POKOK POKOK AJARAN AGAMA ISLAM
2. Syariah Islam
2.1. Pengertian dan Ruang Lingkup Syariah Islam
2.1.3. Perbedaan Syariah Islam Dengan Fikih Islam
Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dan merupakan bagian dari ajaran Islam. Ada dua istilah yang berhubungan dengan hukum Islam tersebut. Pertama Syariah; dan kedua adalah Fikih. Syariah merupakan hukum Islam yang ditetapkan langsung dan tegas oleh Allah. Materi hukum yang terdapat dalam syariah seringkali menyangkut hal- hal yang pokok dan utama. Hukum ini dapat dan perlu dikembangkan dengan ijtihad. Hasil pengembangannya inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Fikih.
Dalam praktiknya dalam kehidupan sehari-hari, kedua istilah itu (Syariah dan Fikih) dirangkum dalam istilah Hukum Islam. Hal ini dapat dimengerti karena keduanya sangat erat hubungannya, dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan. Syariah merupakan landasan fikih dan fikih merupakan pemahaman orang (yang memenuhi syarat) tentang syariah
48
tersebut. Oleh karena itu seseorang yang akan memahami hukum Islam dengan baik dan benar harus dapat membedakan antara syariah Islam dengan Fikih Islam.
Hukum Islam kategori syariah bersifat konstan, tetap, berlaku sepanjang zaman. Ia tidak mengenal perubahan dan tidak boleh disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Situasi dan kondisilah yang menyesuaikan dengan syariah. Sedang hukum Islam kategori Fikih bersifat fleksibel, elastis, relatif, mengenal perubahan, dan dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Di dalam kepustakaan hukum Islam berbahasa Inggris, syariah Islam disebut Islamic Law, sedangkan Fikih Islam diistilahkan dengan Islamic Jurisprudence. Secara sederhana syariah merupakan ketentuan hukum yang disebut langsung oleh Allah melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw dalam kitab-kitab Hadits. Sedang Fikih adalah rumusan–rumusan hukum yang dihasilkan oleh ijtihad para ahli hukum Islam. Oleh karena Fikih adalah hukum yang dikembangkan dari pemahaman manusia, maka produk fikih sangat mungkin berbeda-beda.
Hukum Fikih, sebagai hukum yang diterapkan pada kasus tertentu secara kongkrit, mungkin berubah dari masa ke masa dan mungkin pula berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Ada satu kaidah Fikih yang menyatakan bahwa perubahan tempat dan waktu menyebabkan perubahan hukum (fikih). Jadi hukum Fikih cenderung relatif, bersifat dhanni (dugaan kuat) , tidak absolut (qath’i) sebagaimana hukum syariah yang menjadi norma dasar hukum fikih. Karena hukum Fikih harus berlandaskan hukum syariah, maka hukum fikih tidak boleh bertentangan dengan hukum syariah, apalagi kalau ketentuan syariah itu jelas bunyinya (qath’i), tidak mungkin diartikan lain dari makna yang dikandungnya. Contoh: Ketentuan syariah Islam tentang wanita dan pria sama-sama menjadi ahli waris almarhum orangtuanya. Hukum fikih tidak boleh menyatakan suatu ketentuan, misalnya, wanita tidak berhak menjadi ahli waris seperti keadaan masyarakat Arab sebelum Islam.
Pada pokok perbedaan antara syariah dan Fikih adalah sebagai berikut :
1. Syariah terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits, dan Fikih terdapat dalam kitab-kitab Fiqih. 2. Syariah bersifat fundamental, ruang lingkupnya lebih luas dari Fikih, sedang Fikih
bersifat instrumental.
3. Syariah berlaku abadi sebagai suatu ketentuan Allah dan Rasul-Nya, sedang Fikih merupakan karya manusia, sifatnya berubah dari masa ke masa.
4. Syariah hanya satu, sedang Fikih amat mungkin lebih dari satu. Hal ini dapat kita lihat pada aliran-aliran fikih yang disebut mazahib atau kelompok-kelompok.
5. Syariah menujukkan kesatuan dalam Islam, sedang fikih menunjukkan keragamannya. (M. Daud Ali, 1999)
Sebagaimana diuraikan di atas, Fikih senantiasa berubah. Karena sifatnya yang berubah-ubah Fikih biasanya disandarkan kepada ulama mujtahid yang memformulasikannya. Seperti Fiqh Hanafi, Fikih Syafi’i, Fikih Maliki, Fikih Hambali dan sebagainya, sedangkan syariah senantiasa disandarkan kepada Allah dan Rasul-Nya.
2.2. Implementasi Syariah Islam Dalam Kehidupan. 2.2.1. Implementasi Ibadah Mahdhah Dalam Kehidupan.
Dalam ajaran Islam, syariah dengan dua bagiannya ibadah dan muamalah merupakan aspek operasional dalam beragama. Ruang lingkup ibadah berkisar sekitar bersuci dan rukun Islam (minus syahadat). Jadi pembahasan ibadah khusus meliputi Thaharah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji. Syahadat merupakan kajian akidah karena menyangkut pernyataan keyakinan kepada Allah swt dan Nabi Muhammad saw. Namun syahadat merupakan hal yang amat penting karena ketiadaannya menjadikan seluruh ibadah tidak berguna dan sia-sia dihadapan Allah swt. Begitu pula, keislaman seseorang tidaklah cukup hanya dalam ucapan syahadat
49
saja, namun harus diwujudkan dengan melaksanakan ritual ibadah dan interaksi sosial yang sesuai ajaran Islam.
Setelah mengikrarkan dua kalimat syahadat seorang muslim diwajibkan melaksanakan shalat lima waktu sehari semalam, yang didahului dengan thaharah (bersuci). Thaharah secara garis besar terdiri dari beberapa bagian, yaitu bersuci dari najis dan bersuci dari hadas. Bersuci dari hadas terdiri dari dua bagian, yaitu hadas besar yang dapat dihilangkan dengan mandi dan hadas kecil, cara bersucinya dengan berwudhu. Zakat adalah memberikan sebagian harta yang telah ditetapkan bagi orang-orang yang mampu dan diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya, yang disebut mustahik. Mustahik terdiri dari delapan golongan, yaitu fakir, miskin, ibnu sabil, gharim, 'amil, muallaf, budak yang ingin memerdekakan dirinya dan sabilillah.
Puasa di bulan Ramadhan diwajibkan bagi umat Islam. Puasa dilakukan dengan meninggalkan makan, minum, bercampur dengan istri/suami dan segala yang membatalkannya dari fajar di waktu subuh sampai terbenam matahari di waktu maghrib. Melaksanakan ibadah haji, diwajibkan seumur hidup sekali bagi setiap orang muslim yang memiliki kemampuan, baik biaya maupun keamanan perjalanan. Berhaji artinya mengunjungi Baitullah di Makkah dan tempat-tempat lain yang disyariatkan dalam rangka ibadah mencari keridhaan Allah swt.
Seorang muslim yang menerapkan ibadah dengan benar, maka ia akan memiliki pribadi yang tangguh berakhlak mulia. Ibadah dalam Islam adalah sarana penerapan nilai-nilai utama dalam kehidupan. Ritual Ibadah bukan hanya kumpulan doa tanpa makna atau gerakan tanpa tujuan. Berbagai ritual ibadah diperintahkan Allah melalui para Nabi dan Rasul banyak bermuara pada pembentukan akhlak, seperti dalam perintah shalat. Shalat adalah salah satu ibadah wajib yang diperintahkan oleh Allah. Perintah shalat disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Begitu pentingnya shalat sehingga kelak shalat adalah ibadah pertama yang diperiksa dalam perhitungan amal di akhirat dan menjadi tolok ukur seluruh amal ibadah lainnya. Dalam QS.29 (Al-Ankabut) :45 Allah berfirman yang artinya:
”Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar,”(QS.29: 45).
Ayat tersebut secara jelas menyatakan bahwa muara dari ibadah shalat adalah terbentuknya pribadi yang terbebas dari sikap keji dan mungkar. Pada hakikatnya adalah terbentuknya manusia berakhlak mulia, bahkan kalau kita telusuri proses ritual shalat selalu dimulai dengan berbagai persyaratan tertentu, seperti harus suci badan, pakaian dan tempat, dengan cara mandi dan berwudhu. Intinya shalat dipersiapkan untuk membentuk sikap manusia selalu bersih, patuh, taat peraturan dan melatih seseorang untuk tepat waktu.
Ibadah puasa dilakukan untuk meninggikan kualitas manusia yang di dalam bahasa Al-Qur’an dipergunakan sebutan takwa. Berdasarkan hal ini, maka puasa sangat berhubungan erat dengan pembentukan mental dan karakter manusia. Ritual puasa bertujuan membentuk akhlak mulia. Bila sedang berpuasa, kita dilarang mencaci, bergunjing, berbohong, berbuat maksiat, berkata kotor. Rasulullah saw bersabda yang artinya:
”Jika salah seorang di antaramu melaksanakan puasa, maka janganlah berkata kotor, menipu, jika seseorang mencelamu atau hendak membunuhmu, maka katakanlah sesungguhnya saya sedang puasa,” (HR. Muslim).
Ternyata ritual puasa disiapkan untuk mendidik dan membentuk kita agar berperilaku terpuji, sebuah kepribadian yang mencerminkan sebagai muslim yang berakhlak mulia.
50
Zakat mempunyai dampak sosial yang dahsyat dalam rangka mengatasi persoalan ekonomi dan kesejahteraan umat. Zakat menumbuhkan sifat solidaritas, kepedulian sesama manusia. Bagi orang yang menunaikan zakat atau muzakki, zakat membersihkan jiwa dari sifat kikir, egois dan tamak. Zakat merupakan wujud kesyukuran muslim terhadap karunia harta yang diberikan Allah kepadanya.
Adapun ibadah haji sebagai ritual dalam Islam mempunyai peran penting dalam pembentukan akhlak mulia. Hal ini dapat kita ketahui dari berbagai larangan selama pelaksanaan haji berlangsung, seperti larangan membunuh binatang, berkata kotor, berbuat keji, fasik, bertengkar, bergunjing, saling berbantahan, mencuri dan berbagai tindakan maksiat lainnya. Demikian juga hikmah ritual haji di antaranya adalah saling pengertian, rasa tanggung jawab, persamaan hak, saling menghargai, berfikir universal, persaudaraan universal dan bersabar dalam berbagai situasi. Dalam QS. 2 (Al-Baqarah): 197 Allah berfirman yang artinya:
“Haji adalah bulan yang dimaklumi, siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafas, berbuat fasik, dan berbantahan di dalam masa mengerjakan haji,” (QS. 2 : 197).
Dalam haji kita dididik untuk meninggalkan perbuatan asusila, maksiat, dan berbagai tindakan amoral lainnya. Ini semua merupakan bukti bahwa ibadah haji dipersiapkan untuk membentuk manusia berakhlak mulia. Bila dalam ibadah haji berperilaku tercela maka ibadah haji secara spiritual akan sia-sia. Haji seperti itu tidak bernilai spiritual di sisi Allah, hanya menjadi sebuah wisata untuk menghilangkan kejenuhan sehari-hari tanpa memberi arti. 2.2.2. Implementasi Muamalah Dalam Kehidupan Sosial
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa interaksi dengan manusia lainnya. Untuk itu, Allah telah menetapkan berbagai aturan norma yang menjamin keharmonisan, keadilan dan kesejahteraan hidup manusia di muka bumi ini. Aturan–aturan yang berkaiitan dengan kehidupan antar sesama manusia ini dalam ajaran Islam dihimpun dalam ajaran muamalah. Mengacu kepada pembagian hukum menurut isinya seperti yang dipelajari dalam ilmu hukum, maka muamalah dapat dibagi dalam dua bagian besar, yakni (1) Hukum perdata atau privat, seperti munakahat (perkawinan), wirasah (kewarisan), wasiat, dll. (2), Hukum Publik misalnya hukum a) jinayah (pidana), b). maliyah/iqtishad (ekonomi), c) siyasah atau al-ahkam al-sulthaniyah (politik dan ketatanegaraan, d) siyar (hukum internasional), dll.
a. Implementasi Muamalah di Bidang Ekonomi
Muamalah di bidang ekonomi yang dimaksud disini adalah aturan hukum Islam tentang usaha-usaha memperoleh dan mengembangkan harta, jual beli, hutang piutang, jasa penitipan dsb. Ekonomi Islam berwatak ke-Tuhanan. Hal ini tercermin pada aturan dan sistem yang harus dipedomani oleh pelaku ekonomi. Ciri tersebut bermula dari suatu keyakinan bahwa kepunyaan Allahlah semua faktor ekonomi termasuk diri manusia itu sendiri. Kepada-Nya dikembalikan segala sesuatu. Manusia dapat mengumpulkan nafkah sebanyak mungkin namun tetap dalam batas koridor aturan main Allah swt. (Q.S; Al-Ra’du 26, QS. Al-Syuura: 12). Ekonomi Islam mempunyai nilai-nilai normatif yang mengikat. Setiap tindakan seorang muslim tidak boleh lepas dari nilai. Jadi dalam mengimplentasikan muamalah di bidang ekonomi nilai-nilai moral merupakan syarat nilai (value loaded), bukan sekedar nilai tambah (added value), apalagi bebas nilai (value neutral). Menurut Dr. Yusuf Qardhawi, ekonomi
51
Islam mepunyai empat ciri kahs atau karakteristik. Empat karakteristik tersebut adalah : Rabbaniyyah (ketuhanan), Akhlak, Kemanusiaan, dan Pertengahan.
a). Ekonomi Rabbaniyyah, yaitu ekonomi Islam sebagai ekonomi Ilahiah. Seorang muslim ketika menanam, bekerja, ataupun berdagang dan lain-lain adalah dalam rangka beribadah kepada Allah. Ketika mengkonsumsi dan menikmati berbagai harta yang baik menyadari itu sebagai rezki dari Allah. Seorang muslim tunduk kepada aturan Allah, tidak akan berusaha dengan sesuatu yang haram, tidak akan melakukan yang riba, tidak melakukan penimbunan, tidak akan berlaku zalim, tidak akan menipu, tidak akan berjudi, tidak akan mencuri, tidak akan menyuap dan tidak akan menerima suap. Seorang muslim tidak akan melakukan pemborosan, dan tidak kikir.
b). Ekonomi Akhlak, artinya tidak adanya pemisahan antara kegiatan ekonomi dengan akhlak. Islam tidak mengizinkan umatnya untuk mendahulukan kepentingan ekonomi di atas nilai-nilai dan keutamaan yang diajarkan agama.
c). Ekonomi Kemanusiaan, yaitu kegiatan ekonomi yang tujuan utamanya adalah merealisasikan kehidupan yang baik bagi umat manusia dengan segala unsur dan pilarnya. Selain itu bertujuan untuk memungkinkan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya yang disyariatkan. Nilai kemanusaian terhimpun dalam ekonomi Islam seperti nilai kemerdekaan, kemuliaan, keadilan, persaudaraan, saling mencintai dan saling tolong menolong di antara sesama manusia.
d). Ekonomi Pertengahan, yaitu nilai pertengahan atau nilai keseimbangan. Pertengahan yang adil diantara dua sistem, sistem kapitalis yang sangat individualistis, berpihak pada kelompok pemilik modal dan sistem sosialis yang memasung kebebasan individu dan memandang kepentingan negara di atas segala sesuatu.
Secara umum beberapa nilai prinsipil dalam ekonomi Islam adalah : a) Alam ini mutlak milik Allah; b).Alam merupakan karunia Allah untuk dinikmati dan dimanfaatkan secara bijak oleh manusia dalam bata-batas kewajaran; c) Hak milik perseorangan diakui sebagai hasil usaha yang halal dan dipergunakan dengan cara halal untuk hal yang halal pula; d) Allah melarang menimbun kekayaan tanpa ada manfaat bagi sesama manusia; e) Di dalam harta orang kaya itu terdapat hak orang fakir miskin dan kelompok penerima lainnya dengan menunaikan zakat; f) Kegiatan ekonomi berjalan atas asas kebersamaan dan keadilan, tidak merugikan pihak lain maupun dirugikan .
b. Implementasi Muamalah di Bidang Sosial (Pergaulan Antar Manusia)
Salah satu fungsi hukum Islam adalah sarana untuk mengatur sebaik mungkin proses interaksi sosial sehingga terwujudlah masyarakat yang harmonis, aman dan sejahtera. Kesempurnaan Islam dapat dilihat dari aturannya mengenai kehidupan sosial, hubungan antar manusia dalam masyarakat. Al-Qur’an demikian rinci menyampaikan hal-hal tersebut. Sebagai contoh, Al-Qur’an menyebutkan bagaimana aturan hubungan antara laki-laki dan perempuan, larangan memperolok-olok orang lain, larangan mengejek orang lain, dan perintah untuk tidak sombong. Islam juga membahas mengenai karakteristik masyarakat Islam yang di dalamnya diatur nilai-nilai Islam.
Pergaulan merupakan suatu fitrah bagi manusia karena sesungguhnya manusia merupakan makhluk sosial. Karena ruang lingkup kehidupan sosial sangat luas, dalam kajian ini hanya mengulas tentang norma/aturan pergaulan antar manusia. Berikut dijelaskan dalam syariah Islam terkait dengan hubungan/pergaualan antar sesama manusia:
52
Pada prinsipnya pergaulan antara lelaki dan perempuan dalam Islam selama berasaskan kepada tujuan kebaikan ataupun keperluan yang dibenarkan syara', maka dibolehkan, meskipun perlu menjaga batas-batas pergaulan sebagaimana yang telah digariskan Islam. Allah swt telah mengatur sedemikian rupa mengenai pergaulan antara lawan jenis. Allah swt berfirman dalam QS. 17 (Al-Isra') : 32 yang artinya:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk” (QS. 17:32).
Syariat muamalah yang terkait pergaulan lawan jenis dalam Islam meliputi : (1) hendaknya setiap muslim menjaga pandangan matanya dari melihat lawan jenis secara berlebihan. Dengan kata lain hendaknya dihindarkan berpandangan mata secara bebas. Perhatikanlah firman Allah berikut ini, (QS. 24:300; (2) hendaknya setiap muslim menjaga auratnya masing-masing dengan cara berbusana Islami agar terhindar dari fitnah. Secara khusus bagi wanita dijelaskan dalam QS. 24 :31. Batasan aurat bagi pria adalah antara pusat ke lutut, sedangkan wanita adalah seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan; (3) tidak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada perbuatan zina (QS. 17: 32), misalnya berkhalwat (berdua-duaan di tepat yang terlindung dari pandangan orang lain) dengan lawan jenis yang bukan mahram. Nabi bersabda yang artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berkhalwat dengan seorang wanita (tanpa disertai mahramnya) karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaithan (HR. Ahmad); (4) menjauhi pembicaraan atau cara berbicara yang bisa ‘membangkitkan syahwat’. Arahan mengenai hal ini kita temukan dalam QS.33:31;(5) hendaknya tidak melakukan ikhtilat, yakni berbaur antara pria dengan wanita dalam satu tempat. Hal ini diungkapkan Abu Asied, bahwa “Rasulullah saw pernah keluar dari masjid dan pada saat itu bercampur baur laki-laki dan wanita di jalan, maka beliau bersabda: “Mundurlah kalian (kaum wanita), bukan untuk kalian bagian tengah jalan; bagian kalian adalah pinggir jalan (HR. Abu Dawud).
b) Pergaulan Sejenis.
Nabi Muhammad saw menetapkan tata krama yang harus diperhatikan, beliau bersabda: “Tidak dibolehkan laki-laki melihat aurat (kemaluan) laki-laki lain, begitu juga perempuan tidak boleh melihat kemaluan perempuan lain. Dan tidak boleh laki-laki berkemul dengan laki-laki lain dalam satu kain, begitu juga seorang perempuan tidak boleh berkemul dengan sesama perempuan dalam satu kain.” (HR. Muslim)
c. Implementasi Muamalah di Bidang Politik
Sejarah membuktikan, bahwa Nabi Muhammad saw disamping sebagai Rasul, sebagai kepala agama, juga kepala negara. Nabi menguasai suatu wilayah Yatsrib yang kemudian diganti oleh beliau dengan nama Madinah al-Munawwarah sebagai wilayah kekuasaan Nabi. Kota tersebut sekaligus menjadi pusat pemerintahannya dengan piagam Madinah sebagai aturan dasar kegenaraannya. (Harun Nasution, Islam Rasional, gagasan dan Pemikiran, 1996:227). Penyelenggaraan pemerintahan dalam ajaran Islam harus mendasarkan pada prinsip-prinsip politik dan perundang-undangan pada kitab Al-Qur’an dan Sunnah. Karena itu setiap bentuk peraturan perundang-undangan yang diterapkan oleh pemerintah mengikat setiap muslim untuk mentaatinya. Muhammad S. El. Wa dalam bukunya “On The Political System of Islamic State” bahwa prinsip politik Islam pada hakekatnya terdiri atas “Musyawarah (syura), Keadilan, Kebebasan, Persamaan dan pertanggungjawaban pemimpin atas berbagai kebijakan yang diambilnya.”.
53 a). Prinsip Musyawarah
Musyawarah merupakan prinsip pertama dalam tata aturan politik Islam yang amat penting, artinya penentuan kebijaksanaan pemerintah dalam sistem pemerintahan Islam haruslah berdasarkan atas kesepakatan musyawarah. Kalau kita kembali pada nash, maka prinsip ini sesuai dengan ketentuan QS.3 (Ali Imran) : 159. Rasulullah saw sendiri sering bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam segala urusan. Setiap pemimpin pemerintahan (penguasa, pejabat, atau imam) harus selalu bermusyawarah dengan rakyat atau umatnya. Musyawarah merupakan media pertemuan dari kelompok orang-orang yang mempunyai kepentingan akan hasil keputusan itu. Dengan musyawarah itu pula semua pihak ikut terlibat dalam menyelesaikan persoalan. Dengan demikian hasil musyawarah itupun akan diikuti mereka, karena merasa ikut menentukan dalam keputusan itu.
b). Prinsip Keadilan
Kata ini sering digunakan dalam Al-Qur’an dan telah dimanfaatkan secara terus menerus untuk membangun teori kenegaraan Islam. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang memerintahkan berbuat adil dalam segala aspek kehidupan manusia, seperti disebutkan dalam firman Allah QS.16 (Al-Nahl):90. Dijadikan keadilan sebagai prinsip politik Islam, mengandung suatu konsekuensi bahwa para penguasa atau penyelenggara pemerintahan harus melaksanakan tugasnya dengan baik dan juga berlaku adil terhadap suatu perkara yang dihadapi. Penguasa haruslah adil dan mempertimbangkan hak-hak warganya dan juga mempertimbangkan kebebasan berbuat bagi warganya berdasarkan kewajiban yang telah mereka laksanakan. Adil menjadi prinsip politik Islam dikenakan pada penguasa untuk melaksanakan pemerintahannya dan bagi warganya harus pula adil dalam memenuhi kewajiban dan memperoleh haknya.
c). Prinsip Kebebasan
Kebebasan di sini mengandung makna positif, yaitu kebebasan bagi warga negara untuk memilih sesuatu yang lebih baik, maksudnya kebebasan berfikir untuk menentukam mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga proses berfikir ini dapat melakukan perbuatan yang baik sesuai dengan hasil pemikirannya. Kebebasan berfikir dan kebebasan berbuat ini pernah diberikan oleh Allah kepada Adam dan Hawa untuk mengikuti petunjuk atau tidak mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Allah sebagaimana firman-Nya dalam QS.20 (Toha) : 123 yang artinya:
"Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu Barangsiapa yang mengikut petunjuk-daripada-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka" (QS.20:123).
d). Prinsip Persamaan
Prinsip ini berarti bahwa setiap individu dalam masyarakat mempunyai hak yang sama, juga mempunyai persamaan mendapat kebebasan, tanggung jawab, tugas-tugas kemasyarakatan tanpa diskriminasi rasial, asal-usul, bahasa dan keyakinan. Dengan prinsip ini sebenarnya tidak ada rakyat yang diperintah secara sewenang-wenang, dan tidak ada penguasa yang memperbudak rakyatnya karena ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh penguasa.
e). Prinsip Pertanggungjawaban dari Pemimpin Pemerintah tentang Kebijakan yang diambilnya.
Jika seorang pemimpin pemerintahan melakukan hal yang cenderung merusak atau menuruti kehendak sendiri maka umat berhak memperingatkannya agar tidak meneruskan
54
perbuatannya itu, sebab pemimpin tersebut berarti telah meninggalkan kewajibannya untuk memenuhi hak rakyatnya. Penguasa di dunia ini merupakan khalifah yang menjalankan amanat Allah, maka tindakan penyalahgunaan jabatan berati berjalan di atas jalan yang dilaknat Allah, menindas rakyat, melanggar perintah Al-Qur’an dan Sunnah. Pemimpin tersebut berhak diturunkan dari jabatannya.
Demikian diantara prinsip-prinsip Politik Islam yang dapat kita implementasikan dalam kehidupan bernegara. Paparan di atas, tidak menutup kemungkinan adanya prinsip-prinsip yang lain.