Sony Sukmawan Universitas Brawijaya
B. MEDIA PENGAJARAN
Belajar adalah suatu kegiatan yang kompleks. Semua sistem penginderaan kita adalah penghubung antara diri kita dengan lingkungan disekitarnya. Kita akan belajar dengan baik dengan cara memaksimalkan semua penginderaan kita; mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium bau-bauan, tangan untuk meraba dan menyentuh, dan lidah untuk merasakan.Menurut Wittich and Schuller (1983), seorang pembelajar mengerti apa yang dia pelajari melalui penggunaan sistem bertingkat dalam dirinya yang direkam melalui mata, telinga, tangan, dsb. Sistem ini tidak bekerja terpisah, tapi bekerja dalam satu kesatuan yang dirangsang oleh lingkungan sekitarnya. Karena semua indera perasa dan saraf kita adalah sistem mendasar dalam menyerap ilmu pengetahuan, maka penggunaan media dalam pengajaran dirasa perlu dan berguna dalam menunjang pengajaran.
Media pengajaran dapat didefinisikan sebagai alat bantu pengajaran yang digunakan oleh pengajar (guru/dosen) untuk membantu mencapai tujuan pengajarannya di dalam kelas. Ada banyak macam media yang dapat digunakan untuk pembelajaran, yaitu media audio, visual, dan kombinasi dari keduanya. Contoh Media Audio adalah:
radio, tape recorder, MP3, sedangkan contoh media visual adalah papan tulis, benda-benda
disekitar kita, baik itu benda sesungguhnya seperti batu, pohon, buah-buahan, sayuran, atau imitasi dari benda-benda tersebut, misalnya boneka, mainan dan bentuk realia
KONFERENSI NASIONAL SASTRA, BAHASA & BUDAYA (KS2B) 2016 | 63
lainnya. Contoh media visual lainnya adalah gambar, foto, wallchart, papan flannel, flash
card, slide projector, dan OHP. Media kombinasi dari media audio dan visual beberapa diantaranya adalah televisi, TV, Video, film, dan CD. Seiring dengan semakin majunya perkembangan ilmu dan teknologi, terdapat media baru yang saat ini sangat berpengaruh, yaitu You Tube yang terdapat di internet.
Namun, sebelum memutuskan untuk menggunakan media pengajaran di dalam kelas, Wright (dalam Kasbolah 2001) menyarankan untuk mempertimbangkan tiga pertanyaan mendasar berikut, misalnya1) apakah media tersebut mudah disiapkan; (2) apakah media tersebut mudah digunakan; dan (3) apakah media tersebut menarik bagi siswa. Sehubungan dengan ini, Davies (1981) juga mengingatkan tentang perlunya
bertanya tentang bagaimanakah media itu akan digunakah dan apakah itu akan memberikan
dampak pada proses belajar mengajar di kelas. Hal-hal diatas adalah syarat-syarat mendasar yang harus dipenuhi dalam memilih, membuat maupun menggunakan media di dalam proses belajar mengajar.
You Tube Sebagai Media Pengajaran
Di era yang modern ini, penggunaan internet sudah tidak bisa dibendung lagi. Terlepas dari sisi negatif internet, ada banyak sisi positif yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pengetahuan kita dan membantu proses belajar mengajar di dalam kelas.You Tube adalah suatu situs web yang dibuat agar semua orang dapat melihat dan
berbagi berbagai macam video yang diunggah di web. Bentuk video yang terdapat di You
Tube bisa dalam bentuk film, show Televisi, cuplikan tayangan berita, iklan, ataupun berbagai bentuk video yang dibuat sendiri oleh para penggunanya.
Bila dipilih dan digunakan dengan tepat, You Tube dapat memberi manfaat yang
sangat besar untuk menunjang tercapainya tujuan pengajaran didalam kelas. Menurut
Martidou (2013), penggunaan media You Tube di dalam kelas sangat bermanfaat dan
menarik karena You Tube dapat diakses dengan bebas oleh siapa saja, dengan isinya yang
kaya dan beragam. Terlebih lagi, tidak dibutuhkan keahlian khusus untuk mengakses,
mengunggah dan mengunduh apapun yang ada di You Tube. You Tube juga kaya akan
materi pengajaran sehingga guru dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar untuk meningkatkan kualitas pengajarannya di dalam kelas (Bulent, 2011). Untuk belajar bahasa
asing, You Tube dapat menjadi media pengajaran yang efektif untuk meningkatkan
kemampuan keterampilan berbahasa karena dapat diakses dengan bebas tidak hanya di dalam kelas, namun juga di luar kelas (Watkins dan Wilkins, 2011). Mengingat begitu
banyaknya manfaat You Tube, maka sangat disayangkan bila dosen tidak
menggunakannya untuk mencapai tujuan pembelajaran.
C. PEMBAHASAN
Berikut disajikan tahapan pengajaran penggunaan You Tube untuk menyampaikan
materi unsur-unsur instrinsik prosa fiksi. Terdapat tiga tahapanpengajaran yang harus dilalui, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan refleksi.
Persiapan
Pada tahap ini, dosen menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dikuasai oleh mahasiswa. Dosen kemudian menunjukkan judul cerita yang akan dibahas hari itu dengan menggunakan bantuan LCD. Pada tahap persiapan, dosen menyiapkan pengetahuan awal mahasiswa dengan melakukan diskusi pendek mengenai apa yang mereka ketahui tentang unsur instrinsik dan cerita yang akan dibahas. Bila mereka dirasa telah siap, maka tahapan selanjutanya adalah menunjukkan video mengenai prosa fiksi
64 | KONFERENSI NASIONAL SASTRA, BAHASA & BUDAYA (KS2B) 2016 Pelaksanaan
Tahapan pelaksanaan dapat dibagi menjadi beberapa sub tahapan pembelajaran, diantaranya, menyimak, membaca, menganalisis, dan mempresentasikan. Pada tahapan
menyimak, mahasiswa menonton video mengenai The Little Match Girl tersebut. Durasi
video ini hendaknya tidak terlalu panjang (maksimal 10 menit). Pada tahap ini, mahasiswa menyimak video tersebut. Dosen harus menekankan bahwa mahasiswa tidak perlu membuat catatan apapun selama menyimak video untuk yang pertama kalinya. Usai menyimak video tersebut, diskusi pendek mengenai video tersebut dapat dilakukan. Topik-topik diskusi dapat berkisar tentang apakah mahasiswa pernah melihat video tersebut sebelumnya ataukah tidak, apakah mereka mengenal cerita yang ditayangkan dalam video tersebut atau tidak, dan mengenai gambaran umum tentang cerita yang telah mereka saksikan.
Setelah hal ini dilaksanakan, mahasiswa kemudian diberi versi tulis dari cerita tersebut.Setelah mereka membaca, diskusi kecil secara berpasangan kemudian dibentuk. Mahasiswa diminta untuk mendiskusikan persamaan dan perbedaan dari versi video yang telah mereka saksikan, dan versi tulis yang telah mereka baca. Persamaan dan perbedaan
ini seputar unsur intrinsik cerita, seperti penokohan, alur, setting, tema, point of view, dan
pesan. Setelah melakukan diskusi selama kurang lebih 15 menit, mahasiswa kemudian diminta untuk mengisi diagram ven mengenai persamaan dan perbedaan.
Disisi kanan dan kiri dari diagram venn, ditulis perbedaannya, sedangkan di bagian tengah dari diagram venn ditulis persamaan dari versi tulis dan versi filmnya. Untuk mengisi diagram venn ini, waktu yang dihabiskan sekitar 15 menit. Hasil pengisian diagram venn ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu presentasi lisan, atau dalam bentuk esai pendek.Dikarenakan terbatasnya waktu, tidak diperlukan semua grup untuk mempresentasikan hasil kerjanya secara lisan. Bila sebagian besar grup menunjukkan jawaban yang sama, maka presentasi dapat dihentikan. Akan lebih baik bila hasil diagram venn ini di tulis dalam bentuk esai pendek, sehingga dosen tidak hanya dapat menilai kedalaman materi yang disampaikan, namun juga kemampuan menulis mahasiswa.
KONFERENSI NASIONAL SASTRA, BAHASA & BUDAYA (KS2B) 2016 | 65
Dibawah ini disampaikan hasil tulisan mahasiswa pendidikan bahasa Inggris dalam
membandingkan versi video dan tulis dari cerita The Little Match Girl oleh H.C Andersen.
The short story entittled “ The Little Match Girl “ by H.C Anderson in the original version and audio version has one different, in terms of character and one similarity, in terms of setting.
In the original version and audio version has one different, that is in characters. In the original version just little girl, father and grandmother but in the audio version, there is a dog and some people are bad people. In the audio version, the dog have been helped when a boy took a match from her hand, and then the dog give something that flying. And the dog always following her wherever. In the audio version, some people are bad people to little girl. When she affered of match to another people, a man pushed her.
In the original version and audio version has one similarity, that is in setting. In the audio version, the little girl will be punished by her father because the matchis notsold. She sit down in a corner formed by two houses.
In conclusion, in the original version and audio version have differences and similarities (Nurindah, 2013 C)
Refleksi
Pada tahapan ini, dosen dapat meminta mahasiswa untuk membuat rangkuman mengenai unsur instrinsik, yaitu mengenai definisi, dan elemen-elemennya. Selain mengidentifikasi ragam unsur intrinsik, dosen juga mengarahkan diskusi kritis untuk mengaitkan subunsur dan antar unsur (ekstrinsik). Pengaitan antara subunsur instrinsik maupun antara unsur intrinsik dengan unsur ekstrinsik dapat mengungkap teks sastra sebagai struktur yang utuh dan koheren. Tindakan pembelajaran ini dapat disiapkan sebagai tahapan pembelajaran selanjutnya. Dosen dapat juga menanyakan pada mahasiswa apa yang terjadi bila salah satu unsur intrinsik itu tidak ada. Pertanyaan yang lebih kritis yang dapat diajukan dosen adalah apa sumbangan plot terhadap keutuhan cerita, apa peran karakter dalam penyampaian tema, apa pula fungsi latar dalam mendukung karakterisasi, serta bagaimana unsur-unsur tersebut di atas dapat menyampaikan pesan/makna cerita? Dengan pertanyaan ini, maka akan terdapat diskusi lanjutan yang lebih panjang daripada sekedar menutup pengajaran. Namun hal ini, boleh saja dilakukan sepanjang tujuannya adalah untuk mencapai tujuan pengajaran.
D. PENUTUP
Mengajar prosa fiksi pada dasarnya sangat menyenangkan bila kita mengetahui media yang cocok yang dapat kita gunakan di dalam kelas. Suasana belajar mengajar tidak akan terkesan monoton dan membosankan bila dosen bersedia untuk menyiapkan materi
dan media pembelajaran dengan sepenuh hati. You Tube adalah salah satu media yang
memiliki aksesibilitas tinggi dan kaya akan sumber belajar. Bila dimanfaatkan dengan
benar, You Tube dapat menjadi media pengajaran yang efektif untuk mencapai tujuan
pengajaran
Dalam ranah pendidikan Global, pembelajaran dengan menggunakan media You
Tube membuktikan bahwa globalisasi (informasi) berdampak menguntungkan bagi aktivitas kehidupan manusia (dalam hal ini meningkatkan motivasi dan kreativitas
66 | KONFERENSI NASIONAL SASTRA, BAHASA & BUDAYA (KS2B) 2016
apresiasi sastra), sejauh pelaku pendidikan menganggapnya sebagai peluang bukan hambatan, menerimanya dengan tangan terbuka (akomdasi) bukan menolaknya (resistensi), dan menyesuaikan dengankepentingan kita (adaptasi), bukan larut dalam arusnya (imitasi).