22.

Setelah diketahui tingkat peluang dari masing-masing kejadian, maka nilai risiko dapat dianalisis dengan melihat expected value, standard deviation, dan

coefficient variance, seperti yang terlihat pada Tabel 23. Nilai expected value

(43)

petani cabai merah di Desa Perbawati adalah sebesar 92,32 kwintal per hektar (cateris paribus).

Tabel 22. Rata-rata Produktivitas dan Penerimaan dalam Kondisi Tertinggi, Normal, dan Terendah Usahatani Cabai Merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi Tahun 2009-2012

Kondisi Peluang

Produktivitas

Return (Rp) (Kwintal/Ha)

Tinggi 0,25 185,8 139.023.290,00

Normal 0,25 116,12 62.492.985,91

Rendah 0,5 33,68 32.618.521,91

Sementara nilai standard deviation mengandung arti bahwa risiko produksi yang dihadapi petani cabai merah, dimana semakin kecil nilai standard deviation maka semakin rendah risiko yang dihadapi dalam kegiatan usaha.

Standard deviation pada usaha cabai merah di Desa Perbawati adalah sebesar 63,60 kwintal per hektar atau 68 persen dari nilai produktivitas yang diperoleh petani (cateris paribus).

Tabel 23. Nilai Expected Value, Standard Deviation, dan Coefficient Variation

dari Produktivitas Cabai Merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi Tahun 2009-2012

Uraian Nilai

Expected Value 92,32 Standar Deviation 63,60

Coefficient variation 0,68

Tingkat risiko produksi yang dihadapi petani cabai merah di Desa Perbawati tersebut relatif tinggi jika dibandingkan dengan tingkat risiko produksi cabai merah di beberapa tempat lainnya. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 24. Pada Tabel 24 menunjukkan bahwa tingkat risiko cabai merah di Desa Perbawati, menghadapi risiko produksi tertinggi jika dibandingkan dengan dua tempat lainnya, yaitu di Desa Citapen Bogor dan di Permata Hati Organic Farm Bogor. Perbedaan tingkat risiko ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu diantaranya: 1. Tingkat risiko produksi cabai merah di Kelompok Tani Pondok Menteng lebih

(44)

optimal. Selain itu, pola tanam yang dilakukan oleh Kelompok Tani Pondok Menteng hanya satu kali dalam satu tahun dan sisanya tiga bulan untuk penanaman tanaman sawi dan tiga bulan untuk masa bera, serta penggunaan obat-obatan kimia pun cukup terkendali, sehingga kesuburan tanah masih cukup terjaga.

2. Tingkat risiko di Permata Hati Organic Farm merupakan paling rendah hal ini disebabkan pengelolaan usahatani lebih intensif dan optimal karena merupakan suatu perusahaan sehingga memiliki sumberdaya manusia yang lebih ahli dan sumberdaya teknologi yang lebih canggih dan moderen.

Tabel 24. Tingkat Risiko Cabai Merah Keriting di Beberapa Tempat Lokasi Penelitian Tingkat Risiko

Poktan Desa Citapen 0,5

Permata Hati Organic Farm 0,048

Dilihat dari sisi pendapatan usahatani seperti terlihat pada Tabel 25, tingkat pendapatan yang diharapkan oleh petani cabai merah di Desa Perbawati sebesar Rp 66.688.330,00 per hektar. Sementara risiko yang diterima oleh petani cabai merah di Desa Perbawati adalah sebesar 65 persen dari nilai penerimaan yang diperoleh petani dengan rata-rata standar deviasi sebesar Rp 43.507.042,63 per hektar. Dari nilai tersebut, maka jika dibandingkan dengan perhitungan risiko dari sisi produktivitas, nilai risiko yang dihitung dari sisi penerimaan ternyata lebih rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa besarnya risiko yang dihadapi oleh petani cabai merah hanya dipengaruhi oleh aspek teknis, namun tidak menutup kemungkinan bahwa pendapatan juga berpengaruh terhadap risiko yang dihadapi petani cabai merah.

Tabel 25. Nilai Expected Value, Standard Deviation, dan Coefficient Variation

dari Penerimaan Cabai Merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi Tahun 2009-2012

Uraian Nilai

Expected Value 66.688.330,00

Standar Deviation 43.507.042,63

(45)

6.4. Sumber-sumber Risiko pada Kegiatan Produksi

Pada dasarnya risiko pada kegiatan agribisnis disebabkan oleh berbagai macam kondisi ketidakpastian yang dihadapi. Dalam kegiatan produksi pertanian atau usahatani, ketidakpastian tersebut berasal dari faktor alam dan lingkungan. Selain itu, risiko dalam kegiatan produksi pertanian juga dipengaruhi oleh ketidakpastian pada harga output dan input produksi. Terlebih sebagian besar komoditas pertanian mempunyai karakteristik perishable, voluminious, dan bulky.

6.4.1. Faktor iklim dan cuaca

Faktor iklim dan cuaca merupakan salah satu faktor yang mendorong adanya risiko pada kegiatan usahatani cabai merah. Hal ini disebabkan karena perubahan cuaca sulit diprediksi secara pasti. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, saat ini kondisi sering berubah-ubah dan tidak sesuai dengan siklus normalnya. Sementara, kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertumbuhan cabai merah. Selain itu, cuaca juga sangat terkait dengan munculnya hama dan penyakit tanaman.

Normalnya, cabai merah merupakan tanaman yang cukup rentan terhadap keadaan basah karena buah akan mudah busuk dan rentan terhadap penyakit tanaman. Sementara itu, saat musim kering atau kemarau juga masa yang tidak baik untuk penanaman cabai, hal ini terkait dengan munculnya hama tanaman. Disisi lain, tanaman cabai merupakan tanamn yang cocok ditanam pada daerah beriklim basah dengan suhu dingin atau sejuk.

(46)

Gambar 10. Rata-rata Produktivitas Cabai Merah per Musim Tanam Tahun 2009/2012

Pada Gambar 10 terlihat bahwa, produktivitas tertinggi terjadi pada rentang waktu antara bulan Desember hingga Juni. Pada rentang waktu tersebut, kondisi cuaca sangat mendukung untuk pertumbuhan cabai merah, yaitu saat penanaman cabai sedang terjadi musim hujan sedangkan saat panen tiba terjadi kemarau panjang. Oleh karena itu, cabai merah yanag dihasilkan petani cukup memuaskan. Pada rentang waktu bulan April–Oktober 2010 sedang terjadi musim hujan berkepanjangan, sehingga tanaman cabai merah tidak tumbuh normal. Banyak hama dan penyakit tanaman yang menyerang tanaman cabai merah. Sementara itu, seperti terlihat pada Gambar 9, tingkat produktvitas cabai merah pada musim September-Februari baik musim pertama maupun keempat lebih rendah dengan perbedaan yang cukup tinggi.

6.4.2. Faktor Hama dan Penyakit Tanaman

Hama dan penyakit tanaman merupakan salah satu masalah yang terpenting yang dihadapi dalam kegiatan budidaya cabai merah. Hama dan penyakit dapat menyerang mulai dari akar, batang, daun, bunga, hingga buah. Kemunculan hama dan penyakit ini sering kali tidak dapat diprediksi sebelumnya. Hal ini dikarenakan munculnya hama dan penyakit tersebut dipengaruhi oleh faktor cuaca dan iklim yang juga tidak dapat diprediksi secara tepat. Oleh karena itu, hama dan penyakit tanaman dapat menjadi faktor risiko usahatani cabai merah.

(47)

Penyakit yang disebabkan oleh cendawan umumnya menampilkan warna-warna sesuai dengan warna sporanya pada bagian tanaman yang diserang.

Sementara penyakit yang disebabkan oleh bakteri biasanya menyebabkan busuk, baik pada daun, buah, dan akar. Berbeda dengan bakteri, pembusukan yang disebabkan oleh cendawan biasanya kering. Jenis-jenis penyakit yang biasa menyerang tanaman cabai merah diantaranya dapat dilihat pada Tabel 26.

Tabel 26. Jenis-jenis Penyakit yang Menyerang Tanaman Cabai Merah

Jenis Penyeakit Sifat Penyerangan kemudian menjalar keseluruh bagian tanaman yang akhirnya daun menguning dan rontok kemudian tangkai daun mulai merunduk, sehingga seluruh tanaman layu dan mati

Bercak daun dan buah ฀ Penyakit ini sering disebut antraknose atau

“patek”

฀ Biasanya penyakit ini terjadi pada musim hujan yang disebabkan oleh cendawan

฀ Gejalanya ditunjukkan dengan bintik-bintik kecil kehitaman dan berlekuk yang akan

Bercak alternaria ฀ Gejalanya ditandai dengan timbulnya bercak-bercak coklat tua hingga kehitaman

฀ Serangan bercak penyakit ini dimulai dari daun paling baawah hingga batang

Busuk daun dan buah ฀ Gejalanya dapat nampak pada daun yaitu bercak-bercak dibagian tepinya dan kemudian menyerang seluruh batang hingga buah cbai merah akan terlepas

Sumber: [BP4K] Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sukabumi 2012

(48)

Hama menyukai daun yang masih muda, pucuk daun, bunga, pangkal batang, sampai ke akarnya. Semua bagian tanaman dapat menjadi sasaran serangan hama. Gambaran mengenai jenis-jenis hama dijelaskan pada Tabel 27.

Tabel 27. Jenis-jenis Hama yang Menyerang Tanaman Cabai Merah

Jenis Hama Ciri-ciri Serangan

Ulat grayak (Spodoptera litura)

฀ Serangga dewasa dari hama ini adalah kupu-kupu dengan warna gelap dan garis putih 0,5 cm dan berwarna coklat tua

฀ Serangan dilakukan Thrips (Thrips sp) ฀Serangga Thrips sangat kecil

Figur

Tabel 9. Luas Potensi Usahatani di Kecamatan Sukabumi Tahun 2012

Tabel 9.

Luas Potensi Usahatani di Kecamatan Sukabumi Tahun 2012 p.7
Tabel 8. Potensi Usahatani Berdasarkan Komodias Unggulan di enam Desa Kecamatan

Tabel 8.

Potensi Usahatani Berdasarkan Komodias Unggulan di enam Desa Kecamatan p.7
Gambar 1. Harga Eceran Cabai Merah Januari 2010 - Januari 2011

Gambar 1.

Harga Eceran Cabai Merah Januari 2010 - Januari 2011 p.9
Gambar 4. Pergerakan Kurva Penawaran (Mankiw 2002)

Gambar 4.

Pergerakan Kurva Penawaran (Mankiw 2002) p.17
Gambar 5. Kurva Pergeseran Penawaran (Mankiw 2002)

Gambar 5.

Kurva Pergeseran Penawaran (Mankiw 2002) p.18
Gambar 6. Kerangka Pemikiran Operasional

Gambar 6.

Kerangka Pemikiran Operasional p.20
Tabel 14. Karakteristik Petani Cabai Berdasarkan Usia di Desa Perbawati Tahun

Tabel 14.

Karakteristik Petani Cabai Berdasarkan Usia di Desa Perbawati Tahun p.32
Tabel 15. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di

Tabel 15.

Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di p.32
Tabel 21. Rata-rata Penggunaan Input dan Produktivitas pada Usahatani Cabai

Tabel 21.

Rata-rata Penggunaan Input dan Produktivitas pada Usahatani Cabai p.37
Gambar 9. Biaya Produksi, Pendapatan Kotor, Pendapatan atas Biaya Tunai, dan

Gambar 9.

Biaya Produksi, Pendapatan Kotor, Pendapatan atas Biaya Tunai, dan p.42
Gambar 10. Rata-rata Produktivitas Cabai Merah per Musim Tanam Tahun

Gambar 10.

Rata-rata Produktivitas Cabai Merah per Musim Tanam Tahun p.46
Tabel 26. Jenis-jenis Penyakit yang Menyerang Tanaman Cabai Merah

Tabel 26.

Jenis-jenis Penyakit yang Menyerang Tanaman Cabai Merah p.47
Tabel 27. Jenis-jenis Hama yang Menyerang Tanaman Cabai Merah

Tabel 27.

Jenis-jenis Hama yang Menyerang Tanaman Cabai Merah p.48
Tabel 28. Jenis Serangan Hama dan Penyakit serta Dampak Kerugiannya

Tabel 28.

Jenis Serangan Hama dan Penyakit serta Dampak Kerugiannya p.49
Tabel 29. Cara Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Cabai Merah yang Dilakukan oleh Petani di Desa Perbawati

Tabel 29.

Cara Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Cabai Merah yang Dilakukan oleh Petani di Desa Perbawati p.54
Tabel 30. Deskripsi Statistik dari Setiap Variabel

Tabel 30.

Deskripsi Statistik dari Setiap Variabel p.55
Tabel 31. Koefisien Regresi pada Variabel Independen

Tabel 31.

Koefisien Regresi pada Variabel Independen p.57
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ................

GAMBARAN UMUM

LOKASI PENELITIAN ................ p.75
Tabel 5. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Cabai Merah di Jawa Barat,

Tabel 5.

Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Cabai Merah di Jawa Barat, p.84
Tabel 4. Perkembangan Produksi Cabai Merah di Indonesia Tahun 1997 – 2010

Tabel 4.

Perkembangan Produksi Cabai Merah di Indonesia Tahun 1997 – 2010 p.84
Tabel 6. Produksi Cabai Merah di Empat Kabupaten di Provinsi Jawa Barat

Tabel 6.

Produksi Cabai Merah di Empat Kabupaten di Provinsi Jawa Barat p.85
Tabel 9. Luas Potensi Usahatani di Kecamatan Sukabumi Tahun 2012

Tabel 9.

Luas Potensi Usahatani di Kecamatan Sukabumi Tahun 2012 p.87
Tabel 8. Potensi Usahatani Berdasarkan Komodias Unggulan di enam Desa Kecamatan

Tabel 8.

Potensi Usahatani Berdasarkan Komodias Unggulan di enam Desa Kecamatan p.87
Gambar 1. Harga Eceran Cabai Merah Januari 2010 - Januari 2011

Gambar 1.

Harga Eceran Cabai Merah Januari 2010 - Januari 2011 p.89
Gambar 4. Pergerakan Kurva Penawaran (Mankiw 2002)

Gambar 4.

Pergerakan Kurva Penawaran (Mankiw 2002) p.97
Gambar 5. Kurva Pergeseran Penawaran (Mankiw 2002)

Gambar 5.

Kurva Pergeseran Penawaran (Mankiw 2002) p.98
Gambar 6. Kerangka Pemikiran Operasional

Gambar 6.

Kerangka Pemikiran Operasional p.100
Tabel 15. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di

Tabel 15.

Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di p.112
Tabel 14. Karakteristik Petani Cabai Berdasarkan Usia di Desa Perbawati Tahun

Tabel 14.

Karakteristik Petani Cabai Berdasarkan Usia di Desa Perbawati Tahun p.112

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di