• Tidak ada hasil yang ditemukan

RUANG SINERGITAS SEBAGAI ALAT KONTROL TERHADAP PROGRAM RASKIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RUANG SINERGITAS SEBAGAI ALAT KONTROL TERHADAP PROGRAM RASKIN"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru)

MOHD. ROEM

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tugas akhir kajian Ruang Sinergitas Sebagai Alat Kontrol Terhadap Program Raskin (Sistem Kontrol Berbasis Komunitas Terhadap Efektifitas Program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru) adalah benar karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir kajian ini.

Mei 2011

Mohd Roem

NRP I354064195

(3)

MOHD. ROEM. Synergy Space Control as a Tool Against Raskin (Community- Based Control System Effectiveness Against the Village Rejosasri Raskin, District Tenayan Raya Pekanbaru City). Supervised by Saharuddin as Chairman, Winati Wigna as a member of the supervising committee.

The distribution of subsidized rice for the poor, aiming to reduce the expenditure burden of Poor Households. In addition, the Raskin program is intended to improve access of the poor in meeting basic food needs as one of the basic rights of the community. This is one of the destination countries, namely to promote the general welfare, which means providing welfare for society, especially people who live below the poverty line.

This study aims to determine the community-based control system.

Explaining the effectiveness of community-based controls that are executed during this in Rejosari Village, District Tenayan Raya. Studying the implementation of the evaluation of community-based control conducted so far, and to formulate the draft program, strategy and action plan towards community- based control in the distribution of raskin.

The study shows, there is still lack of control about the mechanism of program implementation by the officers raskin distribution, which encourages a lack of effective implementation raskin programs implemented so far. To reach the effectivity level of community-based control, local potentials such as institutional, can be developed as a means of community-based control, among other groups of social gathering, meetings, study groups and lectures Assembly mosque congregation. Institutional is very strong in implementing social values as based on religion. These values have been developed into a cultural community such as shame culture, mutual cooperation, exchange and mutual help. It - it can be used as a tool of the community in controlling the various government programs. The government program in this case is a national program, which is a rice procurement program for the poor (raskin). This synergy of space is expected to provide enhanced community role in controlling the distribution of technical implementation raskin covered in 6 T (the right target, right price, right amount, on time, right quality and right administration).

Preparation of community-based programs to plan for short-term programs directed at community-based control system for the design of long-term activities directed at strengthening the social institutions of society (group of pilgrims to the mosque), in an effort to empower the community as a control mechanism on the implementation of development programs, whether conducted by government as well as those implemented by communities themselves, such as economic empowerment programs and business community.

Keywords: Control System, Institutional, Community, Synergy, Social Capital

(4)

MOHD. ROEM. Ruang Sinergitas Sebagai Alat Kontrol Terhadap Program Raskin (Sistem Kontrol Berbasis Komunitas Terhadap Efektifitas Raskin di Kelurahan Rejosasri, Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru). Dibimbing oleh Saharuddin sebagai Ketua, Winati Wigna sebagai anggota komisi pembimbing.

Penyaluran beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat miskin, bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga Miskin. Disamping itu, program Raskin dimaksudkan untuk meningkatkan akses masyarakat miskin dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokoknya sebagai salah satu hak dasar masyarakat. Hal ini merupakan salah satu tujuan negara yakni memajukan kesejahteraan umum, yang berarti memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, teutama masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui sistem kontrol berbasis komunitas yang telah dilaksanakan dalam pengalokasian program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya - efektifitas kontrol berbasis komunitas yang dijalankan selama ini dalam pengalokasian Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya sesuai dengan tujuan program raskin tersebut - pelaksanaan evaluasi terhadap kontrol berbasis komunitas yang dilakukan selama ini, dalam penyaluran Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya.

Metode yang digunakan adalah studi kasus, yaitu penerapan serangkaian metode kerja untuk mengetahui pemahaman atas suatu kejadian atau masalah sosial yang berkembang dalam masyarakat.

Hasil kajian menunjukan, masih lemahnya kontrol yang berbasis pada komunitas, yang dapat menyebabkan kurang terlaksananya secara efektif dan efisien dalam pelaksanaan program raskin yang dilaksanakan selama ini. Dari hasil analisis terhadap kontrol berbasis komunitas dalam pelaksanaan program raskin, maka dapat diketahui hasil kajian yakni : 1) Masih ditemukan adanya peningkatan komunitas keluarga miskin sebagai rumah tangga sasaran dari program raskin; 2) belum adanya kontrol yang tepat guna dan tepat sasaran, sehingga pelaksanaan program raskin menjadi kurang efektif; 3) pelaksanaan program raskin selama ini, belum adanya upaya dalam mengevaluasi kebijakan baik ditingkat pemerintah maupun pada masyarakat sebagai rumah tangga sasaran.

Belum tercapainya tingkat efektifitas dalam kontrol berbasis komunitas terhadap pelaksanaan program raskin dikarenakan : 1) peran dan keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan kontrol terhadap pelaksanaan program raskin belum maksimal; 2) belum adanya tenaga pendamping yang melakukan pengawasan dini terhadap pelaksanaan program raskin yang sudah berjalan selama ini; 3) belum selektifnya badan musyawarah kelurahan dalam menyeleksi keluarga miskin, sehingga menimbulkan peningkatan jumlah rumah tangga miskin setiap tahunnya.

(5)

Majelis Ta’lim dan jemaah masjid. Kelembagaan ini sangat kuat dalam menerapkan nilai-nilai sosial karena berlandaskan agama. Nilai nilai ini telah berkembang menjadi budaya masyarakat seperti shame culture, kegotongroyongan, saling memberi dan saling menolong. Hal – hal tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alat komunitas dalam mengontrol berbagai program pemerintah. Program pemerintah tersebut dalam hal ini adalah program nasional, yaitu suatu program pengadaan beras untuk masyarakat miskin (raskin). Dengan demikian diperlukan ruang sinergitas yang merupakan integrasi antara pemerintah sebagai pelaksana program raskin dengan komunitas sebagai subjek pelaksana program raskin. Berbagai persoalan yang timbul dalam pelaksanaan program raskin dapat diselesaikan melalui koordinasi dan sinkronisasi pada tingkat pelaksana program yang disinergikan dengan komunitas. Komunitas dalam hal ini adalah jemaah masjid yang merupakan representasi berbagai komunitas yang ada di Kelurahan Rejosari. Ruang sinergitas ini diharapkan dapat memberikan peningkatan peran masyarakat dalam mengontrol teknis pelaksanaan pendistribusian raskin yang tercakup pada 6 T (tepat sasaran, tepat harga, tepat jumlah, tepat waktu, tepat kualitas dan tepat administrasi).

Penyusunan program berbasis komunitas untuk rencana program jangka pendek diarahkan pada sistem kontrol berbasis komunitas pada proses pendistribusian raskin agar tepat sasaran, sehingga memberikan nilai guna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin. Untuk rancangan kegiatan jangka panjang diarahkan kepada penguatan kelembagaan sosial masyarakat (kelompok jemaah masjid), dalam upaya pemberdayaan masyarakat seperti mekanisme kontrol pada pelaksanaan kegiatan program pembangunan, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun yang dilaksanakan oleh masyaakat sendiri, seperti program penguatan ekonomi dan usaha masyarakat.

Kata Kunci : Sistem Kontrol, Kelembagaan, Komunitas, Sinergitas, Modal Sosial

(6)

MOHD. ROEM. Ruang Sinergitas Sebagai Alat Kontrol Terhadap Program Raskin (Sistem Kontrol Berbasis Komunitas Terhadap Efektifitas Raskin di Kelurahan Rejosasri, Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru). Dibimbing oleh Saharuddin sebagai Ketua, Winati Wigna sebagai anggota komisi pembimbing.

Penyaluran beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat miskin, bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga Miskin. Disamping itu, program Raskin dimaksudkan untuk meningkatkan akses masyarakat miskin dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokoknya sebagai salah satu hak dasar masyarakat. Hal ini merupakan salah satu tujuan negara yakni memajukan kesejahteraan umum, yang berarti memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, teutama masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui sistem kontrol berbasis komunitas.

Menjelaskan efektifitas kontrol berbasis komunitas yang dijalankan selama ini di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya. Mempelajari pelaksanaan evaluasi terhadap kontrol berbasis komunitas yang dilakukan selama ini, serta merumuskan rancangan program, strategi dan rencana tindak lanjut terhadap kontrol berbasis komunitas dalam penyaluran Raskin

Hasil kajian menunjukan, masih lemahnya kontrol mengenai mekanisme pelaksanaan program raskin oleh petugas pendistribusian raskin, yang mendorong kurang efektifnya pelaksanaan program raskin yang dilaksanakan selama ini.

Untuk mencapai tingkat efektitas dalam kontrol berbasis komunitas, potensi- potensi lokal seperti kelembagaan, dapat dikembangkan sebagai alat kontrol berbasis komunitas, antara lain kelompok arisan, pertemuan, pengajian Majelis Ta’lim dan jemaah masjid. Kelembagaan ini sangat kuat dalam menerapkan nilai- nilai sosial karena berlandaskan agama. Nilai nilai ini telah berkembang menjadi budaya masyarakat seperti shame culture, kegotongroyongan, saling memberi dan saling menolong. Hal – hal tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alat komunitas dalam mengontrol berbagai program pemerintah. Program pemerintah tersebut dalam hal ini adalah program nasional, yaitu suatu program pengadaan beras untuk masyarakat miskin (raskin). Ruang sinergitas ini diharapkan dapat memberikan peningkatan peran masyarakat dalam mengontrol teknis pelaksanaan pendistribusian raskin yang tercakup pada 6 T (tepat sasaran, tepat harga, tepat jumlah, tepat waktu, tepat kualitas dan tepat administrasi).

Penyusunan program berbasis komunitas untuk rencana program jangka pendek diarahkan pada sistem kontrol berbasis komunitas Untuk rancangan kegiatan jangka panjang diarahkan kepada penguatan kelembagaan sosial masyarakat (kelompok jemaah masjid), dalam upaya pemberdayaan masyarakat seperti mekanisme kontrol pada pelaksanaan kegiatan program pembangunan, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun yang dilaksanakan oleh masyarakat sendiri, seperti program penguatan ekonomi dan usaha masyarakat.

Kata Kunci : sistem kontrol, kelembagaan, komunitas, sinergitas, modal sosial

(7)

@

Hak cipta dilindungi Undang-undang Hak cipta milik IPB, tahun 2011

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tukis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.

(8)

(

Sistem Kontrol Berbasis Komunitas Terhadap Efektifitas Program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru

)

MOHD. ROEM

Tugas Akhir

Sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional pada

Program Studi Pengembangan Masyarakat

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

(9)

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tugas Akhir : Dr.Ir. Sarwititi S. Agung, MS

(10)

di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru)

Nama : MOHD. ROEM

NRP : I354064195

Disetujui, Komisi Pembimbing:

Ketua

Dr. Ir. Saharuddin, MS

Anggota

Dra. Winati Wigna, MDS

Mengetahui :

Koordinator Program Magister Profesional Pengembangan Masyarakat

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Lala M. Kolopaking, MS Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc.Agr

Tanggal Ujian : Tanggal Lulus

(11)

melimpahkan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyusun penulisan kajian ini yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program Pascasarjana di Program Studi Pengembangan Masyarakat Institut Pertanian Bogor.

Kajian ini berjudul Ruang Sinergitas Sebagai Alat Kontrol Terhadap Program Raskin (Sistem Kontrol Berbasis Komunitas Terhadap Efektifitas Program Raskin Di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru) di bawah bimbingan Dr. Ir. Saharuddin, MS dan Drs.Winati Wigna, MDS.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Ir. Saharuddin, MS selaku Pembimbing I yang telah banyak memberikan pengarahan dan bimbingan kepada penulis.

2. Ibu Drs. Winati Wigna, MDS selaku Pembimbing II yang telah banyak memberikan pengarahan dan bimbingan kepada penulis.

3. Bapak dan ibu Dosen Program Studi Pengembangan Masyarakat, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

4. Rekan-rekan mahasiswa Program Profesional Pengembangan Masyarakat, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

5. Istri dan anak-anak tercinta yang selalu memberikan semangat dan inspirasi kepada penulis.

Penulis manyadari bahwa dalam penulisan tugas akhir ini masih terdapat berbagai kekurangan, namun demikian penulis berharap bahwa hasil kajian ini akan tetap berguna terutama bagi para petugas pengambangan masyarakat. Untuk itu penulis berharap adanya kritikan dan masukan guna kesempurnaan kajian ini.

Bogor , Mei 2011

Mohd Roem I354064195

(12)

Penulis dilahirkan di Sapat Kecamatan Kuala Indragiri Kabupaten Indragiri Hilir, pada tanggal 5 Oktober 1956, adalah putra bungsu dari sembilan bersaudara dari pasangan keluarga Bapak H. Jafrie Muhammad dan Ibu Hj.

Syariah Karim (Alm.). Penulis menamatkan pendidikan pada sekolah dasar di SD Negeri Sapat pada tahun 1969, Sekolah Menegah Pertama Negeri Sapat pada tahun 1972, Sekolah Menegah Atas Negeri 405 Tembilahan pada tahun 1975 dan pada tahun 1988 menamatkan pendidikan strata I pada Fakultas Ekonomi Universitas Riau di Pekanbaru.

Pada Tahun 1984 penulis menjadi CPNS di Biro Perencanaan Departemen Perdagangan di Jakarta dan pada tahun 1986 bertugas di Kanwil Departemen Perdagangan di Pekanbaru. Pada tahun 2002 penulis bertugas di Kanwil Departemen Perindustian dan Perdagangan kemudian pada 2004 berpindah tugas ke Bagian Ekonomi Biro Ekbang Setda Provinsi Riau. Sejak tahun 2008 sampai saat ini bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Bagian Anggaran Biro Keuangan Setda Provinsi Raiu. Penulis menikah pada tahun 1990 dengan Hj. Budiarty, SE, dan dikarunia dua putra yaitu Muhammad Ma’rifatullah (Alm.) dan Muhammad Abdillah.

Bogor , Mei 2011

Mohd Roem I354064195

(13)

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 4

1.3. Tujuan Penelitian ... 5

1.4. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kajian Tentang Program Raskin ... 7

2.2. Tinjauan tentang Program Pembangunan dalam Upaya Mengurangi Angka Kemiskinan ... 8

2.3. Pemahaman tentang Efektifitas dalam Kebijakan Pemerintah ... 10

2.4. Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Kebijakan Pemerintah ... 11

2.5. Pemberdayaan Komunitas dan Swadaya Masyarakat Miskin ... 16

2.6. Kajian Tentang Sistem Kontrol... 18

2.7. Kerangka Pemikiran Kajian ... 20

2.8 Konsep Operasional ... 22

BAB III METODE KAJIAN 3.1. Lokasi Penelitian ... 24

3.2. Populasi dan Sampel ... 24

3.2.1. Populasi ... 24

3.2.2. Sampel ... 25

3.3. Sumber Data ... 26

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 26

3.5. Metode Analisis Data ... 27

3.6. Jadwal Penelitian ... 29

BAB IV PETA SOSIAL KOMUNITAS KELURAHAN REJOSARI KECAMATAN TENAYAN RAYA KOTA PEKANBARU 4.1. Gambaran Umum Tentang Kota Pekanbaru ... 31

4.2. Kondisi Umum Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru ... 33

4.3. Kondisi Peta Lokasi Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya ... 35

4.3.1. Keadaan Demografi Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya ... 36

(14)

4.3.2. Tingkat Pendidikan Masyarakat Kelurahan

Rejosari Kecamatan Tenayan Raya ... 37

4.3.3. Keadaan Sarana Ekonomi Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya ... 38

4.4. Kelembagaan Sosial ... 39

BAB V SISTEM DAN IMPLEMENTASI KONTROL PROGRAM RASKIN 5.1. Deskripsi Program Beras Untuk Rumah Tangga Miskin (Raskin) ... 41

5.1.1 Prinsip Pengelolaan Raskin ... 41

5.1.2 Tujuan Program Raskin ... 42

5.1.3 Manfaat Program Raskin ... 43

5.1.4 Tim Koordinasi Raskin ... 44

5.2. Sosialisasi Program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru ... 47

5.3. Mekanisme Perencanaan dan Pelaksanaan Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru ... 48

5.4. Pelaksanaan Program Raskin Kaitannya dalam Mengurangi Pengeluaran Angka Miskin di Kelurahan Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru ... 50

BAB VI EFEKTIFITAS KONTROL PROGRAM RASKIN 6.1 Kontrol dalam Kebijakan Pengentasan Kemiskinan Melalui Program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru ... 52

6.2 Sistem Kontrol dalam Peningkatan Pengawasan Program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru ... 57

BAB VII EVALUASI TERHADAP KONTROL PROGRAM RASKIN 7.1 Identifikasi Permasalahan dalam Kontrol Berbasis Komunitas ... 61

7.1.1 Penggalian Strategi dalam Kontrol Berbasis Komunitas ... 63

7.1.2 Pemanfaatan Budaya Masyarakat ... 68

7.1.3 Ruang Sinergitas ... 68

7.2 Analisis Sistem Kontrol Berbasis Komunitas terhadap Program Raskin ... 68

7.2.1 Kontrol yang dilakukan oleh Sub Divisi Regional Bulog Kota Pekanbaru ... 70

7.2.2 Kontrol yang dilakukan oleh pihak Satker Kota Pekanbaru dan Kecamatan Sebagai Tim Koordinasi Raskin Kecamatan ... 72

7.2.3 Kontrol yang dilakukan di tingkat Kelurahan sebagai Pendistribusian Raskin ... 74

(15)

7.2.4 Kontrol yang dilakukan di Tingkat RW dan RT

Kelurahan Rejosari ... 77

7.2.5 Kontrol yang dilakukan oleh Komunitas ... 79

7.3 Pelaksanaan Evaluasi terhadap Kontrol Berbasis Komunitaas yang dilakukan selama ini dalam Penyaluran Raskin ... 82

7.4 Hasil yang Diharapkan dari Program Raskin ... 83

BAB VIII STRATEGI MENCIPTAKAN KONTROL BERBASIS KOMUNITAS PROGRAM RASKIN 8.1 Penyusunan Program Berbasis Komunitas ... 85

8.2 Rancangan Program ... 85

8.2.1 Program Jangka Pendek ... 85

8.2.2 Program Jangka Panjang ... 87

BAB IX KESIMPULAN DAN SARAN 9.1. Kesimpulan ... 92

9.2. Saran ... 94

DAFTAR PUSTAKA ... 95

LAMPIRAN ... 98

(16)

v

1 Indikator Evaluasi Kebijakan ... 15

2 Kerangka Operasional ... 23

3 Komposisi Populasi dan Sampel ... 25

4 Kerangka Metode Kajian Analisis Data ... 29

5 Jadwal Penelitian ... 30

6 Komposisi Penduduk Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Menurut Suku Bangsa Tahun 2008 ... 36

7 Komposisi Penduduk Kelurahan Rejosasi Kecamatan Tenayan Raya Menurut Tingakat Pendidikan Tahun 2009 ... 38

8 Jumlah Sarana Ekonomi di Kelurahan Rejosasi Kecamatan Tenayan Raya Menurut Suku Bangsa Tahun 2008 ... 39

9 Jumlah Rumah Tangga Miskin dan Jumlah Distribusi Beras Perbulan dan dalam Satu Tahun di Kelurahan Rejosasri Kecamatan Tenayan Raya periode 2007-2009 (kg) ... 51

10 Tanggapan Responden tentang Kontrol yang dilakukan oleh Sub Regional Bulog Kota Pekanbaru ... 71

11 Tanggapan Responden tentang Kontrol yang dilakukan oleh Satker Kota Pekanbaru dan Kecamatan Sebagai Tim Koordinasi Raskin Kecamatan ... 73

12 Tanggapan Responden tentang Kontrol yang dilakukan di Tingkat Kelurahan sebagai Pendistribusian Raskin ... 76

13 Tanggapan Responden tentang Kontrol yang dilakukan di Tingkat RW dan RT Kelurahan Rejosari ... 78

14 Tanggapan Responden tentang Kontrol yang dilakukan Oleh Masyarakat di Kelurahan Rejosari ... 80

15 Rancangan program kegiatan penguatan kelembagaan berbasis komunitas di Kelurahan Rejosari ... 90

(17)

vi

Gambar Halaman

1 Kerangka Pikir Kajian ... 21 2 Sistem Kontrol Berbasis Komunitas ... 50

(18)

vii

Lampiran Halaman

1 Kuisioner ... 98

(19)

1.1. Latar Belakang

Negara Kesatuan Republik Indonesia, masih menghadapi masalah kemiskinan dan kerawanan pangan yang harus ditanggulangi bersama oleh pemerintah dan masyarakat. Masalah ini menjadi perhatian nasional dan penanganannya perlu dilakukan secara terpadu dan melibatkan berbagai sektor, baik ditingkat pusat maupun ditingkat daerah. Masalah kemiskinan muncul dipicu oleh kenaikan berbagai bahan kebutuhan pokok dan hilangnya berbagai sumber pendapatan masyarakat, akibat adanya pemutusan hubungan kerja dan berbagai bencana yang terjadi dibeberapa daerah.

Upaya pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan, dengan melaksanakan program bantuan pangan yang dikemas dalam bentuk Operasi Pasar Khusus (OPK), yang sasarannya adalah untuk masyarakat miskin. Pembentukan OPK, untuk menselaraskan dengan program pemerintah lainnya yakni, Jaringan Pengaman Sosial (JPS). OPK menjual produk-produk sembako terutama beras, hal ini dikarenakan beras merupakan pangan pokok mayoritas penduduk, dan porsi pengeluaran untuk beras bagi masyarakat miskin relatif cukup tinggi.

Pelaksanaan kegiatan OPK selalu mendapat berbagai kendala dan hambatan, sehingga dilakukan evaluasi kegiatan tersebut untuk penyempurnaan program pemberdayaan masyarakat terutama masyarakat miskin. Pada tahun 2002 program OPK berubah menjadi program beras untuk masyarakat miskin yang dikenal dengan istilah Raskin, dengan tujuan agar program ini lebih tepat guna dan berdaya guna. Dengan merubah nama program dari OPK kepada program Raskin, diharapkan masyarakat yang tidak termasuk dalam kelompok keluarga tidak miskin diharapakan memiliki rasa malu terhadap program Raskin tersebut, sehingga sasaran dari Raskin betul-betul dapat dialokasikan bagi rumah tangga miskin.

Pelaksanaan berbagai program yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi kemiskinan dan kerawanan pangan, telah dicantumkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2009 pada prioritas I yaitu, peningkatan

(20)

pelayanan dasar dan pembangunan pedesaan, program Beras Miskin (Raskin).

Program Raskin menjadi fokus utama pemerintah dalam melaksanakan pembangunan dan penyempurnaan system perlindungan sosial, khususnya bagi masyarakat yang hidup dalam kategori masyarakat miskin.

Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2008 tentang Kebijakan Perberasan, menginstruksikan Menteri dan Kepala Pemerintahan Non Departemen tertentu, serta Gubernur dan Bupati/Walikota seluruh Indonesia untuk melakukan upaya untuk meningkatkan pendapatan petani, ketahanan pangan, pengembangan ekonomi pedesaan dan stabilitas ekonomi nasional. Secara khusus instruksi tersebut ditujukan kepada Perum Bulog untuk menyediakan dan menyalurkan beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat miskin dan rawan pangan, yang penyediaannya mengutamakan pengadaan beras dari gabah petani dalam negeri.

Penyaluran beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat miskin, bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga Miskin. Disamping itu, program Raskin dimaksudkan untuk meningkatkan akses masyarakat miskin dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokoknya sebagai salah satu hak dasar masyarakat. Hal ini merupakan salah satu tujuan negara yakni memajukan kesejahteraan umum, yang berarti memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, teutama masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Dasar pelaksanaan program Raskin adalah, masih terdapatnya keluarga miskin di Indonesia yang mencapai 18,5 juta Rumah Tangga Miskin (BPS, 2009).

Berdasarkan data tersebut Pemerintah menetapkan kebijakan pendistribusian beras bersubsidi atau Raskin sebanyak 15 Kilogram bagi setiap rumah tangga miskin perbulan., selama 12 bulan dengan harga tebus Rp. 1.600 per Kg netto ditempat penyerahan yang disepakati.

Penyaluran Raskin disetiap provinsi di Indonesia, khususnya Provinsi Riau sejalan dan selaras dengan kebijakan pembangunan oleh Pemerintah Provinsi Riau yakni pelaksanaan program Pengentasan Kemiskinan, Kebodohan dan pembangunan Infrastruktur (K2I). Jumlah rumah tangga miskin yang ada di Provinsi Riau berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau berjumlah 293.707 Kepala Keluarga. Penyaluran program Raskin di Provinsi Riau

(21)

kepada masyarakat belum terpenuhi secara keseluruhan, dimana jumlah rumah tangga miskin yang belum memperoleh program Raskin masih tersisa 35.932 KK, kondisi ini perlu dilakukan pendataan yang lebih baik, sehingga program raskin tersebut lebih tepat sasaran.

Penyaluran Raskin di Provinsi Riau tahun 2007 dilakukan dengan cara, menyalurkan 20 Kg per rumah tangga miskin dengan durasi penyalurannya sekali dalam 6 bulan. Namun pada tahun 2008 penyaluran Raskin dilakukan perubahan yakni jumlah yang diterima oleh rumah tangga miskin sebanyak 10 Kg per KK dengan durasi sekali dua bulan. Dengan adanya program Raskin ini diharapkan dapat membantu masyarakat miskin untuk mengurangi pengeluaran mereka terhadap kebutuhan beras yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.

Salah satu kabupaten/kota yang ada di Provinsi Riau adalah, Kota Pekanbaru. Kota Pekanbaru merupakan Ibukota dari provinsi Riau yang terdiri dari dua belas kecamatan yakni;

1) Kecamatan Tampan;

2) Kecamatan Payung Sekaki;

3) Kecamatan Bukit Raya;

4) Kecamatan Marpoyan Damai;

5) Kecamatan Tenayan Raya;

6) Kecamatan Lima Puluh;

7) Kecamatan Sail;

8) Kecamatan Pekanbaru Kota;

9) Kecamatan Suka Jadi;

10) Kecamatan Senapelan;

11) Kecamatan Rumbai; dan 12) Kecamatan Rumbai Pesisir.

Salah satu dari kecamatan yang ada di Kota Pekanbaru adalah Kecamatan Tenayan Raya. Kecamatan Tenayan Raya merupakan kecamatan yang dimekarkan dari Kecamatan induknya yakni Kecamatan Bukit Raya. Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru terdiri dari empat kelurahan yakni, Kelurahan Kulim, Kelurahan Tangkerang Timur, Kelurahan Rejosari dan Kelurahan Sail.

Mengingat luasnya wilayah Kecamatan Tenayan Raya, maka difokuskan pada

(22)

satu kelurahan dalam mengalokasikan program Raskin, yakni Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru.

Alasan Pemilihan Kelurahan Rejosari dipilih sebagai lokasi kajian disebabkan jumlah masyarakat miskin cukup besar, mata pencaharian pokok masyarakat buruh pembuat batu bata. Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya memiliki jumlah penduduk sebanyak 30.453 Jiwa dan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 6.807 KK, dengan jumlah 26 Rukun Warga (RW) dan sebanyak 99 Rukun Tetangga (RT). Jumlah masyarakat miskin yang menerima program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya sebanyak 625 Rumah Tangga Miskin. Penyeluran program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, belum mendapatkan kontrol yang berbasis komunitas sehingga masih ada KK yang tidak tergolong keluarga miskin menerima beras tersebut, serta adanya pungutan yang dibebankan kepada masyarakat miskin dengan menaikan harga diluar harga yang ditetapkan secara nasional.

Pra survey yang dilakukan peneliti pada Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, juga diketahui bahwa penetapan masyarakat miskin atau rumah tangga sasaran penerimaan manfaat raskin oleh pihak Kelurahan Rejosari yang disahkan oleh Camat Tenayan Raya, terdapat berbagai ketimpangan dalam penetapan tersebut. Lurah Rejosari hanya menerima laporan dari pihak RW, sehingga dalam penetapan ini tidak ada kontrol atau pengawasan dalam menentukan keluarga miskin yang berhak menerima program beras bagi masyarakat miskin tersebut.

Berdasarkan gejala tersebut diatas, terhadap kontrol yang berbasis komunitas dalam pengalokasian program Raskin, maka permasalahannya adalah

“Bagaimana Strategi Ruang Sinergitas Sebagai Alat Kontrol Terhadap Program Raskin”

1.2. Perumusan Masalah

Pengawasan atau kontrol yang dilakukan terhadap kebijakan pemerintah, perlu adanya kontrol yang berbasis komunitas, untuk menghasilkan evaluasi kinerja dari kebijakan yang telah ditetapkan. Kondisi ini juga berlaku dalam

(23)

melaksanakan kebijakan pemerintah terhadap penanggulangan kerawanan pangan, khususnya beras bagi masyarakat yang kurang mampu atau masyarakat miskin.

Lemahnya kontrol mengenai mekanisme pelaksanaan program raskin oleh petugas pendistribusian raskin, telah mendorong kurang efektifnya pelaksanaan program raskin yang dilaksanakan selama ini. Berdasarkan fenomena tersebut, maka ditetapkan perumusan masalah dalam penelitian ini. Adapun perumusan masalah yang ditetapkan peneliti dalam penelitian tentang kontrol berbasis komunitas dalam penyaluran beras untuk masyarakat miskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, adalah sebagai berikut;

1. Bagaimana sistem yang telah dilaksanakan dalam pengalokasian program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya.?

2. Bagaimana efektifitas sistem kontrol program ?

3. Sampai sejauh mana kontrol terhadap program raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya?

4. Bagaimana rancangan program, strategi dan rencana tindak lanjut terhadap kontrol berbasis komunitas dalam penyaluran Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru ?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk;

1. Mengetahui sistem kontrol berbasis komunitas yang telah dilaksanakan dalam pengalokasian program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya.

2. Menjelaskan efektifitas kontrol berbasis komunitas yang dijalankan selama ini dalam pengalokasian Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya sesuai dengan tujuan program raskin tersebut.

3. Mempelajari pelaksanaan evaluasi terhadap kontrol berbasis komunitas yang dilakukan selama ini, dalam penyaluran Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya.

4. Merumuskan rancangan program, strategi dan rencana tindak lanjut terhadap kontrol berbasis komunitas dalam penyaluran Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru.

(24)

1.4. Manfaat Penelitian

Kajian tentang peningkatan sistem kontrol berbasis komunitas terhadap efektifitas program raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru, diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program raskin, diantaranya adalah sebagai;

1. Sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang berwenang seperti Bulog, Pemerintah Kota Pekanbaru, Kecamatan Tenayan Raya dan Kelurahan Rejosari dalam pelaksanaan kontrol pengalokasian beras raskin yang telah dilaksanakan selama ini.

2. Informasi lanjutan bagi peneliti lainnya, khususnya yang memiliki relevansi dengan kontrol berbasis komunitas terhadap pelaksanaan program Raskin bagi rumah tangga miskin.

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kajian Tentang Program Raskin

Program pemerintah dalam menyalurkan beras bagi masyarakat miskin (Raskin), merupakan sebuah kebijakan yang dituangkan dalam Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2007 tentang Kebijakan Perberasan yang menginstruksikan Menteri dan Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen tertentu, Gubernur dan Bupati/Walikota seluruh Indonesia untuk melakukan upaya peningkatan pendapatan petani, ketahanan pangan, pengembanngan ekonomi pedesaan dan satabilitas ekonomi nasional.

Program Raskin merupakan bagian integral dari program penanggulangan kemiskinan yang bersinergi dengan program pembangunan lainnya, seperti program perbaikan gizi masyarakat, peningkatan kesehatan, pendidikan dan peningkatan produktivitas masyarakat. Sinergi antar berbagai program ini penting dalam meningkatkan efektifitas masing-masing program dalam pencapaian tujuan dari pembangunan nasional.

Penyaluran beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat yang dikategorikan masyarakat miskin, bertujuan untuk mengurang pengeluaran atau pembiayaan rumah tangga keluarga miskin. Konsep tentang beras bagi masyarakat miskin merupakan kebijakan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, terutama untuk menanggulangi kerawanan pangan dan mencegah munculnya kemiskinan yang absolut. Banyaknya masyarakat yang miskin akan memberikan dampak terhadap keberhasilan pembangunan serta memberikan dampak sosial yang cukup berantai yang terjadi dalam masyarakat. Dengan adanya penyaluran Raskin diharapkan dapat mengurangi berbagai dampak sosial yang ditimbulkan dari masalah kemiskinan dan pengangguran.

Menurut Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (2009:3) program Raskin fokus utamanya adalah rumah tangga sasaran penerima manfaat raskin, yakni rumah tangga miskin hasil pendataan BPS tahun 2008 di desa/kelurahan yang berhak menerima raskin dan terdaftar dalam Daftar Penerima

(26)

Manfaat (DPM) yang ditetapkan oleh kepala desa/lurah sebagai hasil musyawarah desa/kelurahan dan disahkan oleh camat.

2.2. Tinjauan Tentang Program Pembangunan dalam Upaya Mengurangi Angka Kemiskinan

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan salah satu bangsa yang berdaulat dan memiliki tujuan nasional yaitu mencapai masyarakat yang adil dan makmur. Untuk mencapai tujuan nasional tersebut perlu dilaksanakan berbagai aspek pembangunan disegala bidang untuk mengejar ketertinggalan bangsa kita dari bangsa yang sudah maju. Untuk itu perlu ditetapkan arah dan kebijakan pembangunan nasional. Pembangunan bangsa dewasa ini perlu diarahkan untuk mencapai hasil pembangunan yang tepat guna dan berdaya guna. Todaro (1997) dalam Bryant dan White (1987:3) mengungkapkan bahwa pembangunan adalah proses multidimensi yang mencakup perubahan-perubahan penting dalam struktur sosial, sikap-sikap rakyat dan lembaga-lembaga nasional, dan juga akselerasi pertumbuhan ekonomi, pengurangan kesenjangangan (inequality), dan pemberantasan kemiskinan absolute.

Kemisikinan yang ada dalam suatu negara merupakan masalah yang dihadapi negara tersebut, dalam memberdayakan masyarakat. Dalam konteks politik, Friedman dalam Suharto (2005) mendefenisikan dalam kaitannya dengan ketidaksamaan kesempatan dalam mengakumulasikan basis kekuasaan sosial yang meliputi; (a) Modal produktif atau asset (tanah, perumahan, alat produksi, kesehatan), (b) sumber keuangan (pekerjaan, kredit), (c) organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama (koperasi, partai politik, organisasi sosial), (d) jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang dan jasa, (e) pengetahuan dan keterampilan, dan (f) informasi yang berguna untuk kemajuan hidup.

Pembangunan nasional yang sedang berjalan dan terus digalakan, merupakan usaha dan upaya yang mencakup peningkatan semua segi kehidupan dari setiap elemen bangsa Indonesia. Pembangunan kedepan memiliki berbagai tantangan dan rintangan. Menurut Korten dan Uphoff dalam Chambers (1988:276) mengungkapkan bahwa suatu tantangan terbesar untuk dasawarsa mendatang ialah mengubah orientasi struktur birokrasi, termasuk perubahan dari

(27)

gaya otoriter menjadi gaya partisipatif, dan menumbuhkan sikap tanggap terhadap kebutuhan dari bawah dibandingkan dengan tuntutan dan instruksi dari atas.

Sedangkan Sajogyo dan Pudjiwati (1995:130) menjelaskan bahwa pada dasarnya masalah pembangunan timbul karena pendekatan perencanaan nasional yang sifatnya sektoral, sehingga dibutuhkan usaha khusus ditingkat lokal untuk memadukan lagi berbagai rencana yang terpecah-pecah.

Pelaksanaan pembangunan merupakan pengamalan Pancasila sebagai ideologi bangsa yang pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya merupakan pembangunan yang bertitik tolak kepada pembangunan jasmani (fisik) dan pembangunan rohani (mental). Kesemuanya ini sudah dituangkan dalam konsep dasar Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. Pembangunan yang dilaksanakan hendaknya melahirkan keadilan dalam kemakmuran barsama. Salim (1993:6) mengatakan bahwa hakekat pembangunan adalah pembangunan Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Ini berarti pembangunan mencakup; pertama kemajuan lahiriah, seperti pangan, sandang dan lain-lain; kedua kemajuan bathiniah, seperti pendidikan, rasa aman, rasa sehat dan; ketiga kemajuan yang meliputi seluruh rakyat sebagaimana tercermin dalam perbaikan hidup berkeadilan sosial.

Menurut Tjokroamidjojo (1983:22) menjelaskan bahwa pembangunan adalah ikhtar untuk mengubah masa lampau yang buruk menjadi era baru yang lebih, juga suatu usaha yang terus menerus untuk membuat yang lebih baik menjadi lebih baik lagi. Lebih lanjut Tjokroamidjojo (1977:222) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembangunan adalah segi kehidupan politik, sosial, budaya, ekonomi, dan itu baru berhasil apabila merupakan kegiatan yang melibatkan partisipasi dari seluruh rakyat didalam suatu Negara.

Konsep pembangunan nasional yang dituangkan dalam kebijaksanaan pemerintah hendaknya mewujudkan pembangunan yang merata untuk kemakmuran bangsa. Pelaksanaan pembangunan dari setiap lini kehidupan hendaknya dapat mewujudkan kesejahteraan sosial bagi setiap elemen masyarakat kearah yang lebih bermakna atau bernilai tinggi, melalui usaha yang terencana,

(28)

berkesinambungan, dan dinamis. Konsep pembangunan ini hendaknya dapat merubah ikhtiar dari pembangunan itu sendiri dan terukur serta terarah, dimana pembangunan hendaknya dapat merubah masa lampau bangsa yang terpuruk menjadi era pembangunan yang baru yang lebih baik sehingga sesuai dengan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yakni mencapai masyarakat yang adil dan makmur.

Menurut Arief Budiman (2000:2) menjelaskan bahwa pembangunan dapat diukur dengan;

1) Kekayaan rata-rata;

2) Pemerataan;

3) Kualitas kehidupan;

4) Kerusakan lingkungan;

5) Keadilan sosial dan kesinambungan.

Sedangkan menurut Tjokroamidjojo (1977) mengungkapkan bahwa dalam perencanaan pembangunan terdapat unsur-unsur pokok secara umum yang meliputi;

1) Kebijakan dasar rencana pembangunan;

2) Adanya kerangka rencana;

3) Perkiraan sumber-sumber pembangunan;

4) Uraian kerangka kebijaksanaan yang konsisten;

5) Program investasi; dan administrasi pembangunan.

Pandangan di atas mengungkapkan bahwa penetapan perencanaan pembangunan yang dirangkum dalam Musrenbang hendaknya mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat memberikan kontribusi yang cukup baik bagi masyarakat, sehingga program pembangunan dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi masyarakat. Selain dari pada itu pelaksanaan pembangunan hendaknya bersifat berkelanjutan dan adanya pemerataan dari hasil pembangunan bagi setiap masyarakat.

2.3. Pemahaman tentang Efektifitas dalam Kebijakan Pemerintah

Keberhasilan lembaga negara dalam melaksanakan kebijakan yang telah dituangkan dalam aturan yang telah ditetapkan, dapat diukur dengan banyak cara dan berbeda-beda dalam operasionalnya. Salah satu cara yang umum dipakai

(29)

dewasa ini adalah dengan menggunakan konsep efektifitas. Efektifitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh suatu organisasi, baik organisasi pemerintahan maupun organisasi lainnya.

Menurut Drucker (1995:5) efektivitas adalah melakukan pekerjaan yang benar (doing the right thing), sedangkan efisiensi adalah melakukan pekerjaan dengan benar (doing things right). Bagi para manajer pertanyaan yang penting adalah bukan bagaimana melakukan pekerjaan dengan benar, akan tetapi bagaimana menemukan pekerjaan yang benar untuk dilakukan, dan memusatkan sumber daya dan usaha pada pekerjaan tersebut. Sedangkan menurut The Liang Gie (1999:12) Efektivitas merupakan suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya sesuatu efek atau akibat yang dikehendaki.

Lebih lanjut mengenai efektivitas dikemukakan oleh Gibson (1986:33) bahwa efektivitas organisasi dapat pula diukur sebagai berikut: 1) kejelasan tujuan yang hendak dicapai; 2) kejelasan strategi pencapaian tujuan; 3) proses analisis dan perumusan kebijaksanaan yang mantap; 4) perencanaan yang matang; 5) penyusunan program yang tepat; 6) tersedianya sarana dan prasarana; 7) sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik. Sedangkan Steer (1985:206) mengemukakan lima kriteria dalam pengukuran efektivitas organisasi yaitu; 1) kemampuan menyesuaikan diri-keluwesan; 2) produktivitas; 3) kepuasan kerja; 4) kemampuan berlaba; 5) pencarian sumberdaya.

Pandangan tersebut diatas dapat dikatakan bahwa, efektifitas merupakan suatu tindakan atau kegiatan yang berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Efektifitas pengawasan merupakan tindakan pengawasan atau kontrol yang dilakukan oleh suatu lembaga atau organisasi, dimana pelaksanaan pengawasan tersebut sesuai dengan petunjuk teknis dan petunjuk laksana, sehingga program yang telah dibuat atau dijalankan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

2.4. Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Kebijakan Pemerintah Partisipasi masayarakat sangat identik dengan peran serta masyarakat dalam berbagai kegiatan pembangunan. Semakin besar partisipasi masyarakat

(30)

dalam pembangunan, maka semakin besar pula hasil yang diharapkan dapat diwujudkan. Menurut Koentjoroningrat (1974:79) mengatakan bahwa partisipasi masyarakat dapat berarti ikut sertanya masyarakat dalam menentukan arah, strategi dan kebijaksanaan pembangunan yang dilakukan pemerintah, hal ini terutama berlangsung dalam proses politik, tetapi juga dalam proses sosial hubungan antara kelompok-kelompok kepentingan dalam masyarakat. Lebih lanjut Koentjoroningrat (1974:80) membagi dua tipe partisipasi yaitu partisipasi dalam proses pembangunan yang khususnya dan partisipasi sebagai individu di lauar aktifitas bersama dalam pembangunan.

Partisipasi masyarakat memiliki jenis-jenisnya, hal ini sesuai dengan ungkapan Koentjoroningrat (1974:107)yang menyatakan bahwa dalam partisipasi masyarakat terhadap pembangunan dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu;

1) Partisipasi dalam pelaksanaan suatu usaha pembangunan;

2) Partisipasi dalam proses pengambilan keputusan suatu program pembangunan;

Partisipasi dalam perencanaan program tersebut, sangkut pautnya dengan program lain, pertimbangan alternatif dan skop program yang lebih luas.

Partisipasi masyarakat akan tumbuh jika dalam proses pembuatan kebijakan dengan melibatkan masyarakat dan sesuai dengan aspirasi masyarakat tersebut.

Kebijakan yang tepat akan melahirkan kebijakan publik yang menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam berbagai program pembangunan, termasuk kebijakan dalam menurunkan angka kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat miskin.

Kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah akan dapat berhasil apabila partisipasi masyarakat tinggi dalam menjalankan kebijakan publik. Partisipasi masyarakat ini akan berjalan dengan baik apabila modal sosial yang ada di dimasyarakt tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan perkembangan kelembagaan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Colleta dan Cullen dalam Fredian Tonny Nasdian, 2008 yang menyatakan bahwa Modal sosial merupakan suatu sistem yang mengacu kepada hasil dari organisasi sosial dan ekonomi , seperti pandangan umum atau norma (world view), kepercayaan (trust), pertukaran (reciprocity), pertukaran ekonomi dan informasi (informational and

(31)

economic exchange), kelompok-kelompok formal dan informal (formal and informal groups), serta asosiasi-asosiasi yang melengkapi modal-modal lainnya(fisik, manusiawi, budaya) sehingga memudahkan terjadinya tindakan kolektif, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Tindakan-tindakan kolektif masyarakat inilah yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan kebijakan publik secara partisipatif.

Program raskin merupakan sebuah kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah secara nasional. Program tersebut bertujuan untuk mengurangi pengeluaran rumah tangga miskin, sehingga kebijakan yang dibuat seuai dengan konsep kebijakan publik yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan publik merupakan suatu tindakan pemerintah yang memuat program-program yang sudah ditetapkan. Menurut Kismartini, dkk (2005:1.9) bahwa kebijakan publik hanya dapat ditetapkan pemerintah, pihak- pihak lain atau yang lebih dikenal dengan sebutan aktor-aktor kebijakan publik hanya dapat mempengaruhi proses kebijakan publik dalam batas kewenangannya masing-masing. Kebijakan publik yang telah ditetapkan oleh aktor-aktor kebijakan, perlu direalisasikan atau diimplementasikan untuk menjalankan kebijakan tersebut.

Implementasi kebijakan menurut William dan Elmore dalam Sunggono (1994:139) mengungkapkan bahwa implementasi kebijakan merupakan keseluruhan dari kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan.

Sedangkan Wibawa, dkk (1994:15) mengatakan bahwa kebijakan publik selalu mengandung tiga komponen dasar, yaitu tujuan yang luas, sasaran yang spesifik dan cara mencapai sasaran tersebut. Dalam cara mencapai sasaran tersebut terkandung beberapa komponen lain yakni siapa implementornya, jumlah dan sumber dana, siapa kelompok sasarannya, bagaimana program dan sistem manajemen dilaksanakan, serta kinerja kebijakan diukur. Didalam cara ini komponen tujuan yang luas dan sasaran yang spesifik diperjelas dan kemudian diinterprestasikan. Cara-cara mencapai sasaran ini biasa disebut dengan implementasi kebijakan.

Menurut Meter dan Horn (1975:6) yang mendefenisikan implementasi kebijakan publik sebagai tindakan publik maupun swasta, baik secara individu

(32)

maupun kelompok, ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah diterapkan dalam keputusan kebijakan. Defenisi ini menyiratkan adanya upaya mentransformasikan keputusan ke dalam kegiatan operasional, serta mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Implementasi kebijakan dalam pembangunan Negara perlu melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan swasta untuk mempercepat pelaksanaan kebijakan yang melahirkan konsep pembangunan dalam suatu Negara.

Mazmanian dan Sabetier dalam Wahab (1997:71) mengungkapkan bahwa, peran penting dari analisis implementasi kebijakan negara ialah mendefenisikan variabel-variabel yang mempengaruhi tercapainya tujuan formal pada proses implementasi. Variabel-variabel yang dimaksud diklasifikasikan menjadi tiga kategori besar, yaitu : (1) Mudah tidaknya masalah yang akan digarap dan dikendalikan; (2) kemampuan keputusan kebijakan untuk menstrukturkan secara tepat proses implementasi; dan (3) pengaruh langsung berbagai variabel politik terhadap keseimbangan dukungan bagi pencapaian tujuan kebijakan tersebut.

Grindle dalam Amir Santoso (1986:13) mengungkapkan bahwa, keseluruhan proses kebijakan baru bisa dimulai bila tujuan umum dari kebijakan tersebut telah ditetapkan , program pelaksanaan telah dibuat, serta dana telah dialokasikan untuk pencapaian tujuan kebijakan. Selanjutnya menurut Grindle (1980:12) mengatakan bahwa, implementasi kebijakan bukanlah sekedar terkait dengan bagaimana mekanisme penjabaran berbagai keputusan politik ke dalam prosedur rutin melewati saluran-saluran birokrasi, melainkan lebih dari itu menyangkut masalah konflik, keputusan, dan siapa yang memperoleh apa dari suatu kebijakan.

Dari pandangan di atas dapat dikatakan bahwa implementasi kebijakan dalam pembangunan, perlu adanya formulasi kebijakan yang tepat guna dan berdaya guna, sehingga dalam mengimplementasikan kebijakan dapat mencapai sasaran yang diharapkan. Selain dari pada itu implementasi kebijakan juga perlu adanya evaluasi kebijakan untuk memperbaiki kelemahan yang dihadapi serta sebagai bahan masukan atau feed back dalam membuat atau merumuskan kebijakan yang baru.

(33)

Kebijakan publik yang sudah direalisasikan atau diimplementasikan perlu adanya evaluasi kebijakan, sebagai bahan untuk melahirkan kebijakan yang lebih baik. Menurut Subarsono (2006:119) evaluasi adalah kegiatan untuk menilai tingkat kinerja suatu kebijakan. Evaluasi baru dapat dilakukan kalau suatu kebijakan sudah berjalan cukup waktu. Lebih lanjut Subarsono mengatakan bahwa tujuan evaluasi kebijakan adalah sebagai berikut;

1) Menentukan tingkat kinerja kebijakan.

2) Mengukur tingkat efisiensi suatu kebijakan.

3) Mengukur tingkat keluaran (out-come) suatu kebijakan.

4) Mengukur dampak suatu kebijakan.

5) Untuk mengetahui apabila ada penyimpangan.

6) Sebagai bahan masukan (input) untuk kebijakan yang akan datang.

Evaluasi kebijakan juga bertujuan untuk mengukur keberhasilan dari sebuah kebijakan. Pengukuran tersebut diperlukan berbagai indikator-indikator sebagai penilaian dari hasil kebijakan tersebut. Menurut Wibawa (1994:9) evaluasi kebijakan bermaksud untuk mengetahui 4 aspek, yaitu: (1) proses pembuatan kebijakan, (2) proses implementasi, (3) konsekuensi kebijakan dan (4) efektivitas dampak kebijakan.

Sedangkan Menurut Dunn (1994) dalam Subarsono (2006:126) mengatakan bahwa, ada lima indikator evaluasi kebijakan sebagai mana dijelaskan tabel berikut ini;

Tabel 1 Indikator Evaluasi Kebijakan

No. Kriteria Penjelasan

1. Efektivitas Apakah hasil yang diinginkan telah tercapai?

2. Kecukupan Seberapa jauh hasil yang telah tercapai dapat memecahkan masalah?

3. Pemerataan Apakah biaya dan manfaat didistribusikan merata kepada kelompok masyarakat?

4. Responsivitas Apakah hasil kebijakan memuat preferensi / nilai kelompok dan dapat memuaskan mereka?

5 Ketepatan Apakah hasil yang dicapai bermanfaat?

Sumber : Dunn 1994:405

(34)

Dari gambaran tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kebijakan yang ditetapkan dalam pelaksanaan program pembangunan perlu melihat kelima indikator tersebut, guna melihat sejauh mana kebijakan yang ditetapkan dalam perencanaan pembangunan tersebut. Setiap kebijakan yang dibuat diharapkan dapat berdaya guna dan berhasil guna, sehingga kebijakan yang dibuat dapat dirasakan manfaat bagi masyarakat banyak. Program yang ditetapkan oleh pemerintah merupakan sebuah kebijakan yang perlu adanya pengawasan atau kontrol terhadap pelaksanaan program tersebut, sehingga tujuan dari kebijakan yang dibuat dapat berdaya guna dan tepat guna, terutama dalam meningkatkan pembangunan dan memberdayakan masyarakat, khususnya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Kontrol berbasis komunitas yang dilakukan terhadap pelaksanaan program raskin hendaknya melahirkan sebuah kebijakan yang dapat memberikan evaluasi terhadap kebijakan yang ditetapkan selama ini, sehingga tujuan dari kebijakan tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan.

2.5. Pemberdayaan Komunitas dan Swadaya Masyarakat Miskin

Pemberdayaan masyarakat miskin merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melahirkan kemadirian dari masyarakat tersebut. Menurut Prijono dan Pranarka (1996), proses pemberdayaan pada dasarnya mengandung dua kecenderungan : (a) kecenderungan primer dari makna pemberdayaan, yakni proses pemberdayaan menekankan kepada proses memberikan atau mengalihkan kekuasaan, kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu menjadi lebih berdaya. Proses ini dilengkapi pula dengan upaya membangun asset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi. (b) Kecenderungan sekunder dari makna pemberdayaan menekankan pada proses menstimulasi, mendorong atau memotovasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog.

Pengklasifikasian makna pemberdayaan ini bukan merupakan klasifikasi yang kaku, namun antar keduanya bisa saling terkait. Agar kecenderungan primer dapat terwujud, seringkali harus melalui kecenderungan sekunder terlebih dahulu.

(35)

Menurut Susiladiharti dalam abu Huraeroh (2003:172) mengungkapkan bahwa terdapat lima hal penting yang perlu dilakukan secara runtun dan stimultan dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat, yaitu; (1) upaya untuk meningkatkan suplai kebutuhan bagi kelompok masyarakat yang paling tidak berdaya, (2) upaya penyadaran, (3) penguatan institusi, (4) upaya penguatan kebijakan dan (5) pengembangan jaringan kerja. Sedangkan menurut Friedman dalam Mardiniah (2003), bahwa pemberdayaan dimaknai sebagai mendapatkan keuatan (power) dan mengkaitkannya dengan kemampuan golongan miskin untuk mendapatkan akses ke sumber-sumber daya yang menjadi dasar kekuasaan dalam suatu sistem atau organisasi. Akses tersebut dipergunakan untuk mencapai kemampuan dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian, golongan miskin dapat mengorganisasikan kemampuan dan potensi yang dimiliki untuk menentukan, merencanakan dan melaksanakan apa yang menjadi keputusan kolektif mereka.

Pemberdayaan masyarakat yang melahirkan kemandirian masyarakat, akan menjadikan masyarakat miskin yang swadaya dalam memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. Menurut Mubyarto (1994) swadaya masyarakat dipahami sebagai semangat untuk membebaskan diri dari ketergantungan pada pihak luar atau kekuatan dari atas dengan memanfaatkan sumber daya yang mereka miliki. Selain itu, swadaya masyarakat merupakan suatu kemampuan untuk memanfaatkan dan mengembangkan fasilitas-fasilitas yang telah tersedia sebagai hasil pembangunan yang dilaksanakan pemerintah.

Masyarakat miskin harus diberdayakan terlebih dahulu agar dapat meningkatkan keswadayaannya. Menurut Jamasy (2004) mengatakan bahwa, salah satu pendekatan pemberdayaan yang belakangan ini mampu mengangkat mereka yang miskin agar menjadi berdaya dan berkembang adalah melalui media kelompok. Mereka diorganisir dalam wadah kelompok, dan kelompok itu dimultifungsikan menjadi media pembelajaran anggota sekaligus proses tukar- menukar informasi, pengetahuan dan sikap. Secara perlahan, kekuatan individu akan muncul menjadi kekuatan kelompok dan di situlah berlangsung proses penguatan atau pemberdayaan.

(36)

Pemberdayaan masyarakat melalui swadaya masyarakat, perlu membentuk kelompok atau perkumpulan yang menjadi pemersatu dalam memberdayakan masyarakat miskin. Pembentukan kelompok masyarakat diarahkan sesuai dengan mata pencaharian masyarakat, sehingga segala keluhan dan kelemahan yang dihadapi oleh masyarakat miskin akan dapat ditanggulangi dan usaha mencari pemecahan masalah dapat dilakukan secara berkelompok. Dengan adanya kelompok masyarakat, maka pemerintah akan mudah dalam menyalurkan berbagai bantuan dalam program pembangunan dan masyarakat akan mudah mengakses bantuan yang disalurkan oleh pemerintah tersebut.

2.6. Kajian Tentang Sistem Kontrol

Program yang dibuat oleh pemerintah, perlu adanya pengendalian atau kontrol terhadap implementasi dari program yang ditetapkan. Salah satu cara untuk melakukan kontrol terhadap kebijakan tersebut adalah dengan melaksanakan sistem kontrol. Sistem kontrol secara umum dapat dimaknai sebagai suatu proses pengaturan atau pengendalian terhadap satu atau beberapa besaran (variabel atau parameter) sehingga berada dalam rangkaian program yang ditetapkan, sehingga program tersebut dapat berdaya guna dan berhasil guna sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Sistem kontrol program Raskin yang dilakukan oleh pemerintah berawal dari konsep yang ditetapkan oleh Bulog (2001) yang mengatakan bahwa pelaksanaan distribusi Raskin diperoleh dari alokasi yang diajukan kepala desa melalui kecamatan dan kabupaten kepada Kepala DOLOG atau Sub-DOLOG sehingga memperoleh Delivery Order (DO). Atas dasar DO tersebutlah distribusi beras dilakukan oleh Satgas Raskin dari gudang ketitik distribusi.

Pelaksanaan sistem kontrol dilakukan untuk menghindari terjadinya penyimpangan dalam pendistribusian Raskin, terutama dalam pendataan keluarga miskin. Selain dari pada itu sistem kontrol yang dilakukan meliputi beberapa aspek terhadap penyimpangan penyaluran Raskin (www.uplink.urbanpoor.or.id) yakni;

(37)

1) Kualitas Raskin yang jelek (apek, kotor, banyak kutunya), sehingga masyarakat yang menerima, kemudian menjualnya lagi untuk dibelikan yang lebih baik.

2) Salah sasaran yaitu rumah tangga yang seharusnya tidak menerima Raskin, ternyata terdaftar juga sebagai penerima akibat kebijakan ditingkat lokal yang meratakan jatah Raskin tersebut untuk seluruh penduduknya.

3) Ada biaya tambahan, sehingga harga perkilogram menjadi lebih mahal dari yang seharusnya.

4) Jatah Raskin dijual lagi kepasar oleh petugas pelaksana.

5) Jumlah timbangan yang berkurang

6) Adanya tunggakan oleh petugas lapangan yang mengakibatkan jatah berikutnya menjadi terhambat.

7) Kesalahan data yang diajukan.

8) Kurang koordinasi mulai dari pusat sampai di tingkat pelaksana.

Kontrol yang dilakukan hendaknya mampu mewujudkan, pengawasan yang lebih efektif terhadap penyaluran Raskin, terutama terhadap berbagai penyimpangan yang mungkin terjadi dalam distribusi Raskin tersebut. Menurut Pedum 2007, pemantauan atau monitoring dan evaluasi (monev) merupakan bagian dari kontrol terhadap program dan bertujuan untuk mengetahui dan menilai efektivitas pelaksanaan Raskin berdasarkan indikator kinerja 6T. Sebagai bagian dari monev, masyarakat dapat menyampaikan aduan dalam bentuk keluhan, kritik, dan saran perbaikan terhadap pelaksanaan program kepada Unit Pengaduan Masyarakat (UPM) atau melalui media elektronik.

Menurut Universitas Brawijaya (2006: 135), kurang efektifnya pemantauan disebabkan kurang seriusnya stakeholder di masing-masing tingkat pemerintahan, sebagai akibat dari tidak adanya penanggung jawab dan alokasi dana khusus untuk mengelola program. Sedangkan Menurut Tabor dan Sawit (2006: 61) Program Raskin turut berperan dalam mengembangkan kemampuan publik untuk melakukan pemantauan atas program pelayanan pemerintah. Berdasarkan tinjauan terhadap berbagai dokumen, dapat disimpulkan bahwa monev eksternal memang telah dilakukan oleh berbagai lembaga, baik perguruan tinggi, organisasi nonpemerintah, lembaga penelitian, maupun lembaga internasional. Sebagian besar monev eksternal

(38)

berbentuk evaluasi terhadap proses pelaksanaan Program Raskin dengan melakukan analisis data sekunder dan kunjungan lapangan. Sementara itu, monev eksternal yang melakukan evaluasi dampak sangat terbatas dan bersifat makro atau menggunakan data sekunder di tingkat nasional

2.7. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran merupakan bagan alur dari proses penelitan yang dilakukan oleh peneliti tentang peningkatan sistem kontrol berbasis komunitas terhadap efektifitas program raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru. Adapun kerangka pemikiran yang peneliti tetapkan dapat dijabarkan dalam dapat dilihat pada gambaran bagan alur sebagai berikut;

(39)

KERANGKA PEMIKIRAN KAJIAN

PERMASALAHAN

1. Sistem Kontrol berbasis komunitas kurang berjalan 2. Kontrol

berbasis komunitas belum efektif 3. Evaluasi

kontrol berbasis komunitas belum dilakukan dengan baik

ANALISIS

1. Kontrol program Raskin perlu melibatkan seluruh elemen masyarakat 2. Perlu

diterapkan program 6 T 3. Adanya tim

evaluasi dari pelaksanaan program Raskin di Kelurahan Rejosari

Rencana Tindak Lanjut

Perlu adanya pemberdayaan

lembaga lokal untuk melakukan kontrol dan setiap elemen

melakukan tindakan

korektif terhadap program raskin tersebut

Out-Put Berjalannya

Sistem kontrol berbasis komunitas

terhadap efektifitas

program Raskin di Kelurahan

Rejosari Kecamatan

Tenayan Raya Kota Pekanbaru

KEBIJAKAN

PRAKTEK RASKIN

PROGRAM KOMUNITAS

Gambar 1 Kerangka Pikir Kajian

(40)

2.8. Konsep Operasional

Konsep operasional merupakan upaya peneliti untuk menyamakan persepsi dalam beberapa indikator yang digunakan dalam penelitian ini. Konsep operasional ditetapkan juga untuk mempermudah peneliti dalam menyusun pembahasan yang dapat dilakukan secara terstruktur dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam penelitian ini. Persepsi yang disamakan dalam konsep operasional berdasarkan pada peningkatan sistem kontrol berbasis komunitas dalam pelaksanaan dan penyaluran beras bagi masyarakat miskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya.

Adapun konsep operasional yang peneliti lakukan terhadap sistem kontrol berbasis komunitas terhadap efektifitas pelakssanaan program raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru, dijabarkan dalam gambaran tabel berikut ini;

(41)

Tabel 2 Kerangka Operasional

Variabel Indikator Sub Indikator

Sistem Kontrol Berbasis Komunitas

terhadap Efektifitas Pengawasan Program Raskin

di kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru

Efektivitas

• Usaha yang dilakukan dalam kontrol program raskin

• Kontrol terhadap tujuan program raskin

• Perbandingan hasil yang dicapai dari kontrol yang dilakukan

Kecukupan

• Tersedianya sumber daya yang cukup dalam kontrol program raskin

• Terpenuhinya kebutuhan masyarakat

Pemerataan

• Kontrol terhadap pemerataan manfaat program raskin

• Kontrol terhadap pemerataan biaya atau harga raskin

Responsivitas

• Penilaian masyarakat terhadap program raskin

• Tingkat kepuasan masyarakat terhadap program raskin

Ketepatan

• Kontrol terhadap manfaat yang diberikan dari pelaksanaan program raskin

• Kontrol terhadap tingkat kelayakan dari program raskin yang dilaksanakan Sumber

• Jika memiliki kesesuaian 81 – 100 % = Sangat Baik : Data Olahan dari Konsep Dunn, 2010

Dari indikator kerangka operasional di atas, maka ditetapkan kriteria pengukuran yang dikemukakan oleh Arikunto (1998). Adapun kriteria pengukuran yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut;

• Jika memiliki kesesuaian 61 – 80 % = Baik

• Jika memiliki kesesuaian 41 – 60 % = Kurang Baik

• Jika memiliki kesesuaian 21 – 40 % = Tidak Baik

• Jika memiliki kesesuaian 0 – 20 % = Sangat Tidak Baik

(42)

3.1. Lokasi Penelitian

Lokasi dari penelitian ini adalah pada Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru. Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru merupakan kecamatan yang relatif baru dimekarkan dari kecamatan induknya yakni Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru dan terletak diperbatasan antara Kota Pekanbaru dan Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Adapun letak Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru. Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru, yang merupakan wilayah admnistratif Pemerintah Kota Pekanbaru dengan posisi terletak dipinggiran Kota Pekanbaru, yang memiliki jarak dari pusat ibukota yakni 7 Kilometer. Wilayah Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru. Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru, merupakan wilayah yang dikenal sebagai industri kerajinan batu bata sebagai bahan baku untuk pembangunan perumahan, gedung, pertokoan dan untuk kebutuhan bangunan lainnya yang pemasarannya diwilayah Kota Pekanbaru dan sekitarnya.

Pemilihan lokasi pada Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru. Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru, dikarenakan kelurahan tersebut merupakan kelurahan yang masih banyak terdapat rumah tangga miskin sebanyak 750 Kepala Keluarga dari 6.807 Kepala Keluarga yang ada di Kelurahan Rejosari. Rumah tangga yang tergolong kepada rumah tangga miskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru, dan di daerah ini banyak potensi-potensi lokal seperti kelembagaan yang bisa dikembangkan sebagai alat kontrol berbasis komunitas.

3.2. Populasi dan Sampel 3.2.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh elemen yang terlibat dalam proses penyaluran program raskin yang dimulai dari bulog, Camat Tenayan Raya, Lurah Rejosari, RW dan RT serta masyarakat penerima program raskin. Kesemua komunitas tersebut akan dijadikan responden penelitian untuk mendapatkan

(43)

informasi yang lebih jelas tentang kontrol berbasis komunitas dalam pelaksanaan program sakin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru.

Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru.

3.2.2. Sampel

Mengingat sampel yang ada dalam penelitian ini relatif bervariasi, maka diperlukan pemilahan sampel. Penetapan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling yakni penetapan sampel dengan cara memilah atau memilih sampel yang dapat memberikan berbagai informasi tentang kontrol berbasis komunitas dalam penyaluran beras bagi keluarga miskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru. Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru. Sampel yang dipilih adalah Kepala Bulog, Camat Tenayan Raya, dan Lurah Rejosari. Sedangkan sampel untuk RW, RT dan Masyarakat penerima program raskin ditetapkan dengan teknik simple random sampling yakni penentuan sampel secara acak sederhana.

Pemilahan ini dilakukan juga mengingat jumlah sampel pada level RW, RT dan Masyarakat penerima beras raskin relatif banyak, sehingga perlu dibatasi.

Pembatasan dilakukan mengingat adanya berbagai keterbatasan yang dimiliki peneliti sehingga dapat ditetapkan sampel dalam penelitian ini. Untuk mengetahui komposisi sampel yang ditetapkan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel komposisi populasi dan sampel sebagai berikut;

Tabel 3 Komposisi Populasi dan Sampel

No. Sub Populasi Populasi % Sampel

1. Bulog Drive Pekanbaru 1 100 1

2. Camat 1 100 1

3. Lurah 1 100 1

4. RW 8 50,00 4

5. RT 40 25,00 10

6. Masyarakat 750 5,00 38

Jumlah 801 - 55

Sumber : Data Olahan Lapangan, 2010

(44)

3.3. Sumber Data

Sumber data yang dikumpulkan alam penelitian ini bersumber pada data primer dan data sekunder. Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung pada objek penelitian dengan cara menggali berbagai informasi melalui wawancara dan observasi langsung pada lokasi penelitian, dalam hal ini Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru dalam menyalurkan beras bagi masyarakkat miskin.

Sedangkan data sekunder merupakan data penunjang yang berupa kumpulan dokumentasi atau leteratur yang ada yang berkaitan dengan pelaksanaan kontrol berbasis komunitas dalam penyaluran beras miskin kepada masyarakat di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru.

Data sekunder juga diperoleh dari instansi Pemerintah Kota yang memiliki keterlibatan dalam penyaluran beras miskin dan juga lembaga yang berwenang, khususnya Badan Urusan Logistik (Bulog) Kota Pekanbaru.

3.4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan metode yang digunakan dalam menggali berbagai berbagai informasi yang lebih akurat dan sesuai dengan kaajian dari penelitian tersebut. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut;

a. Observasi

Observasi merupakan pengamatan langsung kelapangan dalam pelaksanaan program raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru, terutama dalam proses kontrol berbasis komunitas terhadap penyaluran beras raskin tersebut. Tujuan dari metode pengumpulan data dengan teknik observasi adalah untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas melalui kegiatan pengamatan langsung pada lingkungan penelitian. Observasi langsung juga dapat melibatkan peneliti dalam kontrol berbasis komunitas dalam penyaluran beras raskin yang benar-benar diterima oleh masyarakat miskin yang berada di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru.

Gambar

Tabel 1  Indikator Evaluasi Kebijakan
Gambar 1 Kerangka Pikir Kajian
Tabel  2  Kerangka Operasional
Tabel 3  Komposisi Populasi dan Sampel
+7

Referensi

Dokumen terkait

signifikan kepada DPR dengan arah negatif menjelaskan bahwa kenaikan total aset perusahaan yang dibiayai oleh hutang jangka panjang akan berdampak pada

6.1.1 Best Available Information* is used to identify environmental values *within, and, where potentially affected by management activities, outside of the Management

Pamotan-Rembang pada pembelajaran di kelas nampak berdampak langsung pada murid di antarannya dapat: (1) guru kelas terlihat mampu meningkatkan eisiensi belajar ditandai dengan

Proses pembelajaran matematika agar lebih menyenangkan, dapat dilakukan dengan melalui model pembelajaran yang akan dipilih yaitu model pembelajaran Delikan

Berdasarkan data Puskesmas Kota Yogyakarta yang diambil dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dalam data tingkat laporan kejadian anemia tahun 2013, Puskesmas

KHI selain sebagai unifikasi hukum Islam di peradilan agama yang oleh sebagian golongan dianggap sebagai ijma’ nasional dan fikih Indo- nesia, juga merupakan salah satu

Dapat dipahami bahwa tingkat pengetahuan dan pemahaman siswa di MTs Negeri 1 Bongkudai tergolong baik, ini bisa dilihat dari siswa yang semangat dalam mengerjakan

Disisi lain, inverter yang dikontrol dengan metode konduksi 180 Û menghasilkan torsi motor dengan riak yang paling buruk dibandingkan dengan dua metode PWM yang lain Seperti