BAB I PENDAHULUAN
F. Manfaat Penelitian
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah yang telah dipaparkan diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah
Bagaimana program pembentukan karakter religius melalui organisasi PC IPNU IPPNU Jakarta Barat?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
Program pembentukan karakter religius melalui organisasi PC IPNU IPPNU Jakarta Barat
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberi manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis terhadap pihak sebagai berikut:
a. Secara Teoritis
1. Untuk memberikan tambahan wawasan pengetahuan yang berharga khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.
2. Untuk memberikan gambaran umum ataupun informasi mengenai program pembentukan karakter Religius remaja melalui organisasi IPNU IPPNU Jakarta Barat.
3. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya yang sejenis.
b. Secara Praktis 1. Bagi Remaja
Untuk mengetahui betapa pentingnya berorganisasi dalam membentuk karakter religius remaja dan membentuk pemuda pemudi Indonesia menjadi generasi yang berakhlakul karimah serta pemuda Indonesia agar bisa mengembangkan potensinya melalui organisasi IPNU IPPNU.
2. Bagi Masyarakat
Untuk menambah informasi bagi masyarakat terkait dengan fenomena organisasi masyarakat serta kajian sosial pada umumnya.
3. Bagi Penulis
Untuk menambah wawasan, sikap, pengalaman, serta pola pikir sebagai cara dalam membentuk karakter religius melalui organisasi IPNU IPPNU.
7
Pembentukan adalah suatu cara, atau proses perbuatan membentuk.
Sedangkan karakter adalah nilai-nilai perilaku manusia secara umum yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, maupun lingkungan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma - norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.5 Kehidupan manusia tidak hanya berhubungan dengan Allah (hablum minallah) semata, tetapi juga hubungannya dengan manusia (hablum minannas), dan lingkungan (hablum minal alam).
Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut Scerenko karakter adalah sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis, dan kompleksitas mental dari seseorang.6
Kata karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark”
(menandai) dan memfokuskan, bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Oleh sebab itu, seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus dikatakan sebagai orang berkarakter jelek, sementara orang yang berperilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia.
5 Suci Aristanti, Tesis: “Strategi Pembentukan Karakter Religius Melalui Kegiatan Keagamaan Di Sekolah Menengah Pertama ((Studi Multisitus di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Jombang dan Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Jombang) ” (Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim, 2020), h.15.
6 Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), h. 41-42
Jadi istilah karakter sangat erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang. Seseorang bisa dikatakan orang yang berkarakter (a person of character) apabila perilakunya sesuai dengan kaidah moral.
Menurut Joel Kuperman, karakter bermakna “intrument for making and graving, impress stamp, distinctive nature”. Berkowitz mengartikan karakter sebagai …an individual’s set of psikological characteristic that affect person’s ability and inclination to function morally. Karakter merupakan ciri atau tanda yang melekat pada suatu benda atau seseorang. Karakter menjadi tanda identifikasi. Wilhelm menyatakan character can be measured corresponding to the individual’s compliance to a set moral code.7 Dengan demikian, secara sederhana karakter mempresentasikan identitas seseorang yang menunjukkan ketundukkanya pada aturan atau standar moral dan termanifestasikan dalam tindakan.
b. Unsur-Unsur Pembentukan Karakter
Menurut Fatchul Mu‟in bahwa ada beberapa unsur dimensi manusia secara psikologis dan sosiologis yang berkaitan dengan terbentuknya karakter pada diri manusia tersebut. Unsur-unsur ini menunjukkan bagaimana karakter seseorang. Unsur-unsur tersebut antara lain:8
a) Sikap
Sikap seseorang biasanya merupakan bagian karakternya dianggap sebagai cerminan karakter seseorang. Sikap merupakan predisposisi untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perilaku tertentu sehingga sikap bukan hanya gambaran kondisi internal psikologis yang murni dari individu (purely psychic inner state) melainkan sikap lebih
7 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: konsepsi dan aplikasinya dalam lembaga pendidikan , (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h.12.
8 Suci Aristanti, Op.Cit, h.16.
merupakan proses kesadaran yang sifatnya individual. Artinya, proses ini terjadi secara subjektif dan unik pada diri setiap individu.
Sikap dapat disimpulkan sebagai sebuah cerminan karakter yang ada dalam diri seseorang untuk menjadi acuan dalam berpikir atau mengambil keputusan dalam suatu tindakan yang dilakukan. Sikap yang dimaksud disini adalah keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan. Dengan kata lain, sikap sebagai unsur pembentukan karakter ada pada proses kesadaran individu untuk bertindak.
b) Emosi
Emosi merupakan gejala dinamis dalam situasi yang dirasakan manusia, yang disertai dengan efeknya pada kesadaran, perilaku, dan juga merupakan proses fisiologis.
Tanpa emosi, kehidupan manusia akan terasa hambar karena manusia selalu hidup dengan berfikir dan merasa. Dan emosi identik dengan perasaan yang kuat.
c) Kepercayaan
Kepercayaan merupakan komponen kognitif manusia dari foktor sosiopsikologis. Kepercayaan bahwa sesuatu itu “benar”
atau “salah” atas dasar bukti, sugesti, otoritas, pengalaman, dan intuisi sangatlah penting dalam membangun watak dan karakter manusia. Jadi, kepercayaan memperkukuh eksistensi diri dan memperkukuh hubungan dengan orang lain.
d) Kebiasaan dan kemauan
Kebiasaan merupakan aspek perilaku manusia yang menetap, berlangsung secara otomatis pada waktu yang lama, tidak direncanakan dan diulangi berkali-kali. Sedangkan kemauan merupakan kondisi yang sangat mencerminkan karakter seseorang karena kemauan berkaitan erat dengan tindakan yang mencerminkan perilaku orang tersebut.19
e) Konsepsi diri (Self-Conception)
Proses konsepsi diri merupakan proses totalitas, baik sadar maupun tidak sadar tentang bagaimana karakter dan diri seseorang dibentuk. Konsepsi diri itu amat penting untuk diperhatikan bagi siapa saja yang peduli pada pembangunan karakter. Dalam konsepsi diri, seseorang biasanya mengenal dirinya dari orang lain terlebih dahulu. Citra diri dari orang lain akan memotivasi untuk bangkit membangun karakter yang lebih bagus.
Unsur-unsur tersebut menyatu dalam diri setiap orang sebagai bentuk kepribadian orang tersebut. Jadi, unsur-unsur ini menunjukkan bagaimana karakter seseorang. Selain itu, unsur-unsur tersebut juga dapat dijadikan pedoman dalam mengembangkan dan membentuk karakter seseorang.
c. Religius
Nilai religius merupakan salah satu nilai karakter yang dijadikan sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.9
Jika dilihat dari bahasanya nilai religius berasal dari gabungan dua kata, yaitu kata nilai dan kata religius. Kata nilai dapat diartikan secara etimologis dan terminologis. Dari segi etimologis nilai adalah harga, derajat. Nilai adalah ukuran untuk memilih tindakan atau upaya kegiatan dan tujuan tertentu. Sedangkan secara terminologis dapat dilihat berbagai rumusan pakar nilai. Tapi perlu ditekankan bahwa nilai adalah mutu empirik yang kadang-kadang sulit atau tidak bisa didefinisikan. Namun, Louis Katsoff mengatakan bahwa kenyataan
9 Dian Chrisna Wati, Didik Baehaqi, Arif, Penanaman Nilai-Nilai Religius Di Sekolah untuk Penguatan Jiwa Profetik Siswa, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Jurnal Prosiding Konferensi Nasional Kewarganegaraan III 11 November 2017, h.61
bahwa nilai tidak bisa diartikan dengan baik bukan berarti nilai tidak bisa dipahami oleh khalayak kehidupan.10
Mangunwijaya sebagaimana dikutip oleh Erni Suslowati dalam tesisnya menegaskan bahwa Religiusitas berasal dari kata religio yang berarti memeriksa lagi, menimbang-nimbang, merenungkan keberatan hati nurani. Manusia yang religius dapat diartikan sebagai manusia yang berhati nurani serius, saleh dan teliti dalam mempertimbangkan batin, jadi belum menyebut dia menganut agama mana.11
Nilai religius adalah nilai mengenai konsep kehidupan religius atau keagamaan berupa ikatan atau hubungan yang mengatur manusia dengan Tuhannya. Nilai religius juga berhubungan dengan kehidupan dunia tidak jauh berbeda dengan nilai-nilai lainnya seperti kebudayaan dan aspek sosial selain itu nilai religius juga erat hubunganya dengan kehidupan akhirat yang misterius bagi manusia. Kehidupan akhirat inilah yang membedakan dengan nilai- nilai lainnnya.
Pendapat Mangunwijaya tentang religiusitas ini cukup berbeda dengan pendapat lainnya, dimana beliau lebih memilih memahami religiusitas sebagai suara hati nurani, dan belum menyangkut pada keyakinan atau kepercayaan yang dianutnya. Hal ini tentu tidak lepas dari pandangan beliau bahwa arti religio bukan berarti agama atau sesuatu yang bersifat keagamaan, melainkan berarti memeriksa lagi, menimbang-nimbang, merenungkan keberatan hati nurani. Artinya Mangunwijaya lebih terfokus memandang religiusitas kepada pribadi dan nurani pribadinya, bukan sesuatu yang mempengaruhi atau mengilhami pribadinya kepada sesuatu yang kekuasaan mutlak dan tak terbatas yang mampu membolak-balik hati nuraninya.12
10 Muh. Khoirul Rifa‟I, Internalisasi Nilai-Nilai Religius Berbasis Multikultural Dalam Membentuk Insan Kamil, UIN Sunan Ampel Surabaya, Jurnal Pendidikan Agama Islam, Volume 4 Nomor 1Mei 2016, h.118
11 Muh Dasir, Implementasi Nilai-Nilai Religius Dalam Mteri Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti Tingkat SMA/SMK Kurikulum 2013, Universitas Islam Indonesia Fakultas Ilmu Agama Islam, h.3
12 Ibid
d. Nilai-Nilai Karakter Religius
Bentuk nilai-nilai religius menurut Muhammad Fathurrahman dibagi menjadi beberapa macam, antara lain13:
1) Nilai Ibadah
Ibadah merupakan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab, yaitu dari masdar „abada yang berarti penyembahan. Sedangkan secara istilah berarti khidmat kepada Tuhan, taat mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jadi ibadah adalah ketaatan manusia kepada Tuhan yang diterapkankan dalam kehidupan sehari-hari misalnya sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya.
2) Nilai Ruhul Jihad
Ruhul Jihad artinya jiwa yang mendorong manusia untuk bekerja atau berjuang dengan sungguh-sungguh. Hal ini didasari adanya tujuan hidup manusia yaitu hablum minAllāh, hablum min al-nas dan hablum min al-alam. Dengan adanya komitmen ruhul jihad, maka aktualisasi diri dan unjuk kerja selalu didasari sikap berjuang dan ikhtiar dengan sungguh-sungguh.
3) Nilai Akhlak dan Disiplin
Akhlak merupakan bentuk jama‟ dari khuluq, artinya perangai, tabiat, rasa malu dan adat kebiasaan. Menurut Quraish Shihab, Kata akhlak walaupun terambil dari bahasa Arab (yang biasa berartikan tabiat, perangai, kebiasaan bahkan agama), namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam al-Qur‟an. Yang terdapat dalam al-Qur‟an adalah kata khuluq, yang merupakan bentuk mufrad dari kata akhlak. Sedangkan kedisiplinan itu termanifestasi dalam kebiasaan manusia ketika melaksanakan ibadah rutin setiap hari. Semua agama
13 Ibid. h.5
mengajarkan suatu amalan yang dilakukan sebagai rutinitas penganutnya yang merupakan sarana hubungan antara manusia dengan pencipta-Nya. Dan itu terjadwal secara rapi. Apabila manusia melaksanakan ibadah dengan tepat waktu, maka secara otomatis tertanam nilai kedisiplinan dalam diri orang tersebut. Kemudian apabila hal itu dilaksanakan secara terus menerus maka akan menjadi budaya religius.
4) Nilai Keteladanan
Nilai keteladanan ini tercermin dari perilaku guru.
Keteladanan merupakan hal yang sangat penting dalam pendidikan dan pembelajaran. Bahkan al-Ghazali menasehatkan, sebagaimana dikutip Ibn Rusd, kepada setiap guru agar senantiasa menjadi teladan dan pusat perhatian bagi muridnya. Ia harus mempunyai kharisma yang tinggi. Ini merupakan faktor penting yang harus ada pada diri seorang guru.
5) Nilai Amanah dan Ikhlas
Secara etimologi amanah artinya dapat dipercaya. Dalam konsep kepemimpinan amanah disebut juga dengan tanggung jawab. Dalam konteks pendidikan, nilai amanah harus dipegang oleh seluruh pengelola lembaga pendidikan, dan peserta didiknya. Sedangkan “...ikhlas secara bahasa berarti bersih dari campuran hal kotor. Secara umum ikhlas berarti hilangnya rasa pamrih atas segala sesuatu yang diperbuat.”
Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa bentuk nilai religius berdasarkan ajaran Islam yang menjadi hal pokok dalam pendidikan agama Islam adalah;
a) Nilai Aqidah (Keimanan). Yaitu fitrah manusia sejak penciptaannya.
b) Nilai Ibadah („Ubudiyyah). Yaitu pengabdian ritual sebagaimana diperintahkan dalam al-Qur‟an dan sunnah.
c) Nilai Akhlak. Yaitu pemberi norma-norma baik dan buruk yang menentukan kualitas pribadi manusia.
d) Nilai Kemasyarakatan (Sosial). Yaitu pengaturan pergaulan hidup manusia di atas bumi dalam dimensi sosial.
e. Teori Religiusitas
Menurut Glock & Stark (1994) konsep religiusitas adalah rumusan brilian. Konsep tersebut mencoba melihat keberagamaan seseorang bukan hanya dari satu atau dua dimensi, tetapi mencoba memperhatikan segala dimensi. Keberagamaan dalam Islam bukan hanya diwujudkan dalam bentuk ibadah ritual saja, tapi juga dalam aktivitasaktivitas lainnya. Sebagai suatu sistem yang menyeluruh, Islam mendorong pemeluknya untuk beragama secara menyeluruh pula. Ada lima dimensi keberagamaan sesorang yang dapat diukur untuk mengetahui apakah seseorang tersebut religius atau tidak, yaitu, dimensi keyakinan, dimensi praktek agama (ritual dan ketaatan), dimensi pengalaman, dimensi pengetahuan agama, dimensi pengamalan atau konsekuensi. Dalam konteks agama Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indoneisa, lima dimensi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut14 :
a) Dimensi Ritual; yaitu aspek yang mengukur sejauh mana seseorang melakukan kewajiban ritualnya dalam agama yang dianut.
Misalnya; pergi ke tempat ibadah, berdoa pribadi, berpuasa, dan lain lain. Dimensi ritual ini merupakan perilaku keberagamaan yang berupa peribadatan yang berbentuk upacara keagamaan.
14 Wahyudin, dkk Dimensi Religiusitas Dan Pengaruhnya TerhadapOrganizational Citizenship Behaviour, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, h.6-7
b) Dimensi Ideologis; yang mengukur tingkatan sejauh mana seseorang menerima hal-hal yang bersifat dogmatis dalam agamanya. Misalnya; menerima keberadaan Tuhan, malaikat dan setan, surga dan neraka, dan lain lain. Dalam konteks ajaran Islam, dimensi ideologis ini menyangkut kepercayaan seseorang terhadap kebenaran agama-agamanya. Semua ajaran yang bermuara dari Al quran dan hadits harus menjadi pedoman bagi segala bidang kehidupan. Keberagaman ditinjau dari segi ini misalnya mendarmabaktikan diri terhadap masyarakat yang menyampaikan amar ma‟ruf nahi mungkar dan amaliah lainnya dilakukan dengan ikhlas berdasarkan keimanan yang tinggi.
c) Dimensi Intelektual; yaitu tentang seberapa jauh seseorang mengetahui, mengerti, dan paham tentang ajaran agamanya, dan sejauh mana seseorang itu mau melakukan aktivitas untuk semakin menambah pemahamannya dalam hal keagamaan yang berkaitan dengan agamanya. Secara lebih luas, Dimensi intelektual ini menunjukkan tingkat pemahaman seseorang terhadap doktrin-doktrin agama tentang kedalaman ajaran agama yang dipeluknya.
Ilmu yang dimiliki seseorang akan menjadikannya lebih luas wawasan berfikirnya sehingga perilaku keberagamaan akan lebih terarah.
d) Dimensi Pengalaman; berkaitan dengan seberapa jauh tingkat Muslim dalam merasakan dan mengalami perasaan-perasaan dan pengalaman religius. Dalam Islam dimensi ini terwujud dalam perasaan dekat dengan Allah, perasaan doa-doanya sering terkabul, perasaan tentram bahagia karena menuhankan Allah, perasaan bertawakkal, perasaan khusuk ketika melaksanakan sholat, perasaan tergetar ketika mendengar adzan atau ayat-ayat al-qur‟an, perasaan syukur kepada Allah, perasaan mendapat peringatan atau pertolongan dari Allah.
e) Dimensi Konsekuensi; Dalam hal ini berkaitan dengan sejauh mana seseorang itu mau berkomitmen dengan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya; menolong orang lain, bersikap jujur, mau berbagi, tidak mencuri, dan lain-lain. Aspek ini berbeda dengan aspek ritual. Aspek ritual lebih pada perilaku keagamaan yang bersifat penyembahan/adorasi sedangkan aspek komitmen lebih mengarah pada hubungan manusia tersebut dengan sesamanya dalam kerangka agama yang dianut. Pada hakekatnya, dimensi konsekuensi ini lebih dekat dengan aspek sosial.
2) Organisasi IPNU IPPNU a. Sejarah IPNU IPPNU
Sejarah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) adalah sejarah yang panjang.
Keberadaannya tidak lepas dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
Karena itu, membaca sejarah IPNU-IPPNU tidak bisa dilepaskan dari pembacaan sejarah perjuangan pembebasan nsional, baik dalam masa penjajahan maupun masa kemerdekaan yang diwarnai pergerakan mewujudkan cita-cita nasional sampai era reformasi. Dengan kata lain dibutuhkan upaya untuk melihat IPNU dan IPPNU sebagai bagian dari sekian organ perjuangan kaum muda yang pernah ada di Indonesia.
Karena IPNU-IPPNU berdialektika dengan organ-organ lain, maka menarik untuk menempatkan sejarah IPNU-IPPNU dalam kancah pergulatan dan perjuangan kebangsaan diantara organisasi-organisasi pemuda lainnya.
Penulusuran ini menjadi esensial sebab peran kaum muda memiliki catatan penting dalam sejarah sosial dan kebangsaan negeri ini. Peran kaum muda dalam perebutan kemerdekaan, atau sebagai motor penggerak berbagai perubahan sosial pasca kemerdekaan, misalnya, terukir rapi dalam sejarah. Reformasi yang telah bergulir di tanah air
sampai penentusan agendanya, tidak lepas dari kepeloporan generasi muda.
Seperti telah tercatat dalam sejarah, penjajahan di tanah air telah melahirkan gelombang pergerkan nasional yang besar. Untuk mengorganisir perlawanan terhadap penjajah, lahirlah berbagai organisasi. Kesadaran berorganisasi secara signifikan menemukan momentumnya. Berbagai organisasi bermunculan dalam atmosfir pergerakan perlawanan ini. Sebagain besar organ – organ pergerakan itu dipelopori oleh kalangan muda, seperti Budi Utomo (20 Mei 1908), Trikoro Darmo yang akhirnya berubah menjadi Jong Java, Sarekat Islam, dan lain – lain. Keberadaan Jong Java menginspirasikan lahirnya organ serupa diluar Jawa, seperti JOng Sumatranen Bond (1917), Jong Celebes (1918), Jong Minahasa (1918), Jong Batak Bond (1925), Jong Islamieten Bond (1925).
Fenomena ini kemudian ditangkap sebagai kecenderungan terhadap kebutuhan penyatuan organisasi kaum muda dalam lingkup yang lebih luas (nasional).
Kristalisasi dari pergerakan yang berbasis local diatas, terakumulasi dalam kelahiran Jong Indonesia di Bandung pada 27 Pebruari 1927 (hasil keputusan Kongres Pemuda I, 30 April 1926) dan Kongres Pemuda II pada 26 – 28 Oktober 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda.
Jauh sebelumnya, pada 1916, KH. Abdul Wahab Hasbullah mendirikan madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) di Surabaya. Dua tahun kemudian (1918) beliau mendirikan organisasi sosial ekonomi bernama Nahdlatul Tujjar (Kebangkitan Para Pedagang). Di Ampel Surabaya, tahun 1919, berdiri madrasah yang bernama Taswirul Afkar (Pencerahan Pemikiran). Organ – organ inilah yang nantinya menjadi embrio Nahdlatul Ulam. Diberbagai daerah diluar Jawa bermunculan organisasi pergerakan juga tidak
kalah ramai seperti Sumatera Tawalib, Persis, Perti dan Persatuan Muslimin Tapanuli (PTM) yang kemudian bergabung dengan NU.
Setelah melalui pergulatan panjang, baik karena pengaruh perkembangan global, nasional, maupun local, kalangan yang berlatar belakang cultural sama itu akhirnya mendirikan Nahdlatul Ulama (NU), tepatnya pada 31 Januari 1926. NU menjadi organ konsolidator bagi pergerakan yang berserakan dibasis Islam tradisional. Makna kelahiran NU, menurut KH. H.M. Dachlan berakar pada perjuangan anti kolonial.
Pada tahun 1930, berbagai organ kaum muda melebur menjadi satu dengan wadah Indonesia Muda (IM), yang dipelopori Perhimpunan Pelajar – Pelajar Indonesia (PPPI). Namun dalam perjalanannya, IM melemah dan mendorong kelahiran organ lain seperti Soeloeh Pemoeda Indonesia (SPI) dan Pergerakan Pemuda Revolusioner (PERPIRI). Semenjak era ini, dunia pergerakan mengalami kevakuman. Penyebab dari kevakuman ini salah satunya adalah kebijakan represif colonial terhadap kaum muda pergerakan, seperti pembatasan hak berkumpul dan berserikat. Puncaknya ditandai dengan pengasingan pemimpin-pemimpin pergerakan, diantaranya Sukarno, Hatta dan Syahrir.
Sebuah era baru dimulai, yakni perjuangan yang lebih berkarakter cultural seperti lahirnya study club, yang memilih melakukan aksi – aksi penyadaran masyarakat tentang pentingnya pergerakan, persatuan, pendidikan, melalui surat kabar atau majalah seperti Soeloeh Rakyat dan Soeloeh Indonesia.
Setelah ada perubahan situasi, terjadi transformasi format perjuangan menuju karakter yang lebih politis. Algemeene Studieclub-nya Soekarno berubah menjadi Partai Bangsa Indonesia (PBI) dan PNI. Pada tahun 1927, aktivis Budi Utomo mendirikan Partai Indonesia Raya (PARSINDRA), muncul juga Gerakan Rakyat
Indonesia (GERINDO), yang berpuncak pada terbentuknya Gabungan Politik Indonesia (GAPI) pada tahun 1939.
Demikian juga pada masa pendudukan Jepang. Meskipun menjajah dalam waktu yang singkat, namun kebijakan Jepang lebih represif.
Jepang memberangus organisasi pergerekan yang telah ada. MIAI yang memiliki watak anti kolonial diganti dengan Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Akhirnya NU sebagai organisasi terbesar disubordinasikan dalam MIAI.
Singkat cerita, perjuangan pembebasan kolonial akhirnya mencapai titik kulminasi dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Ratusan partai politik menjamur untuk ikut dalam kontes politik. NU sebagai organisasi terbesar juga masuk gelanggang politik dengan bergabung pada partai Masyumi. Pilihan ini dilakukan sebagai bentuk perjuangan lewat salur structural. Politik NU senantiasa diwarnai dengan denamika dan tidak ada blue – print yang baku. Dialektika sejara memaksa NU keluar dari Masyumi pada tanggal 15 April 1852.
Deklarasi ini menjadi babak baru kehidupan politik NU.
Meski Indonesia telah merdeka, namun bukan berarti agenda perlawanan telah selesai. Sebab imperialisme tetap menjadi musuh besar karena berbagai agresi tetap dilancarkan. Karena itulah partai politik dan organisasi massa tetap menjadi agen penting dalam upaya pembebasan nasional, termasuk ormas pelajar dan kepemudaan.
Mengiringi menjamurnya parpol, diwilayah lain juga tumbuh berbagai organisasi sosial kaum muda dan mahasiswa. Perkumpulan Pemuda Kristen (PPKI), Gerakan Mahasiswa Islam Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Sosialis (Germasos) berdiri. Begitu juga dilingkungan NU. Jauh sebelum itu, generasi muda NU telah memiliki kesadaran pergerakan.
Kesadaran kolektif ini termanifestasikan dalam berbagai organ yang tumbuh di basis – basis NU. Bisa dicontohkan, di Surabaya telah berdiri organ pelajar Tsamrotul Mustafidin pada 11 Oktober 1936;
Persatoean Santri NO (Persano) pada 1939; di Malang berdiri Persatoean Moerid NO (PAMNO) pada 1941; di Madura berdiri Ijtimauth Tholabiyyah pada 1945; di Sumbawa berdiri Ijtimauth
Persatoean Santri NO (Persano) pada 1939; di Malang berdiri Persatoean Moerid NO (PAMNO) pada 1941; di Madura berdiri Ijtimauth Tholabiyyah pada 1945; di Sumbawa berdiri Ijtimauth