• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. Pendekatan Serba Barang

5.7. Analisis Efesiensi Pasar

5.7.1. Marjin Tataniaga

Besarnya marjin tataniaga merupakan penjumlahan dari biaya-biaya pemasaran dan keuntungan-keuntungan pemasaran pada masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran suatu produk. Biaya pemasaran terdiri dari biaya pengemasan, biaya penyimpanan, biaya pengangkutan dan sebagainya. Sedangkan keuntungan pemasaran merupakan kepuasan dari lembaga pemasaran yang diukur dari besarnya imbalan jasa yang diperoleh atau diterima atas biaya yang dikeluarkan dalam penyaluran suatu komoditi.

Marjin pemasaran benih padi di Kabupaten Batang hari pada tiap saluran pemasaran yaitu saluran pemasaran 1, 2, 3 dan 4 dapat dilihat pada Tabel 20. Tabel 20. Marjin Pemasaran Benih Padi pada Saluran Pemasaran 1,2,3 dan 4

di Kabupaten Batang Hari, 2004

Saluran Pemasaran 1 2 3 4 Uraian Nilai (Rp/kg) % Nilai (Rp/kg) % Nilai (Rp/kg) % Nilai (Rp/kg) % BBI Biaya produksi 2450 61.25 2450 65.33 Biaya Pemasaran 120 3 120 3.2 Keuntungan 180 4.5 180 4.8 Marjin 300 7.5 300 8 Harga Jual 2750 68.75 2750 73.33

Kel. Petani Penangkar

Biaya produksi 2050 51.25 2050 58.57 Biaya pemasaran 200 5 200 5.71 Keuntungan 250 6.25 250 7.14 Marjin 450 11.25 450 12.86 Harga Jual 2500 62.5 2500 71.43 KUD Harga Beli 2750 68.75 2500 62.5 2500 71.43 Biaya pemasaran 260 6.5 260 6.5 260 7.43 Keuntungan 490 12.25 740 18.5 740 21.14 Marjin 750 18.75 1000 25 1000 28.57 Harga Jual 3500 87.5 3500 87.5 3500 100 Toko Pengecer Harga Beli 3500 87.5 3500 87.5 2750 73.33 Biaya pemasaran 165 4.13 165 4.13 150 4 Keuntungan 335 8.38 335 8.38 850 22.67 Marjin 500 12.5 500 12.5 1000 26.67 Harga Jual 4000 100 4000 100 3750 100 Konsumen Akhir Harga Beli 4000 4000 3750 3500 Total Biaya Pemasaran 545 13.63 625 15.63 270 7.2 460 13.14 Total Keuntungan 1005 25.13 1325 33.12 1030 27.47 990 28.29 Total Marjin 1550 38.76 1950 48.75 1300 34.67 1450 41.47

Saluran pemasaran satu, dimana BBI merupakan produsen benih padi. Total biaya pemasaran pada saluran satu sebesar Rp 545 per kg, dan total keuntungan sebesar Rp 1005 per kg, sehingga total marjin pemasaran pada saluran satu sebesar Rp 1550 per kg. Biaya pemasaran terbesar pada saluran satu ditanggung oleh KUD sebesar Rp 260 per kg, sedangkan biaya pemasaran yang terkecil ditanggung oleh BBI sebesar Rp 120 per kg. Pada saluran satu keuntungan terbesar diperoleh oleh KUD sebesar Rp 490 per kg, sedangkan keuntungan terkecil diperoleh BBI sebesar Rp 180 per kg. Marjin pemasaran terbesar diperoleh KUD sebesar 750 per kg, sedangkan marjin terkecil diperoleh BBI sebesar 300 per kg (Tabel 20).

Pada saluran pemasaran dua, dimana Kelompok Petani Penangkar sebagai produsen benih padi. Total biaya pemasaran pada saluran dua sebesar Rp 600 per kg dan total keuntungan sebesar Rp 1350 per kg, sehingga total marjin pemasaran pada saluran dua sebesar Rp 1950 per kg. Biaya terbesar pada saluran pemasaran dua ditanggung oleh KUD dengan biaya pemasaran sebesar Rp 260 per kg, sedangkan biaya pemasaran terkecil ditanggung oleh Toko Pengecer sebesar Rp 165 per kg. KUD merupakan lembaga pemasaran yang memperoleh keuntungan terbesar pada saluran pemasaran dua sebesar Rp 740 per kg, sedangkan Kelompok Petani Penangkar merupakan lembaga pemasaran yang memperoleh keuntungan terkecil pada saluran pemasaran dua sebesar Rp 250 per kg. Marjin pemasaran terbesar untuk saluran pemasaran dua diperoleh KUD sebesar Rp 1000 per kg, sedangkan marjin pemasaran terkecil diperoleh Kelompok Petani Penangkar sebesar Rp 450 per kg (Tabel 20).

Pada saluran pemasaran tiga Toko Pengecer langsung membeli benih padi dari BBI sebagai produsen benih padi, tetapi tidak semua Toko Pengecer membeli benih padi dari BBI dikarenakan faktor willayah. Total biaya pemasaran pada saluran tiga sebesar Rp 270 per kg dan total keuntungan sebesar Rp 1030

per kg, sehingga total marjin pemasaran pada saluran tiga sebesar Rp 1300 per kg. Toko Pengecer merupakan lembaga pemasaran yang menanggung beban pemasaran terbesar pada saluran tiga sebesar Rp 150 per kg, sedangkan BBI menanggung biaya pemasaran terkecil pada saluran tiga sebesar Rp 120 per kg. Keuntungan terbesar pada saluran tiga diproleh Toko Pengecer sebesar Rp 850 per kg, sedangkan keuntungan terkecil pada saluran tiga diperoleh BBI sebesar Rp 180 per kg. Marjin terbesar pada saluran tiga diperoleh Toko Pengecer sebesar Rp 1000 per kg, sedangkan marjin terkecil pada saluran tiga diperoleh BBI sebesar Rp 300 per kg (Tabel 20).

Pada saluran pemasaran empat, KUD langsung memasarkan benih padi ke konsumen akhir (petani padi) dan harga jual yang ditawarkan lebih murah dibandingkan harus membeli pada Toko Pengecer. Total biaya pemasaran pada saluran empat sebesar Rp 460 per kg dan total keuntungan sebesar Rp 990 per kg, sehingga total marjin pemasaran pada saluran empat sebesar Rp 1450 per kg. Biaya pemasaran terbesar pada saluran empat ditanggung oleh KUD sebesar Rp 260 per kg, sedangkan biaya terkecil pada saluran empat ditanggung oleh Kelompok Petani Penangkar sebesar Rp 200 per kg. Keuntungan terbesar pada saluran empat diperoleh KUD sebesar Rp 740 per kg, sedangkan Kelompok Petani Penangkar mendapatkan keuntungan terkecil pada saluran empat sebesar Rp 250 per kg. Marjin pemasaran terbesar pada saluran empat diperoleh KUD sebesar Rp 1000 per kg, sedangkan marjin pemasaran terkecil sebesar Rp 450 per kg diperoleh Kelompok Petani Penangkar (Tabel 20).

Biaya pemasaran terbesar dari setiap saluran pemasaran ditanggung oleh KUD sebesar Rp 260 per kg, hal ini disebabkan benih padi yang dibeli dari Kelompok Petani Penangkar tidak dalam kemasan yang langsung dapat dipasarkan, sehingga KUD harus mengeluarkan biaya pengemasan agar benih padi siap untuk dikonsumsi petani padi. Keuntungan terbesar dari setiap saluran

pemasaran juga diperoleh KUD, kecuali pada saluran pemasaran tiga. Pada saluran pemasaran tiga keuntungan terbesar diperoleh Toko Pengecer, sebesar Rp 850 per kg, karena Toko Pengecer langsung membeli benih padai dari BBI. Pada saluran satu dan dua Toko Pengecer membeli benih padi dari KUD sebesar Rp 3500 per kg, sehingga pada saluran satu dan dua harga beli toko pengecer lebih mahal dibandingkan dengan harga pada saluran tiga sebesar Rp 2750 per kg.

Keuntungan terbesar yang diterima KUD diperoleh dari saluran pemasaran dua dan empat yaitu sebesar Rp 740 per kg, sedangkan keuntungan terkecil berada pada saluran pemasaran satu yaitu sebesar Rp 490 per kg, hal ini dikarenakan harga beli pada saluran pemasaran satu yang ditawarkan Balai Benih Induk lebih besar dibandingkan harga beli yang ditawarkan Kelompok Petani Penangkar.

Marjin pemasaran terbesar dari setiap lembaga pemasaran diperoleh KUD pada saluran pemasaran empat sebesar Rp 1000 per kg dan Toko Pengecer pada saluran tiga sebesar Rp 1000 per kg. Tetapi untuk Toko Pengecer biaya pemasaran yang ditanggung lebih kecil dibandingkan dengan KUD.

Total biaya pemasaran terbesar untuk setiap saluran pemasaran benih padi ditanggung oleh saluran pemasaran dua sebesar Rp 600 per kg, sedangkan total biaya pemasaran terkecil ditanggung oleh saluran pemasaran tiga sebesar Rp 270 per kg. Total keuntungan terbesar dari setiap saluran pemasaran benih padi diperolah saluran dua sebesar Rp 1325 per kg, sedangkan saluran pemasaran empat memperoleh total keuntungan terkecil sebesar Rp 990 per kg. Total marjin pemasaran terbesar untuk setiap saluran pemasaran diperoleh saluran dua sebesar Rp 1950 per kg, sedangkan saluran tiga memperoleh total marjin pemasaran terkecil sebesar Rp 1300 per kg.

Saluran pemasaran benih padi yang paling efisien adalah saluran pemasaran tiga, karena memiliki total marjin pemasaran terkecil dari setiap saluran pemasaran sebesar Rp 1300 per kg atau 34,67 persen dari harga konsumen akhir. Apabila dilihat dari segi tingkat harga konsumen akhir, maka saluran empat merupakan saluran pemasaran menawarkan harga paling rendah yaitu sebesar Rp 3500 per kg. Harga konsumen akhir yang rendah akan menguntungkan petani padi sebagai konsumen akhir.

Dokumen terkait