BAB II LANDASAN TEORI
B. Penelitian yang Relevan
Peneliti menuliskan tiga penelitian yang memiliki relevasi dengan penelitian ini. Ketiga penelitian tersebut sebagai berikut:
Penelitian pertama dilakukan oleh Ayu Vinlandari Wahyudi (2014).
Penelitian yang dilakukan berjudul “Pembelajaran Seni Tari Berbasis Pendekatan Scientific Untuk Meningkatkan Kecerdasan Matematika-Logis Siswa (Studi Eksperimen Melalui Materi Tari Giring-giring di Sekolah Dasar Sekolah Indonesia Singapura/ SIS)”. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa siswa yang dijadikan subjek penelitian sebagian besar mempunyai permasalahan pada ketepatan gerak terhadap irama musik dan hitungan, serta kurang sesuainya gerak dengan karakter tarian, yang di mana permasalahan tersebut mengacu terhadap kecerdasan matematika-logis siswa. Dengan demikian, diperlukan adanya sebuah pendekatan terhadap pembelajaran seni tari, pendekatan tersebut yaitu pendekatan scientific. Proses pembelajaran dalam pendekatan scientific meliputi mengamati, bertanya, bereksperimen atau mencoba, berasosisasi atau bernalar, dan membuat jejaring. Pada tahapan eksperimen, asosiasi, dan membuat jejaring, terjadi peningkatan kecerdasan matematika-logis
36
siswa. Hal tersebut terbukti ketika siswa mencoba dan bernalar, siswa terus mencoba untuk berlatih agar terciptanya kesesuaian antara gerak, musik, dan ekspresi. Hampir seluruh siswa berpendapat bahwa setelah pembelajaran seni tari berbasis pendekatan scientific diterapkan, mereka merasa lebih berhati-hati dalam menarikan tarian agar sesuai dengan pola irama musik atau tempo. Hasil penelitian ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada saat pre-test dan post-pre-test. Perolehan nilai pada saat pre-pre-test yakni sebesar 82,65 dan terbukti pada saat post-test nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 85,68, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa melalui pembelajaran seni tari berbasis pendekatan scientific dapat meningkatkan kecerdasan matematika-logis siswa Sekolah Dasar Sekolah Indonesia Singapura kelas IV, V, dan VI. Menurut peneliti, penelitian tersebut menjadi relevan karena dengan adanya proses pembelajaran Seni tari yang berbasis Saintifik benar benar dapat meningkatkan kecerdasan matematika logis dibuktikan dengan meningkatnya hasil post-test dan pre-test,sesuai dengan peneliti yang akan membuat prototipe pembelajaan matematika materi sudut dengan menggunakan tarian.
Penelitian yang kedua dilakukan Fajrina Rafdiani Riansyah (2011). Penelitian tersebut berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Metode Bamboo Dancing Terhadap Hasil Belajar Matematika”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif metode bamboo dancing dan konvensional serta pengaruh model pembelajaran kooperatif metode bamboo dancing terhadap hasil belajar matematika. Metode yang digunakan kuasi eksperimen dengan subjek penelitian
37
siswa kelas X administrasi perkantoran dan X Pemasaran, SMK Gita Kirtti 1, Jakarta Selatan. Teknik Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen untuk mengumpulkan data pada penelitian berupa tes esay yang terdiri dari 9 butir soal. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji-t dan berdasarkan perhitungan uji-t menunjukkan = 3,61 dan = 2,00 pada taraf signifikan 5% atau (α = 0,05) dan derajat kebebasan (db = 58) yang berarti
> (3,61 > 2,00), maka H0 ditolak dan H1 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif metode bamboo dancing lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diberi pembelajaran konvensional. Dengan demikian model pembelajaran kooperatif metode bamboo dancing berpengaruh terhadap hasil belajar matematika. Menurut peneliti, penelitian tersebut menjadi relevan karena dengan proses pembelajaran yang menggunakan tarian dapat meningkatkan hasil belajar matematika, sesuai dengan peneliti yang akan membuat prototipe pembelajaran matematika materi sudut dengan menggunakan tarian.
Penelitian ketiga diambil dari artikel yang disusun oleh Wardatus Sholihah, Susanto, dan Titik Sugiarti (2015). Penelitian tersebut berjudul “Pengembangan Bahan Ajar (Buku Siswa) Matematika untuk Siswa Tunarungu Berdasarkan Standar Isi dan Karakteristik Siswa Tunarungu Pada Sub Pokok Bahasan Menentukan Hubungan Dua Garis, Besar Sudut, Dan Jenis Sudut Kelas VII SMP LB/B Taman Pendidikan dan Asuhan (TPA) Jember Tahun Ajaran 2012/2013”.
Dalam penelitian ini dihasilkan bahan ajar Matematika untuk siswa tunarungu
38
berdasarkan standar isi dan karakteristik siswa tunarungu pada sub pokok bahasan menentukan hubungan dua garis, besar sudut, dan jenis sudut. Hasil pengembangan ini bertujuan untuk memberi kemudahan siswa tunarungu dalam mempelajari matematika. Khususnya materi garis dan sudut. Perangkat pembelajaran dinilai praktis (dapat diterapkan) jika tingkat pencapaian kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran minimal 80%. Secara umum, pembelajaran yang disampaikan menggunakan bahan ajar yang telah dikembangkan dinilai baik, hanya saja manajemen waktu kurang baik. Dari hasil analisis data, diperoleh persentase aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran pada pertemuan pertama mencapai 79,17%, pada pertemuan kedua mencapai 87,5%, dan pada pertemuan ketiga mencapai 87,5%. Rata-rata persentase aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran mencapai 84,72%. Dari hasil uji coba efektifitas, diperoleh persentase aktivitas siswa pada pertemuan pertama mencapai 74,44% dengan kategori aktif, pada pertemuan kedua mencapai 71,11% dengan kategori cukup baik, dan pada pertemuan ketiga mencapai 86,27% dengan kategori sangat aktif. Rata-rata persentase aktivitas siswa sampai pertemuan ketiga adalah 77,27 dengan kategori aktif. Dari hasil analisis angket respon siswa yang telah diisi diperoleh persentase respon positif pada pertemuan pertama 75%, pada pertemuan kedua 80%, dan pada pertemuan ketiga 85%. Rata-rata respon positif siswa sampai pada pertemuan ketiga mencapai 80%. Dari analisis angket yang telah diisi diperoleh bahwa 80% siswa menunjukkan respon positif terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa merasa senang dengan pembelajaran matematika yang menggunakan
39
bahan ajar khusus untuk siswa tunarungu karena bahan ajar tersebut dianggap menarik dan mudah dipahami. Menurut peneliti, penelitian tersebut menjadi relevan karena dengan adanya proses pembelajaran yang menarik dapat meningkatkan kecerdasan matematika dibuktikan dengan respon positif siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan,sesuai dengan peneliti yang akan membuat prototipe pembelajaran matematika materi sudut dengan menggunakan kegiatan yang menarik yaitu tarian.
Berdasarkan ketiga penelitian tersebut dua diantaranya menjelaskan tentang keefektifan seni tari dalam meningkatkan pembelajaran matematika. Sedangkan salah satu penelitian lainnya menjelaskan mengenai pengembangan bahan ajar pembelajaran matematika materi sudut. Maka dari hasil penelitian yang relevasi tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan menggabungkan keduanya yaitu mengenai Seni tari dan pengembangan perangkat pembelajaran dengan judul
“Prototipe Perangkar Pembelajaran Matematika Materi Sudut Kelas IV Dengan Menggunakan Tarian”. Secara ringkas kerangka penelitian dalam penelitian ini dapat dilihat dalam literature map dalam bagan 2.1.
Penelitian yang berkaitan Susanto, dan Titik Sugiarti
(2015) Pengembangan Dan Jenis Sudut Kelas VII
Smplb/B Taman Pendidikan dan Asuhan
40
Bagan 2.1. Literature Map dari Penelitian yang Relevan
C. Kerangka Berfikir
Peserta didik kelas IV perlu memahami materi sudut agar dapat memecahkan permasalahan kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pengukuran dan materi tersebut merupakan dasar untuk mempelajari materi di tingkat yang lebih lanjut. Guru juga perlu mempunyai reverensi untuk melakukan pembelajaran agar pembelajaran tidak monoton, Dari hasil angket yang dibagikan kepada 34 peserta didik peneliti mendapatkan data 76% peserta didik mengalami kesulitan dalam menentukan jenis-jenis sudut, 71% peserta didik mengalami kesulitan dalam membedakan jenis-jenis sudut, 18% peserta didik mengaku tidak senang mengikuti pembelajaran matematika materi sudut. Dan dari hasil wawancara dengan guru, guru mengatakan kurangnya reverensi pembelajaran yang menggabungkan matematika dan seni tari, Sehingga perlu adanya inovasi pembelajaran untuk membantu peserta didik dalam memahami materi sudut, serta adanya reverensi bagi guru.
41
Dari hasil angket dan wawancara di atas peneliti termotifasi membuat prototipe pembelajaran matematika menggunakan tarian. Karena dengan adanya prototipe mempermudah guru dan peserta didik dalam mempelajari materi dan pengembangannya. Prototipe yang dikembangkan terdiri dari dua bagian. Bagian 1 berisi mengenai penjelasan pembelajaran matematika materi sudut dan gerakan tari yang digunakan dalam mempelajari materi sudut. Bagian 2 berisi perangkat pembelajaran berupa silabus dan RPP yang mengintegrasikan pembelajaran matematika dengan tarian serta dilengkapi LKS (Lembar Kerja Siswa). Kelebihan dari prototipe ini yaitu adanya pengintegrasian pembelajaran SBdP (Seni Tari) dengan pembelajaran Matematika materi sudut yang dapat membantu peserta didik dalam memahami materi sudut serta dapat menjadi referensi guru dalam melakukan pembelajaran.
D. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian berikut ini:
1. Bagaimana proses pengembangan prototipe pembelajaran matematika materi sudut dengan tarian untuk peserta didik kelas IV Sekolah Dasar?
2. Bagaimana kualitas prototipe pembelajaran matematika materi sudut dengan tarian yang telah divalidasi oleh ahli matematika?
42
3. Bagaimana kualitas prototipe pembelajaran matematika materi sudut dengan tarian yang telah divalidasi oleh ahli tari?
4. Bagaimana kualitas prototipe pembelajaran matematika materi sudut dengan tarian yang telah divalidasi oleh guru kelas?
BAB III
METODE PENELITIAN
Dalam Bab III ini yang akan dibahas oleh peneliti mengenai jenis penelitian, setting penelitian, rencana pengembangan, prosedur pengembangan, instrument penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan jadwal penelitian.
A. Jenis Penelitian
43
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian R & D (Research and Development). Menurut Sugiyono (2013. 407) Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Sejalan dengan pendapat tersebut bahwa R & D merupakan suatu proses atau langkah – langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada yang dapat dipertanggung jawabkan Sukmadinata (2011:164). R & D adalah metode penelitian yang digunakan untuk membuat produk baru atau untuk mengembangkan produk yang telah ada dan dapat dipertanggung jawabkan.
Penelitian mengembangkan suatu produk berupa prototipe pembelajaran matematika materi sudut (dengan tarian) untuk peserta didik kelas IV Sekolah dasar yang akan diujicobakan di SD Negeri Sardonoharjo 2. Produk ini dikembangkan berdasarkan modifikasi dari prosedur metode penelitian R & D (Research and Development) menurut Borg & Gall dalam Sugiyono (2012:298).
Peneliti ini dibatasi sampai dengan Revisi Produk yang dilakukan setelah melalui proses validasi oleh ahli dan uji coba sehingga layak untuk digunakan.
B. Setting Penelitian
Setting penelitian dalam penelitian ini dijabarkan sebagai berikut:
1. Objek Penelitian
Prototipe matematika materi sudut (Dengan tarian) merupakan objek penelitian ini. Dalam Prototipe ini terdapat 2 bagian. Bagian 1 berisi tentang penjelasan pelajaran matematika materi sudut dan gerak tari yang digunakan
44
untuk mempelajari sudut. Bagian 2 Berisi tentang Silabus dan RPP beserta LKS ( Lembar Kerja Siswa).
2. Subjek Penelitian
Subjek peneliti adalah guru kelas 4 SD Negeri Sardonoharjo 2 peserta didik kelas IV SD Negeri Sardonoharjo 2 dengan jumlah peserta didik 10 Siswa Putra dan 7 Siswa putri sehingga total ada 17 Peserta Didik.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Sardonoharjo 2 yang beralamat Candiwinangun, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. SD tersebut dijadikan lokasi penelitian karena SD tersebut merupakan SD imbas dari sd disekitarnya sehingga kemampuan anak kurang baik maka perlu didukung dengan keterampilan, sehingga peneliti memutuskan untuk menggunakan SD tersebut sebagai lokasi penelitian.
4. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2018 sampai dengan bulan Januari tahun 2020.
C. Rancangan Pengembangan
Prosedur pengembangan produk yang digunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi dari model pengembangan Borg & Gall. Menurut Borg & Gall dalam Sugiyono (2012:298), penelitian R & D terdiri dari 10 langkah utama yaitu:
45
Bagan 3.1 Langkah Metode Penelitian Pengembangan (Research and Development) Menurut Borg & Gall dalam Sugiyono (2012:298)
Berikut ini merupakan penjelasan dari prosedur pengembangan di atas:
1. Potensi dan Masalah
Penelitian ini bermula dari adanya potensi dan masalah. Potensi adalah segala sesuatu yang apabila didayagunakan akan memiliki nilai tambah (Sugiyono, 2011:298). Akan tetapi, potensi apabila tidak dimanfaatkan dengan baik akan menjadi sebuah masalah. Masalah adalah hal yang menyimpang dari apa yang diharapkan. Potensi dan masalah dapat kita cari sendiri, namun bisa juga didasarkan laporan penelitian yang sudah dilakukan orang lain atau dokumentasi laporan.
2. Pengumpulan Data
Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan perencanaan produk tertentu. Dalam pengumpulan informasi diperlukan metode penelitian, metode yang digunakan tergantung
Pengumpulan
46
dari masalah dan ketelitian tujuan yang hendak dicapai oleh peneliti itu sendiri.
3. Desain Produk
Desain produk merupakan langkah untuk merancang produk yang hendak dihasilkan. Keefektifan dari desain produk tersebut masih belum terbukti. Oleh karena itu, masih diperlukan pengujian terhadap produk tersebut.
4. Validasi Desain
Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai keefektifan rancangan produk yang dibuat. Validasi desain bersifat penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum fakta lapangan. Validasi dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan desain produk, sehingga kelemahan dapat diperbaiki. Validasi produk dapat dilakukan oleh beberapa pakar atau ahli yang sudah memiliki pengalaman untuk menilai produk yang dibuat.
5. Revisi Desain
Revisi desain merupakan perbaikan kelemahan-kelemahan dari validasi yang sudah dilakukan beberapa ahli untuk memperoleh produk yang lebih baik.
47 6. Uji Coba Produk
Uji coba produk dilakukan dengan yaitu menguji untuk membandingkan efektivitas dan efisiensi produk yang dihasilkan. Uji coba produk dilakukan pada kelompok terbatas.
7. Revisi Produk
Revisi produk bertujuan untuk memperbaik kelemahan yang ada setelah dilakukan uji coba produk. Revisi akan terus dilakukan untuk mendapatkan produk yang efektif dan efisien.
8. Uji Coba Pemakaian
Setelah melakukan uji coba dan revisi produk, kegiatan selanjutnya adalah menerapkan produk dalam lingkup yang lebih luas. Uji coba pemakaian tersebut juga harus dinilai kekurangan dan hambatan yang muncul untuk perbaikan lebih lanjut.
9. Revisi Produk
Revisi produk ini dilakukan apabila dalam uji coba pemakaian masih terdapat kekurangan dan kelemahan pada produk yang dibuat.
10. Pembuatan Produk Masal
Pembuatan produk masal dilakukan apabila produk yang dihasilkan sudah diuji coba dan dinyatakan efektif serta layak untuk diproduksi masal.
48 D. Prosedur Pengembangan
Penelitian ini dibatasi pada lima langkah prosedur penelitian saja.
Dikarenakan kemampuan peneliti yang masih kurang. Langkah-langkah prosedur yang dikembangkan peneliti adalah sebagai berikut:
Bagan 3.2 Langkah-langkah yang Diterapkan Peneliti
Berdasarkan gambar 3.2 di atas, langkah-langkah pengembangan produk akan dijabarkan sebagai berikut. Borg & Gall (dalam Emzir, 2013: 271) Menyatakan bahwa dimungkinkan untuk membatasi penelitian dalam skala kecil, termasuk membatasi langkah penelitian
1. Potensi dan Masalah
Penelitian ini dimulai dari potensi dan masalah. Peneliti melakukan analisis kebutuhan untuk mengetahui adanya potensi dan masalah. Analisis kebutuhan dilakukan dengan melakukan observasi di kelas IV pada saat pembelajaran matematika pada tanggal 12 sampai 15 September 2018, selain melakukan observasi peneliti juga melakukan wawancara kepada guru kelas IV di SD Negeri Sardonoharjo 2 pada tanggal yang tidak bersamaan
2. Pengumpulan Data
49
Pengumpulan data dilakukan untuk memperkuat hasil wawancara dan observasi dengan membagikan kuisioner pra-penelitian yang berisi 20 pertanyaan kepada 17 peserta didik. Data yang diperoleh akan digunakan untuk mengetahui kesulitan siswa dan membantu menentukan kebutuhan guru dalam membantu peserta didik memahami pembelajaran matematika materi sudut agar dapat menjadi acuan untuk merancang produk berupa prototipe pembelajaran matematika materi sudut dengan tarian.
3. Desain Produk
Produk yang dikembangkan peneliti adalah berupa prototipe pembelajaran matematika dengan menggunakan tarian untuk peserta didik kelas IV SD. Prototipe ini terdiri dari 2 bagian. Bagian 1 berisi tentang penjelasan mengenai pembelajaran matematika materi sudut dan gerak tari yang digunakan untuk mempelajari sudut. Bagian 2 berisi tentang perangkat pembelajaran yaitu silabus dan RPP yang dilengkapi dengan LKS (Lembar Kerja Siswa).
4. Validasi Desain
Produk yang telah dikembangkan selanjutnya akan divalidasi oleh satu dosen ahli matematika, satu ahli tari dan satu guru kelas IV. Tujuannya adalah untuk memperoleh kritik dan saran terhadap produk yang sudah dikembangkan, sehingga produk layak untuk diujicobakan.
5. Revisi Desain
50
Revisi desain dilakukan setelah dilakukannya validasi desain untuk menjadikan produk yang telah dibuat layak untuk digunakan.
E. Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan observasi, wawancara dan kuisioner.
1. Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan (Riduwan, 2013). Observasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah observasi tidak terstruktur. Ketika melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen secara baku, hanya menggunakan pedoman yang berisi garis besar hal yang akan diamati.
2. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu bentuk evaluasi jenis non tes yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab, baik secara langsung maupun tidak langsung (Arifin, 2009:157). Penelitian ini menggunakan wawancara tidak terstruktur, dimana peneliti tidak menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk mewawancarai. Peneliti menyiapkan garis besar pertanyaan yang akan ditanyakan. Pertanyaan tersebut digunakan untuk menganalisis kebutuhan terhadap produk yang akan dikembangkan.
3. Kuesioner
51
Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan beberapa pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab sesuai keadaan (Widoyoko, 2014:154). Kuisioner yang digunakan ada dua jenis yaitu kuisioner analisis kebutuhan pra-penelitian dan kuisioner uji validasi produk untuk ahli.
a. Kuesioner Analisis Kebutuhan Pra Penelitian Untuk Peserta Didik
Kuesioner analisi kebutuhan pra-penelitian ini digunakan untuk mengetahui Minat dan kesulitan peserta didik pada pembelajaran matematikaserta seni tari. Kuisioner ini berisi 20 butir pertanyaan.
Kuesioner ini dibagikan kepada peserta didik kelas IV SD Negeri Sardonoharjo 2 dengan total responden 17 peserta didik. Hasil dari kuesioner ini digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merancang prototipe pembelajaran yang akan dikembangkan.
b. Kuesioner Uji Validasi Produk untuk Ahli
Uji validasi produk dilakukan dengan tujuan memperoleh data dalam menentukan kualitas produk yang dikembangkan oleh peneliti. Kuesioner uji validasi produk oleh ahli ini terdiri dari 14 pertanyaan yang mengacu kepada kelayakan prototipe pembelajaran yang dikembangkan.
Kuesioner ini dibagikan kepada satu ahli matematika, satu ahli tari dan satu guru kelas IV SD. Data tersebut digunakan untuk memperbaiki
52
produk yang nantinya akan diuji cobakan kepada 28 peserta didik di SD Negeri Sardonoharjo 2.
F. Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa lembar observasi, daftar pertanyaan wawancara, dan kuisioner analisis kebutuhan untuk peserta didik.
1. Lembar Observasi
Lembar observasi merupakan lembar yang digunakan sebagai pedoman peneliti ketika melakukan observasi. Lembar observasi digunakan pada saat peneliti melakukan pengamatan pra-penelitian di kelas IV SD Negeri Sardonoharjo 2. Lembar observasi digunakan sebagai pedoman untuk mengetahui kondisi permasalahan yang terjadi di dalam pembelajaran matematika materi sudut. Kisi-kisi lembar observasi sebagai berikut:
Tabel 3.1 Kisi-Kisi Lembar Observasi Kegiatan Pembelajaran
Selain melakukan observasi pada kegiatan pembelajaran, peneliti juga melakukan observasi kegiatan menari yang dilakukan untuk mengetahui
No Aspek yang diamati
1
Penggunaan metode pembelajaran untuk membantu peserta didik memahami materi
2 Kesulitan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran 3
Kesulitan yang sering muncul pada peserta didik ketika memahami pembelajaran
53
minat peserta didik kelas IV pada kegiatan menari. Berikut ini kisi-kisi observasinya:
Tabel 3.2 Kisi-Kisi Lembar Observasi Kegiatan Menari
No Aspek yang diamati
1 Kegiatan menari di sekolah
2 Minat peserta didik dalam kegiatan menari khususnya kelas IV SD
2. Daftar Pedoman Wawancara
Peneliti memilih menggunakan wawancara tidak terstruktur, dimana peneliti tidak menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk mewawancarai.
Peneliti menyiapkan garis besar pertanyaan yang akan ditanyakan. Pertanyaan tersebut digunakan untuk menganalisis kebutuhan terhadap produk yang akan dikembangkan. Peneliti melakukan wawancara kepada guru kelas IV dan guru tari.
Tabel 3.3 Daftar Pertanyaan Wawancara untuk Guru Kelas IV
No Daftar Pertanyaan Wawancara
1
Sejauh mana kesulitan peserta didik dalam pembelajaran matematika materi sudut?
2
Kesulitan apa yang Bapak/ Ibu alami ketika mengajarkan pembelajaran matematika materi sudut kepada peserta didik?
3
Apakah Bapak/ Ibu memerlukan/menginginkan metode pembelajaran yang baru ketika mengajarkan pembelajaran matematika materi sudut kepada peserta didik?
54 4
Apakah Bapak/ Ibu guru pernah melakukan pembelajaran matematika materi sudut dengan menggunakan tarian?
5
Jika terdapat tarian yang dapat membantu peserta didik dalam memahami pembelajaran matematika materi sudut apakah Bapak/ ibu guru akan menggunakannya sebagai metode pembelajaran?
6
Bagaimana jika pembelajaran matematika menggunakan tarian sebagai salah satu cara dalam membantu siswa memahami
Tabel 3.4 Daftar Pertanyaan Wawancara untuk Guru Seni Tari
No Daftar Pertanyaan Wawancara
1 Gerak tari seperti apa yang cocok diajarkan untuk peserta didik kelas IV?
2
Apakah terdapat tarian yang dapat membantu peserta didik dalam memahami pembelajaran matematika dengan menggunakan tarian?
3. Kuesioner
Kuesioner Peneliti menggunakan dua jenis kuisioner, yaitu kuisioner analisis kebutuhan pra-penelitian dan kuisioner validasi produk.
a. Kuisioner Analisis Kebutuhan Pra-Penelitian
Kuisioner analisis kebutuhan digunakan untuk menganalisis kebutuhan siswa mengenai prototipe pembelajaran yang akan dikembangkan. Kuisioner analisis kebutuhan ini dibagikan kepada 17 peserta didik kelas VI SD Negeri Sardonoharjo 2. Berikut ini merupakan kisi-kisi kuisioner analisis kebutuhan siswa:
55
Tabel 3.5 Kisi-kisi Kuisioner Analisis Kebutuhan Pra-penelitian untuk Peserta Didik
No Aspek Indikator Pertanyaan
1 Sudut Jenis-jenis, ciri-ciri dan besar Sudut mengerjakan soal matematika materi sudut.
8. Saya bersemangat ketika mengerjakan soal matematika materi sudut.
Ketertarikan siswa pada materi dan
metode yang
digunakan guru:
9. Saya mengikuti pembelajaran matematika materi sudut dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran.
10. Saya tertarik mempelajari pembelajaran matematika materi sudut.
11. Saya tertarik belajar matematika
11. Saya tertarik belajar matematika