BAB III METODOLOGI PENELITIAN
G. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data
Proses penelitian belum selesai hanya sampai terkumpulnya data dari berbagai sumber data yang diperlohnya. Merupakan langkah yang terburu-buru jika peneliti kemudian melakukan analisis terhadap data.
Maka, langkah selanjutnya adalah meyakinkan data tersebut terhadap derajat kepercayaan (validitas) dengan melakukan triangulasi terhadap data. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.34 Dengan demikian terdapat dua macam yang dipakai untuk menguji kredibilitas penelitian ini :
33 Ibid, h.412
34 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2018), h.330
a. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber digunakan untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Sumber data dalam penelitian ini adalah fasilitator, kepala desa dan masyarakat. Data dari ketiga sumber tersebut tidak bisa diratakan seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi dideskripsikan, dikategorisasikan, mana pandangan yang sama, pandangan yang berbeda, dan mana spesifik dari tiga sumber data tersebut. Data tersebut dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check) dengan tiga sumber data tersebut.35
b. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama namun dengan teknik yang berbeda, misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu di cek dengan observasi, atau analisis dokumentasi. Setelah dicek dengan teknik yang berbeda menghasilkan data yang berbeda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar, karena memiliki sudut pandang yang berbeda-beda.36
35 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixed Methods), (Bandung: Alfabeta, 2017), h. 370
36 Ibid, h. 371
47 BAB IV PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian
1. Gambaran Umum Kota Administrasi Jakarta Barat
Secara geografis letak Kota Administrasi Jakarta Barat berada pada posisi antara 106ᴼ – 48ᴼ Bujur Timur dan 60ᴼ – 12ᴼ Lintang Utara. Luas wilayah Kota Administrasi Jakarta Barat mencapai 129,54 Km² atau mencapai 19,56% dari luas total wilayah Provinsi DKI Jakarta. Jakarta Barat Merupakan salah satu wiayah pusat industri di Jakarta, ditandai dengan terdapat banyaknya pabrik-pabrik pengolahan industri ringan, tekstil, maupun bahan-bahan kimia. Salah satu daerah yang menjadi pusat industri di Jakarta Barat adalah Daan Mogot dan Cengkareng. Wilayah Kota Administrasi Jakarta Barat memiliki perbatasan sebelah utara dengan Kab/Kota Administrasi Tangerang dan Kota Administrasi Jakarta Utara Di sebelah timur berbatasan dengan Kota administrasi Jakarta Utara dan Jakarta Pusat.
Di sebelah selatan berbatasan dengan Jakarta Selatan dan Kota Administrasi Tangerang. Di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten dan Kota Administrasi Tangerang, KS. Tubun.
Pemerintahan Kota Administrasi Jakarta Barat dibagi ke dalam 8 Kecamatan, yaitu Cengkareng (26,54 Km²), Grogol Petamburan (11,31 Km²), Kalideres (27,39 Km²), Kebon Jeruk (17,92 Km²), Kembangan (24,19 Km²), Palmerah (5,4 Km²), Taman Sari (4,36 Km²), Tambora (5,42 Km²) serta 56 kelurahan. Jumlah penduduk Kota Administrasi Jakarta Barat adalah sebanyak 2.485.224 jiwa dengan perbandingan 1.256.881 berjenis kelamin Laki-laki dan sebanyak 1.228.343 perempuan. Kepadatan penduduk di wilayah ini adalah
sebanyak 19.191,67 jiwa/km².37 Lokasi ini tepatnya di kantor PC IPNU Jakarta Barat.
Gambar 4.1. Peta Administrasi Kota Jakarta Barat
2. Gambaran Umum Organisasi IPNU IPPNU a. Sejarah IPNU IPPNU
Sejarah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) adalah sejarah yang panjang. Keberadaannya tidak lepas dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Karena itu, membaca sejarah IPNU-IPPNU tidak bisa dilepaskan dari pembacaan sejarah perjuangan pembebasan nsional, baik dalam masa penjajahan maupun masa kemerdekaan yang diwarnai pergerakan mewujudkan cita-cita nasional sampai era reformasi. Dengan kata lain dibutuhkan upaya untuk melihat IPNU dan IPPNU sebagai bagian dari sekian organ perjuangan kaum muda yang pernah ada di Indonesia. Karena IPNU-IPPNU berdialektika dengan organ-organ lain, maka menarik untuk menempatkan sejarah IPNU-IPPNU dalam kancah pergulatan dan
37 Kota Administrasi Jakarta Barat, https://statistik.jakarta.go.id/jakarta-barat/ diakses pada 27 Agusutus 2021 pukul 10.30 WIB
perjuangan kebangsaan diantara organisasi-organisasi pemuda lainnya.
Penulusuran ini menjadi esensial sebab peran kaum muda memiliki catatan penting dalam sejarah sosial dan kebangsaan negeri ini. Peran kaum muda dalam perebutan kemerdekaan, atau sebagai motor penggerak berbagai perubahan sosial pasca kemerdekaan, misalnya, terukir rapi dalam sejarah. Reformasi yang telah bergulir di tanah air sampai penentusan agendanya, tidak lepas dari kepeloporan generasi muda.
Seperti telah tercatat dalam sejarah, penjajahan di tanah air telah melahirkan gelombang pergerkan nasional yang besar. Untuk mengorganisir perlawanan terhadap penjajah, lahirlah berbagai organisasi. Kesadaran berorganisasi secara signifikan menemukan momentumnya. Berbagai organisasi bermunculan dalam atmosfir pergerakan perlawanan ini. Sebagain besar organ – organ pergerakan itu dipelopori oleh kalangan muda, seperti Budi Utomo (20 Mei 1908), Trikoro Darmo yang akhirnya berubah menjadi Jong Java, Sarekat Islam, dan lain – lain. Keberadaan Jong Java menginspirasikan lahirnya organ serupa diluar Jawa, seperti Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Celebes (1918), Jong Minahasa (1918), Jong Batak Bond (1925), Jong Islamieten Bond (1925).
Fenomena ini kemudian ditangkap sebagai kecenderungan terhadap kebutuhan penyatuan organisasi kaum muda dalam lingkup yang lebih luas (nasional).
Kristalisasi dari pergerakan yang berbasis lokal di atas, terakumulasi dalam kelahiran Jong Indonesia di Bandung pada 27 Pebruari 1927 (hasil keputusan Kongres Pemuda I, 30 April 1926) dan Kongres Pemuda II pada 26 – 28 Oktober 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda.
Jauh sebelumnya, pada 1916, KH. Abdul Wahab Hasbullah mendirikan madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air)
di Surabaya. Dua tahun kemudian (1918) beliau mendirikan organisasi sosial ekonomi bernama Nahdlatul Tujjar (Kebangkitan Para Pedagang). Di Ampel Surabaya, tahun 1919, berdiri madrasah yang bernama Taswirul Afkar (Pencerahan Pemikiran). Organ – organ inilah yang nantinya menjadi embrio Nahdlatul Ulama. Di berbagai daerah diluar Jawa bermunculan organisasi pergerakan juga tidak kalah ramai seperti Sumatera Tawalib, Persis, Perti dan Persatuan Muslimin Tapanuli (PTM) yang kemudian bergabung dengan NU.
Setelah melalui pergulatan panjang, baik karena pengaruh perkembangan global, nasional, maupun lokal, kalangan yang berlatar belakang kultural sama itu akhirnya mendirikan Nahdlatul Ulama (NU), tepatnya pada 31 Januari 1926. NU menjadi organ konsolidator bagi pergerakan yang berserakan di basis Islam tradisional. Makna kelahiran NU, menurut KH. H.M. Dachlan berakar pada perjuangan anti kolonial.
Pada tahun 1930, berbagai organ kaum muda melebur menjadi satu dengan wadah Indonesia Muda (IM), yang dipelopori Perhimpunan Pelajar – Pelajar Indonesia (PPPI). Namun dalam perjalanannya, IM melemah dan mendorong kelahiran organ lain seperti Soeloeh Pemoeda Indonesia (SPI) dan Pergerakan Pemuda Revolusioner (PERPIRI). Semenjak era ini, dunia pergerakan mengalami kevakuman. Penyebab dari kevakuman ini salah satunya adalah kebijakan represif kolonial terhadap kaum muda pergerakan, seperti pembatasan hak berkumpul dan berserikat.
Puncaknya ditandai dengan pengasingan pemimpin-pemimpin pergerakan, diantaranya Sukarno, Hatta dan Syahrir.
Sebuah era baru dimulai, yakni perjuangan yang lebih berkarakter kultural seperti lahirnya organisasi pelajar, yang memilih melakukan aksi – aksi penyadaran masyarakat tentang
pentingnya pergerakan, persatuan, pendidikan, melalui surat kabar atau majalah seperti Soeloeh Rakyat dan Soeloeh Indonesia.
Setelah ada perubahan situasi, terjadi transformasi format perjuangan menuju karakter yang lebih politis. Algemeene Studieclub-nya Soekarno berubah menjadi Partai Bangsa Indonesia (PBI) dan PNI. Pada tahun 1927, aktivis Budi Utomo mendirikan Partai Indonesia Raya (PARSINDRA), muncul juga Gerakan Rakyat Indonesia (GERINDO), yang berpuncak pada terbentuknya Gabungan Politik Indonesia (GAPI) pada tahun 1939.
Demikian juga pada masa pendudukan Jepang. Meskipun menjajah dalam waktu yang singkat, namun kebijakan Jepang lebih represif. Jepang memberangus organisasi pergerakan yang telah ada. MIAI yang memiliki watak anti kolonial diganti dengan Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Akhirnya NU sebagai organisasi terbesar disubordinasikan dalam MIAI.
Singkat cerita, perjuangan pembebasan kolonial akhirnya mencapai titik kulminasi dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Ratusan partai politik menjamur untuk ikut dalam kontes politik. NU sebagai organisasi terbesar juga masuk gelanggang politik dengan bergabung pada partai Masyumi. Pilihan ini dilakukan sebagai bentuk perjuangan lewat salur structural.
Politik NU senantiasa diwarnai dengan denamika dan tidak ada blue – print yang baku. Dialektika sejarah memaksa NU keluar dari Masyumi pada tanggal 15 April 1852. Deklarasi ini menjadi babak baru kehidupan politik NU.
Meski Indonesia telah merdeka, namun bukan berarti agenda perlawanan telah selesai. Sebab imperialisme tetap menjadi musuh besar karena berbagai agresi tetap dilancarkan. Karena itulah partai politik dan organisasi massa tetap menjadi agen penting dalam upaya pembebasan nasional, termasuk ormas pelajar dan kepemudaan.
Mengiringi menjamurnya parpol, diwilayah lain juga tumbuh berbagai organisasi sosial kaum muda dan mahasiswa.
Perkumpulan Pemuda Kristen (PPKI), Gerakan Mahasiswa Islam Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Sosialis (Germasos) berdiri. Begitu juga dilingkungan NU. Jauh sebelum itu, generasi muda NU telah memiliki kesadaran pergerakan. Kesadaran kolektif ini termanifestasikan dalam berbagai organ yang tumbuh di basis – basis NU. Bisa dicontohkan, di Surabaya telah berdiri organ pelajar Tsamrotul Mustafidin pada 11 Oktober 1936; Persatoean Santri NO (Persano) pada 1939; di Malang berdiri Persatoean Moerid NO (PAMNO) pada 1941; di Madura berdiri Ijtimauth Tholabiyyah pada 1945; di Sumbawa berdiri Ijtimauth Tholabah NO pada 1946;
di Kediri berdiri Persatuan Pelajar NO (Perpeno) pada 1954; di Medan berdiri Ikatan Pelajar NO (IPENO) pada 1945; Ikatan Moerid Nahdlatul Oelama (IMNO) pada tahun 1945; Subbanul Muslimin yang berdiri di Madura, serta masih banyak lagi.
Hanya saja organ – organ tersebut belum terkonsolidir secara nasional, sehingga corak dan watak gerakannya masih bersifat local. Yang menyatukan meraka adalah imajinasi kolektif yang dibentuk dari tradisi keagamaan Sunni yang sama. Pada titik inilah muncul kepeloporan gerakan yang hendak membangun jembatan pergerakan antar organ tersebut. Maka tampillah M. Shufyan Cholil (mahasiswa UGM), H. Musthafa (Solo), dan Abdul Ghony Farida (Semarang) yang membawa gagasan progresif ini untuk disampaikan pada Kombes PB LP. Ma‟arif di Semarang pada Pebruari 1954. Gayung bersambut, sehingga gagasan ini diakomodir untuk dijadikan agenda pembahasan. Akhirnya Kombes Ma‟arif Semarang tersebut mengesahkan berdirinya organisasi pelajar NU dengan nama Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama
(IPNU), tepatnya pada tanggal 24 Februari 1954/20 Jumadil Akhir 1373 H.
Setelah resmi berdiri, IPNU melakukan kosolidasi melalui konferensi Segi Lima yang diselenggarakan di Solo pada 30 April – 1 Mei 1954 dengan melibatkan perwakilan dari Yogyakarta, Semarang, Solo, Jombang dan Kediri. Konferensi ini berhasil merumuskan asas organisasi, yaitu Ahlussunnah Wal Jama‟ah;
tujuan organisasi, yakni mengembangkan risalah Islamiyah;
mendorong kualitas pendidikan; dan mengkonsolidir pelajar.
Konferensi ini menetapkan M. Tholchah Mansoer sebagai Ketua Umum pertama. Hasil konsolidasi ini lalu dibawah dalam muktamar NU ke – 20 di Surabaya, (9-14 September 1954). Dan dalam muktamar itulah IPNU disahkan oleh PBNU sebagi satu – satunya organisasi pelajar putra dalam naungan Nahdlatul Ulama.
Langkah para pelajar putra tersebut menginspirasi para pelajar putri untuk melakukan hal yang sama, karena IPNU hanya menjadi wadah pelajar putra. Untuk itu, beberapa bulan setelah IPNU berdiri para pelajar putri yang sedang belajar di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta, menganggap perlunya wadah bagi pelajar putri NU. Meraka adalah Umroh Mahfudzoh, Atika Murtadlo, Lathifah Hasyim, Romlah, dan Basyiroh Saimuri. Pertemuan itu berhasil membentuk tim kecil untuk mempersiapkan pendirian organisasi.
Pada muktamar (sekarang disebut Kongres) I IPNU di Malang pada 28 Februari – 5 Maret 1955, IPPNU resmi dilahirkan, tepatnya pada 2 Maret 1955. Pada muktamar itu jugalah IPPNU resmi dideklarasikan. Awalnya organisasi ini dinamai IPNU putri, namun akhirnya atas persetujuan PB LP. Ma‟arif NU nama itu dirubah menjadi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).
Mulai saat itulah, sejarah pergerakan pelajar NU telah ditorehkan. Keberadaannya mewarisi tradisi perlawanan terhadap
kolonialisme, lambang kesewenang – wenangan, ketidakadilan dan dehumanisasi. Tradisi itu seperti telah terlihat dalam sejarah, telah tumbuh sejak lama. Kalaupun pada tahun 1954 baru lahir, hal itu haruslah dimaknai sebagai semata – mata formalisasi dan institusionalisasi perjuangan agar lebih terorganisir, terprogram dan terkonsolidir secara nasional.
Sejak lahirnya tahun 1988, IPNU mempunyai kepanjangan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, sementara IPPNU berkepanjangan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama. Sesuai denagn namanya maka dalam rentang waktu tersebut pembinaan IPNU dan IPPNU tertuju hanya pada putra-putri NU yang masik duduk di bangku sekolah. Konsentrasi keanggotaannya pun hanya terbatas di lingkungan sekolah milik NU.
Waktu terus bergulir, pemerintah Orde Baru melalui UU No. 8 tahun 1985 melakukan kebijakan “depolitisasi pelajar”. Kebijakan yang mengatur organisasi kemasyarakatan itu diantaranya melarang adanya organisasi pelajar kecuali OSIS. Karena tekanan represif pemerintah itu pada Kongres X IPNU dan Kongres IX IPPNU di Pondok Pesantren Mamba‟ul Maarif, Denanyar Jombang pada 29-31 Januari 1988, akhirnya IPNU sepakat merubah kepanjangan “P”
dari „Pelajar‟ menjadi „Putra‟. Dengan demikian IPNU menjadi Ikatan Outra Nahdlatul Ulama dan IPPNU menjadi Ikatan Putri-Putri Nahdalatul Ulama. Hal ini dilakukan sebagai respon atas rangkaian konteks historis agar IPNU-IPPNU tetap survive dalam menghadapi dampak represif orde baru.
Dengan perubahan nama tersebut, maka perubahan dalam berbagai aspek tidak dapat dielakkan. Bidang garapan IPNU tidak lagi hanya terbatas pada kalangan pelajar santri semata, melainkan pelajar NU pada umumnya. Sejak saat itulah IPNU dihadapkan dengan target group yang sangat beragam dengan latar belakang yang beragam pula. Keragaman segmen ini bukan hanya tanpa
konsekuensi. Program berat yang dihadapi IPNU kala itu adalah sulitnya menentukan pendekatan terhadap segmen kader yang bergam itu. Di samping itu, konsekuensi lain adalah tidak optimalnya menggarap kader terdidik yang dianggap sebagai tulang punggung gerakan untuk mempersiapkan generasi masa depan.
Kegelisahan itu mulai muncul pada Kongres XIII IPNU dan Kongres XII IPPNU yang dilaksanakan di Makassar pada 22-26 maret 2000. Kebutuhan untuk berkonsentrasi meggarap pelajar diwujudkan dengan Deklarasi Makassar yang berisi seruan penguatan basis IPNU-IPPNU di sekolah dan pesantren. Setelah kongres ini IPNU-IPPNU melakukan gebrakan dengan mendirikan komisariat IPNU-IPPNU di sekolah, pesantren dan perguruan tinggi.
Meskipun sudah meneguhkan komitmennya pada gerakan kepelajaran, namun belum dianggap cukup untuk menjawab kebutuhan kembali ke pelajar secara total. Kegelisahan ini memuncak pada Kongres XIV IPNU dan XIII IPPNU di Sukolilo Surabaya. Kongres yang berlangsung pada 18-24 Juni 2003 lalu itu telah menorehkan sejarah baru bagi perjalanan badan otonom NU ini. Pada Kongres itulah setelah melalui perdebatan yang sangat panjang, tercapai kesepakatan untuk mengembalikan IPNU pada khittahnya, yaitu kembali menjadi organisasi pelajar. IPNU yang semula berkepanjangan Ikatan Putra Nahdlatul Ulama, berubah lagi menjadi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama. Demikian juga IPPNU menjadi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.
Babak baru perjalanan IPNU-IPPNU dimulai. Keputusan mengembalikan IPNU-IPPNU ke pelajar dianggap menjadi pilihan yang terbaik di tengah perubahan kompelksitas tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama. Paling tidak ada dua alasan besar yang dapat dikemukakan. Pertama, dari sisi kesejahraan, kembali ke pelajar dianggap penting karena perubahan nama menjadi “Putra”
dan “Putri-Putri” adalah kecelakaan sejarah. Tekanan pemerintah pada waktu itu adalah hal yang tidak dapat dilupakan sebagai faktor sebagai perubahan nama. Jelas, perubahan itu penuh dengan nuansa politis dan sekadar taktik untuk mempertahankan eksistensi ketimbang karena kebutuhan.
Kedua adalah alasan kebutuhan. Pelajar NU adalah kekuatan masa depan pada waktu-waktu lalu tidak dapat perhatian yang optimal dari Nahdlatul Ulama. Pelajar, baik siswa maupun santri disadari sebagai komponen penting yang harus dibina dan diapresiasi, karena komponen inilah yang sejatinya menjadi asset masa depan. Akibat dari tidak adanya perhatian dan pembinaan yang khusus, tidak sedikit kalangan pemuda terdidik ini yang mengalami “kebusukan”. Oleh kerana itu saat ini dibutuhkan organisasi yang secara intensif menjadi aktualisasi bagi pelajar dan santri NU. IPNU-IPPNU yang dikelahirannya memang sebagai tempat untuk mewadahi pelajar dan santri, harus dikembalikan pada posisi semula, yaitu tempat aktualisasi dan pengembangan pelajar dan santri.
Dengan keputusan yang penting dan strategis ini berarti IPNU-IPPNU bertekad mengembalikan basis organisasinya pada sekolah dan pesantren. Jika semula IPNU-IPPNU memiliki wilayah garapan yang samar karena istilah “Putra” dan “Putri” tidak memiliki identifikasi yang jelas, maka pada saat ini segmen garapan IPNU-IPPNU diperjelas pada segmen pelajar dan santri.
Salah satu konsekuensi keputusan ini adalah IPNU-IPPNU harus kembali mengembangkan organisasinya di sekolah, madrasah dan pesantren, serta unit-unit pendidikan lainnya.38
38 Buku Pedoman Komisariat IPNU IPPNU.
https://www.academia.edu/29099920/Buku_Pedoman_Komisariat_IPNU_IPPNU diakses pada 1 Mei 2021 pukul 09:45 WIB
b. Tujuan IPNU IPPNU Visi dan Misi IPNU
Visi :
Terbentuknya pelajar bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlak mulia dan berwawasan kebangsaan serta bertanggungjawab atas tegak dan terlaksananya syari‟at Islam menurut faham ahlussunnah wal jama‟ah yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Misi:
1) Menghimpun dan membina pelajar Nahdlatul Ulama dalam satu wadah organisasi
2) Mempersiapkan kader-kader intelektual sebagai penerus perjuangan bangsa.
3) Mengusahakan tercapainya tujuan organisasi dengan menyusun landasan program perjuangan sesuai dengan perkembangan masyarakat (maslahah al-ammah), guna terwujudnya khaira ummah.
4) Mengusahakan jalinan komunikasi dan kerjasama program dengan pihak lain selama tidak merugikan organisasi
Visi dan Misi IPPNU Visi :
Terbentuknya kesempurnaan Pelajar Putri Indonesia yang bertaqwa, berakhlakul karimah, berilmu, dan berwawasan kebangsaan.
Misi:
1) Membangun kader NU yang berkualitas, berakhlakul karimah, bersikap demokratis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
2) Mengembangkan wacana dan kualitas sumberdaya kader menuju terciptanya kesetaraan gender.
3) Membentuk kader yang dinamis, kreatif, dan inovatif c. Struktur Organisasi PC IPNU IPPNU Jakarta Barat
Struktur Organisasi PC IPNU Jakarta Barat
Struktur Organisasi PC IPPNU Jakarta Barat
B. HASIL PENELITIAN
Pada hasil penelitian ini peneliti akan membahas hasil wawancara mendalam dengan narasumber yang peneliti sebut partisipan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara yang telah dilakukan, sementara untuk data sekunder diperoleh dari observasi lapangan dan dokumentasi.
Partisipan dalam penelitian ini terdiri Dewan Pembina PC IPNU IPPNU
1. Imam Rifai Dewan Pembina PC IPNU Jakarta Barat 2. Muhammad Irgi Faharezi Ketua PC IPNU Jakarta Barat 3. Anas Malik Sekretaris PC IPNU Jakarta Barat 4. Samsul Arifin Bendahara PC IPNU Jakarta Barat 5. Ulil Absor Wakil Ketua 2 PC IPNU Jakarta
Barat
6. Mita Nurpatma Dewan Pembina PC IPPNU Jakarta Barat
7. Annisa Puspita Dewi Ketua PC IPPNU Jakarta Barat 8. Reva Prita Oktavia
10. Khanza Fira Agustiani Wakil Bendahara II PC IPPNU Jakarta Barat
b. Hasil Wawancara
Wawancara dilakukan dengan sepuluh informan yang terdiri dari dua orang pembina masing-masing dari PC IPNU dan IPPNU Jakarta Barat, dua orang ketua masing-masing dari PC IPNU dan IPPNU Jakarta Barat, dan enam orang pengurus anggota masing-masing dari PC IPNU dan IPPNU Jakarta Barat. Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh informasi dari informan sebagai berikut:
a. Apa yang anda ketahui tentang IPNU IPPNU ?
Peneliti memperoleh informasi dari dua orang dewan pembina PC IPNU IPPNU Jakarta Barat, mereka memaparkan bahwa:
“Pada awalnya IPNU merupakan organisasi pelajar berupa kumpulan pelajar, sekolah, dan pesantren, yang semula dikelola oleh para Ulama, dengan jumlahnya yang banyak di beberapa kota. Akan tetapi perkumpulan- perkumpulan tersebut lahir atas inisiatif sendiri dan namanya pun berbeda beda, belum ada satu induk organisasi yang mampu untuk mengkoordinir mereka semua secara nasional.
Di Surabaya didirikan Tsamrotul Mustafidin pada tahun 1936, selanjutnya PERSANO (Persatuan Santri Nahdlatul Oelama) didirikan pada tahun 1939. Di Malang, pada tahun 1941 lahir PAMNO (Persatuan Murid Nahdlatul Oelama), dan pada saat itu banyak para pelajar yang ikut dalam pergerakan melawan penjajah. Pada tahun 1945 terbentuk IMNO (Ikatan Murid Nahdlatul Oelama). Di Madura pada tahun 1945 juga terbentuk Ijtimauth Tolabiah dan Syubbanul Muslim, kesemuanya itu juga ikut dalam perjuangan melawan penjajah dengan gigih. Di Semarang tahun 1950 berdiri Ikatan Mubhaligh Nahdlatul Oelama dengan beranggotakan remaja yang masih berstatus pelajar. Sedangkan di Kediri, pada tahun 1953 berdiri PERPENO (Persatuan Pelajar Nahdlatul Oelama). Dan pada tahun yang sama, di Bangil berdiri IPENO (Ikatan Pelajar
Nahdlatul Oelama). Di Medan pada tahun selanjutnya yakni 1954 berdiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Oelama atau IPNO”.39
“Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) adalah salah satu organisasi dibawah naungan jam‟iyah Nahdlatul Ulama, tempat berhimpun dan wadah komunikasi putra-putri NU, merupakan bagian integral dari potensi generasi muda Indonesia khususnya di wilayah Jakarta Barat ini yang menitikberatkan bidang garapannya pada pembinaan dan pengembangan pelajar, remaja dan santri”.40
Selanjutnya peneliti memperoleh informasi dari dua orang ketua masing-masing dari PC IPNU dan IPPNU Jakarta Barat, mereka memaparkan bahwa:
“IPNU IPPNU adalah sebuah wadah organisasi pelajar yang mana dinaungi oleh Nadhatul Ulama. Organisasi ini sudah ada dihampir seluruh provinsi baik di tingkat kota, kabupaten, kecamatan hingga kelurahan”.41
“Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama yang disingkat IPNU adalah organisasi yang menghimpun para pelajar dari kalangan Ahlissunah wal jamaah dibawah panji-panji jami'iyah Nahdlatul Ulama' yang bersifat keterpelajaran, kekaderan,
“Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama yang disingkat IPNU adalah organisasi yang menghimpun para pelajar dari kalangan Ahlissunah wal jamaah dibawah panji-panji jami'iyah Nahdlatul Ulama' yang bersifat keterpelajaran, kekaderan,