• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sunnah/Hadis

Dalam dokumen Modul MPK Agama Islam.pdf (Halaman 30-34)

2.3. Karakteristik Ajaran Agama Islam

2.5.2. Sunnah/Hadis

a. Pengertian Sunnah/Hadis

Menurut wasiat Nabi yang menjadi pedoman umatnya dari kehidupan beliau adalah Sunnah, tetapi juga dikenal dengan istilah Hadis. Istilah hadis menurut para ahli hadis adalah sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw, baik berupa pebuatan, perkataan, maupun persetujuan beliau (taqrir). Kata sunnah menurut kamus bahasa Arab bermakna jalan, arah, peraturan, mode atau cara tentang tindakan atau sikap hidup.

Artikel definit Al (alif dan lam) merupakan simbol untuk menunjukkan makna spesifik. Jadi Sunnah bermakna keteladanan kehidupan Nabi (yang benar-benar dilakukannya). Sedang hadis mempunyai arti cerita, riwayat atau kabar yang dinisbahkan kepada Nabi. Sebuah hadis mungkin tidak mencakup sunnah, atau boleh jadi hadis bisa merangkum lebih dari sebuah sunnah. Maka para muhadisin mengklasifikasi suatu hadis dan mendudukkannya apakah hadis tersebut dapat dijadikan pedoman dan rujukan sebagai sunnah atau hadis tersebut berstatus dhaif atau lemah, atau palsu yang ditolak (mardud) untuk dijadikan pedoman atau sumber ajaran Islam.

b. Sejarah Sunnah/Hadis.

Seratus tahun setelah hijrah (abad ke-1), ketika para ahli hadis mengumpulkan dan menuliskan hadis-hadis Nabi, terdapat banyak sekali hadis. Untuk menguji validitas dan kebenaran suatu hadis, para muhadisin (pengumpul dan periwayat hadis) menyeleksi berbagai riwayat tentang hadis dengan memperhatikan jumlah dan kualitas jaringan periwayat hadis tersebut yang dikenal dengan sanad. Bila periwayat hadis itu dalam jaringan pertama (yang menyaksikan kejadian suatu hadis, umpamanya menyangkut cara Nabi shalat adalah orang banyak, kemudian menceritakannya kepada orang banyak pula, dan seterusnya hingga sampai ke pencatat hadis sehingga tidak dimungkinkan orang-orang itu berbohong, maka hadis yang serupa ini disebut mutawatir. Jika perawinya sedikit (penyampaian riwayat dengan jumlah terbatas) dan seterusnya sampai pada pencatat hadis (perawi), maka jalur periwayatan serupa ini disebut ahad.

c. Klasifikasi Sunnah/Hadits

Ditinjau dari segi bentuknya, hadis diklasifikasikan kepada: 1) Fi’li (perbuatn Nabi)

31

3) Taqriri (keiizinan atau persetujuan Nabi), seperti perbuatan sahabat yang disaksikan Nabi, dan Nabi tidak menegornya.

Ditinjau berdasarkan jumlah perawinya (dari segi jumlah orang yang menyampaikan hadis, atau sanadnya), hadis dapat diklasifikasikan kepada:

1) Mutawatir, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak yang menurut akal tidak mungkin mereka bersepakat dusta.

2) Masyhur, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak kepada orang banyak pula, tetapi jumlahnya tidak sampai kepada derajat mutawatir.

3) Ahad, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih yang tidak sampai pada tingkat masyhur maupun mutawatir. Ada ulama yang memasukkan hadis masyhur kepada golongan hadis ahad.

Ditinjau dari segi diterima atau tidaknya, hadis dibagi menjadi: a. Hadis maqbul, yaitu hadis yang dapat diterima

b. Hadis mardud, yaitu hadis yang ditolak. Ditinjau dari kualitasnya, hadis dibagi menjadi:

1) Shahih, yaitu hadis yang sehat, yang diriwayatkan oleh orang-orang yang baik dan kuat hafalannya, materinya baik dan persambungan sanadnya dapat dipertanggungjawabkan. 2) Hasan, yaitu hadis yang memenuhi persyaratan hadis shahih kecuali dari segi hafalan

perawinya kurang baik.

3) Dhaif, yaitu lemah, baik karena terputus salah satu sanadnya atau karena salah seorang pembawanya kurang baik.

4) Maudhu’, yaitu hadis palsu, hadis yang dibikin oleh seseorang dan dikatakannya sebagai sabda atau perbuatan Nabi .

d. Kedudukan dan Fungsi Sunnah/Hadis

Dalam konteks sumber ajaran Islam, Sunnah/Hadis mempunyai kedudukan berikut: a) Sunnah adalah sumber ajaran agama Islam kedua setelah Al-Quran.

Perintah untuk menjadikan Sunnah sebagai sumber ajaran Islam, antara lain disebutkan di dalam QS. 8 (Al-Anfal) : 20 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)" (QS.8:20).

b) Kepatuhan kepada Sunnah Rasulullah berarti patuh dan cinta kepada Allah. Di dalam QS. 4 (Al-Nisa’) : 80 Allah menyatakan yang artinya:

"Barangsiapa mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah, dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu) maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka" (QS.4:80).

c) Sunnah berfungsi sebagai penafsir Al-Qur'an

Dalam hubungannya dengan Al-Qur'an, Sunnah berfungsi sebagai tafsir, syarah, penjelas terhadap ayat Al-Qur'an. Sunnah berfungsi menerangkan ayat-ayat yang sangat umum dan global, seperti: hadis Shallu kama raaitumuni ushalli (shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat), adalah penjelasan dari ayat Al-Qur’an Aqimush-shalah (dirikanlah shalat).

Al-Quran bersifat global dan kadang bersifat sangat umum, sehingga maknanya sulit untuk dipahami kalau tidak dibantu oleh Sunnah. Dalam kondisi seperti itu, maka Sunnah

32

berfungsi selaku penjelas dan penafsir. Kedudukan Sunnah adalah kuat dan strategis dalam menafsirkan Al-Qur'an. Perintah shalat umpamanya, dalam Al-Quran berbunyi: “Aqimushshalah….!”, tidak diketahui bagaimana cara melakukannya, sekiranya Sunnah tidak menjelaskannya. Untunglah Nabi mengatakan: “Shalluu kamaa raitumunii ushalli” (shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat saya shalat). Nabi mewariskan Sunnah kepada umatnya yang dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan berbagai praktk ibadah dan muamalah yang sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya.

Kitab-kitab hadis banyak sekali, dan diantara kitab-kitab tersebut ada 7 kitab hadis yang dianggap para ulama sebagai kitab hadis yang utama sehingga disebut Kutub Sittah, yaitu:

a) Shahih Bukhari b) Sahahih Muslim c) Sunan Abu Daud d) Sunan Nasai e) Sunan Tirmidzi f) Sunan Ibnu Majah g) Musnad Imam Ahmad 2.5.3. Ijtihad/Rakyu

a. Pengertian Ijtihad/Rakyu

Al-ra’yu artinya penglihatan yang berasal dari kata ra`a (melihat). Akan tetapi yang dimaksud dengan penglihatan di sini bukanlah penglihatan mata, melainkan penglihatan akal. Al-ra`yu merupakan hasil suatu proses yang terjadi pada otak manusia setelah terlebih dahulu memperoleh masukan (input). Oleh karena itu, sering terjadi bahwa proses pemikiran itu sangat tergantung kepada jumlah masukan yang dimiliki seseorang (seperti: penguasaan tentang Al-Qur'an dan Sunnah, penguasaan bahasa Arab dan perangkatnya, keluasan ilmu pengetahuan dan pengalamannya, dsb). Makin kaya masukan, makin dalam proses pemikirannya. Proses pemikiran ini sering juga disebut ijtihad.

Ijtihad diambil dari kata ijtahada - yajtahidu – ijtihadan, yang artinya mengerahkan segala kesungguhan dan ketekunan secara optimal untuk menggali dan menetapkan suatu hukum (syara’) dari sumber Al-Qur`an dan Sunnah. Karena itu ijtihad tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur`an dan Sunnah. Kesungguhan memahami sumber ajaran Islam (Al-Qur`an dan Sunnah) dilakukan para mujtahid dengan jalan memahami apa yang tersurat (teks) dan apa yang tersirat (konteks) dalam nash (Al-Qur`an dan Sunnah) seraya pula memperhatikan jiwa, rahasia hukum, 'illat (alasan atau sebab-akibat), dan unsur-unsur kemaslahatan yang dikandung kedua sumber tersebut.

2). Dasar, Kedudukan dan Fungsi Ijtihad/Rakyu

Ijtihad merupakan keunikan yang spesifik dalam ajaran Islam yang universal, sehingga penerapan hukum-hukum syara’ serta pengalihan hukum dan norma baru dapat diselaraskan dengan situasi dan kondisi yang berlaku tanpa keluar atau meninggalkan sumber pokoknya (Al-Qur`an dan As-Sunnah). Berbagai masalah kontemporer yang muncul dewasa ini, yang secara teknis belum didapati di dalam Al-Qur`an dan Sunnah, menempatkan kedudukan ijtihad makin terasa penting.

Al-Quran menghargai, menghimbau dan menyeru para pemikir (mujtahid) untuk mengerahkan segala kemampuannya untuk memahami kitab suci Al-Qur’an sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Di dalam QS. 59 (Al-Hasyr): 2 Allah menyatakan yang artinya:

33

Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan (QS.59:2).

Ayat tersebyt menyatakan, beri’tibarlah, berpikirlah, hai orang-orang yang berakal, patutilah Al-Qur’an ini sebagai rahmat bagi manusia dalam menjalankan agama dengan memperhatikan prinsip-prinsip dasarnya.

b. Syarat-Syarat Berijtihad

Para ulama menetapkan beberapa syarat bagi orang yang hendak melakukan ijtihad, syarat-syarat tersebut adalah:

a. Mengetahui nash Al-Qur`an dan Sunnah b. Mengetahui dan menguasai bahasa Arab c. Mengetahui soal-soal ijma’

d. Mengetahui ushul fiqih.

e. Mengetahui nasikh dan mansukh.

f. Mengetahui ilmu-ilmu penunjang lainnya.

Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, sumber ajaran Islam ada tiga (1) Al-Qur’an; (2) Sunnah/Hadis; dan (3) Ijtihad/rakyu. Menurut Prof.H.Mohammad Daud Ali, guru besar Hukum Islam Universitas Indonesia: (a) ketiganya merupakan satu rangkaian kesatuan dengan urutan keutamaan yang telah mantap dan konsisten serta stabil, tidak dapat diubah-ubah; (b) Al-Qur’an dan Sunnah/Hadis merupakan sumber utama, sedangkan ijtihad/rakyu merupakan sumber tambahan atau sumber pengembangan yang dihasilkan oleh para mujtahid.

c. Menyikapi Hasil Ijtihad/Rakyu

Ijtihad dapat dilakukan secara individu, kelompok, atau oleh seluruh mujtahid. Dalam sejarah ijtihad, masa kekhalifahan Abu Bakar Siddiq dan Umar bin Khathab ketika para mujtahid dari kalangan sahabat belum berpencar keberbagai daerah Islam, ijtihad seluruh para mujtahid dari para sahabat telah melahirkan kesepakatan tentang sesuatu masalah hukum yang disebut ijma'. Mulai masa kekhalifahan Usman bin 'Affan setelah para mujtahid berpencar keberbagai daerah Islam, ijma' tidak terjadi lagi. Karena itu hasil ijtihad para mujtahid dapat saja terjadi perbedaan disebabkan oleh perbedaan tingkat pengetahuan, pengalaman, budaya masyarakat dimana mujtahid hidup, kekhasan masalah yang diijtihadi, metode ijtihad yang dipergunakan, dan lain sebagainya (A.Hanafi, Pengantar dan Sejarah Hukum Islam : 52).

Menyikapi adanya perbedaan hasil ijtihad tersebut bagi umat Islam yang tidak punya kompentensi untuk melakukan ijtihad sendiri adalah :

a). Ittiba', yaitu melakukan kajian berbagai aspek ijtihad secara komprehensif dari para mujtahid yang menghasilkan ijtihad yang berbeda-beda tersebut. Kajian tersebut akan menghasilkan pengetahuan tentang hasil ijtihad yang lebih kuat atau meyakinkan untuk diikuti. Orang yang melakukan kajian ijtihad tersebut disebut muttabi'.

b). Muqollid, yaitu mengikuti hasil ijtihad ulama' mujtahid yang diyakini kekuatannya tanpa melakukan kajian proses dan hasil ijtihad tersebut bagi umat Islam yang tidak mempunyai kompetensi untuk melakukan kajian ijtihad. Yang tidak diperbolehkan dalam Islam adalah taqlid buta, yaitu mengikuti hasil ijtihad orang tanpa meyakini kekuatan hasil ijtihad tersebut. Biasanya taqlid buta terjadi karena faktor-faktor yang tidak dibenarkan dalam Islam, seperti faktor kultus dan ta'ashub atau fanatisme.

c). Menghargai hasil ijtihad lain yang tidak diikuti. Ijtihad tidak mengandung kebenaran mutlak, tetapi kebenaran relatif karena dilakukan oleh mujtahid yang tidak ma'shum,

Dalam dokumen Modul MPK Agama Islam.pdf (Halaman 30-34)