BAB 1 PENDAHULUAN
C. Tujuan dan Manfaat
2. Manfaat Penelitian
Dari penelitian yang dilakukan, diharapkan dapat memberikan manfaat. Diantaranya:
a. Bagi Penulis
Memperluas wawasan dan pengetahuan dalam pengembangan mengenai perbankan syariah khususnya dampak konversi sebelum atau sesudah menjadi perbankan syariah.
b. Bagi Masyarakat
Dapat dijadikan sebagai pengetahuan dan wawasan mengenai dampak konversi perbankan konvensional menjadi perbankan syariah.
9
BAB II Tinjauan Pustaka
1. Karakteristik Dasar Perbankkan SyariahSesuai undang - undang no 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah, Bank Syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau prinsip hukum islam yang diatur dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia seperti prinsip keadilan dan keseimbangan ('adl wa tawazun), kemaslahatan (maslahah), universalisme (alamiyah), serta tidak mengandung gharar, maysir, riba, zalim dan obyek yang haram.
Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa jasa lain dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasi disesuaikan prinsip – prinsip syariah.
(Sudarsono, 2012).
Bank Syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga bank. Maka Bank Syariah adalah Lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa – jasa lainnya dalam lalulintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya sesuai dengan prinsip syariat islam (Muhammad, 2007)
Sedangkan berdasarkan UU no 10 tahun 1998, Bank Konvensional yaitu bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang
10 mana dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran berdasarkan prosedur dan ketentuan yang ditetapkan.
Bank syariah merupakan bank yang dalam sistem operasionalnya tidak menggunakan system bunga, akan tetapi menggunakan prinsip dasar sesuai dengan syariah Islam. Dalam menentukan imbalannya, baik imbalan yang diberikan maupun diterima, bank syariah tidak menggunakan system bunga akan tetapi menggunakan konsep imbalan sesuai akad yang diperjanjikan (Drs. Ismail, 2011).
No Perbedaaan Bank Syariah Bank Konvensional
1 Investasi
11
12 Table 1.3
Perbedaan Bank
Syariah dan Konvensional (Drs. Ismail, 2011)
2. Perubahan (Konversi) Bank Konvensional Menjadi Bank Syariah Perubahan bank konvensional menjadi bank syariah ini yaitu, Pasal 2 ayat (1) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 64/POJK.03/2016 Tahun 2016 tentang Perubahan Kegiatan Usaha Bank Konvensional Menjadi Bank Syariah (“Peraturan OJK 64/2016”) mengatur bahwa Bank Konvensional dapat melakukan perubahan kegiatan usaha menjadi Bank Syariah. Namun Bank Syariah dilarang melakukan perubahan kegiatan usaha menjadi Bank Konvensional, hal ini dikarenakan bertentangan dengan prinsip syariah.
Perubahan kegiatan usaha Bank Konvensional menjadi Bank Syariah dapat dilakukan dua pilihan, yaitu:
1. Bank Umum Konvensional menjadi Bank Umum Syariah
13 2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) akan menjadi Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).
Perubahan kegiatan usaha Bank Konvensional menjadi Bank Syariah hanya dapat dilakukan dengan izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pemberian izin ini dilakukan dalam bentuk izin perubahan kegiatan usaha secara sepenuhnya.
Rencana perubahan kegiatan secara operasional usaha Bank Konvensional menjadi Bank Syariah harus dicantumkan dalam rencana bisnis Bank Konvensional. Bank Konvensional yang akan melakukan perubahan kegiatan usaha menjadi Bank Syariah harus memenuhi persyaratan, yaitu:
1. menyesuaikan anggaran dasar;
2. memenuhi persyaratan permodalan;
3. menyesuaikan persyaratan Direksi dan Dewan Komisaris;
4. membentuk Dewan Pengawas Syariah (DPS); dan
5. menyajikan laporan keuangan awal sebagai sebuah Bank Syariah.
Penyesuaian anggaran dasar mengacu pada Undang-Undang yang mengatur mengenai Perbankan Syariah dan ketentuan peraturan perundang-undangan lain yang berlaku.
14 3. Pelaksanaan Perubahan (Konversi)
Permohonan izin perubahan kegiatan usaha secara seutuhnya diajukan oleh Bank Konvensional disertai dengan antara lain:
a. misi dan visi perubahan kegiatan usaha menjadi Bank Syariah b. rancangan perubahan anggaran dasar
c. nama dan data identitas dari calon Pemegang Saham Pengendali (“PSP”), calon anggota Direksi, calon anggota Dewan Komisaris, dan calon anggota DPS
d. rencana bisnis Bank Syariah
e. studi kelayakan mengenai peluang pasar dan potensi ekonomi dan
f. rencana penyelesaian hak dan kewajiban nasabah.
Perubahan anggaran dasar harus dimintakan persetujuan kepada instansi yang wajib berwenang. Permohonan kepada instansi yang berwenang, yakni dapat dilakukan bersamaan dengan pengajuan permohonan izin perubahan kegiatan usaha secara sepenuhnya.
Bank Konvensional yang dapat mengajukan permohonan izin perubahan kegiatan usaha harus memberikan penjelasan mengenai keseluruhan rencana perubahan kegiatan usaha menjadi Bank Syariah.
Permohonan izin atau penyampaian laporan perubahan kegiatan usaha diajukan Otoritas Jasa Keuangan dengan alamat Departemen Perbankan Syariah dengan tembusan kepada Kantor Regional Otoritas Jasa Keuangan
15 atau Kantor Otoritas Jasa Keuangan pusat, bagi BUK atau BUS yang berkantor pusat di wilayah kerja Kantor Regional Otoritas Jasa Keuangan atau Kantor Otoritas Jasa Keuangan.
Bank Konvensional yang telah mendapat izin perubahan kegiatan usaha menjadi Bank Syariah wajib mencantumkan secara jelas, yaitu:
a. Kata “Syariah” pada penulisan nama
b. Logo pada iB formulir, warkat, produk, kantor, dan jaringan kantor Bank Syariah.
4. Konsep Pengukuran Efisiensi Perbankan
Kinerja keuangan adalah gambaran kondisi dimana keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu baik menyangkut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana, biasa diukur dengan indicator kecukupan modal, likuiditas dan profitabilitas (Jumingan, 2006).
Profil ukuran yang popular antara lain: efektifitas dan efesiensi. Penelitan ini memfokuskan pada pengukuran efesiensi (Priyonggo, 2008).
Efisiensi adalah suatu istilah yang sifatnya relatif, yaitu selalu harus dikaitkan dengan kriteria tertentu. Ahli ekonomi melihat efisiensi dari dua sudut pandang, sudut pandang positif dan normatif. Pandangan positif didasarkan pada prilaku manusia yang selalu mencari peningkatan nilai atau value (utility maximization dan profit maximization theory).
Pencarian value adalah pendorong terciptanya mekanisme pasar. Jika tercapai suatu situasi dimana masih ada value yang belum tereksploitasi, prilaku manusia adalah selalu berusaha mencari jalan untuk mencapai
16 value tersebut. Pandangan normatif berakar dari keinginan untuk membuat kebijakan. Untuk menilai apakah kebijakan yang satu lebih baik dari pada kebijakan yang lainnya, dibutuhkan suatu dasar untuk perbandingan (Surifah: 2002).
Efisiensi perbankan merupakan salah satu indikator utama kinerja Perbankan. Efisiensi perbankan merupakan indikator dalam mengukur kinerja keseluruhan dari aktivitas perbankan. Efisiensi adalah penggunaan input yang terendah untuk mencapai jumlah output yang maksimal.
Efisiensi penting karena adanya keterbatasan sumberdaya atau input yang dimiliki organisasi Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efisiensi bank dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menentukan tingkat efisiensi di Bank Aceh.
5. Metode Pengukuran Efesiensi
Terdapat beberapa metode untuk mengukur kinerja suatu organisasi agar lebih efesiensi, antara lain dengan analisis rasio.
a. Analisis Rasio FDR
Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah perbandingan antara pembiayaan yang diberikan oleh bank dengan dana pihak ketiga yang berhasil dikerahkan oleh bank (Muhammad, 2007).
Rasio FDR atau yang disebut dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) pada bank konvensional ini menyatakan kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai
17 sumber likuditasnya, atau dengan kata lain seberapa jauh pemberian kredit kepada nasabah dapat mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi permintaan deposan yang hendak menarik kembali dananya yang telah disalurkan oleh bank berupa kredit. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut (Rivai, 2010)
LDR = Total Volume Kredit Total Penerimaan Dana
Dalam tata cara penilaian tingkat kesehatan bank syariah, berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No 26/5/BPPP tanggal 29 Mei 1993, besarnya Financing to Deposit Ratio ditetapkan oleh Bank Indonesia telah menetukan ketetapan sebagai berikut (Riyadi, 2004):
1. Untuk rasio FDR sebesar 110% atau lebih diberi nilai kredit 0, artinya likuiditas bank tersebut dinilai tidak sehat.
2. Untuk rasio FDR dibawah 110% diberi nilai kredit 110%, artinya likuiditas bank tersebut dinilai sehat.
Hal ini berarti bahwa Bank Indonesia memperbolehkan bank dibawah naungannya untuk memberikan kredit atau pembiayaan melebihi jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun bank–
bank tersebut dengan syarat tidak boleh melebihi 110%. Rasio FDR ini pada umumnya memiliki beberapa kelemahan yaitu (Pandia, 2012)
18 1. Investasi dana bank ke dalam earning assets bukan hanya ke dalam bentuk loan (pinjaman), tetapi juga dalam bentuk surat berharga (jangka pendek maupun jangka panjang). Dalam teori ini jenis-jenis investasi non loan diabaikan.
2. Dana yang dapat digunakan dalam bentuk kredit tidak hanya bersumber dari dana pihak ketiga (simpanan masyarakat) tapi juga berasal dari sumber dana lainnya misalnya modal sendiri, dana yang berasal dari pinjaman antarbank (pasar uang) dan lain sebagainya.
3. Kurang memperhatikan liquid assets yang segera dapat dicairkan dalam bentuk uang kas.
4. Kurang mempertimbangkan security daripada pinjaman.
5. Tidak memperhitungkan stabilitas titipan.
6. Mengabaikan assets yang lain. Dua bank mempunyai rasio sama besar, tetapi 20% dari titipan bank yang satu berbentuk uang kas atau surat berharga jangka pendek, sedangkan bank yang lain mengiventasikanke dalam saham, tentu kedua bank tersebut tidak mempunyai tingkat likuiditas yang sama.
19 Semakin tinggi rasio FDR memberikan indikasi bahwa semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai pembiyaan periode selanjutnya semakin kecil. Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat dikatakan FDR berpengaruh terhadap pembiayaan bagi hasil yang disalurkan bank syariah kepada masyarakat.
b. Analisis Rasio NPF
Non Performing Loan (NPL) atau Non Performing Finance (NPF) adalah kredit bermasalah yang terdiri dari kredit yang berklarifikasi kredit kurang lancar, kredit diragukan, dan kredit macet. Termin NPL diperuntukan untu bank umum, sedangkan NPL untuk bank syariah. Non performing finance menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola pembiayaan bermasalah yang diberikan oleh bank. Sehingga semakin tinggi rasio ini maka akan semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah pembiayaan bermasalah semakin besar, kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar.
NPF merupakan rasio penunjang dalam menentukan kualitas aset bank syariah. Penilaian kualitas aset dimaksudkan untuk menilai kondisi aset bank, termasuk antisipasi atas risiko gagal bayar dari pembiayaan yang akan muncul.
20 Bagi bank, semakin dini menganggap pembiayaan yang disalurkan menjadi bermasalah, maka akan semakin baik karena akan berdampak semakin dini pula dalam upaya penyelamatannya sehingga tidak terlanjur parah yang berakibat semakin sulit penyelesaiannya. Pinjaman yang dikucurkan perbankan, tetapi mampu ditagih oleh perbankan karena bisnis dunia usaha sedang lesu, bangkrut atau sebab lainnya (Pandia, 2012). Dalam pembiayaan bermasalah atau resiko kredit adalah resiko akibat kegagalan debitur atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban bank. Risko dalam konteks perbankan merupakan suatu kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan maupun yang tidak diperkirakan dan juga akan berdampak negatif pada pendapatan dan permodalan bank (Rivai, 2010). Dengan kata lain resiko ini timbul karena tidak adanya kepastian tentang pembayaran kembali oleh debitur. Maka dari itu bank harus berhati – hati , cermat dan teliti dalam menilai calon debitur.
Dalam melakukan kegiatan penanaman dana, bank yang melakukan kegiatan usaha mampu menjalankan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan mengatasi atau meminimalisir resiko kerugian atas kegagalan penanaman dananya. Dalam menghitung rasio NPF adalah sebagai berikut:
NPF = Total NPF x 100%
Total Kredit
21 c. Dana Pihak Ketiga
Sumber dana bank adalah usaha bank dalam menghimpun dana dari masyarakat. Perolehan dana ini tergantung dari bank itu sendiri, apakah dari simpanan masyarakat atau dari lembaga lainnya. Secara garis besar sumber dana bank dapat di peroleh dari:
1. Sumber dana dari bank itu sendiri.
2. Sumber dana dari masyarakat luas (dana pihak ketiga).
3. Sumber dana dari lembaga lainnya.
Dana sebagai uang yang disimpan dibank mengandung arti bahwa dana tersebut ditempatkan dalam bentuk simpanan.
Biasanya jenis simpanan (rekening) yang dikelompokakan di sisi adalah rekening giro (demand deposit) dan rekening tabungan (saving deposit).
Sumber dana dari masyarakat luas atau dana pihak ketiga merupakan sumber dana yang terpenting bagi kegiatan operasi bank dan merupakan ukuran keberhasilan bank jika mampu membiayai operasinya dari sumber dana ini. Untuk memperoleh dana dari masyarakat luas bank dapat menggunakan tiga macam jenis simpanan. Masing – masing jenis simpanan memiliki keunggulan tersendiri, sehingga bank harus pandai dalam menyiasati pemilihan sumber dana. Sumber dana yang dimaksud adalah sebagai berikut :
22 1. Simpanan Giro.
2. Simpanan Tabungan 3. Simpanan Deposito d. Analisis Rasio Bopo
BOPO adalah rasio perbandingan antara Biaya Operasional dengan Pendapatan Operasional semakin rendah tingkat rasio BOPO berarti semakin baik kinerja manajemen bank tersebut, karena lebih efisien dalam menggunakan sumber daya yang ada di perusahaan (Riyadi, Banking Asset and Liability Management, 2004) Rumus:
BOPO = Biaya Operasi x 100%
Pendapatan Operasi
Besaranya ratio BOPO yang dapat ditoleransi oleh perbankan di Indonesia sebesar 93.52%, hal ini sejalan dengan ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia. Dari rasio ini dapat diketahui tingkat efesiensi kinerja manajemen suatu bank, jika angka ratio menunjukan di atas 90% dan mendekati 100% ini berarti bahwa kinerja bank tersebut menunjukkan tingkat efesiensi yang sangat rendah. Tetapi jika rasio ini rendah, misalnya mendekati 70% ini berarti kinerja bank yang bersangkutan menunjukan tingkat efesiensi yang tinggi.
23 6. Penelitian Terdahulu
No Judul Penulis Hasil Persamaan Perbedaan
1 Analisis 94,7%, hal ini karena Bank X cabangY sudah mampu
memenuhi 18 dari 19 indikator efektivitas sekedar bank bebas
Konversi
24
25 ekonomi syariah di Indonesia lebih pesat
26 Sesudah
Konversi
perusahaan, yaitu pada keuntungan atau laba yang didapat oleh pihak Bank Aceh mengalami
peningkatan di setiap periodenya.
Table 2.1 Penelitian Terdahulu
7. Kerangka Pemikiran
Perumusan hipotesis dari teori dilakukan berdasarkan argumentasi tertentu yang dituangkan peneliti dalam kerangka berpikir.
27 Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
8. Keterkaitan antar Variabel
a. Hubungan FDR terhadap efesiensi
FDR menunjukkan kemampuan perbankan dalam menyalurkan dana kepada debitur sekaligus membayarkan kembali kepada deposan dengan mengandalkan kredit yang disalurkan sebagai sumber likuiditas (Munir, 2018)
Kondisi ideal, Bank yang mampu menyalurkan lebih banyak pembiayaan dapat meningkatkan pendapatannya sekaligus meningkatkan tingkat efisiensinya (Muljawan, 2014)
FDR
NPF DPK
Kinerja Keuangan (Efesiensi)
BOPO Dummy
(Konversi)
28 b. Hubungan NPF terhadap efesiensi
Risiko bank syariah dalam pemberian fasilitas pembiayaan adalah tidak kembalinya pokok pembiayaan dan tidak mendapat imbalan, ujrah, atau bagi hasil sebagaimana telah disepakati dalam akad pembiayaan antara bank syariah dan nasabah penerima fasilitas.
Disamping itu juga, terdapat risiko bertambah besarnya biaya yang dikeluarkan oleh bank dan bertambahnya waktu untuk penyelesaian non performing finance (NPF). Serta turunnya kesehatan pembiayaan bank (kolektibilitas pembiayaan menurun).
Non Performinng Financing ini sangat memengaruhi pendapatan operasional bank, karena pendapatan bunga kredit dari debitur merupakan pendapatan operasional bank. Jika terjadi masalah dalam pemberian kredit, misalnya terjadi kemacetan pengembalian pokok dan bunga dalam jumlah relatif besar, maka hal tersebut tidak hanya merugikan bank melainkan juga akan merugikan nasabah penyimpan dana (Santoso, 2010)
Non Performing Financing (NPF) merupakan rasio keuangan yang menunjukkan risiko pembiayaan yang dihadapi bank akibat pemberian pembiayaan dan investasi dana bank pada portofolio yang berbeda. Semakin tinggi rasio ini semakin buruk kualitas pembiayaan.
(Rustam, 2013)
29 c. Hubungan DPK terhadap efesiensi
Dana pihak ketiga adalah dana yang bersumber dari deposito, tabungan dan giro. Dana tersebut dikelola sangat baik dan efesien agar para nasabah mempercayai kinerja bank dalam mengelola dana tersebut. Maka dari itu perusahaan bank harus mampu tetap menjaga kualitas dan kinerja terhadap efesiensi bank agar mampu bersaing dengan yang lainnya sehingga kepercayaan nasabah terjaga.
d. Hubungan Konversi terhadap efesiensi (BOPO)
Konversi adalah perubahan bentuk badan hukum / perubahan suatu sistem ke sistem yang lain dengan tujuan yang lebih baik.
Untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasionalnya, Setelah bank melakukan pengkonversian terdapat perubahan sistem secara menyeluruh dan berpengaruh kepada tingkat efesiensi bank.
9. Hipotesis
Sesuai dengan tujuan penelitian dan kerangka berfikir di atas, maka rumusan hipotesis ini adalah sebagai berikut:
H1: Dummy Konversi berpengaruh secara parsial terhadap tingkat efesiensi (BOPO).
H2: FDR berpengaruh secara parsial terhadap tingkat efesiensi (BOPO)
30 H3: DPK berpengaruh secara parsial terhadap tingkat efesiensi
(BOPO)
H4: NPF berpengaruh secara parsial terhadap tingkat efesiensi (BOPO)
31
BAB III
Metodologi Penelitan
A. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini difokuskan kepada dampak Bank Aceh Syariah sesudah dan sebelum konversi yaitu FDR, NPF dan DPK sebagai variable terkait, terhadap dampak konversi Bank Aceh Syariah. Penelitian ini bersifat kuantitatif atas data sekunder menggunakan model variable dummy.
Penelitian ini dilakukan pada Bank Aceh Syariah. Adapun periode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2018. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan dan laporan tahunan Bank Aceh Syariah melalui website www.bankaceh.co.id.
B. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan suatu hal yang penting dalam penelitian, karena metode ini merupakan strategi untuk mendapatkan data yang diperlukan. Keberhasilan penelitian sebagian besar tergantung pada teknik-teknik pengumpulan data yang digunakan. Pengumpulan data dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan, keterangan, kenyataan-kenyataan, dan informasi yang dapat dipercaya (Bambang, 2002).
Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara cara membuka skripsi, tesis, jurnal dan metode
32 dokumentasi dengan mengumpulkan, mencatat dan mengkaji data sekunder yang berupa laporan bulanan yang dipublikasikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), data statistik lainnya yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia (BI) dan laporan keuangan Bank Aceh, triwulan I-IV tahun 2010-2018.
C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel
Variabel penelitian merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, 2010).
Adapun variabel pada penelitian ini terdiri dari :
a. Variabel Independen (x)
Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).Variabel ini sering disebut sebagai variabel bebas. Dalam suatu persamaan regresi, variabel bebas bisa lebih dari satu (multiple regression). Jika variabel bebas lebih dari satu, mungkin selain yang sifatnya kualitatif tersebut biasanya menunjukan ada tidaknya suatu attribute, yaitu suatu cara untuk membuat kuantifikasi (berbentuk angka) dari data kualitatif (tidak berbentuk angka) ialah dengan memberi nilai 1 (satu) dan 0 (nol).
Angka 0 (nol) jika atribut yang dimaksud tidak ada (tak terjadi) dan diberi angka 1 (satu) jika terjadi. Variabel yang mengambil
33 nilai 0 dan 1 tersebut dinamakan variabel boneka (dummy variable). Di dalam penelitian ini yang menjadi variabel
independen berupa:
1) Dummy Konversi, yang diukur dengan menggunakan
variabel dummy, dimana bernilai 0 untuk periode sebelum melakukan kebijakan konversi dan bernilai 1 untuk periode setelah adanya kebijakan konversi.
2) Financing to Deposit Ratio (FDR), digunakan untuk indikasi
tingkat kemampuan sebuah bank dalam menyalurkan dana yang berasal dari masyarakat. Penyaluran dana ini didapat dari tabungan, giro dan deposito. Apabila FDR menunjukkan rasio yang tinggi, artinya bank tersebut menyalurkan dana yang dimilikinya dan apabila rasio rendah, maka bank itu kelebihan kapasitas dana yang siap dipinjamkan.
3) Non Performing Financing (NPF), digunakan untuk
memberikan gambaran tentang masalah suatu bank yang harus diatasi dengan segera agar tidak menimbulkan dampak yang merugikan pihak bank tersebut. Apabila masalah tersebut tidak diselesaikan, maka akan menimbulkan masalah atau dampak dalam penyaluran kredit pada periode berikutnya.
34 4) Dana Pihak Ketiga (DPK), dana yang dipercayakan oleh
masyarakat kepada bank atas kesepkatan dalam bentuk tabungan, giro dan deposito.
b. Variabel Dependen (y)
Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, 2010). Variabel ini sering disebut juga sebagai variabel terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependennya adalah Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Bank Aceh dari sebelum dan sesudah konversi dari tahun 2010-2018. BOPO mempunyai tujuan sebagai untuk menjadi tolak ukur sebagai efektik / efesiensi perusahaan dalam mengelola biaya operasional.
Apabila rasio menunjukkan nilai yang cenderung meningkat, artinya perusahaan tersebut tidak mampu mengelola biaya operasionalnya. Sedangkan apabila rasio menunjukkan nila yang cenderung kecil, artinya semakin efektif perusahaan tersebut dalam mengelola biaya operasional.
D. Metode Pengolahan Data
Metode pengolahan data ini menggunakan perangkat program
komputer yaitu dengan menggunakan software microsoft excel IBM SPSS 2020.
35
E. Metode Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis model variable dummy. Variable dummy adalah variable yang digunakan untuk mengkuantitatifkan variable yang bersifat kualitatif. Variable dummy merupakan variable yang bersifat kategorikal yang diduga
mempunyai pengaruh terhadap variable yang bersifat kontinue. Variable dummy sering juga disebut variable boneka, binary, kategorik atau dikotom (Basuki, 2016).
Dalam penelitian ini yang terjadi adalah perbedaan situasi, yaitu sebelum dan sesudah Bank Aceh melakukan konversi, oleh karena itu penulis menggunakan regresi linier berganda dengan variabel dummy.
Dalam penelitian ini adapun yang menajdi variable dependen adalah FDR, NPF, DPK sedangkan yang menjadi variable independen yaitu BOPO sebelum dan sesudah Bank Aceh melakukan konversi.
F. Teknik Analisis Data
a) Analisis Regresi linear Berganda
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode analisis linier berganda. Analisis regresi linier berganda merupakan suatu teknik analisis statistik yang mempelajari hubungan antara sebuah variabel terkait (dependent variabel) dengan beberapa variabel bebas (independent variable) melalui suatu persamaan statistik, yang sering dijuga disebut dengan model statistik yang berdasarkan prinsip hubungan atau fungsi statistik (Abuzar Asra, 2017).
36 Keguanaan dari analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel independen berhubungan positif atau negatif.
Bentuk persamaan modal regresi berganda dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Keterangan :
Keterangan :