BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
4. Media Audio Visual
8
BAB II
LANDASAN TEORI
Pada bab ini akan disampaikan landasan teori yang menunjang penelitian. Pembahasan atas landasan teori ini meliputi kajian pustaka, hasil penelitian yang relevan, kerangka berpikir dan hipotesis tindakan.
A. Kajian pustaka 1. Minat
a. Pengertian Minat
Banyak ahli telah mengemukakan tentang pengertian minat. Menurut Slameto (2010:57), minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang. Winkel (2004:212) mengemukakan minat sebagai kecenderungan subyek yang menetap, untuk merasa tertarik pada bidang studi atau pokok bahasan tertentu dan merasa senang mempelajari materi itu. Berdasarkan pengertian yang dikemukakan Slameto dan Winkel minat berhubungan dengan perasaan. Perasaan tersebut berkaitan dengan rasa senang dan ketertarikan pada sesuatu hal.
Pengertian minat yang berbeda diungkapkan oleh Reber dalam Syah (2003), minat merupakan istilah yang kurang populer dalam psikologi karena ketergantungannya pada faktor-faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan
kebutuhan. Namun terlepas dari masalah populer atau tidak, minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang studi atau mata pelajaran. Misalnya, seorang siswa yang menaruh minat besar terhadap kegiatan menyimak akan memusatkan perhatiannya lebih banyak daripada siswa lain.
Minat berbeda dengan kesenangan. Kesenangan hanya bersifat sementara. Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan dan bersifat lebih tetap (Hurlock, 2005). Anak yang mempunyai minat terhadap suatu pekerjaan atau permainan akan berusaha lebih keras dibanding dengan anak yang kurang berminat atau merasa bosan.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat diartikan bahwa minat merupakan suatu perasaan atau ketertarikan terhadap suatu hal atau pekerjaan, sehingga timbul keinginan untuk melakukan atau menekuni hal atau pekerjaan tersebut.
b. Ciri-ciri siswa yang berminat dalam belajar
Menurut Slameto (2003:58), siswa yang berminat dalam belajar akan memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1) Mempunyai kecenderungan untuk memberikan perhatian lebih terhadap sesuatu.
2) Ada rasa suka dan senang terhadap sesuatu yang diminati.
3) Memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu yang diminati.
4) Ada rasa keterikatan pada aktivitas-aktivitas yang diminati.
5) Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang lainnya.
6) Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan. Djamarah (2002:132) mengemukakan beberapa indikator siswa berminat dalam belajar yaitu pernyataan lebih menyukai sesuatu daripada yang lain, partisipasi aktif dalam suatu kegiatan, memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sesuatu yang diminati. Hurlock (2005:115) mengemukakan ciri-ciri minat anak sebagai berikut.
1) Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental anak.
2) Minat bergantung pada kesiapan belajar anak. 3) Minat bergantung pada kesempatan belajar. 4) Minat dipengaruhi oleh budaya.
5) Minat berbobot emosional. 6) Minat bersifat egosentris.
Dari uraian ciri-ciri minat siswa di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa minat dapat diketahui dari beberapa indikator yaitu perasaan senang, kemauan untuk mengembangkan diri, sikap perhatian, berpartisipasi dalam pembelajaran.
c. Faktor-faktor yang mempengaruh minat belajar di sekolah
Hurlock (2005:139) mengemukakan faktor yang mempengaruhi minat belajar di sekolah adalah sebagai berikut:
1) Pengalaman dini di sekolah
Anak yang secara fisik dan emosional telah siap untuk belajar di sekolah, akan lebih mudah dalam menyesuaikan diri dan mendapatkan pengalaman yang lebih menyenangkan.
2) Sikap dan penerimaan oleh teman sebaya
Minat dan sikap terhadap sekolah dan berbagai kegiatan di sekolah sangat dipengaruhi oleh teman sebaya. Untuk diterima dalam suatu kelompok teman sebaya, anak akan berusaha untuk menerima minat dan penilaian kelompok.
3) Keberhasilan akademik
Keberhasilan akademik sangat berpengaruh pada sikap dan minat anak di sekolah. Besarnya pengaruh keberhasilan akademik tergantung pada besarnya nilai keberhasilan akademik dalam kelompok teman sebaya. Kegagalan dalam bidang akademik akan mengakibatkan rasa tidak senang terhadap lingkungan sekolah dan mengurangi minatnya pada sekolah.
4) Hubungan guru dan murid
Banyak atau sedikitnya minat anak terhadap sekolah dipengaruhi sikapnya terhadap guru. Anak akan memperoleh
gambaran tentang sosok guru melalui perkataan orang tua, media massa dan dari pengalamannnya sendiri. Jika seorang anak memperoleh gambaran negatif tentang guru, akan cenderung bersikap kurang memperhatikan guru dan mempengaruhi minatnya.
Dari uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi minat adalah pengalaman dini di sekolah, sikap dan penerimaan oleh teman sebaya, keberhasilan akademik, hubungan guru dan murid dan suasana emosional di sekolah.
d. Metode pengukuran minat
Minat siswa dapat diukur menggunakan penilaian non tes. Masidjo (1995:95) mengemukakan bahwa non tes merupakan rangkaian pertanyaan yang harus dijawab secara sengaja dalam situasi yang kurang distandarisasikan. Dimana, yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan atau hasil belajar yang dapat diamati secara konkret dari individu atau kelompok. Penilaian non tes dapat berupa pengamatan (observasi), catatan anekdot, daftar cek, skala nilai, angket dan wawancara.
Nurkancana (1983: 227-229) mengemukakan beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengadakan pengukuran minat sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi dapat dilakukan dalam setiap situasi, baik di kelas maupun luar kelas. Pengukuran dapat dilakukan dengan mengamati minat anak-anak dalam kondisi yang wajar. Pencatatan hasil observasi sering menemui beberapa kendala, misalnya penafsiran terhadap hasil-hasil observasi yang bersifat subyektif dan jarak waktu yang panjang antara tingkah laku yang diobservasi.
b. Interview (wawancara)
Pelaksanaan interview baik digunakan untuk mengukur minat anak-anak. Interview dilakukan dalam situasi tidak formal, sehingga percakapan akan berlangsung dengan bebas dan hasil yang didapatkan juga lebih jelas.
c. Kuesioner
Kuesioner dapat dilakukan terhadap sejumlah siswa sekaligus, sehingga jauh lebih efisien dalam penggunaan waktu. Kuesioner dilakukan dalam bentuk tertulis dan pertanyaan yang diajukan pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan isi pertanyaan dalam interview.
d. Inventiori
Inventiori adalah suatu metode untuk mengadakan pengukuran atau penilaian yang sejenis dengan menggunakan daftar pertanyaan secara tertulis. Responden memberi jawaban
dengan memberi lingkaran, tanda cek, mengisi nomor atau tanda-tanda lain yang berupa jawaban-jawaban yang singkat terhadap sejumlah pertanyaan yang lengkap.
Djiwandono (2008) mengungkapkan ada beberapa cara untuk mengetahui minat siswa. Hal yang paling sering dilakukan adalah menanyakan kepada siswa secara langsung atau menggunakan angket. Cara lain yang dapat dilakukan adalah mengobservasi langsung kegiatan-kegiatan siswa. Guru dapat memperhatikan siswa-siswa selama pelajaran berlangsung.
Penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), wawancara dan kuesioner. Pengamatan dilakukan pada pelaksanaan siklus I dan II. Kuesioner diisi oleh siswa pada ahkir siklus, sedangkan wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data awal sebelum penelitian dilakukan.
2. Menyimak
a. Pengertian Menyimak
Salah satu pengertian menyimak yang dikutip dalam penelitian ini adalah pengertian menyimak menurut Henry Guntur Tarigan sebagai berikut:
“Keterampilan menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (Tarigan, 2008:31)”.
Anderson dalam Tarigan (2008:30) mengungkapkan bahwa menyimak sebagai proses besar mendengarkan, mengenal, serta mengintepretasikan lambang-lambang lisan. Menurut Hermawan (2012:29), menyimak adalah suatu keahlian komunikasi verbal yang sulit dan unik dibandingkan dengan komunikasi verbal lainnya seperti berbicara, menulis dan membaca.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah suatu keahlian mendengarkan lambang-lambang bunyi yang dilakukan dengan sengaja dengan penuh perhatian disertai pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi dan merespon makna yang terkandung di dalamnya.
b. Tujuan Menyimak
Logan dalam Tarigan (2008:60-61) mengemukakan tujuan menyimak adalah sebagai berikut.
1) Menyimak untuk belajar, yaitu kegiatan untuk memperoleh pengetahuan dari bahan yang disampaikan si pembicara.
2) Menyimak untuk memperoleh keindahan audial, yaitu kegiatan untuk menikmati sesuatu yang disampaikan si pembicara terutama dalam bidang seni.
3) Menyimak untuk mengevaluasi, yaitu kegiatan yang bertujuan untuk menilai sesuatu yang disimaknya (baik-buruk, indah-jelek, tepat-ngawur, logis-tak logis).
4) Menyimak untuk mengapresiasi materi simakan, yaitu kegiatan untuk menikmati seta menghargai sesuatu yang disimaknya (pembacaan cerita, pembacaan puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi dan perdebatan).
5) Menyimak untuk mengkomunikasikan ide-ide, yaitu kegiatan untuk mengomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, ataupun perasaan-perasaan kepada orang lain dengan lancar dan tepat. 6) Menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi, yaitu kegiatan yang
bertujuan untuk membedakan bunyi-bunyi dengan tepat. Sehingga penyimak mampu membedakan bunyi yang membedakan arti (distingtif) dan bunyi yang tidak membedakan arti.
7) Menyimak untuk memecahkan masalah secara kreatif dan analitis, melalui kegiatan ini penyimak akan memperoleh masukan berharga.
8) Menyimak untuk meyakinkan diri, yaitu kegiatan yang bertujuan untuk meyakinkan diri terhadap suatu masalah atau pendapat yang selama ini diragukan.
Tujuan utama menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide, serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan. Selain itu, menyimak juga memiliki tujuan lain yaitu untuk memperoleh data, menganalisis data, mengevaluasi fakta, mendapatkan inspirasi, dan mendapatkan hiburan atau menghibur diri (Widayanti, 2010:10).
c. Jenis-jenis menyimak
Menurut Tarigan (2008:37-59), keterampilan menyimak dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu menyimak ekstensif dan menyimak intensif. Menyimak ekstensif terdiri dari menyimak sosial, menyimak sekunder, menyimak estetik dan menyimak pasif sedangkan menyimak intensif terdiri dari menyimak kritis, menyimak konsentratif, menyimak kreatif, menyimak eksploratif, menyimak interogatif, menyimak selektif
1) Menyimak ekstensif
Menyimak ekstensif merupakan kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang umum. Guru tidak secara langsung memberi bimbingan kepada siswa, tetapi siswa diberi kebebasan untuk mencerna dan memahami hal yang disimak. Tujuan dari kegiatan menyimak ekstensif adalah mengingat kembali bahan yang telah telah diketahui dalam suatu lingkungan baru dan dengan cara yang baru, serta memberi kesempatan dan kebebasan bagi para siswa untuk mendengar dan menyimak butir-butir kosakata dan struktur bahasa yang masih baru . Sumber belajar yang paling baik dalam kegiatan menyimak ekstensif adalah rekaman-rekaman yang dibuat guru karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan yang dikehendaki.
2) Menyimak sosial
Menyimak sosial merupakan kegiatan menyimak yang meliputi dua hal, yaitu menyimak secara sopan-santun dan penuh perhatian terhadap percakapan dalam situasi-situasi sosial dan memahami peran pembicara dan penyimak dalam kegiatan komunikasi tersebut.
3) Menyimak sekunder
Menyimak sekunder adalah sejenis kegiatan menyimak secara kebetulan saja.
4) Menyimak estetik
Menyimak estetik merupakan fase terahkir dalam dalam kegiatan menyimak secara kebetulan dan termasuk dalam kegiatan ekstensif.
5) Menyimak pasif
Menyimak pasif merupakan jenis menyimak yang menyerap suatu ujaran tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya-upaya kita pada saat belajar teliti, belajar tergesa-gesa, menghafal luar kepala, dan berlatih serta menguasai suatu bahasa. 6) Menyimak intensif
Menyimak intensif merupakan kegiatan menyimak secara lebih bebas dan lebih umum serta perlu di bawah bimbingan langsung oleh guru. Terdapat dua pembagian penting dalam menyimak intensif, yaitu menyimak intensif yang diarahkan pada
butir-butir bahasa sebagai bagian dari pengajaran dan menyimak intensif yang diarahkan pada pemahaman serta pengertian umum. 7) Menyimak kritis
Menyimak kritis merupakan jenis kegiatan menyimak yang berupa pencarian kesalahan atau kekeliruan dari suatu ujaran. 8) Menyimak konsentratif
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam menyimak konsentratif ini, yaitu mengikuti petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam pembicaraan, mencari dan merasakan hubungan-hubungan seperti kelas, tempat, kualitas, waktu, urutan, serta sebab-akibat, memperoleh butir-butir informasi tertentu, memperoleh pemahaman yang mendalam, merasakan serta menghayati ide-ide pembicara, sasaran, atau perorganisasiannya, memahami urutan ide-ide pembicara, serta mencari fakta-fakta penting.
9) Menyimak kreatif
Menyimak kreatif merupakan kegiatan menyimak yang mengakibatkan kesenangan rekonstruksi imaginatif penyimak terhadap bunyi, penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarankan oleh sesuatu yang disimak. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam menyimak kreatif, yaitu 1) menghubungkan makna-makna, 2) membangun imajinasi visual, 3) mengadaptasi imajinasi untuk menciptakan karya baru, serta 4)
penyelesaian masalah dan menguji hasil pemecahan masalah tersebut.
10) Menyimak eksploratif
Menyimak eksploratif adalah jenis menyimak intensif dengan maksud dan tujuan yang agak lebih sempit. Tujuan kegiatan ini untuk menemukan hal-hal baru yang menarik dan memperoleh informasi tambahan mengenai suatu topik.
11) Menyimak interogatif
Menyimak interogatif adalah kegiatan menyimak yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi karena penyimak akan mengajukan banyak pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bertujuan penyimak memperoleh informasi atau pengetahuan dari pokok pembicaraan.
12) Menyimak selektif
Menyimak selektif mempunyai struktur ketatabahasaan yang diserap dalam proses ini cenderung membuat kebiasaan-kebiasaan dalam otak.
Penelitian ini menggunakan jenia menyimak ekstensif. Kegiatan menyimak dilakukan untuk mengingat kembali bahan yang telah dipelajari serta memberi kesempatan bagi para siswa untuk menyimak butir-butir kosakata dan struktur bahasa yang masih baru dalam sebuah cerita.
d. Kemampuan Menyimak Siswa Sekolah Dasar
Tarigan mengutip dari buku “Tulare Country Cooperative Language Arts Guide” mengenai keterampilan menyimak (2008:64)
sebagai berikut.
1) Taman Kanak-kanak (4 2
1 -6 tahun)
Kegiatan menyimak dilakukan bersama teman-teman sebaya dalam kelompok-kelompok bermain. Anak mengembangkan waktu perhatian yang sangat panjang terhadap cerita atau dongeng, serta dapat mengingat petunjuk-petunjuk, serta pesan-pesan yang sederhana.
2) Kelas Satu (5 2
1 -7 tahun)
Kegiatan menyimak dilakukan untuk menjelaskan atau menjernihkan pikiran dan mendapatkan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Siswa dapat mengulangi secara tepat sesuatu yang telah didengarkan, serta menyimak bunyi-bunyi tertentu pada kata-kata dan lingkungan.
3) Kelas Dua (6 2
1 -8 tahun)
Siswa memiliki kemampuan menyimak yang meningkat. Siswa mampu membuat saran-saran atau usul-usul dan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan untuk mengecek pengertiannya, dan sadar akan situasi, kapan sebaiknya menyimak, kapan pula sebaiknya tidak usah menyimak.
4) Kelas Tiga dan Empat (7 2
1 -10 tahun)
Kegiatan menyimak dapat dilakukan berdasarkan laporan orang lain, pita rekaman laporan mereka sendiri, dan siaran-siaran radio dengan maksud tertentu serta dapat ,menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersangkutan dengan hal itu. Siswa sungguh-sungguh sadar akan nilai menyimak sebagai sumber informasi dan sumber kesenangan, juga memperlihatkan keangkuhan dengan kata-kata atau ekspresi yang tidak mereka pahami maknanya. 5) Kelas Lima dan Enam (9
2
1 -12 tahun)
Siswa dapat menyimak secara kritis terhadap kekeliruan-kekeliruan, kesalahan-kesalahan, propaganda-propaganda, dan petunjuk-petunjuk yang keliru, serta mampu menyimak pada aneka ragam cerita puisi, rima kata-kata, dan memperoleh kesenangan dalam menemui tipe-tipe baru.
Makmun (2009:99-100), mengemukakan tentang indikator perkembangan bahasa meliputi jumlah perbendaharaan kata, jenis, struktur dan bentuk kalimat, isi yang dikandungnya dan bentuk gerakan-gerakan tertentu yang bersifat ekspresif.
6) Pada masa bulan pertama dari masa bayi
Individu berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungannya secara spontan instinkif secara positif (menerima, meraih, atau mendapatkan benda-benda), gerakan negatif
(menolak benda yang dingin), bahasa mimik dan bahasa emosional ekspresif.
7) Pada masa enam bulan kedua dari masa bayi
Bahasa sensorimotorik berangsur berkurang, sedangkan bahasa merabanya semakin terarah dan berbentuk dengan dapat
meniru kata-kata tertentu yang diucapkan orang di sekitarnya. 8) Pada masa kanak-kanak
Individu sudah dapat mengenal dan menguasai sejumlah perbendaharaan kata.
9) Pada masa anak sekolah
Individu semakin menguasai keterampilan membaca dan berkomunikasi dengan orang lain. Pada umur 6-8 tahun seorang anak akan senang hati pada saat membaca dan mendengar dongeng fantasi, usia 10-12 tahun gemar cerita yang bersifat kritis (tentang perjalanan dan riwayat para pahlawan).
10) Pada masa remaja awal
Individu senang menggunakan bahasa sandi, atau bahasa rahasia yang berlaku pada kelompoknya. Perhatiannya pada bahasa asing mulai berkembang.
Berdasarkan tahapan perkembangan anak dan siswa Sekolah Dasar, peneliti ingin membimbing siswa kelas VB dalam kegiatan menyimak cerita. Alasannya sesuai dengan tahap
perkembangan anak sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan suasana belajar menjadi menyenangkan bagi siswa.
3. Cerita Rakyat
Brudfand dalam Danandjaya (2002) mengungkapkan bahwa cerita rakyat adalah sebagian dari kebudayaan suatu masyarakat yang tersebar turun-temurun secara kolektif dan tradisional dalam versi yang berbeda baik bentuk lisan maupun contoh yang disertai gerak isyarat atau alat pembantu.
a. Unsur-unsur pembangun cerita rakyat:
Cerita rakyat terdiri dari unsur-unsur pembangun, antara lain. a) Tokoh/Penokohan
Tokoh adalah pelaku berbagai peristiwa dalam sebuah cerita (Nurgiantoro, 2005:222). Aminudin (dalam Siswanto, 2008:142) menyatakan tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu mampu cerita sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh disebut penokohan. Penokohan atau perwatakan ialah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiadatnya, dan sebagainya (Suharianto, 2005:20).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah pelaku yang menjadi bagian penting dalam cerita. Tokoh bukan
hanya berfungsi untuk memainkan cerita, melainkan berperan untuk menyampaikan ide, alur atau tema.
b) Tema
Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya (Suharianto, 2005:17). Tema merupakan kaitan hubungan antara makna dengan tujuan pemaparan cerita rekaan oleh pengarangnya (Aminudin dalam Siswanto, 2008:16).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tema adalh gagasan pokok yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya ataupun permasalahan yang mendominasi suatu karya sastra.
c) Latar
Latar menunjukkan pada tempat kejadian, waktu dan keadaan sosial budaya dari suatu kejadian. Secara sederhana Suharianto (2005:22), mengatakan latar disebut juga setting yaitu atau waktu terjadinya cerita. Abrams (dalam Siswanto, 2008:149), mengemukakan latar cerita adalah tempat umum (general locale), waktu kesejarahan (historical time) dan kebiasaan masyarakat (social circumtances) dalam setiap episode atau bagian –bagian tempat.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa latar adalah tempat, waktu, suasana dalam cerita karya sastra. Penelitian ini karya sastra yang dimaksud adalah cerita rakyat. d) Amanat
Amanat adalah gagasan yang mendasari suatu pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pendengar atau pembaca (Siswanto, 2008:162).
b. Media
1. Pengertian Media
Kata “media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk
jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar‟. Menurut Kustandi (2011:9), media adalah alat yang dapat
membantu proses belajar mengajar dan berfungsi untuk memperjelas makna pesan yang disampaikan, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih baik dan sempurna.
Media adalah setiap orang, bahan, alat atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pembelajaran untuk menerima pengetahuan, keterampilan, dan sikap (Anita dalam Sufanti, 2010:62).
Pengertian media juga sama dengan yang diungkapkan oleh Gagne (dalam Sadiman, 2009:6) yang menyatakan bahwa media adalah berbagai komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sehingga pengertian media dalam proses belajar mengajar dapat diartikan sebagai alat-alat grsfis, photografis, atau elektronis untuk
menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual dan verbal.
Asosiasi Pendidikan Nasional (National Aeducation Association/ NEA) mengungkapkan pengertian yang berbeda. Media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya (Sadiman, 2009:7).
2. Pengertian Media Audio Visual
Pada awalnya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids). Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Namun, sayang, karena terlalu memusatkan perhatian pada alat bantu visual yang dipakainya orang kurang memperhatikan aspek disain, pengembangan pembelajaran (instruction) produksi dan evaluasi. Dengan masuknya pengaruh tehnologi audio pada sekitar pertengahan abad ke-20, alat visual untuk mengkonkretkan ajaran ini dilengkapi dengan alat audio sehingga kita kenal adanya alat audio visual atau audio visual aids (AVA) (Sadiman, 2009:7).
3. Keuntungan Penggunaan Media Audio Visual
Penelitian ini menggunakan media audi visual berupa cerita rakyat. Keuntungan menggunakan media ini adalah:
a. Video dapat diulang bila perlu untuk menambah kejelasan. b. Pesan yang disampaikan cepat dan mudah diingat.
c. Mengembangkan pikiran dan pendapat siswa. d. Mengembangkan imajinasi peserta didik.
e. Menjelaskan hal-hal yang abstrak dan memberikan gambaran yang sangat realistik.
f. Sangat kuat mempengaruhi seseorang.
g. Sangat baik menjelaskan suatu proses dan keterampilan; mampu menunjukkan rangsangan yang sesuai dengan tujuan dan respon yang diharapkan siswa.
h. Semua peserta didik dapat belajar dari video, baik yang pandai maupun yang kurang pandai.
i. Menumbuhkan minat dan motivasi belajar.
Keuntungan lain menggunakan media audio visual adalah melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari siswa, menggambarkan suatu proses secara tepat, meningkatkan motivasi dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Dari beberapa definisi yang telah diuraikan diatas, peneliti membuat suatu kesimpulan bahwa media adalah segala sesuatu yang merangsang siswa untuk belajar dalam hal pengetahuan, keterampilan, sikap baik secara visual maupun audiovisual. Secara lebih sederhana media audio visual dapat diartikan sebagai penyalur pesan berupa suara (dapat didengar) dan gambar (dapat dilihat). Penelitian ini menggunakan media pembelajaran dalam bentuk tampilan video tentang cerita rakyat