DIMENSI SOSIAL DAN BUDAYA ISLAM
2. Masyarakat Islam
2.1.Pengertian Masyarakat Islam
Sebagai agama besar yang dianut oleh satu milyar lebih umat manusia, Islam telah membentuk masyarakat yang kuat dalam tatanan yang penting dan teratur yang disebut dengan masyarakat Islam. Islam adalah agama wahyu terakhir yang disebarkan oleh Nabi Muhammad saw. Beliau menyebarkan agama ini sehingga banyak orang yang masuk Islam
64
dan menjadikan umat Islam menjadi umat yang kuat dalam masyarakat yang aman, tertib dan tentram. Agama Islam menjadikan orang-orang yang menganutnya menjadi sebuah masyarakat Islam yang sangat erat. Pengertian dari masyarakat Islam itu sendiri adalah masyarakat yang seluruh atau sebagian besar anggotanya merupakan orang-orang Islam dan berpedoman pada akidah dan hukum Islam.
Menurut Muhammad Quthb, bahwa masyarakat Islam adalah suatu masyarakat yang segala sesuatunya bertitik tolak dari Islam dan tunduk pada sistematika Islam. Berangkat dari hal tersebut di atas, maka suatu masyarakat yang tidak diliputi oleh suasana Islam, corak Islam, bobot Islam, prinsip Islam, syariat dan aturan Islam serta berakhlak Islam, bukan termasuk masyarakat Islam. Masyarakat Islam bukan hanya sekedar masyarakat yang beranggotakan orang Islam, sementara syariat Islam tidak ditegakkan di atasnya, meskipun mereka shalat, puasa, zakat dan haji. Lebih jauh lagi bahwa masyarakat Islam bukanlah masyarakat yang melahirkan suatu jenis Islam khusus untuk dirinya sendiri, diluar ketetapan Allah yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. Atas dasar itulah, masyarakat Islam harus menjadikan segalah aspek hidupnya, prinsip-prinsipnya, amal perbuatannya, nilai hidupnya, jiwa dan raganya, hidup dan matinya terpancar dari sistem Islam. Oleh karena itu, kekuasaan yang mengatur kehidupan manusia haruslah kekuasaan yang mengatur adanya manusia itu sendiri. Dengan demikian, tetaplah Allah saja yang mempunyai kekuasaan tertinggi, sehingga masyarakat Islam senantiasa diperintah dan diatur oleh pola syariat-Nya.
Dalam pandangan Muhammad Quthb bahwa masyarakat Islam adalah masyarakat yang berbeda dengan masyarakat lain. Letak perbedaanya yaitu, peraturan-peraturannya khusus, undang-undangnya yang Qur’ani, anggota-anggotanya yang beraqidah satu, aqidah islamiyah dan berkiblat satu. Sedangkan menurut Mahdi Fadhlullah bahwa yang dimaksud dengan masyarakat Islam adalah satu-satunya masyarakat yang tunduk kepada Allah dalam segala masalah dan memahami bahwa makna ibadah itu tidak cukup dengan melakukan syiar-syiar keagamaan seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lainnya, karena itu hanya bentuk ibadah nyata. Dari pengertian di atas, terdapat kejelasan bahwa yang menjadi dasar pengikat masyarakat Islam adalah rasa iman kepada Allah. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa yang mengikat masyarakat Islam adalah dasar persamaan aqidah, bukan didasarkan atas ikatan jenis bangsa, tanah air, warna kulit, maupun bahasa. Masyarakat Islam inilah yang memiliki watak dan adat istiadat yang terpadu walaupun terdiri dari beberapa suku bangsa, warna kulit, dan bahasa. Ia tetap memiliki dan menjalin ikatan yang kuat berupa tali persaudaraan yang mengakar dari nilai-nilai agama Islam.
2.2. Karakteristik Masyarakat Islam
Masyarakat Islam memiliki karakteristik tertentu yang membedakan dengan masyarakat non Islam, yaitu :
a. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang ber-Tauhid, artinya beriman kepada Allah Yang Maha Esa. Dasar Ketauhidan ini tidak mengurangi toleransi, kebebasan yang diberikan oleh Islam kepada individu dalam beragama.
b. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang terbuka berdasarkan pengakuan pada kesatuan umat dan cita-cita persaudaraan sesama manusia. Islam menganggap rasisme, sukuisme, kastaisme, dan dinastiisme sebagai suatu hal yang mengingkari ketentuan Allah dan berkhianat terhadap sesama umat manusia.
c. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang terpadu, integratif, dimana agama menjadi perekat yang menyatukannya. Masyarakat yang demikian hanya mungkin terbina, apabila mengikuti prinsip-prinsip keseimbangan dalam segala aspek kehidupan mereka. Karena itu masyarakat yang terpadu merupakan masyarakat yang seimbang.
65
d. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang dinamis dan progresif, karena manusia ditugaskan sebagai khalifah Allah di muka bumi. Mereka diperintahkan untuk mewujudkan shibghah Allah dan keagungan serta kemuliaan-Nya (al-Asma al-Husna). Dengan demikian, ia seharusnya berfungsi secara dinamis dan progresif dalam menciptakan sarana dan prasarana bagi wujudnya kesejahteraan manusia, lahir dan batin dalam segala aspeknya.
e. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang demokratis, baik secara spiritual, sosial, ekonomi, maupun demokrasi politik. Islam membentuk lembaga keilmuan dan menghapus feodalisme spiritual. Menjadikan ilmu pengetahuan dan takwa sebagai hak setiap orang untuk mencapai kesempurnaan kehidupan pribadinya. Islam menciptakan kesetaraan sosial dengan menghilangkan perbedaan berdasarkan ras, bangsa, suku, dinasti dan lainnya. Ia menciptakan sestem ekonomi dengan berbagai hukum dan kelembagaan, sehingga memberikan perhatian dan kesempatan yang adil bagi semua anggota masyarakat untuk menjamin kehidupan yang layak dan seimbang.
f. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang berkeadilan, yang membentuk semua aspek dari keadilan sosial baik di bidang moral, hukum, ekonomi, dan politik yang telah ditetapkan dalam aturan dan kelembagaan yang telah disepakati.
g. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang berwawasan ilmiyah, terpelajar, karena sangat menekankan pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Nabi Muhammad saw. telah menetapkan pencarian ilmu sebagai kewajiban bagi setiap muslim, dan menuntut ilmu walau ke tempat yang jauh sekalipun. Kehidupan seperti ini, akan menjadi pondasi yang kokoh bagi kehidupan masyarakat modern, bukan sebagai masyarakat yang hanya pandai meniru budaya asing.
h. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang disiplin. Allah telah menetapkan segenap ajaran-Nya berdasarkan aturan-aturan dan batas-batas yang terang, yang berkaitan langsung dengan kedisiplinan baik dalam bidang ibadah maupun muamalah.
i. Masyarakat Islam menentukan pada kegiatan keumatan yang memiliki tujuan yang jelas dan perencanaan yang sempurna, menggunakan menejemen yang rasional dan efektif, serta dilakukan dengan disiplin yang tinggi dalam melaksanakan prinsip-prinsip kehidupan dan kemasyarakatan.
j. Masyarakat Islam membentuk persaudaraan yang tangguh, menekankan kasih sayang antara sesama. Penduduk negeri atau masyarakat digambarkan sebagai keluarga besar, yang kaya dan kuat melindungi yang miskin dan lemah, sebaliknya yang miskin dan lemah hormat kepada yang kaya dan kuat, saling memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
k. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang sederhana, yang berkesinambungan. Islam mengutuk kesenangan duniawi yang berlebihan, melarang mengeluarkan dan menghamburkan harta secara boros dan sia-sia, memerintahkan anggota masyarakat agar tidak mengikuti nafsu yang bersifat hewani.
2.3. Ketentuan Agama Islam Dalam Pembentukan Masyarakat Islam
Masyarakat Islam dibentuk berdasarkan ajaran dan tata nilai Islam, yang mengandung arti bahwa prinsip-prinsip dasar yang membentuk dan membina masyarakat itu adalah nilai-nilai luhur ajaran agama Islam. Masyarakat ini berorientasi pada pondasi tauhid, karena itu, falsafah sosialnya didasarkan pada sistem nilai yang paling utama. Masyarakat itulah yang mampu mempraktikkan sanksi-sanksi yang murni dalam upaya menegakkan kebenaran, keadilan, kasih sayang serta pelayanan masyarakat yang dibentuk berdasarkan etika Ketuhanan Yang Maha Esa yang bertopang pada: (a) mentaati perintah Allah yang dicerminkan dengan kasih sayang terhadap sesama anggota masyarakat; (b) bersyukur
66
terhadap rahmat dan nikmat Allah, segala puji bagi-Nya semata, yang dicerminkan pada upaya mewujudkan kesejahteraan dan kemaslahatan masyarakat material dan spiritual, berlandaskan pada kaidah-kaidah moral yang mulia; (c) rasa dekat dengan Tuhan yang dicerminkan dalam perasaan takut pada larangan-Nya yang akan membentuk sikap dan jiwa yang adil dan bertanggungjawab, menghindari tingkah laku curang dan menolak kejahatan dalam anggota masyarakat (Departemen Agama RI, 1997: 50).
Masyarakat Islam dibentuk dan dibina berdasarkan azas dan prinsip dasar etika kemulian manusia. Semua anggota masyarakat diarahkan untuk melaksanakan kebaikan sehingga meraih kemuliaan lahir dan batin, di dunia maupun akhirat. Dalam QS. 49 (Al-Hujurat): 133 Allah berfirman, yang artinya:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. 49: 13)
Untuk mencapai kemuliaan itu, memerlukan pembentukan kekuatan iman bagi setiap individu anggota masyarakat, yang apabila disebut asma Allah, merasakan dan menghayati sifat-sifat keagungan dan kemuliaan-Nya, bertambahlah keimanan mereka, dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. Mereka adalah anggota masyarakat yang mendirikan shalat dengan khusyu’ dan menafkahkan sebagian rizki yang mereka miliki. Kemuliaan manusia, mengharuskan setiap orang menghormati orang lain dalam segala interaksi sosialnya. Manusia lain perlu dihargai dan diberikan hak-haknya sebagai anggota masyarakat secara adil, atas dasar persamaan derajat di hadapan Tuhannya. Takwalah yang menentukan derajat seseorang dan status kedudukannya dalam kehidupan dunia dan akhirat.
3. Pranata Sosial Islam