POKOK POKOK AJARAN AGAMA ISLAM
3. Akhlak Islam atau Ihsan
3.1. Pengertian dan Ruang Lingkup Akhlak Islam
3.1.1. Pengertian Akhlak
Kata akhlak merupakan bentuk jamaK (plural) dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti tabiat, perangai, tingkah laku, kebiasaan, kelakuan. Menurut istilahnya, akhlak ialah sifat yang tertanam di dalam diri seorang manusia yang bisa mengeluarkan sesuatu dengan senang dan mudah tanpa adanya suatu pemikiran dan paksaan. Dalam KBBI, akhlak berarti budi pekerti atau kelakuan. Menurut Ibnu Maskawaih, akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Perkataan akhlak bersumber dari kalimat dalam Al-Qur’an, diantaranya QS.68 (Al-Qolam) : 4 yang artinya:
"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada diatas budi pekerti yang agung“ (QS.68:4). Definisi di atas menggambarkan bahwa akhlak secara substansial adalah sifat hati (kondisi hati), bisa baik bisa buruk yang tercermin pada perilaku. Tingkah laku yang dapat dikatakan sebagai akhlak seseorang haruslah dilakukan berulang-ulang, tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan tersebut. Akhlak bukan hanya perbuatan lahir, namun merupakan cermin keadaan jiwa. Perbuatan itu sudah melekat dalam jiwanya sehingga dapat dilakukan secara spontan tanpa banyak pertimbangan. Umat Islam senantiasa berpatokan pada akhlak Nabi Muhammad saw. Akhlak terpuji yang ada dalam diri Rasulullah saw patut kita jadikan contoh dan suri tauladan yang baik. Ada dua sumber yang harus dijadikan sebagai pegangan hidup yakni Al-Qur’an dan Sunnah yang keduanyapun dijadikan sumber akhlak Islamiyah.
Dalam bahasan ini akhlak tidak terlepas dari akidah dan syariah, karena akhlak merupakan pola tingkah laku yang timbul sebagi manifestasi dari aspek keyakinan dan ketaatan kepada norma. Akhlak merupakan perilaku yang tampak terlihat jelas dalam kata-kata maupun perbuatan yang dimotivasi oleh iman dan amaliah ibadah. Jika iman dan praktik ibadahnya baik semestinya yang muncul adalah akhlak yang baik (al-akhlak al-karimah). Jika iman dan ibadahnya buruk, maka yang keluar dalam perilakunya adalah akhlak yang buruk (al-akhlak al-mazmumah).
Akhlak mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Bahkan boleh dinyatakan bahwa tujuan seseorang beragama adalah terciptanya idividu dan masyarakat yang berakhlak mulia. Al-Qur'an banyak memuat secara spesifik ayat-ayat yang berbicara masalah akhlak. Bahkan setiap ayat yang berbicara ibadahpun, seringkali dikaitkan di ujung ayat dengan tujuan ibadah yaitu pembentukkan akhlak. Seperti perintah menjalankan shalat agar manusia dapat menghindarkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. (QS.29:45).Ketika Allah mewajibkan orang-orang beriman untuk berpuasa Ramadhan (QS.2:183), maka Allah jelaskan
55
tujuannya supaya menjadi orang-orang yang bertakwa. Bertakwa berarti menjauhi perbuatan buruk dan senantiasa melakukan perbuatan baik.
3.1.2. Ruang Lingkup Akhlak Islam
Ruang lingkup akhlak Islam sama dengan ruang lingkup ajaran agama Islam itu sendiri. Karena Hukum Islam mencakup segenap aktivitas manusia, maka ruang lingkup akhlakpun dalam Islam mencakup semua aktivitas manusia di seluruh bidang kehidupan. Sasaran akhlak Islam mencakup pola perilaku kepada Allah, kepada sesama manusia, hingga pola perilaku kepada alam sekitarnya (binatang, tumbuhan dan makhluk yang tak bernyawa).
Uraian singkat ketiga ruang lingkup akhlak Islam tersebut adalah: a. Akhlak Kepada Allah
Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada Allah Sang Khalik. Setidaknya ada empat alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah, yaitu (1). karena Allahlah yang telah menciptakan manusia; (2). karena Allahlah yang telah memberikan perlengkapan pancaindera, berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan qolbu atau hati sanubari, disamping anggota tubuh yang kokoh dan sempurna kepada manusia; (3). karena Allahlah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan sebagainya; (4). karena Allahlah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan menguasai daratan dan lautan. Banyak cara yang dapat dilakuka dalam berakhlak kepada Allah, diantaranya dengan cara men-Tauhidkan-Nya, takwa kepada-Nya, mencintai-kepada-Nya, ridho dan ikhlas terhadap segala ketentuan-Nya dan bertaubat, mensyukuri nikmat-Nya, bertasbih, beristighfar, selalu bedoa kepada-Nya, beribadah, dan selalu mencari keridhoan-Nya.
Tiitik tolak akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji yang demikian Agung. Berkenaan dengan akhlak kepada Allah, dapat dilakukan dengan cara banyak memujinya. Selajutnya sikap tersebut dilanjutkan dengan senantiasa bertakwa dan bertawakkal kepada-Nya, yaitu dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang menguasai diri manusia.
b. Akhlak Kepada Manusia
Akhlak kepada manusia melingkupi akhlak kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Akhlak kepada diri sendiri adalah menyayangi diri sendiri dengan menjaga diri dari pebuatan buruk. Menjaga kesehatan diri, fisik dan jiwa kita. Bersuci, mandi setiap hari merupakan bentuk pemeliharaan diri secara fisik, sedangkan memelihara hati agar selalu ikhlas, rendah hati, sabar, jujur, mengendalikan dorongan hawa nafsu, dll. merupakan akhlak baik dengan jiwa spiritual kita.
Berakhlak yang baik kepada orang lain dapat dirinci sasarannya kepada: a) Rasulullah selaku pemimpin dan suri tauladan umat Islam, diantaranya dengan mencintai Rasulullah, meneladani sifat dan sunnah Rasulullah dalam kehidupan; b) Orang tua dan keluarga, diantaranya dengan mencintai kedua orang tua, merendahkan diri di hadapan mereka, berkata dengan lemah lembut, mendoakan keselamatan dan ampunan bagi mereka; c) Tetangga, diantaranya dengan saling mengunjungi, saling memberi, saling menghindari permusuhan dsb; d) Masyarakat, diantaranya dengan saling menghormati, saling menasehati, saling bermusyawarah, saling menolong dsb; e) Anggota masyarakat lainnya, dengan menghormati tamu, memberi makan fakir miskin, menunaikan amanat, dsb.
c. Akhlak Kepada Alam Sekitar
Berakhlak kepada alam sekitar berarti menyikapi alam dengan cara memelihara kelestariannya. Alam ini Allah tundukkan untuk kepentingan manusia dan Allah memberi
56
amanat kepada manusia untuk menjaganya. Maka manusia harus mengendalikan dirinya dalam mengeksploitasi alam. Manusia harus memberi kesempatan kepada alam untuk merehabilitasi. Pemanfaatan alam didasari sikap tanggung jawab, tanpa merusaknya, sebab alam yang rusak akan dapat merugikan manusia sendiri. Sikap yang baik terhadap alam antara lain: 1) sadar dan memelihara kelestarian lingkungan hidup; b) menyayangi dan menjaga kelestrian flora dan fauna; dan c) memanfaatkan alam secara bertanggung jawab, dsb.
Pembagian Akhlak dari sisi sifatnya dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1). akhlak yang baik, atau disebut juga akhlak mahmudah; dan 2). akhlak yang buruk atau akhlak madzmumah. Akhlak baik antara lain: cinta kepada Allah, cinta kepda rasul, taat beribadah, senantiasa mengharap ridha Allah, tawadhu’, taat dan patuh kepada Rasulullah, bersyukur atas segala nikmat Allah, bersabar atas segala musibah dan cobaan, ikhlas karena Allah, jujur, menepati janji, khusyu' dalam beribadah kepada Allah, mampu mengendalikan diri, silaturrahim, menghargai orang lain, sopan santun, suka bermusyawarah, suka menolong kaum yang lemah, suka bekerja, hidup bersih dll. Sifat yang termasuk akhlak mazmumah adalah segala sifat yang bertentangan dengan akhlak mahmudah, antara lain: kufur, syirik, munafik, fasik, murtad, takabbur, riya', dengki, bohong, menghasut, kikil, bakhil, boros, dendam, khianat, tamak, fitnah, qati’urrahim, ujub, mengadu domba, sombong, dll.
3.1.3. Nilai-Nilai Akhlak Islam
Diantara nilai-nilai akhlak Islam yang potensial menciptakan kehidupan sosial yang harmonis adalah:
a. Ikhlas
Ikhlas adalah salah satu hal yang bisa menyebabkan suatu amalan ibadah kita diterima Allah. Yang dimaksud dengan pengertian ikhlas adalah memurnikan ibadah atau amal shalih hanya untuk Allah dengan mengharap ridho dari Nya semata. Jadi dalam beramal kita hanya mengharap balasan dari Allah, tidak dari manusia atau makhluk-makhluk yang lain. Hal-hal yang merusak keikhlasan misalnya riya' (pamer), 'ujub (membanggakan diri) dan sum’ah (ingin kesohor). Imam Ibnul Qayyim menjelaskan arti ikhlas, yaitu meng-Esakan Allah di dalam tujuan atau keinginan ketika melakukan ketaatan. Ia juga menjelaskan bahwa makna ikhlas adalah memurnikan amalan dari segala yang mengotorinya. Inilah bentuk pengamalan dari firman Allah dalam QS.1 (Al-Fatihah) : 5 yang artinya:
"Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan."(QS.1:5).
b. Jujur
Jujur adalah sifat penting dalam ajaran agama Islam. Jujur adalah berkata terus terang. Lawan kata kejujuran adalah kebohongan. Orang yang bohong atau pendusta tidak ada nilainya dalam Islam. Bohong adalah modal utama seorang munafik, penfitnah, pengadu domba, penipu, koruptor, dsb. Kebohongan merupakan pembuka sifat buruk lainnya. Salah satu akhlak menonjol dari Rasulullah saw adalah shidiq (jujur). Shidiq berarti benar atau jujur. Akhlak jujur seperti Rasulullah tersebut wajib dimiliki juga oleh setiap muslim dan muslimah di mana dan kapanpun berada. Seorang muslim dituntut selalu berada dalam keadaan jujur lahir batin. Jujur hati (shidq al-qalb), jujur dalam perkataan (shidq al-hadits) dan jujur dalam perbuatan (shidq al-`amal). Kejujuran sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Allah swt mensifati diri-Nya dengan sifat jujur sebagaimana disebutkan dalam QS.4 (Al-Nisa') : 87 yang artinya:
57
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (Nya) dari pada Allah ?” (Qs. an-Nisa’: 87).
c. Adil
Kata adil berasal dari bahasa Arab yang berarti seimbang, proporsional, tidak berat sebelah. Adil secara istilah ada beberapa makna antara lain: menempatkan sesuatu pada tempatnya. Menurut Al Ghozali, adil adalah keseimbangan antara sesuatu yang lebih dan yang kurang. Sedangkan menurut Ibnu Miskawaih, keadilan adalah memberikan sesuatu yang semestinya kepada orang yang berhak terhadap sesuatu itu. Kata adil dilawankan dengan kata dzalim, yang berarti aniaya, menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya. Islam memerintahkan kepada kita agar kita berlaku adil kepada semua manusia
Allah menurunkan ajaran Islam bertujuan untuk membentuk masyarakat yang menyelamatkan dan membawa rahmat pada seluruh alam (rahmatan lil alamin) (Qs.21: Al-Anbiya’: 107). Untuk itu, Islam meletakkan ajaran adil sebagai salah satu di antara nilai-nilai kemanusiaan yang asasi dan dijadikan sebagai pilar kehidupan pribadi, rumah tangga dan masyarakat. Allah mengutus para Rasul dalam rangka untuk menegakkan dan mewujudkan keadilan di muka bumi. Dalam QS.57 (Al-Hadid) : 25 Allah berfirman yang artinya :
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan mizan (neraca, keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.”(Qs.57: 25).
d. Rendah Hati
Sifat rendah hati adalah diantara sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Sifat rendah hati ini dalam QS.25 (Al-Furqān) : 63 disebutkan yang artinya :
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (QS. 25:63)
Hamba-hamba Allah yang rendah hati adalah mereka yang berjalan di muka bumi ini dengan tenang, mantap dan tidak menyombongkan diri. Andaikata kebetulan sedang diberi nikmat oleh Allah berupa kekayaan, maka ia tidak memamerkan kekayaannya itu. Andaikata ia seorang yang diberi ilmu oleh Allah, maka ia tidak sombong dengan ilmunya. Andaikata ia adalah orang yang berpangkat, maka kepangkatan dan jabatannya tidak lantas membuatnya merendahkan orang lain. Nabi Muhammad saw pernah mengingatkan yang artinya:
Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain. (HR. Muslim).
e. Kasih Sayang
Nabi Muhammad saw diutus Allah tiada lain untuk merahmati semesta alam (QS. 21:107). Maka tentulah bukan kebetulan bila ternyata Nabi Muhammad saw dan agama yang dibawanya merupakan rahmat. Merupakan kasih sayang bagi semesta alam. Dalam QS.9 (Taubah) : 128 Allah berfirman yang artinya:
58
“Benar-benar telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri, yang terasa berat baginya penderitaan kalian; penuh perhatian terhadap kalian; dan terhadap orang-orang mukmin sangat pengasih lagi penyayang” (QS. 9:128).
Siapapun yang mempelajari sirah Nabi Muhammad saw akan menjumpai kisah-kisah kasih sayang Nabi Muhammad saw, sebagaimana siapapun yang mempelajari syariah agama Islam akan dengan mudah menemukan bukti hikmah-hikmah kasih sayang Islam. Kasih sayang bisa dengan mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari sang Rasul, baik sebagai bapak dan suami dalam lingkungan keluarga, sebagai saudara di kalangan kerabat, sebagai teman di kalangan sahabat, sebagai guru di antara para murid, sebagai pemimpin di kalangan ummat, bahkan sebagai manusia di tengah mahluk-mahluk Allah yang lain.
f. Sabar
Sabar adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh. Sabar merupakan kemampuan mengendalikan diri yang juga dipandang sebagai sikap yang mempunyai nilai tinggi dan mencerminkan kekokohan jiwa orang yang memilikinya. Sabar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati) dan lain-lainnya. Allah telah memerintahkan kepada seluruh hamba-Nya untuk sabar bukan saja dalam menghadapi cobaan dan ujian, namun juga dalam berbagai aspek kehidupan lainnya .
Ada banyak persoalan dan situasi yang kita hadapi di dunia yang harus kita sikapi dengan sabar. Para ulama menerangkan bahwa kesabaran dapat kita implementaskan dalam situasi berikut : 1) Sabar dalam melaksanakan perintah Allah; b) Sabar untuk meninggalkan dan menjauhi larangan Allah; c). Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan; dan d). Sabar dengan orang-orang sekitar yang tidak senang dengan kita.