• Tidak ada hasil yang ditemukan

Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) . 97

BAB 4. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI

4.4. Kebijakan Baru/Khusus Dalam Rkp 2010 - 2012

4.4.1. Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) . 97

Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat diperlukan upaya-upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, menjaga stabilitas harga, serta langkah-langkah perluasan/pemerataan untuk mengurangi kesenjangan melalui kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin dan tertinggal.

Selanjutnya telah ditetapkan prakarsa-prakarsa baru sebagai pengungkit (leverage) bagi percepatan dan perluasan pertumbuhan ekonomi nasional, yang mencakup:

Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI); •

Master Plan Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI); •

Peningkatan Ketahanan Pangan; •

Percepatan Pembangunan Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur; •

Penanganan Transportasi Kota-kota Besar; •

4.4.1. Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)

Penyusunan MP3EI tahun 2011-2025 merupakan tindak lanjut dari direktif Presiden Republik Indonesia yang disampaikan pada retreat Bogor pada 30 Desember 2010, Raker Presiden di JCC tanggal 10 Januari 2011, Rapat Kerja dengan Pemerintah Daerah dan BUMN di Istana Bogor, Jawa Barat pada 21-22 Februari 2011 dan Rapat Kerja dengan Dunia Usaha di Istana Bogor, Jawa Barat pada 18 -19 April 2011. Adapun kedudukan kebijakan pembangunan nasional khususnya dalam RPJPN tahun 2005 – 2025 dan RPJMN tahun 2010 – 2014 terdapat dalam gambar 4.2.

Gambar 4.2. Kedudukan MP3EI Dalam Kebijakan Pembangunan Nasional

MP3EI merupakan penajaman dan perluasan dokumen RPJMN tahun 2010 – 2014 yang dimuat dalam RKP tahun 2011 – 2012 yang bertujuan untuk meningkatkan peran swasta secara lebih luas dalam melakukan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi 5 – 15 tahun mendatang. Fokus MP3EI terdiri dari 8 (delapan) program utama yang meliputi: sektor industri manufaktur, pertambangan, pertanian, kelautan, pariwisata, telekomunikasi, energi dan pengembangan kawasan strategis nasional. Program utama tersebut selanjutnya dijabarkan dalam 22 (dua puluh dua) kegiatan utama, yaitu: industri besi-baja, makanan-minuman, tekstil, peralatan transportasi, perkapalan, perkayuan, nikel, tembaga, bauksit, kelapa sawit, karet, kakao, peternakan, perikanan, food estate, pariwisata, telematika, batubara, alutsista, minyak dan gas, serta pengembangan Metropolitan Jabodetabek dan pembangunan Kawasan Selat Sunda.

Kebutuhan investasi dalam MP3EI, termasuk pembangunan infrastruktur diperoleh dari sumber pendanaan yang berasal dari badan usaha (dalam negeri maupun luar negeri) dan Pemerintah dengan perkiraan total kebutuhan investasi sebesar Rp. 481,18 T dengan 74% (Rp. 356,80 T) bersumber dari badan usaha dan 25% (Rp. 124,38 T) berasal dari swasta.

Pengembangan MP3EI dilakukan dengan pendekatan terobosan (breakthrough) bukan Business As Usual, melalui: pertama, pihak swasta akan diberikan peran penting dalam pengembangan MP3EI, sedangkan pihak pemerintah akan berfungsi sebagai regulator, fasilitator dan katalisator. Dari sisi regulasi, Pemerintah akan melakukan deregulasi (debottlenecking) terhadap regulasi yang menghambat pelaksanaan investasi di 8 (delapan) program utama.

Strategi pelaksanaan MP3EI dilakukan dengan mengintegrasikan 3 (tiga) elemen utama yaitu:

Mengembangkan 6 (enam) koridor ekonomi indonesia, yaitu: Koridor Sumatera, Koridor Jawa, Koridor a)

Kalimantan, Koridor Sulawesi, Koridor Bali – Nusa Tenggara, dan Koridor Papua – Kepulauan Maluku. Pembangunan 6 (enam) koridor ekonomi dilakukan melalui pembangunan pusat-pusat pertumbuhan di setiap koridor dengan mengembangkan klaster industri dan kawasan ekonomi khusus (KEK) sebagai Kawasan Perhatian Investasi (KPI) yang berbasis sumber daya unggulan di setiap koridor ekonomi.

Gambar …. 6 Koridor Ekonomi

Memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara internasional b)

(locally integrated, internationally connected). Penguatan konektivitas nasional ditujukan untuk memperlancar distribusi barang dan jasa, dan mengurangi biaya transaksi (transaction cost) logistik. Hal ini akan dilakukan melalui:

Penguatan konektivitas intra dan antar pusat-pusat pertumbuhan dalam koridor ekonomi untuk –

mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan,

Penguatan konektivitas antar koridor (pulau) untuk memperlancar pengumpulan dan

pendistribusian

(collection and distribution) bahan baku, bahan setengah jadi dan produk akhir dari dan keluar koridor (pulau), dan;

Penguatan konektivitas internasional sebagai pintu keluar dan masuk perdagangan dan pariwisata –

antar negara;

Mempercepat peningkatan kemampuan

c) SDM dan IPTEK untuk mendukung pengembangan program

utama di setiap koridor ekonomi. Elemen utama untuk percepatan kemampuan SDM dan IPTEK diantaranya meliputi:

Meningkatkan kompetensi teknologi dan ketrampilan/ keahlian tenaga kerja. –

Meningkatkan kegiatan dan membangun pusat-pusat pengembangan R & D di pusat-pusat –

pertumbuhan (KEK dan Klaster Industri) di setiap koridor ekonomi melalui kolaborasi antar Pemerintah, Dunia Usaha dan Perguruan Tinggi.

4.4.2. Master Plan Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI)

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengentasan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) 2011 – 2025 merupakan perluasan kebijakan yang afirmatif (ada keberpihakan) penanggulangan kemiskinan, terutama dalam mendukung MP3EI.

MP3KI diarahkan untuk mendorong perwujudan pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan, khususnya bagi masyarakat miskin dan marjinal sehingga dapat terlibat langsung dan menerima manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi yang growth, pro-poor, pro-job, dan pro-environment.

Adapun arah kebijakan lintas bidang untuk penanggulangan kemiskinan dilakukan melalui 5 (lima) fokus prioritas, diantaranya: Fokus 1. Peningkatan dan Penyempurnaan Kualitas Kebijakan Perlindungan Sosial Berbasis Keluarga, Fokus 2. Penyempurnaan dan Peningkatan Efektivitas Pelaksanaan PNPM Mandiri, Fokus 3. Peningkatan Akses Usaha Mikro dan Kecil kepada Sumberdaya Produktif, dan Fokus 4. Peningkatan dan Perluasan Program-Program Pro-Rakyat. Program-program ini ditujukan untuk melengkapi berbagai program dan kegiatan yang telah dijalankan melalui 3 klaster program penanggulangan kemiskinan, yaitu bantuan dan perlindungan sosial berbasis keluarga (klaster I), pemberdayaan masyarakat (klaster II), pemberdayaan usaha mikro dan kecil (klaster III). Adapun program murah untuk rakyat (klaster IV) diupayakan untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan.

Klaster 4 program pro-rakyat akan dilakukan melalui 6 program, dimana program 3 dan 6 merupakan ranah keciptakaryaan, yaitu: (3) penyediaan air bersih untuk rakyat; (6) peningkatan kehidupan masyarakat pinggir perkotaan mencakup pembangunan rumah murah atau upaya realokasi jika kondisi sangat buruk. Terkait dengan program 6 kluster 4 peningkatan kehidupan masyarakat miskin perkotaan, dukungan diberikan dengan bina lingkungan, yaitu: 1) penataan kawasan kumuh melalui peningkatan infrastruktur kawasan, peningkatan kualitas lingkungan permukiman, pengembangan permukiman baru dan revitalisasi kawasan-kawasan fungsional; 2) Peningkatan kualitas lingkungan permukiman melalui peningkatan infrastruktur lingkungan dan perbaikan perumahan.

Kebijakan penanggulangan kemisikinan (pro-rakyat) Kementerian PU meliputi klaster II dan klaster IV. Klaster II merupakan pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kemampuan masyarakat miskin berdasarkan Perpres No. 13/2009 yang dilanjutkan dengan Perpres No. 15/2010. Klaster IV merupakan penggabungan klaster I, II dan II dengan program air bersih untuk rakyat dan program peningkatan kehidupan masyarakat miskin perkotaan dengan berdasar pada Kepres No. 10/2011. Secara khusus, klaster II dan IV diwujudkan dalam PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) yang terdiri atas PNPM Mandiri Perkotaan, PNPM PISEW dan PNPM Rural Infrastructure yang memiliki kegiatan lingkungan. Adapun kegiatan lingkungan diantaranya meliputi air bersih, drainase, jembatan, MCK, TPA/gerobak sampah, perpipaan, dan sanitasi perdesaan. Keseluruhanya dilaksanakan disejumlah lokasi sasaran provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan/desa dengan jumlah yang berbeda setiap tahunnya sesuai dengan ketetapan Pokja Pengendali berdasarkan dinamika status administrasi wilayah (pemekaran/penggabungan kecamatan).

Adapun target MDGs yang menjadi acuan MP3KI adalah sebagai berikut. Terkait dengan program 3 kluster 4 air bersih untuk rakyat: proporsi penduduk terhadap sumber air minum terlindungi (akses aman) nasional

47,71% (dari target MDGs 68,87%), perkotaan 49,82% (dari target MDGs 78,19%) dan perdesaan 45,72% (dari target MDGs 61,60%) dengan total cakupan pelayanan air minum perpipaan nasional 25,56% (dari target MDGs 41,03%), perkotaan 43,96% (dari target MDGs 68,32%) dan perdesaan 11,54% (dari target MDGs 19,76%). Pelayanan air minum diberikan melalui skema kebijakan pendanaan SPAM yang sesuai dengan kebutuhannya.

Selain itu dukungan penyediaan air minum juga diberikan pada nelayan, pembangunan daerah tertinggal dan masyarakat terpinggirkan perkotaan pada tahun 2012. Air minum untuk nelayan diberikan untuk mendukung program pro rakyat KKP yang bertujuang meningkatkan kualitas hidup nelayan. Sedangkan air minum untuk daerah tertinggal berkoordinasi dengan Kementerian PDT mengenai lokasi sasaran.