DIMENSI SOSIAL DAN BUDAYA ISLAM
6. Pengembangan Budaya, Seni, dan Iptek Berdasar Ajaran Agama Islam
6.2. Pengembangan Seni Islam
6.2.6. Problematika Seni Dalam Islam
Mengkaji Seni Islam selalu tertumbuk pada jalan buntu ketika hendak memasuki wilayah kajian seni Islam. Di kalangan Islam terdapat pro dan kontra.
a. Hingga kini belumn ada lembaga apapun juga yang secara formal dan sistematis melakukan kajian seni secara komprehensif, filosofis (eistetika atau filsafat seni Islam, yang merumuskan batasan nilai keindahan sesuai dengan ajaran Islam), teoritik (sejarah, struktur, dan klasifikasi: apakah ada seni Islam ataukah hanya ada seni muslim), praktik (kajian tentang teknik-teknik perbidang), dan apresiatif (kritik seni yang mengkaji perkembangan seni Islam dalam hubungannya dengan perkembangan masyarakat muslim) yang mengatasnamakan lembaga seni Islam. Inti pendirian kelompok ini menyatakan bahwa Seni Islam itu tidak ada, dan yang ada adalah orang Islam berseni. b. Sebagian umat Islam atau bisa disebut seniman muslim bersemangat menunjukkan
berbagai dalil ‘aqliyah’ (rasional) bahwa Al-Quran sendiri mengandung nilai seni yang amat tinggi dan demonstratif bahwa Musabaqah Tilawatil Qur’an digelar di mana-mana,
94
demikian juga seni kaligrafi Islam-Arab, maupun naqliyah (teks yang bersumber dari Al-Quran maupun Sunnah (Alfaruqi, 1999: v-vi). Inti pendirian kelompok ini adalah seni merupakan salah satu dari kandungan atau jangkauan Islam. Dalam bab ini tentu dinyatakan bahwa seni Islam itu ada.
c. Seni lukis, Pahat, atau Patung
Al-Quran secara tegas dan dengan bahasa yang sangat jelas berbicara tentang patung pada tiga surat Al-Quran.
a. Dalam QS.21 (Al-Anbiya’) : 51-58 diuraikan tentang patung-patung yang disembah oleh ayah Nabi Ibrahim dan kaumnya. Sikap Al-Quran terhadap patung-patung itu, bukan sekedar menolaknya, tetapi merestui penghancurannya, sebagaimana firman Allah dalam QS.21 (Al-Anbiya') : 58 yang artinya :
“Maka Ibrahim menjadikan berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (QS.21:58).
Ada satu catatan kecil yang dapat memberikan arti dari sikap Nabi Ibrahim di atas, yaitu bahwa beliau menghancurkan semua berhala kecuali satu yang terbesar. Membiarkan satu di antaranya dibenarkan, karena ketika itu berhala tersebut diharapkan dapat berperan sesuai dengan ajaran tauhid. Melalui berhala itulah Nabi Ibrahim membuktikan kepada mereka bahwa berhala, betapapun besar dan indahnya, tidak wajar untuk disembah. Dalam QS.21 (Al-Anbiya') : 63-64 Allah berfirman yang artinya:
“Sebenarnya patung yang besar inilah yang melakukannya (penghancuran berhala-berhala itu). Maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara”. Maka mereka kembali kepada kesadaran diri mereka, lalu mereka berkata, “Sesungguhnya kalian semua adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)” (QS.21: 63-64).
Sekali lagi Nabi Ibrahim tidak menghancurkan berhala yang terbesar pada saat berhala itu difungsikan untuk satu tujuan yang benar. Jika demikian, yang dipersoalkan bukan berhalanya, tetapi sikap terhadap berhala, serta peranan yang diharapkan darinya.
b. Dalam QS.34 (Saba’) :12-13 diuraikan tentang nikmat yang dianugerahan Allah kepada Nabi Sulaiman, yang artinya adalah:
“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakiNya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS.34:12-13).
Dalam tafsir Al-Qurthubi disebutkan bahwa patung-patung itu terbuat dari kaca, marmer, dan tembaga, dan konon menampilkan para ulama dan nabi-nabi terdahulu. (Baca tafsirnya menyangkut ayat tersebut). Di sini, patung-patung tersebut, karena tidak disembah atau diduga akan disembah, maka keterampilan membuatnya serta pemilikannya dinilai sebagai bagian dari anugerah Ilahi.
Dalam QS.3 (Ali ‘Imran) : 48-49 dan QS. 5 (Al-Maidah) :110 diuraikan mukjizat Nabi Isa antara lain adalah menciptakan patung berbentuk burung dari tanah liat dan setelah ditiupnya,
95
kreasinya itu menjadi burung yang sebenarnya atas izin Allah, sebagaimana firman Allah dalam QS.3 (Ali Imran) : 49 yang artinya:
“Aku membuat untuk kamu dari tanah (sesuatu) berbentuk seperti burung kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung seizin Allah.” (QS.3:49).
Di sini, karena kekhawatiran kepada penyembahan berhala atau karena faktor syirik tidak ditemukan, maka Allah membenarkan pembuatan patung burung oleh Nabi Isa as. Dengan demikian, penolakan Al-Quran bukan disebabkan oleh patungnya, melainkan karena kemusyrikan dan penyembahannya.
Kaum Nabi Shaleh terkenal dengan keahlian mereka memahat, sehingga Allah berfirman dalam QS.7 (al-A'raf) 74 yang artinya:
“Ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad, dan memberikan tempat bagimu di bumi, kamu dirikan istana-istana di tanah yang datar, dan kamu pahat gunung-gunung untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, dan janganlah kamu merajalela di bumi membuat kerusakan.” (QS.7:74).
Kaum Tsamud amat gandrung melukis dan memahat, serta amat ahli dalam bidang ini sampai-sampai relief yang mereka buat demikian indah bagaikan “sesuatu yang hidup”, menghiasi gunung-gunung tempat tinggal mereka. Kaum ini enggan beriman, maka kepada mereka disodorkan mukjizat yang sesuai dengan ‘keahliannya” itu, yakni keluarnya seekor unta yang benar-benar hidup dari sebuah batu karang. Mereka melihat unta itu makan dan minum (QS Al-A’raf, 7:73 dan QS Al-Syu’ara, 26:155-156), bahkan mereka meminum susunya. Ketika itu relief-relief yang mereka lukis tidak berarti sama sekali dibanding dengan unta yang menjadi mukjizat itu. Sayang mereka begitu keras kepala dan kesal sampai mereka tidak mendapat jalan lain kecuali menyembelih unta itu, sehingga Tuhan pun menjatuhkan palu godam terhadap mereka (Baca QS 91:13-15). Yang digaris bawahi di sini adalah pahat-memahat yang mereka tekuni itu ialah nikmat Allah yang harus disyukuri, dan harus mengantar kepada pengakuan dan kesadaran akan kebesaran dan keesaan Allah. Allah sendiri yang menantang kaum Tsamud dalam bidang keahlian mereka itu, pada hakikatnya merupakan “Seniman Agung” kalau istilah ini dapat diterima.
Dalam hal sikap Islam terhadap seni pahat atau patung, Syaikh Muhammad At-Tahir bin Asyur ketika menafsirkan ayat-ayat yang berbicara tentang patung-patung Nabi Sulaiman menegaskan, bahwa Islam mengharamkan patung karena agama ini sangat tegas dalam memberantas segala bentuk kemusyrikan yang demikian mendarah daging dalam jiwa orang-orang Arab serta orang-orang-orang-orang selain mereka ketika itu. Sebagian besar berhala adalah patung-patung, maka Islam mengharamkannya karena alasan tersebut bukan karena dalam patung terdapat keburukan, tetapi karena patung tersebut dijadikan sarana bagi kemusyrikan. Atas dasar inilah, hendaknya dipahami hadis-hadis yang melarang menggambar atau melukis dan memahat makhluk-makhluk hidup.
Apabila seni membawa manfaat bagi manusia, memperindah hidup dan hiasannya yang dibenarkan agama, mengabadikan nilai-nilai luhur dan menyucikannya, serta mengembangkan serta memperhalus rasa keindahan dalam jiwa manusia, maka Sunnah Nabi mendukung, tidak menentangnya. Karena ketika itu ia telah menjadi salah satu nikmat Allah yang dilimpahkan kepada manusia. Demikian Muhammad ‘Imarah dalam bukunya Ma’alim al-Manhaj a-Islami yang penerbitannya disponsori oleh Dewan Tertinggi Da’wah Islam, Al-Azhar bekerja sama dengan Al-Ma’had Al-‘Alami lil Fikr al-Islami (International Institute for Islamic Thought).
96
Sejarah kehidupan Rasulullah membuktikan bahwa beliau tidak melarang nyanyian yang tidak mengantar kepada kemaksiatan. Bukankah sangat populer di kalangan umat Islam, lagu-lagu yang dinyanikan oleh kaum Anshar di Madinah dalam menyambut Rasulullah ? Memang benar, apabila nyayian mengandung kata-kata yang tidak sejalan dengan ajaran Islam, maka ia harus ditolak. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa dua orang wanita mendendangkan lagu yang isinya mengenang para pahlawan yang telah gugur dalam peperangan Badr sambil menabuh gendang. Di antara syairnya adalah:
“Dan kami mempunyai Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi besok..” Mendengar ini Nabi menegur mereka sambil bersabda:
"Adapun yang demikian, maka jangan kalian ucapkan. Tidak ada yang mengetahui (secara pasti) apa yang terjadi esok kecuali Allah" (HR. Ahmad).