• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Manfaat Penelitian

Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan akar manis (Glycyrrhiza glabra Linn.) yang dapat diformulasikan menjadi sediaan tablet.

8 1.6 Kerangka Penelitian

Gambar 1.1 Diagram Kerangka Pikir Penelitian

Akar manis

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan 2.1.1 Sistematika Tumbuhan

Secara lengkap sistematika akar manis (Glycyrrhiza glabra L.) hasil identifikasi sampel dari Herbarium Medanense (2020) sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Fabales

Famili : Papilionaceae Genus : Glycyrrhiza

Spesies : Glycyrrhiza glabra L.

Nama lokal : Akar manis 2.1.2 Sinonim Tumbuhan

Akar manis (Indonesia), Licoric (Amerika), Liquorice (Inggris), Gan Cao (Cina) (Wahyuno, dkk., 2020).

2.1.3 Nama Asing Tumbuhan

Jashtimadhu (Bangla); Muleti (Punjabi); Mithi Kathi (Sindhi); KhoshaWalgi (Pushto); Rub-us-soos (Arab); Bikhemahaka (Persia); Moyo (Chitrali); Boisdoux (Prancis), Regalizia (Spanyol) (Dastagir dan Rizvi, 2016).

2.1.4 Morfologi Tumbuhan

Akar manis (G. glabra) termasuk famili Papilionaceae, berupa tanaman tahunan berbentuk terna dan dapat tumbuh tinggi sampai satu meter dengan daun

10

yang tumbuh seperti sayap (pinnate) yang panjangnya 7 sampai 15 cm, dengan jumlah daun 9-17 helai dalam satu cabang. Bunga akar manis tersusun secara inflorescens (berkelompok dalam satu cabang), warnanya berkisar dari keunguan sampai putih kebiru-biruan serta berukuran panjang 0,8–1,2 cm. Buah akar manis berpolong dan berbentuk panjang 2–3cm, dan mengandung biji. Akar manis tumbuh dengan baik di tanah yang dalam, subur, cukup air dan dalam iklim yang penuh cahaya matahari. Biasanya dipanen pada musim gugur 2 atau 3 tahun setelah penanaman. Zat yang terkandung di dalamnya adalah glycyrrhizin (Wahyuno, dkk., 2020).

2.1.5 Kandungan Kimia

Akar manis mengandung berbagai komponen kimia yaitu gula, flavonoid, sterol, asam amino, resin, pati, minyak atsiri dan saponin. Saponin utama mengandung asam glisirizat atau glycyrrhizin (C42H62O16), terbanyak terdapat pada akar mencapai 6% - 20% berat kering. Asam amino yang terdapat pada akar manis adalah asam-2-betaglisirizat, asam glukuronat, asam glisiretinat (enoxolone), asam tanat, asparagin, resin, minyak atsiri. Flavonoid seperti liquiritigenin, liquiritin, isoliquiritigenin, isoliquiritin dan senyawa kumarin, seperti herniarin dan umbeliferon. Flavonoid paling terkenal yang ditemukan oleh Organisasi Standardisasi Internasional pada akar manis adalah senyawa glabridin, gliserin flavon, glabren, glabril, formononetin, isoliquiritigenin (Wahyuno, dkk.., 2020).

2.1.6 Khasiat Tumbuhan

Akar manis memiliki sifat farmakologis yang bermanfaat seperti anti-inflamasi, antivirus, antimikroba, antioksidan, antikanker dan imunomodulator.

Akar manis yang dikenal sebagai kayu legi juga digunakan sebagai obat

11

tradisional terutama untuk pengobatan tukak lambung, hepatitis C dan penyakit paru-paru dan kulit. Akar kering akar manis telah digunakan sebagai ekspektoran dan karminatif oleh orang Mesir, Cina, Yunani, India dan peradaban Romawi, juga digunakan sebagai oftalmia, anti-sifilis dan antidisentri, gangguan pencernaan, tenggorokan kering, abses bengkak dan bertindak sebagai diuretik (Dastagir dan Rizvi, 2016).

Akar manis dinyatakan memiliki khasiat sebagai ekspektoran, penawar racun (demolient), antispasmodik, anti-inflamasi dan pencahar. Secara tradisional, akar manis juga dilaporkan mempengaruhi kelenjar adrenal. Akar manis telah digunakan untuk mengobati penyakit selesema bronkial, bronkitis, gastritis kronis, tukak lambung, kolik dan insufisiensi adrenokortikal primer (Barnes et al., 2007).

Glycyrrhizin merupakan zat aktif yang terdapat dalam akar manis secara spesifik mengurangi penurunan prostlaglandin E (PGE). Kadar PGE yang rendah berhubungan dengan keadaan perut seperti kolik, inflamasi perut, dan ulkus.

Dengan mengurangi penurunan prostlagandin E tubuh maka glisirizin menyediakan lebih banyak PGE yang bersirkulasi pada darah. Dari peningkatan kadar PGE maka akan meningkatkan produksi mukus dan mengurangi produksi asam lambung. Efek tersebut membantu melindungi jaringan lambung, sehingga nyata bahwa akar manis dapat digunakan untuk perawatan ulkus (Tanaka et al., 2001).

Glycyrrhiza glabra menunjukkan efek gastroprotektif potensial dalam studi praklinis dan klinis. Mekanisme yang berhubungan dengan efek antiulserogeniknya adalah peningkatan sekresi musin, peningkatan pelepasan prostaglandin E2, dan penurunan leukotrien. Efek gastroprotektifnya terkait erat dengan aktivitas antioksidan dan antiinflamasinya (Nugroho, dkk., 2016).

12

Mekanisme tersebut mirip dengan mekanisme analog prostaglandin, dimana analog prostaglandin memiliki mekanisme kerja mengurangi sekresi asam lambung, menambah sekresi mukus, sekresi bikarbonat dan meningkatkan aliran darah mukosa.

Dosis untuk pemberian oral (dewasa) dengan penggunaan secara tradisional direkomendasikan dalam standar herbal yang lebih tua dan kontemporer dan / atau teks referensi farmasi. Serbuk akar manis sebanyak 1 – 4 gram sebagai rebusan tiga kali sehari. Dalam bentuk ekstrak (BPC, 1973) 0,6 – 2,0 gram (Barnes et al., 2007). Menurut Farmakope Indonesia edisi V (2009), kadar glisirizin pada ekstrak akar manis (Glycyrrhizae Succus) tidak kurang dari 10%

dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

Ikhtisar Efek Sistemik: Paparan kronis sedang atau akut terhadap asam glisirizin, amonium glisirizat, dan metabolitnya telah terbukti menyebabkan beberapa perubahan sistemik sementara, termasuk peningkatan ekskresi kalium, retensi natrium dan air, penambahan berat badan, alkalosis, penekanan renin-sistem angiotensis-aldosteron, hipertensi, dan kelumpuhan otot. Sebagian besar efek ini adalah konsekuensi dari penghambatan asam glisirizin dari enzim 11β-hydroxysteroid dehydrogenase-2 (11β-OHSD2) di ginjal (Andersen, 2007). Dari paparan tersebut dapat diketahui bahwa glisirizin dapat diabsorpsi secara sistemik.

2.2 Ekstrak dan Metode Ekstraksi 2.2.1 Ekstrak

Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok di luar pengaruh cahaya matahari langsung (Depkes RI, 1979).

13

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan suatu pelarut cair. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dengan cara ekstraksi yang tepat (Depkes RI, 2000).

2.2.2 Metode Ekstraksi

Menurut Depkes RI (2000), beberapa metode ekstraksi yang sering digunakan dalam berbagai penelitian antara lain, yaitu:

1. Cara Dingin

a. Maserasi, adalah proses pengekstraksi simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi kinetik berarti dilakukan pengadukan yang kontinu (terus-menerus). Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama dan seterusnya.

b. Perkolasi, adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan.

Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak) terus-menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali.

2. Cara Panas

a. Refluks, adalah proses penyarian simplisia dengan menggunakan alat pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

14

b. Digesti, adalah proses penyarian dengan pengadukan kontinu pada temperatur yang lebih tinggi dari pada temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40o-50oC.

c. Sokletasi, adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut yang selalu baru, dilakukan dengan menggunakan alat soklet sehingga menjadi ekstraksi kontinu dengan pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

d. Infundasi, adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut air pada temperatur 90oC selama 15 menit.

e. Dekoktasi, adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut air pada temperatur 90oC selama 30 menit.

2.3 Uraian Tablet

Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih, dengan atau tanpa bahan tambahan. Bahan tambahan yang dapat berfungsi sebagai bahan pengisi, pengembang, pengikat, pembasah atau bahan lain yang cocok (Depkes RI, 1979).

Sebagian besar tablet dibuat dengan cara pengempaan dan merupakan bentuk sediaan yang paling banyak digunakan. Tablet kempa dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja.

Tablet dapat dibuat dalam berbagai ukuran, bentuk dan penandaan permukaan tergantung pada desain cetakan (Depkes RI, 1995).

Tablet dicetak dari serbuk kering, kristal atau granulat, umumnya dengan penambahan bahan pembantu, pada mesin yang sesuai, dengan menggunakan tekanan tinggi. Tablet dapat memiliki bentuk silinder, kubus, batang atau cakram,

15

serta bentuk seperti telur atau peluru. Garis tengah tablet pada umumnya 5-17 mm, sedangkan bobot tablet 0,1-1 g (Voight, 1995).

Obat-obat diberikan secara oral dalam bentuk sediaan farmasi yang beragam, masing-masing dengan keuntungan terapeutik yang mengakibatkan penggunaannya yang selektif oleh dokter. Perbedaan ukuran dan warna dari tablet dalam perdagangan, serta sering menggunakan monogram dari symbol perusahaan nomor kode, memudahkan pengenalannya oleh orang-orang yang dilatih menggunakannya dan bermanfaat sebagai tambahan perlindungan bagi kesehatan masyarakat (Ansel, 2008).

Menurut Banker dan Anderson (1994), tablet dinyatakan baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Memiliki kemampuan atau daya tahan terhadap pengaruh mekanis selama proses produksi, pengemasan dandistribusi;

b. Bebas dari kerusakan seperti pecah pada permukaan dari sisi-sisitablet;

c. Dapat menjamin kestabilan fisik maupun kimia dari zat berkhasiat yang terkandung didalamnya;

d. Dapat membebaskan zat berkhasiat dengan baik sehingga memberikan efek pengobatan seperti yang dikehendaki.

2.3.1 Metode Pembuatan Tablet

Tablet dibuat dengan 3 cara umum, yaitu granulasi basah, granulasi kering dan kempa langsung (Depkes RI, 1995).

Metode pembuatan tablet didasarkan pada sifat fisika kimia dari bahan obat, seperti stabilitas dari bahan aktif dalam panas atau terhadap air, bentuk partikel bahan aktif dan sebagainya. Metode pembuatan sediaan tablet yaitu:

a. Cetak langsung

16

Cetak langsung adalah pencetakan bahan obat atau campuran bahan obat dan bahan pembantu tanpa proses pengolahan awal. Cara ini hanya dilakukan untuk bahan-bahan tertentu saja yang berbentuk butir-butir granul yang mempunyai sifat-sifat yang diperlukan untuk membuat tablet yang baik.

Istilah kempa langsung telah lama digunakan untuk memperkenalkan pengempaan senyawa kristalin tunggal (biasanya garam anorganik dengan struktur kristal kubik seperti natrium klorida, natrium bromida, atau kalium bromida) menjadi suatu padatan tanpa penambahan zat-zat lain. Hanya sedikit bahan kimia yang mempunyai sifat alir, kohesi, dan lubrikasi di bawah tekanan untuk membuat padatan seperti ini (Siregar dan Wikarsa, 2010).

Sekarang istilah kempa langsung digunakan untuk menyatakan proses ketika tablet dikempa langsung dari campuran serbuk zat aktif dan eksipien yang sesuai (termasuk pengisi, disintegran, dan lubrikan), yang akan mengalir dengan seragam ke dalam lubang kempa dan membentuk suatu padatan yang kokoh. Tidak ada prosedur praperlakuan granulasi basah atau kering yang diperlukan pada campuran serbuk (Siregar dan Wikarsa, 2010).

Keuntungan metode kempa langsung yaitu: 1. Lebih ekonomis karena validasi proses lebih sedikit; 2. Lebih singkat prosesnya. Karena proses yang dilakukan lebih sedikit, maka waktu yang diperlukan untuk menggunakan metode ini lebih singkat, tenaga dan mesin yang dipergunakan juga lebih sedikit; 3. Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak tahan lembab (Siregar dan Wikarsa, 2010).

Pada penelitian Ringoringo dan Choiriyah (2018) tentang formulasi tablet kunyah ekstrak akar manis (Succus liquiritae) dengan kombinasi bahan pengisi sorbitol-laktosa terhadap pengaruh sifat fisik tablet kunyah menggunakan metode

17

kempa langsung menghasilkan sifat fisik tablet yang berbeda-beda tetapi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dan memenuhi syarat pada Farmakope Indonesia. Pada penelitian Sa’adah et al., (2016) tentang formulasi granul ekstrak daun kersen (Muntingia calabura L.) menggunakan aerosil dan avicel PH 101 dengan metode granulasi basah dimana aerosil dan avicel PH 101 digunakan sebagai eksipien. Aerosil dengan konsentrasi 0-20% berfungsi sebagai adsorbent dan avicel berupa uap silika submikroskopik, ringan, dan tidak berasa. Avicel PH 101 dengan konsentrasi 20-90% berfungsi sebagai binder/diluent.

b. Granulasi kering

Granulasi kering disebut juga slugging atau prekompresi. Cara ini sangat tepat untuk tabletasi zat-zat yang peka suhu atau bahan obat yang tidak stabil dengan adanya air. Metode pembuatan tablet dengan cara mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat.

Obat dan bahan pembantu pada mulanya dicetak dulu, artinya mula-mula dibuat tablet yang cukup besar, yang massanya tidak tertentu, selanjutnya terjadi penghancuran tablet yang dilakukan dalam mesin penggranul kering, atau dalam hal yang sederhana dilakukan di atas sebuah ayakan. Granulat yang dihasilkan kemudian dicetak dengan takaran yang dikehendaki (Voight, 1995).

Metode ini digunakan pada keadaan dosis efektif yang terlalu tinggi untuk pencetakan yang langsung, dimana bahan aktif obatnya peka terhadap pemanasan atau tidak tahan terhadap pemanasan, kelembaban atau keduanya (Lachman et al., 1994). Setelah penimbangan dan pencampuran bahan, serbuk di slug atau dikompresi menjadi tablet yang besar dan datar dengan garis tengah sekitar 1 inci.

Kempaan harus cukup keras agar ketika dipecahkan tidak menimbulkan serbuk yang berceceran. Tablet kempaan ini dipecahkan dengan tangan atau alat dan

18

diayak dengan lubang yang diinginkan, pelicin ditambahkan dan tablet dikempa (Ansel, 2008).

c. Granulasi basah

Pada teknik ini juga memerlukan langkah-langkah pengayakan, penyampuran dan pengeringan. Pada granulasi basah, granul dibentuk dengan suatu bahan pengikat. Teknik ini membutuhkan larutan, suspensi atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke campuran serbuk.

Cara penambahan bahan pengikat tergantung pada kelarutannya dan tergantung pada komponen campuran. Karena massa hanya sampai konsistensi lembab bukan basah seperti pasta, maka bahan pengikat yang ditambahkan tidak boleh berlebihan (Banker dan Anderson, 1994).

Proses pengeringan diperlukan oleh seluruh cara granulasi basah untuk menghilangkan pelarut yang dipakai pada pembentukan gumpalan-gumpalan granul dan untuk mengurangi kelembaban sampai pada tingkat yang optimum (Banker dan Anderson, 1994).

2.3.2 Bahan Tambahan dalam Sediaan Tablet

Pada umumnya tablet kempa mengandung zat aktif dan bahan pengisi, bahan pengikat, disintegran dan lubrikan, dapat juga mengandung bahan warna dan lak (bahan warna yang diadsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut) yang diizinkan, bahan pengaroma dan bahan pemanis. Bahan pengisi ditambahkan jika jumlah zat aktif sedikit atau sulit dikempa. Bahan pengisi tablet yang umum adalah laktosa, pati, kalsium fosfat dibasa dan selulosa mikrokristal.

Jika kandungan zat aktif kecil, sifat tablet secara keseluruhan ditentukan oleh bahan pengisi yang besar jumlahnya. Karena masalah ketersediaan hayati obat

19

hidrofobik yang kelarutannya dalam air kecil, maka digunakan bahan pengisi yang larut dalam air (Ditjen POM, 1995).

a. Bahan pengikat memberikan daya adhesi pada massa serbuk sewaktu granulasi dan pada tablet kempa serta menambah daya kohesi yang telah ada pada bahan pengisi. Zat pengikat dapat ditambahkan dalam bentuk kering, tetapi lebih efektif jika ditambahkan dalam larutan (Ditjen POM, 1995). Menurut Kusumo dan Mita (2017), bahan pengikat memiliki peran sebagai pengikat zat aktif dengan bahan tambahan sehingga didapatkan granul yang baik, dengan didapatkannya granul yang baik akan meningkatkan kekompakan tablet.

Pengikat dapat memperbaiki kerapuhan serta kekuatan granul dan tablet, sehingga dapat meningkatkan kualitas tablet yang dihasilkan. Bahan pengikat yang berasal dari polimer sintetik adalah gelatin, selulosa, dan mikrostatin.

b. Disintegran membantu hancurnya tablet setelah ditelan. Disintegran tablet yang paling banyak digunakan adalah pati. Pati dan selulosa yang termodifikasi secara kimia, asam alginat, mikrokristal selulosa dan crosspovidone juga dapat digunakan. Campuran efervesen digunakan sebagai disintegran dalam sistem tablet larut. Kandungan disintegran, cara penambahan dan derajat kepadatan berperan dalam efektivitas daya hancur tablet (Ditjen POM, 1995).

c. Lubrikan berfungsi untuk mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet dan juga berguna untuk mencegah massa tablet melekat pada cetakan.

Senyawa asam stearat dengan logam, asam stearat, minyak nabati terhidrogenasi dan talkum digunakan sebagai lubrikan (Ditjen POM, 1995).

d. Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalir serbuk, umumnya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi (Ditjen POM, 1995).

20

e. Bahan pewarna dan lak yang diizinkan sering ditambahkan pada formulasi tablet untuk menambah nilai estetik atau untuk identitas produk. Kebanyakan bahan pewarna peka terhadap cahaya dan warnanya akan memudar jika terpapar cahaya (Ditjen POM, 1995).

2.3.3 Komposisi Tablet

Pada umumnya bahan baku tablet terdiri dari zat aktif dan bahan tambahan.

Adapun bahan tambahan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Aerosil (Colloidal Silicon Dioxide)

Aerosil adalah silika submikroskopik dengan ukuran partikel sekitar 15 nm.

Serbuk aerosil terasa ringan, berwarna putih kebiruan, tidak berbau, tidak berasa, bubuk amorf. Penggunaan aerosil sebagai bahan untuk memperbaiki aliran yaitu 0,1-1%. Praktis tidak larut dalam pelarut organik, air dan asam, kecuali asam hidroflorida. Tetapi larut dalam cairan panas hidroksi alkali. Partikelnya yang berukuran kecil dan luas permukaan yang besar terbukti sangat baik digunakan untuk memperbaiki aliran. Dalam proses pembuatan tablet juga dapat digunakan sebagai penghancur dan adsorben (Rowe et al., 2009). Aerosil mampu mengikat lembab melalui gugus sinalolnya (menyerap 40% dari massanya) tanpa menghilangkan sifat alirnya yang baik (Voight, 1994).

2. Avicel® PH 101 (Microcrystalline Cellulose)

Avicel® PH 101 merupakan nama dagang dari selulosa mikrokristal. Avicel dibuat dari hidrolisis terkontrol α-selulosa dengan larutan asam mineral encer.

Sebagai bahan farmasi, avicel® PH 101 digunakan sebagai bahan pengisi tablet yang dibuat secara granulasi basah maupun cetak langsung, bahan penghancur tablet, adsorben dan bahan anti lekat. Avicel®PH 101 diketahui mempunyai sifat alir dan kompresibilitas yang sangat baik. Konsentrasi yang digunakan sebagai

21 pengisi (diluents) 20-90% (Rowe et al., 2009).

Bahan pengisi berfungsi untuk memperbesar volume massa agar mudah dicetak karena zat aktifnya sedikit atau sulit dikempa. Untuk obat hidrofobik yang kelarutannya dalam air kecil, maka digunakan bahan pengisi yang larut dalam air.

Bahan pengisi tablet yang umum adalah laktosa, pati, kalsium fosfat, dan selulosa mikrokristal (Depkes RI, 1995).

3. Eksplotab (Sodium Starch Glycolate)

Eksplotab adalah pati yang dimodifikasi dengan sifat disintegran yang diamati.

Dalam tablet eksplotab berfungsi sebagai penghancur yang biasa digunakan dalam metode kempa langsung dan granulasi basah. Inkompatibilitas dengan asam askorbat. Konsentrasi eksplotab sebagai penghancur dalam formulasi tablet adalah 2-8% dengan konsentrasi optimum sekitar 4% (Rowe et al., 2009).

Sodium starch glycolate merupakan garam natrium dari eter karboksil metil amilum. Penambahan gugus karboksil metil pada amilum membuat butir amilum bersifat lebih hidrofilik, akan tetapi tidak larut sempurna dalam air. Dalam pembuatan tablet harus digunakan amilum sekering mungkin, agar dapat berfungsi sebagai bahan penghancur agar pengikatan air oleh gugus hidroksida pada amilum dapat menyebabkan gerak aksi yang mengakibatkan hancurnya tablet (Lachman et al., 1986).

4. Magnesium stearat

Magnesium stearat digunakan sebagai glidan dan anti-adheren untuk mengurangi gesekan antar partikulat sehingga dapat mengalir dari lubang corong yang lebih besar ke lubang yang lebih kecil dan akhirnya ke dalam lubang kempa mesin tablet (Siregar dan Wikarsa, 2010).

5. Talkum

22

Talkum berfungsi sebagai lubrikan dan glidan.Talkum juga digunakan secara luas dan mempunyai sifat menguntungkan, yaitu meminimalkan setiap kecenderungan zat yang melekat pada permukaan lubang pencetak (Banker dan Anderson, 1994).

2.4 Uraian Granul dan Uji Preformulasi 2.4.1 Granul

Granul adalah kumpulan partikel partikel serbuk yang diubah menjadi sebuah butiran. Granul yang mengandung suatu daya lekat dimaksudkan agar campuran sebuk dapat mengalir kedalam cetakan tablet secara tepat dan merata sehingga menyebabkan adanya keseragaman bentuk pada tablet. Pembuatan granul melalui tahapan pelembaban serbuk yang telah digiling kemudian adonan yang sudah lembab dilewatkan melalui celah ayakan sesuai granul yang diinginkan. Granul yang baik memiliki bentuk dan warna yang homogen, sedapat mungkin memiliki distribusi yang sempit dan komponen serbuk tidak lebih dari 10%, memiliki daya alir yang baik, menunjukan kekompakan mekanisme yang memuaskan, tidak terlampau kering (sisa lembab 3-5%), serta hancur didalam air (Voight, 1994).

2.4.2 Uji Preformulasi

Sebelum dicetak menjadi tablet, dilakukan pengujian terhadap massa granul untuk mengetahui apakah granul memenuhi syarat untuk dapat dicetak. Uji preformulasi granul meliputi:

a. Waktu alir

Waktu alir merupakan waktu yang diperlukan untuk mengalirkan sejumlah granul pada alat yang dipakai. Apabila granul mempunyai sifat alir yang baik

23

maka pengisian pada ruang kempa menjadi konstan sehingga dihasilkan tablet yang mempunyai bobot seragam (Parrot, 1971).

b. Sudut diam

Sudut diam adalah sudut yang terbentuk antara permukaan tumpukan granul dengan bidang horizontal. Corong berada pada suatu ketinggian yang dikehendaki di atas bidang horizontal. Bubuk atau granul dituang perlahan-lahan sampai di dapat tumpukan bubuk yang berbentuk kerucut. Bila sudut diam <30° biasanya menunjukkan bahwa granul dapat mengalir bebas, dan bila sudutnya >40°

biasanya sifat alirnya kurang baik (Banker dan Anderson, 1994).

c. Indeks tap

Indeks tap didefinisikan sebagai penurunan volume sejumlah granul yang disebabkan oleh kemampuannya mengisi ruang antara granul dan memampat secara lebih rapat. Alat yang digunakan volumeter, dimana terdiri dari gelas ukur yang diletakkan pada suatu alat yang dapat bergerak naik turun secara mekanik dengan bantuan alatpenggerak (Banker dan Anderson, 1994).

d. Kadar air granul

Pengujian kadar air granul dilakukan untuk mengetahui kadar air di dalam butiran granul karena air dapat mempengaruhi panjang masa penyimpanan granul.

Semakin tinggi kadar air granul, maka akan semakin mudah bagi mikroba untuk berkembang pada granul selama masa penyimpanan (Aminingsih, dkk., 2018).

2.5 Evaluasi Tablet

Parameter yang dilakukan untuk pemeriksaan kualitas sediaan tablet,yaitu:

a. Keseragaman bobot

Variasi bobot tablet dipengaruhi oleh ukuran dan distribusi granul yang

24

berbeda, sifat alir granul yang tidak baik akan menyebabkan jumlah serbuk yang masuk dalam ruang kompresi tidak seragam, sehingga menghasilkan bobot tablet yang berbeda (Lieberman et al., 1989).

Keseragaman bobot tablet ditentukan berdasarkan banyaknya penyimpangan bobot pada tiap tablet terhadap bobot rata-rata dari semua tablet sesuai syarat yang ditentukan Farmakope Indonesia.

b. Kekerasan

Dinyatakan sebagai daya tahan terhadap tekanan, tegangan, patahan, guliran, gosokan dan jatuhan (Voight, 1995). Kekerasan tablet umumnya 4-8 kg (Parrot, 1971).

c. Waktu hancur

Didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan untuk hancurnya tablet dalam medium yang sesuai, kecuali dinyatakan lain untuk tablet tidak bersalut tidak lebih dari 15 menit (Parrot, 1971).

d. Kerapuhan

Dinyatakan sebagai ketahanan suatu tablet terhadap goncangan selama proses pengangkutan dan penyimpanan. Tablet yang mudah rapuh dan pecah akan kehilangan keindahan dalam penampilannya serta menimbulkan variasi pada bobot tablet dan keseragaman dosis obat. Nilai kerapuhan yang dapat diterima sebagai batas tertinggi adalah 0,8% (Banker dan Anderson, 1994).

25 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Tempat Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fitokimia dan Laboratorium

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fitokimia dan Laboratorium

Dokumen terkait