EDY RAHMAYADI DAN MUSA RAJECKSHAH DALAM WASPADA ONLINE
(Analisis Framing Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara dalam Media Waspada Online)
SKRIPSI
AHMAD RAFIQI LUBIS 140904145
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
LEMBAR PERSETUJUAN
Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:
Nama : Ahmad Rafiqi Lubis NIM : 140904145
Judul : Edy Rahmayadi Dan Musa Rajekshah dalam Waspada Online (Analisis Framing Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera
Utara dalam Media Waspada Online)
Dosen Pembimbing, Ketua Prodi,
Drs. Hendra Harahap, M.Si., Ph. D Dra. Dewi Kurniawati,M.Si, Ph.D NIP. 196710021994031002 NIP. 196505241989032001
Dekan
Dr. Muryanto Amin, S.Sos,M.Si.
NIP. 197409302005011002
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun yang dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Nama : Ahmad Rafiqi Lubis
NIM : 140904145
Departemen : Ilmu Komunikasi Tanda Tangan :
Tanggal : 25 September 2018
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini diajukan oleh:
Nama : Ahmad Rafiqi Lubis
NIM : 140904145
Program Studi : Ilmu Komunikasi
Judul Skripsi : Edy Rahmayadi Dan Musa Rajekshah dalam Waspada Online (Analisis Framing Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara dalam Media Waspada Online)
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Majelis Penguji
Ketua Penguji : (...)
Penguji : (...)
Penguji Utama : (...)
Ditetapkan di : Medan
Tanggal :
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai civitas akademika Universitas Sumatera Utara, saya yang bertandatangan di bawah ini:
Nama : Ahmad Rafiqi Lubis
NIM : 140904145
Departemen : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Universitas Sumatera Utara Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non Exclusive Royalti-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Edy Rahmayadi Dan Musa Rajekshah dalam Waspada Online (Analisis Framing Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara dalam
Media Waspada Online)
Dengan Hak Bebas Royalti Non Ekslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Medan
Pada Tanggal : 25 September 2018 Yang menyatakan,
(Ahmad Rafiqi Lubis)
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Edy Rahmayadi dan Musa Racjeckshah dalam Waspada Online (Analisis Framing Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara dalam Media Waspada Online). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Waspada Online memaknai, memahami dan mengkontruksi citra Edy Rahmayadi dan atau Musa Rajeckshah sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara. Pendekatan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivisme, konstruksi sosial media massa, komunikasi massa, hierarki pengaruh isi media, dan media online.
Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kualitatif menggunakan analisis framing sebagai pisau analisis. Data penelitian diperoleh melalui studi kepustakaan dan studi dokumen. Proses penelitian ini menggunakan referensi data dari portal berita di-internet, subjek penelitian merupakan artikel berita Waspada Online yang memuat mengenai Edy Rahmayadi dan atau Musa Rajeckshah ataupun artikel-artikel lainnya. Analisis teks citra Edy Rahmayadi dan atau Musa Rajeckshah sebagai pasangan calon terkait pemilihan umum Gubernur Sumatera Utara tahun 2018 dilakukan dengan analisis framing yang merujuk pada konsep framing Robert N. Entman. Dalam konsep ini, terdapat empat tahapan analisis framing yaitu: Define Problems, Diagnose Causes, Make Moral Judgement, dan Treatment Reccomendation. Terdapat tujuh berita yang akan dianalisis, dari rentang tanggal 17 Februari 2018 sampai 25 Februari 2018. Dari penelitian ini, Waspada Online menonjolkan isu bagaimana kegiatan keseharian Edy Rahmayadi dan atau Musa rajeckshah serta menggambarkan pribadi Edy Rahmayadi sebagai pribadi yang santun, rendah hati, berwibawa, disiplin, dan merakyat guna meyakinkan para pemilih saat Pemilu serentak di Sumatera Utara tahun 2018.
Kata Kunci: Eramas, Analisis Framing, Waspada Online
ABSTRACT
This research is entitled Edy Rahmayadi and Musa Racjeckshah in Waspada Online (Framing Analysis of Candidates for North Sumatra Governor and Deputy Governor in Waspada Online Media). This study aims to find out how Waspada Online interpret, understand and construct the image of Edy Rahmayadi and or Musa Rajeckshah as Candidates for the Governor and Deputy Governor of North Sumatra. The approach used in this research is constructivism paradigm, construction of social mass media, mass communication, advanced media hierarchy, and online media. This study uses qualitative analysis methods that use framing analysis as an analysis. Research data uses literature and document study. This research process uses reference data from internet news portals, the subject of the research is Waspada Online news article which includes Edy Rahmayadi and or Musa Rajeckshah or other articles. Text analysis of the images of Edy Rahmayadi and or Musa Rajeckshah as people participating in the North Sumatra Governor General Election in 2018 was carried out by inverse framing analysis on the concept of framing Robert N. Entman. In this concept, there are four more framing analyzes, namely: Define the Problem, Diagnose the Causes, Make Moral Judgments, and Treatment Recommendations. There are seven news that will be analyzed, starting from February 17 2018 to February 25, 2018.
From this research, Waspada Online discusses the issue of how the daily activities of Edy Rahmayadi and or Musa rajeckshah and also Edy Rahmayadi as a person who is polite, humble, authoritative, discipline, and populist for voters during the simultaneous Election in North Sumatra in 2018.
Keywords: Eramas, Framing Analysis, Waspada Online
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamin, dengan segala puji dan syukur yang tidak hentinya saya lantunkan kepada Allah subhanahuwata’ala atas segala curahan rahmat dan ridha-Nya yang tidak dapat saya hitung sehingga saya dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan baik. Shalawat dan salam saya ucapkan kepada baginda Rasulullah Muhammadsallallahu’alaihiwassalam yang telah menuntun ummatnya ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti yang dapat kita rasakan saat ini.
Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. peneliti menyadari banyaknya dukungan doa dan bantuan secara moril dan materil dari berbagai pihak, khususnya untuk kedua orangtua terkasih, Ayahanda Zulkifli Lubis dan Ibunda Sri Nurhayati atas cinta kasih, doa, nasihat, didikan, perhatian dan semangat yang terus diberikan sehingga peneliti termotivasi untuk menyelesaikan skripsi ini.
Peneliti juga mengucapkan terimakasih atas setiap dukungan dan semangat yang telah diberikan oleh adik-adik terkasih, Adlil Wafi Lubis dan Rahma Maulida Lubis, skripsi ini peneliti persembahkan untuk kalian.
Dalam kesempatan kali ini peneliti juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos,M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, beserta seluruh jajarannya.
2. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si, Ph.D, selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Emilia Ramadhani, S.Sos, M.A, selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Drs. Hendra Harahap, M.Si., Ph.D selaku dosen pembimbing yang telah memberikan masukan dan nasihat kepada saya serta bimbingan sehingga skripsi ini dapat saya selesaikan dengan baik.
5. Seluruh dosen dan staf pengajar yang telah mendidik dan membimbing saya mulai dari awal semester hingga saya menyelesaikan perkuliahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
6. Seluruh karyawan Tata Usaha Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara dalam membantu penulis mengurus administrasi selama perkuliahan hingga sidang.
7. Kepada teman terdekat Rini Ulul Azizhah atas doa, dukungan, tenaga, dan pengorbanan yang telah dilakukan untuk penulis selama ini.
8. Untuk para sahabat-sahabat saya yang tergabung dalam grup Gambut BrotherhoodFarhan Azizi, Yoel Imanuella Sirait, Muhamad Reza Hanafi Lubis, Dodi Yogasworo, Venesis Hasibuan, Budi Rahman Lubis, Ahmad Rizkon Amri, Tirto Pardede atas setiap dorongan dan semangat yang diberikan kepada saya dalam penyelesaian skripsi ini.
9. Arena of Valor, DotA 2, dan Playerunknown’s Battleground. Sumber hiburan dan derita yang diterima peneliti selama menyelesaikan skripsi.
10. Kepada seluruh teman-teman seperjuangan angkatan 2014 di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, terima kasih untuk semua jenis dukungan dan bantuan yang telah diberikan dalam membagi ilmu dan informasi.
11. Serta kepada seluruh pihak-pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang telah mendukung saya dalam menyelesaikan skripsi ini.
Saya juga menyadari bahwa skripsi ini tidak lepas dari kekurangan dan ketidaksempurnaan. Oleh karena itu, saya dengan segala kerendahan hati mengharapkan segala masukan, saran dan kritik yang membangun dari semua pihak guna menyempurnakan skripsi ini serta menambah pengetahuan dan pengalaman saya. Akhirnya, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan sumbangan pemikiran bagi para pembaca untuk ke depannya.
Medan, 26 September 2018 Peneliti
Ahmad Rafiqi Lubis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PERSETUJUAN LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
ABSTRAK i
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL DAN BAGAN viii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Fokus Masalah 6
1.3 Tujuan Penelitian 6
1.4 Manfaat penelitian 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Paradigma Kajian 8
2.1.1 Paradigma Konstruktivisme 9
2.2 Penelitian Terdahulu 14
2.3 Uraian Teoritis 15
2.3.1 Konstruksi Sosial Media Massa 15
2.3.2 Analisis Framing 19
2.3.2.1 Konsep Framing Entman 24
2.3.3 Komunikasi 26
2.3.4 Komunikasi Massa 27
2.3.5 Hierarki Pengaruh Isi Media 30
2.3.5.1 Gatekeeper 31
2.3.6 Media Online (New Media) 34
2.3.6.1 Perkembangan Media Online di Indonesia 37
2.3.6.2 Jurnalis Online 39
2.4 Kerangka Analisis 41 BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian 42
3.2 Subjek Penelitian 47
3.3 Objek Penelitian 49
3.4 Kerangka Analisis 49
3.5 Teknik Pengumpulan Data 49
3.6 Teknik Analisis Data 50
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Proses Penelitian 51
4.2 Temuan Awal 53
4.2.1 Analisis Framing berita 1 54
4.2.2 Analisis Framing berita 2 60
4.2.3 Analisis Framing berita 3 63
4.2.4 Analisis Framing berita 4 67
4.2.5 Analisis Framing berita 5 71
4.2.6 Analisis Framing berita 6 74
4.2.7 Analisis Framing berita 7 78
4.3 Pembahasan 82
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan 87
5.2 Saran 87
DAFTAR REFERENSI LAMPIRAN
DAFTAR TABEL DAN BAGAN
NO. JUDUL HALAMAN
2.1 Paradigma Konstruksionis 12
2.2 Definisi Framing Menurut Beberapa Tokoh 22
2.3 Skema Framing 23
2.4 Konsep framing Entman 24
2.5 Model Analisis Entman 24
2.6 Perkembangan Media Online di Indonesia 39
2.7 Kerangka Analisis 41
3.1 Proses Analisis Data Kualitatif 46
3.2 Analisis Framing Model Robert N. Entman 51 4.1 Analisis Framing model Robert N. Entman 52
4.2 Temuan Awal Berita 53
4.3 ERAMAS siap kampanye tanpa hoax, sara, 59 dan politik uang
4.4 Deklarasi Kampanye Damai Pilgubsu 2018, 63 ERAMAS Datang Pertama
4.5 Relawan: Mereka Salah Menilai Edy Rahmayadi 67 4.6 Usai Jualan Cendol, Edy Rahmayadi Naik Angkot 70
ke Masjid
4.7 Pria Berdarah Batak Ini Curi Perhatian Edy Rahmayadi 73 4.8 Diskusi Sambil Ngopi Bareng Edy Rahmayadi di Ulee 77
Kareng
4.9 ERAMAS Peduli Korban Kebakaran Simpang Gambir 81 Madina
4.10 Framing ERAMAS dalam Media Waspada Online 85
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak dahulu, peneliti-peneliti komunikasi massa telah menyadari betapa kuatnya peran media komunikasi dalam membentuk pemikiran masyarakat. Media komunikasi memiliki keperkasaan dalam mempengaruhi masyarakat, tersitimewa pengaruh yang ditimbulkan oleh media massa (Effendy, 2003: 407)
Politik, seperti komunikasi, adalah proses; melibatkan pembicaraan. bukan pembicaraan dalam arti sempit seperti kata yang diucapkan, melainkan pembicaraan dalam makna inklusif, yang berarti segala cara orang bertukar simbol – kata-kata yang dituliskan dan diucapkan, gambar, gerakan, sikap tubuh, perangai, dan pakaian (Nimmo, 1989: 8). Komunikasi politik di media massa erat kaitannya dengan opini publik. Opini publik yaitu upaya membangunkan sikap dan tindakan khalayak mengenai suatu masalah politik atau aktor politik (Nimmo, 1989: 5). Dalam komunikasi politik, media masa menjadi penggerak utama dalam usaha mempengaruhi individu terhadap terpaan berita yang diterimanya (Nimmo, 1993: 198-200). Media massa menjadi saluran yang sering digunakan dalam menyampaikan informasi politik. Media massa dilihat sebagai alat yang mampu menjustifikasi terhadap realitas sosial yang terjadi di masyarakat
Pemilihan umum Gubernur Sumatera Utara diadakan pada tanggal 27 Juni 2018, di Sumatera Utara pada pemilu tahun ini memiliki dua calon Gubernur salah satunya yaitu Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah. Pasangan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah (Ijeck) mendeklarasikan diri sebagai bakal calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara pada hari Minggu tanggal 7 Januari 2018.
Sehari setelah deklarasi, pasangan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum Daerah pada hari Senin tanggal 8 januari 2018 didampingi pimpinan tiga parpol pendukung dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara (www.cnnindonesia.com). Deklarasi digelar di Lapangan
Merdeka Medan. Acara deklarasi dihadiri Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, dan Presiden PKS Sohibul Imam (www.nasional.harianterbit.com).
Pasangan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah mengikuti pemilihan Gubernur Sumatera Utara setelah mendapatkan dukungan dari Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Amanat Nasional (PAN). Gabungan kursi ketiga partai itu di DPRD Sumut adalah 28 di mana Gerindra 13, PKS 9, dan PAN ada 6. Jumlah gabungan kursi itu sudah melebihi syarat administrasi yang ditetapkan guna mencalonkan kandidat dalam Pilkada Serentak 2018 yakni minimal 20 kursi di DPRD provinsi (www.cnnindonesia.com).
Letnan Jenderal TNI (Purn.) Edy Rahmayadi (lahir di Sabang, Aceh, 10 Maret 1961) adalah seorang purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/12/I/2018, tanggal 4 Januari 2018 tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI, ia ditetapkan menjadi Pati Mabes TNI AD (dalam rangka pensiun dini). Sebelumnya ia menjabat Pangkostrad menggantikan Jenderal TNI Mulyono yang telah menjadi KSAD. Edy Rahmayadi, merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1985 berpengalaman dalam bidang infanteri. Jabatan sebelumnya adalah Panglima Kodam I/Bukit Barisan. Edy Rahmayadi pernah menjabat sebagai Komandan Yonif Linud 100/Prajurit Setia yang bermarkas di Namu Sira-Sira, Langkat, Provinsi Sumatera Utara (www.wikipedia.com).
Wakilnya H. Musa Rajekshah (lahir di Medan, 1 April 1974) merupakan pengusaha kelapa sawit, Komisaris PT. Anugerah Langkat Makmur, juga sebagai pihak ketiga produksi PTPN IV, Ijeck panggilan akrabnya juga dikenal memiliki pengalaman organisasi seperti, Pengurus Provinsi Ikatan Motor Indonesia Sumatera Utara (2 Periode), Ketua Harley Davidson Club Indonesia Sumatera Utara, Pengurus Daerah Persatuan Menembak Indonesia, Musa Rajekshah juga menjabat sebagai Ketua Palang Merah Indonesia Kota Medan Periode 2014–2019 (www.musarajekshah-ijeck.id).
Michael Schudson (dalam Eriyanto, 2002: 29) menjelaskan bahwa berita adalah hasil dari konstruksi sosial yang selalu melibatkan pandangan, ideologi, dan nilai-nilai dari wartawan atau media. Realitas itu dijadikan berita tergantung pada bagaimana fakta itu dipahami dan dimaknai. Berita yang dimuat media massa bukan semata cermin dari realitas sebagaimana dilihat dan didengar oleh wartawan, tapi merupakan konstruktsi wartawan atau media tersebut terhadap realitas. Maka patut diduga, bahwa media akan membingkai suatu realitas berdasarkan pandangan, ideologi, dan nilai-nilai yang dianut oleh wartawan atau media yang bersangkutan.
Media melakukan apa yang disebut dalam komunikasi politik dengan permainan kata dalam pembicaraan politik (the word play of political talk) guna menciptakan citra politik. Elemen-elemen framing dipergunakan yaitu berupa pemakaian pemilihan kata, penyajian fakta baik itu simbol verbal maupun non verbal (Hamad, 2004: 166).
Perkembangan media online menjadi salah satu awal dari kembangitan media. Sebuah pergeseran telah terjadi dan dianggap sebagi sebuah awalan baru yang sangat membantu banyak pihak tidak terkecuali masyarakat. Lahirnya media online tidak dapat dihindari dari peristiwa booming media online yang terjadi di dunia pada pertengahan 1990an. Pada bulan Mei 1992 Chicago online pada koran pertama di Amerika yang diluncurkan oleh salah satu Tribune di Chicago Amerika Serikat. Sampai pada 2001 database AS telah berisikan 12.878 berita online. Dari perkembangan yang terjadi di Amerika ini, banyak sekali negra lainnya yang ikut mengadopsi hal ini (www.kompasiana.com). Media massa tentu memiliki agenda masing masing, dari sekian banyak agenda media ada dua agenda besar media saat ini yaitu agenda ekonomi dan politik. Media mengarah kearah industri tanpa meninggalkan perannya sebagai institusi masyarakat, hal ini menyebabkan aktivitas media saat ini sangat bergantung dengan agenda ekonomi maupun politik serta teknologi yang terus menerus berubah (McQuail, 2011: 244).
Pada tahun 1996 majalah Tempo dibredel rezim orde baru,kemudian pada tahun 1994 mendirikan Tempo interaktif. Bermuncul media baru seperti Waspada Online dari Sumatera Utara (www.waspada.com) dan kemudian diikut juga oleh
Kompas dengan membuat Kompas Online (www.kompas.com) pada 22 Agustus 1997. Media online ynag bermunculan ini sendiri pada dasarnya memiliki isi yang sama dengan media cetak (Margianto dan Asep, 2012: 12).
Media online sebagai media internet menjadi media massa sekaligus sistem pengiriman yang terintegrasi bagi media tradisional, cetak, radio dan video.
Sea dan Hill melihat perkembangan internet di Indonesia tak lepas dari berakhirnya era pemerintahan Soeharto, yang mereka sebut sebagai ‘Indonesia media in the end of an authoritarian order’ situs berita online adalah satu-satunya media yang tidak bias dijangkau oleh otoritarian Soeharto (Romli, 2012).
Mengutip (Severin dan Tankard, 2007: 264) Kurt Lang dan Gladys Engel- Lang penelitian yang meneliti tentang penentuan agenda mengatakan “Media massa memaksakan perhatian pada isu-isu tertentu. Media massa membangun citra publik tentang figur-figur politik. Media secara konstan menghadirkan objek- objek yang menunjukkan apa yang hendaknya dipertimbangkan, diketahui, dan dirasakan individu-individu dalam masyarakat”. Utamanya dari apa yang dikatakan oleh Kurt dan Gladys adalah sebuah framing media, pembentukan agenda terhadap isu isu dan bagaimana figur di konstruksi merupakan wujud sebuah framing. Menurut Eriyanto (2011: 261) framing adalah cara pandang yang digunakan oleh wartawan atau media dalam menyeleksi isu. Untuk mengetahui intensi dari pemilihan frame suatu berita, diciptakan suatu metode khusus yang disebut analisis framing. Pada dasarnya analisis framing adalah metode untuk melihat cara bercerita media atas peristiwa (Eriyanto, 2011:10). Dalam literaturnya (Bungin, 2001: 151) mengatakan framing dapat digunakan untuk melihat bagaimana upaya media menyajikan sebuah event yang mengesankan obyektivitas, keseimbangan, dan non partisan dan mengemasnya sedemikian rupa sehingga khalayak mudah tergiring ke dalam kerangka (framing) pendefinisian realitas tertentu yang dilakukan oleh media melalui pemilihan kata, bahasa, penggunaan simbol dan sistem logika tertentu. Analisis framing adalah instrumen metodologis yang diterapkan untuk mengetahui cara media mengkonstruksi sebuah wacana berita (News discourse) dengan melakukan penonjolan-penonjolan tertentu. Analisis framing selanjutnya dapat dikaitkan dengan kegiatan politik
praktis misalnya, sehingga penelitian ini akan bisa melihat bagaimana kecenderungan sikap politik media terhadap isu-isu yang berkembang melalui pemberitaannya. Berdasarkan uraian tersebut, penulis berasumsi setiap media akan membingkai pemberitaan mengenai Edy Rahmayadi dan Musa Rajeksyah dalam pencalonannya sebagai gubernur Sumatera Utara, sesuai dengan pandangan, ideologi, dan nilai-nilai yang dianut oleh mereka. Peneliti ingin melihat bagaimana media Waspada Online menggambarkan Edy Rahmayadi maupun Musa Rajeksyah.
Penulis tertarik mengkaji pemberitaan mengenai Edy Rahmayadi dan Musa Rajeckshah atau yang disingkat ERAMAS, karena sebagai calon dengan partai pengusung terbanyak antara lain Partai Perindo, Golkar, Gerindra, PKS, PAN, dan Nasdem. ERAMAS juga merupakan calon dengan elektabilitas tertinggi hingga tanggal 10- Maret 2018 yaitu dengan persentase 33,1% survei dilakukan oleh Media Survei Nasional (Median) dilakukan pada 16-25 Januari 2018 dengan sampel 1.200 warga Sumut yang telah memiliki hak pilih. Teknik menggunakan multistage random sampling, dengan margin of error sebesar 3,4%
pada tingkat kepercayaan 95%, dan quality control 20%
(www.news.okezone.com). hal ini tentu sangat menarik perhatian peneliti untuk mencari tahu bagaimana media Waspada Online mengkonstruksi isi berita dalam sudut pandang Waspada Online.
Framing adalah sebuah cara bagaimana peristiwa disajikan oleh media.
Penyajian tersebut dilakukan dengan menekankan bagian tertentu, menonjolkan aspek tertentu dan membesarkan cara bercerita tertentu dari suatu realitas. Media menghubungkan dan menonjolkan peristiwa sehingga makna dari peristiwa tersebut lebih mudah diingat oleh khalayak (Eriyanto, 2002 :187). Konsep media Framing secara sederhana menjelaskan bahwa pemberitaan media seterusnya mereduksi atau mendistorsi sebuah fakta yang sesungguhnya rumit dan bertingkat-tingkat. Robert N. Entman menjelaskan framing me-reduksi fakta dengan menghilangkan atau mengaburkan aspek lain yang tidak kalah penting.
Melalui Framing yang disajikan kepada publik bukan fakta itu sendiri, melainkan
penggalan atau sekuel fakta yang pasti tidak lengkap dan dapat mendistorsi persepsi khalayak (Eriyanto, 2002: 79).
Seorang Public Relations dituntut untuk memiliki kemampuan dalam menganalisis Framing berita. Kemampuan Public Relations dalam menganalisis Framing sebuah berita dari media, digunakan untuk mengetahui jenis pemberitaan, ideologi, dan format penulisan berita yang ditampilkan oleh media.
Perlu diketakui bahwa Public Relations turut bertugas dalam menjalin relasi dengan media. Relasi yang dibangun bertujuan untuk memudahkan seorang Public Relations dalam mengirimkan rilis berita kepada media-media yang tentunya memiliki sudut pandang yang berbeda, hal tersebut sangat membantu Public Relations dalam menjalankan tugasnya menjaga citra baik perusahaan (Prakasa, 2016: 5).
1.2 Fokus Masalah
Masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan- pertanyaan yang hendak dicari jawabannya. Dapat juga dinyatakan bahwa perumusan masalah merupakan pernyataan yang lengkap dan terinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah (Pohan, Nurbani, Lubis, Zulkarnain, Humaizi, Lubis, dan Butsi, 2012:
10). Berdasarkan konteks masalah yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan fokus masalah sebagai berikut: “Bagaimana Waspada Online mengkontruksi Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah jelang pemilihan umum Gubernur Sumatera Utara 2018 ini?”
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui bagaimana Waspada Online memaknai, memahami dan mengontruksi Edy Rahmayadi dan Musa rajekshah.
2) Untuk melihat perspektif yang ditampilkan Waspada Online dalam memberitakan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah:
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat melengkapi dan memperkaya khasanah penelitian tentang analisis framing.
2. Secara akademik, penelitian ini diharapkan mampu memperluas dan memperkaya pengetahuan mengenai analisis framing dan penelitian kualitatif dalam bidang ilmu komunikasi.
3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan menjadi bahan refensi bersama dalam memahami analisis framing dan masukan bagi masyarakat dalam memaknai sebuah berita.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Paradigma Kajian
Seorang ahli filsafat ilmu pengetahuan, Thomas Kuhn (1972) mengembangkan konsep paradigmatik sebagai upaya untuk mempelajari anomali- anomali dalam sejarah ilmu pengetahuan. Melalui bukunya, The Strcuture of Scientific Revolution Kuhn menggunakan istilah paradigma dalam dua dimensi yang berbeda. Paradigma berarti keseluruhan perangkat –Kuhn menyebutkannya dengan istilah ‘konstelasi’ – keyakinan, Nilai-nilai, teknik-teknik, dan selanjutnya dimiliki bersama oleh para anggota suatu masyarakat. Kedua, paradigma berarti unsur-unsur tertentu dalam perangkat tersebut, yakni cara-cara pemecahan atas suatu teka-teki, yang digunakan sebagai model atau contoh, yang dapat menggantikan model atau cara lain sebagai landasan bagi pemecahan atas teka- teki dalam ilmu pengetahuan normal (Azwar, 2005: 53).
Menurut Newton-Smith (1981) (dalam Suyanto, 2005: 215) paradigma Kuhn mencakup lima unsur, yaitu: shared symbolic generalization (generalisasi simbolik milik bersama); models (model-model); value (nilai-nilai); metaphysical principles (prinsip-prinsip metafisis), dan exemplar (masalah-masalah konkret).
Menurut Bogdan dan Biklen (dalam Moleong, 2008: 49) “paradigma adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian.” Subjektifitas peneliti dan objek penelitian diasumsikan terhubung secara interaktif sehingga temuan dari penelitian tersebut tercipta seiring berlangsungnya penelitian. Dalam literaturnya Nyoman Naya Sujana yang menjelaskan bahwa paradigma sebagai sebuah konsep yang paling umum dan terdalam untuk melihat dan memahami realitas. Konsep tersebut memandang realitas yang tercipta adalah sesuatu yang dapat dipahami oleh manusia (Suyanto, 2005:9).
menurut Dedy N. Hidayat (1999) mengacu pada Guba (1990: 1994) dikutip dari (Bungin, 2006: 237) menjelaskan paradigma ilmu komunikasi berdasarkan metodologi penelitiannya, ada 3 paradigma: (1) paradigma klasik (classical paradigm); (2) paradigma kritis (critical paradigm); dan (3) paradigma konstruktivisme (constructivism paradigm). Menurut Sendjaja (2005), paradigma klasik (gabungan dari paradigma positivism dan post-positivism menurut Guba), menurut Dedy N. Hidayat (1999), bersifat interventionist, yakni melakukan pengujian hipotesis dalam struktur hypothetico-deductive method, melalui laboratorium, eksperimen, atau survei eksplanatif dengan analisis kuantitatif.
Dengan demikian, objektivitas, validitas, dan realibilitas diutamakan dalam paradigma ini. Paradigma kritis lebih berorientasi participative dalam arti mengutamakan analisis komprehensif, konstekstual, dan multilevel analisis, dan peneliti berperan sebagai aktivis atau partisipan. Paradigma konstruktivisme bersifat reflektif dan dialektikal. Menurut paradigma ini, antara peneliti dan subjek yang diteliti, perlu tercipta empati dan interaksi dialektis agar mampu merekonstruksi realitas yang diteliti melalui metode kualitatif seperti observasi partisivasi (participant observation).
2.1.1 Paradigma Konstruktivisme
Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivis. Paradigma konstruktivis yaitu paradigma yang hampir merupakan antitesis dari paham yang meletakkan pengamatan dan objekstivitas dalam menemukan suatu realitas atau ilmu pengetahuan. Dikutip dari (Bungin, 2008 :202) Peter L. Berger dan Thomas Luckman mengenalkan paradigma konstruktivis dalam “The Social Construction of reality, a Treatise in the Sociological of Knowledge”. Dikatakan bahwa paradigma ini lahir atas kritik terhadap paradigma positivisme yang mengatakan bahwa realitas adalah objek yang riil dan dapat diteliti terpisah antara objek dan subjek komunikasinya.
Dalam aliran filsafat, gagasan konstruktivisme telah muncul sejak Sokrates menemukan jiwa dalam tubuh manusia, sejak Plato menemukan akal budi dan ide.
Gagasan tersebut semakin lebih konkret lagi setelah Aristoteles mengenalkan istilah informasi, relasi, individu, substansi, materi, esensi dan sebagainya. Dan ia
mengatakan bahwa, manusia adalah mahluk sosial, setiap pernyataan harus dibuktikan kebenarannya, bahwa kunci pengetahuan adalah logika dan dasar pengetahuan adalah fakta (Bertens, 1993: 137).
Konstruktivisme merupakan reaksi terhadap epistemologi radikal empiris.
Para penganut konstruktivisme kontemporer seperti Khun, Hanson, dan Toulmin yakin bahwa penelitian ilmiah dilaksanakan dalam suatu perspektif global pandangan dunia yang membentuk proses penelitian (Bulaeng, 2004: 11) menjelaskan ada 5 asumsi yang mendasari epistemologi konstruksi, yaitu:
1. Konstruktivisme menolak pandangan logika positivisme.
2. Kaum konstruktivis beranggapan bahwa dunia empiris tidaklah independen. Melainkan persepsi dan interpretasi peneliti akan mempengaruhi apa yang dilihat peneliti saat meneliti.
3. Konstruktivisme menolak perspektif deduksionis yang mempercayai bahwa pengalaman itu tidak berdiri sendiri, melainkan terpadu.
4. Kaum konstruktivis mengingkari operasionalisme yang berpandangan bahwa konsep-konsep teoritis sangat berbeda dengan indikator- indikator empirisnya.
5. Konstruktivisme beranggapan bahwa teori-teori komunikasi lebih dari sekedar hubungan statistik saja. Melainkan juga menjelaskan perilaku komunikasi dengan mengacu pada alasan-alasan seseorang berbicara dengan lainnya.
Sejauh ini ada tiga macam konstruktivisme seperti yang diungkapkan oleh Suparno (1997): pertama, konstruktivisme radikal; kedua, realisme hipotesis;
ketiga, konstruktivisme biasa. Konstrukstivisme radikal hanya dapat mengakui apa yang dibentuk oleh pikiran kita. Bentuk itu tidak selalu representasi dari dunia nyata.Pengetahuan bagi mereka merefleksi suatu realitas objektif, namun sebuah realitas yang dibentuk oleh pengalaman seseorang. Dalam pandangan realisme hipotetis, pengetahuan adalah sebuah hipotesis dari struktur realitas yang mendekati realitas dan menuju kepada pengetahuan yang hakiki. Sedangkan konstruktivisme biasa memandang bahwa pengetahuan individu dipandang sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari realitas objek dalam dirinya sendiri.
Pengetahuan selalu merupakan konstruksi dari individu yang mengetahui dan tidak dapat ditransfer kepada individu lain yang pasif. Konstruksi harus dilakukan sendiri olehnya terhadap pengetahuan itu, sedangkan lingkungan adalah sarana terjadinya konstruksi itu. Konstruktivisme dapat dilihat sebagai sebuah
kerja kognitif individu untuk menafsirkan dunia realitas yang ada karena terjadi relasi sosial antara individu dengan lingkungan atau orang disekitarnya. Dan konstruksivisme semacam inilah yang oleh Berger dan Luckmann (1990) disebut dengan konstruksi sosial (Bungin, 2008:14). Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Subjek tersebutlah yang merupakan faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan- hubungan sosialnya. Subjek melakukan kontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacana. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan pembentukan diri, serta pengungkapan jati diri dari sang pembicara. analisis dapat dilakukan demi membongkar maksud dan makna-makna tertentu dari komunikasi (Ardiyanto, 2007:151)
Paradigma ini memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan secara langsung dan terperinci terhadap pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan memelihara atau mengelola dunia sosial mereka (Hidayat, 2003:3). Menurut Patton, para peneliti konstrkutivis mempelajari beragam realita yang terkonstruksi oleh individu dan implikasi dari konstruksi tersebut bagi kehidupan mereka dengan yang lain.
Dalam konstruktivis, setiap individu memiliki pengalaman yang unik. Dengan demikian, penelitian dengan strategi seperti ini menyarankan bahwa setiap cara yang diambil individu dalam memandang dunia adalah valid, dan perlu adanya rasa menghargai atas pandangan tersebut (Patton, 2002: 96). Paradigma konstruktivis memiliki beberapa kriteria yang membedakannya dengan paradigma lainnya, yaitu ontologi, epistemologi, dan metodologi. Pada level ontologi, paradigma konstruktivis melihat kenyataan sebagai hal yang ada tetapi bersifat majemuk, dan maknanya berbeda bagi tiap orang. Dalam epistemologi, peneliti menggunakan pendekatan subjektif karena dengan cara itu bisa menjabarkan pengkonstruksian makna oleh individu. Dalam metodologi, paradigma ini menggunakan berbagai macam jenis pengkonstruksian dan menggabungkannya dalam sebuah konsensus.
Tabel 2.1 Paradigma Konstruksionis
Positivis Konstruksionis Fakta/Peristiwa Ada fakta yang “riil” yang
diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal
Fakta merupakan konstruksi atas realitas. Kebenaran suatu fakta bersifat relatif, berlaku sesuai konteks tertentu
Media Media sebagai saluran pesan Media sebagai agen konstruksi pesan
Berita Berita adalah cermin dan refleksi dari kenyataan. Berita haruslah sama dan sebangun dengan fakta yang hendak diliput
Berita tidak mungkin merupakan cermin dan refleksi dari realitas. Karena berita yang terbentuk merupakan konstruksi atas realitas
Sifat Berita Berita bersifat objektif:
menyingkirkan opini dan pandangan subjektif dari pembuat berita
Berita bersifat subjektif: opini tidak dapat dihilangkan karena ketika meliput, wartawan melihat dengan perspektif dan pertimbangan subjektif
Wartawan Wartawan sebagai pelapor Wartawan sebagai partisipan yang menjembatani keragaman subjektif pelaku sosial
Etika, Pilihan Moral, Keberpihakan
Wartawan
Nilai, etika, opini, dan pilihan moral berada di luar proses peliputan berita
Nilai, etika, atau keberpihakan wartawan tidak dapat dipisahkan dari proses peliputan dan pelaporan suatu peristiwa Nilai, Etika, dan Pilihan
Moral Peneliti
Nilai, etika, dan pilihan moral harus berada di luar proses penelitian
Nilai, etika, dan pilihan moral bagian tak terpisahkan dari suatu penelitian
Khalayak Berita diterima sama dengan apa yang dimaksudkan oleh pembuat berita
Khalayak mempunyai
penafsiran sendiri yang bisa jadi berbeda dari pembuat berita (Sumber: Eriyanto, 2001:19)
Pendekatan paradigma konstruksionis mempunyai penilaian tersendiri bagaimana media, wartawan, dan berita dilihat. (Eriyanto, 2002: 19) menyebutkan bahwa pendekatan paradigma konstruksionis mempunyai penilaian tersendiri bagaiman media, wartawan, dan berita dilihat, yaitu:
1. Fakta/peristiwa adalah hasil konstruksi. Bagi kaum konstruksionis, realitas itu bersifat subjektif. Realitas itu hadir karena dihadirkan oleh konsep subjektif wartawan. Realitas bisa berbeda-beda, tergantung pada bagaimana konsepsi ketika realitas itu dipahami oleh wartawan yang mempunyai pandangan berbeda.
2. Media adalah agen konstruksi. Media bukanlah sekedar saluran yang bebas, ia juga subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan bias dan pemihakannya. Lewat bahasa yang dipakai; media dapat menyebut mahasiswa sebagai pahlawan dapat juga menyebutnya sebagai perusuh.
3. Berita bukan refleksi dari realitas, ia hanya konstruksi dari realitas. Berita yang kita baca pada dasarnya adalah hasil dari konstruksi kerja jurnalis, bukan kaidah baku jurnalistik
4. Berita bersifat subjektif/konstruksi atas realitas opini tidak dapat dihilangkan karena ketika meliput, wartawan melihat dengan perspektif dan pertimbangan subjektif.
5. Wartawan bukan pelapor, ia agen konstruksi realitas. Wartawan sebagai partisipan yang menjembatani keragaman subjektifitas pelaku sosial.
6. Etika, pilihan moral, dan keberpihakan wartawan adalah bagian yang integral dalam produksi berita. Wartawan bukanlah robot yang meliput apa adanya, apa yang dia lihat. Etika dan moral yang dalam banyak hal berarti keberpihakan satu kelompok atau nilai tertentu umumnya dilandasi oleh keyakinan tertentu, adalah bagian yang integral dan tidak terpisahkan dalam membentuk dan mengkonstruksi realitas.
7. Khalayak mempunyai penilaian tersendiri atas berita. Khalayak bukan dilihat sebagai subjek yang pasif, yang mempunyai tafsiran sendiri yang bisa saja berbeda dari pembuat berita (Zamroni, 2009:95)
Dikaitkan dengan pemberitaan, pendekatan konstruksionis menegaskan berita sesungguhnya adalah hasil dari konstruksi sosial yang selalu melibatkan pandangan ideologi, nilai-nilai jurnalis, atau media. Menurut pendekatan konstruksionis, hasil kerja seorang jurnalis tidak dapat dinilai dengan standar yang kaku. Aspek etika, moral, dan nilai-nilai juga akan mewarnai pemberitaan, karena hal-hal itu merupakan bagian yang integral dalam diri jurnalis. Menurut pandangan ini, jurnalis bukanlah robot yang dapat diprogram untuk senantiasa melaporkan fakta apa adanya (Prakarsa, 2016).
Penelitian ini berangkat dari perspektif konstruksionis. Sesuai dengan uraian di atas maka penggambaran fakta, media, wartawan, dan berita dalam penelitian ini adalah sebagai sebuah satuan dari pola konstruksi. Dengan penggambaran fakta sebagai sebuah konstruksi, media sebagai agen yang mengkonstruk berita hingga bersifat subjektif dan wartawan sebagai partisipan yang menjembatani keragaman subjektif pelaku sosial.
2.2 Penelitian Terdahulu
Adapun kajian kajian terdahulu yang pernah dibahas sebelumnya sebagai berikut:
1. Pembingkaian Berita Pilkada Serentak di Jawa Barat 2015 (Analisis Framing Robert N. Entman pada Pembingkaian Berita Pilkada Serentak dan Sikap Acuh Warga 9 Desember 2015 pada Harian Pagi Tribun Jabar dan Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 16 September 2015). Nalera Agung Sangga Lasmana (2015), Universitas Komputer Indonesia.
Temuan: Seleksi isu yang dilakukan Harian Umum Pikiran Rakyat dan Harian Pagi Tribun Jabar mengangkat sudut pandang yang berbeda pada sebuah peristiwa yakni sisi lain dari suasana menjelang pelaksanaan pilkada serentak 2015 di Jawa Barat. pemberitaan yang dianggap tidak penting menjadi penting dan berita yang tidak biasa serta berbeda dengan berita sebelumnya yang memuat berita tentang Pilkada serentak menjadi dasar pembuatan berita ini sehingga dimuat dalam surat kabar masing-masing media.
2. Analisis Pembingkaian Pemberitaan Bendera Aceh pada Harian Serambi Indonesia dan Harian Rakyat Aceh. Mahmudin (2015), Universitas Sumatera Utara
Temuan: Konstruksi realitas pemberitaan bendera dan lambang Aceh oleh harian Serambi Indonesia berbeda dengan harian Rakyat Aceh. Serambi Indonesia menganggap sebagai masalah politik, hukum, pertahanan dan keamanan (Polhukam). Sedangkan harian Rakyat Aceh menganggap sebagai masalah politik dengan menyoroti moral pemimpin Aceh.
3. Citra Aburizal Bakrie Terkait Pemilu Presiden 2014 (Analisis Framing Laporan Utama “Siasat Aburizal” di Majalah Tempo Edisi 25 November-1 Desember 2013). Ipak Ayu Hidayatullah Nurcaya (2014), Universitas Sumatera Utara.
Temuan: Dari penelitian ini, Majalah TEMPO menggambarkan citra Aburizal Bakrie sebagai sosok yang tidak layak maju menjadi calon presiden Republik Indonesia.Selain permasalahan elektabilitas Ketua Umum Partai Golkar ini beragam permasalahan internal partai juga mengiringi niatnya untuk menjadi calon presiden
2.3 Uraian Teoritis
Setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir dalam memecahkan masalah. Untuk itu, perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran dalam menggambarkan dari sudut mana masalah penelitian akan disorot (Nawawi, 1983: 39). Adapun beberapa uraian teoritis yang relevan dengan topik permasalahan penelitian ini, yaitu :
2.3.1 Konstruksi Sosial Media Massa
Asal usul konstruksi sosial dari filsafat konstruktivisme yang dimulai dari gagasan-gagasan konstruktif kognitif. Menurut Von Glaserfeld, pengertian konstruktif kognitif muncul pada abad ini dalam tulisan Mark Baldwin yang secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Namun apabila ditelusuri, sebenarnya gagasan-gagasan pokok konstruktivisme sebenarnya telah dimulai oleh Giambatissta Vico, seorang epistemolog dari Italia, ia adalah cikal bakal konstruktivisme (Suparno, 1997: 24).
Berger dan Luckman (1966) (dalam Bungin, 2008:191) menjelaskan konstruksi sosial atas realitas melalui ‘The Social Construction of reality, a Treatise in the Sociological of Knowledge’. Teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas yang terjadi secara stimulan melalui tiga proses sosial, yakni eksternalisasi, objektivikasi dan internalisasi. Tiga proses ini terjadi di antara individu satu dengan individu lainnya dalam masyarakat (Bungin, 2006: 202).
Berger dan Luckman menjelaskan bahwa realitas sosial dengan memisahkan
pemahaman ‘kenyataan dan pengetahuan’. Realitas diartikan sebagai kualitas yang terdapat di dalam realitas-realitas yang diakui memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak kita sendiri. Pengetahuan didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata (real) dan memiliki karakteristik yang spesifik. Mereka mengatakan terjadi dialektika antara individu menciptakan masyarakat dan masyarakat menciptakan individu.
Istilah interaksi merujuk pada bagaimana gagasan dan pendapat tertentu dari seseorang atau sekelompok orang ditampilkan dalam pemberitaan. Sehingga realitas yang terjadi tidak digambarkan sebagaimana mestinya, tetapi digambarkan secara lain. Bisa lebih baik atau bahkan lebih buruk, cenderung memarjinkan seseorang atau sekelompok orang tertentu (Eriyanto, 2001: 113).
Posisi “konstruksi sosial media massa” adalah mengoreksi substansi kelemahan dan melengkapi “konstruksi sosial atas realitas”, dengan menempatkan seluruh kelebihan media massa dan efek media pada keunggulan “konstruksi sosial media masa” atas “konstruksi sosial atas realitas”. Namun proses simultan yang digambarkan di atas tidak bekerja secara tiba-tiba, namun terbentuknya proses tersebut melalui beberapa tahap penting. Dari konten konstruksi sosial media massa, (Bungin, 2008: 205) menjelaskan proses kelahiran konstruksi sosial media massa melalui tahap-tahap sebagai berikut:
a. Tahap Menyiapkan Materi Konstruksi
Menyiapkan materi konstruksi sosial media massa adalah tugas redaksi media massa, tugas itu didistribusikan pada desk editor yang ada di setiap media massa. Masing-masing media memiliki desk yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan visi suatu media. Isu isu penting setiap hari menjadi fokus media massa, terutama yang berhubungan tiga hal, yaitu kedudukan(tahta), harta, dan perempuan. Selain tiga hal itu ada juga fokus- fokus lain, seperti informasi yang sifatnya menyentuh perasaan banyak orang, yaitu persoalan sensitivitas, sensualitas, maupun kengerian.
Dalam menyiapkan materi konstruksi ada tiga hal penting yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Keberpihakan media massa kepada kapitalisme. Sebagaimana diketahui, saat ini hampir tidak ada lagi media massa yang tidak dimiliki oleh kapitalis. Dalam arti media massa digunakan oleh kekuatan-kekuatan kapital untuk menjadikan media massa sebagai mesin penciptaan uang dan pelipatgandaan modal. Dengan demikian media massa tidak bedanya dengan supermarket, pabrik kertas, pabrik
uranium, dan sebagainya. Semua elemen media massa, termasuk orang-orang media massa berpikir untuk melayani kapitalisnya, ideologi mereka adalah membuat media massa yang laku di masyarakat.
2. Keberpihakan semu kepada masyarakat. Bentuk dari keberpihakan ini adalah dalam bentuk empati, simpati dan berbagai partisipasi kepada masyarakat, namun ujungnya adalah untuk “menjual berita” dan menaikkan rating untuk kepentingan kapitalis. Contohnya seperti acara acara televisi yang menampilkan kesedihan dan airmata yang mengundang simpati, empati maupun kontroversi.
3. Keberpihakan kepada kepentingan umum. Bentuk keberpihakan kepada kepentingan umum dalam arti sesungguhnya sebenarnya adalah visi setiap media massa, namun akhir-akhir ini visi tersebut tak pernah menunjukkan jati dirinya, namun slogan-slogan tentang visi ini tetap terdengar.
Dalam menyiapkan materi konstruksi, media massa memosisikan diri pada tiga hal tersebut di atas, namun pada umumnya keberpihakan kepada kepentingan kapitalis menjadi sangat dominan mengingat media massa adalah mesin produksi kapitalis yang mau ataupun tidak harus menghasilkan keuntungan. Dengan demikian, apabila keberpihakan media massa pada masyarakat, maka sudah tentu keberpihakan itu harus menghasilkan uang untuk kantung kapitalis pula.
b. Tahap Sebaran Konstruksi
Sebaran konstruksi media massa dilakukan melalui strategi media massa.
Konsep konkret strategi sebaran media massa masing-masing media berbeda, namun prinsip utamanya adalah real-time. Selain media elektronik dan media cetak, sebaran konstruksi juga dapat menggunakan varian media lain, seperti media luar ruangan, media langsung, dan media lainnya. Pada umumnya, sebaran konstruksi sosial media massa menggunakan model satu arah, dimana media menyodorkan informasi sementara konsumen media tidak memiliki pilihan lain kecuali mengonsumsi informasi tersebut. Prinsip dasar dari sebaran konstruksi sosial media massa adalah semua informasi harus sampai pada pemirsa atau pembaca secepatnya dan setepatnya berdasarkan pada agenda media.
Apa yang dipandang penting oleh media, menjadi penting pula bagi pemirsa atau pembaca.
c. Pembentukan Konstruksi Realitas
1. Tahap Pembentukan Konstruksi Realitas
Tahap berikut setelah sebaran konstruksi, di mana pemberitaan telah sampai pada pembaca dan pemirsanya, yaitu terjadi pembentukan konstruksi di masyarakat melalui tiga tahap yang berlangsung secara generik.
Tahap pertama adalah konstruksi pembenaran sebagai suatu bentuk konstruksi media massa yang terbangun di masyarakat yang cenderung membenarkan apa saja yang ada (tersaji) di media massa sebagai sebuah realitas kebenaran. Dengan kata lain,
informasi media massa sebagai otoritas sikap untuk membenarkan sebuah kejadian.
Tahap kedua adalah kesediaan dikonstruksi oleh media massa, yaitu sikap generik dari tahap yang pertama. Bahwa pilihan seseorang untuk menjadi pembaca dan pemirsa media massa adalah karena pilihannya untuk bersedia pikiran-pikirannya dikonstruksi oleh media massa.
Tahap ketiga adalah menjadikan konsumsi media massa sebagai pilihan konsumtif, di mana seseorang secara habit tegantung pada media massa. Media massa adalah bagian kebiasaan hidup yang tak bisa dilepaskan.
2. Pembentukan Konstruksi Citra
Pembangunan konstruksi citra adalah bangunan yang diinginkan oleh tahap konstruksi. Bangunan konstruksi citra yang dibangun oleh media massa ini terbentuk dalam dua model; (1)model good news dan (2) model bad news. Model good news adalah sebuah konstruksi yang cenderung mengkonstruksi sesuatu pemberitaan sebagai pemberitaan yang baik. Pada model ini objek pemberitaan dokonstruksi sebagai sesuatu yang memiliki citra baik sehingga terkesan lebih baik dari sesungguhnya kebaikan yang ada pada objek itu sendiri. Sedangkan model bad news adalah sebuah konstruksi yang cenderung mengkonstruksi kejelekan atau cenderung memberikan citra buruk pada objek pemberitaan sehingga terkesan lebih jelek, lebih buruk, lebih jahat dari sesungguhnya sifat jelek, buruk, dan jahat yang ada pada objek pemberitaan itu sendiri.
Realitas sosial yang dimaksud adalah sebuah konstruksi pengetahuan dan/ atau wacana dalam dunia kognitif yang hanya hidup dalam pikiran individu dan simbol-simbol masyarakat, namun sebenarnya tidak ditemukan dalam dunia nyata. Refleksi realitas itu baru terlihat saat individu mengidentikkan dirinya dengan lingkungan sosialnya, dalam bentuk-bentuk yang lebih konkret terlihat di saat mereka menentukan pilihan-pilihan mereka terhadap sebuah produk untuk dipakai. Koridor realitas inilah yang dimaksud dengan realitas yang dicitrakan media, artinya citra itu hanya ada dalam media. Ketergantungan mereka yang hidup dalam realitas media adalah orang-orang yang selalu memiliki kesadaran realitas ini, sebagaimana ia menyadari dirinya sebagai bagian dari realitas itu sendiri.
d. Tahap Konfirmasi
Konfirmasi adalah tahapan ketika media massa maupun pembaca dan pemirsa memberi argumentasi dan akuntabilitas terhadap pilihannya untuk terlibat dalam tahap pembentukan konstruksi. Bagi media tahapan ini perlu sebagai bagian untuk memberi argumentasi terhadap alasan-alasannya konstruksi sosial. Sedangkan bagi pemirsa dan pembaca, tahapan ini juga sebagai bagian untuk menjelaskan mengapa ia terlibat dan bersedia hadir dalam proses konstruksi sosial.
Alasan-alasan yang sering digunakan dalam konfirmasi ini adalah
1. kehidupan modern menghendaki pribadi yang selalu berubah dan menjadi bagian dari produksi media massa.
2. Kedekatan dengan media massa adalah lifestyle orang modern, di mana orang modern sangat menyukai popularitas, terutama sebagai subjek media massa itu sendiri
3. Media massa walaupun memiliki kemampuan mengkonstruksi realitas media berdasarkan subjektivitas media, namun kehadiran media massa dalam kehidupan seseorang merupakan sumber pengetahuan tanpa batas yang sewaktu-waktu dapat di akses.
2.3.2 Analisis Framing
Dalam sebuah literatur (Sobur, 2001: 161) Menjelaskan bahwa konsep framing merupakan versi terbaru dari pendekatan analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks media. Gagasan mengenai framing, pertama kali dilontarkan oleh Beterson tahun 1955 (Sudibyo, 1999: 23). Mulanya, frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Konsep ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Goffman pada 1974, yang mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku (strip of behavior) yang membimbing individu dalam membaca realitas. Dalam bukunya Goffman menyatakan bahwa frame sebenarnya sesuatu yang dipelajari dan digunakan dalam keseharian manusia, bahkan mendasari tingkah laku manusia itu sendiri. Dengan mempelajari frame yang ada dalam suatu masyarakat akan memandu sesorang mampu bersosialisasi dan menyatu dengan masyarakat tersebut (Sobur, 2004 :162).
Analisis framing merupakan suatu ranah studi komunikasi yang menonjolkan pendekatan multidisipliner dalam menganalisis pesan-pesan tertulis maupun lisan. Konsep framing atau frame sendiri bukan berasal dari ilmu komunikasi, melainkan dari ilmu kognitif (psikologis). Dalam prakteknya, analisis framing juga memungkinkan disertakannya konsep-konsep sosiologis, politik dan kultural untuk menganalisis fenomena-fenomena komunikasi, sehingga suatu fenomena dapat benar-benar dipahami dan diapresiasi berdasarkan konteks sosiologis, politis atau kultural yang melingkupinya (Aristyo, 2017).
Framing merupakan metode penyajian realitas di mana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan di-belokkan secara halus, dengan menggunakan istilah-istilah yang punya konotasi tertentu, dan dengan bantuan foto, karikatur, dan alat ilustrasi lainnya. Bagaimana realitas dibingkai, dikonstruksi dan dimaknai oleh media (Sudibyo, 2001: 186). Dalam Framing, ketika sesuatu diletakkan dalam frame, maka ada bagian yang terbuang ada bagian yang terlihat. Kita bisa menghadirkan analogi ketika kita memfoto sesuatu pemandangan, maka yang masuk dalam foto hanyalah bagian yang berada dalam frame, bagian lain terbuang (Krisyanto, 2006: 255).
Dalam analisis framing yang diperlukan oleh seorang analis adalah melihat cara media mengkonstruksi realitas. Peristiwa dipahami bukan sebagai sesuatu yang taken for granted (lumrah). Seorang analis dalam analisis framing harus mampu bersikap kritis dan mempertanyakan segala sesuatu yang tampak sebagai kenyataan semua bagi masyarakat luas. Karna setiap berita yang muncul erat kaitannya dengan perspektif kewartawanan, asumsi asumsi yang diterima kemudian diolah berdasarkan ideologi dan perspektif setiap orang. Hal tersebut dilakukan dengan cara melewati proses seleksi dan reproduksi, berita sebenarnya adalah sebuah berita yang artificial, tetapi dapat diklaim objektif oleh pers untuk mencapai tujuan ideologis dan bisnis. Berita tidak hanya menyampaikan tetapi juga menciptakan makna (Sobur, 2004: 89).
Framing adalah pendekatan untuk melihat bagaimana realitas itu dibentuk dan dikonstruksi oleh media. Proses pembentukan dan konstruksi realitas itu, hasil akhirnya adalah adanya bagian tertentu dari realitas yang lebih menonjol dan lebih mudah dikenal. Akibatnya, khalayak lebih mudah mengingat aspek-aspek tertentu yang disajikan secara menonjol oleh media. Aspek-aspek yang tidak disajikan secara menonjol, bahkan tidak diberitakan, menjadi terlupakan dan sama sekali tidak diperhatikan oleh khalayak. Framing adalah sebuah cara bagaimana peristiwa disajikan oleh media. Penyajian tersebut dilakukan dengan menekankan bagian tertentu, menonjolkan aspek tertuntu, dan membesarkan cara bercerita tertentu dari suatu realitas/peristiwa. Di sini media menyeleksi, menghubungkan, dan menonjolkan peristiwa sehingga makna dari peristiwa lebih mudah
menyentuh dan diingat oleh khalayak. Karenanya, seperti dikatakan Frank D.
Durham, framing membuat dunia lebih diketahui dan lebih dimengerti. Realitas yang kompleks dipahami dan disederhanakan dalam kategori tertentu. Bagi khalayak, penyajian realitas yang demikian, membuat realitas lebih bermakna dan dimengerti (Eriyanto 2002: 77).
Analisis framing merupakan pendekatan konstruktivis yang dipakai untuk menjelaskan tentang news discourse dengan fokus pada konseptualisasi teks-teks berita secara sintaksis, script, tematik, struktur retorikanya, sehingga akan diperoleh bukti atau temuan terhadap framing dari pemberitaan media massa terhadap isu dalam teks-teks berita. Analisis framing digunakan untuk melihat bagaimana media menangkap dan mengungkap realitas obyektif dalam peliputannya. Framing dapat digunakan untuk melihat bagaimana upaya media menyajikan sebuah event yang mengesankan obyektivitas, keseimbangan, dan non partisan dan mengemasnya sedemikian rupa sehingga khalayak mudah tergiring ke dalam kerangka (framing) pendefinisian realitas tertentu yang dilakukan oleh media melalui pemilihan kata, bahasa, penggunaan simbol dan sistem logika tertentu. Analisis framing adalah instrumen metodologis yang diterapkan untuk mengetahui cara media mengkonstruksi sebuah wacana berita (News discourse) dengan melakukan penonjolan-penonjolan tertentu. Analisis framing selanjutnya dapat dikaitkan dengan kegiatan politik praktis misalnya, sehingga penelitian ini akan bisa melihat bagaimana kecenderungan sikap politik media terhadap isu-isu yang berkembang melalui pemberitaannya (Bungin, 2001: 150).
Ada beberapa tokoh yang memberikan definisi framing. Beberapa definisi para ahli tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.2 Definisi Framing Menurut Beberapa Tokoh:
Tokoh Metode
Robert N. Entman Proses seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol dibandingkan aspek lain. Ia juga menyertakan penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga sisi tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada sisi yang lain.
William A. Gambson Cara bercerita atau gugusan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan objek suatu wacana. Cara bercerita itu terbentuk dalam sebuah kemasan (package). Kemasan itu semacam skema atau struktur pemahaman yang digunakan individu untuk mengkonstruksi makna pesan-pesan yang ia sampaikan, serta untuk menafsirkan makna pesan- pesan yang ia terima.
Todd Gitlin Strategi bagaimana realitas/dunia dibentuk dan disederhanakan sedemikian rupa untuk ditampilkan kepada khalayak pembaca. Peristiwa- peristiwa ditampilkan dalam pemberitaan agar tampak menonjol dan menarik perhatian khalayak pembaca.itu dilakukan dengan seleksi, pengulangan, penekanan, dan presentasi aspek tertentu dari realitas.
David E. Snow and Robert Benfort
Pemberian makna untuk menafsirkan peristiwa dan kondisi yang relevan. Frame mengorganisasikan sistem kepercayaan dan diwujudkan dalam kata kunci tertentu, anak kalimat, citra tertentu, sumber informasi, dan kalimat tertentu.
Amy Binder Skema interpretasi yang digunakan oleh individu untuk menempatkan, menafsirkan, mengidentifikasi, dan melabeli peristiwa secara langsung atau tidak langsung. Frame mengorganisir peristiwa yang kompleks ke dalam bentuk dan pola yang mudah dipahami dan membantu individu untuk mengerti makna peristiwa.
Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki
Strategi konstruksi dan memproses berita.
Perangkat kognisi yang digunakan dalam mengkode informasi, menafsirkan peristiwa, dan dihubungkan dengan rutinitas dan konvensi pembentukan berita.
(sumber: Eriyanto, 2002: 79)
Jika digambarkan maka skema analisi framing dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel 2.3 Skema Framing Paradigma Konstruksionis
Teori Erwin Goffman Peter L. Berger
Model Model Murray Edelman Model Robert N. Entman Model William A. Gambson
Model Zhoungdang Pan dan Gerald M. Kosicki (Sumber: Eriyanto, 2002: 13)
Dari model model metode di atas tentu memiliki perbedaan antara satu dengan lainnya. Penggunaan model tergantung bagaimana bentu berita dan bentuk hasil yang ingin dicapai oleh peneliti.
Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas atau isu (Eriyanto, 2002 :187). Sedangkan model framing William Gamson dan Andre Mondigliani menganggap frame sebagai cara bercerita atau gugusan ide-ide yang tersusun sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna dari peristiwa yang berkaitan dengan wacana (Krisyanto, 2006: 259). Dan model milik Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki frame dipahami sebagai suatu proses bagaimana seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas diluar dirinya (Eriyanto, 2002: 291).
Peneliti memilih untuk menggunakan analisis model Robert Entman, Entman melihat sebuah framing memiliki dua buah dimensi besar yaitu seleksi isu isu berita dan penekanan dalam hal apa yang ingin ditonjolkan. Secara sederhana metode Entman ingin melihat Penonjolan isu dari sebuah realitas yang ditampilkan oleh media. Penonjolan adalah proses membuat informasi menjadi lebih bermakna, lebih menarik, berarti, atau lebih diingat oleh khalayak. Realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok mempunyai kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam memahami suatu realitas. Dalam praktiknya framing disajikan oleh media dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain; dan menonjolkan aspek dari isu tersebut
dengan menggunakan berbagai seterategi wacana. Semua aspek tersebut dipakai untuk membuat dimensi tertentu dan konstruksi berita menjadi bermakna dan diingat oleh khalayak. framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menseleksi isu dan menulis berita. Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan, dan hendak dibawa kemana berita tersebut (Eriyanto, 2002: 221).
2.3.1.1 Konsep Framing Entman
Dalam konsepsi Entman, framing pada dasarnya pemberian definisi, penjelasan, evaluasi, dan rekomendasi dalam suatu wacana untuk menekankan kerangka berpikir tertentu terhadap peristiwa yang diwacanakan.
Tabel 2.4 Konsep framing Entman
Seleksi Isu Aspek ini berhubungan dengan pemilihan fakta. Dari realitas yang kompleks dan beragam itu, aspek mana yang diseleksi untuk ditampilkan? Dari proses ini selalu terkandung di dalamnya ada bagian berita yang di masukkan (included), tetapi ada juga berita yang dikeluarkan (excluded). Tidak semua aspek atau bagian dari isu ditampilkan, wartawan memilih aspek tertentu dari suatu isu.
Penonjolan Aspek
Aspek ini berhubungan dengan penulisan fakta. Ketika aspek tertentu dari isu tertentu dari suatu peristiwa/isu tersebut telah dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis/ hal ini sangat berkaitan dengan pemakaian kata, kalimat, gambar, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak.
(Sumber Eriyanto, 2002: 222) Tabel 2.5 Model Analisis Entman Define problems
(Pendefinisian masalah)
Bagaimana suatu peristiwa/ isu dilihat?
Sebagai apa? Atau sebagai masalah apa?
Diagnose Causes
(Memperkirakan masalah atau sumber masalah)
Peristiwa itu dilihat disebabkan oleh apa? Apa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah?
Siapa(aktor) yang dianggap sebagai penyebab masalah?
Make Moral Judgement (Membuat keputusan moral)
Nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang dipakai untuk melegitimasi atau mendelegitimasi suatu tindakan?
Treatment Recommendation (Menekankan penyelesaian)
Penyelesaian apa yang ditawarkan untuk mengatasi masalah/isu? Jalan apa yang ditawarkan dan harus di tempuh untuk mengatasi masalah?
(Sumber Eriyanto, 2002:223)
Frame berita timbul dalam dua level. Pertama, konsepsi mental yang digunakan untuk memproses informasi dan sebagai karakteristik dari teks berita.
Misalnya frame anti-militer yang dipakai untuk melihat dan memproses informasi demonstrasi atau kerusuhan. Kedua, perangkat spesifik dari narasi berita yang dipakai untuk membangun pengertian mengenai peristiwa. Frame berita dibentuk dari kata kunci, metafora, konsep, simbol, citra, yang ada dalam narasi berita.
Konsepsi mengenai framing dari Entman di atas menggambarkan secara luas bagaimana peristiwa dimaknai dan ditandakan oleh wartawan. Define problems (pendefinisian masalah) adalah elemen yang pertama kali dapat kita lihat mengenai framing. Elemen ini merupakan master frame atau bingkai yang paling utama. Ia menekankan bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan.
Peristiwa yang sama dapat dipahami secara berbeda dan bingkai yang berbeda ini akan menyebabkan realitas bentukan yang berbeda.
Diagnose clause (memperkirakan penyebab masalah), merupakan elemen framing untuk membingkai siapa yang dianggap sebagai actor dari suatu peristiwa. Penyebab di sini bisa berarti apa (what), tetapi bisa juga berarti siapa (who). Bagaimana peristiwa dipahami, tentu saja menentukan apa dan siapa yang dianggap sebagai sumber masalah. Masalah yang dipahami secara berbeda, penyebab masalah secara tidak langsung juga akan dipahami secara berbeda pula.
Make moral judgement (membuat pilihan moral) adalah elemen framing yang dipakai untuk membenarkan atau member argumentasi pada pendefinisian masalah yang sudah dibuat. Ketika masalah sudah didefinisikan, penyebab masalah sudah ditentukan, dibutuhkan sebuah argumentasi yang kuat untuk mendukung gagasan tersebut. Gagasan yang dikutip berhubungan dengan sesuatu yang familiar dan dikenal oleh khalayak.