3. Pendekatan Serba Barang
5.1. Sistem Pengadaan dan Distribusi Benih
Kebutuhan benih padi, terutama untuk benih padi unggul di Kabupaten Batang Hari dipenuhi oleh Balai Benih Induk (BBI) dan Kelompok Petani Penangkar. Sistem pengadaan dan distribusi benih padi dilakukan dengan cara kerjasama antara lembaga-lembaga yang bertanggung jawab dan terlibat langsung dalam pengadaan dan distribusi benih padi. Tanggung jawab lembaga-lembaga tersebut dapat digolongkan kedalam tiga golongan, yaitu lembaga-lembaga yang betanggung jawab atas ketersediaan benih padi, lembaga yang bertanggung jawab atas produksi benih padi serta lembaga yang bertanggung jawab atas penyaluran benih padi dari produsen sampai petani padi
Dinas Pertanian Kabupaten Batang Hari merupakan lembaga yang mempunyai kewajiban untuk menjamin ketersediaan benih padi di Kabupaten Batang Hari. Ketersediaan benih padi tersebut tidak hanya dalam hal jumlah, tetapi ketersediaan benih padi harus sesuai dengan prinsip enam tepat 6T.
Lembaga yang bertanggung jawab untuk melakukan produksi benih padi yaitu Balai Benih Induk (BBI) dan petani penangkar. Kelompok Petani Penangkar merupakan produsen benih terbesar di Kabupaten Batang Hari dengan produksi sebesar 46 ton. Dalam melakukan produksinya petani penangkar mendapatkan bantuan dari Dinas Pertanian Kabupaten Batang Hari berupa sarana produksi maupun bimbingan dan penyuluhan. Hal tersebut dilakukan oleh Dinas Pertanian untuk menjamin jumlah produksi dan kualitas benih yang dihasilkan oleh petani penangkar.
Kelompok Petani Penangkar di Kabupaten Batang Hari berjumlah 3 kelompok tani yang berlokasi di dua kecamatan. Produksi benih padi yang
terbesar adalah Kelompok Petani Penangkar Teluk Kramat yang berlokasi di Kecamatan Batin XXIV dengan produksi sebesar 27 ton. Produksi benih padi BBI dan Kelompok Petani Penangkar dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Produksi Benih Padi BBI dan Kelompok Petani Penangkar di Kabupaten Batang Hari Tahun 2004
No Sumber Lokasi Luas Lahan (Ha) Produksi (ton)
1 Kelompok Tani Penangkar Teluk Kramat Kec. Batin XXIV 20 27
Suka Tani Kec. Pemayung 15,95 12
Karya Bakti Kec. Pemayung 10,35 7
2 BBI Sukajaya Kec.
Pemayung 19 23
Jumlah 65,30 69
Sumber : Disperta Kabupaten Batang Hari
Dinas Tanaman Pangan Provinsi Jambi, 2005
Jumlah produksi benih padi yang dilakukan oleh Balai Benih Induk (BBI) adalah sebesar 23 ton. Jumlah tersebut masih belum dapat memenuhi kebutuhan benih padi di Kabupaten Batang Hari yaitu sebesar 120,06 ton. Adapun kebutuhan benih padi Kabupaten Batang Hari dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Kebutuhan Benih Padi Kabupaten Batang Hari Tahun 2004 Kebutuhan Benih (ton) No Kecamatan Target Tanam (Ha)
Unggul Lokal
1. Maro Sebo Ulu 2.370 24,90 61,60
2. Mersam 2.660 31,92 63,84
3. Muara Tembesi 1.301 9,76 39,00
4. Batin XXIV 522 14,66 2,00
5. Maro Sebo Ilir 500 3,00 16,00
6. Muara Bulian 1.750 21,00 42,00
7. Bajubang 175 1,20 5,40
8. Pemayung 1.175 14,10 28,20
Jumlah 10.453 120,06 258,04
Sumber : Disperta Kabupaten Batang Hari
Penyaluran benih padi di Kabupaten Batang Hari dilakukan oleh KUD dan Toko Pengecer. Lembaga tersebut berfungsi sebagai lembaga yang menyalurkan benih dari produsen sampai konsumen. KUD merupakan lembaga
yang paling dominan dalam upaya penyaluran benih padi, yaitu sebesar 66 ton, sedangkan Toko Pengecer menyalurkan benih padi hanya sebesar 3 ton. Jumlah penyaluran Benih Padi dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Jumlah penyaluran Benih Padi di Kabupaten Batang Hari Tahun 2004 No Lembaga Sumber Benih Lokasi Jumlah
(ton)
1. KUD - BBI
- Petani Penangkar Kec. Muara Bulian 66
2. Toko Pengecer - BBI Kec. Muara Bulian 1
3. Toko Pengecer - KUD Kec. Marosebo Ulu 2
Jumlah 69
Sumber : Data Primer, diolah
5.2. Sistem Pemasaran
5.2.1. Sistem Pemasaran antara BBI dengan KUD
Sistem pemasaran antara BBI dengan KUD pada pemasaran produksi benih padi, hubungan yang terjadi adalah pada saat BBI sebagai produsen benih padi berhadapan lansung dengan pihak KUD sebagai lembaga pemasaran yang melakukan pembelian benih padi. Sistem penentuan harga jual benih padi di BBI ditentukan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jambi No : 521.21/1340/Diperta/tahun 1999. Harga tersebut diolah berdasarkan subsidi dan disesuaikan dengan kemampuan petani padi. Dalam hubungan yang terjadi antara BBI pada tahapan pertama dengan KUD pada tahapan kedua pada saluran pemasaran benih padi satu, terdapat proses pengumpulan dan penyaluran benih padi dari BBI oleh KUD.
5.2.2. Sistem Pemasaran antara Kelompok Petani Penangkar dengan KUD
Sistem pemasaran antara Kelompok Petani Penangkar dengan KUD pada pemasaran benih padi, hubungan yang terjadi adalah pada saat Kelompok Petani Penangkar sebagai produsen benih padi di Kabupaten Batang Hari berhadapan langsung dengan KUD sebagai lembaga pemasaran yang melakukan pembelian benih padi. Penentuan harga jual benih padi ditentukan
oleh KUD dan sistem pembayaran antara KUD dengan Kelompok Petani Penangkar dilakukan secara tunai. Sedangkan dalam hubungan yang terjadi antara Kelompok Petani Penangkar pada tahapan pertama dengan KUD tahapan kedua pada saluran pemasaran benih padi dua, terdapat proses pengumpulan dan penyaluran benih padi dari Kelompok Petani Penangkar oleh KUD.
5.2.3. Sistem Pemasaran antara BBI dengan Toko Pengecer
Sistem pemasaran yang terjadi BBI dengan Toko Pengecer pada pemasaran benih padi, hubungan yang terjadi adalah BBI selaku produsen benih padi berhadapan langsung dengan Toko Pengecer sebagai lembaga pemasaran yang melakukan pembelian benih padi. Untuk penentuan harga jual benih padi BBI berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jambi No : 521.21/1340/Diperta/tahun 1999. Sistem pembayaran antara Toko Pengecer dengan BBI dilakukan secara tunai. Dalam hubungan yang terjadi antara BBI pada tahapan pertama dengan Toko Pengecer pada tahapan kedua pada saluran pemasaran benih padi tiga, terdapat proses pengumpulan dan penyaluran benih padi oleh BBI kepada Toko Pengecer dan proses penyaluran benih padi dari Toko Pengecer kepada petani padi.
5.2.4. Sistem Pemasaran antara KUD dengan Toko Pengecer
Sistem pemasaran antara KUD dengan Toko Pengecer pada pemasaran benih padi, hubungan yang terjadi pada saat KUD berhadapan lansung dengan Toko Pengecer. Untuk penentuan harga jual benih padi ditetapkan oleh KUD dan sistem pembayaran kepada KUD dilakukan secara tunai. Dalam hubungan yang terjadi antara KUD pada tahapan kedua dan Toko Pengecer tahapan ketiga pada saluran pemasaran benih padi satu dan dua, terdapat proses pengumpulan dan penyaluran benih padi oleh KUD kepada Toko
Pengecer dan proses penyaluran benih padi dari Toko Pengecer kepada petani padi.
5.3. Saluran Pemasaran
Saluran pemasaran didefinisikan sebagai rangkaian lembaga pemasaran yang dilalui barang dari produsen hingga ke konsumen. Suatu saluran yang berbeda akan memberikan keuntungan yang berbeda pula kepada masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat dalam kegiatan pemasaran tersebut. Saluran pemasaran benih padi di Kabupaten Batang Hari terdiri dari empat saluran pemasaran yaitu:
Saluran Pemasaran 1: BBI → KUD → Toko Pengecer → Petani Padi
Saluran Pemasaran 2: Kelompok Petani Penangkar → KUD → Toko Pengecer → Petani Padi
Saluran Pemasaran 3: BBI → Toko Pengecer → Petani Padi
Saluran Pemasaran 4: Kelompok Petani Penangkar → KUD → Petani Padi 95,70 % 100 % 22 Ton 46 Ton 4,30 % 2.94 % 97,06 % 1 Ton 2 Ton 66 Ton
(3) (1) (2) (4)
3 Ton
Gambar 3. Saluran Pemasaran Benih Padi
Balai Benih Induk 23 Ton
Koperasi Unit Desa 68 Ton
Toko Pengecer 3 Ton
Petani Padi 66 Ton Kelompok Petani Penangkar
5.3.1. Saluran Pemasaran I
Saluran pemasaran satu terdiri dari tiga lembaga pemasaran yaitu BBI → KUD → Toko Pengecer → Petani Padi. Kegiatan penjualan benih padi yang dilakukan BBI kepada KUD yaitu sebesar 95,70 persen (23 ton) dari total produksi, sedangkan KUD menjual benih padi kepada Toko Pengecer yaitu sebesar 2,94 persen (1 ton) dari total produksi. Alasan Toko Pengecer menggunakan saluran ini karena perbedaan geografis yang menyebabkan perbedaan biaya pengangkutan atau faktor wilayah.
KUD pada saluran ini menentukan harga berdasarkan harga yang berlaku di BBI. Sistem pembelian antara KUD dengan BBI biasanya dilakukan secara tunai. Setelah KUD membeli benih padi dari BBI maka dilakukan pengemasan dengan ukuran kemasan 15 kg/kemasan, lalu melakukan kegiatan pengangkutan untuk menjual kembali benih padi yang telah dibeli. Kemudian KUD menjual benih padi tersebut kepada Toko Pengecer. Setelah sampai di Toko Pengecer maka petani padi dapat langsung membelinya.
5.3.2. Saluran Pemasaran 2
Saluran pemasaran dua juga terdiri dari empat lembaga pemasaran yaitu Kelompok Petani Penangkar → KUD → Toko Pengecer → Petani Padi. Dalam saluran pemasaran dua ini, yang menjadi produsen bukan BBI melainkan Kelompok Petani Penangkar. Kegiatan penjualan benih padi yang dilakukan Kelompok Petani Penangkar ke KUD yaitu sebesar 100 persen (46 ton) dari total produksi, kemudian KUD menjual benih padi kepada Toko Pengecer yaitu sebesar 2,94 persen (1 ton) dari total produksi dan Toko Pengecer lansung menjual benih padi ke petani padi.
Benih padi yang dipasarkan adalah benih padi yang merupakan hasil produksi dari Kelompok Petani Penangkar sendiri. Kelompok Petani Penangkar
merupakan kelompok tani yang memproduksi benih padi untuk kebutuhan benih padi di kabupaten Batang Hari, berdasarkan instruksi dari Dinas Pertanian Kabupaten Batang Hari.
KUD langsung menjual benih padi yang telah dibeli dari Kelompok Petani Penangkar kepada Toko Pengecer yang ada di Kabupaten Batang Hari. KUD pada saluran pemasaran ini menentukan harga yang berlaku berdasarkan harga yang ditetapkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Batang Hari. Sistem pembayaran antara KUD dengan Kelompok Petani Penangkar biasanya dilakukan secara tunai, begitu pula cara yang terjadi antara KUD dengan Toko Pengecer.
5.3.3. Saluran Pemasaran 3
Saluran pemasaran tiga merupakan saluran pemasaran yang terdiri dari BBI → Toko Pengecer → Petani Padi. Kegiatan penjualan benih padi yang dilakukan BBI kepada Toko Pengecer yaitu sebesar 4,30 persen (1 ton) dari total produksi di tingkat BBI. Alasan Toko Pengecer menggunakan saluran pemasaran ini karena harga jual dari BBI lebih murah dibandingkan harga jual KUD pada saluran pemasaran satu, sehingga Toko Pengecer dapat lebih murah menjual benih padi pada petani padi tetapi tetap mendapat keuntungan yang lebih tinggi.
Harga yang berlaku adalah harga yang sedang terjadi di pasar berdasarkan informasi yang berasal dari pedagang lainnya dan sistem pembayaran dilakukan secara tunai. Toko Pengecer tidak hanya menjual benih padi saja akan tetapi menjual produk lain seperti pupuk, obat-obatan (alsintan). Toko Pengecer menjual produknya langsung kepada petani padi.
5.3.4. Saluran Pemasaran 4
Saluran pemasaran empat terdiri dari Kelompok Petani Penangkar → KUD → Petani Padi. Pada saluran pemasaran ini konsumen akhir langsung membeli ke KUD tanpa melalui Toko Pengecer. Harga beli petani padi pada saluran pemasaran ini lebih murah dibandingkan dengan harga jual yang ditawarkan Toko Pengecer. Kegiatan penjualan benih padi yang dilakukan Kelompok Petani Penangkar ke KUD yaitu sebanyak 100 persen dari total produksi. Artinya 46 ton benih padi yang diproduksi oleh Kelompok Petani Penangkar seluruhnya dijual ke KUD, kemudian KUD menyalurkan benih padi ke petani padi.
Posisi KUD pada saluran pemasaran empat ini sama dengan saluran pemasaran dua dimana KUD yang menentukan harga yang berlaku berdasarkan harga yang ditetapkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Batang Hari. Harga jual Kelompok Petani Penangkar lebih murah dibandingkan dengan harga jual benih padi di BBI, hal ini disebabkan biaya pemasaran yang dikeluarkan Kelompok Petani Penangkar lebih sedikit dan benih padi yang dipasarkan oleh Kelompok Petani Penangkar tidak dalam bentuk kemasan.