• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

5.1 Interpretasi Hasil Penelitian

5.1.6 Melakukan pengobatan medis

5.Mengambil obat rutin

Dalam upaya mempertahankan kesehatan, penderita HIV-AIDS harus rutin mengkonsumsi obat-obatan antiretroviral demi mempertahankan kondisi kesehatan tubuhnya.

Hasil penelitian menunjukkan semua partisipan melakukan pengambilan obat setiap bulannya di rumah sakit. Obat yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien seperti duviral, neviral, tenofovir, AZT yang dosisnya disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan jumlahnya cukup untuk pemakaian satu

bulan. Mayoritas partisipan meminum obat antiretroviral terapy (ART) sesudah mengetahui dirinya terinfeksi virus HIV. Dan dua orang partisipan menyatakan tidak mengkonsumsi ART pada saat kehamilan disebabkan ketidaktahuan akan statusnya.

Dua orang partisipan mengungkapkan adanya gejala mual, pusing pada saat awal minum obat. Hal tersebut dialami partisipan kurang lebih dua minggu sesudah minum obat. Partisipan mengatasi keluhannya tersebut dengan meminum air hangat dan seorang partisipan mengaku rasa oyongnya dapat teratasi bila mendengarkan musik. Musik dapat membuat partisipan tertidur dan setelah bangun dari tidurnya partisipan mengaku rasa oyongnya berkurang. Partisipan meyakini gejala oyong, pusing sesudah minum obat adalah hal wajar yang menunjukkan proses adaptasi tubuh dengan obat. Namun satu partisipan melaporkan perasaannya sesudah minum obat kepada teman komunitas dan akhirnya partisipan dianjurkan untuk mengganti obatnya. Sesudah mengganti obatnya partisipan mengungkapkan tidak ada lagi keluhan seperti yang dirasakan sebelumnya. Sejalan dengan penelitian Jacob (2011) yang menyatakan bahwa ibu dengan HIV-AIDS yang mengkonsumsi antiretroviral akan merasakan perasaan oyong, pusing pada awal pemakaian obat ARV. Tindakan yang dapat dilakukan dalam upaya mengurangi rasa ketidaknyamanan pada ibu dapat dilakukan dengan teknik distraksi berupa pengalihan terhadap hal-hal yang mengalihkan perhatian seperti: mendengar musik, menonton televisi, dan lainnya (Carl, 2009).

6.Memeriksakan CD4 secara rutin

Adalah suatu pemeriksaan baku untuk menilai prognosis berlanjut ke AIDS atau kematian, untuk membentuk diagnosis diferensial pada pasien bergejala, dan untuk mengambil keputusan terapeutik mengenai terapi antiretroviral (ART) dan profilaksis untuk patogen oportunistik. Jumlah CD4 adalah indikator yang paling diandalkan untuk prognosis. Jumlah CD8 ternyata tidak memprediksi perkembangan; sel CD8 HIV-spesifik (sel CD38) adalah penting untuk mengendalikan tingkat HIV tetapi tidak dapat diukur secara mudah. Tes CD4 sebaiknya diulang setiap tiga sampai enam bulan untuk pasien yang belum diobati dengan ART dan jangka waktu dua sampai empat bulan pada pasien yang memakai ART. Tes tersebut sebaiknya diulangi bila hasil tidak konsisten dengan kecenderungan sebelumnya. Frekuensi akan berbeda-beda tergantung keadaan individu.

Kalau tidak diobati, jumlah CD4 akan menurun rata-rata 4 persen per tahun untuk setiap log viral load. Dengan terapi awal atau perubahan terapi, usulan adalah dilakukan tes CD4 (serta viral load) pada 4, 8 sampai 12, dan 16 sampai 24 minggu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua partisipan melakukan test rutin CD4 setiap enam bulan sekali. Menurut partisipan test ini dapat membantu mengetahui kondisi kesehatannya. Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa semua partisipan melakukan pemeriksaan kesehatannya dan bayinya ke fasilitas pelayanan kesehatan secara rutin baik pada saat bersamaan dengan pengambilan obat partisipan atau mencari khusus dokter lain.

7. Melakukan test HIV pada anak

Bayi yang dilahirkan perlu melakukan pemeriksaan secara berkala. pada bayi yang baru lahir masih membawa antibodi dosis tinggi dari ibu mereka saat lahir, semua bayi yang lahir dari ibu HIV positif akan melakukan test pada tes antibodi HIV secara rutin. Untuk mendiagnosa materi genetik dari virus (Leggett, 2011) dosis HIV pada bayi menggunakan tes yang disebut polymerase chain reaction (PCR), yang bertujuan memeriksa darah bayi. Untuk pemeriksaan PCR dianjurkan pada usia 14 sampai 21 hari, 1 sampai 2 bulan, dan 4 sampai 6 bulan atau bahkan bisa dilakukan lebih sering. Dua tes negatif pada dasarnya dapat menyingkirkan terjadinya infeksi HIV, meskipun beberapa dokter mengkonfirmasi status negatif menggunakan tes antibodi pada usia 18 bulan, dimana titik antibodi ibu untuk HIV seharusnya tidak ada lagi di dalam darah anak (HRSA, 2014).

Secara umum, antibodi HIV ibu tetap terdeteksi sepanjang 6 bulan pertama kehidupannya, tetapi tingkat peluruhan secara signifikan pada usia 9-18 bulan, dan menjadi tidak terdeteksi pada kebanyakan anak-anak pada usia 18 bulan. pengujian DNA-PCR dianjurkan pada anak-anak kurang dari usia 18 bulan, karena anak mungkin masih membawa antibodi ibu. Namun tes antibodi yang cepat harus digunakan sebagai tes skrining untuk menyingkirkan infeksi pada bayi usia 9-18 bulan. Anak-anak kurang dari 18 bulan usia yang negatif dengan tes antibodi dianggap HIV negatif dan tidak perlu pengujian oleh DNA-PCR (Tanzania, 2013).

Hasil penelitian menunjukkan semua partisipan akan dan telah melakukan test HIV pada anaknya diusia 18 bulan sesuai dengan anjuran dokter. Pemeriksaan dilakukan di rumah sakit. Lima orang partisipan belum melakukan test HIV pada anaknya dikarenakan usia anak belum mencukupi. Berdasarkan hasil test tersebut semua partisipan mengungkapkan status negatif pada anaknya. Partisipan mengungkapkan perasaan senang sekaligus khawatir akan status anaknya. Mayoritas partisipan masih merasa khawatir jika bila dilakukan test ulang hasilnya akan berubah. Berdasarkan pedoman Pengelolaan Ibu Hamil positif HIV di Irlandia Utara (2013) yang menyebutkan bahwa test yang dilakukan pada bayi dengan ibu HIV positif harus dilakukan secara rutin untuk menjamin anak terbebas dari virus. Pentingnya deteksi dini memungkinkan penyedia layanan kesehatan untuk menawarkan perawatan dan pengobatan yang optimal pada anak terinfeksi HIV, membantu dalam pengambilan keputusan pemberian makanan bayi, dan menghindari stress yang tidak perlu bagi ibu dan keluarga. Meningkatnya efikasi dan cakupan intervensi PMTCT berarti bahwa mayoritas anak-anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV kecil kemungkinan akan terinfeksi. Tanpa adanya intervensi, bayi yang dilahirkan ibu HIV positif akan terinfeksi virus melalui pemberian ASI. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan maman, Cathcart, Burkhardt, Omba, Thompson, dan Behets (2012) pada 40 orang perempuan hamil dan postpartum di Kinshasa ditemukan bahwa mayoritas perempuan mengungkapkan bahwa penularan HIV dapat terjadi melalui darah jika ada luka terbuka pada payudara melalui pemberian ASI.

Berdasarkan identifikasi konsep teori keperawatan Ramona T. Mercer, pengobatan medis yang dilakukan dapat mempengaruhi pencapaian peran ibu becoming a mother. Faktor lingkungan memegang peranan penting pada masa ini, ketersediaan fasilitas pelayanan dan perawatan kesehatan di masyarakat, kelas parenting, dukungan komunitas, dan lainnya dapat mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan anak kedepannya. Status kesehatan ibu dan bayi merupakan hal penting dalam pencapaian peran ibu dimana interaksi ibu dan anak berfokus pada pendidikan dan hubungan terapeutik antara ibu dan bayinya.

5.1.7 Melakukan Pengobatan dan Perawatan Tradisional

Pengobatan tradisional adalah metode pengobatan yang digunakan masyarakat sejak zaman dahulu yang diturunkan dan dikembangkan secara bertahap dari generasi kegenerasi berdasarkan tingkat pemahaman manusia terhadap perkembangan pengetahuan yang melibatkan aspek spiritual, psikologis dan sosial tertentu dari seseorang yang menderita penyakit. Pelayanan kesehatan tradisional sebagai bagian dari upaya kesehatan yang menurut sejarah budaya dan kenyataan hingga saat ini banyak dijumpai di Indonesia bersama pelayanan kesehatan konvensional diarahkan untuk menciptakan masyarakat yang sehat, mandiri dan berkeadilan (PP, 2014).

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa mayoritas partisipan menggunakan pengobatan tradisional sebagai alternatif dalam upaya membantu penyembuhan diri pada masa postpartum. Upaya pengobatan ini dilakukan sebagai bentuk kepercayaan dan keyakinan seseorang akan tradisi atau warisan nenek moyang secara turun-temurun. Mayoritas partisipan pada penelitian ini

bersuku Jawa yang terkenal dengan obat tradisionalnya dimana salah satunya adalah tradisi minum jamu. Selain Suku Jawa, partisipan pada penelitian ini yang memiliki tradisi dan keyakinan akan pengobatan tradisional adalah Suku Karo, selebihnya partisipan berasal dari Suku Aceh, Minang, Melayu, dan Nias yang sudah meninggalkan tradisi-tradisi tersebut terkait perawatan postpartum yang disebabkan karena mereka sudah melebur dengan kultur budaya setempat.

Sistem pelayanan kesehatan tradisional merupakan bagian dari sistem kesehatan nasional sesuai dengan rekomendasi WHO dalam Traditional/Complementary Medicine Tahun 2014-2023 untuk mengintegrasikan pelayanan kesehatan tradisional ke pelayanan kesehatan dalam suatu sistem kesehatan nasional. Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari pembangunan nasional bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Pembangunan kesehatan sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional dilaksanakan melalui berbagai upaya dalam bentuk pelayanan pada fasilitas pelayanan kesehatan (PP, 2014).

Pelayanan kesehatan tradisional merupakan suatu sistim pengobatan/perawatan dari berbagai jenis keterampilan dan ramuan hasil pengembangan yang bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kondisi sakit, dan meningkatkan kualitas hidup

yang sejalan dengan paradigma sehat dan upaya pengobatan. Sejalan dengan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap pengobatan tradisional, dimana di dalamnya melibatkan penggunaan obat tradisional. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat (Permenkes, 2010).

Upaya pengobatan dan perawatan tradisional yang dilakukan partisipan pada masa postpartum dalam penelitian ini terdiri dari: 1) Minum Jamu, 2) Makan makanan tinggi protein, 3) Menggunakan obat cina, 4) Minum jus buah bit, 5) Menggunakan daun jarak, 6) Menggunakan param, pawar mentar, 7) Menggunakan sembur karo/tawar karo, dan 8) Menggunakan air cebokan daun sirih, cebokan air garam, dan cebokan air hangat.

9.Minum Jamu

Masyarakat yang multikultural membuat budaya di satu daerah dengan daerah lainnya memiliki keanekaragaman. Salah satunya adalah budaya minum jamu yang berasal dari masyarakat Suku Jawa yang terkenal dengan obat tradisionalnya. Jamu yang semula hanya tradisi turun temurun kini menjadi tradisi yang telah menjadi kebiasaan di Indonesia. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, jamu adalah obat yang dibuat dari akar-akaran atau daun-daunan, dan lain-lain yang mempunyai banyak manfaaat. Berdasarkan data Riskesda (2010) menyebutkan bahwa 59,12% penduduk semua kelompok umur, laki-laki dan perempuan, baik di pedesaan maupun diperkotaan menggunakan jamu, yang

merupakan produk obat tradisional asli Indonesia dan 95,60% merasakan manfaat dari jamu tersebut (PP, 2014). Secara umum minum jamu sudah menjadi budaya bagi orang Jawa dan mempunyai peranan yang sangat beragam bagi kehidupan masyarakat Jawa, mulai dari proses kelahiran, masa remaja, dewasa, bahkan sampai masa tua dengan maksud menjaga kesehatan, kekuatan, maupun kecantikan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas partisipan meminum jamu pada masa postpartum karena adanya keyakinan dan kepercayaan bahwa meminum jamu dapat membantu mempercepat proses penyembuhan mereka sesudah melahirkan. Jamu biasanya dibuat sendiri oleh keluarga partisipan dan ada juga memperolehnya dengan cara membeli dari pedagang jamu langganan mereka. Jamu dibuat dari campuran temulawak, beras kencur, gula merah, dan asam jawa yang diminum selama 40 hari. Mayoritas partisipan meminum jamu sekali sehari sebanyak satu gelas belimbing dan beberapa partisipan meminum jamu ini sebanyak dua gelas sehari yang diminum saat pagi dan sore hari. Mayoritas partisipan menyatakan dengan minum jamu dapat membantu mengeluarkan darah-darah kotor saat nifas dan membantu proses penyembuhan mereka setelah melahirkan.

Mayoritas partisipan merasakan rasa enak saat minum jamu walaupun mengeluarkan aroma yang aneh. Jamu merupakan hasil racikan keluarga secara turun-temurun dengan cara mengiris temulawak beserta kencur secara tipis-tipis. Kemudian menyangrai temulawak dan kencur tanpa minyak goreng kira-kira lima menit. Kemudian memasukkan hasil sangraian beras kencur dan temulawak

kedalam blender beserta asam jawa lalu diblender sampai halus. Kemudian campurkan dengan air rebusan gula merah dan terakhir menyaring semua bahan tadi sambil memeras untuk mengambil air patinya yang diperkirakan setengah gelas belimbing lalu ditambahkan air hangat sampai mencapai satu gelas belimbing penuh.

Tanaman temulawak (Curcuma xanthorhizza Roxb) termasuk tanaman berbatang basah merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Di daerah Jawa Barat temulawak disebut sebagai koneng gede sedangkan di Madura disebut sebagai temu lobak yang tingginya dapat mencapai 2,5 m. Bunganya berwarna putih kemerah-merahan atau kuning. Panjang tangkai bunga 1,5-3 cm. Kelompok bunga 3-4 buah. Bunganya langsung keluar dari rimpang dan berwarna merah, kelopak hijau muda, sedangkan pangkal bunga bagian atas berwarna ungu (Hernani, 2005). Di Indonesia satu-satunya bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang temulawak untuk dibuat jamu godog. Rimpang temulawak mengandung protein, pati, zat warna kuning kurkuminoid (yang terdiri dari dua komponen yaitu kurkumin dan kurkuminoid), serta minyak atsiri. Pati merupakan komponen terbesar dalam temulawak, sekitar 29-34%. Pati ini adalah jenis yang mudah dicerna sehingga baik untuk makanan bayi atau makanan orang yang baru sembuh dari sakit (Hernani, 2005). Kandungan zat pada temulawak yaitu minyak atsiri yang bemuatan felandren dan turmerol, terdapat juga kurkumin dan pati dengan dosis 0,5 gram sampai 1 gram sangat baik untuk antipasmodika dan obat kolagoga (Kartasapoetra, 2001). Manfaat dari temulawak ini adalah membersihkan darah, menghilangkan rasa nyeri (analgetik),

menurunkan panas badan (antipiretik), memperlancar pengeluaran empedu ke usus (kolagogum), mengobati bau badan yang kurang sedap, mengobati penyakit kuning, demam malaria dan sembelit, serta bisa untuk memperbayak ASI, dan untuk mengatasi badan yang terlalu capek.

Penelitian yang dilakukan Usemahu, Rachman, dan Natsir (2014) terhadap ibu nifas di Desa Kailolo Kabupaten Maluku Tengah didapatkan bahwa masyarakat menggunakan ramuan tradisional untuk melakukan perawatan pasca persalinan yang bertujuan untuk mencegah naiknya darah putih di kepala, mengeringkan luka-luka dalam, mengeluarkan darah kotor, mengembalikan stamina, dan merapatkan dinding vagina. Hal serupa juga ditemukan pada penelitian suryawati (2007) yang melakukan penelitian di Kecamatan Bangsri kabupaten Jepara menemukan bahwa mayoritas partisipan melakukan tradisi minum jamu yang merupakan kebiasaan sebagian masyarakat Suku Jawa juga saat melakukan perawatan masa nifas.

Selain temulawak partisipan juga menggunakan beras kencur yang diracik beserta gula merah dan asam jawa. Kencur (Kaempferia galangal L) merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh diberbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara. Tanaman ini banyak digunakan sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam masakan. Daun kencur berbentuk bulat lebar, tumbuh mendatar diatas permukaan tanah dengan jumlah daun tiga sampai empat helai. Permukaan daun sebelah atas berwarna hijau sedangkan sebelah bawah berwarna hijau pucat. Panjang daun berukuran 10-12 cm dengan lebar 8-10 cm mempunyai sirip daun yang tipis dari pangkal daun tanpa tulang-tulang induk

daun yang nyata. Rimpang kencur di pergunakan untuk meramu obat-obatan tradisional yang sudah banyak di produksi oleh pabrik-pabrik jamu maupun dibuat sendiri, rimpang mempunyai khasiat obat antara lain untuk menyembuhkan batuk dan mengeluarkan dahak, mengeluarkan angin dari dalam perut, melindungi pakaian dari serangga perusak (Afrianstini,1990). Penelitian yang dilakukan Fitrianti dan Angkasawat (2015) terkait kegunaan pengobatan tradisional pada ibu nifas masyarakat Gayo ditemukan bahwa mayoritas partisipan menggunakan rempah dengan cara diminum sebagai pengobatan dalam yang bertujuan untuk menyembuhkan, mencegah penyakit, dan menyehatkan sesudah proses kelahiran. 10. Makan makanan tinggi protein

Asupan nutrisi yang baik pada masa postpartum membantu mempercepat proses penyembuhan ibu pasca melahirkan. Ibu postpartum memerlukan makanan yang kaya akan protein yang dapat diperoleh dari ikan, daging, telur, dan lainnya. Protein merupakan sumber asam amino yang mengandung unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Protein merupakan zat gizi kedua yang banyak terdapat di dalam tubuh setelah air, seperlima bagian dari tubuh manusia dewasa adalah protein (Sulistyoningsih, 2011). Konsumsi protein adalah jumlah protein dari pangan baik hewani maupun nabati yang dikonsumsi perharinya (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2007).

Sumber protein terdapat pada pangan nabati maupun hewani. Nilai biologi protein pada bahan pangan bersumber hewani lebih tinggi dibandingkan dengan bahan makanan nabati. Protein yang bersumber dari makanan hewani yaitu ikan, susu, telur, daging, unggas dan kerang. Bahan makanan nabati yang memiliki

kandungan protein adalah kedelai dan olahannya seperti tempe dan tahu, serta kacang-kacangan lain, Kedelai merupakan bahan nabati dengan nilai biologi yang tertinggi (Sulistyoningsih, 2011).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua partisipan mendapatkan edukasi dari tenaga kesehatan berupa anjuran mengkonsumsi makanan yang tinggi protein seperti enam sampai sepuluh butir telur perharinya, makan ikan seperti ikan gabus atau ikan lele, atau ikan bado guna mempercepat penyembuhan luka ibu. Hasil penelitian Said, Taslim, dan Bahar (2012) pada pasien bedah digestif di RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo ditemukan adanya peranan penting status gizi, asupan makanan, albumin, dan hemoglobin pada penyembuhan luka dan lama rawat inap pasien. Penelitian oleh Istingadah (2015) pada 37 pasien sectio caesarea di ruang Bougenvile RSUD Dr. Soedirman didapatkan adanya efektifitas penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan tentang diet tinggi kalori tinggi protein pada ibu postpartum sectio caesarea.

Protein diperlukan untuk pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang rusak atau mati. Pada penderita HIV-AIDS tujuan pemberian asuhan gizi adalah untuk memulihkan status gizi, menjaga kesehatan, dan mencegah komplikasi. Pada masa postpartum manfaat gizi sangat penting untuk memulihkan kembali kondisinya, untuk keperluan metabolisme, untuk mempertahankan tubuh terhadap infeksi, dan mencegah konstipasi. Pada penelitian ini mayoritas partisipan mengungkapkan manfaat mengkonsumsi telur atau ikan adalah untuk mempercepat proses penyembuhan luka caesareanya. Hasil penelitian Widjianingsih dan Wirjatmadi

(2013) menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat konsumsi zat gizi responden dengan proses penyembuhan luka pascaoperasi sectio caesarea. Hasil penelitian juga menunjukkan mayoritas partisipan memakan enam sampai sepuluh butir telur perharinya selama masa nifas. Telur merupakan sumber protein, lemak, mineral, dan vitamin yang baik bagi tubuh. Nilai gizi telur sangat lengkap, telur merupakan sumber protein yang baik, kadarnya sekitar 14%, sehingga dari tiap butir telur akan diperoleh sekitar 8 gram protein. Kandungan asam amino pada telur sangat lengkap, sehingga protein telur mempunyai nilai biologis mencapai 100%, yang lebih tinggi dibandingkan daging yang hanya mempunyai nilai biologis 84%.

11. Menggunakan obat cina

Pengobatan tradisional dibuat dalam berbagai macam bentuk sediaan, salah satunya adalah bentuk sedian salep. Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI No. 12 (2014) tentang persyaratan mutu obat tradisional bahwa salep dan krim adalah sediaan obat tradisional setengah padat terbuat dari ekstrak yang larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep/krim yang sesuai dan digunakan sebagai obat luar.

Hasi penelitian menunjukkan bahwa dua orang partisipan pernah menggunakan salep cina dengan nama pikangshuang untuk membantu mengobati luka bekas caesareanya. Partisipan mengaku penggunaan salep ini diberikan atas anjuran atau nasehat dari teman partisipan yang pernah mencoba menggunakan salep ini untuk mengobati luka karena terkena pisau, luka akibat terbakar, luka bekas jerawat. Namun partisipan mengungkapkan penggunaan salep ini tidak

memberikan efek apapun terhadap penyembuhan luka. Berdasarkan tinjauan literature tidak ditemukan adanya riset atau penelitian ilmiah terkait penggunaaan obat cina ini.

12. Minum jus buah bit

Bit merah (Beta vulgaris) merupakan tanaman tunggang yang tumbuh menjadi umbi. Daunnya tumbuh terkumpul pada leher akar tunggal (pangkal umbi) dan berwarna kemerahan. Umbi berbentuk bulat atau menyerupai gasing dan ada pula berbentuk lonjong. Pada ujung umbi bit terdapat akar. Bunganya tersusun dalam rangkaian bunga yang bertangkai panjang banyak. Tanaman ini sulit berbunga di Indonesia namun banyak digemari karena rasanya enak, sedikit manis dan lunak (Sunarjono, 2004). Masyarakat masih kurang mengetahui dalam pengolahan buah bit yang merupakan sumber vitamin C, vitamin B, dan sedikit vitamin A sehingga baik untuk kesehatan tubuh. Oleh karena buah bit pun dianjurkan dimakan dalam jumlah yang banyak bagi penderita darah rendah. Buah bit kaya akan karbohidrat, energi serta besi yang membantu darah mengangkut oksigen ke otak. Bit berwarna merah karena mengandung gabungan warna unggu betasianin dan pigmen kuning betasianin. Dengan minum segelas bit setiap hari akan meningkatkan stamina, menurunkan hipertensi, menambah sel darah merah, memperkuat sistem peredaran darah dan sistem kekebalan (Handayani, 2010). Buah Bit memiliki banyak fungsi yaitu asam folat kalium, serat, vitamin C, magnesium, Triptofan, zat besi, tembaga, fosfor dan Betasianin. Zat yang banyak terkandung dalam bit adalah asam folat yang berfungsi untuk menumbuhkan dan mengganti sel-sel yang rusak.

Hasil penelitian menunjukkan dua orang partisipan meminum jus buah bit dengan cara menghaluskannya dan menambahkan air serta gula putih secukupnya kemudian di blender, hasilnya akan diperoleh satu gelas belimbing jus buah bit. partisipan meminum jus buah bit setiap hari selama dua minggu. Partisipan mengaku mendapat nasehat dari teman mengkonsumsi jus buah bit untuk