• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.4. Manfaat Penelitian

Kajian tentang peningkatan sistem kontrol berbasis komunitas terhadap efektifitas program raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru, diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program raskin, diantaranya adalah sebagai;

1. Sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang berwenang seperti Bulog, Pemerintah Kota Pekanbaru, Kecamatan Tenayan Raya dan Kelurahan Rejosari dalam pelaksanaan kontrol pengalokasian beras raskin yang telah dilaksanakan selama ini.

2. Informasi lanjutan bagi peneliti lainnya, khususnya yang memiliki relevansi dengan kontrol berbasis komunitas terhadap pelaksanaan program Raskin bagi rumah tangga miskin.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kajian Tentang Program Raskin

Program pemerintah dalam menyalurkan beras bagi masyarakat miskin (Raskin), merupakan sebuah kebijakan yang dituangkan dalam Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2007 tentang Kebijakan Perberasan yang menginstruksikan Menteri dan Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen tertentu, Gubernur dan Bupati/Walikota seluruh Indonesia untuk melakukan upaya peningkatan pendapatan petani, ketahanan pangan, pengembanngan ekonomi pedesaan dan satabilitas ekonomi nasional.

Program Raskin merupakan bagian integral dari program penanggulangan kemiskinan yang bersinergi dengan program pembangunan lainnya, seperti program perbaikan gizi masyarakat, peningkatan kesehatan, pendidikan dan peningkatan produktivitas masyarakat. Sinergi antar berbagai program ini penting dalam meningkatkan efektifitas masing-masing program dalam pencapaian tujuan dari pembangunan nasional.

Penyaluran beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat yang dikategorikan masyarakat miskin, bertujuan untuk mengurang pengeluaran atau pembiayaan rumah tangga keluarga miskin. Konsep tentang beras bagi masyarakat miskin merupakan kebijakan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, terutama untuk menanggulangi kerawanan pangan dan mencegah munculnya kemiskinan yang absolut. Banyaknya masyarakat yang miskin akan memberikan dampak terhadap keberhasilan pembangunan serta memberikan dampak sosial yang cukup berantai yang terjadi dalam masyarakat. Dengan adanya penyaluran Raskin diharapkan dapat mengurangi berbagai dampak sosial yang ditimbulkan dari masalah kemiskinan dan pengangguran.

Menurut Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (2009:3) program Raskin fokus utamanya adalah rumah tangga sasaran penerima manfaat raskin, yakni rumah tangga miskin hasil pendataan BPS tahun 2008 di desa/kelurahan yang berhak menerima raskin dan terdaftar dalam Daftar Penerima

Manfaat (DPM) yang ditetapkan oleh kepala desa/lurah sebagai hasil musyawarah desa/kelurahan dan disahkan oleh camat.

2.2. Tinjauan Tentang Program Pembangunan dalam Upaya Mengurangi Angka Kemiskinan

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan salah satu bangsa yang berdaulat dan memiliki tujuan nasional yaitu mencapai masyarakat yang adil dan makmur. Untuk mencapai tujuan nasional tersebut perlu dilaksanakan berbagai aspek pembangunan disegala bidang untuk mengejar ketertinggalan bangsa kita dari bangsa yang sudah maju. Untuk itu perlu ditetapkan arah dan kebijakan pembangunan nasional. Pembangunan bangsa dewasa ini perlu diarahkan untuk mencapai hasil pembangunan yang tepat guna dan berdaya guna. Todaro (1997) dalam Bryant dan White (1987:3) mengungkapkan bahwa pembangunan adalah proses multidimensi yang mencakup perubahan-perubahan penting dalam struktur sosial, sikap-sikap rakyat dan lembaga-lembaga nasional, dan juga akselerasi pertumbuhan ekonomi, pengurangan kesenjangangan (inequality), dan pemberantasan kemiskinan absolute.

Kemisikinan yang ada dalam suatu negara merupakan masalah yang dihadapi negara tersebut, dalam memberdayakan masyarakat. Dalam konteks politik, Friedman dalam Suharto (2005) mendefenisikan dalam kaitannya dengan ketidaksamaan kesempatan dalam mengakumulasikan basis kekuasaan sosial yang meliputi; (a) Modal produktif atau asset (tanah, perumahan, alat produksi, kesehatan), (b) sumber keuangan (pekerjaan, kredit), (c) organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama (koperasi, partai politik, organisasi sosial), (d) jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang dan jasa, (e) pengetahuan dan keterampilan, dan (f) informasi yang berguna untuk kemajuan hidup.

Pembangunan nasional yang sedang berjalan dan terus digalakan, merupakan usaha dan upaya yang mencakup peningkatan semua segi kehidupan dari setiap elemen bangsa Indonesia. Pembangunan kedepan memiliki berbagai tantangan dan rintangan. Menurut Korten dan Uphoff dalam Chambers (1988:276) mengungkapkan bahwa suatu tantangan terbesar untuk dasawarsa mendatang ialah mengubah orientasi struktur birokrasi, termasuk perubahan dari

gaya otoriter menjadi gaya partisipatif, dan menumbuhkan sikap tanggap terhadap kebutuhan dari bawah dibandingkan dengan tuntutan dan instruksi dari atas.

Sedangkan Sajogyo dan Pudjiwati (1995:130) menjelaskan bahwa pada dasarnya masalah pembangunan timbul karena pendekatan perencanaan nasional yang sifatnya sektoral, sehingga dibutuhkan usaha khusus ditingkat lokal untuk memadukan lagi berbagai rencana yang terpecah-pecah.

Pelaksanaan pembangunan merupakan pengamalan Pancasila sebagai ideologi bangsa yang pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya merupakan pembangunan yang bertitik tolak kepada pembangunan jasmani (fisik) dan pembangunan rohani (mental). Kesemuanya ini sudah dituangkan dalam konsep dasar Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. Pembangunan yang dilaksanakan hendaknya melahirkan keadilan dalam kemakmuran barsama. Salim (1993:6) mengatakan bahwa hakekat pembangunan adalah pembangunan Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Ini berarti pembangunan mencakup; pertama kemajuan lahiriah, seperti pangan, sandang dan lain-lain; kedua kemajuan bathiniah, seperti pendidikan, rasa aman, rasa sehat dan; ketiga kemajuan yang meliputi seluruh rakyat sebagaimana tercermin dalam perbaikan hidup berkeadilan sosial.

Menurut Tjokroamidjojo (1983:22) menjelaskan bahwa pembangunan adalah ikhtar untuk mengubah masa lampau yang buruk menjadi era baru yang lebih, juga suatu usaha yang terus menerus untuk membuat yang lebih baik menjadi lebih baik lagi. Lebih lanjut Tjokroamidjojo (1977:222) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembangunan adalah segi kehidupan politik, sosial, budaya, ekonomi, dan itu baru berhasil apabila merupakan kegiatan yang melibatkan partisipasi dari seluruh rakyat didalam suatu Negara.

Konsep pembangunan nasional yang dituangkan dalam kebijaksanaan pemerintah hendaknya mewujudkan pembangunan yang merata untuk kemakmuran bangsa. Pelaksanaan pembangunan dari setiap lini kehidupan hendaknya dapat mewujudkan kesejahteraan sosial bagi setiap elemen masyarakat kearah yang lebih bermakna atau bernilai tinggi, melalui usaha yang terencana,

berkesinambungan, dan dinamis. Konsep pembangunan ini hendaknya dapat merubah ikhtiar dari pembangunan itu sendiri dan terukur serta terarah, dimana pembangunan hendaknya dapat merubah masa lampau bangsa yang terpuruk menjadi era pembangunan yang baru yang lebih baik sehingga sesuai dengan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yakni mencapai masyarakat yang adil dan makmur.

Menurut Arief Budiman (2000:2) menjelaskan bahwa pembangunan dapat diukur dengan;

1) Kekayaan rata-rata;

2) Pemerataan;

3) Kualitas kehidupan;

4) Kerusakan lingkungan;

5) Keadilan sosial dan kesinambungan.

Sedangkan menurut Tjokroamidjojo (1977) mengungkapkan bahwa dalam perencanaan pembangunan terdapat unsur-unsur pokok secara umum yang meliputi;

1) Kebijakan dasar rencana pembangunan;

2) Adanya kerangka rencana;

3) Perkiraan sumber-sumber pembangunan;

4) Uraian kerangka kebijaksanaan yang konsisten;

5) Program investasi; dan administrasi pembangunan.

Pandangan di atas mengungkapkan bahwa penetapan perencanaan pembangunan yang dirangkum dalam Musrenbang hendaknya mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat memberikan kontribusi yang cukup baik bagi masyarakat, sehingga program pembangunan dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi masyarakat. Selain dari pada itu pelaksanaan pembangunan hendaknya bersifat berkelanjutan dan adanya pemerataan dari hasil pembangunan bagi setiap masyarakat.

2.3. Pemahaman tentang Efektifitas dalam Kebijakan Pemerintah

Keberhasilan lembaga negara dalam melaksanakan kebijakan yang telah dituangkan dalam aturan yang telah ditetapkan, dapat diukur dengan banyak cara dan berbeda-beda dalam operasionalnya. Salah satu cara yang umum dipakai

dewasa ini adalah dengan menggunakan konsep efektifitas. Efektifitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh suatu organisasi, baik organisasi pemerintahan maupun organisasi lainnya.

Menurut Drucker (1995:5) efektivitas adalah melakukan pekerjaan yang benar (doing the right thing), sedangkan efisiensi adalah melakukan pekerjaan dengan benar (doing things right). Bagi para manajer pertanyaan yang penting adalah bukan bagaimana melakukan pekerjaan dengan benar, akan tetapi bagaimana menemukan pekerjaan yang benar untuk dilakukan, dan memusatkan sumber daya dan usaha pada pekerjaan tersebut. Sedangkan menurut The Liang Gie (1999:12) Efektivitas merupakan suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya sesuatu efek atau akibat yang dikehendaki.

Lebih lanjut mengenai efektivitas dikemukakan oleh Gibson (1986:33) bahwa efektivitas organisasi dapat pula diukur sebagai berikut: 1) kejelasan tujuan yang hendak dicapai; 2) kejelasan strategi pencapaian tujuan; 3) proses analisis dan perumusan kebijaksanaan yang mantap; 4) perencanaan yang matang; 5) penyusunan program yang tepat; 6) tersedianya sarana dan prasarana; 7) sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik. Sedangkan Steer (1985:206) mengemukakan lima kriteria dalam pengukuran efektivitas organisasi yaitu; 1) kemampuan menyesuaikan diri-keluwesan; 2) produktivitas; 3) kepuasan kerja; 4) kemampuan berlaba; 5) pencarian sumberdaya.

Pandangan tersebut diatas dapat dikatakan bahwa, efektifitas merupakan suatu tindakan atau kegiatan yang berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Efektifitas pengawasan merupakan tindakan pengawasan atau kontrol yang dilakukan oleh suatu lembaga atau organisasi, dimana pelaksanaan pengawasan tersebut sesuai dengan petunjuk teknis dan petunjuk laksana, sehingga program yang telah dibuat atau dijalankan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

2.4. Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Kebijakan Pemerintah Partisipasi masayarakat sangat identik dengan peran serta masyarakat dalam berbagai kegiatan pembangunan. Semakin besar partisipasi masyarakat

dalam pembangunan, maka semakin besar pula hasil yang diharapkan dapat diwujudkan. Menurut Koentjoroningrat (1974:79) mengatakan bahwa partisipasi masyarakat dapat berarti ikut sertanya masyarakat dalam menentukan arah, strategi dan kebijaksanaan pembangunan yang dilakukan pemerintah, hal ini terutama berlangsung dalam proses politik, tetapi juga dalam proses sosial hubungan antara kelompok-kelompok kepentingan dalam masyarakat. Lebih lanjut Koentjoroningrat (1974:80) membagi dua tipe partisipasi yaitu partisipasi dalam proses pembangunan yang khususnya dan partisipasi sebagai individu di lauar aktifitas bersama dalam pembangunan.

Partisipasi masyarakat memiliki jenis-jenisnya, hal ini sesuai dengan ungkapan Koentjoroningrat (1974:107)yang menyatakan bahwa dalam partisipasi masyarakat terhadap pembangunan dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu;

1) Partisipasi dalam pelaksanaan suatu usaha pembangunan;

2) Partisipasi dalam proses pengambilan keputusan suatu program pembangunan;

Partisipasi dalam perencanaan program tersebut, sangkut pautnya dengan program lain, pertimbangan alternatif dan skop program yang lebih luas.

Partisipasi masyarakat akan tumbuh jika dalam proses pembuatan kebijakan dengan melibatkan masyarakat dan sesuai dengan aspirasi masyarakat tersebut.

Kebijakan yang tepat akan melahirkan kebijakan publik yang menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam berbagai program pembangunan, termasuk kebijakan dalam menurunkan angka kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat miskin.

Kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah akan dapat berhasil apabila partisipasi masyarakat tinggi dalam menjalankan kebijakan publik. Partisipasi masyarakat ini akan berjalan dengan baik apabila modal sosial yang ada di dimasyarakt tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan perkembangan kelembagaan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Colleta dan Cullen dalam Fredian Tonny Nasdian, 2008 yang menyatakan bahwa Modal sosial merupakan suatu sistem yang mengacu kepada hasil dari organisasi sosial dan ekonomi , seperti pandangan umum atau norma (world view), kepercayaan (trust), pertukaran (reciprocity), pertukaran ekonomi dan informasi (informational and

economic exchange), kelompok-kelompok formal dan informal (formal and informal groups), serta asosiasi-asosiasi yang melengkapi modal-modal lainnya(fisik, manusiawi, budaya) sehingga memudahkan terjadinya tindakan kolektif, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Tindakan-tindakan kolektif masyarakat inilah yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan kebijakan publik secara partisipatif.

Program raskin merupakan sebuah kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah secara nasional. Program tersebut bertujuan untuk mengurangi pengeluaran rumah tangga miskin, sehingga kebijakan yang dibuat seuai dengan konsep kebijakan publik yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan publik merupakan suatu tindakan pemerintah yang memuat program-program yang sudah ditetapkan. Menurut Kismartini, dkk (2005:1.9) bahwa kebijakan publik hanya dapat ditetapkan pemerintah, pihak-pihak lain atau yang lebih dikenal dengan sebutan aktor-aktor kebijakan publik hanya dapat mempengaruhi proses kebijakan publik dalam batas kewenangannya masing-masing. Kebijakan publik yang telah ditetapkan oleh aktor-aktor kebijakan, perlu direalisasikan atau diimplementasikan untuk menjalankan kebijakan tersebut.

Implementasi kebijakan menurut William dan Elmore dalam Sunggono (1994:139) mengungkapkan bahwa implementasi kebijakan merupakan keseluruhan dari kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan.

Sedangkan Wibawa, dkk (1994:15) mengatakan bahwa kebijakan publik selalu mengandung tiga komponen dasar, yaitu tujuan yang luas, sasaran yang spesifik dan cara mencapai sasaran tersebut. Dalam cara mencapai sasaran tersebut terkandung beberapa komponen lain yakni siapa implementornya, jumlah dan sumber dana, siapa kelompok sasarannya, bagaimana program dan sistem manajemen dilaksanakan, serta kinerja kebijakan diukur. Didalam cara ini komponen tujuan yang luas dan sasaran yang spesifik diperjelas dan kemudian diinterprestasikan. Cara-cara mencapai sasaran ini biasa disebut dengan implementasi kebijakan.

Menurut Meter dan Horn (1975:6) yang mendefenisikan implementasi kebijakan publik sebagai tindakan publik maupun swasta, baik secara individu

maupun kelompok, ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah diterapkan dalam keputusan kebijakan. Defenisi ini menyiratkan adanya upaya mentransformasikan keputusan ke dalam kegiatan operasional, serta mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Implementasi kebijakan dalam pembangunan Negara perlu melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan swasta untuk mempercepat pelaksanaan kebijakan yang melahirkan konsep pembangunan dalam suatu Negara.

Mazmanian dan Sabetier dalam Wahab (1997:71) mengungkapkan bahwa, peran penting dari analisis implementasi kebijakan negara ialah mendefenisikan variabel-variabel yang mempengaruhi tercapainya tujuan formal pada proses implementasi. Variabel-variabel yang dimaksud diklasifikasikan menjadi tiga kategori besar, yaitu : (1) Mudah tidaknya masalah yang akan digarap dan dikendalikan; (2) kemampuan keputusan kebijakan untuk menstrukturkan secara tepat proses implementasi; dan (3) pengaruh langsung berbagai variabel politik terhadap keseimbangan dukungan bagi pencapaian tujuan kebijakan tersebut.

Grindle dalam Amir Santoso (1986:13) mengungkapkan bahwa, keseluruhan proses kebijakan baru bisa dimulai bila tujuan umum dari kebijakan tersebut telah ditetapkan , program pelaksanaan telah dibuat, serta dana telah dialokasikan untuk pencapaian tujuan kebijakan. Selanjutnya menurut Grindle (1980:12) mengatakan bahwa, implementasi kebijakan bukanlah sekedar terkait dengan bagaimana mekanisme penjabaran berbagai keputusan politik ke dalam prosedur rutin melewati saluran-saluran birokrasi, melainkan lebih dari itu menyangkut masalah konflik, keputusan, dan siapa yang memperoleh apa dari suatu kebijakan.

Dari pandangan di atas dapat dikatakan bahwa implementasi kebijakan dalam pembangunan, perlu adanya formulasi kebijakan yang tepat guna dan berdaya guna, sehingga dalam mengimplementasikan kebijakan dapat mencapai sasaran yang diharapkan. Selain dari pada itu implementasi kebijakan juga perlu adanya evaluasi kebijakan untuk memperbaiki kelemahan yang dihadapi serta sebagai bahan masukan atau feed back dalam membuat atau merumuskan kebijakan yang baru.

Kebijakan publik yang sudah direalisasikan atau diimplementasikan perlu adanya evaluasi kebijakan, sebagai bahan untuk melahirkan kebijakan yang lebih baik. Menurut Subarsono (2006:119) evaluasi adalah kegiatan untuk menilai tingkat kinerja suatu kebijakan. Evaluasi baru dapat dilakukan kalau suatu kebijakan sudah berjalan cukup waktu. Lebih lanjut Subarsono mengatakan bahwa tujuan evaluasi kebijakan adalah sebagai berikut;

1) Menentukan tingkat kinerja kebijakan.

2) Mengukur tingkat efisiensi suatu kebijakan.

3) Mengukur tingkat keluaran (out-come) suatu kebijakan.

4) Mengukur dampak suatu kebijakan.

5) Untuk mengetahui apabila ada penyimpangan.

6) Sebagai bahan masukan (input) untuk kebijakan yang akan datang.

Evaluasi kebijakan juga bertujuan untuk mengukur keberhasilan dari sebuah kebijakan. Pengukuran tersebut diperlukan berbagai indikator-indikator sebagai penilaian dari hasil kebijakan tersebut. Menurut Wibawa (1994:9) evaluasi kebijakan bermaksud untuk mengetahui 4 aspek, yaitu: (1) proses pembuatan kebijakan, (2) proses implementasi, (3) konsekuensi kebijakan dan (4) efektivitas dampak kebijakan.

Sedangkan Menurut Dunn (1994) dalam Subarsono (2006:126) mengatakan bahwa, ada lima indikator evaluasi kebijakan sebagai mana dijelaskan tabel berikut ini;

Tabel 1 Indikator Evaluasi Kebijakan

No. Kriteria Penjelasan

1. Efektivitas Apakah hasil yang diinginkan telah tercapai?

2. Kecukupan Seberapa jauh hasil yang telah tercapai dapat memecahkan masalah?

3. Pemerataan Apakah biaya dan manfaat didistribusikan merata kepada kelompok masyarakat?

4. Responsivitas Apakah hasil kebijakan memuat preferensi / nilai kelompok dan dapat memuaskan mereka?

5 Ketepatan Apakah hasil yang dicapai bermanfaat?

Sumber : Dunn 1994:405

Dari gambaran tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kebijakan yang ditetapkan dalam pelaksanaan program pembangunan perlu melihat kelima indikator tersebut, guna melihat sejauh mana kebijakan yang ditetapkan dalam perencanaan pembangunan tersebut. Setiap kebijakan yang dibuat diharapkan dapat berdaya guna dan berhasil guna, sehingga kebijakan yang dibuat dapat dirasakan manfaat bagi masyarakat banyak. Program yang ditetapkan oleh pemerintah merupakan sebuah kebijakan yang perlu adanya pengawasan atau kontrol terhadap pelaksanaan program tersebut, sehingga tujuan dari kebijakan yang dibuat dapat berdaya guna dan tepat guna, terutama dalam meningkatkan pembangunan dan memberdayakan masyarakat, khususnya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Kontrol berbasis komunitas yang dilakukan terhadap pelaksanaan program raskin hendaknya melahirkan sebuah kebijakan yang dapat memberikan evaluasi terhadap kebijakan yang ditetapkan selama ini, sehingga tujuan dari kebijakan tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan.

2.5. Pemberdayaan Komunitas dan Swadaya Masyarakat Miskin

Pemberdayaan masyarakat miskin merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melahirkan kemadirian dari masyarakat tersebut. Menurut Prijono dan Pranarka (1996), proses pemberdayaan pada dasarnya mengandung dua kecenderungan : (a) kecenderungan primer dari makna pemberdayaan, yakni proses pemberdayaan menekankan kepada proses memberikan atau mengalihkan kekuasaan, kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu menjadi lebih berdaya. Proses ini dilengkapi pula dengan upaya membangun asset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi. (b) Kecenderungan sekunder dari makna pemberdayaan menekankan pada proses menstimulasi, mendorong atau memotovasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog.

Pengklasifikasian makna pemberdayaan ini bukan merupakan klasifikasi yang kaku, namun antar keduanya bisa saling terkait. Agar kecenderungan primer dapat terwujud, seringkali harus melalui kecenderungan sekunder terlebih dahulu.

Menurut Susiladiharti dalam abu Huraeroh (2003:172) mengungkapkan bahwa terdapat lima hal penting yang perlu dilakukan secara runtun dan stimultan dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat, yaitu; (1) upaya untuk meningkatkan suplai kebutuhan bagi kelompok masyarakat yang paling tidak berdaya, (2) upaya penyadaran, (3) penguatan institusi, (4) upaya penguatan kebijakan dan (5) pengembangan jaringan kerja. Sedangkan menurut Friedman dalam Mardiniah (2003), bahwa pemberdayaan dimaknai sebagai mendapatkan keuatan (power) dan mengkaitkannya dengan kemampuan golongan miskin untuk mendapatkan akses ke sumber-sumber daya yang menjadi dasar kekuasaan dalam suatu sistem atau organisasi. Akses tersebut dipergunakan untuk mencapai kemampuan dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian, golongan miskin dapat mengorganisasikan kemampuan dan potensi yang dimiliki untuk menentukan, merencanakan dan melaksanakan apa yang menjadi keputusan kolektif mereka.

Pemberdayaan masyarakat yang melahirkan kemandirian masyarakat, akan menjadikan masyarakat miskin yang swadaya dalam memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. Menurut Mubyarto (1994) swadaya masyarakat dipahami sebagai semangat untuk membebaskan diri dari ketergantungan pada pihak luar atau kekuatan dari atas dengan memanfaatkan sumber daya yang mereka miliki. Selain itu, swadaya masyarakat merupakan suatu kemampuan untuk memanfaatkan dan mengembangkan fasilitas-fasilitas yang telah tersedia sebagai hasil pembangunan yang dilaksanakan pemerintah.

Masyarakat miskin harus diberdayakan terlebih dahulu agar dapat meningkatkan keswadayaannya. Menurut Jamasy (2004) mengatakan bahwa, salah satu pendekatan pemberdayaan yang belakangan ini mampu mengangkat mereka yang miskin agar menjadi berdaya dan berkembang adalah melalui media kelompok. Mereka diorganisir dalam wadah kelompok, dan kelompok itu dimultifungsikan menjadi media pembelajaran anggota sekaligus proses tukar-menukar informasi, pengetahuan dan sikap. Secara perlahan, kekuatan individu akan muncul menjadi kekuatan kelompok dan di situlah berlangsung proses penguatan atau pemberdayaan.

Pemberdayaan masyarakat melalui swadaya masyarakat, perlu membentuk kelompok atau perkumpulan yang menjadi pemersatu dalam memberdayakan masyarakat miskin. Pembentukan kelompok masyarakat diarahkan sesuai dengan mata pencaharian masyarakat, sehingga segala keluhan dan kelemahan yang dihadapi oleh masyarakat miskin akan dapat ditanggulangi dan usaha mencari pemecahan masalah dapat dilakukan secara berkelompok. Dengan adanya kelompok masyarakat, maka pemerintah akan mudah dalam menyalurkan berbagai bantuan dalam program pembangunan dan masyarakat akan mudah mengakses bantuan yang disalurkan oleh pemerintah tersebut.

2.6. Kajian Tentang Sistem Kontrol

Program yang dibuat oleh pemerintah, perlu adanya pengendalian atau kontrol terhadap implementasi dari program yang ditetapkan. Salah satu cara untuk melakukan kontrol terhadap kebijakan tersebut adalah dengan melaksanakan sistem kontrol. Sistem kontrol secara umum dapat dimaknai sebagai suatu proses pengaturan atau pengendalian terhadap satu atau beberapa besaran (variabel atau parameter) sehingga berada dalam rangkaian program yang ditetapkan, sehingga program tersebut dapat berdaya guna dan berhasil guna sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Sistem kontrol program Raskin yang dilakukan oleh pemerintah berawal dari konsep yang ditetapkan oleh Bulog (2001) yang mengatakan bahwa pelaksanaan distribusi Raskin diperoleh dari alokasi yang diajukan kepala desa melalui kecamatan dan kabupaten kepada Kepala DOLOG atau Sub-DOLOG sehingga memperoleh Delivery Order (DO). Atas dasar DO tersebutlah distribusi beras dilakukan oleh Satgas Raskin dari gudang ketitik distribusi.

Pelaksanaan sistem kontrol dilakukan untuk menghindari terjadinya penyimpangan dalam pendistribusian Raskin, terutama dalam pendataan keluarga miskin. Selain dari pada itu sistem kontrol yang dilakukan meliputi beberapa aspek terhadap penyimpangan penyaluran Raskin (www.uplink.urbanpoor.or.id) yakni;

1) Kualitas Raskin yang jelek (apek, kotor, banyak kutunya), sehingga masyarakat yang menerima, kemudian menjualnya lagi untuk dibelikan yang lebih baik.

2) Salah sasaran yaitu rumah tangga yang seharusnya tidak menerima Raskin,

2) Salah sasaran yaitu rumah tangga yang seharusnya tidak menerima Raskin,