BAB VI EFEKTIFITAS KONTROL PROGRAM RASKIN
6.2 Sistem Kontrol dalam Peningkatan Pengawasan
Sistem kontrol yang dilakukan dalam pelaksanaan program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, diharapkan dapat menekan berbagai kendala dalam pelaksanaan program raskin tersebut, sehingga program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, menjadi tepat sasaran, tepat waktu, tepat administrasi dan tepat guna. Untuk itu perlu diterapkan sistem kontrol untuk mencegah berbagai masalah dalam program Raskin yang terjadi selama ini, yakni;
a. Kualitas Raskin yang jelek (apek, kotor, banyak kutunya).
Kontrol terhadap kualitas raskin perlu dilakukan dengan baik, jika beras yang diterima masyarakat tidak baik berdampak terhaddap perubahan perilaku masyarakat yang menerima, kemudian menjualnya lagi untuk dibelikan yang lebih baik, kondisi ini akan berpengaruh terhadap berkurang jumlah beras yang diterima masyarakat. Untuk itu, setiap pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, perlu menerapkan kontrol yang lebih baik untuk mewujudkan kualitas beras yang lebih baik dan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat miskin.
b. Salah sasaran yaitu rumah tangga yang seharusnya tidak menerima Raskin, ternyata terdaftar juga sebagai penerima akibat kebijakan ditingkat lokal yang meratakan jatah Raskin tersebut untuk seluruh penduduknya.
Sistem kontrol yang diterapkan dalam hal ini adalah dalam proses pendataan rumah tangga miskin. Pendataan rumah tangga miskin yang dilakukan oleh pihak RT dan RW dilingkungan Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, hendaknya dilakukan peninjauan kembali, agar tidak terdapat rumah tangga yang tidak layak menerima program Raskin, sedangkan keluarga miskin tidak menerima beras tersebut. Kondisi ini akan menumbulkan ketidakadilan bagi masyarakat, sehingga program Raskin menjadi kurang tepat sasaran.
c. Ada biaya tambahan, sehingga harga perkilogram menjadi lebih mahal dari yang seharusnya.
Masyarakat perlu dilibatkan untuk melaksanakan sistem kontrol dalam penetapan harga Raskin yang diterima oleh masyarakat miskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya. Upaya ini dilakukan agar tidak terjadinya tindakan penyelewengan dari oknum-oknum yanng meraih keuntungan, sehingga masyarakat miskin menjadi terbebani atau bertambahnya biaya yang mereka keluarkan dalam membeli beras tersebut.
d. Jatah Raskin dijual lagi kepasar oleh petugas pelaksana.
Selama ini Raskin yang ada di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, belum ditemukan adanya oknum petugas lapangan yang menjual Raskin kepasar, namun setiap aparat yang terlibat dalam Satker Raskin tersebut perlu diawasi oleh masyarakat maupun LSM agar tidak terjadi upaya menjual Raskin kepasar dengan harga yang tinggi, sehingga sasaran dari Raskin tersebut hanya menguntungkan oknum tertentu.
e. Jumlah timbangan yang berkurang.
Tindakan spekulatif bisa saja terjadi kapan saja dan dimana saja, untuk itu perlu kontrol yang melekat untuk mencegah adanya upaya pengurangan timbangan, sehingga beras yang diterima oleh rumah tangga miskin sebagai rumah tangga sasaran menjadi berkurang. Proses penimbangan beras perlu diawasi mulai dari Divisi Bulog Kota Pekanbaru sampai Raskin yang diterima oleh masyarakat, sehingga Raskin tidak mengalami pengurangan dari berat yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.
f. Proses dan mekanisme pencairan raskin.
Proses dan mekanisme pencairan raskin yang dilaksanakan selama ini di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, berjalan dengan baik, naumn masih ada beberapa kendala di lapangan seperti adanya tungggaka oleh petugas lapangan.
g. Kesalahan data yang diajukan.
Kontrol dalam pendataan rumah tangga miskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, kurang berjalan dengan baik, sehingga terjadinya peningkatan rumah tangga miskin setiap tahunnya di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya. Tahun 2007 jumlah rumah tangga miskin sebanyak 587 RTM, meningkat menjadi 625 RTM pada tahun 2008; sedangkan pada tahun 2009 menjadi peningkatan yang cukup signifikan yakni 821 RTM. Keadaan ini menunjukan belum berjalannya proses pendataan rumah tangga miskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, belum berjalan dengan baik.
h. Kurang koordinasi mulai dari pusat sampai di tingkat pelaksana.
Koordinasi yang dilakukan merupakan bagian dari pelaksanaan sistem kontrol untuk mengetahui hambatan atau kendala yang ditemukan dalam pelaksanaan program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya.
Koordinasi yang dilakukan selama ini hanya berjalan ditingkat kelurahan dan kecamatan, sedangkan ditingkat petugas lapangan dalam hal ini RW dan RT, kurang mendapaatkan berbagai informasi tentang raskin, sehingga dalam mendata rumah tangga miskin menjadi kurang akurat dan mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Sistem Kontrol yang dilakukan oleh pemerintah, masih bersifat sistem kontrol reaktif, artinya jika sudah terjadi berbagai masalah dalam pelaksanaan program Raskin baru dilakukan pengawasan, sehingga pelaksanaan program Raskin menjadi kurang efektif dan efisien. Kurangnya kontrol terhadap pelaksanaan Raskin, juga memunculkan berbagai upaya untuk melakukan tindakan spekulatif terhadap pendistribusian beras oleh petugas lapangan bahkan oleh masyarakat penerima dari program Raskin tersebut.
Berdasarkan paparan di atas didapat beberapa kesimpulan mengenai bahwa sistem kontrol raskin yang mengakibatkan sistem raskin belum efektif berjalan, disebabkan oleh beberapa hal :
1. Sasaran raskin kepada penerima manfaat belum tepat
2. Harga raskin di tingkat komunitas tidak sesuai dengan harga yang ditetapkan 3. Jumlah raskin yang didistribusikan tidak sesuai dengan peruntukannya.
4. Proses dan mekanisme pencairan dan pendistribusian raskin masih mengalami kendala.
5. Kurangnya koordinasi pendistribusian raskin di tingkat petugas lapangan.
Secara umum dapat diketahui bahwa pemberdayaan masyarakat miskin melalui berbagai program yang ditetapkan oleh pemerintah, perlu waktu yang cukup relatif lama untuk mewujudkan berbagai program yang dapat memberdayakan masyarakat atau rumah tangga miskin yang ada dalam suatu wilayah. Hal ini juga terjadi di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, dalam pelaksanaan program Raskin yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat untuk mengurangi pengeluaran rumah tanga miskin, dan membantu pemberdayaan bagi masyarakat.
7.1. Identifikasi Permasalahan dalam Kontrol Berbasis Komunitas 1. Latar Belakang
Dalam rangka menjawab salah satu permasalahan pokok yang ada dalam kajian ini, yaitu Bagaimana sistem kontrol berbasis komunitas yang telah dilaksanakan dalam pengalokasian program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, telah dilakukan serangkaian kegiatan mulai dari pemetaan sosial, pelaksanaan program Raskin, kontrol yang dilakukan dari seluruh elemen yang terlibat dalam pelaksanaan program raskin tersebut.
Berdasarkan kegiatan-kegiatan tersebut maka peneliti melakukan penyusunan rancangan dalam pelaksanaan kontrol berbasis komunitas untuk mewujudkan efektifitas pelaksanaan program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya.
2. Identifikasi Permasalahan
Upaya penggalian potensi, permasalahan dan berbagai upaya yang telah dilakukan selama ini, terutama dalam kontrol berbasis komunitas terhadap pelaksanaan program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya.
Kontrol yang dilakukan mulai dari Sub Divisi regional Bulog Kota Pekanbaru, Satker Raskin Pemerintah Kota Pekanbaru, Satker Kecamatan dan Petugas Raskin ditingkat Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, masih memiliki kesamaan masalah dalam melakukan kontrol berbasis komunitas, mulai dari
perumusan kebijakan, implementasi kebijakan sampai pada tahap evaluasi kebijakan terhadap pelaksanaan program Raskin tersebut.
Tindakan identifikasi masalah dalam pelaksanaan kontrol berbasis komunitas dalam pelaksanaan program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, dapat dilakukan upaya dalam memilah berbagai masalah yang muncul dalam pelaksanaan. Untuk itu perlu penjabaran lebih lanjut terhadap identifikasi masalah yang terjadi selama ini dalam pelaksanaan kontrol berbasis komunitas terhadap pelaksanaan program Raskin, khususnya di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya.
3. Permasalahan dalam Perencanaan Program Raskin
Identifikasi masalah dalam tahap perencanaan program Raskin yang pada awalnya akan digulirkan ditengah-tengah masyarakat, tidak ditemukan adanya perencanaan yang matang dalam menentukan atau menetapkan masyarakat yang masuk dalam kategori rumah tangga sasaran atau rumah tangga miskin.
Permasalahan dalam perencanaan, tidak adanya indikator yang jelas serta tujuan yang jelas dalam pelaksanaan program Raskin, sehingga harapan dari pelaksanaan program tersebut kurang terealisasi, yakni memberdaya masyarakat miskin dan meningkatkan taraf hidup mereka, khususnya di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya. Kondisi ini tidak sesuai dengan tujuan perencanaan jangka panjang yang dapat mengurangi angka kemiskinan, seuai dengan visi dari Pemerintah Provinsi Riau yakni K2i, yang salah satunya mengurangi angka kemiskinan yang ada di Provinsi Riau.
4. Permasalahan dalam Pendataan Rumah Tangga Miskin
Permasalahan yang muncul adalah, bertambahnya jumlah keluarga miskin setiap tahunnya di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya. Kondisi ini menunjukan bahwa dalam proses pendataan yang dilakukan oleh aparat yang terlibat dalam menentapkan rumah tangga miskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, tidak memiliki keakursi data yang lebih baik. Pada proses ini tidak adanya kontrol yang lebih baik dari aparat kelurahan termasuk
tokoh masyarakat yang terlibat dalam memutuskan jumlah rumah tangga miskin dalam musyawarah Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya.
5. Permasalahan dalam Evaluasi Program Raskin
Evaluasi yang dilakukan selama ini terhadap pelaksanaan program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, belum menunjukan adanya upaya untuk melahirkan kebijakan yang lebih baik dari pelaksanaan program Raskin yang sudah bergulir beberapa tahun. Menurut Subarsono (2006:119) evaluasi adalah kegiatan untuk menilai tingkat kinerja suatu kebijakan. Evaluasi baru dapat dilakukan kalau suatu kebijakan sudah berjalan cukup waktu.
Kebijakan dalam pelaksanaan Program Raskin sudah berjalan cukup lama, khusunya di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, namun upaya untuk memberdayakan masyarakat miskin belum menunjukan hasil yang lebih baik.
Pelaksanaan program tersebut selama ini justru memunculkan peningkatan jumlah rumah tangga miskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, sehingga program ini perlu dilakukan evaluasi, mulai dari pendataan keluarga miskin yang layak menerima Raskin, sampai pada proses pendistribusian Raskin tersebut di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru.
7.1.1. Penggalian Strategi dalam Kontrol Berbasis Komunitas
Penggalian strategi yang tepat dalam mewujudkan efektifitas palaksanaan program raskin yang dilakukan di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, perlu mengacu kepada beberapa aspek yang dapat menunjang terlaksananya program ke arah yang lebih baik. Aspek yang menjadi strategi dalam mencapai sasaran terhadap kontrol berbasis komunitas dalam pelaksanaan program raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, dapat dijabarkan dalam uraian berikut ini;
1) Tepat Sasaran Penerima Manfaat.
Tepat sasaran dan manfaat yang diharapkan adalah program Raskin yang dilaksanakan untuk mengurangi pembiayaan atau pengeluaran rumah tangga miskin, perlu adanya penetapan identitas yang jelas dari warga atau masyarakat yang benar-benar tergolong dalam keluarga miskin, dengan kata lain sasaran dari
program Raskin benar-benar dialokasikan bagi keluarga yang kurang mampu atau keluarga miskin. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan lembaga sosial yang ada di masyarakat, seperti arisan, pengajian, termotivasi sifat kesetiakawanan sosialnya sehingga secara sukarela mau memberikan bantuan yang terkumpul secara komunal kepada anak-anak yang tidak mampu di lingkungan sosialnya. Kegiatan – kegiatan lembaga sosial masyarakat ini diharapkan dapat secara tepat mengidentifikasi penerima raskin. Lembaga sosial ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kepada pihak-pihak yang berwenang (secara struktural) bertanggung jawab terhadap pendistribusian raskin.
Tindakan ini dilakukan untuk meminimalisasi adanya penambahan jumlah rumah tangga miskin dan sasaran dari program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya dapat membantu masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakkat miskin sebagai rumah tangga sasaran penerima program Raskin.
2) Tepat Jumlah.
Tepat jumlah yang dimaksud adalah beras yang disalurkan kepada rumah tangga mencukupi kebutuhan rumah tangga tersebut. Namun beras yang disalurkan selama ini dibatasi jumlahnya hanya 15 Kg/RTS/bulan. Jumlah ini, belumlah mencukupi kebutuhan bagi masyarakat miskin, namun dari jumlah beras tersebut diharapkan dapat mengurangi pengeluaran masyarakat miskin, dan pengeluaran yang digunakan untuk beras tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lainnya.
Jumlah beras yang disalurkan bagi rumah tangga miskin melalui program Raskin merupakan stimulasi untuk memberdayakan masyarakat miskin dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan mereka yang merupakan unsur utama dalam pemenuhan kebutuhan pokok keluarga. Jumlah beras yang ditetapkan oleh pemerintah perlu adanya kontrol berbasis komunitas, agar beras yang disalurkan kepada rumah tangga miskin tidak mengalami pengurangan jumlah atau penyusutan jumlah, sehingga jumlah yang ditetapkan oleh pemerintah benar-benar jumlah yang tepat atau pas diterima oleh masyarakat miskin. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menyebarkan informasi kepada anggota lembaga sosial sehingga jumlah beras yang seharusnya diterima dapat sesuai dengan jumlah yang telah direncanakan. Pengawasan dalam jumlah beras yang didistribusikan harus
dilaksanakan secara mandiri oleh masyarakat dengan memperkuat sistem pengawasan sosial dalam bentuk “shame culture” sehingga terbentuk sistem pengawasan secara sosial dengan memberlakukan hukuman secara sosial bagi masyarakat yang secara sengaja menyelewengkan jumlah raskin yang seharusnya diterima.
3) Tepat Harga
Harga yang ditetapkan dalam program Raskin oleh Pemerintah yakni Rp. 1.600,- perkilogram. Harga ini merupakan harga yang sangat murah, mengingat harga beras dipasaran harganya berkisar di atas p. 5.000,-. Harga yang tepat akan membantu biaya pengeluaran rumah tangga miskin, sehingga mereka dapat membeli beras dengan harga yang terjangkau. Harga jual dari beras yang ada dalam program Raskin, perlu adanya kontrol berbasis komunitas, untuk menghindari kenaikan harga oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, dengan dalil biaya operasional dan transportasi petugas. Dengan adanya “shame culture” maka harga raskin dapat dikontrol secara langsung oleh masyarakat, sehingga petugas yang berwenang akan merasa malu apabila melakukan tindakan seperti menaikkan harga di luar yang telah ditetapkan
Kontrol berbasis komunitas terhadap harga beras yang ditetapkan, sangat diperlukan terutama dalam proses sosialisasi program Raskin bagi masyarakat.
Jika sosialisasi harga yang ditetapkan pemerintah diketahui khlayak ramai, khususnya rumah tangga miskin, maka tindakan dalam menaikan harga dengan dalil apapun akan dapat terbendung, sehingga beras yang disalurkan kepada masyarakat miskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, akan tepat harga, dengan kata lain harga yang ditetapkan oleh pemerintah akan terealisasi sampai kepada masyarakat miskin.
4) Tepat Waktu
Tepat waktu merupakan, waktu pelaksanaan dari program Raskin sesuai dengan rencana distribusi. Artinya beras yang disalurkan terlaksana setiap bulannya sehingga tidak terjadi penumpukan digudang Sub Divisi Regional Bulog Kota Pekanbaru. Jika terjadi penumpukan akan mempengaruhi kualitas beras
yang sampai kepada masyarakat atau rumah tangga miskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya.
Waktu yang telah ditetapkan dalam Pedoman Umum Raskin, hendaknya direalisasikan oleh setiap Tim Koordinasi Raskin, baik Tim Koordinasi Raskin Provinsi, Kabupaten/Kota maupun pihak Kecamatan dan Kelurahan. Kontrol terhadap waktu pendistribusian dilakukan oleh petugas yang berwenang, melalui kerjasama dan koordinasi dengan antar tim petugas, sehingga setiap permasalahan yang timbul dalam setiap proses pendistribusian raskin dapat secara cepat dan tepat dapat diatasi, terutama pada daerah-daerah yang terisolir yang sangat minim dalam akses transportasi dan kondisi alam yang berat dan biasanya mempunyai biaya transportasi yang cukup mahal.
Tepat waktu juga mengurangi biaya operasional, terutama biaya dalam pengawasan dan penjagaan beras yang ada di gudang beras kecamatan ataupun ditingkat kelurahan.
5) Tepat Administrasi.
Tepat administrasi dimaksud adalah terpenuhinya persyaratan administrasi secara benar, lengkap dan tepat waktu. Artinya administrasi yang tepat merupakan salah satu indikator untuk menetapkan kebijakan oleh pemerintah dalam menindaklanjuti berbagai program, khusunya yang berkaitan dengan program Raskin. Administrasi yang tepat dimulai dari pendataan rumah tangga sasaran atau keluarga miskin yang dilaporkan oleh Kelurahan Rejosari kepada pihak Kecamatan Tenayan Raya sampai kepada Tim Koordinasi Raskin Kota Pekanbaru.
Pengidentifikasian nama rumah tangga miskin yang berhak menerima raskin yang dilakukan berdasarkan informasi dari lembaga sosial yang ada perlu dilaporkan ke Kelurahan Rejosari, Kecamatan serta Tim Koordinasi Raskin Kota Pekanbaru. Disini control komunitas melalui lembaga sosial menjadi penting untuk memperoleh data siapa yang seharusnya menerima raskin, sehingga tepat administrasi dapat tercapai.
Administrasi yang tepat juga menjadi dokumen atau data publikasi yang dapat mempermudah pengawasan terhadap perkembangan jumlah rumah tangga miskin dan jumlah beras yang disalurkan dalam program Raskin di Kelurahan
Rejosari Kecamatan Tenayan Raya. Administrasi yang baik dan benar juga memberikan kemudahan bagi setiap Tim Koordinasi dalam melakukan evaluasi kebijakan terhadap pelaksanaan program Raskin disetiap kelurahan yang merupakan sasaran utama dalam menyalurkan program raskin, bagi rumah tangga miskin.
6) Tepat Kualitas
Kualitas beras yang disalurkan dalam program Raskin, merupakan beras yang memiliki kalayakan untuk dikonsumsi. Beras yang disalurkan oleh pemerintah juga perlu dijaga, terutama dalam penempatan beras digudang penyimpanan beras. Beras yang kualitas tinggi jika tidak ditempatkan pada tempat yang baik dan benar akan menjadi beras yang berkualitas rendah. Dengan kontrol yang terbentuk melalui shame culture diharapkan dapat tercipta cara yang efektif untuk mempertahankan kualitas raskin agar tidak ditukar dengan beras yang berkualitas rendah. Shame culture diharapkan juga dapat mengontrol secara ke seluruhan sestem pendistribusian raskin yang tercakup pada 6 T. Kualitas beras yang disalurkan oleh pemerintah pusat merupakan beras dengan kualitas baik dan layak dikonsumsi.
Kontrol berbasis komunitas terhadap kualitas beras yang disalurkan bagi rumah tangga miskin khususnya di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, perlu dilakukan dengan baik, untuk menghindari adanya upaya yang dilakukan oleh oknum tertentu dengan menukar beras yang kualitas rendah. Tindakan pengawasan ini dilakukan agar beras yang diterima oleh masyarakat miskin sesuai dengan kulitas beras yang ditetapkan berdasarkan standar kualitas beras yang ditetapkan oleh Bulog.
Disamping kontrol yang dilakukan oleh pemerintah maupun komunitas perlu juga dilihat faktor pengaruh dari program raskin itu sendiri, apakah program tersebut sudah tepat untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat, khusunya penerima raskin. Untuk kontrol komunitas terhadap program raskin maka sebaiknya pembuat kebijakan mempertanyakan dulu kepada masyarakat apa yang menjadi kebutuhan mereka, sehingga program tersebut merupakan wujud dari kebutuhan masyarakat.
Pendekatan Top Down yang pernah dilakukan pemerintah sudah tidak sebaiknya diterapkan lagi dalam mencapai keberhasilan program. Pendekatan Bottom Up akan lebih mencapai sasaran untuk program seperti raskin ini.
7.1.2. Pemanfaatan Budaya Masyarakat
Kelurahan Rejosari yang di dalamnya terdapat berbagai potensi-potensi lokal seperti kelembagaan yang bisa dikembangkan sebagai alat kontrol berbasis komunitas, antara lain kelompok arisan, pertemuan, pengajian Majelis Ta’lim dan jemaah masjid. Kelembagaan ini sangat kuat dalam menerapkan nilai-nilai sosial karena berlandaskan agama. Nilai nilai ini telah berkembang menjadi budaya masyarakat seperti shame culture, kegotongroyongan, saling memberi dan saling menolong. Hal – hal tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alat komunitas dalam mengontrol berbagai program pemerintah. Program pemerintah tersebut dalam hal ini adalah program nasional, yaitu suatu program pengadaan beras untuk masyarakat miskin (raskin).
7.1.3. Ruang Sinergitas
Ruang sinergitas merupakan integrasi yang terjadi antara pemerintah sebagai pelaksana program raskin dengan komunitas sebagai subjek pelaksana program raskin. Berbagai persoalan yang timbul dalam pelaksanaan program raskin dapat dipecahkan melalui koordinasi dan sinkronisasi pada tingkat pelaksana program yang disinergikan dengan komunitas. Komunitas dalam hal ini adalah jemaah masjid yang merupakan representasi berbagai komunitas yang ada di Kelurahan Rejosari. Ruang sinergitas ini diharapkan dapat memberikan peningkatan peran masyarakat dalam mengontrol teknis pelaksanaan pendistribusian raskin yang tercakup pada 6 T (tepat sasaran, tepat harga, tepat jumlah, tepat waktu, tepat kualitas dan tepat administrasi).
7.2. Analisis Sistem Kontrol Berbasis Komunitas Terhadap Program Raskin Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru, merupakan sebuah wilayah yang terdiri dari kelompok atau komunitas dari masyarakat setempat yang memiliki mata pencaharian yang beragam, dengan
jumlah penduduk sebanyak 30.030 Jiwa dan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 5.993 KK, dengan jumlah 26 Rukun Warga (RW) dan sebanyak 99 Rukun Tetangga (RT). Sementara itu menurut Soekanto (1993:28) menyatakan bahwa syarat-syarat suatu masyarakat tempatan (community) paling sedikit adalah: (1) Adanya beberapa rumah atau rumah tangga yang terkonsentrasi di suatu wilayah tertentu, (2) Warga-warganya mempunyai taraf interaksi sosial yang terintegrasikan, (3) Adanya rasa kebersamaan, yang tidak perlu didasarkan pada adanya hubungan kekerabatan.
Sebagai sebuah komunitas, Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan dari setiap warganya. Namun dalam komunitas yang ada di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya terdapat keluarga miskin atau rumah tangga miskin yang menjadi rumah tangga sasaran dari program Raskin. Pelaksanaan program Raskin bagi masyarakat yang tergolong ke dalam Rumah Tangga Miskin, merupakan suatu upaya untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga dari masyarakat miskin. Untuk mewujudkan masyarakat miskin yang memiliki taraf kehidupan yang lebih baik, perlu perhatian untuk waktu yang lama dalam mewujudkan kemandirian masyarakat miskin melalui program-program yang dapat mewujudkan pemberdayaan masyarakat miskin tersebut.
Kontrol yang dilakukan dalam pendistribusian program Raskin di Kota Pekanbaru, khususnya pada Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, dapat ditelusuri untuk mengetahui secara mendalam proses pendistribusian Raskin dari Divisi Regional Bulok Kota Peknabru, Koordinator Satker Lapangan Kota
Kontrol yang dilakukan dalam pendistribusian program Raskin di Kota Pekanbaru, khususnya pada Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, dapat ditelusuri untuk mengetahui secara mendalam proses pendistribusian Raskin dari Divisi Regional Bulok Kota Peknabru, Koordinator Satker Lapangan Kota