• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Secara Akademis, penelitian yang berjudul “Strategi Komunikasi Tenant Relations Dalam Menjaga Loyalitas Para Tenant” ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan pada Departemen Ilmu Komuniksasi FISIP, khususnya di bidang keilmuan mengenai Strategi Komunikasi.

2. Secara Teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan contoh dan memperluas wawasan dan memperluas pengetahuan peneliti maupun mahasiswa Ilmu Komunikasi atau masyarakat yang tertarik dengan

penelitian ini. Penelitian ini juga memperluas pengetahuan terutama di bidang Public Relations, yakni mengenai Strategi komunikasi, loyalitas, dan management mall.

3. Secara Praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan penelitian serupa. Selain itu juga memberi informasi tentang pusat perbelanjaan Medan Focal Point Mall pada masyarakat di Kota Medan sehingga dapat menjadi bahan masukan bagi berbagai pihak.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Paradigma Kajian

Paradigma merupakan suatu kepercayaan atau prinsip dasar yang ada dalam diri seseorang tentang pandangan dunia dan membentuk cara pandang terhadap dunia, penelitian pada hakikatnya merupakan suatu upaya untuk menemukan kebenaran atau untuk lebih menemukan kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran. Usaha untuk mengajar kebenaran yang dilakukan oleh filsuf, peneliti maupun oleh para praktisi melalui model-model tertentu. Model tersebut biasanya dikenal dengan paradigm. disebut dengan paradigma (Moleong, 2013: 49).

Baker (dalam Moleong, 2013: 49) menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Paradigms: The Bussiness of Discovering the Future mengenai paradigma sebagai seperangkat aturan (tertulis atau tidak tertulis) yang melakukan dua hal: (1) hal itu membangun atau mendefenisikan batas-batas; dan (2) hal itu meceritakan kepada anda bagaimana seharusnya melakukan sesuatu dalam batas-batas itu agar bisa berhasil (dalam Moleong, 2013: 49).

Paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. Paradigma tertanam kuat dalam sosialisasi para penganut dan praktisinya: paradigma menunjukkan pada mereka apa yang penting, abash dan masuk akal. Paradigma juga bersifat normatif, menunjukkan kepada praktisinya apa yang harus dilakukan tanpa perlu melakukan pertimbangan eksistensi alat atau epistemologis yang panjang (Mulyana, 2004: 9).

Adapun paradigma yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivisme dengan model pendekatan kualitatif.

Paradigma konstruktivisme, yaitu paradigma yang hampir merupakan anti thesis dari paham yang meletakkan pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atau ilmu pengetahuan. Paradigma ini memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap social meaningful action melalui pengamatan langsung dan terperinci terhadap pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan memelihara/mengelola dunia sosial mereka (Hidayat, 2003: 3).

Melalui paradigma konstruktivisme kita dapat melihat suatu fenomena dan memahami suatu kejadian tersebut sebagai sebuah satu kesatuan yang bermakna.

Paradigma konstruktivisme ini menginterpretasikan sesuatu sesuai dengan keyakinan/kepercayaan mereka untuk dapat membentuk sebuah realitas sosial.

Sebuah realitas sosial dapat diartikan berbeda-beda oleh setiap orang, karena semua orang memiliki pengamatan, persepsi, dan pengalaman yang berbeda-beda pula. Konstruktivisme berpandangan bahwa realitas merupakan konstruksi sosial (asumsi tentang realitas). Kebenaran suatu realitas bersifat relatif dan berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh perilaku sosial.

2.2 Kajian Terdahulu

Kajian terdahulu menjadi acuan atau petunjuk untuk peneliti sehingga peneliti dapat menambah teori dan memperkaya wawasan yang digunakan untuk penelitian ini. Berdasarkan temuan peneliti, tidak ditemukan penelitian dengan judul yang sama dengan judul penelitian peneliti. Tetapi, terdapat beberapa penelitian yang dapat dijadikan referensi dalam penelitian ini. Berikut penelitian terdahulu yang telah peneliti rangkum:

1. Pada penelitian pertama yang peneliti temukan ialah dilakukan oleh Sofa Fajarini (2015) dari Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan judul Penerapan Relationship Management Solo Grand Mall Dalam Membina Hubungan Dengan Tenant. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan Customer Relationship Management di Solo Grand Mall dalam mempertahankan loyalitas tenant dan untuk mengetahui kendala dan solusi penerapan Customer Relationship Management di Solo Grand Mall dalam mempertahankan loyalitas tenant. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dan tipe penelitian yang bersifat kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah para tenant yang ada di Solo Grand Mall. Berdasarkan hasil penelitian, penerapan Customer Relationship Management (CRM) di Solo Grand Mall merupakan strategi memperoleh, mengkonsolidasi dan menganalisa data tenant dan kemudian mempergunakan untuk berinteraksi dengan tenant. Pelaksanaan aktivitas menjadi terintegrasi dan strategi menjalin hubungan dan mengenal tenant

untuk meningkatkan loyalitas tenant. Strategi penerapan CRM di Solo Grand Mall dilakukan dengan cara menciptakan lingkaran komunikasi antara CRM Solo Grand Mall dengan tenant.

2. Penelitian kedua yang menjadi acuan peneliti ialah yang dilakukan oleh Selma Sanni Savitri dan M. Husen Fahmi (2017) dar Prodi Ilmu Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung dengan judul penelitian Peran Tenant Relations Miko Mall Bandung Sebagai Perantara Komunikasi Antara Manajemen dengan Tenant. Penelitian ini berfokus pada peranan Tenant Relations dalam menjalankan tugasnya yaitu menjembatani komunikasi antara manajemen dengan tenant. Pendekatan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan pemilihan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan responden yang terdiri dari tiga orang yaitu tenant relations Miko Mall sebagai key informan dan pemilik tenant sebagai informan sekaligus untuk menguji keabsahan data. Berdasarkan dari hasil penelitian menunjukan bahwa dalam menjalankan perannya sebagai perantara komunikasi antara manajemen dengan tenant, Tenant Relations Miko mall turut melaksanakan peran dan fungsi Public Relations sebagai penasehat ahli, fasilitator komunikasi, fasilitator proses pemecahan masalah dan teknisi komunikasi. Kemampuan yang harus dimiliki oleh Tenant Relations Miko Mall adalah kemampuan dalam berkomunikasi dengan pemilihan teknik dan pola komunikasi yang tepat juga penguasaan materi. Tenant Relations menghadapi hambatan yang datang dari pihak tenant yang berupa hambatan psikologis dan mis komunikasi. Peran Tenant Relations dalam mengatasi komplain dari tenant yaitu dengan cara segera merespon komplain dan melakukan pengecekan langsung di arena tenant, lalu berkoordinasi dengan divisi terkait komplain dan memantau hingga selesai tertangani.

3. Penelitian ketiga yang peneliti gunakan sebagai bahan acuan yakni penelitian yang dilakukan oleh Ian Danarko Setiawan (2017) dari Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra Surabaya. Penelitian tersebut

berjudul Relationship Management Tenant Relations High Point Apartment Surabaya. Tujuan dari penelitian ini yakni mengetahui Relatiionship Management Tenant Relations di High Point Apartment Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini ialah ditemukannya hal-hal yang penting dalam pengelolaan hubungan oleh Tenant Relations berdasarkan control mutuality, trust, dan commitment. Dalam pengelolaan tersebut, ditemukan pentingnya two-way symmetrical communication, mutual understanding, koordinasi, dan professional dalam bekerja. Dalam kegiatan operasional, Tenant Relations membutuhkan koordinasi yang baik dengan divisi lain untuk performa yang lebih maksimal. Hal ini didasari pemahaman bahwa hubungan dengan tenant ialah hubungan partnership. Selain itu, strategi komunikasi digunakan untuk mendukung pengelolaan hubungan dan proses komunikasi dengan pihak tenant. Hl-hal yang dilakukan Tenant Relations di atas, pada akhirnya bertujuan mencapai satisfaction (kepuasan) kedua pihak, yang tentunya berujung pada reputasi baik manajemen High Point Apartment.

Ketiga penelitian terdahulu yang menjadi acuan peneliti, terdapat persamaan dan perbedaan jika dibandingkan dengan penelitian peneliti. Adapun persamaannya adalah dua dari tiga penelitian di atas menjadikan mall sebagai objek penelitiannya, sama dengan peneliti yang juga menggunakan Medan Focal Point Mall sebagai objek penelitian. Persamaan lainnya adalah, ketiga kajian terdahulu diatas sama-sama membahas lebih dalam mengenai Relationship Management pihak mall dengan para tenant. Adapun perbedaan penelitian peneliti dengan ketiga kajian terdahulu terdapat pada tujuan analisis, yakni dimana peneliti ingin menganalisis lebih dalam mengenai strategi komunikasi yang dilakukan oleh Tenant Relations dalam menjaga kualitas hubungan dengan para tenant yang memilih dan bertahan di Medan Focal Point Mall.

2.3 Kerangka Teori

Sebelum melakukan penelitian, seorang peneliti perlu menyusun suatu kerangka teori. Kerangka teori disusun sebagai landasan berpikir yang menunjukkan dari sudut mana peneliti menyoroti masalah yang akan diteliti (Nawawi, 2001 : 39-40).

Rakhmat (2004: 6) teori adalah sekumpulan konstruk atau konsep, defenisi dan dalil yang saling terkait yang menghadirkan suatu pandangan sistematis tentang gejala dengan menetapkan hubungan diantara beberapa variabel, dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut. Adapun kerangka teori yang peneliti gunakan adalah:

2.3.1 Komunikasi

Ruben & Stewarts (dalam Liliweri, 2011: 35) mengatakan komunikasi merupakan proses yang menjadi dasar pertama memahami hakikat manusia, dikatakan sebagai proses karena ada aktivitas yang melibatkan peranan banyak elemen atau tahapan yang meskipun terpisah-pisah, namun semua tahapan ini saling terkait sepanjang waktu. Contoh dalam suatu percakapan yang sederhana saja selalu ada langkah seperti penciptaan pesan, pengiriman, penerimaan, dan interpretasi terhadap pesan.

Bernard Bereleson & Gary A. Steiner (dalam Mulyana, 2011: 68) mendefenisikan komunikasi sebagai transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol, kata, gambar, figur, grafik dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang disebut dengan komunikasi.

Model awal dan yang berpengaruh yang dikembangkan Shannon dan Weaver (dalam Lewicki, Barry dan Saunders 2012: 212) mengonsep komunikasi sebagai kegiatan yang muncul antara dua orang: pengirim dan penerima. Pengirim memiliki pemikiran atau maksud dalam pikirannya. Pengirim mengkodekan maksud ini ke dalam pesan yang akan ditransmisikan ke penerima. Misalnya, pemikiran tersebut dapat saja berhubungan dengan preferensi pengirim untuk hasil tertentu dalam negosiasi. Pesan tersebut dapat dikodekan dalam bahasa verbal (misalnya, kata-kata dan kalimat), ekspresi nonverbal (misalnya, mimik

wajah, lambaian tangan dan penunjukkan jari), atau keduanya. Setelah dikodekan, pesan tersebut kemudian di transmisikan (misalnya, melalu mimik wajah, atau pernyataan tertulis) melalui saluran (channel) atau medium (misalnya, interaksi tatap muka, telepon, e-mail, pesan teks, surat) kepada penerima. Orang yang diberi pesan tersebut menerima transmisi secara langsung, kemudian memecahkanya dan menginterpretasikannya, memberi makna serta pemahaman kepada penerima.

Harold D. Laswell (dalam Mulyana, 2011: 69) mengatakan cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan who say what in which channel to whom with what effect? Atau siapa yang mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan pengaruh bagaimana? Berdasarkan definisi Laswell ini dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang saling bergantung satu sama lain, yaitu :

1. Komunikator (Source/ sender/ encoder) adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi, sumber bisa berupa individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau negara.

2. Pesan (Message) adalah apa yang dikomunikasikan oleh komunikator kepada komunikan. Pesan berupa simbol verbal maupun nonverbal.

3. Saluran media, adalah alat yang digunakan komunikator untuk menyampaikan pesan kepada komunikan.

4. Komunikan (Receiver/ communican) adalah pihak yang menerima pesan dari komunikator.

5. Efek adalah apa saja yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut.

Seorang dapat melakukan komunikasi apabila ada seseorang yang menyampaikan pesan kepada orang lain untuk tujuan tertentu. Artinya, komunikasi akan efektif dan berjalan dengan baik jika didukug oleh adanya komunikator, saluran media, komunikan, dan efek.

Adapula yang merumuskan tujuan komunikasi yaitu make them SMART, artinya komunikasi dapat memenuhi:

1. Spesific. Membuat sasaran merasa diperhatikan secara khusus, artinya mereka mendengarkan informasi dari sumber khusus, pesan khusus, media khusus, dengan efek khusus dalam konteks khusus pula.

2. Measurable. Tujuan komunikasi akan dapat dicapai jika sumber komunikasi merumuskan ukuran-ukuran bagi semua elemen dalam proses komunikasi. Misalnya ada indikator untuk menentukan kelayakan sumber bagi tercapainya tujuan komunikasi, indikator atau alat ukur bagi pesan, media, sasaran, efek, dan indikator bagi konteks.

3. Attainable. Tujuan komunikasi adalah penetapan terhadap apa yang seharusnya dicapai dalam suatu aktivitas komunikasi, tentukan tingkat ketercapaian tujuan komunikasi itu (dalam persentase perubahan sikap, dan lain-lain)

4. Result-oriantated. Berorientasi pada hasil, bahwa tujuan komunikasi harus berorientasi pada hasil yang telah direncanakan (planned communication, intensionality communication).

5. Time-limited. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang memiliki batasan waktu sebagai faktor untuk menentukan tercapainya tujuan komunikasi (Liliweri, 2011: 129).

2.3.2 Strategi Komunikasi

Menurut Adnanputra (dalam Ruslan, 2016: 133-134) mendefinisikan strategi sebagai bagian terpadu dari suatu rencana (plan), sedangkan rencana merupakan produk dari suatu perencanaan (planning), yang pada akhirnya perencanaan adalah salah satu fungsi dasar dari proses manajemen. Tahapan didalam fungsi-fungsi manajemen, tahap pertama adalah menetapkan tujuan (objektif) yang hendak diraih, posisi tertentu atau dimensi yang ingin dicapai sesuai dengan perencanaa yang telah diperhitungkan dengan baik oleh pihak-pihak yang terlibat dalam manajemen suatu organisasi yang bersangkutan. Tahap berikutnya adalah strategi “apa dan bagaimana” yang digunakan dalam perencanaan untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau lembaga. Kemudian tahap selanjutnya, program kerja (action plan) yang merupakan strategi yang “dijabarkan” dalam langkah-langkah yang telah dijadwalkan/direncanakan semula. Tahap terakhir, yang paling penting adalah unsur anggaran (budget) yang sudah dipersiapkan, yang merupakan “dana dan upaya”, berfungsi sebagai pendukung khusus yang dialokasikan untuk terlaksananya suatu strategi program kerja manajemen Humas/PR.

Liliweri (2011: 240) menjelaskan kata “strategi” berasal dari akar kata bahasa Yunani strategos yang secara harfiah berarti “seni umum”, kelak term ini berubah menjadi kata sifat strategis berarti “keahlian militer” yang belakangan diadaptasikan lagi ke dalam lingkungan bisnis modern. Kata strategos bermakna sebagai: 1) Keputusan untuk melakukan suatu tindakan dalam jangka panjang

dengan segala akibatnya. 2) Penentuan tingkat kerentanan posisi kita dengan posisi para pesaing (ilmu perang dan bisnis) 3) Pemanfaatan sumber daya dan penyebaran informasi yang relatif terbatas terhadap kemungkinan penyadapan informasi oleh para pesaing.

1. Penggunaan fasilitas komunikasi untuk penyebaran informasi yang menguntungkan berdasarkan analisis geografis dan topografis.

2. Penemuan titik-titik kesamaan dan perbedaan penggunaan sumber daya dalam pasar informasi.

Strategi komunikasi harus didukung oleh teori, sebab teori merupakan pengetahuan berdasarkan pengalaman yang telah diuji kebenarannya. Banyak teori komunikasi yang telah dikemukakan oleh para ahli, tetapi untuk strategi komunikasi yang dijadikan pendukung strategi tersebut salah satunya adalah apa yang dikemukakan oleh Lasswell. Cara untuk menerangkan kegiatan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan “who says what in which channel to whom with what effect” Artinya bahwa siapakah komunikatornya, pesan apa yang disampaikan, media apa yang digunakan, siapa komunikannya serta efek apa yang diharapkan juga diperhitungkan.

Kenneth Andrews (dalam Liliweri, 2011: 243) menyajikan defenisi panjang tentang strategi dalam bukunya The Concept of Corporate Strategy. Kata Andrews “Strategi perusahaan adalah pola dari suatu keputusan yang sangat menentukan dam dapat mengungkapkan arah, sasaran, dan tujuan melalui penetapan kebijakan dan rencana utama perusahaan yang harus dikejar, jenis pengorganisasian sumber daya manusia aga dapat “menjadi SDM yang berkualitas, kontribusi ekonomi dan nonekonomi untuk pelbagai pihak seperti kepada para pemegang saham, karyawan, pelanggan, dan masyarakat”.

Beberapa simpulan menurut Liliweri (2011: 254) yang menjelaskan bahwa strategi merupakan salah satu unsur dalam empat bagian terstruktur yaitu: (1) tujuan yang akan dicapai; (2) strategi untuk mendapatkan tujuan tersebut, cara-cara di mana sumber daya akan diperoleh; (3) taktik, cara-cara-cara-cara di mana sumber daya yang telah dikerahkan benar-benar digunakan dan dipekerjakan; dan (4) sumber daya itu sendiri, bagaimana cara kita menggunakan sumber daya yang kita

miliki itu. Oleh karena itu, dikatakan bahwa strategi dan taktik menjembatani kesenjangan antara tujuan dan sarana.

Berdasarkan unsur-unsur komunikasi Lasswell (dalam Cangara 2012: 47) menjelaskan komponen-komponen strategi komunikasi tersebut yaitu:

1. Strategi Pemilihan Komunikator

Sebagai pelaku utama dalam aktivitas komunikasi, komunikator memegang peranan yang sangat penting. Hal ini disebabkan komunikator menjadi sumber dan kendali semua aktivitas komunikasi. Komunikator yang terpilih harus memenuhi standar tertentu yang telah ditetapkan, misalnya seorang komunikator tersebut merupakan Humas di suatu perusahaan. Adapun standar tertentu yang telah ditetapkan, yaitu:

a) Kriteria Latar Belakang Komunikator

Seorang komunikator harus memiliki latar belakang yang sesuai dengan ruang lingkup yang dihadapi. Sebagai contoh seorang Humas harus memiliki kriteria latar belakang pendidikan yang sesuai dengan ruang lingkup kerjanya dan terkhusus seperti menempuh pendidikan Ilmu Komunikasi dan jurusan sosial lainnya.

b) Standarisasi Kredibilitas Komunikator

Seorang komunikator harus memiliki kredibilitas yang tinggi guna menjadi komunikator yang baik. Contoh standarisasi kredibilitas seorang Humas dilihat dari segi berkomunikasi, negosiasi, penyampaian kata yang baik dan memiliki wawasan yang luas sehingga mampu menjadi komunikator yang baik.

c) Standarisasi Daya Tarik Komunikator

Menjadi komunikator harus memiliki daya tarik tersendiri dalam dirinya guna menarik perhatian lebih dari komunikan. Daya tarik merupakan hal yang penting, apalagi bagi seorang Humas saat melakukan proses komunikasi dari segi penampilan maupun tata bahasa yang digunakan.

2. Strategi Penyusunan dan Penyajian Pesan

Pesan adalah sesuatu yang disampaikan oleh komunikator. Untuk mendapatkan pesan yang baik dibutuhkan strategi penyusunan dan penyajian pesan tersebut, yaitu:

a) Organisasi b) Struktur c) Imbauan pesan

d) Penggunaan kode verbal dan nonverbal e) Bentuk penyajian pesan

Contoh seorang Humas ingin menyampaikan imbauan mengenai peluncuran produk terbaru dari perusahaan, Humas tersebut harus menyusun terlebih dahulu isi pesan agar mudah dimengerti oleh komunikan atau pegawai perusahaan lainnya.

3. Strategi Pemilihan dan Perencanaan Media

Memilih media komunikasi harus mempertimbangkan karakteristik isi dan tujuan isi pesan yang ingin disampaikan. Secara garis besar media terdiri dari tiga macam, yaitu:

a) The spoken words (berbentuk ucapan)

Contoh : Komunikasi langsung secara tatap muka atau mengadakan rapat dan pertemuan untuk membahas pesan yang ingin disampaikan.

b) The printed writing (berbentuk tulisan)

Contoh : Berbentuk surat pemberitahuan atau email dalam menyampaikan pesan.

c) The audiovisual media (berbentuk gambar)

Contoh : penyampaian pesan dengan menggunakan bentuk poster, spanduk, atau media sosial yang lebih mudah dimengerti oleh khalayak ramai.

Setelah menyusun pesan, seorang Humas harus membuat strategi penyampaian pesan melalui media yang diinginkan agar pesan tersebut dapat disampaikan berdasarkan karakteristik dan tujuan pesan. Diantara ketiga jenis media tersebut tidak ditegaskan mana yang terbaik sebab setiap jenis media memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

4. Strategi Pemilihan dan Pengenalan Khalayak

Dalam studi komunikasi, khalayak disebut juga komunikan. Memahami khalayak terutama yang menjadi target sasaran program komunikasi merupakan hal yang

sangat penting, sebab semua aktivitas komunikasi diarahkan kepada mereka.

Faktor yang harus diperhatikan dalam mengenal khalayak sebagai berikut:

a) Faktor kerangka referensi b) Faktor situasi dan kondisi

Faktor-faktor tersebut harus disesuaikan dengan komunikan yang akan dituju.

Sebagai contoh, jika suatu pesan yang ingin disampaikan menargetkan khalayak ramai, media yang cocok untuk menyampaikan pesan tersebut adalah media massa seperti televisi, radio, maupun internet.

Upaya mempermudah memahami proses strategi komunikasi, terdapat dua konsep strategi komunikasi yang dipaparkan oleh Bungin (2007:57) yaitu:

1. Komunikasi Langsung

Pada komunikasi langsung baik antara individu, atau individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, kelompok dengan masyarakat maka pengaruh hubungan individu termasuk di dalam pemahaman komunikasi ini.

Komunikasi langsung tak terlepas dari pengaruh kelompok, namun konsep komunikasi ini hanya melihat apa konten dari komunikasi yang dibangun oleh individu masing-masing. Dengan demikian kegiatan komunikasi ini merupakan proses yang sistematik serta membentuk suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen sistemnya, seperti: konteks komunikator, konteks pesan, dan konstruksi ide, konteks pola interaksi, konteks situasional, konteks sikap-sikap individu terhadap kelompok dan sebaliknya, serta konteks toleransi. Oleh karena itu, dalam kegiatan komunikasi maka yang diperlukan adalah pemahaman tentang budaya, nilai-nilai, sikap, dan keyakinan komunikator. Contoh dari komunikasi langsung ialah komunikasi langsung dan bertatap muka dan tidak memakai media sebagai penyalur pesan antara komunikator dengan komunikan.

2. Komunikasi Bermedia

Komunikasi bermedia merupakan proses komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan media sebagai saluran dalam penyampaiannya. Terdapat enam komponen penting yang ada dalam komunikasi bermedia, sebagai berikut:

a) Komunikator, ialah pihak yang mengandalkan media dan teknologi modern dalam menyebabkan suatu informasi, sehingga informasi tersebut bisa dengan cepat ditangkap oleh publik. Komunikator

juga berperan sebagai sumber pemberitaan yang mewakili institusi formal yang sifatnya mencari keuntungan dari penyebaran informasi itu. Contoh : Jurnalis media atau Humas yang menyiapkan press release sebuah perusahaan.

b) Media, merupakan alat komunikasi yang digunakan dalam penyebaran informasi, yang dapat diakses oleh masyarakat. Media internet merupakan salah satu contoh alat komunikasi yang dapat diakses oleh masyarakat, misalnya melalui media sosial Facebook, Instagram, Youtube dan lain-lain.

c) Informasi, adalah pesan, ide, gagasan yang diperuntukkan kepada masyarakat secara massal.

d) Penyeleksi informasi (Gatekeeper), sebagaimana diketahui bahwa dalam organisasi tentunya memiliki divisi khusus yang menangani informasi yang akan disampaikan melalui media. Mereka inilah yang memiliki kewenangan untuk memperluas, membatasi informasi yang akan disebarkan tersebut. Pimpinan redaksi merupakan contoh penyeleksi informasi dalam lingkup pekerjaan wartawan surat kabar untuk memilih berita mana yang ingin disebarkan.

e) Khalayak, adalah segenap manusia yang menerima informasi yang disebarkan oleh media. Khalayak terdiri dari publik pendengar atau masyarakat pembaca.

f) Umpan balik, dalam komunikasi bermedia umumnya bersifat tertunda, sedangkan umpan balik pada komunikasi tatap muka

f) Umpan balik, dalam komunikasi bermedia umumnya bersifat tertunda, sedangkan umpan balik pada komunikasi tatap muka