• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

2.3 Uraian Teoritis

2.3.6 Media Online (New Media)

Sejarah media baru selalu hadir seiring dengan perkembangan teknologi.

Perkembangan media juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan ekonomi masyarakat. Penemuan mesin cetak oleh Gutenberg melahirkan media cetak pada abad 18. Pada tahun 1920-an munculnya radio melahirkan jurnalisme radio.

Begitu pula kehadiran televisi pada pertengahan abad 20 melahirkan jurnalisme broadcasting. Pada setiap zaman jurnalisme menghadapi tantangannya yang khas.

Tantangan-tantangan itu muncul terutama karena medium penyampai pesan yang

terus berkembang juga memiliki karakternya sendiri yang unik. Yang mempengaruhi publik pertama-tama bukan informasi yang disampaikan, tapi medium penyampai informasi itu sendiri. Ketika McLuhan pertama kali mengenalkan istilah “global village” dan “the medium is the message” pada 1964 dalam bukunya Understanding Media, tak seorangpun yang dapat membayangkan makna frase itu dalam wujudnya sekarang ini. Media online dan Internet merupakan satu hal yang tidak dapat dipisahkan. Internet disini sebagi penunjang dari kinerja dari media online. Kemunculan world wide web (www) juga menjadi salah satu yang paling menarik disini. Web disini menjadi salah satu hal yang mendapatkan perhatian dari pihak tertentu dan masyarakat biasa. Perkembangan media online menjadi salah satu awal dari kembangitan media-media lainnya.

sebuah pergeseran telah terjadi dan dianggap sebagi sebuah awalan baru yang sangat membantu banyak pihak tidak terkecuali masyarakat. Lahirnya media online tidak dapat dihindari dari peristiwa booming media online ynag terjadi di dunia pada pertengahn 1990an.

Internet berasal dari jaringan komputer departemen pertahanan AS yang diciptakan pada tahun 1969 yang disebut ARPAnet, singkatan dari Advanced Research Project Agency Network. Pentagon membangun jaringan untuk bertukar informasi dengan kontraktor militer dan universitas yang melakukan riset militer.

Pada 1983, National Science Foundation, yang diberi tugas mempromosikan sains, mengambil alih proyek ini. Jaringan National Science Foundation ini menariok lebih banyak pengguna, banyak diantaranya yang punya jaringan internet sendiri. Misalnya, kebanyakan universitas yang bergabung dengan jaringan network file system atau disingkat (NSF) punya jaringan komputer intrakampus, jaringan NSF kemudian menjadi konektor untuk ribuan jaringan lainnya. Untuk sistem backbone yang menghubungkan jaringan-jaringan, Internet adalah nama yang tepat (Vivian, 2008: 266).

Perkembangan media online ini terus berkembang dan mulai memasuki ranah-ranah baru. Bermula dari seseoranag sosiolog bernama Ted Nelson dengan formulanya mengenai konsep hypertext pada 1963. Konsep berpikir ini kemudian terus berkembang sampai pada tahun 2000an. Sebuah peristiwa yang pernah

terjadi di Amerika yaitu 11 September 2001 yang menimpa World Trade Center d New York menjadi awal melonjaknya permintaan akan informasi secara lebih cepat. Berbagai macam pihak yang ingin tahu akan kejadian ini menginginkan sebuah informasi. Media online pastinya juga menjadi salah satu yang mendapatkan hal serupa. Pada saat itu media online sangat dibutuhkan perannya untuk menyampaikan sebuah informasi dengan cepat. Dari kebutuhan akan informasi yang banyak ini beberapa media kemudian memberikan informsai secara gratis tanpa dipungut biaya kepada masyarakat (Margianto dan Asep, 2012).

Pada tahun 2000 media mainstream memang sudah mulai terlibat dengan khalayak mereka. Pada 2003 merupakan awal kemunculan dari jurnalisme warga.

Sebuah kemudahan dalam hal akses telah didapatkan masyarakat. Tahun 2005 pihak media juga telah menggunakan video untuk membangun sebuah interksi dengan khalayaknya. Dari tahun 2007-2008 perkembangan terus terjadi sampai pada tahap penggunaan konten yang dapat menarik perhatian publik. kepentingan finasial sebuah lembaga kemudian menjadi hal yang sangat diperhitungkan disini.

Perkembangan yang terjadi di dunia ini kemudian sampai pada negra kita, Indonesia (Margianto dan Asep, 2012).

Melalui perspektif studi media atau komunikasi massa, media online menjadi objek kajian teori media baru (new media), yaitu yang mengacu pada permintaan akses ke konten (isi atau informasi) kapan saja, dimana saja, pada setiap perangkat digital serta umpan balik pengguna interaktif, partisipasi kreatif, dan pembentukan komunitas sekitar konten media, juga aspek generasi real time.

Secara teknis, media online adalah media berbasis telekomunikasi dan multimedia (komputer dan internet). Portal, website, radio online, TV online, dan email merupakan kategori media online (Romli: 2012: 34).

Dari segi konten atau sajian informasi yang disajikan media online secara umum sama dengan media cetak seperti koran atau majalah, yakni terdiri dari berita, artikel opini, feature, foto, dan iklan yang dikelompokkan kategori tertentu.

Isi media online umumnya dibagi dua bagian, yaitu halaman dan kategori.

Halaman biasanya berisi informasi statis sedangkan kategori berisi pengelompokan jenis tulisan dari sisi topik atau tema (Romli: 2012: 35).

2.3.6.1 Perkembangan Media Online di Indonesia

Perkembangan Media Online yang terjadi di Dunia benar-benar memberikan dampak yang besar pada beberapa negara dibelahan dunia lainnya.

Pergeseran mulai muncul dalam hal mengkonsumsi sebuah konten. Indonesia menjadi salah satu negara yang kemudian ikut merasakan perkembangan media online ini. banyak sekali perubahan yang terjadi saat itu. Pada tahun 1990an internet muncul dikarenakan proyek hobi dari beberapa pihak yang tertarik dengan jaringan komputer (www.kompasiana.com).

Pada tahun 1994 wabah penggunaan internet semakin marak dikarenakan adanya sebuah jasa komersil pertama yaitu Indonet. Catatan tentang media pertama di Internet adalah Repulika.com. catatn yang ada mengacu pada institusi ini yang tayang perdana 17 Agustus 1994. Pada tahun 1996 Tempo bisa dibilang menglami masa-masa sulit mereka karena majalah mereka yang direbel rezim orde baru pada 1994 mendirikan Tempo interaktif. Bermuncul media baru seperti Waspada Online dari Sumatera Utara (www.waspada.com) dan kemudian diikut juga oleh Kompas dengan membuat Kompas Online (www.kompas.com) pada 22 Agustus 1997. Media online yang bermunculan ini sendiri pda dasarnya memiliki isi yang sama dengan media cetak (Margianto dan Asep, 2012: 16).

Di negara kita juga pada awalnya hanya melakukan sebuah kegiatan memindahkan berita dari media cetak dalam media online. Pada dasarnya isi berita yang ada dimedia cetak dan online memiliki persamaan. Perbedaan yang ada antara keduanya hanya pada sebat medianya saja. Tetapi, pada tahun 1998 Detik.com melakukan sebuah perbedaan dalam hal isi dari berita cetak dan online.

Detik.com tidak memiliki versi cetak dari beritannya, tetapi dalam perkembangannya mereka pernah membuatnya. Detik sendiri merupakan media online yang otonom. Awal mula munculnya pemikiran dari Budiono, pemikiran seperti ini sendiri dikarenakan adanya hasrat untuk memberikan sebuah informasi secepat mungkin tanpa menunggu harus dicetak besoknya. Pada tahun 2000-2003

muncul yang namanya booming dotcom yang mana Indonesia tidak dapat terhindar dari dampak ini. Situs-situs lokal mulai bermunculan seakan berlomba-lomba untuk menarik perhatian masyarakat. Kebanyakan yang terjun dalam hal ini adalah para pemodal. Euforia ini ternyata tidak berjalan dengan lancar.

Keuntungan yang didapatkan oleh pemodal dirasa tidak baik. Beberapa media juga memilih untuk tetap mempertahankan usahanya. Tahun 2003 kemudian menyisakan beberapa cerita. Keuntungan beberapa media benar-benar berkurang.

Kemunculan Okezone menjadi sebuah penanda bangkitnya media online di Indonesia. Setelah tahun 2003 situs-situs berita muncul dengan lebih berwarna dan atraktif. Seiring dengan perembangan jaman, teknologi internet terus berkembang, dana situs-situs berita membuka ruang interaksi bagi pembacanya (Margianto dan Asep, 2012).

Banyak media massa yang kita kenal sekarang sedang mengalami konvergensi ke format digital. Konglomerat dan joint ventures ikut mempercepat proses peleburan teknologi ini. Deregulasi pemerintah juga ikut berperan dalam membebaskan lingkungan bisnis yang mendorong munculnya usaha-usaha baru.

Tak ada yang percaya bahwa koran cetak akan lenyap dalam semalam, atau film bioskop akan punah dalam seminggu, atau rental video dan siaran TV akan bangkrut secara sekaligus berbarengan. Semua perusahaan media besar itu sudah masuk ke internet, dan pada saatnya nanti, pesan digital melalui internet akan mendominasi (Vivian, 2008: 278).

Bagan 2.6 Perkembangan Media Online di Indonesia

2.3.6.2 Jurnalis Online

Menulis suatu berita yang kemudian disebarkan ke khalayak bukan suatu hal yang mudah. Setiap berita yang telah dibuat harus dapat dipertanggungjawabkan dalam bentuk keakuratan isi beritanya. Akurasi berita dapat diartikan sebagai ketepatan dalam menulis sebuah berita agar berita yang diterima oleh khalayak tidak menumbulkan penafsiran yang beragam dan mengandung faktualitas. Keakuratan ini dapat berupa kebenaran tentang subjek, waktu, tempat dan alur kejadian serta opini yang benar-benar diutarakan dan nilai-nilai berita yang tidak dilebih-lebihkan (Kriyantono, 2013: 244).

Paul Bradshaw (Dalam Romli, 2012: 13) melalui tulisannya di “Basic Principle of Online Journalism menyebut, ada 5 prinsip dasar jurnalistik online, yaitu :

1. Keringkasan Berita

Berita online dituntut untuk bersifat ringkas, untuk menyesuaikan kehidupan manusia dan tingkat kesibukannya yang makin tinggi. Pembaca memiliki sedikit waktu untuk membaca dan ingin segera tahu informasi.

Hal ini juga sesuai dengan salah satu kaidah bahasa jurnalistik KISS, yakni Keep It Short and Simple. Contohnya, berita yang ada di media online

tidak terlalu panjang tidak melebihi 100 kata namun isinya telah mencakup keseluruhan isi berita.

2. Kemampuan Beradaptasi (Adaptability)

Wartawan Online dituntut agar mampu menyesuaikan diri di tengah kebutuhan dan preferensi publik. Kemajuan teknologi membuat jurnalis dapat menyajikan berita yang beragam, seperti dengan penyediaan format suara (audio), Video atau gambar dalam suatu berita. Contohnya, di setiap berita online saat ini selain isi teks berita para jurnalis akan melampirkan beberapa gambar atau video yang mendukung isi berita tersebut.

3. Dapat Dipindai (Scannability)

Pembaca media online tidaklah seperti pembaca pada media cetak yang dapat berlama-lama membaca tanpa membuat mata lebih cepat lelah.

Contohnya: berita atau artikel pada media detik.com tentang Anas Urbaningrum yang langsung singkat padat jelas, sehingga dengan membaca sekilas saja viewers dapat mengartikan apa informasi yang disampaikan.

4. Interaktivitas (Interactivity)

Komunikasi dari publik kepada jurnalis dalam jurnalistik dalam jurnalisme online sangat dimungkinkan dengan adanya akses yang semakin luas.

Pembaca atau Viewers dibiarkan untuk menjadi pengguna (user). Semakin audiens merasa dirinya dilibatkan, maka mereka akan semakin dihargai dan senang membaca berita yang ada. Contoh: pada situs berita kapanlagi.com terdapat dasilitas untuk pembaca mengomentari berita dan juga dapat menyebarluaskan berita dengan fasilitas share Facebook, Twitter, dan G+ (Google Plus) agar teman atau kerabatnya dapat juga melihat berita tersebut.

5. Komunitas dan Percakapan (Community and Conversation)

Media online memiliki peran yang lebih besar daripada media cetak atau media konvensional lainnya, yakni sebagai penjaring komunitas. Jurnalis online juga harus memberi jawaban atau timbal balik kepada publik sebagai sebhuah balasan atas interaksi yang dilakukan publik tadi. Contoh:

Situs forum kaskus yang tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk berbagi informasi, berita terbaru dengan sesama kaskuser (Member Kaskus).